Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 136296 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yovan Stefanus
"

Madu dan propolis merupakan produk dari lebah yang memiliki banyak manfaat. Banyak penelitian telah membuktikan kedua produk ini memiliki kandungan anti-bakteri dan anti-inflamasi sehingga memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan aktif dalam pembalut luka. Setiap tahunnya sekitar 180.000 orang meninggal akibat luka. Kematian akibat luka biasanya disebabkan oleh infeksi dari bakteri dan tidak mendapatkan perlakuan yang tepat sehingga infeksi menjadi parah dan mengakibatkan kegagalan sistemik lainnya. Bakteri yang paling banyak ada di luka adalah Staphylococcus aureus. Bakteri ini menginisiasi infeksi pada luka terbuka. Saat ini Polyvinyl Alcohol (PVA) banyak digunakan sebagai polimer karena sifatnya yang transparan, mudah dibentuk, bio-inert, dan biokompatibel. PVA banyak digunakan dalam bentuk hidrogel sebagai pembalut luka. Hidrogel berbasis PVA memiliki performa yang baik sebagai pembalut luka, namun tidak memiliki sifat antibakteri, sehingga banyak penelitian melakukan penggabungan antara hidrogel dengan bahan aktif seperti gentamicin dan nanopartikel Ag. Penelitian ini menggabungkan PVA hidrogel dengan propolis pada beberapa komposisi (2,5%; 3,75%; 5%, 6,25%; 7,5%). Zona inhibisi terbaik adalah pada konsentrasi tertinggi, sementara untuk hasil uji sifat fisik, nilai kekuatan lipat adalah >300 untuk seluruh sampel, uji pembengkakan ada di rentang 7-12% untuk sampel dari Belitung, dan 4-6% pada sampel dari Sulawesi yang sudah memenuhi standar. Uji moisture content ada pada rentang 77-82%.


Honey and propolis are products of bees that have many benefits. Many studies have proven that these two products have anti-bacterial and anti-inflammatory properties, so they have the potential to be used as active ingredients in wound dressings. Every year about 180,000 people die from injuries. Death from wounds is usually caused by infection from bacteria and not getting proper treatment so that the infection becomes severe and results in other systemic failures. The most common bacteria in the wound is Staphylococcus aureus. These bacteria initiate infection in open wounds. Currently, Polyvinyl Alcohol (PVA) is widely used as a polymer because it is transparent, malleable, bio-inert, and biocompatible. PVA is widely used in hydrogel form as a wound dressing. PVA-based hydrogels have good performance as wound dressings, but do not have antibacterial properties, so many studies have carried out combining hydrogels with active ingredients such as gentamicin and Ag nanoparticles. This research combining PVA hydrogel with propolis in several compositions (2,5%; 3,75%; 5%; 6,25%; 7,5%). The best inhibition zone is at the highest concentration, while for the physical property test results, the folding strength value is >300 for all samples, the swelling test is in the range of 7-12% for samples from Belitung, and 4-6% for samples from Sulawesi which have been meet standards. Moisture content test is in the range of 77-82%.

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azzahra Istigfara Nindya Kirana
"Propolis merupakan zat resin yang diproduksi oleh lebah tak bersengat yang memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan. Salah satu manfaat yang dimiliki oleh propolis adalah antikanker. Aktivitas antikanker yang dimiliki oleh propolis diduga berasal dari kandungan yang dimilikinya, terutama senyawa fenol maupun flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dua ekstrak etanol propolis dari lebah Homotrigona fimbriata dan Tetragonula biroi terkait aktivitasnya sebagai antikanker terhadap sel HepG2. Di samping itu, dilakukan pula penetapan kadar fenol total serta kadar flavonoid total. Kedua propolis diekstraksi secara maserasi kinetik menggunakan pelarut etanol. Ekstrak yang diperoleh kemudian digunakan untuk penetapan kadar fenol melalui metode Folin-Ciocalteu dengan standar asam galat serta penetapan kadar flavonoid melalui metode kolorimetri AlCl3 menggunakan standar kuersetin. Uji antikanker dilakukan melalui uji MTT terhadap sel HepG2 untuk memperoleh nilai IC50. Dari hasil analisis, ditetapkan kadar fenol total untuk Homotrigona fimbriata sebesar 29,87 mgEAG/g dan untuk kadar flavonoid total sebesar 2,31 mgEK/g. Kadar fenol total Tetragonula biroi menunjukkan hasil sebesar 12,26 mgEAG/g dan kadar flavonoid 1,09 mgEK/g. Pada uji MTT diperoleh nilai IC50 Homotrigona fimbriata sebesar 2613,39 µg/mL dan Tetragonula biroi 4015,71 µg/mL. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol propolis Homotrigona fimbriata dan Tetragonula biroi tidak aktif sebagai antikanker terhadap sel HepG2.

