Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 29868 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Christoforus Steven Dwinovandi
"Ekstrak flavonoid yang terkandung didalam propolis telah terbukti dapat meningkatkan fungsi jantung pasca myocardial infarction (MI). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh propolis terhadap karakteristik swelling, profil rilis, degradasi, dan toksisitas hidrogel polivinil alkohol (PVA)-gelatin untuk aplikasi perancah patch jantung. Perancah hidrogel PVA/gelatin difabrikasi menggunakan metode freeze thaw dengan penambahan propolis sebanyak 3%, 7%, dan 10%. Inkorporasi propolis didalam matriks hidrogel menyebabkan penurunan swelling ratio hidrogel menjadi sekitar 254%, 221% dan 190% saat penambahan propolis sebanyak 3%, 7%, dan 10% secara berurutan. Kemampuan swelling ini mampu menjadikan hidrogel sebagai sistem penghantar obat yang melepas propolis melalui mekanisme sustained released. Dalam durasi 6 jam, perancah hidrogel mampu melepas propolis sebanyak 4,30%, 4,86%, dan 5,68% seiring dengan meningkatnya kandungan propolis 3%, 7%, dan 10%.  Penambahan konsentrasi propolis terbukti memodifikasi laju degradasi hidrogel dimana seiring penambahan propolis, weight loss yang diamati semakin tinggi. Sampel dengan propolis 3%, 7%, dan 10% mengalami pengurangan berat sebanyak 31%, 41%, dan 48% secara berurutan. Degradasi yang terjadi pada hidrogel mengikuti mekanisme surface erosion sehingga memampukan patch terdegradasi dalam lingkungan biologis seiring perbaikan jaringan jantung. Hasil uji sitotoksisitas mendapati nilai viabilitas sel pada kadar propolis 3%, 7% dan 10%, adalah 77%, 94%, dan 80% secara berurutan.  Nilai viabilitas sel menunjukkan bahwa propolis tidak menghambat metabolisme sel HEK-293 dan tidak bersifat toksik. Penelitian ini menunjukkan propolis dapat dienkapsulasi ke dalam matriks hidrogel sebagai sistem penghantaran obat maupun sebagai perancah patch jantung yang berpotensi mempercepat regenerasi jaringan baru.

Flavonoid extracts contained in propolis have been shown to improve heart function after myocardial infarction (MI). This study aims to study the effect of propolis on swelling characteristics, release profile, degradation, and toxicity of hydrogels made from polyvinyl alcohol (PVA)-gelatin for cardiac patch scaffold applications. The PVA/gelatin hydrogel scaffolds were fabricated using the freeze thaw method with the addition of 3%, 7% and 10% propolis. The incorporation of propolis in the hydrogel matrix led to a decrease in the swelling ratio of the hydrogel to around 254%, 221% and 190% when the concentration of propolis was 3%, 7% and 10% respectively. This swelling behavior turns the hydrogel into a drug delivery system that releases propolis through a sustained release mechanism. Within 6 hours, the hydrogel scaffolds were able to release 4.30%, 4.86%, and 5.68% of propolis as the propolis concentration increased by 3%, 7%, and 10%. The addition of propolis concentration has been shown to modify the hydrogel degradation rate as when propolis is added, the observed weight loss is higher. Samples with 3%, 7%, and 10% propolis experienced a weight reduction of 31%, 41%, and 48%, respectively. The degradation that occurs in the hydrogel follows the surface erosion mechanism so that it enables the patch to degrade in a biological environment as cardiac tissue repairs. Cytotoxicity test results found cell viability values at propolis levels of 3%, 7% and 10% were 77%, 94% and 80% respectively. This research shows that propolis can be incorporated into a hydrogel matrix as a drug delivery system or as a cardiac patch scaffold which has the potential to accelerate the regeneration of new tissue."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gerimis Arofah
