Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 189265 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Montolalu, Gabriela
"Latar Belakang: Saat ini prevalensi kebutuhan anestesi umum pada pasien geriatri semakin meningkat. Tanpa modalitas pemantauan yang memadai, pemberian agen anestesi yang berlebihan dapat menciptakan plana anestesi yang lebih dalam. Bispectral index (BIS) merupakan alat pemantauan kedalaman hipnosis melalui pengolahan data elektroensefalogram (processed EEG). Penelitian ini bertujuan membandingkan durasi deep hypnotic time (DHT) pada pasien geriatri yang menjalani anestesi umum dengan penambahan pemantauan BIS dibandingkan pemantauan standar.
Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal melibatkan 44 pasien geriatri yang menjalani anestesi umum untuk prosedur operasi. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok perlakuan yang mendapatkan tambahan pemantauan BISTM dan kelompok kontrol dengan pemantauan standar sesuai ASA. Data BISTM dari kedua kelompok akan direkam secara kontinyu untuk dianalisis selanjutnya. Terhadap subjek, dilakukan pemeriksaan MMSE prabedah dan pascabedah serta pencatatan waktu emergence.
Hasil: Penambahan pemantauan BISTM dapat menurunkan durasi DHT bila dibandingkan dengan pemantauan standar dengan durasi DHT untuk kelompok BIS dan kontrol masing-masing sebesar 12 menit (0-122) dan 21,5 menit (0-200 menit) (nilai p = 0,36). Pada populasi penelitian didapatkan nilai BIS loss of consciousness (BIS LOC) sebesar 80,55 ± 6,48. Penurunan nilai MMSE pascabedah lebih kecil pada kelompok BIS (0,5 vs 2,0; nilai p = 0,06). Durasi waktu pulih sadar didapatkan lebih panjang pada kelompok BIS yakni 28,45 ± 13,48 bila dibandingkan dengan kelompok kontrol sepanjang 22,35 ± 7,81 (nilai p = 0,09; IK 95% -1,01 s/d 13,21 menit). Terdapat kecenderungan terjadinya anestesi yang lebih dangkal pada pemantauan standar yang ditunjukkan oleh nilai BIS tertinggi intraoperatif dan durasi BIS >60. Nilai BIS tertinggi didapatkan lebih tinggi pada kelompok kontrol (73,2 ± 11,41 vs 69,4 ± 8,31) dengan durasi BIS >60 yang lebih panjang pada kelompok kontrol (30 menit vs 8,5 menit)
Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara durasi DHT pada pasien geriatri yang menjalani anestesi umum dengan penambahan pemantauan BISTM dibandingkan pemantauan standar.

Background: The current need for general anesthesia in geriatric population has increased. Without adequate monitoring modality, the administration of anesthetic agents can create unnecessary deeper anesthetic plane. Bispectral index (BIS) is an equipment to monitor the depth of hypnosis through processing raw EEG data. This study aims to compare the duration of deep hypnotic time (DHT) in geriatric patients undergoing general anesthesia with additional BIS monitor compared to standard monitoring.
Methods: This study was a randomized, single-blind clinical trial involving 44 geriatric patients undergoing general anesthesia for surgical procedures. Subjects are divided into two groups, one with additional BISTM monitor and the other with standard monitoring according to ASA. Data acquired from BISTM will continually be recorded to be analyzed afterward. Subjects will be eveluated with MMSE prior and after undergoing general anesthesia and emergence time will be recorded.
Result: Additional BISTM monitor can decrease duration of DHT compared to standard monitoring with DHT for BIS and control group, respectively, 12 minutes (0-122) and 21.5 minutes (0-200 menit) (p value = 0.36). In study population, BIS value for loss of consciousness (BIS LOC) is 80.55 ± 6.48. The decrease of MMSE value post operative is smaller in BIS group compared to control group (0.5 vs 2.0; p value = 0.06). Emergence time is longer in BIS group (28.45 ± 13.48 minutes) compared to control group (22.35 ± 7.81 minutes) with p value = 0.09, 95% CI - 1.01 s/d 13.21 minutes. There was tendency of light anesthesia conduct in control group as shown in comparison of intraoperative highest BIS value and duration of BIS value >60. Higher BIS value is observed in control group (73.2 ± 11.41 vs 69.4 ± 8.31) with longer duration of BIS value >60 compared to BIS group (30 minutes vs 8.5 minutes, respectively).
