Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 103636 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Imelda Masrin
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T58780
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Imelda Masrin
"Karsinoma nasofaring (KNF) di Indonesia merupakan tumor ganas kepala dan leher terbanyak dan berada di peringkat ke empat dari seluruh keganasan pada tubuh manusia setelah tumor ganas serviks, tumor payudara dan tumor kulit.
Kemajuan ilnmu pengetahuan dan teknologi dalam menegakkan diagnosis keganasan pada umumnya dan karsinoma nasofaring khususnya adalah dengan pemeriksaan histopatologik atau sitologik. Pemeriksaan penunjang lainnya, antara lain pemeriksaan radio diagnostik seperti Tomografi komputer (CT Scan), Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI), pemeriksaan serologi, imunohistokimia dan patologi molekuler.
Karsinoma nasofaring adalah suatu tumor yang berasal dari sel-sel epitel yang melapisi daerah nasofaring. Karsinoma nasofaring pertama-tama diperkenalkan oleh Regaud dan Schmineke pada tahun 1921.
Karsinoma nasofaring adalah suatu tumor ganas yang relatif jarang ditemukan pada beberapa tempat seperti Amerika Utara dan Eropa dengan insidens penyakit 1 per 100.000 penduduk. Penyakit ini lebih sating terdapat di Asia Tenggara termasuk Cina, Hong Kong, Singapura, Malaysia dan Taiwan dengan insidens antara 10 - 53 kasus per 100.000 penduduk. Di daerah India Timur Laut, insidens pada daerah endemis antara 25 sampai 50 kasus per 100.000 penduduk.
Penelitian terhadap penyakit karsinoma nasofaring ini mendapat banyak perhatian. Hal ini disebabkan oleh adanya interaksi yang cukup kompleks dari etiologi penyakit seperti faktor genetika, virus (Epstein-Barr) dan faktor lingkungan (nitrosamin di dalam ikan asin). Pada tahun 1985 Ho menyatakan sebuah hipotesis bahwa sebagai etiologi dari karsinoma nasofaring adalah infeksi dari virus Epstein-Barr.
Virus Epstein-Barr (EBV) adalah virus yang dapat menginfeksi lebih dari 90% populasi manusia di seluruh dunia. Virus Epstein-Barr merupakan salah satu penyebab dari infeksi mononukieosis. Karsinoma nasofaring adalah neoplasma epitel nasofaring yang sangat konsisten dengan infeksi EBV. Infeksi primer pada umumnya terjadi pada anak-anak dan bersifat asimptomatik. Infeksi primer dapat menyebabkan virus persisten dimana virus memasuki periode laten di dalam Iimfosit B. Periode laten dapat mengalami reaktivasi spontan ke periode litik, yaitu terjadi replikasi DNA EBV, dilanjutkan dengan pembentukan virion baru dalam jumlah besar, sehingga sel pejamu menjadi lisis dan virion dilepaskan ke sirkulasi. Sel yang terinfeksi EBV mengekspresikan antigen virus yang spesifik . EBV mempunyai potensi onkogenik untuk mengubah sel yang terinfeksi menjadi sel gangs seperti KNF, retikulosis polimorfik dan limfoma Burkitt. Virus Epstein-Barr memegang peranan penting dalam terjadinya keganasan, tetapi virus ini bukan satu-satunya penyebab dari timbulnya karsinoma nasofaring. Transmisi dari virus Epstein-Barr membutuhkan kontak yang erat dengan saliva sesenrang yang terinfeksi dengan virus ini. Banyak orang sehat dapat membawa dan menyebarkan virus secara intermiten di dalam kehidupannya, sehingga transmisi virus ini pada sebagian manusia tidak mungkin untuk dicegah."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T58780
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dede Sulaeman
"Latar belakang: Kanker nasofaring merupakan keganasan yang unik dimana angka kejadiannya termasuk jarang disebagian besar negara, namun endemis di wilayah tiongkok selatan, dan asia tenggara termasuk Indonesia. Histopatologi kanker nasofaring di daerah endemik biasanya merupakan karsinoma jenis tidak berkeratin tidak berdiferensiasi dan selalu terkait dengan infeksi EBV. Berbagai jenis protein virus diekspresikan pada infeksi laten EBV termasuk EBNA1 dan LMP1 mungkin berkontribusi dalam perkembangan kanker. Oleh karenanya, kami ingin menginvestigasi peran onkoprotein virus tersebut terhadap agresivitas dan respon terapi kanker nasofaring.