"Penyakit jantung menyebabkan sekitar 7 juta kematian setiap tahun akibat infark miokard yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Dengan kemampuan terbatas jantung untuk meregenerasi diri, diperlukan strategi terapi efektif untuk pemulihan fungsi miokard pasca infark miokard. Penelitian ini berfokus pada karakterisasi fisika kimia hydrogel berbasis PVA-gelatin-hAM untuk menargetkan terapi infrak miokard. Hydrogel berbasis PVA-gelatin-hAM difabrikasi menggunakan metode freeze-thaw dengan 2 siklus. Karakterisasi hydrogel yang dilakukan meliputi FTIR, DSC, swelling, compression, reologi, dan SEM. Hasil uji FTIR menunjukkan adanya pembentukan ikatan silang dalam matriks hydrogel. Penambahan gelatin dan hAM terbukti dapat menurunkan melting temperature PVA. Hydrogel PVA-Gel-hAM menunjukkan nilai swelling ratio yang paling rendah. Nilai kuat tekan pada PVA, PVA-Gel, PVA-hAM, dan PVA-Gel-hAM secara berurutan sebesar 1,359 ± 0,0730 MPa, 0,7678 ± 0,1020 MPa, 0,3399 ± 0,01930 MPa, dan 0,5892 ± 0,05662 MPa. Hasil uji reologi dengan frequency sweep menunjukkan bahwa storage modulus lebih tinggi daripada loss modulus pada seluruh hydrogel berbasis PVA-gelatin-hAM. Hasil uji SEM menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan dalam morfologi antara hydrogel PVA, PVA-Gel, dan PVA-Gel-hAM, meskipun hydrogel PVA-hAM memiliki morfologi berserat yang khas kolagen. Penelitian hydrogel berbasis PVA-Gelatin-hAM merupakan yang pertama kali dilakukan. Hal ini menjadi kontribusi baru dalam bidang hydrogel untuk cardiac patch.

Cardiovascular disease results in approximately 7 million deaths annually, primarily due to myocardial infarction, which is a leading cause of morbidity and mortality. Given the heart's limited regenerative capacity, there is a pressing need for effective therapeutic strategies to restore myocardial function post-myocardial infarction. This research focuses on the physicochemical characterization of a PVA-gelatin-hAM-based hydrogel for myocardial infarction therapy. The hydrogel was fabricated using a freeze-thaw method over two cycles. Characterization techniques included FTIR, DSC, swelling tests, compression tests, rheological analysis, and SEM. FTIR results indicated the formation of cross-links within the hydrogel matrix. The addition of gelatin and hAM significantly reduced the melting temperature of PVA. The PVA-Gel-hAM hydrogel exhibited the lowest swelling ratio among the samples. The compressive strength values for PVA, PVA-Gel, PVA-hAM, and PVA-Gel-hAM were 1.359 ± 0.0730 MPa, 0.7678 ± 0.1020 MPa, 0.3399 ± 0.01930 MPa, and 0.5892 ± 0.05662 MPa, respectively. Rheological tests using frequency sweep analysis demonstrated that the storage modulus was consistently higher than the loss modulus across all PVA-gelatin-hAM-based hydrogels. The SEM analysis shows no significant difference in morphology between PVA hydrogel, PVA-Gel, and PVA-Gel-hAM, despite PVA-hAM hydrogel exhibiting a characteristic collagen-like fibrous morphology. This pioneering study on PVA-Gelatin-hAM-based hydrogels represents a novel contribution to the field of hydrogels for cardiac patch applications."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ketherin
"Pendahuluan : Resesi gingiva merupakan salah satu kelainan pada jaringan periodontal yang sangat umum ditemukan pada populasi global. Modalitas pengobatan konvensional seperti pencangkokan gingiva menggunakan jaringan autologous memiliki keterbatasan dalam hal invasivitas, morbiditas area donor, dan tingkat keberhasilan yang bervariasi. Gelatin yang merupakan turunan dari kolagen mengandung sekuens arginin–glisin–asam aspartat (RGD) yang penting untuk mendukung adhesi dan interaksi sel di sekitarnya. Pengembangan biomaterial seperti hidrogel gelatin dinilai menjanjikan karena sifatnya yang biokompatibel, kemudahannya untuk disesuaikan, dan karakternya yang mirip dengan matriks ekstraseluler membuatnya menjadi agen regenerasi yang potensial. Tujuan: Mengevaluasi karakter fisik hidrogelgelatin crosslinked dengan menggunakan EDC/NHS dan non-crosslinked sebagai biomaterial potensial untuk scaffoldgingiva. Metode: Hidrogel gelatin dibuat menjadi 2 kelompok yaitu kelompok crosslink dengan menggunakan EDC/NHSdan kelompok non-crosslinked. Sampel dilakukan uji morfologi, uji viskositas, dan analisis gugus fungsi. Perbedaan morfologi diuji dengan uji T test independen dan hasil analisis viskositas dan gugus fungsi dilaporkan secara deskriptif. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok hidrogel gelatin crosslinked dan non-crosslinked dimana kelompok gelatin crosslinked memiliki interkonektivitas yang lebih besar. Kelompok non-crosslinked tidak dapat dilakukan uji viskositas karena sifatnya yang temperatur sensitif. Analisis uji FTIR menunjukkan tidak terdapat perbedaan gugus fungsi yang signifikan antara kedua kelompok tersebut. Kesimpulan: Hidrogel gelatin crosslinked dengan menggunakan EDC/NHS memberikan gambaran scaffold yang lebih stabil dan potensial sebagai biomaterial scaffold gingiva.

