Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 87879 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ananda Putra Naim
"Pembentukan kota melibatkan dinamika hubungan antara ruang dan para aktornya. Proses konstruksi ruang terjadi melalui rutinitas, praktik, dan kontestasi, melibatkan berbagai elemen dinamis seperti masyarakat. Fokus penelitian ini adalah Halte Universitas Pancasila di Jakarta Selatan, yang seharusnya berfungsi sebagai tempat naik-turun penumpang, namun justru menghadirkan bentuk konflik efisiensi kota. Penelitian ini berupaya mengeksplorasi dinamika ruang publik dengan menggali analisis rutinitas, praktik, dan kontestasi antara berbagai aktor pengguna halte juga merupakan hasil dari adanya relasi kuasa. Hasil penelitian mengungkap konflik efisiensi kota yang muncul akibat keberadaan pedagang kaki lima dan ojek di halte. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data seperti observasi partisipatoris dan wawancara, penelitian ini mencoba merefleksikan kehidupan publik yang kompleks di perkotaan, dengan menyoroti persepsi aktor terhadap ruang publik dan pemaknaan baru terhadap ruang yang tidak hanya berdasarkan fungsi utamanya, tetapi juga melibatkan kegunaan alternatif.

City formation involves the dynamics of the relationship between space and its actors. The process of space construction occurs through routines, practices, and contestation, involving various dynamic elements such as society. The focus of this research is the Pancasila University bus stop in South Jakarta, which is supposed to function as a place for passengers to get on and off, but instead presents a form of conflict in city efficiency. This research seeks to maximize the dynamics of public space by exploring the analysis of routines, practices, and contestations between various actors who use bus stops and are also the result of power relations. The results of the research reveal that city efficiency conflicts arise due to the presence of street vendors and motorcycle taxis at bus stops. By using data collection techniques such as observation and interviews, this research tries to reflect the complex public life in cities, by highlighting actors' perceptions of public space and new meanings of space that are not only based on their main function but also involve alternative uses.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anissa Pramesti Rachardyanti
"

Penggunaan media film untuk merepresentasikan kota telah banyak digunakan seiring berjalannya waktu untuk memahami, membaca dan mempelajari kondisi kota dengan segala dinamika sosial yang silih berganti. Melalui media ini, menyampaikan sudut pandang seseorang dalam menjalani ruang kota menjadi penting karena merupakan refleksi dan komentar sosial terhadap isu-isu dan kondisi yang secara nyata terjadi pada sebuah kota. Isu perkotaan utama yang diangkat dalam skripsi ini merupakan isu gender terutama keterkaitannya dengan perempuan dalam kota, serta bagaimana ruang kota Jakarta sesungguhnya digunakan dan didefinisikan oleh masyarakatnya. Terdapat sebuah steriotip dan pembatasan penggunaan ruang kota yang dapat diidentifikasi melalui perspektif perempuan dalam menjalani dan mengalami ruang kota. Pengidentifikasian isu-isu tersebut dilakukan melalui representasi sinematik kota pada sebuah film. Skripsi ini secara dalam membahas 2 film berbeda yang keduanya bercerita mengenai perempuan & kota Jakarta, yakni; Eliana, Eliana (2002) dan Selamat Pagi, Malam (2014) untuk melihat dan membandingkan representasi kota Jakarta dalam film dengan realita, terutama yang berkaitan dengan isu gender dan penggunaan ruang kota.

 


The use of film to represent a city has been widely used in urban studies to understand, read and study the condition of a city with all of its social dynamics that happened in urban society through out recent history. Through this media, conveying a point of view in living and experiencing urban space is important, as it is sometimes an actual reflection on issues and conditions that occur in the city. The main urban issues raised in this paper is gender issue, especially in relation with women in the city and how the urban space of Jakarta is occupied and defined. These issues are related to the stereotype and limitation on the use of urban space, and can be identified through the perspective of women living and experiencing urban space. Furthermore, cinematic representation of a city in film is used as a media to identify these issues. This thesis discusses 2 different films that both tells the story of women & the city of Jakarta, namely; Eliana, Eliana (2002) and Selamat Pagi, Malam (2014) to see and compare the representations of the city of Jakarta in films with reality, to see and compare representations of Jakarta city in films with reality, especially those relating to gender issues and the use of urban space.