Metode: Spesimen biopsi jaringan dan darah yang diambil dari pasien kanker nasofaring diukur kadar EBNA1 dan LMP1 dengan menggunakan pemeriksaan ELISA kit masing-masing dari DRG® dan MyBioSource® kemudian dikorelasikan dengan voume tumor dan KGB terlibat yang dinilai berdasarkan delineasi berbasis pencitraan 3D. Pasien kemudian menjalani terapi standar, dan dilakukan penilaian 3 bulan paska terapi. Respon terapi akan dinilai hubungannya dengan kadar EBNA1 dan LMP1.
Hasil: 23 subjek dimasukan kedalam studi, 69,5% berada pada stadium IVA keatas, dengan mayoritas laki-laki sebanyak 61%. Median volume tumor primer dan volume KGB masing masing 41,4cc (13,2-128,8) dan 40,1cc (1,2-633,5). Uji korelasi Spearman mendapatkan hubungan bermakna (p=0,032) antara kadar LMP1 jaringan dan volume tumor sebelum terapi (r=0,448). Tren korelasi yang moderat terlihat pada kadar EBNA1 di jaringan dengan di darah, kadar EBNA1 di jaringan dengan volume tumor primer, kadar EBNA1 di darah dengan volume KGB, serta Kadar LMP1 baik di jaringan maupun di darah dengan volume KGB, meskipun secara keseluruhan tidak bermakna secara statistik. Sementara itu, pengaruh kadar LMP1 dan EBNA1 terhadap respon terapi belum dapat disimpulkan.
Kesimpulan: Semakin tinggi kadar LMP1 di jaringan tumor akan diikuti oleh semakin besarnya volume tumor primer nasofaring. Korelasi moderat tidak signifikan pada variabel lain mungkin diakibatkan oleh jumlah sampel yang kurang. Penambahan besar sampel diperlukan untuk konfirmasi signifikansi dari korelasi tersebut.

Background: Nasopharyngeal cancer is an unique malignancy where the incidence is rare in most countries but endemic in Southern China and Southeast Asia, including Indonesia. The histopathology of nasopharyngeal cancer in endemic areas is usually an undifferentiated nonkeratinizing type carcinoma and is always associated with EBV infection. Various viral proteins are expressed in latent EBV infection, including EBNA1 and LMP1. These viral oncoproteins may contribute to cancer development, but they are not always be defined. Therefore, we want to investigate the role of these viral oncoproteins when it comes to the aggressivity and treatment response of nasopharyngeal cancer.
Methods: Tissue biopsy and blood specimens taken from nasopharyngeal cancer patients were measured for EBNA1 and LMP1 using the ELISA kit examination from DRG® and MyBioSource® respectively, then correlated with primary tumor and nodal volume, which was calculated by delineation based on 3D imaging. Patients then underwent standard therapy, and was assessed 3 months post-therapy. Response to therapy will be assessed in relation to levels of EBNA1 and LMP1.
Results: 23 subjects were included in the study, 69.5% was at stage IVA and above with the majority being males (61%). The median primary tumor and lymph node volume were 41.4cc (13.2-128.8) and 40.1cc(1,2-633.5), respectively. Spearman correlation test found a significant relationship (p=0.032) between tissue LMP1 levels and tumor volume before therapy (r=0.448). A moderate correlation trend was seen in EBNA1 levels in tissue with blood, EBNA1 levels in tissue with primary tumor volume, EBNA1 levels in blood with lymph node volume, and LMP1 levels both in tissue and in blood with lymph node volume, although overall it was not statistically significant. Meanwhile, the effect of LMP1 and EBNA1 levels on the response to therapy cannot be concluded.
