Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 154026 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Farhani Dea Asy-Syifa
"Hidrosefalus merupakan kondisi akumulasi cairan serebrospinal didalam sistem ventrikel otak yang seiring waktu dapat menekan dan melukai otak disekitarnya. Analisis dilakukan pada pasien anak laki-laki berusia 11 tahun yang mengalami hidrosefalus obstruktif non komunikans. Diagnosis keperawatan yang muncul adalah penurunan kapasitas adaptif intrakranial, konstipasi, dan risiko infeksi. Intervensi pemberian posisi head up elevasi 30 derajat dilakukan selama 5 hari. Hasil yang didapatkan adalah pemberian posisi head up elevasi 30 derajat efektif untuk mengurangi keluhan pasien terkait tanda dan gejala peningkatan tekanan intrakranial. Dapat disimpulkan, pemberian posisi head up elevasi 30 derajat dapat dilakukan untuk menurunkan tekanan intrakranial. Pemberian posisi head up elevasi 30 derajat adalah salah satu tindakan non invasif yang terbukti dapat menurunkan tekanan intrakranial pada pasien-pasien yang memiliki masalah peningkatan tekanan intrakranial. Prosedur pemberian posisi head up elevasi 30 derajat mudah untuk dilakukan secara mandiri baik oleh perawat, tenaga kesehatan lain, hingga keluarga pasien.

Hydrocephalus is a condition of accumulation of cerebrospinal fluid in the ventricular system of the brain which over time can compress and injure the surrounding brain. The analysis was performed on an 11-year-old boy who had non-communicating obstructive hydrocephalus. The nursing diagnoses are decreased intracranial adaptive capacity, constipation, and risk of infection. The intervention of giving a 30 degree elevation head-up position was carried out for 5 days. The results obtained are that giving a 30 degree elevation head-up position is effective in reducing patient complaints related to signs and symptoms of increased intracranial pressure. It can be concluded, giving a head up position of 30 degrees elevation can be done to reduce intracranial pressure. Giving a 30 degree elevation head-up position is one of the non-invasive measures that is proven to reduce intracranial pressure in patients who have problems with increased intracranial pressure. The procedure for giving a 30 degree head-up elevation position is easy to do independently, both by nurses, other health workers, and the patient's family."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Robiyatul Adawiyah, supervisor
"Hidrosefalus adalah adanya peningkatan cairan serebrospinal (CSS) otak yang disebabkan ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi CSS atau sumbatan pada ventrikel otak. Penurunan kapasitas adaptif merupakan masalah utama pada anak hidrosefalus. Pemberian posisi elevasi kepala 15 sampai 30 derajat ialah intervensi keperawatan yang aman dan mandiri. Karya tulis ini menggambarkan dampak pemberian posisi elevasi kepala 15 sampai 30 derajat pada anak dengan hidrosefalus untuk menstabilkan tekanan intrakranial (TIK) dan memelihara stabilitas CSS. Intervensi ini dilakukan pada anak selama tiga hari. Maka direkomendasikan untuk memberikan posisi elevasi kepala 15 sampai 30 derajat pada anak dengan hidrosefalus untuk menstabilkan perubahan TIK.

Hydrocephalus is an increased cerebrospinal fluid (CSF) of the brain caused by an imbalance of CSF production and absorption or obstruction in brain ventricles. Decreased intracranial adaptive capacity is main nursing care problem for this client. Head up 15 to 30 degrees position is safe and independent nursing care. This paper aims to describe impact result of head up 15 to 30 degrees position in children with hydrocephalus to stabilize intracranial pressure (ICP) changes and maintain stability of cerebral perfusion fluid. This intervention was performed for a child in 3 days. It is recommended to provide head up 15 to 30 degrees position in children with hydrocephalus to stabilize ICP changes.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2015
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hafidzah Fitriyah
"Kejadian hidrosefalus merupakan kasus terbanyak pertama dalam pada Januari-Maret 2013 di ruang bedah anak RSUP Fatmawati Jakarta. Salah satu penatalaksanaan medis bagi anak dengan hidrosefalus adalah operasi VP shunt. Terapi farmakologi maupun nonfarmakologi diberikan untuk menangani nyeri pada pasien hidrosefalus post operasi. Hal tersebut menjadikan dasar tujuan karya ilmiah ini untuk memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan hidrosefalus post operasi VP shunt. Salah satu terapi untuk mengatasi nyeri secara non farmakologi adalah dengan menggunakan non-nutritive sucking. Nyeri pada neonatus dapat dikaji menggunakan skala nyeri neonatus dengan nilai 0-7. Penggunaan non-nutritive sucking ini efektif digunakan untuk mengurangi nyeri pada eonates pada saat prosedur eonates. Hasil penerapan dari intervensi yang telah dilakukan pada anak dengan hidrosefalus post operasi VP shunt dengan diagnosa keperawatan nyeri yaitu nyeri teratasi dibuktikan dengan adanya penurunan skala nyeri dari skala 6 ke skala 2.

