Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 63944 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Budiman
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994
T58525
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Proses polimerisasi senyavva BHA dapat dilakukan seoara enzimatik
melalui reaksi oksidatif senyavva fenolik (BHA). Enzim perioksidase dapat
mengkatalisis reaksi oksidatif tersebut dimana nidrogen peroksida bertindak
sebagai akseptor dan BHA sebagai donor atom nidrogen_ Ekstrak tumbunan
brokoli (Brassica o/eraceae Van /ta/ioa) digunakan untuk mendapatkan enzim
peroksidase yang diyakini memiliki aktivitas enzim yang tinggi_ Pemurnian
ternadap ekstrak enzim kasar melalui fraksionasi bertingkat menggunakan
garam ammonium sulfat dengan tingkat kejenunan (0-30)%, (30-50)% dan
(50-70)% didapat fraksi ke-3 dari tingkat kejenunan (50-70)% memiliki
aktivitas spesifik enzim tertinggi yaitu 0,5 U/mg bila dibandingkan fraksi
sebelumnya Reaksi polimerisasi menggunakan enzim fraksi III, HZOQ, dan
BHA dapat mengnasilkan suatu produk reaksi yang dalam tanap isolasi lanjut dengan fasa etil asetat mengnasilkan suatu cairan kental yang setelan
diuapkan dinasilkan sebanyak 1,33 g. Hasil analisis dengan KLT didapat tiga
spot dengan Rf = 0,69 , Rf = 0,8 , Rf = 0,87_ Hasil pemisanan komponen dari
cairan kental menggunakan kromatografi kolom silika gel dengan fasa gerak
Heksan dan etil asetat dalam perbandingan 7:1, didapat isolat seberat 4,2 mg
(0,32 %) yang diduga telan terpisan dari monomer. Analisis untuk
mengidentifikasi senyavva isolat menggunakan intrumentasi UV-Vis, FT-IR
dan GC-IVIS menunjukkan telan terbentuk senyavva baru yang diduga dimer
dari BHA yaitu 2’,3-di-tert-buty/-2-hydroxy-4’,5-dimethoxybipheny/ ether
(vvaktu retensi 12,53) dan 3,3'-di-tert-buty/-5,5’-dimethoxybipheny/-2,2’-dio/
(12,83) yang masing-masing memiliki m/z 358. Proses kopling oksidatif C-0-
C dan C-C diduga merupakan suatu polimerisasi dari senyavva BHA_
Kemampuannya sebagai antioksidan dapat ditunjukkan dengan uji
antioksidan menggunakan metode radical scavenger menggunakan senyavva
DPPH diperolen suatu nilai lC50 BHA = 6,01 pg/mL dan |C50 Isolat = 2,71
pg/mL yang menunjukkan kekuatan antioksidan isolat Iebin tinggi
dibandingkan BHA"
Universitas Indonesia, 2007
S30397
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"
Studi pembentukan produk oxidative coupling senyawa fenolik dengan
bantuan biokatalis enzim telah banyak dikembangkan Salah satu enzim yang
dapat mengkatalisis reaksi oksidasi senyawa fenolik, dengan keberadaan
H202 sebagai substrat akseptor nidrogen, adalan enzim peroksidase Dalam
penelitian ini, enzim peroksidase yang digunakan diisolasi dari akar tanaman
savvi nijau (Brassica juncea) yang dimurnikan menggunakan metode
pengendapan. Aktivitas spesifik enzim yang diperolen adalan 0,5984 Unit/mg
protein. Hasil produk reaksi antara enzim peroksidase/H202 dengan etil
ferulat berupa endapan bervvarna meran muda seberat 0,8817 g (5,83%).
Pemurnian produk reaksi secara KLT preparatif mengnasilkan suatu isolat
yang akan diidentifikasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan GC-IVIS.