Conclusion: The higher the level of LMP1 in the tumor tissue, the larger the volume of primary nasopharyngeal tumor will be. Moderately insignificant correlation on the other variables may be caused by a small number of samples. The addition of the sample size is needed to confirm the significance of the correlation.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Endang Rahmawati
"Lesi fokal otak merupakan komplikasi neurologi pada pasien HIV yang ditandai oleh lesi desak ruang (Space Occupying Lesion) yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Di beberapa negara, lesi ini dapat disebabkan oleh toksoplasma ensefalitis dan limfoma otak primer. Lesi yang disebabkan oleh toksoplasmosis dan limfoma otak primer yang disebabkan oleh Epstein Barr virus sulit untuk dibedakan menggunakan CT scan ataupun MRI. Pemeriksaan gold standar untuk membedakan keduanya yaitu dengan biopsi otak, namun hal ini merupakan tindakan invasif dan dapat menimbulkan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh uji deteksi untuk diagnosis cepat infeksi Toxoplasma gondii dan Epstein Barr virus. Desain yang dipakai pada penelitian adalah studi eksperimental laboratorium. Uji deteksi yang dikembangkan adalah dupleks real-time PCR yang dapat mendeteksi T.gondii dan EBV atau kombinasi keduanya dalam satu reaksi pada sampel pasien HIV dengan gejala klinis tersangka infeksi otak. Tahap pertama dilakukan optimasi dupleks real-time PCR meliputi suhu annealing, konsentrasi primer dan probe, uji volume elusi dan volume cetakan. Penentuan ambang batas deteksi dilakukan untuk mengukur minimal T.gondii dan EBV yang dapat dideteksi. Reaksi silang untuk mengetahui spesifisitas teknik dilakukan menggunakan bakteri dan virus sebagai berikut Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aeruginosa, Mycobacterium tuberculosis H37Rv, Candida spp, Cytomegalo virus, Herpes zoster virus, dan Varicella zoster virus. Dupleks real-time PCR yang telah optimal diaplikasi pada sampel pasien. Sampel yang digunakan adalah darah dan cairan serebrospinal dari pasien HIV dengan gejala klinis infeksi otak yang dirawat di bagian neurologi RSCM. Hasil optimasi dupleks real-time PCR diperoleh suhu annealing untuk T.gondii dan EBV 58°C, konsentrasi primer forward dan reverse untuk T.gondii dan EBV adalah 0,2 µM, konsentrasi probe T.gondii 0,4µM, konsentrasi probe EBV 0,2 µM. Deteksi ambang batas minimal DNA untuk T.gondii 5,68 copy /ml, sedangkan EBV 1,31 copy/ml. Uji yang dikembangkan pada penelitian ini termasuk uji yang sensitif dibandingkan hasil penelitian lain. Uji reaksi silang primer dan probe dupleks real-time PCR terhadap beberapa bakteri dan virus lain, menunjukkan tidak bereaksi silang dengan primer dan probe yang digunakan untuk mendeteksi T.gondii dan EBV. Hasil pemeriksaan dupleks real-time PCR pada sampel darah diperoleh 16% positif T.gondii, 40% positif Epstein Barr virus, sebanyak 16% positif Epstein Barr virus dan T.gondii dan pada sampel cairan serebrospinal diperoleh hasil 20% positif T.gondii, sebanyak 28% positif Epstein Barr virus dan 4% positif terhadap Epstein Barr Virus dan T.gondii.