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dody Achmad
"Perkembangan kota dan kemajuan teknologi telah mengembangkan penggunaan alat angkut yang bersifat kolektif. Sebuah kota metropolitan mensyaratkan ketersediaan sistem transportasi umum yang baik. Sistem ini harus pula didukung infrastruktur yang terencana baik moda transportasi maupun sarana pendukungnya, termasuk terminal dan halte. Terminal harus dapat menjalankan fungsinya dengan efektif dan memudahkan semua kalangan pengguna secara umum. Dalam hal ini, Tanda Informasi sebagai kebutuhan elementer di terminal terkadang terlupakan fungsinya. Bagaimana sebuah bahasa visual dan atau gambar tertulis yang sistematis dapat menavigasi, memandu, memudahkan, mengamankan dan melindungi manusia yang berlalu lalang dengan berbagai tujuan yang berbeda daiarn sebuah ruang publik.
Terminal bus Blok M sebagai terminal yang paling representatif di DKI, saat ini memang masih berfungsi sebagai terminal, pertemuan bus dengan penumpang naik-turun penumpang. Tetapi aspek pelayanan terhadap kemudahan informasi, kenyamanan, dan keselamatan para penumpangnya sudah terkubur bersama mati fungsinya sistem tanda informasi yang ada. Kesemrawutan pun terjadi dan masih terus berlangsung.
Penelitian ini bermaksud mengurai permasalahan dan hubungan kesemrawutan dengan keberfungsian tanda informasi yang ada. Dilakukan secara kualitatif melalui observasi dan survei lapangan, kajian teori hingga pengamatan ke beberapa kota di negara lain dengan harapan akan ditemukan titik-titik permasalahan yang dapat diuraikan dan dibenahi nantinya.
Dari hasil pengamatan dan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terminal BIokM sebagai terminal transit masih dapat berfungsi semata sebagai alat distribusi penumpang. Tetapi sistem tanda Informasi yang mendukungnya, walaupun masih cukup disadari keberadaanya, sudah tidak berfungsi sesuai tujuannya. Ribuan pengguna terminal yang berinteraksi tanpa panduan dan kejelasan informasi merupakan pangkal kesemrawutan yang terjadi.
Penulis berasumsi bahwa pembenahan tanda informasi akan berperan penting .dalam memperbaiki kualitas terminal, tetapi dengan menyadari sepenuhnya terhadap sayap persoalan secara makro. DiperIukan penelitian lanjutan yang menyoroti masalah besar lain yang saling berkaitan di terminal BlokM, diantaranya : masalah efisiensi arsitektural ruang publik, masalah manajemen dan swastanisasi terminal, masalah kualitas alat transportasi yang melalui terminal, masalah sosial (kaki lima) di terminal, masalah prilaku dan disiplin masyarakat dan masalah aturan dan hukum yang dapat diberlakukan dalam mendukung kelancaran transportasi perkotaan.

