Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 193465 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Riyan Hari Kurniawan
"Pendahuluan: Keberhasilan fertilisasi in vitro (FIV) dipengaruhi oleh kualitas embrio. Menghindari transfer embrio dengan abnormalitas jumlah kromosom (aneuploidi) pada proses FIV meningkatkan keberhasilan implantasi. Baku emas dalam pemeriksaan status kromosom embrio adalah Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A) yang termasuk tindakan yang invasif, dapat menyebabkan kerusakan embrio saat biopsi, dan memerlukan keterampilan khusus operator. Diharapkan adanya metode lain yang dapat menilai status kromosom embrio dengan risiko rendah dan tidak invasif. miRNA diekspresikan oleh embrio manusia dan ekspresinya menunjukkan perbedaan antara embrio euploid dan aneuploid. miRNA yang disekresikan pada medium kultur diharapkan dapat menjadi biomarker untuk menilai status koromosom embrio. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan level ekspresi miRNA-191 dan miRNA-548c-3p pada medium kultur embrio dengan status kromosom embrio. Metode: Penelitian potong lintang ini dilakukan pada 30 embrio dari 12 pasien usia antara 28-40 tahun yang menjalani program FIV di tiga klinik bayi tabung. Embrio diperoleh dari siklus FIV dan dikultur sampai tahap blastokista. PGT-A dilakukan dengan cara biopsi blastokista pada hari ke-5 atau ke-6 dan analisis kromosom dilakukan dengan metode NGS untuk menentukan embrio euploid atau aneuploid. Sampel sisa medium kultur embrio tahap blastokista dilakukan pemeriksaan level ekspresi miRNA-191 dan miRNA 548c-3p dengan metode qPCR. Hubungan antara level ekspresi miRNA-191 dan miRNA 548c-3p pada médium kultur embrio euploid dan aneuploid kemudian dianalisis. Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam karakteristik subjek di antara kelompok embrio euploid dan aneuploid (p>0,05). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna dalam level ekspresi miRNA-191 antara kelompok embrio euplodi dan aneuploidi (kuantifikasi median 7,260 vs 1,039 dengan p=0,497). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna dalam level ekspresi miRNA-548c-3p antara kelompok euploid dan aneuploidi (kuantifikasi median 1,919 vs 4,311 dengan p=0,707) Kesimpulan: Tidak didapatkan hubungan bermakna antara level ekspresi miRNA-191 dan miRNA-548c-3p di medium kultur embrio terhadap status kromosom embrio. Level ekspresi miRNA-191 dan miRNA-548c-3p pada medium kultur embrio belum dapat menjadi kandidat yang baik sebagai biomarker status kromosom embrio.

Introduction: IVF success is related to embryo quality. Avoiding aneuploid embryo transfer embryo with chromosome abnormalitis (aneuploidy) in IVF will increase implantation success. The gold standard for embryo chromosomal status testing is PGT-A, which is an invasive method that can cause embryo damage during biopsy and need operator’s special skill. Therefore, another method to test embryo chromosomal status is needed, with lower risk and not invasive. miRNA is expressed by human embryo and this expression shows the difference between euploid and aneuploid embryo. miRNA secreted into culture media is expected to be a biomarker for embryo chromosomal status testing. Purpose: The purpose of this research is to analyze the relationship between miRNA-191 and miRNA-548c-3p expression level in embryo culture media with embryo chromosomal status. Methods: This cross-sectional study was done to 30 embryos from 12 patients age 28-40 years old who underwent an IVF program in three IVF clinics. Embryos from the IVF cycle were cultured until blastocyst stage. PGT-A was done by doing blastocyst biopsy on day 5 or 6 and chromosomal analysis was done using the NGS method to classify euploidy or aneupoidy embryo. The expression levels of miRNA-191 and miRNA-548c-3p were analyzed from culture media sample of the embryo in blastocyst stage using qPCR method. Then the relationship between miRNA-191 and miRNA-548c-3p expression level with embryo chromosomal status was analyzed. Results: There is no difference in subjects’ characteristics between the euploid and aneuploid embryo groups (p>0.05). There is no significant difference in the expression level of miRNA-191 of the euploid and aneuploid embryo groups. (median quantification 7,260 vs 1,039 with p=0,497). There is no significant difference in the expression level of miRNA-191 of the euploid and aneuploid embryo groups. (median quantification 1,919 vs 4,311 with p=0,707). Conclusion: There are no relationship between miRNA-191 and miRNA-548c-3p expression level with embryo chromosomal status. Level expression of miRNA-191 and miRNA-548c-3p in embryo culture have not be a good biomarker candidate for embryo chromosomal status."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Achmad Kemal Harzif
"Tujuan: Faktor embrio sangat mempengaruhi hasil dari fertilization in vitro (FIV). Salah satu metode untuk memastikan embrio tidak memiliki kromosom aneuploid adalah Prosedur Pengujian Genetik Praimplantasi untuk Aneuploidi atau Skrining Genetik Praimplantasi, yang melibatkan biopsi blastomer pada fase 8 sel atau trofektoderm pada fase blastokista. Prosedur ini merupakan prosedur yang invasif dan berpotensi membahayakan embrio.