Focal brain lesion is neurology complication in HIV that marked with Space Occupying Lesion (SOL), that need rapid and effective handling. In most country, this lesion could be cause by encephalitis toxoplasma and Primary Central Nervous System Lymphoma that related to Epstein Barr virus infection that was difficult to distinguished using CT scan or MRI. Gold standard to distinguished was brain biopsy, but this examination was invasive procedure that cause complication. Therefore, we need a reliable and rapid examination to distinguished it. This study aimed to get detection for rapid diagnosis of T.gondii and EBV infection. This study was an experimental laboratory. First step was optimation of dupleks real-time PCR include annealing temperature, primer andprobe consentration, elution volume and template volume. Minimal detection of DNA to measured minimal T.gondii and EBV that could be detected. Cross reaction to know technique spesivisity using bacterial and virus Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aeruginosa, Mycobacterium tuberculosis H37Rv, Candida spp, Cytomegalo virus, Herpes zoster virus, and Varicella zoster virus. Dupleks real-time PCR has been optimally applied to patient. The sample from blood and cerebrospinal fluid of HIV patients who admitted in the neurology department of RSCM then examined to duplex real-time PCR to detect T.gondii and EBV. The optimation of duplex real-time PCR, the annealing temperature for T.gondii and EBV were 58°C, consentration of primer forward and reverse for T.gondii and EBV were 0,2 µM, consentration of probe for T.gondii was 0,4µM and EBV was 0,2µM.. Minimal DNA detection for T.gondii was 5,68 copy/ml and EBV was 1,31 copy /ml. This study was sensitive like the others. Spesivisity technique of real-time PCR, there was not cross reaction between another bacteria and virus that used as primer and probe for T.gondii and EBV. From the results of the duplex real-time PCR on blood samples, 16 % was positive T.gondii, 40% Epstein Barr virus, and 16% were positive Epstein Barr virus and T.gondii and from cerebrospinal fluid samples 20% was positive T.gondii, 28% was positive Epstein Barr virus and 4% were positive for Epstein Barr Virus and T.gondii."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chaerita Maulani
"Periodontitis merupakan penyakit inflamasi kronis dengan etiologi umum yaitu plak dan bakteri. Virus merupakan mikroorganisme yang diduga turut berperan dalam etiologi
periodontitis. Faktor genetik yaitu polimorfisme IFN-γ +874T/A (rs2430561) juga dapat mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap periodontitis. Kadar IFN-γ sebagai salah satu respon host terhadap virus, dapat meningkat pada subjek dengan periodontitis. Faktor prediksi periodontitis yang telah dikenal berperan dalam etiologi periodontitis adalah faktor sosiodemografis (usia, jenis kelamin), parameter klinis (body mass index (BMI), merokok dan kebersihan mulut). Polimorfisme +874T/A (rs2430561) diduga mempengaruhi kadar IFN-γ. Tujuan: menganalisis hubungan antara virus Epstein-Barr (VEB), polimorfisme gen interferon gamma (IFN-γ +874T/A (rs2430561), kadar IFN-γ,
sosiodemografis dan parameter klinis dengan periodontitis dan mendapatkan indeks prediksi periodontitis. Tujuan kedua adalah mengetahui hubungan antara polimorfisme
IFN-γ dengan kadar IFN-γ. Metode: Evaluasi dilakukan pada 136 subjek yang dilakukan pemeriksaan klinis jaringan periodontal yang telah memenuhi kriteria inklusi. Cairan
krevikular gingiva (CGK) diperiksa dengan paper point kemudian dilakukan analisis kadar IFN-γ dengan metode ELISA dan dilakukan ekstraksi DNA dan diperiksa DNA VEB
dengan metode qRT-PCR. Ekstraksi DNA dari darah perifer subjek kemudian dianalisis genotipnya dengan menggunakan teknik RFLP. Data sosiodemografis (usia, jenis kelamin) dan parameter klinis (BMI, merokok dan kebersihan mulut) diperiksa dan dianalisis. Uji multivariat regresi logistik dilakukan untuk memperoleh faktor yang paling berperan pada periodontitis. Hasil: Tidak ditemukan hubungan bermakna antara VEB dengan periodontitis (p>0,05), namun deteksi VEB lebih banyak ditemukan pada periodontitis sedang-berat dibanding periodontitis ringan. Polimorfisme IFN-γ +874T/A (rs2430561) genotip AT atau TT mempunyai hubungan bermakna dengan periodontitis (OR=2,70; p=0,036) dibandingkan dengan genotip AA. Hubungan bermakna ditemukan pada kadar IFN-γ (OR=2,87; p=0,034), jenis kelamin (OR=0,04; p< 0,001) dan kebersihan mulut (OR 9,03, p=0,002) dengan periodontitis. Hubungan polimorfisme
IFN-γ +874T/A (rs2430561) dengan kadar IFN-γ ditemukan tidak bermakna (p>0,05).
Kesimpulan: Indeks prediksi periodontitis model satu didapatkan faktor prediksi jenis kelamin, kebersihan mulut, kadar IFN-γ dan polimorfisme +874T/A (rs2430561) yang mempengaruhi periodontitis. Indeks prediksi model dua didapatkan faktor prediksi jenis kelamin, kebersihan mulut dan kadar IFN-γ sebagai indeks prediksi periodontitis yang
lebih aplikatif. Polimorfisme IFN-γ +874T/A (rs2430561) tidak mempengaruhi kadar IFN-γ pada subjek periodontitis.