Introduction : Gingival recession is a kind of mucogingival deformity widely found in the global population. Conventional treatment modalities such as gingival grafting using autologous tissue have limitations in terms of invasiveness, donor site morbidity, and variable success rates. Gelatin, derived from collagen, contains the arginine–glycine–aspartic acid (RGD) sequence, which is crucial for supporting cell adhesion and interactions in its vicinity. The development of biomaterials like gelatin hydrogels might be promising due to their biocompatible nature, ease of customization, and structural similarity to the extracellular matrix, making them a potential agent for gingival regeneration. Objective: To evaluate the physical characteristics of crosslinked gelatin hydrogel using EDC/NHS and non-crosslinked gelatin as a potential biomaterial for gingival scaffolds. Methods: Gelatin hydrogels were divided into two groups: the crosslinked group using EDC/NHS and the non-crosslinked group. The samples underwent morphological, viscosity, and functional group analysis. Morphological differences were assessed using an independent T-test, while viscosity and chemical composition analysis results were reported descriptively. Results: There is a significant difference between the crosslinked and non-crosslinked gelatin hydrogel groups, where the crosslinked gelatin group exhibits greater interconnectivity. Viscosity testing could not be conducted on the non-crosslinked group due to its temperature-sensitive nature. FTIR analysis indicates no significant difference in chemical composition between the two groups. Conclusion: The EDC/NHS crosslinked gelatin hydrogel provides a depiction of a more stable scaffold that has more potential as a biomaterial for gingival regeneration."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fathia Agzarine Deandra
"Latar Belakang: Connective Tissue Graft (CTG) yang menjadi standar baku emas perawatan resesi gingiva memiliki tingkat kesulitan perawatan yang cukup tinggi, serta menimbulkan rasa cemas dan ketidaknyamanan pada pasien. Hidrogel gelatin banyak dikembangkan dalam bidang tissue engineering karena memiliki sifat yang menyerupai matriks ekstraseluler jaringan tubuh. Hidrogel gelatin masih memiliki kekurangan dalam hal sifat mekanisnya, sehingga perlu dilakukan crosslinking secara kimia untuk meningkatkan potensinya sebagai scaffold regenerasi gingiva. Tujuan: Mengevaluasi efek agen crosslinker EDC pada hidrogel gelatin sebagai scaffold regenerasi gingiva. Metode: Pembuatan hidrogel gelatin dilakukan menggunakan bubuk gelatin bovine, sedangkan agen crosslinker yang digunakan adalah 1-(3-dimethylaminopropyl)-3’-ethylcarbodiimide hydrochloride (EDC) yang dikominasikan dengan N-hydroxysuccinimide (NHS). Uji porositas, swelling, dan biodegradasi dilakukan secara in-vitro dan ditriplikasi. Hasil: Penambahan agen crosslinker EDC menurunkan nilai porositas hidrogel gelatin menjadi 89,52%, menurunkan laju swelling, serta menahan biodegradasi hidrogel gelatin menjadi 92,43% pada hari ke-14. Kesimpulan: Agen crosslinker EDC memiliki efek yang dapat membuat struktur serta sifat mekanis scaffold menjadi lebih ideal untuk digunakan sebagai agen regenerasi gingiva.