Metode: Penelitian adalah penelitian cross-sectional pada pasien program FIV yang dilanjutkan dengan pemeriksaan kromosom dengan NGS di Pusat IVF RS Pondok Indah dan Pusat FIV Morula RS Bunda pada bulan Desember 2021 sampai dengan Desember 2022. Embrio yang mencapai stadium blastokista pada hari ke 5 atau 6 dibersihkan dan dimasukkan ke dalam tabung PCR selama seminggu; dilanjutkan dengan anotasi oleh embriologi untuk menentukan penilaian morfologi dan parameter morfokinetik menggunakan Microscopcopy Time-Lapse. Uji chi-square digunakan untuk menganalisis variabel bivariat.
Hasil: Seratus dua puluh empat sampel didapatkan pada hari ke 5 pasien yang menjalani prosedur FIV. Sebanyak 50,8% memiliki kromosom aneuploid, dan 49,2% adalah euploid. Median karakteristik morfokinetik yaitu 3,86 kali lipat. Ditemukan bahwa tingkat ekspansi, time to pro-nuclear fading, dan time to the synchrony of the third cell cycle berhubungan secara signifikan dengan status euploid (p = =0,000; 0,041 dan 0,036).
Kesimpulan: Tingkat ekspansi terbukti secara bermakna memiliki pengaruh dalam memprediksi status ploidi embrio.
Metode: Penelitian adalah penelitian cross-sectional pada pasien program FIV yang dilanjutkan dengan pemeriksaan kromosom dengan NGS di Pusat IVF RS Pondok Indah dan Pusat FIV Morula RS Bunda pada bulan Desember 2021 sampai dengan Desember 2022. Embrio yang mencapai stadium blastokista pada hari ke 5 atau 6 dibersihkan dan dimasukkan ke dalam tabung PCR selama seminggu; dilanjutkan dengan anotasi oleh embriologi untuk menentukan penilaian morfologi dan parameter morfokinetik menggunakan Microscopcopy Time-Lapse. Uji chi-square digunakan untuk menganalisis variabel bivariat.
Hasil: Seratus dua puluh empat sampel didapatkan pada hari ke 5 pasien yang menjalani prosedur FIV. Sebanyak 50,8% memiliki kromosom aneuploid, dan 49,2% adalah euploid. Median karakteristik morfokinetik yaitu 3,86 kali lipat. Ditemukan bahwa tingkat ekspansi, time to pro-nuclear fading, dan time to the synchrony of the third cell cycle berhubungan secara signifikan dengan status euploid (p = =0,000; 0,041 dan 0,036).
Kesimpulan: Tingkat ekspansi terbukti secara bermakna memiliki pengaruh dalam memprediksi status ploidi embio.

Objective : Embryonic factors greatly influence IVF outcomes. One method to ensure the embryo does not have aneuploid chromosomes is Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy or Preimplantation Genetic Screening procedure, which involves undergoing a biopsy of the blastomeres in the 8-cell phase or the trophectoderm in the blastocyst phase. The procedure is invasive and can potentially harm the embryo.