Hasil pengukuran dengan spektrofotometer UV menunjukkan serapan
maksimum pada 7»= 288 nm dan 320 nm. Hasil analisis GC-IVIS menunjukkan
terbentuknya senyavva baru yang diduga merupakan dimer etil ferulat dengan
nilai m/Z = 442 pada Waktu retensi 39,620 menit (luas area 23,42%) dan
43,741 menit (luas area 20,18%). Berdasarkan spektrum fragmentasinya,
penggabungan senyavva tersebut terjadi pada posisi 8-O-4’-dietil ferulat dan
8-8’-dietii feruiar isoiat yang diperoien kemudian diuji aktivitas bioiogisnya
sebagai aktivitas antioksidan menggunakan senyavva DPPH dan aktivitas
alelopati menggunakan biji savvi nijau (Brassica juncea). Hasil pengujian aktivitas biologis terhadap isolat menunjukkan bahvva terjadi kenaikan
aktivitas dibandingkan senyavva asalnya, yang dinyatakan dengan nilai lC5o
(ug/mL). Aktivitas antioksidan isolat diperoleh nilai lC50 sebesar 60, 46 ug/mL
sedangkan etil ferulat sebesar 63,83 pg/mL. Dan aktivitas alelopati isolat
diperoleh nilai lC50 sebesar 502,36 pg/mL, sedangkan etil ferulat sebesar
613,82 pg/mL."
Universitas Indonesia, 2007
S30426
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Heroniaty
"Penelitian ini bertujuan untuk meneliti aktivitas peroksidase yang berasal dari kulit bawang bombay (Allium cepa L) untuk dapat melakukan reaksi dimerisasi oksidatif dengan menggunakan substrat senyawa katekin dari ekstrak teh hijau. Sintesis senyawa dimer katekin yang dikatalis oleh peroksidase (EC 1.11.1.7) dari kulit bawang bombay, telah dilakukan dan menghasilkan suatu senyawa baru. Aktivitas peroksidase optimum terjadi pada pH 5 dan suhu 30C. Peroksidase merupakan enzim kelompok oksidoreduktase yang dapat mentransfer atom H dari senyawa fenolik sehingga menghasilkan radikal fenoksi. Dua radikal fenoksi yang bergabung melalui reaksi kopling oksidatif, menghasilkan senyawa dimer. Senyawa yang terbentuk diidentifikasikan dengan instrumen GC-MS. Pada radikal fenolik katekin, terjadi kopling pada posisi C-4' dan C-8" yang membentuk senyawa 4'- 8' dikatekin. Senyawa hasil reaksi dan substrat asalnya dibandingkan aktifitas antioksidannya dengan menggunakan metode radical scavenger DPPH sehingga diketahui IC50 masing-masing sebesar katekin : dimer katekin = 60,248 : 58,928.

This study, aims to examine the activity of peroxidase from skin of onion (Allium cepa L) to be able to perform oxidative dimerization reaction with the substrate catechin compounds from green tea extract. Synthesis of catechin dimer which catalized by peroxidase (EC 1.11.1.7) from onion skins have been carried out and produce a compound of reaction. Optimum activity of peroxidase occurs at pH 5 and temperature 30C. Peroxidase is an oxidoreductase group that can transfer hidrogen from phenolic compound to produce phenoxy radicals. Two phenoxy radicals are joined through the oxidative coupling reaction, resulting a dimer compound. Compound formed were identified by GCMS instrument. In a catechin phenolic radical, coupling occurs at position C-4 'and C-8" which form the compound 4'-8" dicatechin. Compounds of reaction and native substrate were identified antioxidant activity by using DPPH radical scavenger that is known IC50 respectively by catechins: catechin dimer = 60.248 : 58.928."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
T31477
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Momoy Ulrike