Conclusion: There is no significant difference in duration of DHT between geriatric population undergoing general anesthesia with additional BISTM monitor compared to standard monitoring.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Arky Kurniati Alexandra
"Latar Belakang: Meningkatnya populasi geriatrik, menyebabkan tindakan pembedahan dan anestesia pada kelompok usia ini bertambah. Status fungsional geriatrik yang dapat dinilai menggunakan Indeks Barthel (IB) menjadi salah satu metode efektif penilaian kondisi mereka sebelum pembedahan. Respon stress yang dialami selama pembedahan menyebabkan penurunan kualitas status fungsional geriatrik pascabedah. Penelitian ini menganalisa perubahan Indeks Barthel pasien geriatrik yang menjalani anestesia umum pada jenis anestesia umum (intravena dan inhalasi), pembedahan (mayor dan minor) dan lama pembedahan (>120 menit dan <120 menit).
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional, kohort prospektif terhadap 61 subjek penelitian selama Januari-Maret 2022. Subjek penelitian ini adalah pasien geriatrik yang berusia 60 tahun atau lebih yang menjalani pembedahan dalam anestesia umum tanpa anestesia regional. Kriteria penolakan adalah pasien dengan ASA > 4, penilaian IB prabedah ≤ 8, rencana pembedahan emergensi, rencana amputasi anggota gerak, prosedur kardiotorasik. Penilaian IB dilakukan dalam 3 waktu, yaitu 1 hari prabedah, 3 hari pascabedah dan 30 hari pascabedah.
Hasil: Terdapat perubahan nilai IB pada tiga periode penilaian dengan nilai p<0,005 dengan Mean rank 1 hari prabedah 1,92, menurun pada 3 hari pascabedah (1,7) serta meningkat kembali saat 30 hari pascabedah (2,38). Perubahan IB yang signifikan didapatkan saat membandingkan jenis anestesia (intravena dan inhalasi) pada saat menilai perubahan nilai IB prabedah dengan 3 hari pascabedah (p=0,019). Pada saat membandingkan jenis pembedahan yang dilakukan, perubahan IB yang signifikan didapatkan pada data perubahan IB 1 hari prabedah dan 3 hari pascabedah (p=0,010), serta perubahan IB 3 hari pascabedah dan 30 hari pascabedah (p=0,035). Hasil yang serupa didapatkan saat menilai lama pembedahan terhadapa perubahan IB dengan p=0,004 dan p=0,011.
Simpulan: Terdapat perubahan IB pada pasien geriatrik yang menjalani anestesia umum intravena ataupun inhalasi, pembedahan mayor ataupun minor serta lama pembedahan kurang dan lebih dari 120 menit.

Background: A rise in number of geriatric populations, causing an increase of surgical and anesthesia procedure among them. Barthel Index (BI), as one of the methods of function status assessment, has becoming an effective tool to assess geriatric condition prior to surgery. Stress response that occur during operation may lower the functional status outcome after surgery. This study analyzed the changes of BI point in geriatric patients who undergo general anesthesia in comparison with its type (inhalational, intravenous, or both), surgery type (mayor and minor) and procedure length (less and more than 120 minutes).
Method: This was an observational cohort study in 61 subjects within January-March 2022. Research subjects were geriatric patients age 60 or older undergoing surgery with general anesthesia without regional anesthesia. Exclusión critertia were patients with ASA >4, BI preoperative ≤ 8, undergoing emergency or cardiothoracic procedure and having limb amputation. BI was assessed in three periods of time; 1 day preoperative, 3 dan 30 day postoperative.
Result: There was a change in BI value of three periods of time with p<0.005 with meank rank of 1.92, 1.7 and 2.38 respectively. A significant BI difference shown when comparing type of anesthesia (inhalational and intravenous) with BI 1-day preop and 3 day postop (p=0.019). The result also shown a significant difference in surgery type during 1-day preop and 3 day postop (p=0.010), along with 3-day postop dan 30 day postop (p=0.035). Similar results shown in length of surgery group, with p=0.004 and p=0.011.