Methods: This study is a cross-sectional that requires patients undergoing IVF followed by chromosome examination with NGS that was conducted at the IVF Center at Pondok Indah Hospital and Morula IVF Center at Bunda Hospital from December 2021 to December 2022. Each embryo that reaches the blastocyst stage on day 5 or 6 will be washed and put into a PCR tube for a week; then, embryologists annotate them to determine morphological assessment and morphokinetic parameters using Time-Lapse Microscopy. The chi-square test was used to analyse bivariate variables.
Results: One hundred twenty four samples were collected on day 5 of patients undergoing the IVF procedure. 50.8% of the samples were aneuploid chromosomes, and 49.2% were euploid. The morphokinetic characteristics median was 3.86 fold. It was found that expansion grade, time to pro-nuclear fading, and time to the synchrony of the third cell cycle were significantly associated with euploid status (p = =0.000; 0.041 and 0.036).
Conclusion: The expansion grade has been proven as the most influential component for accurately predicting the ploidy status of embryos.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwiyanarsi Yusuf
"Latar Belakang: Insiden infetilitas semakin meningkat setiap tahunnya. Salah satu usaha untuk menangani infertilitas adalah dengan melakukan Fertilisasi In Vitro (FIV), namun angka keberhasilan FIV saat ini khususnya di Indonesia masih rendah. Salah satu penyebab rendahnya keberhasilan FIV adalah adanya aneuploidi, sehingga menurunkan kualitas dari embrio yang dihasilkan.
Metode: Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif untuk mengetahui hubungan antara berbagai faktor risiko dengan kejadian 3PN secara morfologi dan status kromosom. Data pasien yang mengikuti FIV di Klinik Yasmin RSCM diambil dari 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2016, kemudian sebanyak 33 blastokista diambil untuk dilakukan pengujian preimplantasi genetic testing for aneuploidi (PGT-A). Data kemudian dianalisis menggunakan SPSS.
Hasil: Dari 1644 pasien yang melakukan FIV di Klinik Yasmin selama 4 tahun, diperoleh sebanyak 827 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, dengan total 741 (89,6%) pasien dengan morfologi 2PN dan 86 (10,4%) pasien dengan morfologi 3PN. Nilai tengah usia maternal berturut-turut untuk 2PN dan 3PN, 36 (26-46) dan 35 (21-48). Sebanyak 55 subjek penelitian dengan usia > 35 tahun dengan morfologi 3PN (laju fertilisasi 56,1%) dan 31 dengan usia < 35 tahun (laju fertilisasi 56,5%). Didapatkan hubungan bermakna antara usia maternal dengan kejadian morfologi 3PN (p<0,05), sedangkan pada faktor pria, riwayat keguguran, riwayat gagal FIV, indikasi wanita dan indikasi pria tidak didapatkan hubungan yang bermakna. Sebanyak 33 blastokista dengan morfologi 3PN dari 15 pasien diambil dan dilakukan pengujian dengan PGT-A menggunakan metode NGS. Didapatkan 11 (33,3%) blastokista dengan hasil euploid dan 22 (66,7%) dengan hasil aneuploidi (monosomi, trisomi, mozaik dan chaotic). Dilakukan anilisi data, didapatkan hubungan antara usia maternal dengan kejadian aneuploidi pada blastokista (p<0,05), namun untuk faktor yang lainnya tidak didapatkan hubungan bermakna.

Background: The incidence of infertility is increasing every year. One effort to deal with infertility is by conducting In Vitro Fertilization (IVF). Somehow, the current success rate of IVF especially in Indonesia is still low. One of the causes of the low success of IVF is the presence of aneuploidy, which decreases the quality of the embryo produced.
Methods: Design of this study was a retrospective cohort to determine the relationship between various risk factors with the incidence of 3PN morphologically and chromosomal status. Data on patients who took IVF at the Yasmin Clinic in RSCM were taken from January 1st, 2013 to December 31st, 2016. A total of 33 blastocysts were taken for preimplantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A) testing. Data was analyzed using SPSS.