Propolis is a natural resinous mixture produced by stingless bees which propolis itself has various health benefits. An example of benefit that handed by propolis is anticancer. This anticancer activity suspected derive from its compounds, particularly phenolics and flavonoids. This research aimed to examine two ethanolic extracts of propolis that are collected from Homotrigona fimbriata and Tetragonula biroi related to their activity as anticancer agent towards HepG2 cell line. Besides that, determination of total phenolic content and total flavonoid content were observed too. The extraction of both propolis were performed by kinetic maceration using ethanol as solvent. The extracts then used to determine total phenolic content through Folin-Ciocalteu method using gallic acid as standard also determine total flavonoid content which carried out using AlCl3 colorimetric method with quercetin as standard. The anticancer activity test was done using MTT assay towards HepG2 cells to obtain IC50 value. From the analysis results, it was established that total phenolic level of Homotrigona fimbriata was 29,87 mgGAE/g and result for total flavonoid content was 2,31 mgQE/g. The result of determining total phenolic content from Tetragonula biroi was 12,26 mgGAE/g and the total flavonoid level was 1,09 mgQE/g. In MTT assay, the IC50 value for Homotrigona fimbriata was 2613,39 µg/mL and for Tetragonula biroi was 4015,71 µg/mL. Thus, it may be concluded that ethanolic extract of propolis collected from Homotrigona fimbriata and Tetragonula biroi are not active as anticancer agent against HepG2 cell line."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Khanisa Faradiba
"Kanker hati menempati peringkat keenam pada kasus kanker di seluruh dunia dan peringkat kelima kejadian kanker tertinggi di Indonesia. Pemberian kemoterapi sebagai pengobatan kanker dapat memberikan efek samping dan dapat menimbulkan resistensi obat. Oleh karena itu, diperlukan terapi tambahan dengan mencari bahan yang berpotensi sebagai agen antikanker, salah satunya adalah propolis. Aktivitas antikanker propolis diduga berasal dari senyawa utamanya, yaitu fenol dan flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antikanker ekstrak etanol propolis (EEP) dari Geniotrigona thoracica dan Heterotrigona itama asal Kalimantan Timur. Propolis mentah diekstraksi menggunakan etanol. Kadar fenol total ekstrak etanol propolis dikuantifikasi menggunakan metode Folin-Ciocalteu dan kandungan flavonoid total menggunakan metode kolorimetri AlCl3 dengan Spektrofotometer UV-Vis. Uji antikanker dilakukan menggunakan metode MTT assay terhadap sel HepG2. Variasi konsentrasi EEP yang digunakan pada penelitian ini adalah 2000, 1000, 500, 250 dan 125 μg/mL. Kadar fenol total ekstrak etanol propolis dari Geniotrigona thoracica dan Heterotrigona itama diperoleh masing-masing sebesar 92,31±0,65 mgEAG/g dan 11,61±0,03 mgEAG/g. Kadar flavonoid total ekstrak etanol propolis dari Geniotrigona thoracica dan Heterotrigona itama diperoleh masing-masing sebesar 8,77±0,04 mgEK/g dan 0,41±0,01 mgEK/g. Dari uji MTT diperoleh ekstrak etanol propolis dari Geniotrigona thoracica dan Heterotrigona itama menunjukkan tidak adanya aktivitas antikanker pada sel kanker HepG2 dengan IC50 berturut-turut sebesar 886,42 μg/mL dan 2195,66 μg/mL.