The progression of the city and the advancement of technology has created the need and use for collective transportation. A metropolitan city's regulation neccesities are for a good system of transportation. This system has to be able to support the well planned infrastructure of transportation and all the supporting aids that go along with it; this includes its terminals and stations. A terminal's usage is targeted to be accessible and easy for all persons in the general public. In correlation to this point, the sign guide's function as the elementary need of a terminal is often forgotten. Focusing on this point however, a visual language and or picture written systematically is able to navigate, guide, facillitate easily, protect and safe-guard an individual that is busy going about their daily lives with different purposes within a public space.
The bus terminal, BlokM Terminal, as the most represented terminal in DKI at the present moment still functions as a terminal, a bus station with commuters entering and departing. But the service aspect towards the accessibility of information, comfort, and the safety of its commuters have become buried along with the dead dysfunctions of the information signs system that is existing today. Much chaos still occurs and still continues to continue.
This research is focused towards tackling the problems and relationships of the chaos that occurs within the functioning of information signs that exists today. This is done qualitatively through observation and field surveys, theoretical reviews until exchange studies; with the hope that the main points of the problems are able to arise to the surface and be explained and fixed at a latter time.
From observation results and research that was completed, it is possible to conclude that the Blok M terminal as a transit terminal is still able to function as a transport distribution tool for the commuters. But the information signage that is supposed to support the terminal although still in the awareness of the public, is not currently functioning as it is purposed to be. Thousands of commuters interact without any clear guide or information clarity which is the center or reason behind the chaos that occurs in public transit terminals.
The writer assumes that with fixing the information signs, its role is significant to improving the quality of the terminal. Realizing the macro affects of the problem at hand, further research is needed to assess the other major problems which accompany and interrelate with the Blok M terminal. Such problems are : architectural efficiency of a public space, management problems (terminal privatization), quality aspects of the transport that enters and departs from the terminal, social problems (side-road) at the terminal, problems of social behavior and conduct, public discipline, and the regulations and laws that are applicable in supporting the ease of metropolitan transportation.
"
2005
T20562
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Revianti Oksinta
"Remaja mempunyai kecenderungan untuk berkumpul dengan kelompoknya dalam mengisi waktu luang mereka. Kelompok remaja yang berkegiatan di kota memiliki tujuan untuk bertemu dengan kelompok remaja lainnya serta masyarakat luas sehingga mereka dapat menunjukkan identitas mereka bersama kelompoknya sekaligus belajar dari masyarakat kota itu sendiri. Kegiatan berkumpul yang dilakukan pada suatu ruang publik kota ini disebut sebagai kegiatan hang out. Umumnya kegiatan hang out ini dilakukan dengan disertai pengekspresian semangat dan ciri budaya populer melalui kegiatan atau ciri yang ditampilkan oleh mereka.
Ruang publik kota yang digunakan dalam melakukan kegiatan hang out mempunyai karakteristik tertentu yang berhubungan dengan kondisi fisik, psikologis dan sosial mereka sebagai remaja. Karakteristik tersebut bisa diklasifikasikan berdasarkan empat aspek, yaitu: aspek ukuran, batas, aksesibilitas dan lokasi, serta dimensi kegiatan. Sebagai studi kasus dilakukan survey untuk menelusuri kondisi pemanfaatan ruang publik terbuka oleh remaja pada tiga ruang publik terbuka di Jakarta, sebagai salah satu kota besar di Indonesia, yaitu ruang luar GOR Bulungan, Taman Situ Lembang dan Taman Surapati.
Berdasarkan hasil survey dan analisis, ketiga tempat tersebut memiliki karakter serta kondisi pemanfaatan yang berbeda satu sama lain. GOR Bulungan merupakan contoh dari ruang publik yang bisa memfasilitasi remaja dalam berkegiatan hang out sekaligus mengekspresikan budaya populer mereka dalam berbagai aktivitas terutama olahraga dan seni sehingga kondisi pemanfaatannya oleh remaja pun bisa dikatakan bervariasi. Sedangkan pada Taman Surapati, sesuai dengan sifatnya sebagai one dimensional space, sangat sedikit dikunjungi. Kondisi yang bertentangan terlihat pada Taman Situ Lembang sebagai one dimensional space yang tidak sesuai dengan karakteristik ruang publik bagi remaja, tetapi justru pada kenyataannya tempat ini ramai dikunjungi oleh kelompok-kelompok remaja.
Dari kondisi yang terjadi pada beberapa ruang publik di Jakarta sehubungan dengan pemanfaatannya oleh remaja, dapat disimpulkan bahwa tidak semua karakteristik dari suatu ruang publik kota bagi remaja mutlak harus dipenuhi supaya menjadi area publik yang ramai oleh remaja.