Results: 1644 patients who conducted FIV at Yasmin Clinic for 4 years, 827 patients met the inclusion criteria, with a total of 741 (89.6%) patients with 2PN morphology and 86 (10.4%) patients with 3PN morphology. Median of maternal age for 2PN and 3PN, 36 (26-46) and 35 (21-48) respectively. As many as 55 subjects aged more than 35 years old with the morphology of 3PN (fertilization rate was 56.1%) and 31 with age under 35 years old (with fertilization rate was 56.5%). There was a significant relationship between maternal age and 3PN morphological events (p <0.05); whereas for male factors, history of miscarriage, history of failed IVF, female and male indications had no significant relationship found. 33 blastocysts with 3PN morphology from 15 patients were taken and tested with PGT-A using NGS method. There were 11 (33.3%) blastocysts with euploidy results and 22 (66.7%) with aneuploidy results (monosomy, trisomy, mosaic and chaotic). Data was analyzed, the relationship between maternal age and the incidence of aneuploidy in the blastocyst was found (p <0.05) but for other factors no significant relationship was found.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eri Nurkomala
"ABSTRAK
Sampai saat terapi radiasi merupakan pengobatan pilihan terhadap kanker nasofaring. Radiasi yang diberikan tersebut dapat menyebabkan penurunan jumlah limfosit. Penurunan jumlah limfosit di atas diduga antara lain karena terjadi aberasi kromosom. Dari penelitian sebelumnya terlihat bahwa radiasi rnengakibatkan aberasi kromosom pada penderita yang menjalani terapi radiasi. Tipe-tipe aberasi kromosom yang terbentuk dapat berupa kromosom disentrik, kromosom asentrik dan kromosom cincin.
Terapi radiasi diberikan dengan dosis 200 cGy per hari, lima kali berturut-turut dalam seminggu selama kira-kira enam minggu. Sampel diperoleh dari darah tepi penderita kanker nasofaring yang belum mendapat radiasi (kontrol= 0 cGy), setelah terapi radiasi 2000 cGy, 4000 cGy, serta 6000 cGy.
Dari uji Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan "criticai range" Kruskal-Wallis, menunjukan kromosom disentrik dan kromosom asentrik berbeda nyata antara kontrol dengan penderita yang mendapat radiasi (2000 cGy, 4000 cGy, 6000 cGy), sedangkan jumlah kromosom cincin terbanyak pada radiasi 4000 eGy (P < 0,05). Aberasi lain tidak dipengaruhi oleh dosis radiasi. Uji Spearman memperlihatkan kromosom cincin dan kromosom asentrik berkorelasi negatif terhadap jumlah limfosit (P < 0,05), sebaliknya antara kromosom disentrik dengan jumlah limfosit tidak ada korelasi negatif (P 0,05)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1990
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erda Ayu Umami
"

Latar Belakang: Prosedur transfer embrio merupakan salah satu langkah pada teknologi reproduksi berbantu, dapat dilakukan transfer embrio beku atau embrio segar. Kemanan teknologi ini masih menjadi perhatian. Sehingga penting untuk mengetahui pengaruhnya terhadap luaran dalam hal ini tumbuh kembang anak.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan transfer embrio beku dibandingkan embrio segar terhadap tumbuh kembang anak usia 0-3 tahun.

Metode: Metode penelitian ini adalah analitik komparatif dengan desain penelitian cross sectional, membandingkan tumbuh kembang anak hasil FIV dengan transfer embrio beku dibandingakan embrio segar. Pertumbuhan menggunakan parameter berdasarkan WHO Child Growth Standards 2006 atau WHO Anthro 2006. Sedangkan perkembangan menggunakan Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP).

Hasil: Dari 2 kelompok subjek penelitian anak hasil FIV dengan transfer embrio beku (n=30) dibandingkan dengan embrio segar (n=30), tidak ada perbedaan pertumbuhan dan perkembangan. Nilai OR sebesar 0,64 (95% CI: 0,10-4,15) menunjukkan tidak ada perbedaan risiko gangguan gizi pada FIV dengan transfer embrio segar dibandingkan dengan embrio beku. Nilai OR sebesar 0,36 (0,06-2,01) menunjukkan tidak ada perbedaan risiko anak perawakan pendek pada FIV dengan transfer embrio segar dibandingkan dengan embrio beku. Anak FIV dengan transfer embrio beku memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami BBLR dibandingkan kelompok embrio segar dengan OR sebesar 0,17 (95% CI: 0,03-0,85). Semua anak, baik pada kelompok embrio segar dan embrio beku, memiliki lingkar kepala dan perkembangan yang normal.

Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pertumbuhan dan perkembangan anak FIV hasil transfer embrio beku dibandingkan dengan embrio segar. Transfer embrio beku menurunkan risiko bayi lahir BBLR.


Background: Embryo transfer procedure is one step in assisted reproduction technology, it can be done frozen or fresh embryo transfer. This technological security is still a concern. So it is important to know the effect on outcomes in this case the growth and development of children.
Objective: This study aims to find out correlation of frozen embryo transfer versus fresh embryo on the growth and development of children aged 0-3 years.
Methods: This research method is comparative analytic with cross sectional research design, comparing the growth and development of children resulting from FIV with frozen embryo transfer compared to fresh embryo. For the growth, we use parameters based on the WHO Child Growth Standards 2006 or WHO Anthro 2006. While the development using KPSP (Pre-Screening Developmental Questionnaire).
Results: From the 2 groups of child research subjects frozen embryo transfer (n = 30) compared with fresh embryo (n = 30), there were no differences in growth and development. OR value of 0.64 (95% CI: 0.10-4.15) shows no difference in the risk of nutritional disorders in IVF with fresh embryo transfer compared with frozen embryo. OR value of 0.36 (0.06-2.01) indicates there is no difference in the risk of short stature in IVF with embrio segar transfer compared with frozen embryo. IVF children with frozen embryo transfer had a lower risk of developing low birth weight compared to the fresh embryo group with an OR of 0.17 (95% CI: 0.03-0.85). All children, both in the fresh and frozen embryos, have normal head circumference and development.
Conclusions: There was no difference in the growth and development of IVF children resulting from frozen embryo transfer compared with fresh embryo. The risk of low birth weight infants was lower in frozen embryo transfer.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Candrika Agyawisnu Yuwono
"Latar Belakang Selain implikasi medis, faktor sosial juga dapat menjadi dorongan bagi individu untuk melakukan prosedur simpan beku oosit (social freezing). Indonesia termasuk dalam jajaran negara yang belum memiliki regulasi terkait dengan implementasi social freezing. Di samping itu, diketahui bahwa sikap dan pemahaman masyarakat terhadap preservasi fungsi fertilitas juga terlihat semakin positif. Sebagai penyedia layanan kesehatan, perspektif dokter spesialis sangat berpengaruh terhadap pengembangan kebijakan ke depannya serta terhadap keputusan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran profil pengetahuan, sikap, dan perilaku dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Indonesia terhadap prosedur social freezing. Metode Penelitan dilakukan dengan metode cross sectional terhadap sejumlah 136 dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Indonesia dalam periode Agustus hingga September 2023. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner yang terdiri atas tiga komponen, yaitu pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap social freezing. Hasil Mayoritas responden diketahui cenderung memiliki tingkat pengetahuan yang baik dan sikap positif terkait preservasi fertilitas dan social freezing (63,9% dan 91,2%). Namun, hanya sebagian kecil dari responden yang menunjukkan frekuensi tinggi terkait prosedur social freezing (28%). Analisis komparatif menemukan perbedaan pada perilaku terkait social freezing berdasarkan tingkatan spesialisasi (p = 0,003), sementara itu tidak ada perbedaan pada durasi praktik (p = 0,742). Selain itu, uji asosiasi menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tidak memengaruhi sikap (p = 1,000) dan perilaku responden (p = 0,142). Kesimpulan Profil pengetahuan dan sikap sebagian besar dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Indonesia terkait social freezing cenderung positif. Namun, profil perilaku dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Indonesia terhadap social freezing tergolong rendah.