Periodontitis is a chronic inflammatory disease of periodontium that has a multifactorial origin. Dental plaque and bacteria widely known as the main etiology in periodontitis Viruses are microorganisms that are thought to play a role in the etiology of periodontitis. The IFN-γ genetic polymorphisms may cause an alteration in host immune response. IFN-γ cytokine has important roles toward virus and intracellular bacteria and the level of IFN-
γ increased in periodontitis patients. Sociodemographic factors (age, gender), clinical parameters (body mass index (BMI), smoking, and oral hygiene) are associated with the increased risk and severity of periodontitis. The polymorphisms of IFN-γ +874T/A (rs2430561) may affect the production of IFN-γ. Objective: to analyze the relationship between Epstein-Barr virus (EBV), interferon-gamma (IFN-γ) gene polymorphism +874T/A (rs2430561), IFN-γ levels, sociodemographic and clinical parameters with
periodontitis and obtain a predictive index of periodontitis. The second objective was to determine the relationship between IFN-γ polymorphisms and IFN-γ levels. Methods: A total of 136 subjects who met the inclusion criteria were invited to participate in the study.
Periodontal status was assessed by pocket depth, clinical attachment loss, and number of teeth. The IFN-γ level obtained from gingival crevicular fluid were measured using Human IFN-γ ELISA kit. EBV DNA positivity was determined in GCF samples using quantitative real-time PCR. DNA for single-nucleotide polymorphism (SNP) genotyping was extracted from the peripheral blood and the genotype was analyzed using the RFLP technique. Sociodemographic data and clinical parameters were examined and analyzed. Multivariate logistic regression analysis was performed to identify predictors associated
with periodontitis. Results: The association between EBV and periodontitis was not significant (p>0,05), but the positive EBV detection was found higher in moderate-severe
periodontitis than mild periodontitis. Statistically significant differences were found in IFN-γ +874T/A (rs2430561) polymorphism between genotype AA, AT, TT, and the protein expressions of severe and mild periodontitis samples (OR 2.70, p=0.036; OR 2.87, p=0.034, respectively). Gender and oral hygiene were showed significantly difference (OR 0.04, p < 0.001; OR 9.03, p = 0.002, respectively). The +874T/A (rs2430561)
polymorphism association with IFN-γ levels was not significant (p>0.05). Conclusion: The final predictive index of periodontitis consists of gender, oral hygiene, IFN-γ levels, and polymorphism +874T/A (rs2430561). The second model consists of gender, oral hygiene and IFN-γ levels which were more applicable in less lab facility. The +874T/A (rs2430561) polymorphism did not affect IFN-γ levels in periodontitis subjects.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Stefanus Sutopo
"ABSTRACT
Kanker serviks adalah salah satu penyakit malignansi yang cukup berbahaya, dengan 500.000 kejadian baru dan 240.000 kematian setiap tahunnya. Walau etiologi intinya, human papillomavirus (HPV), telah diketahui sejak tahun 1990-an, sepertinya terdapat kofaktor-kofaktor yang mendorong kejadian penyakit ini. Salah satu yang menarik untuk diteliti adalah Epstein-Barr virus (EBV). Pada penelitian ini, 20 sampel swab serviks dari pasien dengan kanker serviks (positif HPV risiko tinggi), sementara 48 sampel swab serviks dari pasien dengan penyakit non-kanker serviks (negatif HPV). EBV dideteksi menggunakan uji real time PCR, sementara level DNA EBV dihitung berdasarkan persamaan Livak. Hubungan infeksi EBV sebagai kofaktor terhadap infeksi HPV dianalisis menggunakan statistik. Secara kualitatif, ditemukan bahwa populasi subyek positif EBV memiliki risiko sekitar 2,388 kali lebih mungkin menderita infeksi HPV dibandingkan populasi negatif EBV. Secara kuantitatif, jumlah DNA EBV pada populasi subyek dengan kanker serviks dan positif EBV sekitar 71 kali lebih tinggi dibandingkan dengan populasi subyek dengan kanker serviks dan negatif EBV. Secara statistik, hubungan infeksi EBV sebagai kofaktor terhadap infeksi HPV secara kualitatif maupun kuantitatif tidak bermakna (p > 0,05). Penelitian dengan populasi yang lebih besar dan multicenter dibutuhkan untuk menyokong hasil penelitian ini.