Summary: There are changes found in BI of geriatric patients who undergo intravenous or inhalation general anesthesia, mayor or minor type of surgery and surgery duration less and more than 120 minutes.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nurcholis
"Pasien geriatri rentan mengidap berbagai penyakit (multipatologi) sehingga memungkinkan terjadi polifarmasi. Saat ini, trend penggunaan statin di beberapa negara mengalami peningkatan. Statin digunakan sebagai pencegahan primer dan sekunder penyakit jantung koroner yang prevalensinya terbanyak pada pasien geriatri. Di RSCM belum ada kajian kuantitatif penggunaan statin, sehingga perlu dilakukan kajian penggunaan statin pada pasien geriatri guna mengetahui besar penggunaan statin di RSCM. Studi ini adalah penelitian cross sectional menggunakan kajian defined daily dose (DDD) pada pasien geriatri (>60 tahun) rawat inap di RSCM pada periode Januari-Juni 2015. Hasil yang didapatkan adalah 24 pasien menggunakan statin; 22 pasien (91.6%) menggunakan simvastatin dan 2 pasien (8.4%) menggunakan atorvastatin. Diperoleh hasil DDD total statin 4.12 DDD/100 bed-days, dengan DDD simvastatin dan atorvastatin berrturut-turut 3.68 dan 0.28 DDD/100 bed-days. Profil penggunaan obat statin pada pasien geriatri rawat inap di RSCM tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain, seperti India dengan DDD total statin 55.6 DDD/100 bed-days dan 4.32 DDD/100 bed-days

Geriatric patients are susceptible to multipathologic condition and susceptible to polypharmacy. Nowadays, trend of statin utilization in some countries has been raising. Statin is used for primary and secondary prevention of coronary heart disease, which has the highest prevalence in elderly. There is no quantitative study about statin utilization in RSCM, so a study of statin utilization in geriatric patient in RSCM is needed. This is a cross sectional study evaluating the quantitative use of statin in geriatric patients (>60 years old) admitted in medicine ward of RSCM from January-June 2015 using the defined daily dose (DDD) system. The results shows that 24 patients used statin: 22 patients (91.6%) were prescribed simvastatin and 2 patients (8.4%) were prescribed atorvastatin. The total statin DDD is 4.12 DDD/100 bed-days with the DDD of simvastatin and atorvastatin is 3.68 and 0.28 DDD/100 bed-days, respectively. The statin utilization in hospitalized geriatric patients in RSCM was lower compared to other country, such as India with total satin DDD is 55.6 DDD/100 bed-days and 4.32 DDD/100 bed-days."
2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kamilah Muhammad Hafidz
"Latar belakang. Teknik Target Controlled Infusion untuk anestesia umum semakin banyak digunakan. Jumlah pasien geriatri yang harus menjalani prosedur operasi semakin bertambah, serta memerlukan pertimbangan khusus mengingat risiko operasi dan pembiusan yang lebih tinggi pada golongan ini. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konsentrasi plasma (Cp) dan konsentrasi effect site (Ce) propofol menggunakan rumusan Marsh pada pasien geriatri ras Melayu di RSCM dengan dan tanpa pemberian premedikasi fentanil.
Metode. Empat puluh pasien geriatri orang Indonesia Asli status fisik ASA 2, usia > 60 tahun dan BMI 18-30 kg/m2 dirandomisasi. Satu kelompok (20 pasien) mendapatkan Fentanil-Propofol, lainnya (20 pasien) mendapatkan NaCl-Propofol. Pemberian propofol menggunakan TCI rumusan Marsh dengan target konsentrasi plasma. Target Cp dimulai dari 1 µ/ml dinaikkan 1 µ/ml tiap menit sampai tercapai loss of consciousness (LoC) dan diteruskan sampai nilai BIS 45-60 selama 5 menit (steady state).