Hydrocephalus was the first biggest cases in January-March 2013 at pediatric surgery ward in RSUP Fatmawati Jakarta. One of medical treatments for child with hydrocephalus is VP shunt surgery. Pharmacological and nonpharmacological therapy given to treat pain in patient with hydrocephalus postoperative. It makes the basic purpose of this manuscript to provide nursing care to children with hydrocephalus postoperative VP shunt. One of nonpharmacological therapy to treat the pain is using non-nutritive sucking. Pain in neonates can be assased by using neonates pain scale with score 0-7. The use of non-nutritive sucking is effectively used to reduce pain in neonates during invasive procedures. The result of the application the interventions in children with hydrocephalus postoperative VP shunt with a nursing diagnosis of pain, pain can resolved by a decrease in pain scale from scale 6 to scale 2.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mahdian Nur Nasution
"Telah dilakukan penelitian analitik deskriptif yang dilakukan secara cross sectional dengan menggunakan data sekunder terhadap 59 kasus Hidrosefalus yang ditegakkan melalui hasil CT Scan atau MRI, kemudian dilakukan tindakan operasi pemasangan pirau di RSCM selama periode 2003-2007. Penelitian ini bertujan melihat korelasi antara Evan's ratio dengan tekanan intraventrikel saat operasi.

A descriptive analytical study has been carried out in a cross-sectional manner using secondary data on 59 cases of Hydrocephalus which were established through CT Scan or MRI results, then surgical procedures were carried out to install the diarrhoea at the RSCM during the period 2003-2007. This study aims to see the correlation between Evan's ratio and intraventricular pressure during surgery."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
T-pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yuminah
"ABSTRAK
Kondisi yang kronis atau akut seperti hidrosefalus menimbulkan dampak pada
keluarga diantaranya masalah ekonomi, persaingan saudara kandung, perhatian
kepada anak-anak, proses menjadi orang tua terhadap tekanan dan kemampuan
mengatasi masalah. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman orang tua
merawat anak hidrosefalus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi
sederhana sebanyak enam ibu anak hidrosefalus berpartisipasi, yang didapatkan
dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara dan
catatan lapangan yang dianalisis dengan teknik analisis isi. Penelitian ini
menghasilkan lima tema yaitu: 1) keluhan fisik yang dialami ibu, 2) jenis koping
yang dilakukan ibu, 3) reaksi berduka yang dialami ibu, 4) dukungan yang
diperoleh ibu, dan 5) kebutuhan ibu dalam merawat anak hidrosefalus. Simpulan
dari penelitian ini adalah merawat anak hidrosefalus menimbulkan perubahan
kehidupan keluarga karena anak hirosefalus membutuhkan perhatian khusus
dalam memenuhi kebutuhan anak hidrosefalus shari-hari.