Background: Connctive Tissue Graft (CTG), the gold standard treatment for gingival recession, often results in increased patient morbidity. Gelatin-based hydrogel has been extensively explored as a biomaterial for tissue engineering, mimicking the extracellular matrix of host tissue. However, the mechanical strength of this biomaterial requires enhancement to make it an ideal scaffold for gingival regeneration. Aim: Evaluate the effect of EDC as crosslinking agents on gelatin-based hydrogel as a scaffold for gingival regeneration. Methods: Gelatin hydrogels were prepared using bovine gelatin powder, and the crosslinker composed of a combination of 1-(3-dimethylaminopropyl)-3'-ethylcarbodiimide hydrochloride (EDC) and N-hydroxysuccinimide (NHS). In-vitro tests, such as porosity, swelling, and biodegradation, were conducted in triplicate for all samples. Results: Gelatin hydrogels with added EDC as crosslinking agents showed a reduction of porosity by 89.52% (p<0.05), decrease in swelling ratio (p<0.05), and retained hydrogel biodegradation rate to 92,43% (p<0.05) on day-14th. Conclusion: EDC demonstrated the ability to improve the structural and mechanical strength of the scaffold, making it more suitable as a gingival regenerative agent."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rusyda Fajarani
"Kerusakan tulang adalah salah satu penyebab utama kecacatan manusia yang secara keseluruhan menyebabkan penurunan kualitas hidup. Teknologi rekayasa jaringan telah dikembangkan untuk solusi kerusakan tulang dengan menerapkan perancah berbasis biomaterial. Berbagai material polimer alami dan sintesis dapat digunakan sebagai material perancah tulang untuk membantu adhesi dan proliferasi sel. Material konduktif berbasis karbon juga dapat dikombinasikan dalam perancah tulang dan telah diteliti dapat meningkatkan kekuatan mekanis perancah serta membantu proses pertumbuhan sel. Pada penelitian ini, dilakukan pengembangan perancah tulang menggunakan material kolagen, hydroxypropyl methylcellulose (HPMC), dan poly(vinyl alcohol) (PVA), dengan penambahan material multiwalled carbon nanotube (MWCNT) dan reduced graphene oxide (rGO). Material kolagen diekstraksi secara mandiri menggunakan metode deep eutectic solvent dari sumber ikan king kobia. Kolagen hasil ekstraksi dikarakterisasi secara fisika kimia dengan SEM, FTIR, XRD, dan DSC, dengan hasil karakterisasi menunjukkan kolagen mengandung gugus amida dan memiliki struktur triple helix khas kolagen. Dengan demikian kolagen king kobia hasil ekstraksi cocok untuk dilanjutkan sebagai material perancah. Fabrikasi perancah dilakukan menggunakan freeze-drying, kemudian dikarakterisasi secara fisika kimia dengan mengamati morfologi melalui SEM, identifikasi gugus fungsi melalui FTIR, sifat mekanik tekan, porositas, wettability, swelling, dan laju degradasi. Hasilnya menunjukkan perancah berpori dan struktur saling terhubung dengan kekuatan mekanik sekitar 9 MPa yang telah sesuai dengan tulang trabekular, porositas tinggi mencapai 90%, swelling tinggi mencapai 300% tetapi dapat tetap mempertahankan integritas perancah, laju degradasi yang sesuai dengan kehilangan massa perancah yang kurang dari 20% dalam 28 hari, serta sifat hidrofilik dengan sudut kontak air kurang dari 90o. Hasil ini menunjukkan perancah yang difabrikasi dapat menjadi kandidat yang potensial dalam aplikasi rekayasa jaringan tulang. Selain itu, karakteristik konduktivitas perancah dievaluasi melalui pengukuran elektrokimia menggunakan cyclic voltammetry (CV), menghasilkan perancah konduktif yang ditandai dengan pembentukan puncak redoks.

Bone damage is one of the leading causes of human disability which leads to an overall decrease in quality of life. Tissue engineering technology has been developed for bone damage solutions by applying biomaterial-based scaffolds. Various natural and synthetic polymeric materials can be used as bone scaffold materials to facilitate cell adhesion and proliferation. Carbon-based conductive materials can also be combined in bone scaffolds and have been investigated to increase the mechanical strength of the scaffold and assist the cell growth process. In this research, bone scaffolds were developed using collagen, hydroxypropyl methylcellulose (HPMC), and poly(vinyl alcohol) (PVA), with the addition of multiwalled carbon nanotube (MWCNT) and reduced graphene oxide (rGO) materials. Collagen material was extracted independently using deep eutectic solvent method from king cobia fish source. The extracted collagen was characterized physically and chemically by SEM, FTIR, XRD, and DSC, with the characterization results showing that collagen contains amide groups and has a typical triple helix structure of collagen. Thus, the extracted king cobia collagen is suitable to be continued as a scaffold material. The scaffolds were fabricated using freeze-drying and characterized physically and chemically by observing morphology through SEM, functional group identification through FTIR, compressive mechanical properties, porosity, wettability, swelling, and degradation rate. The results showed porous scaffolds and interconnected structures with mechanical strength of about 9 MPa which is compatible with trabecular bone, high porosity of up to 90%, high swelling of up to 300% but still maintaining the integrity of the scaffold, suitable degradation rate with mass loss of less than 20% in 28 days, and hydrophilic properties with water contact angle of less than 90o. These results suggest the fabricated scaffold could be a potential candidate in bone tissue engineering applications. In addition, the conductivity characteristics of the scaffolds were evaluated through electrochemical measurements using cyclic voltammetry (CV), resulting in conductive scaffolds characterized by the formation of redox peaks."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marselinus Duapadang
"Latar Belakang: Trauma dentoalveolar merupakan kerusakan pada daerah gigi dan tulang alveolar serta jaringan pendukung gigi. Prosedur pemulihan dengan cara Bone grafting yang menggantikan tulang yang hilang. Bahan alami seperti Hidroksiapatit Gelatin dan propolis dilaporkan dapat meningkatkan proliferasi dan mineralisasi sel osteoblas.