Liver cancer ranks sixth in cancer cases worldwide and Indonesia's fifth highest cancer incidence. Giving chemotherapy as a cancer treatment can have uncomfortable side effects and can cause drug resistance. Therefore, additional therapy is needed by looking for potential anticancer agents, one of which is propolis. The anticancer of Propolis is thought to originate from its main compounds, namely phenols and flavonoids. This study aimed to determine the anticancer activity of ethanol extract of propolis (EEP) from Geniotrigona thoracica and Heterotrigona itama from East Kalimantan. Raw propolis is extracted using ethanol. The total phenolic content of the ethanol extract of propolis was quantified using the Folin-Ciocalteu method, and the total flavonoid content using the AlCl3 colorimetric method with a UV-Vis spectrophotometer. The anticancer test was carried out using the MTT assay method against HepG2 cells. Variations in EEP concentrations used in this study were 2000, 1000, 500, 250, and 125 μg/mL. The total phenolic content of the ethanol extract of propolis from Geniotrigona thoracica and Heterotrigona itama was 92.31±0.65 mgGAE/g and 11.61±0.03 mgGAE/g, respectively. The total flavonoid content of the ethanol extract of propolis from Geniotrigona thoracica and Heterotrigona itama was 8.77±0.04 mgQE/g and 0.41±0.01 mgQE/g, respectively. From the MTT assay, it was obtained that the ethanol extract of propolis from Geniotrigona thoracica and Heterotrigona itama showed no anticancer activity on HepG2 cancer cells with IC50 of 886.42 μg/mL and 2195.66 μg/mL, respectively."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tony Supardi
"ABSTRAK
Propolis adalah produk lebah yang banyak terdapat di Indonesia. Pemanfaatan propolis diantaranya sebagai makanan berfungsi tinggi yang bernilai ekonomis, karena propolis memiliki banyak kandungan bioaktif , diantaranya senyawa flavonoid dan polifenol. Propolis bersifat hidrofob, sehingga tidak optimal diserap tubuh, oleh karena itu harus diolah terlebih dahulu. Untuk mendapatkan produk yang bernilai tinggi maka dibuat inovasi terhadap produk olahan propolis, diantaranya yaitu dengan membuat nanofood propolis. Tujuan pembuatan nanofood propolis yaitu agar kandungan bioaktif propolis dapat diserap optimal oleh tubuh. Nanofood propolis menggunakan penyalut yang bersumber dari protein yaitu casein micelle yang dapat menyalut senyawa bioaktif hidrofob dalam propolis. Hasil pemisahan propolis dengan wax nya optimal pada konsentrasi etanol 70%, sehingga propolis ini digunakan untuk penyalutan. Untuk menghasilkan partikel nano digunakan gelombang ultrasonik terhadap produk, dan untuk memisahkan partikel nano dilakukan proses mikrofiltrasi. Efisiensi penyalutan propolis untuk senyawa polifenol hasilnya 67,05%, sementara untuk senyawa flavonoid 93,9 %, . Dari hasil analisa distribusi ukuran partikel menggunakan Particle Size Analyzer (PSA), produk nanofood sebelum mikrofiltrasi memiliki diameter 1353.7 nm, sedangkan produk sesudah mikrofiltrasi memiliki diameter 316,1 nm.

