Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 50355 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ni Nyoman Sri Budayanti
"Dewasa ini, insiden tuberkulosis ekstrapulmoner semakin meningkat. Konfirmasi bakteriologi sering sulit karena kuman da1am jumlah sedikit di tempat infeksi dapat menimbulkan keru3akan jaringan dan kuman menginfeksi tempat yang sulit untuk pengambilan spesimen. Hingga saat ini, di Indonesia belum ada laporan angka keberhasilan isolasi mikobakterium dari penderita dengan kecurigaan tuberkulosis ekstrapulmoner. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan mikroskopis basil tahan asam, biakan dan pemeriksaan PCR terhadap 83 spesimen penderita dengan kecurigaan tuberkulosis ekstrapulmoner. Biakan dilakukan secara duplo pada dua macamjenis media padat yaitu media Lowenstein-Jensen (LJ) dan media LJ mengandung asam piruvat 2% serta satu macam media cair yaitu Middlebrook 7H9. Ekstraksi DNA menggunakan metoda Boom dan reaksi PCR dilakukan untuk mendeteksi fragmen DNA sebesar 123 bp pada 186110. Hasil biakan lebih tinggi didapatkan pada pemakaian kedua macam media padat secara bersamaan daripada pemakaian satu jenis media padat. Sebanyak 20 (24,1 %) isolat mikobakterium berhasil diisolasi. Empat isolat (4,8%) adalah MOTT dan sisanya adalah M. tuberculosis. Hasil perneriksaan PCR mendapatkan sensitivitas 87,5% hila biakan digunakan sebagai baku emas. Analisis statistik kornbinasi pemeriksaan pcwarnaan basil tahan asarn dan PCR menggunakan biakan dan P A sebagai baku emas atau biakan M tuberculosis dan PCR menggunakan pemeriksaan mikroskopis dan PCR sebagai baku standard menunjukkan basil berbeda bermakna (p= 0,017 dan p= 0,009) sehingga kombinasi pemeriksaan ini dapat digunakan untuk meningkatkan diagnosis penderita dengan kecurigaan tuberkulosis ekstrapulmoner.

The incidence of extrapulmonal tuberculosis (EPTB) is rising in the recent years. Bacteriological confirmation ofEPTB is often difficult because low amount of bacteria may cause severe infection and the location of infection renders the specimen collection to be difficult. Until now, data conseming mycobacterium isolation and detection rate of M tuberculosis causing EPTB in Indonesia is not available.ln this study we examined 83 specimens from patients with suspected EPTB by microscopic acid-fast staining, culture and PCR assay. Cultures were done in duplo on two kinds of solid media (LowensteinJensen (LJ) and LJ with pyruvic acid 2%) and on one liquid medium (Middlebrook 7H9). The PCR assay was based on the detection of a 123 bp DNA fragment of the insertion sequence 186110. DNA was isolated with silica method. The results showed that isolation rate by culture on two solid media together were higher than on one solid medium only. Twenty (24,1%) mycobacterium isolates were isolated from 83 EPTB specimens. Four (4,8%) isolates were identified as MOTT and 16 (19,3%) as M tuberculosis. The s.!nsitivity of 186110 PCR for detection of M tuberculosis was 87,5% with bacterial culture as the gold standard. Combination of microscopic acid-fast staining and PCR showed in significantly difference result when culture and histopathologic finding was used as the gold standard (p= 0,00 17). Combination of culture and PCR also showed in significantly defference result when microscopic acid-fast staining and histopathologic finding was used as the gold standard (p= 0,009). We conclude that combination of two assay i.e. acid-fast staining and PCR or bacterial culture and PCR, are more sensitive than using one method only, resulting in better diagnosis of patients with suspected EPTB."