Teenagers have tendency to crowd around their peer groups during their leisure time. Groups of teenagers who crowd in the city have purpose to meet other peer groups and wide society so they can show their group identity and also learn from the society itself. This kind of gathering activity takes place in the city public space and is called hang out. Generally, in this hang out activity, teenagers do not only gathered, but also express themselves by doing the activity and showing the feature of popular culture.
The city public space that is used by teenagers has several characteristics due to the teenager's physical, psychological and social condition. As a case study, surveys are done to three public spaces in the city of Jakarta, which are outdoor space of GOR Bulungan, Taman Situ Lembang and Taman Surapati.
Based on the surveys and analysis, these three public spaces have different characters and also different condition of the usage by the teenagers. Outdoor space of GOR Bulungan is one example of public space that can facilitate teenagers in hang out activities and the expression of popular culture, especially sport and art, all at once. Meanwhile, Taman Surapati as a one dimensional space, is less visited by the teenagers. In contradiction, Taman Situ Lembang, as a one dimensional space that is not suitable for the characteristic of public space for teenagers, is visited by many of groups of teenagers.
From these conditions, we can conclude that in Jakarta, public space doesn't have to fulfill all of the characteristics of suitable public space for teenagers in order to be a teenager's place for hang out.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S48631
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Siswi Hariyani
"Laporan ini dilatarbelakangi isu spasial perkotaan yang berhubungan dengan pengaruh keberadaan kampus terhadap ruang umum di sekitarnya. Kajian spasial dilakukan pada akses-akses masuk kawasan kampus yang berupa penggal jalan. Keberadaan kawasan kampus yang direncanakan terhadap perkembangan kawasan sekitamya, memunculkan proposisi yang berkaitan dengan pembentukan ruang urban di sekitar kawasan kampus. Perkembangan ruang-ruang umum pada penggal jalan di sekitar kawasan kampus diperkirakan terjadi karena tidak ada perencanaan sebelumnya. Dengan mengajukan rumusan permasalahan, metode penelitian yang diterapkan secara umum adalah kualitatif. Dari proses analisis, didapat hasil bahwa keberadaan Kampus UGM berpengaruh terbentuknya ruang urban oleh deretan bangunan yang mengapit akses-aksesnya, tetapi tidak menciptakan karakter enclosure. Rasio ruang yang terbentuk oleh lebar bangunan terhadap tinggi bangunan adalah 1,6:1 hingga 2,5:1. Selain itu karena tidak ada kansep pengembangan kawasan yang jelas terhadap kawasan di sekitar kampus UGM, maka proses pengembangan dan perubahan yang terjadi di ruang-ruang urban menghasilkan ruang urban dengan kualitas ruang yang rendah. Ruang urban yang terbentuk di sekitar kampus UGM memiliki grain halus/kecil. Hal ini dipengaruhi oleh lokasinya yang dekat dengan kawasan kampus sehingga pengguna ruang urban didominasi oleh mahasiswa yang memiliki keterbatasan pendapatan. Dengan demikian gugus bangunan yang terbentuk bukan bangunan besar yang mewadahi bisnis skala besar. Skala yang terbentuk masih memiliki skala yang manusiawi. Hal ini dibuktikan oleh lebar jarak antar bangunan dan tinggi bangunan yang rata-rata memiliki rasio 1,9:1 atau 23 m:12m. Pola ini ditemukan pada penggal jalan yang menjadi akses utama dan akses internal. Namun, ketika pengguna tidak didominasi lagi oleh mahasiswa dan bercampur dengan masyarakat umum, gugus bangunan menjadi bervariasi, besar dan kecil. Hal ini disebabkan karena masyarakat penggunanya memiliki tingkat ekonomi yang bervariasi. Dengan demikian, gugus bangunan yang mewadahi kegiatan komersial mengikuti variasi tersebut. Skala yang terbentuk pada beberapa tempat dengan gugus bangunan yang besar sudah bukan skala manusiawi lagi. Hal ini dibuktikan oleh lebar jarak antar bangunan dan tinggi bangunan yang bisa mencapai lebih dari 1:2. Pala ini ditemukan pads penggal jalan yang menjadi akses umum.