Hasil. Pada kelompok Fentanil-Propofol saat LoC didapatkan Cp 3,15+0,35 µ/ml dan Ce 1,53+0,53 µ/ml dan saat BIS stabil didapatkan Cp 4,14+0,59 µ/ml dan Ce 2,63+0,60 µ/ml. Pada kelompok Nacl-Propofol saat LoC didapatkan Cp 4,20+0,61 µ/ml dan Ce 2,26+0,56 µ/ml dan saat BIS stabil didapatkan Cp 4,78+0,38 µ/ml dan Ce 3,30+0,52 µ/ml. Pasien-pasien yang mendapatkan fentanil terlebih dahulu memiliki Cp dan Ce yang lebih rendah baik saat LoC maupun saat nilai BIS stabil (P < 0,05).
Kesimpulan. Terdapat perbedaan bermakna antara Cp dan Ce propofol yang diberikan premedikasi fentanil dan yang tidak.

Background. The application of Target Controlled Infusion (TCI) technique in general anesthesia is progressively growing. Number of geriatric patients scheduled for operations increases every year, while this group needs special consideration following the higher risk of surgery and anesthesia. The purpose of our study was to compare the estimated plasma concentration (Cp) and the effect site concentration (Ce) of propofol using Marsh pharmacokinetic model for geriatric patients in Cipto Mangunkusumo Hospital with and without the administration of fentanyl premedication.
Methods. Forty patients, physical status ASA 2, aged > 60, BMI 18-30 kg/m2 randomly assigned to a fentanyl-propofol group or a saline-propofol group. TCI propofol was initiated using Marsh pharmacokinetic model. Initial plasma concentration in each group was 1 µ/ml and increased by 1 µ/ml every minute until there was no eyelash reflex, which defined as loss of consciousness (LoC). Propofol plasma concentration was increased and decreased to reach a stable BIS value between 45-60, considered as Cp and Ce at steady state.
Results. In the fentanyl-propofol group the estimated Cp at loss of consciousness was 3,15+0,35 µ/ml and Ce 1,53+0,53 µ/ml. At steady state, Cp was 4,14+0,59 µ/ml and Ce 2,63+0,60 µ/ml. In the saline-propofol group Cp 4,20+0,61 µ/ml and Ce 2,26+0,56 µ/ml. At steady state, Cp was 4,78+0,38 µ/ml and Ce 3,30+0,52 µ/ml. The estimated Cp and Ce in the fentanyl-propofol group were lower than saline-propofol group (p < 0.05).
Conclusion. There is a significant difference between Cp and Ce in the salinepropofol group and fentanyl-propofol group.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Rosanti Khalid
"Latar Belakang : Tingkat kepuasan pasien merupakan salah satu indikator kualitas pelayanan anestesia, baik rawat inap maupun rawat jalan. Bedah rawat jalan menawarkan banyak kelebihan dibandingkan rawat inap, sehingga berkembang sangat pesat di Indonesia khususnya di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta dan sebagian besar jenis anestesia pada bedah rawat jalan adalah anestesia umum. Perkembangan ini harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan anestesia. Oleh karena itu perlu dilakukan penilaian terhadap tingkat kepuasan pasien dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Tingkat kepuasan pasien dapat memberikan feedback untuk meningkatkan kualitas pelayanan anestesia pada instalasi bedah rawat jalan.
Tujuan : Mengetahui tingkat kepuasan pasien yang menjalani anestesia umum pada instalasi bedah rawat jalan di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan faktor yang memengaruhinya.
Metode : Penelitian ini adalah penelitian potong lintang. Dilakukan penilaian tingkat kepuasan pada 76 pasien dengan menggunakan kuesioner yang telah divalidasi. Kriteria penerimaan adalah usia 18-65 tahun yang menjalani pembiusan umum pada instalasi bedah rawat jalan di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta, dapat berbahasa Indonesia, membaca dan menulis, bersedia berpartisipasi dan menandatangani surat persetujuan penelitian, pulang dihari yang sama setelah pembedahan atau dirawat kurang dari 24 jam. Hasil kuesioner akan diolah menggunakan perangkat lunak SPSS dengan uji univariat dan bivariat.