Jakarta: Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, 2003
T58385
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gani Winoto
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000
T58793
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Reaksi orang tua terhadap suatu penyakit akan bervariasi, begitu juga terhadap anggota
keluarga yang sakit Tuberkulosis. Keadaan ini dapat mendorong keluargaforang tua untuk
menggunakan strategi koping tertentu untuk mengatasi masalah. Penelitian ini berjudul
Gambaran koping orang tua pada keluarga dengan penderita Tuberkulosis di wilayah kelja
Puskesmas Kemiri Muka Depok. Penelitian ini menggunakan desain diskriptif sederhana
yang bertujuan mendapatkan gambaran koping keluargaforang tua pada keluarga dengan
penderita Tuberkulosis. Penelitian dilakukan terhadap 22 keluarga yang rnempunyai
anggota menderita TB paru di wilayah Puskesmas Kemiri Muka Depok Analisa dilakukan
untuk mendapatkan frekuensi dari koping keluarga/orang tua dalam menghadapi masalah
keberadaan anggota keluarga dengan TB paru. Hasil penelitian menggambarkan respon
keluarga/orang tua adalah cemas. Hal ini mendorong setrategi koping keluarga/orang tua
untuk menghadapi masalah dan menyelesaikan masalah."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2004
TA5396
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Budianto
"Pielografi intravena (PIV) dianggap sebagai pemeriksaan awal yang terbaik pada pasien dengan kecurigaan batu ureter, tetapi belakangan ultrasonograpi (USG) telah dianggap sebagai salah satu altematif. Telah dilakukan suatu studi prospektif untuk melihat sekiranya pendekatan ini dapat dipergunakan untuk mendiagnosis batu ureter. Telah dilakukan penelitian terhadap 43 pasien dengan kecurigaan batu ureter yang dikirim ke bagian radiologi dalarn peri ode 7 bulan penelitian. Dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan USG dan PIV pada hari yang sarna. Hasilnya, berdasarkan PIV didapatkan 21 pasien dengan batu ureter, dengan USG didapat hanya satu kesalahan diagnosis. Evaluasi dengan menggunakan koefisien kappa menunjukkan terdapat keselarasan yang secara statistik sangat baik antara hasil USG dan PIV. Penulis mengambil kesimpulan bahwa USG dapat dipergunakan sebagai salah satu modalitasvaltematif tehadap PIV dalam mendiagnosis batu ureter."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2001
T59022
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Andarini Indreswari
"Tuberkulosis paru masih merupakan masalah dunia. Indonesia menempati
peringkat ke tiga di dunia pada tahun 2012. Target nasional Case Detection
Rate tahun 2012 adalah 70%, sedangkan pencapaian Jawa Tengah sebe-
sar 58,48%. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh batas kadar inter-
feron (IFN) γ pada orang kontak serumah dengan penderita tuberkulosis
paru sebagai dasar diagnosis dini penyakit tuberkulosis. Penelitian di-
lakukan secara kohort selama dua tahun (2011 - 2013) di Balai Kesehatan
Masyarakat Paru Semarang. Pada akhir penelitian, terdapat 12 responden
kontak dan 13 tidak kontak serumah. Uji Wilcoxon menunjukkan perbe-
daan bermakna rerata kadar IFN-γ antara kelompok kontak dengan kelom-
pok tidak kontak serumah ( nilai p= 0,004). Rerata kadar IFN-γ pada kon-
tak serumah mengalami penurunan pada sebagian besar kasus (75%).
Pada kelompok kontak serumah, 25% menunjukkan gejala klinis suspek tu-
berkulosis paru. Pemeriksaan mikrobiologis menunjukkan 100% negatif pa-
da kedua kelompok. Hasil reciever operating characteristic kadar IFN-γ ter-
hadap status klinis, diperoleh nilai area under the curve sebesar 70,4%
(95% CI= 40,8% - 99,9%). Nilai cut off point IFN-γ yang optimal secara sta-
tistik yaitu pada nilai ≥3,277. Diperoleh hasil sensitivitas dan spesifisitas
sebesar 67,7%. Pemeriksaan kadar IFN-γ dapat digunakan dalam kegiatan
skrining untuk mendeteksi secara dini penularan pada kontak serumah de-
ngan penderita tuberkulosis paru, sebagai pilot project pada daerah dengan
prevalensi tuberkulosis paru yang tinggi.