The study background is raised from urban spatial issues, that relates to a campus influence on urban space. The study is about urban space on streets, a street as an access to campus. Propotition of study is the result of urban spaces surround campus is caused by no planning that anticipates development process. Generally, problems solved by qualitative research methode. The findings is UGM campus shapes urban spaces, that surrounds it. Urban spaces is shaped by buildings, which lay between street. The layout of buildings does not create enclosure character, because urban space ratio result is 1,6:1 to 2,5:1. Urban space ratio is distance between buildings related to height of building. There is no concept for development area surround UGM campus, it makes urban space quality result is poor. Urban spaces surround UGM campus, have a fine grain. It is caused by its location near to campus and urban user. The urban user is dominated by students, who has limited income. Thus, urban grain is shaped by small bisnis scale and urban space results human scale. On this case, it is proved by urban space ratio, that result is 1,9:1 or 23 m:12m. This pattern is located on main access and internal access. But, when urban space is used by students and public, urban grain result more varied, big to small. It is caused by variation of income level. Thus, urban grain result is varying. On this case, urban space does not result human scale. It is proved by space scale, that result is more than 1:2. This pattern is located on public access.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
T16928
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ario Wirastomo
"Kota Tua Jakarta di tengah fungsinya seba gai tempat hidup manusia dalam melakukan kegiatan kota, juga menjadi tempat kegiatan-kegiatan perayaan. Hal ini terjadi karena Kota Tua Jakarta berisi oleh peninggalan-peninggalan arsitektur kolonial dan kebudayaannya pada masa itu sehingga menarik minat manusia untuk melakukan kegiatan wisata, salah satunya kegiatan perayaan. Tempat kegiatan perayaan yang berlangsung di ruang-ruang terbuka umun dan frekuensi kegiatannya yang tidak berlangsung setiap hari menimbulkan permasalahan perancangan sehingga perlunya ada sebuah usulan mengenal ruang yang bersifat fieksibel yang mampu menampung kegiatan perayaan, sekaligus dapat berfungsi kembali sebagai ruang kehidupan keseharian manusia di Kota.

Jakarta Old Town (Kota Tua Jakarta) has been a place for daily-urban-living. It also a place for festival activities. This is because Jakarta Old town is fulfilled by colonial architecture heritage which attracted people to do activities there, festival activity is one of them. The Festival activities are placed in public and outdoor areas and happen only on special occasions. That will cause a architectural problem which has to be solved with a flexible place that has two functions, a place for festival and every-day-living.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
T24279
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Lady Hafidaty Rahma Kautsar
"Pembangunan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) ditahun 1970-an meningkat dratis karena didukung pemerintah melalui Nota Dinas Gubernur DKI Jaya (DKI Jakarta), sehingga banyak taman (ruang terbuka hijau atau RTH) dialihfungsikan menjadi SPBU. Kini untuk memenuhi target RTH (13,94% RTH berdasarkan RTRW DKI Jakarta 2010), kebijakan tersebut berubah melalui Keputusan Gubernur Nomor 728 tahun 2009 dan Instruksi Gubernur Nomor 75 tahun 2009. Tercatat 27 unit SPBU harus dikembalikan fungsi lahannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian alihfungsi SPBU-Taman menjadi RTH berdasarkan pendekatan site and situation. Penelitian dibatasi pada SPBU-SPBU yang belum sepenuhnya menjadi RTH. Metode yang digunakan adalah kombinasi metode AHP dan metode rangking. Site untuk variabel rawan banjir, luas dan status SPBU, status tanah. Situation untuk variabel ruang publik lain, ketersediaan SPBU lain, pelayanan SPBU, segmen jalan, dan proporsi ruang terbangun. Analisa penelitian menggunakan analisa deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan tiga dari lima SPBU sesuai dialihfungsikan menjadi taman (RTH).