Hasil : Uji univariat menunjukkan tingkat kepuasan pasien terhadap anestesia umum rata-rata diatas 70 %. Sedangkan dari uji bivariat, faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien adalah usia, jenis kelamin dan pekerjaan.
Kesimpulan : Pasien merasa puas terhadap pelayanan anestesia umum pada instalasi bedah rawat jalan di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. Karakteristik pasien yang memengaruhi tingkat kepuasan pasien adalah usia, jenis kelamin dan pekerjaan.

Background : Patient satisfaction has been one of quality indicators in anesthesia services whether it is inpatient or outpatient. Ambulatory surgery offers more advantages compares to inpatient services, thus it developed nicely in Indonesia especially in RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta where most patients undergone general anesthesia. This development is yet to be offset by improvement in anesthesia quality services. Thus, it is needed to assess patient satisfaction and factors. Patient satisfaction can give feedback to improve quality of anesthesia services in ambulatory surgery.
Purpose : The purpose of this study was to know patient satisfaction toward general anesthesia and influencing factors in ambulatory surgery RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Methods : This is a cross sectional study. Patient satisfaction was assessed in 76 patients using validated questionnaire. The inclusion criteria were age 18-65 undergoing general anesthesia in Ambulatory Surgery, Bahasa speaking, able to read and write, and agreed to participate in this study by signing research consent and discharged on the same day or hospitalized less than 24 hours after surgery. Result was processed using SPSS with univariate and bivariate test.
Results: Univariate test showed patient satisfaction toward general anesthesia was above 70%. While Bivariate test indicated factors influencing patient satisfaction were age, gender and occupation.
Conclusion : Patients were satisfied with general anesthesia services in Ambulatory Surgery RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. Patient characteristics influencing patient satisfaction were age, gender and occupation.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yulia Fatima Bessing
"Latar belakang: Kecemasan adalah salah satu gejala yang umum ditemui pada pasien geriatri yang menjalani rawat inap. Di sisi lain, kurangnya pergerakan merupakan kondisi yang juga sering ditemukan pada pasien geriatri. Hal ini dapat diatasi dengan latihan fisik dan mindfulness pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan latihan fisik berbasis Tai Chi yang kemudian disebut dengan Protokol Mindfulness dalam Gerak (PMG) untuk mengatasi gejala cemas pada pasien geriatri yang dirawat inap.
Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sebanyak 3 pasien mengikuti penelitian ini.
Hasil: Terdapat 3 pasien yang mengikuti penelitian ini dengan gangguan penyesuaian dengan gejala cemas. Pada ketiga pasien didapati bahwa PMG menurunkan skala nyeri, memperbaiki gangguan tidur, mengurangi sesak nafas dan meningkatkan motivasi pasien dalam mobilisasi dan aktivitas, selain itu, ditemukan juga bahwa PMG dapat menurunkan gejala cemas pada pasien.
Kesimpulan: Protokol PMG secara aman dapat menurunkan gejala cemas pada pasien geriatri dengan gejala cemas yang menjalani rawat inap.

Background: Anxiety is one of the symptoms commonly found in hospitalized geriatric patients. On the other hand, lack of movement is a condition that is also often found in geriatric patients. This can be overcome by physical exercise and mindfulness. The aim of this study is to develop a Tai Chi-based physical exercise which is then called the Mindfulness in Motion Protocol (Protokol Minfulness dalam Gerak/PMG) to treat anxiety symptoms in hospitalized geriatric patients.
Methods: This research was conducted using a qualitative method with a case study approach. A total of 3 patients participated in this study.
Results: There were 3 patients who participated in this study with adjustment disorders with anxiety symptoms. In the three patients, it was found that PMG reduced pain scale, improved sleep disturbances, reduced shortness of breath and increased patient motivation in mobilization and activities. In addition, it was also found that PMG could reduce anxiety symptoms in patients.
Conclusion: The PMG protocol can safely reduce anxiety symptoms in hospitalized geriatric patients with anxiety symptoms.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Jemmy Wilson Tanod
"Latar belakang: Dalam setiap kunjungan pra anestesia, penilaian jalan nafas sangat penting, terutama pada pasien anak. Namun, pedoman yang ada pada dewasa tidak dapat dipakai pada populasi pediatri.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara lima ukuran parameter kraniofasial dengan skor Cormack-Lehane pada populasi anak usia 4-12 tahun di Indonesia.