Tuberculosis remains a global problem. In 2012, Indonesia has the third
biggest tuberculosis cases in the world. The national target in Case
Detection Rate for tuberculosis in 2012 was 70%, whereas Jawa Tengah
reached only 58.48%. This research aimed to find interferon (IFN) γ level
among households contact with tuberculosis patient that used a new
screening method of finding tuberculosis cases. The research design was
Diagnosis Dini Tuberkulosis pada Kontak Serumah
dengan Penderita Tuberkulosis Paru melalui Deteksi
Kadar IFN-γ
Early Diagnosis of Tuberculosis Infection for Household Contact with
Patients of Pulmonary Tuberculosis Use Interferon (IFN-γ) Level Detection
Sri Andarini Indreswari, Suharyo
a two-year cohort study (2011 - 2013) took place in pulmonary community
health centers Semarang. In the end of research, found 12 participants
household contact and 13 participants nonhousehold contact. Wilcoxon test
result showed significant differences IFN-γ level between contact group and
noncontact group (p value= 0.004). IFN-γ among household contact group
decreased in most cases (75%). Among household contact group showed
25% had a clinical symptom of tuberculosis. Microbiology diagnostic
showed 100% had negative result in both group. Result of receiver opera-
ting characteristic IFN-γ level toward clinical status, had value area under
curve 70.4% (95% CI= 40.8%-99.9%). Cut off point of IFN-γ value have op-
timal result in ≥3.277, with sensitivity and specificity value 67.7%. IFN-γ le-
vel test can be used in screening program to early detection of infected
among household contact with new tuberculosis cases, as a pilot project in
high prevalence of new tuberculosis cases."
Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Fakultas Kesehatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat, 2014
PDF
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rinaldi
"Tuberkulosis dengan resisten ganda obat (MDR-TB) semakin meningkat dan menjadi perhatian kesehatan masyarakat di berbagai helahan dunia, terutama di negara berkembang dimana kasus ini banyak terjadi. Data dan 52 negara yang dilaporkan oleh WHO melalui glohal project on tuherculosis drug resistance surveillance menunjukkan prevalensi MDR -TB mempunyai median 1. 8 % (antara 0 sampai 18.1 %) dan 11.1 % (antara 2.9 sampai 40.8 %) untuk strain resisten pada setiap obat. Data mengenai resistensi Mycobacterium tuberculosis khususnya data MDR-TB di Indonesia masih terbatas. Metode standar untuk menguji kepekaan Mycobacterium tuberculosis seperti metode proporsi atau rasio resistensi telah banyak digunakan secara luas namun bergantung pada medium padat dan memakan waktu yang lama. Sedangkan metode BACTEC 460 memherikan hasil yang cepat namun memerlukan peralatan yang banyak dan biaya yang mahal. Pada penelitian ini kami menguji 41 isolat klinik dari pasien MDR-TB menggunakan metode DSCP. Metode DSCP menggunakan 25 sumur yang herisi medium Middlehrook 7HI0 yang mengandung obat antituberkulosis lini kedua dengan berbagai konsentrasi. Obat antituberkulosis lini . kedua : sikloserin (CYC), prothionamid (PAM), amikasin (AMK), siprofloksasin (CIF), klofazimin (CLZ), klaritromisin (CLM), rifabutin (RIB), dan ofloksasin (OFX). Hasil dan Kadar Hambat Minimum (KHM) obat dibaca antara hari ke 12 sampai 19. Hasil pengujian 41 isolat dengan metode DSCP didapatkan angka resistensi : Rifabutin (31.7 %), klaritromisin (2l.9 %), sikloserin (17.0 %), klofazimin (14.6 %), amikasin (12.1 %), prothionamid (9.7 %), siprofloksasin (9.7 %), dan ofloksasin (7.3 %) . . ? Resistensi primer MDR-TB 4 isolat (9.75 %), resistensi sekunder MDR-TB 37 isolat (90.75 %). Resistensi 1 jenis obat 6 isolat (14.2 %), resistensi 2 jenis obat 20 isolat (48.7 %), resistensi lebih dari 3 jenis obat 1 isolat (2.4 %). Metode DSCP memberikan basil yang jelas ,mudah distandarisasi, cepat dan menunjukkan KHM yang terinci.

Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) is an increasing public health concern in many parts of the world, especially in developing countries where most cases occur. Data from 52 countries in the World Health Organizations global project on tuberculosis drug resistance surveillance shows a median prevalence of 1.8 % (range 0 to 18.1 %) for MDR-TB strains and 11.1 % (range 2.9 to 40.8 %) for strains with any drug resistance. Data on drug resistance of Mycobacterium tuberculosis especially MDR-TB in Indonesia are very limited. Standard methods for drug susceptibility testing of Mycobacterium tuberculosis, such as the proportion method or resistance ratio method, are used generally but depend on culture on solid media and therefore time-consuming. The BACTEC 460 method is faster but demands costly equipment and expensive. In this study we examined 41 clinical isolates from patients with MDR-TB by Drug Susceptibility Culture Plate (DSCP) method. DSCP use 25 wells plate filled with Middlebrook 7HIO medium containing serial dilution of second line antituberculosis drugs. Second line antituberculosis drug: Cyclose~ne (CYC), Prothionamid (PAM), Arnikacin (AMK), Ciprofloxacin (ClP), Clofazimin (CIZ), Claritromycin (CLM), Rifabutin (RIB), and Ofloxacin (OFX). The result and MIC values are read within 12 - 19 days. Result from 41 isolates that have been tested by DSCP method showed resistance to : Rifabutin, claritromycin, cycloserine, clofazimin, amikacin, prothionamid, ciprofloxacin , and ofloxacin were 31.7%, 21.9%, 17.1%, 14.6%, 12.2%, 9.7%, 9.7%, and 7.3% respectively. Primary resistance MDR-TB was 4 isolates (9.75 %) and secondary resistance MDR-TB was 37 isolates (90.75 %). Resistance to 1 drug was 6 isolates (14.2 %), resistance to 2 drugs was 20 (48.7 %) and resistance more 3 drugs was 1 (2.4 %). DSCP method potentially gives better result as it can be very well standardized, faster and provides detailed MIC (Minimal Inhibitory Concentration) values."
Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, 2007
T59058
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hamdani Oesman
"Program penanggulangan tuberkulosis paru dengan strategi Directly Obserbved Treatment Short course Chemotheraphy (DOTS) secara nasional telah memberikan hasil yang baik, dimana angka konversi pada fase awal sebesar 81,1%. Hal ini berarti lebih besar dari target nasional untuk angka konversi pada fase awal sebesar 80,0%. Di Propinsi Daerah Istimewa Aceh angka konversi fase awal 59,6%, sedangkan di Kabupaten Aceh Utara angka konversi pada fase awal masih 53,0%. Ketidakteraturan berobat merupakan salah satu penyebab kegagalan program penanggulangan TB Paru.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kepatuhan berobat penderita TB Paru dan faktor-faktor yang berhubungan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Aceh Utara.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel penelitian adalah seluruh penderita TB Paru (total populasi) yang berobat sejak 1 Januari 1999 sampai dengan 31 Mei 1999 sebanyak 96 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh penderita TB Paru di Kabupaten Aceh Utara yang patuh (57.3%) dan yang tidak patuh (42.7%).
Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor pengawas menelan obat, keterjangkauan jarak (jarak dari rumah ke Puskesmas) dan kejelasan isi penyuluhan mempunyai hubungan yang bermakna terhadap kepatuhan berobat.
Penelitian ini menyarankan untuk mengatasi masalah jarak, biaya dan transportasi maka perlu dilakukan pemberian obat TB Paru melalui bidan di desa setelah pemeriksaan pertama dilakukan di Puskesmas dan kepada bidan desa tersebut diberi pelatihan khusus mengenai program TB Paru demi kelangsungan dan keberhasilan pengobatan. Penelitian ini juga menyarankan dalam memberikan penyuluhan pada penderita perlu adanya kejelasan materi yang disampaikan dan memberi kesempatan pada penderita atau keluarganya yang ditunjuk sebagai pengawas menelan obat (PMO) untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas mengenai penyakit tersebut sehingga mereka mendapat informasi yang jelas.

The pulmonal tuberculosis treatments by DOTS strategy have made a good result with conversion at the first phase around 81.1%. The percentage of conversion in Aceh Province is only around 59.6%. Furthermore, in North Aceh district the conversion is only 53.0%. The unsuccessful result on the treatment of pulmonal tuberculosis disease can be caused by undisciplinary attitude of the patient in observing the treatment program.
The aim of this research was to describe the patient compliance in tuberculosis treatment program and related factors in North Aceh District.
The research design was a cross sectional study. Samples were all of TB patients in North Aceh District and sampling method was a total sampling with 96 patients as respondents.