Introduction Apart from medical implications, social factors can also serve as driving factors for individuals to undergo oocyte cryopreservation. Indonesia is among the countries that currently lack regulations regarding implementation of social freezing. It is evident that societal attitudes and understanding of fertility preservation and age-related concerns are progressively taking on a more positive outlook. As healthcare providers, the perspectives of obstetricians and gynecologists may influence the development of future policies and patient decisions. The objective of this study is to delineate the knowledge profile, attitudes, and behaviors of obstetricians and gynecologists in Indonesia regarding the procedure of social egg freezing. Method The research was conducted using a cross-sectional methodology involving 136 Indonesian obstetrician and gynecologist. The study was carried out over the period from August to September 2023. Data were collected through the distribution of a questionnaire comprising 3 components: knowledge, attitudes, and behaviors related to social freezing. Results The majority of respondents exhibited a tendency towards a good level of knowledge and positive attitudes concerning fertility preservation and social freezing (63.9% and 91.2%, respectively). However, only a small proportion of respondents demonstrated a high frequency associated with the social egg freezing procedure (28%). Comparative analysis revealed significant differences in behaviors related to social egg freezing based on specialization level (p = .003), while no significant differences were identified based on practice duration (p = .742). Furthermore, association tests indicated that knowledge levels did not significantly influence attitudes (p = 1.000) or respondent behaviors (p = .142). Conclusion The majority of obstetricians and gynecologists in Indonesia exhibit predominantly positive knowledge and attitudes regarding social egg freezing. However, their behavioral engagements towards social egg freezing is notably low."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hilwah Nora
"Pengantar: Dalam siklus teknologi reproduksi berbantu TRB , sebanyak 30 oosit ditemukan dalam keadaan immatur, oosit immatur ini akan yang memiliki kapasitas maturasi dan fertilisasi yang rendah, dan jarang sampai ketahap embrio transfer, namun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hal in belum diketahui secara luas.
Tujuan: Untuk melihat hubungan antara maturitas oosit dengan kadar hCG serum 12 jam pasca penuntikan dan ekspresi mRNA LHR sel granulosa pada siklus TRB. Untuk menilai apakah kadar hCG serum dan ekspresi LHR ini bisa memprediksi laju maturasi oosit pada siklus TRB.
Material dan Metode: total 30 sampel normoresponder yang mengikuti TRB dengan protocol antagonis dianalisa secra prospektif. Dua belas jam setelah penyuntikan hCG, kadar hCG serum diukur dan petik oosit melalui USG transvaginal dilakukan 35-36 jam kemudian. Sel granulosa oosit diperoleh saat denudasi oosit untuk proses intracytoplasmic sperm injection ICSI dan sel granulosa ini kemudian diproses RNA prufikasi, reverse transcription dan quantitative real-time polymerase chain reaction PCR . Oosit yang diperoleh saat itu langsung dinilai maturasinya. Test korelasi Pearson dilakukan untuk menilai korelasi laju maturasi oosit dengan kadar hCG dan ekspresi mRNA LHR. Analisa Receiver Operating Characteristic ROC dilakukan untuk menentukan nilai cut-off.
Hasil: Kadar hCG seum memiliki korelasi positif dengan maturitas oosit r 0.467, p

Introduction: During stimulated in vitro fertilization IVF cycle, up to 30 of the recovered oocytes are immatur ones which have lower maturation capacity, poor fertilization capacity and seldom yield transferable embryos however, the precise influencing factors are largely unknown.
Aim: To investigate the association of oocyte maturation with serum hCG levels measured 12 hours after trigger and LHr mRNA expression of granulosa cell in IVF cycles. To find out whether this serum hCG levels and expression of mRNA LHr granulosa cell can predict oocyte maturation rate in IVF cycles.
Material and Method A total of 30 normoresponder IVF cycles stimulated by antagonist protocol were analyzed prospectively. Twelve hours after triggering by exogenous hCG, level of hCG serum was measured and an ultrasound guided retrieval of oocytes was performed 35 36 hours later. Granulosa cells were obtained during oocyte denudation for intracytoplasmic sperm injection ICSI procedures and subjected to total RNA purification, reverse transcription and quantitative real time polymerase chain reaction PCR. Oocytes were stripped immediately after retrieval and maturation was assessed at this time. Pearson 39 s correlation test performed to analyze the correlation of oocyte maturation rate with serum hCG level and expression mRNA LHR. Receiver operating characteristic ROC analysis was performed to determine cut off value.