ABSTRACT
Propolis is a bee product that is widely available in Indonesia. Utilization of propolis as a food of which serves a high economic value, because the propolis has many content of bioactive compounds including flavonoids and polyphenols. Propolis is hydrophobic, so it is not absorbed optimal, therefore, must be processed first. To obtain a high-value product innovations will be made to the processed product propolis, including by production nanofood propolis. The purpose to production nanofood propolis is bioactive content can be absorbed by the body optimally. Nanofood propolis using a encapsulation derived from the protein casein micelle can encapsulate hydrophobic bioactive compounds in propolis. The results of purification propolis was optimal at 70% ethanol concentration, so that propolis is used for encapsulated. nanoparticles produce used ultrasonic waves to the product, and to separate the nano particles made microfiltration process. Encapsulation efficiency propolis for polyphenolic compounds is 67.05%, while for flavonoid compounds 93.9%. Analysis of particle size distribution using a Particle Size Analyzer (PSA), a product nanofood propolis before microfiltration has a diameter of 1353.7 nm, while the products after microfiltration has a diameter of 316.1 nm"
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S1473
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Alifa Husnia Al Haq
"ABSTRACT
Latar Belakang: Pada beberapa tahun terakhir, terjadi kenaikan insidensi infeksi jamur yang diiringi dengan kenaikan resistensi terhadap flukonazol sebagai salah satu pilihan obat untuk infeksi jamur. Sehingga perlu dipertimbangkan adanya alternatif obat yang efektif dan diharapkan juga memiliki efek samping minimal, salah satunya adalah propolis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas propolis Indonesia dari lebah Tetragonula biroi terhadap pertumbuhan Candida sp. dan Cryptococcus neoformans. Metode: Penelitian eksperimental untuk menguji sensitivitas propolis dengan menggunakan teknik difusi cakram yang dilakukan pada enam jenis jamur yaitu Candida albicans, Candida glabrata, Candida parapsilosis, Candida krusei, Candida tropicalis, dan Cryptococcus neoformans. Sampel yang diuji adalah emulsi propolis Indonesia dari lebah Tetragonula biroi dengan konsentrasi 10 mg/ml, 50 mg/ml, dan 70 mg/ml. Hasil: Propolis jenis ini tidak efektif dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans, Candida tropicalis, Candida parapsilosis, dan Candida krusei, namun berpotensi dalam menghambat pertumbuhan Candida glabrata dan Cryptococcus neoformans. Kenaikan konsentrasi tidak berpengaruh terhadap daya hambat propolis. Diskusi Konsentrasi propolis Indonesia dari lebah Tetragonula biroi yang lebih rendah dari 10 mg/ml dapat dipertimbangkan untuk memberikan hasil yang lebih optimal.

ABSTRACT
Background: In recent years, there has been an increase in the incidence of fungal infections accompanied by an increase in resistance to fluconazole as one of the drug choices for fungal infections. So that it needs to be considered the existence of an alternative drug that is effective and also expected to have minimal side effect, one of which is propolis. This research was done to determine the activity of Indonesian Propolis from Tetragonula biroi Bee on the growth of Candida sp. and Cryptococcus neoformans. Methods: An experimental study to test the susceptibility of propolis using disc diffusion technique performed on six types of fungi, they are Candida albicans, Candida glabrata, Candida parapsilosis, Candida krusei, Candida tropicalis, and Cryptococcus neoformans. The samples tested were Indonesian propolis emulsion from Tetragonula biroi bee with concentration of 10 mg/ml, 50 mg/ml, and 70 mg/ml. Results: This type of propolis is not effective in inhibiting the growth of Candida albicans, Candida tropicalis, Candida parapsilosis, and Candida krusei, but has the potential to inhibit the growth of Candida glabrata and Cryptococcus neoformans. The increase in concentration does not affect the inhibition of propolis. Discussion: The lower concentration than 10 mg/ml of Indonesian propolis emulsion from Tetragonula biroi bee can be considered to provide more optimal results. "
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Max Raymond Jonathan
"ABSTRAK