Result of the research showed that there were 57.3% patient complied with the treatment and 42.78% did not.
This study also concluded that the treatment supervisor, distance from the patient house to Health Center, and clear information are significantly related to the compliance.
This study recommend (1) to train and utilize midwife in village as medical supervisor,; (2) provide clear information about the disease to the patients or their relatives as treatment supervisor and discuss everything until they understand about the disease.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2000
T5319
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Silitonga, Marlinggom
"ABSTRAK
Penyakit tuberkulosis di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, dimana WHO memperkirakan insiden kasus baru = 285/100.000, BTA+ = 128/100.000 dan prevalensi = 786/100.000. Penyakit tuberkulosis juga merupakan penyebab kematian nomor 1 diantara penyakit infeksi.
Dalam upaya memutus rantai penularan penyakit diperlukan waktu pengobatan minimal 6 bulan. Oleh karena itu keberhasilan pengobatan sangat tergantung pada perilaku penderita dalam menjamin ketaatan minum obat, disamping ketersediaan obat anti tuberkulosis di tempat pelayanan pengobatan.
Dari berbagai penelitian diketahui bahwa proporsi penderita yang tidak taat atau yang putus berobat sebelum waktunya masih cukup tinggi, berkisar antara 5,7% - 42,7%. Berbagai faktor diduga berhubungan dengan terjadinya putus berobat pada penderita tuberkulosis, antara lain adalah kegagalan penyampaian informasi. Kegagalan penyampaian informasi dapat berasal dari kesalahan dalam menentukan sasaran penyuluhan, frekuensi penyuluhan, materi penyuluhan dan menentukan penggunaan media / alat bantu dalam penyuluhan.
Untuk mengetahui apakah faktor-faktor tersebut berhubungan dengan putus berobat maka dilakukan penelitian hubungan faktor komponen penyuluhan dengan putus berobat pada penderita tuberkulosis yang dilakukan di Jakarta Selatan.
Penelitian menggunakan desain kasus kontrol dengan besar sampel minimal 152 untuk masing-masing kelompok kasus dan kontrol. Sampel untuk kelompok kasus, berasal dari jumlah seluruh kasus yang ditemui di Jakarta Selatan, sedangkan untuk kelompok kontrol diperoleh dengan cara melakukan pemilihan secara acak sederhana (simple random sampling).
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa secara statistik faktor sasaran penyuluhan berhubungan dengan putus berobat OR = 2,04 pada 95% C.I : 1,02 - 4,10 dan p = 0,04. Demikian pula dengan faktor penggunaan media dalam penyuluhan, secara statistik menunjukkan hubungan yang bermakna dengan putus berobat di Jakarta Selatan dengan OR = 3,69 pada 95% C.I : 1,62 - 8,42 dan p=0,002.
Faktor banyaknya materi penyuluhan yang diberikan dan faktor frekuensi penyuluhan tidak memberikan hubungan yang bermakna dengan putus berobat di Jakarta Selatan.
Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa risiko putus berobat seorang penderita tuberkulosis, 2 kali lebih besar bila penyuluhan diberikan hanya pada penderita dibanding bila penyuluhan diberikan juga pada anggota keluarga. Dan 3,7 kali lebih besar bila penyuluhan dilakukan tanpa menggunakan media dibanding bila penyuluhan menggunakan media.
Dari kenyataan tersebut maka disarankan kepada pengelola program untuk selalu mengikutkan anggota keluarga sebagai sasaran dalam penyuluhan dan selalu menggunakan media dalam melakukan penyuluhan.

ABSTRACT
Relationship between Health Education Substances Factor and Defaulted Tuberculosis Patient in South Jakarta 1999Tuberculosis diseases remain a major public health problem in Indonesia. WHO estimated for new cases incidence 285/100.000 with smears positive incidence 128/100.000 and prevalence cases 786/100.000. Tuberculosis disease also was the commonest cause of death in Indonesia due to infectious diseases.
Treatment for tuberculosis diseases needed at least 6 months to interrupt the chain of transmission. Despite the available of drug regimens at the treatment service, success in controlling the tuberculosis disease especially treatment effort depend on patient behavior to ensure patient compliance.