Result: Serum hCG have positive correlation with oocyte maturation r 0.467, p
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Intan Dyah Puspitasari
"Latar Belakang: Dengan tingginya angka kasus infertilitas, terdapat beberapa teknologi yang dapat digunakan sebagai tata laksana. Salah satunya adalah teknologi Fertilisasi In Vitro (IVF), yang dilakukan dengan menstimulasi pasien dengan hormon FSH untuk mengembangkan lebih banyak oosit dan mengambil oosit tersebut setelahnya untuk menginduksi fertilisasi dengan sel sperma. Kualitas oosit dievaluasi dengan mengukur ekspresi oocytes-secreting factors yang salah satunya adalah gen BMP15. Penelitian ini dilaksanakan untuk melihat korelasi antara dosis rFSH dan ekspresi gen BMP15 pada pasien IVF. Tujuan: Mengetahui korelasi dosis rekombinan FSH terhadap ekspresi gen BMP15 sel granulosa pada pasien Fertilisasi In Vitro. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang dilaksanakan di Klinik Yasmin, Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta sejak bulan Juli 2019 hingga bulan Juli 2020. Terdapat 20 wanita berusia 25-40 tahun tanpa endometriosis dan Sindrom Ovarium Polikistik yang menjadi subjek penelitian ini. Pada pasien, dilakukan pengambilan cairan folikel dan kemudian dilakukan pengukuran ekspresi gen BMP15 pasien. Data ekspresi gen BMP15 kemudian dievaluasi dan diuji korelasinya dengan dosis rFSH menggunakan aplikasi SPSS. Hasil: Sebanyak 17 pasien IVF berpartisipasi dalam penelitian ini. Median jumlah ekspresi gen BMP15 adalah sebanyak 6.49 x 10-10 ng/ml dan rata-rata dosis rFSH yang diberikan pada pasien adalah sebanyak 2660.29±165.24. Berdasarkan hasil uji korelasi, terdapat korelasi positif antara dosis rFSH dan ekspresi BMP15 dengan signifikansi sedang (r = 0.419, p = 0.047). Kesimpulan: Terdapat korelasi positif dengan signifikansi sedang antara dosis rFSH dan ekspresi gen BMP15.

Background: With the high number of infertility cases, there are technologies that are used as the management of infertility. One of them is in vitro fertilization, which is done by stimulating the patients to develop more oocytes using FSH hormones and taking the oocytes soon after to induce a fertilization with the sperm cells. We can evaluate the quality of the oocytes by measuring the expression of oocytes-secreting factors, one of which is the BMP15 gene. This study is conducted to see the correlation between the dose of rFSH and the expression of BMP15 genes in the IVF patients. Aim: To find out the correlation between the dose of recombinant FSH and the expression of BMP15 Gene in the Granulosa Cells of IVF Patients. Methods: A cross sectional study was held in Klinik Yasmin, Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta since July 2019 to July 2020. 20 women aged 25-40 years old without the conditions of endometriosis and PCOS participated in this study. Follicular fluids were taken from the patients and the BMP15 gene expression were measured. The data were then evaluated with the amount of rFSH using SPSS. Results: About 17 IVF patients were included in this study. The median amount of BMP15 gene expression was 6.49 x 10-10 ng/ml and the average amount of rFSH dose given to the patients was 2660.29±165.24. According to the correlation test, there was a positive correlation between the rFSH dose and the expression of BMP15 gene with medium significance (r = 0.419, p = 0.047). Conclusion: This study showed a positive correlation between the dose of rFSH given to the IVF patients and the expression of BMP15 gene in the granulosa cells."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwiyanarsi Yusuf
"Latar Belakang: Insiden infetilitas semakin meningkat setiap tahunnya. Salah satu usaha untuk menangani infertilitas adalah dengan melakukan Fertilisasi In Vitro (FIV), namun angka keberhasilan FIV saat ini khususnya di Indonesia masih rendah. Salah satu penyebab rendahnya keberhasilan FIV adalah adanya aneuploidi, sehingga menurunkan kualitas dari embrio yang dihasilkan.
Metode: Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif untuk mengetahui hubungan antara berbagai faktor risiko dengan kejadian 3PN secara morfologi dan status kromosom. Data pasien yang mengikuti FIV di Klinik Yasmin RSCM diambil dari 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2016, kemudian sebanyak 33 blastokista diambil untuk dilakukan pengujian preimplantasi genetic testing for aneuploidi (PGT-A). Data kemudian dianalisis menggunakan SPSS.