Tujuan: Untuk menetapkan peningkatan proliferasi dan minrealisasi setelah pemajanan elusi hidroksiapatit, gelatin, dan propolis 6% pada hari ke-7, 14, dan 21 terhadap medium kultur sel osteoblast sebagai bone graft secara in vitro.
Metode: Melakukan uji pewarnaan Alizarin Red Staining (ARS) pada kelompok perlakuan dengan interval waktu hari ke-7, 14, dan 21. Analisis menggunakan ImageJ menentukan deposisi kalsium dan jumlah sel osteoblast.
Hasil: Pada tiap interval waktu hari ke-7, 14, dan 21 kelompok uji Hidroksiapatit-Gelatin-Propolis mengalami peningkatan deposisi kalsium dan jumlah sel. Namun, terdapat hasil fluktuatif pada beberapa kelompok uji pada hari ke-7, 14, dan 21.
Kesimpulan: Elusi Hidroksiapatit-Gelatin-Propolis dapat meningkatkan proliferasi dan mineralisasi pada sel osteoblast.

Background: Dentoalveolar trauma is damage to the area of ​​​​the tooth, the alveolar bone and the supporting tissues of the teeth. A recovery procedure by means of bone grafting which replaces the lost bone. Natural ingredients such as Hydroxyapatite Gelatin and propolis are reported to increase the proliferation and mineralization of osteoblast cells.
Aim: To determine the increase in proliferation and mineralization after exposure hydroxyapatite, gelatin, and propolis 6% elution on days 7, 14, and 21 to osteoblast cell culture medium as bone graft in vitro.
Method: Performed Alizarin Red Staining (ARS) staining test on the treatment group with time intervals of 7, 14, and 21 days. Analysis by using ImageJ to determined calcium deposition and the number of osteoblast cells. Result : At each time interval of 7, 14, and 21 days the Hydroxyapatite-Gelatin-Propolis test group experienced an increase in calcium deposition and cell number. However, there were fluctuating results in several test groups on the 7th, 14th, and 21st days.
Conclusion: Hydroxyapatite-Gelatin-Propolis elution can increase the proliferation and mineralization of osteoblast cells.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Carissa Theadora
"Latar belakang: Material bone graft harus efektif dan aman dengan kualitas baik. Alloplastic graft merupakan salah satu jenis bone graft yang dapat dibuat dari material sintetis seperti hidroksiapatit dan gelatin. Propolis merupakan bahan alami yang berasal dari lebah yang dilaporkan berpotensi dapat mempercepat proses regenerasi tulang dengan cara mengurangi inflamasi dan meningkatkan aktivitas sel melalui bahan aktif CAPE. Oleh karena itu, propolis diharapkan dapat menambah manfaat jika dikombinasikan pada hidroksiapatit-gelatin. Namun, penambahan suatu bahan terhadap material medis sehingga menjadi material medis baru memerlukan uji khasiat dan keamanan dari masing-masing bahan. Salah satu uji keamanan adalah uji sitotoksisitas terhadap sel yang mungkin akan berkontak untuk mengetahui biokompatibilitasnya. Tujuan: Mengetahui sitotoksisitas bone graft hidroksiapatit-gelatin dan propolis terhadap viabilitas sel fibroblas. Metode: Penyusunan literature review ini dilakukan sepanjang bulan Desember 2020. Pencarian literatur terkait dilakukan melalui 2 electronic database, yaitu PubMed dan Scopus dengan menggunakan kata kunci yang sesuai dengan pertanyaan penelitian. Penentuan kriteria inklusi dilakukan dengan mengikuti alur Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Hasil: Dari hasil penelusuran pustaka maka terpilih 6 literatur. Dua literatur menyatakan bahwa propolis dalam konsentrasi rendah tidak bersifat sitotoksik terhadap sel fibroblas. Satu literatur melaporkan bahwa CAPE dapat meningkatkan viabilitas dan menghambat respons inflamasi sel fibroblas. Satu literatur melaporkan bahwa bahan carbonated hydroxyapatite yang direndam dalam propolis dapat meningkatkan viabilitas sel fibroblas. Dua literatur menyatakan bahwa bone graft hidroksiapatit-gelatin tidak bersifat sitotoksik serta dapat memicu adhesi dan proliferasi sel fibroblas. Kesimpulan: Propolis dan material hidroksiapatit-gelatin sebagai bahan bone graft tidak bersifat sitotoksik terhadap sel fibroblas.