"Pembentukan senyawa dimer yang terjadi pada senyawa fenolik dengan bantuan biokatalis, diketahui dapat menghasilkan senyawa dimer yang memiliki sifat bioaktif. Sifat bioaktif ini dapat berupa aktivitas antioksidan, antikanker, dan antimikroba. Pada penelitian ini digunakan eugenol sebagai prekusor dalam pembentukan senyawa dimer dengan menggunakan biokatalis enzim peroksidase. Enzim peroksidase yang digunakan, berupa enzim kasar yang diekstraksi dari tanaman sawi hijau (Brassica juncea ). Aktivitas spesifik enzim kasar adalah 0,357 U/mg protein. Senyawa hasil reaksi antara eugenol dengan enzim peroksidase, dan H2O2 30% yang terbentuk, kemudian diekstraksi dengan etil asetat dan dimurnikan dengan kromatografi kolom, menghasilkan suatu senyawa berupa kristal berwarna kuning, dengan nilai Rf = 0,25 dan titik leleh antara 105oC ?V 108o C. Identifikasi produk kristal dilakukan dengan spektrofotometri UV-Vis, GC -MS, dan FT ?V IR. Diperoleh dari spektrofotometri UV-Vis, kristal tersebut mempunyai ?? maksimum 291 nm dan spektrum FT -IR yang mirip dengan eugenol. Hasil GC-MS menunjukkan bahwa komponen utama dengan waktu retensi 32,10 menit dan luas area 85,22 % mempunyai nilai m/z = 326 yang senilai dengan (2 x m/z eugenol)?V2H. Produk kristal tersebut diujikan aktivitas biologisnya sebagai senyawa inhibitor terhadap sel leukemia L1210 dalam medium Eagle??s MEM, yang mana sel ini merupakan salah satu jenis dari sel kanker dan ditentukan nilai IC50 dengan metode least square. IC50 adalah konsentrasi senyawa aktif dalam ??g/mL medium yang dapat menghambat perkembangbiakan sel sebanyak 50 % setelah masa inkubasi 48 jam. Nilai IC50 yang diperoleh senyawa kristal adalah sebesar 22,35 ??g/mL, yang berarti senyawa kristal memiliki potensi sebagai inhibitor sel leukemia L1210."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2006
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rien Ritawidya
"Peroksidase merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi oksidasi senyawa fenolik dengan adanya hidrogen peroksida membentuk suatu senyawa bioaktif. Enzim peroksidase yang digunakan diisolasi dari tanaman sawi hijau (Brassica juncea). Hasil reaksi senyawa fenolik thymol dengan H2O2 menggunakan katalis peroksidase diuji aktivitas antioksidannya dengan metode radical scavenger menggunakan radikal stabil DPPH. Ekstrak enzim kasar yang diperoleh memiliki kadar protein 1,707 mg/mL dan aktivitas spesifik enzim sebesar 0,053 U/mg. Isolat yang diperoleh dari pemisahan dengan kolom menghasilkan spektrum FTIR yang identik dengan substrat awal yaitu thymol. Hal ini menandakan telah terjadi reaksi oksidatif kopling senyawa thymol. Sedangkan dari hasil GC-MS diperoleh peak pada waktu retensi 15,03 menit dengan nilai m/z sebesar 150. Senyawa pada waktu retensi tesebut merupakan substrat awal yaitu thymol. Sedangkan pada waktu retensi 28,54 menit diperoleh senyawa dimer thymol dengan nilai m/z sebesar 298. Uji aktivitas antioksidan menghasilkan nilai IC50 dimer sebesar 0,333 g/L sedangkan thymolnya adalah 0,891 g/L."
Depok: [Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia;;, ], 2005
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rinang Mariko
"ABSTRAK
Latar belakang. Di Sumatera Barat didapatkan peningkatan kasus infeksi virus dengue. Beberapa kasus juga terjadi pada bayi ≤ 1 tahun. Bayi mempunyai karakteristik klinik yang unik dan tidak banyak penelitian mengenai hal ini di Indonesia.