ABSTRACT
Cervical cancer is one of the most dangerous malignant diseases, with around 500,000 new cases and 240,000 deaths each year. Although its main etiology, HPV, has been associated clearly with it since the 1990s, there appears to be various cofactors driving the pathophysiology of this disease, with one of the most interesting ones being EBV. In this study, 68 cervical swab samples with known HPV DNA content is analysed for the presence of EBV DNA. 2-by-2 table analytic statistics with various methods are then conducted to understand the connections between these two pathogens and the patients disease. It is found that in this sample population, patients with HPV are around 2.388 times more likely to be infected by EBV. The amount of EBV DNA in the case population is also found to be around 71 times more than in the control population. However, both results are statistically insignificant (p > 0.05). In conclusion, the results found shows interesting proof for the complicicity of EBV in the pathophysiology of cervical cancer, although statistically insignificant. Studies with a larger population and multicentered approach are needed to support the findings of this study."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwinanda Aidina Fitrani
"Latar belakang: Infeksi virus Epstein-Barr (EBV) dapat menjadi infeksi oportunistik pada anak dengan HIV. Gejala infeksi EBV sulit dibedakan dengan infeksi HIV dan bersifat laten. Infeksi EBV laten dapat reaktivasi mulai dari gangguan limfoproliferatif hingga terjadinya keganasan. Di Indonesia belum ada data mengenai infeksi EBV pada anak dengan HIV.
Tujuan: Mengetahui proporsi, karakteristik dan faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya infeksi EBV pada anak dengan HIV di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Metode: Penelitian potong lintang untuk melihat karakteristik infeksi EBV pada anak dengan HIV dan faktor-faktor yang berhubungan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, periode bulan September 2020 hingga Februari 2021. Sampel darah diambil untuk dilakukan pemeriksaan PCR EBV kualitatif (whole blood), darah perifer lengkap, kadar CD4 dan viral load HIV.
Hasil: Total subyek 83 anak dengan HIV. Proporsi subyek terinfeksi EBV sebesar 28,9%, dengan rerata usia 9,58 tahun. Limfadenopati merupakan gejala terbanyak, meskipun tidak dapat dibedakan dengan infeksi lain. Dua anak mengalami keganasan akibat EBV yaitu Limfoma Non Hodgkin dan leiomiosarkoma. Sebanyak 75% subyek terinfeksi EBV yang berusia di bawah 12 tahun mengalami anemia (rerata Hb 10,68 ± 2,86 g/dL), dapat disebabkan infeksi EBV atau penyebab lain. Hasil analisis bivariat menunjukkan kadar viral load HIV > 1000 kopi/mL berhubungan dengan terjadinya infeksi EBV pada subyek (OR 2,69 (1,015-7,141); P = 0,043).
Simpulan: Proporsi anak dengan HIV yang terinfeksi EBV di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta adalah 28,9%, dengan kadar viral load HIV > 1000 kopi/mL berhubungan dengan terjadinya infeksi EBV pada anak dengan HIV.

Background: Epstein-Barr virus (EBV) infection can be an opportunistic infection in HIV-infected children. EBV infection is difficult to be differentiated from HIV infection, and it can be latent. Latent EBV infection can reactivate into lymphoproliferative disorders and malignancy. There is no data on EBV infection in HIV-infected children in Indonesia.
Objective: To identify the proportion, manifestations and factors associated with EBV infection in HIV-infected children in Dr. Cipto Mangunkusumo National Central Hospital Jakarta.
Methods: Cross-sectional study to examine the manifestations of EBV infection in HIV-infected children and it’s associated factors in Dr. Cipto Mangunkusumo National Central Hospital Jakarta, during September 2020 to February 2021. Blood samples were taken to examine qualitative EBV PCR (whole blood), complete blood count, CD4 levels and HIV viral load.