Metodologi: Data dikumpulkan secara consecutive pada 134 pasien yang menjalani anestesia umum. Dilakukan pengukuran jarak tepi bawah bibir ke ujung mentum, jarak angulus mandibula ke ujung mentum, jarak tragus telinga ke sudut bibir, jarak mentohioid dan jarak antara angulus mandibula kanan dan kiri. Dilakukan penilaian tingkat kesulitan laringoskopi menggunakan skor Cormack-Lehane, kemudian dibagi menjadi mudah dan sulit laringoskopi. Kemudian dilakukan analisa data untuk mencari hubungan antara lima parameter ini dengan skor Cormack-Lehane.
Hasil: Insidens skor Cormack-Lehane I sampai IV masing-masing 47,4%; 43,6%; 6,8%; dan 2,3%.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara lima parameter kraniofasial dengan skor Cormack-Lehane pada anak usia 4-12 tahun.

Background: In every pre anesthesia visite, airway assessment is very important, especially in pediatric patient. However, adult airway guidelines can not be applied in pediatric population.
Objective: To perform the association between five craniofacial parameters and Cormack-Lehane score for 4 to 12 year-old pediatric in Indonesia.
Methods: Data collected consecutively in 134 patients who underwent general anesthesia. The distance of lower lip to mentum, mandible angle to mentum, ear tragus to mouth, mentohyoid distance and distance of left and right mandible were measured. Laryngoscopic view were counted using Cormack-Lehane score and divide into two groups: easy and difficult for laryngoscopic view. The associations of these five parameters with Cormack-Lehane score were analyzed.
Results: Incidence of Cormack-Lehane score grade I to IV was 47,4%; 43,6%; 6,8%; and 2,3%.
Conclusion: There are no significant association among the craniofacial parameters and Cormack-Lehane score in 4 to 12 years-old pediatric patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T58617
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Soraya
"Berbagai studi dan penelitian telah dilakukan di berbagai negara untuk mengetahui pengetahuan pasien terhadap anestesia namun tidak ada instrumen kuesioner yang baku untuk menilai pengetahuan pasien tentang anestesia, dan hal ini belum pernah dilakukan di Indonesia khususnya di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Kuesioner pengetahuan yang valid dan reliabel diharapkan menjadi standar untuk menilai pengetahuan masyarakat terhadap anestesia, dan dapat menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya.
Metode: Kuesioner pengetahuan anestesia sebelumnya telah melalui tahapan pretest oleh ahli dan uji pilot, hasil kuesioner uji pilot disempurnakan sehingga dianggap layak diujicobakan. Penelitian dilakukan pada bulan Januri 2014 sampai dengan Maret 2014 terhadap subyek secara consecutive sampling yang akan menjalani pembiusan dan diperiksa di klinik preoperatif RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. Teknik uji validitas menggunakan validitas konstruk dengan koefisien korelasi minimal 0,3 dapat dianggap valid dan uji reliabilitas menggunakan teknik konsistensi internal dengan nilai cronbach α minimal 0,4 dianggap reliabel.
Hasil: Penelitian ini diikuti oleh 95 subyek dengan 1 subyek dikeluarkan dari penelitian karena tidak mengisi kuesioner secara lengkap. Kuesioner pengetahuan terdiri dari 20 pertanyaan, 8 pertanyaan diantaranya dinilai tidak valid dan reliabel yang dapat disebabkan oleh pertanyaan dan jawaban kuesioner yang tidak dapat dimengerti oleh subyek, pembahasan terlalu dalam dan penggunaan istilah medis yang tidak familiar. Beberapa jawaban pertanyaan memiliki kesamaan yang dapat membingungkan subyek, serta terdapat inkonsistensi jawaban yang diberikan oleh subyek. Tingkat penghasilan dan pendidikan subyek yang rendah serta pengalaman dan informasi yang kurang, sangat mempengaruhi pengetahuan subyek terhadap anestesia, tercermin dari rendahnya rerata tingkat pengetahuan subyek sebesar + 31,6%.