Tujuan. Mengetahui profil klinis, laboratorium dan serologi infeksi virus dengue pada bayi yang di rawat di RSUP Dr. M Djamil Padang dari tahun 2012-2014
Metode. Penelitian cross-sectional, menggunakan data rekam medic bayi IVD yang dirawat di RSUP Dr M Djamil Padang dari 1 Januari 2012-31 Desember 2014. Data yang dianalisis mencakup usia, jenis kelamin, hari demam saat diagnosis, suhu, demam, batuk, diare, muntah, kejang, hematemesis, melena, syok, ptekie, and hepatomegali.
Hasil. 12 bayi digunakan sebagai sampel. Usia termuda bayi DBD adalah 3 bulan, dengan usia terbanyak 5 bulan (5 bayi). Muntah merupakan gejala tambahan yang paling banyak ditemukan (9 dari 12 bayi), diikuti oleh ptekie dan syok (masing-masing 6 bayi), serta batuk (5 bayi). 8 dari 12 bayi menunjukkan infeksi primer
Kesimpulan. Rerata usia dan kelompok usia terbanyak setara dengan penelitian sebelumnya.

ABSTRACT
Background. In West Sumatera, cases of dengue virus infection is increasing. Some occur in infants below 1 year old. Babies has unique clinical characteristic and only few researchs take place on this subject in Indonesia.
Objection. Describing the clinical, laboratory, and serology profile of dengue virus infection in infants taken care at Dr. M Djamil Hospital in Padang, West Sumatera from 2012 to 2014.
Methods. This is a cross-sectional study based on medical record data on baby who were treated in Dr M Djamil Padang from January 1st, 2012 to December 31st, 2014. The data analyzed were age, gender, fever duration at diagnosis, body temperature, fever, cough, diarrhea, vomit, seizure, hematemesis, melena, shock, ptekie, and hepatomegaly.
Results. 12 babies were collected as sample. Youngest baby had DHF was 3 months old, while the oldest was 5 months old (5 infants). Vomit is the additional symptom most commonly found (9 of 12 infants), followed by ptekie and shock (6 babies each), and cough (5 infants). Eight of 12 infants showed primary infection.
Conclusion. The mean for age and mode for age group were similar to previous studies"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadel Muhammad Riziq
"Metode biodelignifikasi dengan WRF (White Rot Fungi) saat ini menjadi pilihan yang menjanjikan dalam pengolahan limbah lignoselulosa menjadi bahan baku dalam industri obat maupun kertas. Karena pretreatment pada limbah lignoselulosa yang dilakukan melalui proses kimiawi dinilai tidak ramah terhadap lingkungan, maka diperlukan pretreatment biologis dengan organisme atau enzim yang lebih strabil pada lingkungan industri yang bervariasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jamur termofilik dengan aktivitas ligninolitik dan mampu menghasilkan enzim ligninolitik (MnP) pada kondisi tersebut. Jamur diisolasi dari kayu yang telah lapuk yang didapatkan dari Sumber Air Panas Guci, Kabupaten Tegal. Jamur ditumbuhkan pada media PDB dan Kirk dengan serbuk daun nanas sebagai substrat, lalu aktivitas enzim MnP dilakukan secara spektrofotometri UV/Vis dengan Mn2+ sebagai substrat pada panjang gelombang 270 nm. Larutan fraksi enzim MnP didapatkan dari fraksinasi enzim, dengan teknik filtrasi, presipitasi ammonium sulfat pada tingkat saturasi 80% dan dialisis dengan MW cut-off 8000-14000 Da. Kemudian Jamur diuji pada beberapa kondisi suhu inkubasi dan beberapa pH berbeda kemudian diukur aktivitas MnP dengan metode yang sama.
Hasil didapatkan suhu optimum untuk inkubasi adalah 50°C dan pH optimum aktivitas MnP pada pH 6,0-7,0. Penentuan kinetika enzim dilakukan dengan plot Lineweaver-Burk persamaan Michaelis-Menten. Didapatkan hasil kinetika enzim dengan Km 0,473 mM dan Vmax 5,257 mM/min.