The construction of public refueling stations (gasoline stations) in 1970 increased drastically due to the government support through a Memorandum Office of the Governor of DKI Jaya (DKI Jakarta), which lead to a number of the park (green open space or RTH) converted into a gasoline station. Now, to meet the target of RTH (13.94% RTH based RTRW DKI Jakarta 2010), the policy was replaced by Decree No. 728 of 2009 and Governor Instruction No. 75 of 2009. It was recorded that land function of 27 gasoline stations unit must be returned.
The aim of this study is to determine the suitability of change of function of gasoline stations-Park with green open space using site and situation based approach. The method used is a combination of AHP and ranking method. Site for flood-prone variable, space of the gasoline station, the status of the land. Situation for variables of other public space, the availability of other gasoline stations, service gasoline stations, road segments, and the proportions of the room built. Analysis of the research used quantitative descriptive analysis. The results showed that three of the five gasoline stations were suitably to be converted into a green open space (RTH).
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S57330
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maya Widyasrini
"Skripsi ini membahas bagaimana terbentuknya aktivitas ruang terbuka publik atau 'ruang peristiwa' pada koridor distro dan gerai makan di Jalan Tebet Utara Dalam, serta dampaknya terhadap aktivitas pengunjung di jalan tersebut. Skripsi ini merupakan studi kasus dengan pengamatan langsung pada Jalan Tebet Utara Dalam yang terbagi atas lima area pengamatan, dengan rentang waktu pengamatan antara jam 16.00 hingga jam 22.00.
Hasil pembahasan menyarankan perlu adanya ruang terencana dalam pembentukan ruang peristiwa yang baik, sehingga mampu mewadahi aktivitas di dalamnya serta tidak memberikan dampak buruk bagi lingkungan di sekitarnya; pemilihan lokasi untuk ruang peristiwa sebaiknya terjadi pada ruang yang belum digunakan dan berpotensi; serta perlu adanya sarana dan prasarana yang memadai berupa peraturan yang jelas bagi para pihak yang terlibat dengan terbentuknya ruang peristiwa.

The focus of this study is to analyze the formation of activities in public open space mentioned as 'happening space' within distribution outlet and food station corridor of Tebet Utara Dalam street, and the effect of the formation towards visitor activities in that place. This is a study of case that is done by doing an observation at Tebet Utara Dalam street which is divided into five areas with the stretches of time between 4 to 10 p.m..
The researcher suggests that a planned space is needed to form a good happening space so that it could provide a place for the activities and doesn't give bad effect to the environment; the selection of location for happening space should be in unused space and potential; and also it needs sufficient infrastructure, such as clear regulation for all persons who get in charge for the hapenning space formation.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S1149
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Intan Nurul Aini
"ABSTRAK
Kota Tanjungpinang adalah kota pesisir yang terletak di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau yang mengalami fenomena pertambahan penduduk setiap tahunnya yang memicu peningkatan konversi lahan menjadi kawasan terbangun dan penggunaan transportasi. Peningkatan penggunaan transportasi diduga meningkatkan konsentrasi CO2 di udara dan turut meningkatkan suhu udara. Tingginya konsentrasi CO2 di udara dapat diturunkan melalui penyerapan CO2 oleh tumbuhan agar suhu udara kembali normal. Hanya saja, tidak semua jenis tumbuhan dapat menyerap CO2 yang sama banyaknya sehingga perlu memilih jenis tumbuhan penyerap CO2 terbanyak berdasarkan nilai serapan CO2 oleh masing-masing jenis tumbuhan per satuan waktu tertentu yang diestimasi dari volume pohon yang berkaitan dengan ukuran diameter pohon. Hasil riset menunjukkan bahwa vegetasi Taman Pamedan Ahmad Yani dengan variasi ukuran diameter antara 30-185 cm dapat menyerap CO2 yang lebih banyak (391,9 ton/menit/ha) dibandingkan vegetasi Taman Laman Boenda dengan variasi ukuran diameter antara 20-117 cm (22,47 ton C/menit/ha). Walau begitu, serapan CO2 oleh tumbuhan memberikan pengaruh sangat kecil bagi penyejukan udara. Pengembangan tumbuhan berdaun tipis yang berukuran kecil perlu dilakukan karena kondisi fisik tumbuhan tersebut memiliki kemampuan penyejukan udara yang lebih baik.