ABSTRACT
Chronic or acute conditions white hidrosefalus have an impact on families
including economic issues, sibling rivalry, attention to children, the process of
becoming a parent for the pressure and the ability to overcome the problem. This
study aims to explore the experiences of parents in caring for hydrocephalus. This
study uses a simple qualitative study of six young mothers participating
hydrocephalus, which is obtained by using purposive sampling. Data were
collected through interviews and field notes were analyzed using content analysis
techniques. This research resulted in five themes, such as: 1) physical complaints
experienced by the mother, 2) type of coping that do mothers, 3) grief reactions
experienced by the mother, 4) obtained support mothers, and 5) the mother in
caring for the needs of hydrocephalus. The conclusions of this study are caring for
hydrocephalus led to changes in family life because hirosefalus children need
special attention to meet the needs of children in the day-to-day hydrocephalus."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T40850
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diyo, Andrew Robert
"Tujuan: anak pasca ventrikullo-peritone (vp)shunt menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan kualitas luaran hidupnya namun hal ini masih belum diteliti dengan baik sampai sekarang. Pengukuran luaran klinis anak pasca vpshunt dipengaruhi kondisi kesehatan fisik, sosial emosional dan fisik yang sering diabaikan. Kulkarni et al mengembangkan pengukuran luaran kesehatan secara kuantitatif berupa Hidrocephalus Outcome Questinnare (HOQ), yang dirancang khusus untuk anak pasca vpshunt yang dapat diselesaikan oleh orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan luaran pada anak pasca vpshunt saat kunjungan ke poli klinik dengan menggunakan HOQ dan mencari hubungan nilai luaran kesehatan HOQ nya dengan faktor penyebab terjadinya hidrosefalus.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan secara potong lintang yang dilakukan pada semua anak (5-16 tahun) pasca vpshunt periode Januari 2003 sampai Desember 2013, yang datang kontrol di klinik rawat jalan Bedah Saraf Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo. Nilai luaran anak diukur setelah orang tua pasien menyelesaikan HOQ. Faktor penyebab hidrosefalus dan faktor-faktor prediktor yang dapat mempengaruhi luaran pasien diambil dari catatan rekam medis pasien. Dilakukan analisis eksplorasi dengan menggunakan uji parametric dan non-parametrik untuk menentukan hubungan dan faktor mana yang dapat mempengaruhi luaran kesehatan anak yang lebih buruk .
Hasil: Orang tua dari 30 anak pasca vpshunt saat kunjungan ke klinik rawat jalan berpartisipasi dalam penelitian ini. Usia rata-rata anak adalah 9,6 tahun ± 3,8 tahun ( rentang 6-16 ) dengan dominasi laki-laki ( 70 % ) . Rerata luaran kesehatan secara keseluruhan adalah 0,67 yang artinya secara umum hidrosefalus memberikan efek pada semua domain kesehatan. Luaran kesehatan fisik secara signifikan lebih baik pada kelompok etiologi pasca infeksi sebagai penyebab hidrosefalusnya dibandingkan dengan kelompok etiologi congenital ataupun neoplasma dengan nilai p 0,03. Kelompok pasien yang mengalami kejang pasca vpshunt memiliki luaran kesehatan lebih buruk pada semua domain kesehatan dibandingan kelompok yang tidak mengalami kejang dengan nilai p <0,05.
Kesimpulan: Terdapat hubungan luaran kesehatan fisik yang lebih baik pada etiologi pasca infeksi sebagai penyebab hidrosefalus. Variable yang dapat mempengaruhi seluruh domain luaran kesehatan anak adalah kelompok anak yang mengalami kejang pasca vpshunt. HOQ merupakan instrumen sederhana dan berguna untuk menentukan luaran anak pasca vpshunt di klinik rawat jalan.