The biodelignification method with WRF (White Rot Fungi) is currently a promising option in the treatment of lignocellulosic waste into raw materials in the drug and paper industries. Because the pretreatment of lignocellulosic waste through a chemical process is considered dangerous to the environment, accordingly biological pretreatment with more stable organisms or enzymes in various industrial environments is required.
This study aims to obtain thermophilic fungi with ligninolytic activity and capable of producing ligninolytic enzymes (MnP) under these conditions. The fungus was isolated from rotting wood obtained from Guci Hot Springs, Tegal Regency. The fungus were grown on PDB and Kirk media with pineapple leaf powder as a substrate, then the MnP enzyme activity was carried out by UV/Vis spectrophotometry with Mn2+ as a substrate at a wavelength of 270 nm. MnP enzyme fraction solution was obtained from enzyme fractionation, with filtration technique, ammonium sulfate precipitation at 80% saturation level and dialysis with MW cut-off of 8000-14000 Da. Then the fungus was tested at several incubation temperature conditions and several different pH values and then measured the MnP activity with the same method.
The results obtained that the optimum temperature for incubation was 50°C and the optimum pH for MnP activity was at pH 6.0-7.0. Determination of enzyme kinetics was carried out using the Lineweaver-Burk plot of the Michaelis-Menten equation. The results of the enzyme kinetics were 0.473 mM and Vmax 5.257 mM/min.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Nurul Kirana
"ABSTRAK
Latar belakang: Kerusakan oksidatif berperan dalam proses penuaan dan juga beberapa penyakit degeneratif. Menjaga status antioksidan tubuh merupakan hal penting dalam mencegah terjadinya kerusakan oksidatif. Selenium adalah mineral yang penting mengingat perannya dalam pembentukan enzim antioksidan (selenoprotein), salah satunya glutation peroksidase untuk perlindungan terhadap radikal bebas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan antara asupan selenium dan aktivitas glutation peroksidase dengan karbonil plasma pada usia lanjut. Metode Penelitian: Penelitian potong lintang ini dilakukan di 5 Posbindu di Jakarta Selatan. Dilakukan wawancara untuk mengetahui identitas dan riwayat penyakit kronis. Data aktivitas fisik didapat melalui wawancara dengan kuesioner Physical Activity Scale for the Elderly (PASE). Indeks massa tubuh diperoleh dari hasil pemeriksaan antropometri berupa berat badan dan tinggi badan dari konversi tinggi lutut. Data asupan makan subjek diperoleh dari wawancara food recall 24 jam pada satu hari kerja dan satu hari libur serta Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Pemeriksaan laboratorium dilakukan di laboratorium biokimia FKUI untuk mengetahui aktivitas glutation peroksidase, dan karbonil plasma. Hasil: Sebanyak 94 usia lanjut dengan rerata usia 70,34 ± 6,079 tahun mengikuti penelitian ini. Sebanyak 40% subjek mempunyai status gizi normal dengan 69,1% subjek memiliki riwayat penyakit kronis. Sebanyak 75,5% subjek pada penelitian ini belum mencukupi kebutuhan asupan selenium yang direkomendasikan Rerata kadar karbonil plasma 5,83 ± 1,95 nmol/ml dan 69,1% subjek mempunyai aktivitas glutation peroksidase yang rendah.. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat korelasi antara asupan selenium dengan aktivitas glutation peroksidase. Pada analisis multivariat asupan selenium dan tiga variabel perancu yaitu usia, indeks massa tubuh, dan asupan beta karoten hanya mempengaruhi kadar karbonil plasma sebanyak 3,7%. Diskusi: Hasil asupan selenium pada penelitian ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya. Makanan sumber selenium banyak berasal dari makanan berprotein yang dikonsumsi sehari-hari sehingga data asupan selenium didapat dari gabungan antara food recall 2 x 24 jam dan SQ-FFQ. Pemeriksaan status kognitif subjek juga perlu dilakukan untuk memastikan ada tidaknya gangguan kognitif. Pemeriksaan status antioksidan endogen lain seperti glutation (GSH) juga perlu dilakukan pada penelitian berikutnya untuk mengetahui faktor lain yang mempengaruhi aktivitas glutation peroksidase dalam menekan kerusakan oksidatif pada usia lanjut.