ABSTRACT
Tanjungpinang is a coastal city in Bintan Island, Riau Island Province that experiences population growth phenomenon each year that raises land conversion activity into built areas and the transportation usage among city inhabitant. The raising of transportation usage was assumed to be the driving factor of high air temperature within city area and needs to be tackled by absorbing CO2 to reduce its concentration in the atmosphere and normalize air temperature. Unfortunately, the CO2 absorption capability of each species is varied, so it is necessary to select some species with the capability of absorbing much CO2 per specific time by estimating the trees volume. The findings indicate that vegetation within Pamedan Ahmad Yani Park (30-185 cm dbh) could absorb much CO2 (391,9 ton/minute/ha) than vegetation within Laman Boenda Park (22,47 ton C/minute/ha). Nevertheless, CO2 absorption by plants provides minor effect on cooling effect. Expanding plantation cover with thin-small sized plants leaves is highly recommend to be employed immediately because it has the better capability of cooling down the air temperature."
Jakarta: Sekolah Kajian Stratejik dan Global Kajian Ilmu Lingkungan, 2019
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Santi Isnaini
"Disertasi ini merupakan sebuah studi mengenai representasi relasi kekuasaan yang bertitik tolak dari telaah tata ruang publik kota dalam membentuk identitas sebuah kota. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksplanatif dengan menggunakan metode penelitian semiotika sosial. Dengan mengacu pada konsep Representasi dari Stuart Hall dan Episteme dari Foucault, secara umum dapat disimpulkan dua hal penting dalam penelitian ini. Pertama, Alun-alun Kota Tuban adalah sebuah representasi identitas Kota Tuban sebagai kota yang religius dan multikultural. Kedua, perubahan bentuk arsitektur serta lokasi bangunan menandakan bergesernya rezim kepenguasaan yang terjadi dalam konteks wilayah Alun-alun Kota Tuban Kontemporer. Transformasi episteme berupa relasi kuasa tergambar jelas pada kompleks Alun-alun Kota Tuban kontemporer yang menunjukkan dominasi kontrol yang dimiliki oleh diskursus-diskursus tertentu yang dalam konteks penelitian ini berwujud diskursus Islam, Globalisasi, Kapitalisme dan Postkolonialisme, dengan ideologi dominan yang muncul adalah kapitalisme dan postkolonialisme.
Implikasi teoritis penelitian ini menunjukkan, khususnya dalam kaitannya dengan pilihan identitas Kota Tuban, Hall tidak menjelaskan bahwa sebetulnya faktor ekonomi pun berperan terhadap konstruksi akan identitas sekaligus pilihan identitas pada suatu kota baik langsung atau tidak langsung, sama seperti Theodore Adorno yang tidak menyinggung faktor komodifikasi dapat berperan terhadap konstruksi akan identitas. Selain itu, ketika budaya menjadi basis dalam perekonomian kota, maka dalam perekonomian simbolis terjadi reduksi dalam pemaknaan budaya. Budaya yang didefinisikan sebagai shared of meaning dibatasi maknanya sebagai semua image dan simbol yang marketable yang mampu untuk mendorong konsumsi.

This dissertation explores how power relations represented in urban planning of public spaces form the identity of a city. This is a qualitative research study using an explanatory social semiotics method. With reference to the concept of representation by Stuart Hall and Foucault's perspectives on episteme, there are two important things can be concluded from this study. First, Alun-alun Kota Tuban (Tuban's City Square) is a representation of the city's religious and multicultural identities. Second, the changes on architectural landscapes and building sites signify the shift of the regime that has take a place within the context of Contemporary Tuban's City Square. The transformation of power relations episteme is clearly illustrated in the Tuban's Contemporary City Square complex which shows the dominance of control possessed by certain discourses such as Islamic Globalization, Capitalism and Post colonialism discourses, whereas the dominant ideologies that emerge in those discourses are capitalism and post colonialism.
The theoretical implication of this study suggests that, particularly in relation to the selected Tuban's identity, Stuart Hall and Theodore Adorno did not explain that in fact, economic factors also contribute to the construction of identity. In other words, in order to understand the way in which the city's identity is formed we should consider commoditization as a contributing factor to the construction of identity. Furthermore, when culture becomes merely a part of the city's economy or a form of symbolic economy, it reduces the profound meaning of culture making. Culture, which is defined as shared of meaning, has limited meaning as all images and marketable symbols that support people's mode of consumption.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>