Kesimpulan: Kuesioner penilaian pengetahuan tentang anestesia pada pasien di klinik preoperatif RSUPN Cipto Mangunkusumo tidak dapat dijadikan sebagai suatu standar instrumen yang baku oleh karena dinilai tidak valid dan reliabel.

Various studies and researches have been conducted abroad to determine the patient?s anesthesia knowledge, although no standard questionnaires exist. Research on anesthesia?s knowledge questionnaires have never been done specifically in Cipto Mangunkusumo hospital. A valid and reliable questionnaire is aimed to be a standard instrument assessing the community?s knowledge on anesthesia, and as a foundation for future researches.
Methods: The anesthesia knowledge questionnaires has been evaluated through a pre-test phase done by experts and pilot test, the results was then revised until it is acceptable and can be tested. Researches was conducted on January 2014 until March 2014 on subjects by consecutive sampling who are going to undergo anesthesia and evaluated at the preoperative clinic Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta. Validity test techniques using construct validity with the minimal correlation coefficient 0.3 is valid. Reliability tests using internal consistency techniques with minimal cronbach alpha value 0.4 is reliable.
Results: Research was participated by 95 subjects with 1 subject excluded from the research because of not filling in the questionnaire completely. The knowledge questionnaire included 20 questions, whereas 8 questions was marked to be invalid and unreliable that may be caused by questions and answers were not fully understood by the subjects, the contents was too spesific, usage of medical terms that aren?t familiar. Some of the given answers have similarities that may confuse the subject, and also inconsistency from the subject?s answers. Low level of salary and education with lacking of experience and information from the subjects, has significant influence on the subjects knowledge on anesthesia which is reflected by the low average level of the subject`s knowledge which is + 31.6%.
Conclusions: Anesthesia knowledge questionnaires on patients at preoperative clinic Cipto Mangunkusumo hospital is invalid and unreliable therefore fail to be a standard instrument."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annemarie Chrysantia Melati
"Latar Belakang: Hipotermia intraoperatif pada pasien geriatri yang menjalani pembedahan merupakan hal yang cukup sering ditemukan. Hipotermia memiliki dampak negatif terhadap pasien yang menjalani pembedahan, antara lain meningkatnya lama pemulihan pascaanestesia, risiko infeksi luka operasi, dan komplikasi kardiovaskular. Pada penelitian ini menganalisa hubungan kejadian hipotermia intraoperatif pada pasien geriatri yang menjalani pembedahan dalam anestesia umum dengan lama rawat di rumah sakit, kekerapan kejadian infeksi luka operasi, dan komplikasi kardiovaskular pascabedah.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif terhadap 110 subjek penelitian selama November 2018-Januari 2019. Subjek penelitian adalah pasien geriatri yang berusia di atas 60 tahun yang menjalani pembedahan dalam anestesia umum dengan/tanpa anestesia regional. Kriteria penolakan adalah pasien dengan gangguan termoregulasi, gangguan tiroid, mengalami hipotermia pada saat kunjungan preoperatif dan demam dalam 1 minggu sebelum operasi, dan dalam terapi antipiretik rutin.
Hasil: Pada penelitian ini didapatkan proporsi kejadian hipotermia intraoperatif pada pasien geriatri adalah sebanyak 67,3%. Hipotermia intraoperatif tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan lama rawat di rumah sakit (nilai p = 0,221). Hipotermia intraoperatif juga tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kekerapan kejadian infeksi luka operasi (nilai p = 0,175) dan komplikasi kardiovaskular (nilai p = 0,175).
Simpulan: Hipotermia intraoperatif tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan lama rawat di rumah sakit, kekerapan kejadian infeksi luka operasi dan komplikasi kardiovaskular.

Background: Intraoperative hypothermia among geriatric patients undergoing surgery is commonly found. Hypothermia is associated with negative impact postoperatively, such as increased surgical site infections, prolonged hospital stay, and increased cardiovascular complications. This study aimed to analyse the association between intraoperative hypothermia with length of stay, surgical site infection, and cardiovascular complication among geriatric patients undergoing surgery with general anesthesia.