Sebagai sebuah sumber makanan yang berasal dari alam, propolis memiliki potensi sebagai anti bakteri, anti virus, anti jamur, dan juga anti parasit. Uji aktivitas antimikroba pada propolis penting dilakukan untuk mengetahui potensi lebih jauh mengenai propolis. Propolis yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel - sampel Propolis Apis mellifera dan Propolis Trigona spp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dari kedua jenis propolis dalam menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri patogen, yaitu Escherichia coli, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi,dan Staphylococcus aureus dengan menggunakan metode cakram kertas. Konsentrasi propolis yang digunakan sebesar 300 ppm dan 3000 ppm. Bakteri patogen dibiakkan dan ditanamkan ke dalam Seed Layer. Dari semua data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa kuersetin bukan hanya satu – satunya senyawa yang memiliki potensi sebagai antimikroba dalam propolis, karena ada salah satu sampel dimana konsentrasi yang dimiliki jauh lebih kecil, namun memberikan zona aktivitas antibakteri yang dapat menyaingi konsentrasi sampel yang jauh lebih besar. Dari seluruh sampel, aktivitas paling kuat dihasilkan oleh Propolis Apis mellifera asal Arab. Sementara Bacillus subtilis merupakan bakteri yang paling dihambat pertumbuhannya. Kemudian, sampel Propolis Apis mellifera dari merupakan sampel dengan aktivitas inhibisi terbanyak.


ABSTRACT

As a food source that comes from nature, propolis has potentials as an antibacterial, anti-viral, anti-fungal, and anti-parasite. The antimicrobial activity test in propolis is an essential thing to do to know more about the potential of propolis itself. Types of propolis that used in this research are Apis Mellifera Propolis samples and Trigona spp Propolis samples. The aim of this research is to determine the ability of both types of propolis in inhibiting pathogens bacterial growth., namely Escherichia coli, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi,and Staphylococcus aureus using the disk diffusion method. The concentration of propolis that used are 300 ppm and 3000 ppm. The pathogen bacterias cultured and implanted into the seed layer. From all the obtained data, it can be concluded that quercetin is not the only compound that has antimicrobial potential, because there is one sample with small concentration that gives an inhibition zone almost as big as another sample with high concentration. From the entire samples, Propolis from Arab is the most potent sample by producing the biggest zone of inhibition. Meanwhile, the growth of Bacillus subtilis is the most inhibited from all sampels. Propolis from China has the highest inhibition activity compared to another samples.

"
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2014
S57322
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tiarrahman
"Propolis merupakan zat yang dihasilkan oleh lebah yang memiliki manfaat sebagai antiviral, antifungal, dan antibacterial activity. Produksi propolis dilakukan melalui ekstraksi menggunakan etanol dan pengenceran menggunakan air sehingga untuk meningkatkan kemurnian produk maka etanol dan air perlu dihilangkan lagi pada produk akhir dengan cara dievaporasi pada tekanan vakum. Proses evaporasi yang sudah dikembangkan belum mampu meregenerasi etanol dengan baik dan kapasitas produksi propolis masih dalam jumlah kecil, sehingga perlu dilakukan proses optimasi dan peningkatan produksi propolis.
Pada penelitian ini disimulasikan evaporator vakum untuk mendapatkan kondisi operasi optimum untuk memproduksi propolis. Pada penelitian ini digunakan program COMSOL Multiphysics yang berbasis Computational Fluid Dynamics(CFD). Dari hasil simulasi yang telah dilakukan dengan melihat profil penurunan etanol dan melakukan variasi kondisi operasi diketahui bahwa kondisi operasi optimum pada suhu 343 K, tekanan 5x10-3 atm serta lama proses evaporasi sekitar 13 jam. Pada kondisi operasi ini mampu memberikan penurunan etanol lebih signifikan daripada variasi kondisi operasi lainnya. Hasil ini masih perlu dievaluasi lagi untuk mendapatkan hasil yang lebih optimum untuk mengevaporasi solvent.