ABSTRACT
Introduction: Oxidative stress contributed in aging process and several degenerative diseases. Maintaining the body's antioxidants status were important to prevent oxidative stress. Selenium was an important trace element due to as a component of antioxidants enzymes (selenoproteins), including glutathione peroxidase for protection against free radical. We aimed to study the association between selenium intake and glutathione peroxidase activity with plasma carbonyl in elderly. Methods: Cross sectional study was held in 5 elderly communities in south Jakarta. Identity and chronic disease history were obtained from interview and Physical activity scale for the elderly (PASE) questionnaire used for assess physical activity. Weight and knee height measurement used to determine body mass index. Dietary intake data obtained from repeated 24 hours recall and Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). laboratory examination held in laboratory of biochemistry FKUI for assess glutathione peroxidase activity and plasma carbonyl level. Results: There were 94 elderly with mean of age 70.34 ± 6.079 years old contributed to this study. 40 % subjects had normal nutritional status and 69.1 % subject had history of chronic disease. There were 75.5 % subject had low intake of selenium. Mean of plasma carbonyl was 5.83 ±1.95 nmol/ml and 69.1% subject had low glutathione peroxidase activity. Statistical analysis results showed there were no significant correlation between selenium intake and glutathione peroxidase. In multivariate analysis selenium intake, age, body mass index, and beta-carotene intake explained 3,7% of the plasma carbonyl. Discussion: The result of selenium intake in current study much lower than previous study. Dietary selenium data obtained from repeated 24 hours recall combine with FFQ-SQ because the selenium food source similar with protein foods that consume daily. Assessment of cognitive function among subject needed for ensure cognitive status related to ability to remember dietary intake. Status of endogen antioxidant including glutathione (GSH) need to be considered for understanding about another factor that influence glutathione peroxidase in preventing oxidative stress."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Susilowati
"Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan global saat ini. Penelitian ini meneliti pasien tuberkulosis yang mengalami riwayat putus obat anti tuberkulosis atau default. Dampak yang ditimbulkan dari putus obat ini akan meningkatkan resiko terjadinya Multi drug resistance tuberculosis (MDR-TB), yang berakibat pengobatan lebih lama, lebih mahal dan lebih banyak menularkan ke orang lain. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktorfaktor yang menyebabkan pasien tuberkulosis berhenti minum obat anti tuberkulosis sebelum waktunya di suatu rumah sakit di Jakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kwantitatif dengan pendekatan cross sectional, menggunakan total sampling sebanyak 31 pasien putus obat anti tuberkulosis. Hasil dari analisa univariat didapatkan faktor tertinggi yang mempengaruhi putus obat anti tuberkulosis adalah kurang mengerti informasi. Implikasi keperawatan di penelitian ini adalah perawat perlu meningkatkan perannya sebagai edukator, konselor, dan motivator serta mereview kembali pendekatan edukasi yang selama ini diberikan pada pasien tuberkulosis dengan pengobatan obat anti tuberkulosis.

Tuberculosis is an infectious disease that becomes a global health problem today. This study examines patients who had a history of default tuberculosis. Where the impact of default tuberculosis will increase the risk of multiple drug resistance tuberculosis, which resulted in longer treatment, more expensive and more infect other people. The purpose of this study was to determine the factors that cause tuberculosis patient stopped taking anti-tuberculosis medication prematurely in the pulmonary clinic of a hospital in Jakarta, Indonesia. The design study is a descriptive quantitative with cross-sectional approach, using total sampling as many as 31 samples patients of default tuberculosis. Results showed that the highest factor affecting default of anti tuberculosis drug is a lack of understanding about information given. This study suggests that nurse have to improve their educating, coseling, motivating and reviewing the education approach that have been provided to tuberculosis patient with anti-tuberculosis medication treatment.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
S56415
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>