Background: Bone graft material must be effective and safe with good quality. Alloplastic graft is a type of bone graft that can be made from synthetic materials such as hydroxyapatite and gelatin. Propolis is a natural material derived from bees which is reported to have the potential to accelerate the bone regeneration process by reducing inflammation and increasing cell activity through the active ingredient CAPE. Therefore, it is expected that propolis can add benefits when combined with hydroxyapatite-gelatin. However, the addition of an ingredient to a medical material so that it becomes a new medical material requires a test of the efficacy and safety of each ingredient. One of the safety tests is the cytotoxicity test of cells that may come into contact to determine biocompatibility of the material. Objective: To determine the cytotoxicity of hydroxyapatite-gelatin and propolis bone graft towards fibroblast cell viability. Methods: This literature review was conducted throughout December 2020. The search for related literature was done through 2 electronic databases, PubMed and Scopus, using keywords that match the research question. The determination of the inclusion criteria was carried out by following the flow of Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta- Analyses (PRISMA). Results: From the literature search results, six literatures were selected. Two literatures state that propolis in low concentrations is not cytotoxic against fibroblast cells. One literature suggests that CAPE can increase viability and inhibit the inflammatory response in fibroblasts. One literature reports that carbonated hydroxyapatite soaked in propolis can increase the viability of fibroblasts. Two literatures state that hydroxyapatite-gelatin bone graft is not cytotoxic and can promote adhesion and proliferation of fibroblast cells. Conclusion: Propolis and hydroxyapatite-gelatin material as bone graft materials are not cytotoxic to fibroblast cells."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Maulana Ghiffary
"Osteoartritis merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kemunduran tulang rawan dan menyebabkan kekakuan, nyeri, dan gangguan pergerakan. Strategi rekayasa jaringan tulang menggunakan perancah dapat menjadi alternatif yang menjanjikan untuk regenerasi jaringan tulang yang rusak. Penelitian ini bertujuan untuk fabrikasi dan karakterisasi perancah dengan material chitosan (CS), hyaluronic acid (HA), hydroxyapatite (Hap) dengan kombinasi penambahan graphite (Gr), graphene oxide (GO), dan multiwalled carbon nanotube (MWNCT) untuk aplikasi rekayasa jaringan tulang. Dalam penelitian ini, dilakukan sintesis GO dan fungsionalisasi kimia dari material Gr dan MWNCT. Fabrikasi perancah dilakukan dengan metode freeze drying. Seluruh kelompok perancah dilakukan karakterisasi SEM dan FTIR, uji tekan dan porositas, uji swelling, wettability, dan laju degradasi. Fabrikasi perancah dibagi menjadi empat kelompok yaitu CS/HA/HAp, CS/HA/HAp/GO, CS/HA/HAp/f-Gr, dan CS/HA/HAp/f-MWNCT dengan ukuran diameter 1 cm, tinggi 1,5 cm, dan luas permukaan luas permukaan 4,71-6,28 cm2. Keseluruhan perancah memiliki ukuran pori yang bervariasi dan terdistribusi pada permukaan. Berdasarkan hasil FTIR, perancah mengandung gugus fungsi O-H, C=O, C-O-C, amida I, amida II, dan fosfat (PO43-). Pada uji kekuatan tekan, keseluruhan perancah memiliki CS/HA/HAp memiliki kekuatan tekan dan young modulus yang serupa dengan cancellous bone sebesar 5,76-6,14 MPa dan 3,95-471 MPa. Perancah memiliki laju porositas dengan rentang 13,8- 86,6%. Perancah memiliki kemampuan wettabiliy yang baik dengan rentang persentase 726-1069%. Rasio swelling perancah berada pada rentang 25,2-39,3%. Laju degradasi perancah cukup terkontrol dengan rentang 16,7-35,5%. Berdasarkan seluruh hasil karakterisitik, perancah CS/HA/HAp dengan penambahan GO merupakan kandidat terkuat sebagai perancah ideal pada penelitian ini. Perancah GO mempunyai karakteristik yang berada diantara perancah kontrol dan perancah f-MWNCT/f-Gr.