From such studies that were undertaken, it shows that defaulted proportion was remaining high, account from 5.7% - 42.7%. Some factor, were assumed that caused defaulted tuberculosis patient. Failure of adequate explanation to the patient is ones of the factors that could be caused defaulted treatment. Failure to give adequate explanation especially about treatment information that patient must be taken, came from a failure to decide who is the target of health education, how many frequent health education should be taken, failure to decide health education material should be given and failure of media used in health education.
To know which factor was associated with defaulted patient, a study of Relationship between Health Education Component Factors and Defaulted Tuberculosis patient were conducted. A study was done in South Jakarta considering data from tuberculosis patient during 1999.
Study was conducted with case control design in which sample sizes were 152 samples in each group cases and controls. Cases were taken from all defaulted cases in South Jakarta during 1999, and controls were taken by selected from control sampling frame by simple random sampling.
Study result, shows that association between health education target and defaulted patient statistically significant, account for OR 2.04 (95 C.I: 1.02 - 4.10) and p value 0.04. Similarly, association between media using factor and defaulted patient significantly also, with OR 3.69 (95 C.I: 1.62 - 8.42) and p value 0.002. Association between both frequency and material of health education, were statistically not significant.
From that study result, defaulted risk is 2 times larger on tuberculosis patient which explanation just given to the patient than if explanation given to the family member also. And patients who receive explanation without media used had defaulted risk 3.7 times larger than patients who received explanation with media used.
Study recommends to the tuberculosis program officer, that member of the family should be involved as the target on health education, and should be using media when giving some explanation.

"
2000
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lay, Bibiana W.
Jakarta : Rajawali Press, 1992
576 Lay m
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Desy Mery Dorsanti
"Tuberkulosis masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama saat ini dan menjadi tantangan global. Ada beberapa faktor risiko yang mempermudah terjadinya tuberculosis pada anak, yaitu anak yang terpajan dengan orang dewasa dengan TB paru BTA positif terutama tinggal serumah, tinggal di daerah endemis, lingkungan yang sanitasinya tidak baik, faktor ekonomi, kondisi rumah tinggal (ukuran, kepadatan dan ventilasi rumah). Tujuan penelitian ini untuk melihat besarnya risiko kejadian sakit tuberculosis pada anak yang kontak serumah dengan penderita tuberculosis paru BTA positif. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional, dilakukan pada November 2015-Maret 2016. Sampel adalah anak yang memeriksakan diri dan melakukan test tuberculin di Puskesmas kecamatan Cilandak.Untuk melihat hubungan dilakukan. Pada penelitian ini didapatkan 85 anak melakukan test tuberculin, dan dari 69 anak yang kontak serumah dengan penderita TB paru BTA positif didapatkan 8 anak (11,6%) yang positif. Sedangkan dari 16 anak yang tidak kontak serumah dengan penderita TB paru BTA positif didapatkan 1 anak (6,2%) yang hasil test tuberkulinnya positif.Ada hubungan bermakna antara kepadatan hunian dan anggota keluarga yang merokok dengan risiko kejadian tuberculosis pada anak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah risiko kejadian tuberculosis dapat dipengaruhi karena kontak serumah dengan penderita TB paru BTA positif.

Tuberculosis remains one of the major health problems at the moment and become a global challenge. There are several risk factors that facilitate the occurrence of tuberculosis in children, the children exposed to adults with pulmonary TB smear positive mainly stayed at home, living in endemic areas, environmental sanitation is not good, economic factors, the condition of residence (size, density and ventilation home). The purpose of this study to see the magnitude of the risk of the occurrence of illness tuberculosis in children with household contact with smear positive pulmonary tuberculosis patients. This study used cross sectional design of the study, conducted in November 2015 and March 2016. The sample is child check-ups and perform tuberculin test in Cilandak sub-district health centers. In this study, 85 children perform tuberculin test, and of the 69 children whose household contact with smear positive pulmonary tuberculosis patients found 8 children (11.6%) were positive. While the 16 children who are not household contact with smear positive pulmonary tuberculosis patients got one child (6.2%) were the result of test tuberculin is positif.There is significant relationship between population density and family members who smoke the risk of incidence of tuberculosis in children. The conclusion of this study is the risk of tuberculosis incidence may be affected due to household contact with smear positive pulmonary tuberculosis patients.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
S64587
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>