Objective: Children with hydrocephalus face several quality of life (QOL) issues that have not been studied properly until now. In the measurement of clinical outcome in pediatric patients with hydrocephalus, the condition effects on a child’s physical, emotional, cognitive, and social health are frequently ignored. Kulkarni et al developed a quantitative health status measurement, the Hydrocephalus Outcome Questionnaire (HOQ), which is designed specifically for children with hydrocephalus and may be completed by the children's parents. The objective of this study is to provide current information on outcome in recently treated children with hydrocephalus, using the HOQ and assess the association between HOQ score in children with hydrocephalus and etiologic factors of hydrocephalus.
Methods: This is a preliminary cross-sectional study conducted to all children (5–16 years old) with treated hydrocephalus during period January 2003 to December 2012, who attended the neurosurgery outpatient clinic at the Cipto Mangunkusumo National Hospital. The patient’s QOL score was measured from the parent-completed HOQ. The etiologic and predictor variables were extracted from the medical records. An exploratory analysis was performed using parametric and non-parameteric test to determine which variables might be associated with worse health status.
Result: The parents of 30 children treated for hydrocephalus participated in the study. The mean age was 9.6 years ± 3,8 years (range 6-16) with predominance male (70%). The mean HOQ overall health score was 0.67, it means hydrocephalus effect overall child health status. HOQ physic score was significantly better in the ‘etiology of post infection’ group rather in ‘etiology of congenital or neoplasm’, with p value 0.03. Compared to the group of patients with no seizure, the group of patients with seizure after treated ventriculo-peritoneal shunt have significant worse overall HOQ health status score with p value <0.05.
Conclusion: There is association between the HOQ physic health status in children treated hydrocephalus with infection as the etiology of hydrocephalus. The only variable found to be associated significantly with health status in hydrocephalus patient treated with ventriculo-peritoneal shunt was seizure. The HOQ is a simple and useful measurement for determining outcome in pediatric hydrocephalus patient treated with ventrculo-peritoneal shunt.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nathalia Rose Fransisca Karma
"Subarachnoid hemorrhage (SAH) atau perdarahan subarachnoid umumnya disebabkan oleh pecahnya aneurisma yang mengakibatkan darah terserap masuk ke rongga parenkim otak, dan juga mengganggu sirkulasi cairan serebrospinal. Aneurisma otak sendiri biasanya berada pada sirkulus wilisi yang merupakan suatu lingkaran anastomosis berbentuk cincin yang berfungsi untuk mendistribusikan darah ke kedua hemisfer serebral. SAH memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Angka kematian yang tinggi erat kaitannya dengan peningkatan tekanan intrakranial. Upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan tekanan intrakranial salah satunya dengan elevasi kepala 30º. Penulisan karya ilmiah akhir ners ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien perdarahan subarakhnoid dengan penerapan intervensi elevasi kepala 30°. Hasil intervensi menunjukkan elevasi kepala 30° terbukti efektif untuk mengurangi risiko peningkatan tekanan intrakranial sebagai upaya meningkatkan venous return pada pasien stroke.

Subarachnoid hemorrhage (SAH) is generally caused by rupture of an aneurysm which causes blood to be absorbed into the brain parenchymal cavity, and also interferes with the circulation of cerebrospinal fluid. Brain aneurysms themselves are usually located in the circle of Willis which is a ring-shaped anastomotic circle that serves to distribute blood to both cerebral hemispheres. SAH has a high rate of morbidity and mortality. A high mortality rate is closely related to increased intracranial pressure. One of the efforts that can be done to reduce intracranial pressure is with a head elevation of 30º. The purpose of writing this final scientific paper for nurses is to describe nursing care for patients with subarachnoid hemorrhage with the application of a 30° head elevation intervention. The results of the intervention showed that 30° head elevation was effective in reducing the risk of increased intracranial pressure as an effort to increase venous return in stroke patients."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Amiroh Fauziah A.G.A
"Hidrosefalus merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya kelebihan atau adanya akumulasi cairan serebrospinal/cerebrospinal fluid (CSF) di dalam ventrikel dan ruang subarachnoid dari rongga tengkorak. Salah satu penatalaksanaan medis yang dilakukan pada pasien dengan hidrosefalus adalah dengan pemasangan VP shunt. Masalah yang sering terjadi pada pasien dengan hidrosefalus adalah nyeri akut, penurunan kapasitas adaptif intrakranial, dan risiko infeksi. Tujuan dari penulisan karya ilmiah adalah untuk menguraikan hasil analisis asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien hidrosefalus dengan penurunan kapasitas adaptif intrakranial dengan posisi semi fowler. Kemudian, penulisan ini juga bertujuan untuk menjelaskan gambaran dari hasil pemberian asuhan keperawatan kepada pasien. Pemberian posisi semi fowler diberikan untuk mengurangi tekanan intrakranial. Berdasarkan hasil penelitian ini, penerapan intervensi pemberian posisi semi fowler sebagai intervensi untuk menurunkan tekanan intrakranial pada pasien dengan hidrosefalus terbukti dapat menurunkan keluhan nyeri, mual, muntah, dan penurunan kesadaran.