Osteoarthritis is a chronic disease characterized by the deterioration of cartilage and causes stiffness, pain, and impaired movement. The bone tissue engineering strategy using scaffolds can be a promising alternative for the regeneration of damaged bone tissue. This study aims to fabricate and characterize scaffolds with chitosan (CS), hyaluronic acid (HA), hydroxyapatite (Hap) with a combination of addition of graphite (Gr), graphene oxide (GO), and multiwalled carbon nanotubes (MWNCT) for tissue engineering applications. In this study, GO synthesis and chemical functionalization of Gr and MWNCT materials were carried out. Scaffolding was done by freeze drying method. All groups of scaffolds were characterized by SEM and FTIR, compressive and porosity tests, swelling, wettability, and rate of degradation tests. Scaffolding was divided into four groups, namely CS/HA/HAp, CS/HA/HAp/GO, CS/HA/HAp/f-Gr, and CS/HA/HAp/f-MWNCT with a diameter of 1 cm, height 1, 5 cm, and a surface area of ​​4.71-6.28 cm2. The entire scaffold has varying pore sizes and is distributed over the surface. Based on the results of FTIR, the scaffold contains functional groups O-H, C=O, C-O-C, amide I, amide II, and phosphate (PO43-). In the compressive strength test, all scaffolds having CS/HA/HAp had similar compressive strength and young modulus with cancellous bone of 5.76-6.14 MPa and 3.95-471 MPa. Scaffolds have porosity rates in the range of 13.8-86.6%. Scaffolds have good wetability with a percentage range of 726-1069%. The swelling ratio of the scaffolds was in the range of 25.2-39.3%. The rate of degradation of the scaffold was quite controlled with a range of 16.7-35.5%. Based on all the characteristic results, the CS/HA/HAp scaffold with the addition of GO was the strongest candidate as the ideal scaffold in this study. The GO scaffold has characteristics that are between the control scaffold and the f-MWNCT/f-Gr scaffold."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nahda Nafila Salsabila
"Kasus fraktur tulang tanpa disadari sangat umum terjadi di dunia. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor eksternal seperti kecelakaan maupun faktor internal seperti usia. Seiring bertambahnya umur, kemampuan tulang untuk meregenerasi dirinya sendiri menjadi semakin berkurang. Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi medis berupa perancah untuk membantu proses penyembuhan fraktur pada lansia. Penelitian ini melakukan fabrikasi perancah komposit berbahan dasar polyvinyl alcohol (PVA) dan polycaprolactone (PCL) dengan variasi konsentrasi ZrO2 (zirkonium dioksida) dan modifikasi permukaan perancah menggunakan gelatin. Perancah difabrikasi dengan metode freeze drying. Kombinasi PVA dan PCL dapat membantu memperlambat proses degradasi dalam tubuh, sehingga perancah mampu memberikan topangan hingga tulang sembuh secara sempurna. Penambahan gelatin pada permukaan perancah berfungsi untuk meningkatkan bioaktivitas perancah. Penambahan ZrO2 dilakukan untuk menambah agen antibakterial serta meningkatkan proliferasi sel. Untuk melihat pengaruh penambahan ZrO2 terhadap karakteristik biologis perancah komposit PVA/PCL dengan pelapisan gelatin untuk rekayasa jaringan tulang, dilakukan uji viabilitas serta uji diferensiasi dengan pewarnaan alizarin merah. Hasil uji viabilitas menunjukkan keunggulan pada perancah 2,5% ZrO2 dengan nilai 90,14%, 5% ZrO2 dengan nilai 90,07%, dan 7,5% ZrO2 dengan nilai 89,19% di hari terakhir pengujian. Absorbansi tertinggi untuk hasil uji MTT ditunjukkan pada perancah 5% ZrO2 dengan nilai 0,447, 2,5% ZrO2 dengan nilai 0,388, dan PVA/PCL dengan nilai 0,372. Uji diferensiasi menunjukkan penambahan ZrO2 dengan kadar 2,5% dapat mendukung diferensiasi osteogenik namun hasilnya belum optimal. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa perancah dengan kombinasi material PVA, PCL, ZrO2, dan gelatin yang dibuat dengan metode freeze dry dan modifikasi permukaan memiliki potensi untuk aplikasi rekayasa jaringan tulang.