Results: Total subjects were 83 HIV-infected children. The proportion of children infected with EBV was 28.9%, with mean age 9.58 years. Lymphadenopathy was the most common symptoms, although it was difficult to differentiate from other infections. Two children have malignancy due to EBV, namely Non-Hodgkin's lymphoma and leiomyosarcoma. Total 75% of EBV-infected subjects under 12 years of age were anemic (mean Hb 10.68 ± 2.86 g/dL), could be due to EBV infection or other causes. Bivariate analysis showed HIV viral load levels > 1000 copies/mL were associated with EBV infection in subjects (OR 2.69 (1.015-7.141); P = 0.043).
Conclusion: The proportion of EBV infection in HIV-infected children in Dr. Cipto Mangunkusumo National Central Hospital Jakarta is 28.9%, with HIV viral load levels > 1000 copies/mL were associated with the EBV infection in HIV-infected children.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Murni Asih
"Latar Belakang: Virus Epstein~Barr (EBV) merupakan virus dsDNA dan termasnk dalam famili Herpesviridae. Infeksi EBV dapat berasosiasi dengan beberapa penyakit seperti karsinoma nasofaring (KNF). Pada penderita KNF, gen EBV yang diekspresikan adalah gen lain, yaitu EBERs, EBNAI, LMP 1, LMPZA, dan LMPZB. Dari kesemua gen tersebuf., LMPI dianggap yang berperan penting dalam proses onkogenesis dan transformasi limfosit B oleh EBV. Dan beberapa Studi epidemiologi, ditemukan adanya Varian khusus pada gen LMP] berupa deiesi 30 pb pada bagian C-terminal. Di Indonesia, hingga saat ini belum diketahui apakah ditemukan delesi 30 pb gen LMPI pada penderita KNF dan bila ditemukan, apakah delesi tersebut berhubungan dengan patogenesis KNF.
Tujuan: Mengetahui apakah ditemukan delesi 30 pb gen LMP] EBV pada penderita KNF di Indonesia, dan bila ditemukan berapa frekuensi delesi 30 pb gen LMPI EBV pada penderita KNF di Indonesia, Serta mengetahui hubungan antara delesi tersebut dengan status patologi KNF.
Metode: Identifikasi delesi 30 pb gen LMPI Vi1'l.lS Epstein-Barr dilakukan dengan metode nested PCR dan hasil PCR divisualisasi dengan elektroforesis menggunakan gel agarose 2%. Hasil amplifikasi bempa pita DNA berukuran 162 pb untuk gen LMPI yang tidak mengalarni delesi 30 pb, sedangkan pita DNA berukuran 132 pb untuk gen LMP! yang mengalami delesi 30 pb.
Hasil: Dari 100 sampel penderita KNF yang diidentifikasi, 29 sampel mengalami delesi 30 pb, 71 sampel tidak mengalami delesi 30 pb, dan 21 sampel mengalami coexislence varian.
Kesimpulan: Di Jakarta, varian EBV berupa delesi 30 pb gen LMPI ditemukan dalam frekuensi yang rendah (24%; 29/ 121) bila dibandingkan varian yang tidak mengalami delesi 30 pb (76%; 92/121). Pada penelitian ini juga ditemukan adanya coexisrence Varian gen LMPL Berdasarkan uji Fisl1er's Exact, didapat bahwa nilai p > 0,05, berarti tidak ada hubungan bermakna antara delesi 30 pb gen LMPI dengan status patologi KINF.

Background: Epstein-Barr virus (EBV) is a dsDNA virus, member of Herpes (Herpesviridae) family. EBV infection may be associated with several diseases, one of them is nasopharyngeal carcinoma (NPC). NPC patients expressed EBV latent gene, they are EBERS, EBNA1, LMPI, LMPZA, and LMPZB. LMPI, in particular play important roles in epithelial oncogenesis and B lymphocyte transformation. Several epidemiological studies found specific variant of LMPI gene detectable as 30-bp deletion of C-tenninal region of LMP] gene. There is not any report of 30-bp LMP] gene on NPC patients so far and it is still unclear whether the deletion is associated with NPC pathogenesis.
Purpose: (1) To understand the existence of the deletion of 30-bp LMP1 gene in Indonesia NPC patients. (2) To determine the frequency of 30-bp deletion of LMP1 gene and its association with pathological status.