Propolis is substance which produce by honey bees. Propolis has many benefit for the health, such as antiviral, antifungal and antibacterial activity. Propolis was produced by extraction using ethanol and then diluted in water. Increasing the quality of product, solvent needed to remove from the product by means evaporated at vacuum pressure. Evaporation processes which has been developed not able to regenerate the solvent . Based on this condition, it is necessary to optimize evaporation process.
This research simulating a vacuum evaporator to obtain the optimum operating conditions to produce propolis. This research using programme COMSOL Multiphysics, programme based on Computational Fluid Dynamics (CFD). The simulation results that have been made known that the optimum operation condition was at 343K in temperature and pressure of 5x10-3 atm with evaporation time about 13 hours. These results still needed to be evaluated to obtain optimum number of operation condition in evaporating solvent.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S46450
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tambunan, Ricky Pramanta
"Simulasi proses produksi dilakukan dengan mengekstraksi bahan baku propolis trap dengan etanol. Selain itu dilakukan pencampuran dengan bahanbahan tertentu, penyaringan hasil, aging, freezing, dekantasi dan terakhir pendestilasian untuk mendapatkan hasil produksi propolis cair. Dari komponen-komponen yang ada ditentukan unit prosedur yang akan digunakan, harga setiap komponen dan unit operasi. Penentuan kelayakan ekonomi juga dilakukan mulai harga bahan baku untuk produksi aliran produk propolis cair, penggunaan air, labor dan equipment dependent, waste treatment sampai utilitas.
Dari hasil simulasi yang didapat diharapkan dapat dihasilkan harga jual yang lebih besar dari unit production cost dengan payback period yang singkat. Pemodelan proses produksi yang dilakukan untuk menghasilkan produksi yang optimal ini disimulasikan dengan menggunakan piranti lunak SuperPro Designer 5.5. Data yang digunakan berasal dari beberapa penelitian sebelumnya yang dimasukkan sebagai data dan kemudian disimulasikan dengan software tersebut. Dari simulasi ini ditargetkan produksi mencapai kira-kira 60 liter propolis cair per minggu

Simulation of the production process is carried out by extracting raw propolis trap with ethanol. In addition also mixing certain components, filtering results, aging, freezing, decanting and destilation to get the last production of propolis liquid. From the component, that is prescribed procedure to be used, the price of each component and unit operations. Determination of economic feasibility is also done from the price of raw materials fot the production of liquid propolis products flow, use of water, labor and equipment, waste treatment to dependent utilities.
The simulated results obtained are expected to generated a sale greater than the unit production cost with a short payback period. Modeling of the production process is done to generate the optimal production is simulated using software SuperPro Designer 5.5. Data used derived from some previous study is entered as data and the simulated with software. From the simulation is targeted to production reached approximately 60 liters or propolis liquid per week.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S47232
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christoforus Steven Dwinovandi
"Ekstrak flavonoid yang terkandung didalam propolis telah terbukti dapat meningkatkan fungsi jantung pasca myocardial infarction (MI). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh propolis terhadap karakteristik swelling, profil rilis, degradasi, dan toksisitas hidrogel polivinil alkohol (PVA)-gelatin untuk aplikasi perancah patch jantung. Perancah hidrogel PVA/gelatin difabrikasi menggunakan metode freeze thaw dengan penambahan propolis sebanyak 3%, 7%, dan 10%. Inkorporasi propolis didalam matriks hidrogel menyebabkan penurunan swelling ratio hidrogel menjadi sekitar 254%, 221% dan 190% saat penambahan propolis sebanyak 3%, 7%, dan 10% secara berurutan. Kemampuan swelling ini mampu menjadikan hidrogel sebagai sistem penghantar obat yang melepas propolis melalui mekanisme sustained released. Dalam durasi 6 jam, perancah hidrogel mampu melepas propolis sebanyak 4,30%, 4,86%, dan 5,68% seiring dengan meningkatnya kandungan propolis 3%, 7%, dan 10%.  Penambahan konsentrasi propolis terbukti memodifikasi laju degradasi hidrogel dimana seiring penambahan propolis, weight loss yang diamati semakin tinggi. Sampel dengan propolis 3%, 7%, dan 10% mengalami pengurangan berat sebanyak 31%, 41%, dan 48% secara berurutan. Degradasi yang terjadi pada hidrogel mengikuti mekanisme surface erosion sehingga memampukan patch terdegradasi dalam lingkungan biologis seiring perbaikan jaringan jantung. Hasil uji sitotoksisitas mendapati nilai viabilitas sel pada kadar propolis 3%, 7% dan 10%, adalah 77%, 94%, dan 80% secara berurutan.  Nilai viabilitas sel menunjukkan bahwa propolis tidak menghambat metabolisme sel HEK-293 dan tidak bersifat toksik. Penelitian ini menunjukkan propolis dapat dienkapsulasi ke dalam matriks hidrogel sebagai sistem penghantaran obat maupun sebagai perancah patch jantung yang berpotensi mempercepat regenerasi jaringan baru.