Hydrocephalus is a condition characterized by excess or accumulation of cerebrospinal fluid (CSF) in the ventricles and the subarachnoid space of the skull cavity. One of the medical treatments performed in patients with hydrocephalus is the installation of a VP shunt. Problems that often occur in patients with hydrocephalus are acute pain, decreased intracranial adaptive capacity, and risk of infection. The purpose of writing scientific papers is to describe the results of the analysis of nursing care given to hydrocephalus patients with decreased intracranial adaptive capacity with semi-Fowler's position. Then, this paper also aims to explain the description of the results of providing care to patients. Semi-Fowler's position is given to reduce intracranial pressure. Based on the results of this study, the application of the intervention of giving the semi-Fowler's position as an intervention to reduce intracranial pressure in patients with hydrocephalus has been shown to reduce complaints of pain, nausea, vomiting, and decreased consciousness."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Nurhayati
"Hidrosefalus merupakan keadaan yang disebabkan gangguan keseimbangan antara produksi dan absorpsi cairan serebrospinal dalam sistem ventrikel otak. Pembedahan merupakan cara yang efektif dalam mengatasi penyakit ini mulai dari pemasangan sampai dengan pelepasan pirau ventrikuloperitoneal. Nyeri merupakan salah satu masalah keperawatan yang dapat muncul pasca pembedahan. Penulisan karya ilmiah akhir ini bertujuan untuk memberi gambaran asuhan keperawatan pada klien anak usia sekolah yang mengalami hidrosefalus dengan salah satu intervensinya adalah terapi bermain permainan elektronik, distractor nyeri. Hasilnya menunjukkan penurunan skala nyeri. Rekomendasi dari karya ilmiah ini adalah menjadikan terapi bermain yang variatif sebagai salah satu Standar Operasional Prosedur (SOP) di pelayanan.

Hydrocephalus is a symptom which is the result of balance disorder of production and absorption cerebrospinal fluid in brain ventricle system. Surgical is an effective way to solve this case begin with the entering until removal vp shunt. Pain is one of nursing problems of post operation. The objective of this study was to ascertain the effect if electronic game therapy in decreasing pain scale in a school age child with hydrocephalus who had been through an electronic game of pain distraction therapy. Result of this study indicated that there is an effect in decreasing pain scale. This study suggest that a health care institution should considered this therapy to be applied in nursing service.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dede Liman
"Telah dilakukan penelitian tentang manfaat dari pemeriksaan Tomografi komputer untuk mendeteksi hidrosefalus anak pada stadium dini. Penelitian dilakukan di bagian Radiology RSCM periode 1 Januari 1988 sampai 31 Desember 1990, terdapat sejumlah 83 penderita yang dilakukan distribusi menurut umur 0-12 tahun, jenis kelamin, jenis hidrosefalus, letak sumbatan, penyebab sumbatan dan derajat hidrosefalus.
Dari 62 penderita yang dapat diukur derajatnya, dilakukan penelitian statistik hubungan korelasi dan regresi dengan pengukuran kepala dari skanogram Tomografi komputer ( yang telah dilakukan konversi). Ternyata ukuran biparietal, anteroposterior, tinggi I dan tinggi II berhubungan bermakna dengan derajat hidrosefalus. Untuk umur di bawah 2 tahun, diameter anteroposterior paling baik untuk mendeteksi hidrosefalus dini dengan batas terbawah sebesar mean dari standar Schmid, sedangkan untuk umur 2 sampai 12 tahun diameter tinggi I merupakan yang terbaik dengan batas terbawah sebesar mean dikurangi satu standar deviasi.

The use of Computed tomography had been discussed for the detection of hydrocephalus in children in the department of Radiology, University of Indonesia, Cipto Mangunkusumo Hospital in the period of January 1988 till December 1990 recently.
There were 83 patients that had been distributed into age from 0 till twelve years old, sex distribution, type of hydrocephalus, site of obstruction, cause of obstruction and the grading of hydrocephalus.
Grading of hydrocephalus had been detected in 62 patients and correlated with statistical study with the head measurement from the tomographic scannogram that had been conversed primarily. It was showed that biparietal, anteroposterior, and cephalocaudal diameter had correlated with the grading.
For the age of under 2 years old, the anteroposterior diameter got very highly correlation to detect early stage of hydrocephalus with the limit above the normal Schmid standard, and for 2 years till twelve years old, the cephalocaudal diameter ( measure from tuberculum of cella to the point of junction between sagital and coronal suture ) was very dependable with the limit above the normal Schmid minus one standard deviation."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>