Method: Identification of 30-bp deletion in LMPI gene was done by nested PCR method. The PCR result was investigated by means of electrophoresis in 2% agarose gel. The results were determined as 162 bp of DNA band of LMPI gene (without 30-bp deletion) and 132 bp of DNA band of LMP1 gene (with 30-bp deletion).
Results: Among 100 identified samples, 29 samples found to have 30-bp deletion, 71 samples doesn?t have 30-bp deletion and 21 samples carry coexistence variants.
Conclusion: In Indonesia, especially in Jakarta, EBV variant of 30-bp deletion of LMP1 gene was found in low frequency (21-l»%; 29/ 121) in comparison with variant without deletion (76%; 92/121). There are variant of LMPI gene mixtures (coexistence with and without deletion). Analysis of data using Fisher°s Exact test (p>0,05) showed that there is not significant relationship between 30~bp deletion of LMPI gene and NPC pathological status.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
T32888
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Matheus Jorizal
"ABSTRAK
Pada makalah ini akan dikemukakan pengobatan radiasi pada karsinoma prostat, dengan suatu laporan retrospektif pengeobatan radiasi pada pasien yang dikirim ke Unit Radioterapi RSCM/FKUI selama periode Januari 1982 sampai dengan Desember 1986.
Kesimpulannya adalah: (1). Penderita karsinoma prostat yang datang berobat ke Subbagian Radioterapi RSCM/FKUI pada umumnya sudah berada pada stadium lanjut, (2). Limfografi penting bukan saja untuk diagnostik tetapi juga dalam hal penanganan terapi, (3). Pengobatan radiasi yang diberikan pada karsinoma prostat umumnya merupakan radiasi pasca bedah, (3). Perlu disusun protokol pengobatan karsinoma prostat.
"
1989
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rinang Mariko
"ABSTRAK
Latar belakang. Di Sumatera Barat didapatkan peningkatan kasus infeksi virus dengue. Beberapa kasus juga terjadi pada bayi ≤ 1 tahun. Bayi mempunyai karakteristik klinik yang unik dan tidak banyak penelitian mengenai hal ini di Indonesia.
Tujuan. Mengetahui profil klinis, laboratorium dan serologi infeksi virus dengue pada bayi yang di rawat di RSUP Dr. M Djamil Padang dari tahun 2012-2014
Metode. Penelitian cross-sectional, menggunakan data rekam medic bayi IVD yang dirawat di RSUP Dr M Djamil Padang dari 1 Januari 2012-31 Desember 2014. Data yang dianalisis mencakup usia, jenis kelamin, hari demam saat diagnosis, suhu, demam, batuk, diare, muntah, kejang, hematemesis, melena, syok, ptekie, and hepatomegali.
Hasil. 12 bayi digunakan sebagai sampel. Usia termuda bayi DBD adalah 3 bulan, dengan usia terbanyak 5 bulan (5 bayi). Muntah merupakan gejala tambahan yang paling banyak ditemukan (9 dari 12 bayi), diikuti oleh ptekie dan syok (masing-masing 6 bayi), serta batuk (5 bayi). 8 dari 12 bayi menunjukkan infeksi primer
Kesimpulan. Rerata usia dan kelompok usia terbanyak setara dengan penelitian sebelumnya.

ABSTRACT
Background. In West Sumatera, cases of dengue virus infection is increasing. Some occur in infants below 1 year old. Babies has unique clinical characteristic and only few researchs take place on this subject in Indonesia.
Objection. Describing the clinical, laboratory, and serology profile of dengue virus infection in infants taken care at Dr. M Djamil Hospital in Padang, West Sumatera from 2012 to 2014.
Methods. This is a cross-sectional study based on medical record data on baby who were treated in Dr M Djamil Padang from January 1st, 2012 to December 31st, 2014. The data analyzed were age, gender, fever duration at diagnosis, body temperature, fever, cough, diarrhea, vomit, seizure, hematemesis, melena, shock, ptekie, and hepatomegaly.
Results. 12 babies were collected as sample. Youngest baby had DHF was 3 months old, while the oldest was 5 months old (5 infants). Vomit is the additional symptom most commonly found (9 of 12 infants), followed by ptekie and shock (6 babies each), and cough (5 infants). Eight of 12 infants showed primary infection.
Conclusion. The mean for age and mode for age group were similar to previous studies"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>