Flavonoid extracts contained in propolis have been shown to improve heart function after myocardial infarction (MI). This study aims to study the effect of propolis on swelling characteristics, release profile, degradation, and toxicity of hydrogels made from polyvinyl alcohol (PVA)-gelatin for cardiac patch scaffold applications. The PVA/gelatin hydrogel scaffolds were fabricated using the freeze thaw method with the addition of 3%, 7% and 10% propolis. The incorporation of propolis in the hydrogel matrix led to a decrease in the swelling ratio of the hydrogel to around 254%, 221% and 190% when the concentration of propolis was 3%, 7% and 10% respectively. This swelling behavior turns the hydrogel into a drug delivery system that releases propolis through a sustained release mechanism. Within 6 hours, the hydrogel scaffolds were able to release 4.30%, 4.86%, and 5.68% of propolis as the propolis concentration increased by 3%, 7%, and 10%. The addition of propolis concentration has been shown to modify the hydrogel degradation rate as when propolis is added, the observed weight loss is higher. Samples with 3%, 7%, and 10% propolis experienced a weight reduction of 31%, 41%, and 48%, respectively. The degradation that occurs in the hydrogel follows the surface erosion mechanism so that it enables the patch to degrade in a biological environment as cardiac tissue repairs. Cytotoxicity test results found cell viability values at propolis levels of 3%, 7% and 10% were 77%, 94% and 80% respectively. This research shows that propolis can be incorporated into a hydrogel matrix as a drug delivery system or as a cardiac patch scaffold which has the potential to accelerate the regeneration of new tissue."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adrie Octavianus Thioritz
"ABSTRAK
Latar Belakang: Streptococcus mutans (S.mutans) merupakan bakteri utama penyebab karies. Virulensi S.mutans dapat digambarkan melalui profil protein. Telah banyak penelitian yang menyebutkan propolis memiliki sifat anti bakteri dan dapat menurunkan prevalensi S.mutans. Tujuan: Mengetahui perbedaan efek antara permen propolis hisap, permen X dan permen madu terhadap profil protein S mutans yang diisolasi dari plak gigi. Metode: Sampel plak diambil sebelum dan sesudah perlakuan lalu dibiakkan pada medium agar dan medium cair TYS Broth. Profil protein dianalisis dengan metode SDS PAGE. Hasil: Permen X dan permen madu meningkatkan ekspresi protein GbpB, GbpC dan menurunkan ekspresi protein GtfB, GtfC, GtfD dan AgI/II. Permen propolis hisap dan permen madu sama-sama meningkatkan ekspresi protein GbpD. Kesimpulan: Permen X dan permen madu memiliki efek yang cukup mirip dalam mengubah profil protein S.mutans. Sementara permen propolis hisap memiliki efek berlawanan dengan permen X dan permen madu.

ABSTRACT
Background: Streptococcus mutans (S.mutans) is the main bacteria that caused caries. S.mutans’ virulence can be observed by protein profile. There have been lots of researches which proved that propolis has antibacterial properties and can reduce the prevalence of S.mutans. Objectives: To know the differences between the effects of propolis candy, X candy, and honey candy to the protein profile of S.mutans that isolated from dental plaque. Methods: Plaque samples were taken before and after treatment and then cultured on agar and liquid medium TYS Broth. Protein profile was analyzed using SDS PAGE method. Result: X candy and honey candy both increase the protein expression of GbpB, GbpC and decrease the protein expression of GtfB, GtfC, GtfD and AgI/II. Propolis candy and honey candy both increase the protein expression of GbpD. Conclusion: X candy and honey candy have fairly similar effects in changing the protein profile of S.mutans. While, propolis candy has the opposite effects with X candy and honey candy."
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>