Cases of bone fractures are very common worldwide. Fractures can be caused by external factors such as accidents, or internal factors such as aging. As people age, the bone’s ability to regenerate itself decreases. Therefore, medical intervention in the form of bone scaffold is needed to help the fracture healing process of the elderly. This study is aiming to fabricate composite scaffolds made from polyvinyl alcohol (PVA) and polycaprolactone (PCL) with various concentration of ZrO2 (zirconium dioxide) and surface modification of the scaffold using gelatin. The scaffold is fabricated using the freeze-drying method. The combination of PVA and PCL can help slow down the scaffold’s degradation inside the body, so that the scaffold will be able to provide support until the bones heal completely. The addition of gelatin to the surface serves to increase the bioactivity of the scaffold. The addition of ZrO2 serves to add antibacterial agents and increase cell proliferation. To see the effect of adding ZrO2 on the biological characteristics of PVA/PCL scaffolds with gelatin coating for bone tissue engineering, assays such as viability assays and osteogenic differentiation with alizarin red staining. Both viability assay shows superior results of 2,5% ZrO2 scaffolds with 90,14% of viability, 5% ZrO2 scaffold with 90,07% of viability, and 7,5% ZrO2 scaffold with 89,19% of viability on the last day of the assay. Absorbance from MTT assay shows superior results of 5% ZrO2 scaffold with a value of 0,447, 2,5% ZrO2 scaffold with a value of 0,388, and PVA/PCL scaffold with a value of 0,372. Osteogenic differentiation assay shows only the 2,5% ZrO2 scaffold is capable of inducing ostegenic differentiation. Hence, the fabrication of bone scaffold with the combination of PVA, PCL, ZrO2, and gelatin using freeze dry method and surface modification has potential to be used for bone tissue engineering."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Ahmad Indra Sakti
"ABSTRAK
Fabrikasi mikro merupakan teknologi advanced untuk manufaktur produk ukuran kecil yang kini telah diaplikasikan luas dalam berbagai bidang termasuk kesehatan. Tissue engineering adalah salah satu bidang dari aplikasi teknologi ini dengan berfokus pada rekayasa fabrikasi scaffold. Scaffold yang ideal dipersyaratkan memiliki konstruksi yang mirip dengan lingkungan jaringan target dengan struktur 3D, biodegradable, berpori dan vaskularis. Saat ini, hidrogel gelatin merupakan salah satu material biomatriks yang tepat untuk fabrikasi scaffold. Gelatin tersebut dibentuk dengan metode photo-patterning menggunakan sensitizer rose bengal pada panjang gelombang cahaya tampak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan merealisasikan bentuk scaffold 2D sebagai dasar pembentukan struktur jaringan 3D. Karakterisasi hasil photo-patterning dilakukan dengan mengukur dimensi pattern width, ketebalan resolusi dan intensitas. Proses ini menghasilkan daerah kerja optimum pada konsentrasi 2% dengan waktu 3 menit.

ABSTRACT
Microfabrication is an advanced technology for manufacturing products of small size that has now been widely applied in various fields including health area. Tissue engineering becomes ones application of this technology focused on engineering scaffold fabrication. The ideal scaffold required to have a construction similar to the target network environment with a 3D structure, biodegradable, porous and vaskularize. At present, the gelatin hydrogel is appropriate biomatrix material for fabricating the scaffold. Gelatin is formed by photo-patterning method using the sensitizer rose bengal at visible light’s wavelength. This study aims to develop and realize the basic shape of the scaffold 2D as 3D tissue structure formation. Characterization results of photo-patterning is done by measuring the dimensions of the pattern width, thickness and intensity resolution. This process resulted in optimum working area at a concentration of 2% with a time of 3 minutes."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S53262
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>