Methods: This was a prospective cohort study for 110 research subjects from November 2018-January 2019. Research subjects were geriatric patients older than 60 years old undergoing surgery with general anesthesia with/without regional anesthesia. Exclusion criteria were patients with thermoregulation problem, thyroid problem, suffered from hypothermia or fever preoperatively, and with routine antipyretic medication.
Results: In this study, the incidence of intraoperative hypothermia among geriatric patients undergoing surgery with general anesthesia was 67,3%. Intraoperative hypothermia did not have significant association with length of stay (p-value = 0.221). Intraoperative hypothermia also did not have significant association with surgical site infection (p-value = 0.175) and cardiovascular complication (p-value = 0.175).
Conclusion: Intraoperative hypothermia did not have significant association with length of stay, surgical site infection, and cardiovascular complication.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Betardi Oktara
"Latar belakang: Emergence agitation (EA) selama periode pemulihan anestesia umum merupakan masalah yang sering ditemukan pada pasien anak. Etiologi EA pada pasien anak belum sepenuhnya diketahui, faktor-faktor risiko yang dianggap memengaruhi terjadinya EA diantaranya usia prasekolah, penggunaan gas anestesia modern, kemampuan adaptasi yang rendah, dan kehadiran orangtua selama proses pemulihan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan angka kejadian dan faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya EA pada pasien anak yang menjalani anestesia umum inhalasi di RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Metode: Tujuh puluh delapan anak berusia 2-12 tahun dengan status fisik ASA I, II dan III dimasukan dalam penelitian observasional ini. Perilaku anak selama induksi anestesia dinilai berdasarkan nilai Pediatric Anesthesia Behavior (PAB). Di ruang pemulihan kejadian EA dinilai berdasarkan skala Aono pada saat pasien tiba (T0), setelah 5 menit (T5), 15 menit (T15) dan 30 menit (T30).
Hasil: Angka kejadian EA pada pasien anak yang menjalani anestesia inhalasi di RSUPN Cipto Mangunkusumo mencapai 39,7%. Angka kejadian EA lebih tinggi pada pasien dengan usia 2-5 tahun yang memiliki nilai PAB 2 atau 3. Midazolam, jenis gas anestesia, dan keberadaan orangtua selama pemulihan tidak berhubungan dengan kejadian EA.
Kesimpulan: Usia dan perilaku anak selama induksi anestesia memiliki hubungan yang kuat terhadap terjadinya EA. Pasien anak dengan usia 2-5 tahun yang memiliki nilai PAB 2 atau 3 dan akan menjalani anestesia umum inhalasi sebaiknya mendapat terapi pencegahan untuk menurunkan tingkat kejadian EA.

Background: Emergence agitation (EA) during recovery from general anesthesia has been identified as a frequent problem in the pediatric population. The etiology of EA in children is not fully understood but possible risk factors that have been presumed to be associated with the high incidence of EA include pre-school age, newer inhalation anesthetics, poor adaptability, and parental presence during recovery. The aim of the present study was to assess the incidence of EA and the affecting factors in children undergoing inhalation anesthesia in RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Methods: Seventy-eight American Society of Anesthesiologists I, II and III, aged between 2-12 years undergoing inhalation anesthesia were included in this observational study. Children’s behavior during induction of anesthesia was assessed with Pediatric Anesthesia Behavior (PAB) score. In post anesthesia care unit (PACU) the incidence of EA was assessed with Aono’s four point scale upon admission (T0), after 5 min (T5), 15 min (T15) and 30 min (T30).
Results: The incidence of EA in children undergoing inhalation anesthesia in RSUPN Cipto Mangunkusumo in 39,7%. The incidence was higher in 2-5 years old children with PAB score 2 or 3. Midazolam, type of inhalation anesthetic agents and parental presence during recovery do not appear to have any bearing on the incidence of EA.
Conclusions: Age of the children and the behavior during induction of anesthesia have a strong correlation with the incidence of EA. Children with the age 2-5 years and have a PAB score 2 or 3 undergoing inhalation anesthesia should have a prophylactic treatment for decreasing the incidence of EA.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>