Hasil: Dari 1644 pasien yang melakukan FIV di Klinik Yasmin selama 4 tahun, diperoleh sebanyak 827 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, dengan total 741 (89,6%) pasien dengan morfologi 2PN dan 86 (10,4%) pasien dengan morfologi 3PN. Nilai tengah usia maternal berturut-turut untuk 2PN dan 3PN, 36 (26-46) dan 35 (21-48). Sebanyak 55 subjek penelitian dengan usia > 35 tahun dengan morfologi 3PN (laju fertilisasi 56,1%) dan 31 dengan usia < 35 tahun (laju fertilisasi 56,5%). Didapatkan hubungan bermakna antara usia maternal dengan kejadian morfologi 3PN (p<0,05), sedangkan pada faktor pria, riwayat keguguran, riwayat gagal FIV, indikasi wanita dan indikasi pria tidak didapatkan hubungan yang bermakna. Sebanyak 33 blastokista dengan morfologi 3PN dari 15 pasien diambil dan dilakukan pengujian dengan PGT-A menggunakan metode NGS. Didapatkan 11 (33,3%) blastokista dengan hasil euploid dan 22 (66,7%) dengan hasil aneuploidi (monosomi, trisomi, mozaik dan chaotic). Dilakukan anilisi data, didapatkan hubungan antara usia maternal dengan kejadian aneuploidi pada blastokista (p<0,05), namun untuk faktor yang lainnya tidak didapatkan hubungan bermakna.
Kesimpulan: Usia maternal menjadi faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian 3PN yang dilihat secara morfologi maupun dengan teknik PGT-A.

Background: The incidence of infertility is increasing every year. One effort to deal with infertility is by conducting In Vitro Fertilization (IVF). Somehow, the current success rate of IVF especially in Indonesia is still low. One of the causes of the low success of IVF is the presence of aneuploidy, which decreases the quality of the embryo produced.
Methods: Design of this study was a retrospective cohort to determine the relationship between various risk factors with the incidence of 3PN morphologically and chromosomal status. Data on patients who took IVF at the Yasmin Clinic in RSCM were taken from January 1st, 2013 to December 31st, 2016. A total of 33 blastocysts were taken for preimplantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A) testing. Data was analyzed using SPSS.
Results: 1644 patients who conducted FIV at Yasmin Clinic for 4 years, 827 patients met the inclusion criteria, with a total of 741 (89.6%) patients with 2PN morphology and 86 (10.4%) patients with 3PN morphology. Median of maternal age for 2PN and 3PN, 36 (26-46) and 35 (21-48) respectively. As many as 55 subjects aged more than 35 years old with the morphology of 3PN (fertilization rate was 56.1%) and 31 with age under 35 years old (with fertilization rate was 56.5%). There was a significant relationship between maternal age and 3PN morphological events (p <0.05); whereas for male factors, history of miscarriage, history of failed IVF, female and male indications had no significant relationship found. 33 blastocysts with 3PN morphology from 15 patients were taken and tested with PGT-A using NGS method. There were 11 (33.3%) blastocysts with euploidy results and 22 (66.7%) with aneuploidy results (monosomy, trisomy, mosaic and chaotic). Data was analyzed, the relationship between maternal age and the incidence of aneuploidy in the blastocyst was found (p <0.05) but for other factors no significant relationship was found
Conclusion: The maternal age is a risk factor associated with the incidence of 3PN which is seen with morphology and with the PGT-A technique."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ayu Cintani Kusuma
"Prevalensi infertilitas di Indonesia yang meningkat tiap tahunnya juga memperbesar kebutuhan pasangan infertil terhadap program fertilisasi in vitro (FIV). Diketahui oosit mempunyai peranan penting dalam keberhasilan FIV. Namun pada pelaksanaannya, oosit yang didapat saat tindakan petik oosit mempunyai maturitas yang tidak sama. Dari beberapa penelitian didapatkan stimulasi ovarium terkendali (SOT) dapat meningkatkan apoptosis sel granulosa dan reactive oxygen species (ROS) yang dapat memberikan efek negatif pada maturasi oosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh elektroakupunktur terhadap maturasi oosit, laju fertilisasi, kadar GDF9 dan BMP15 pada program FIV. Uji klinis acak tersamar ganda dengan kontrol dilakukan terhadap 24 subjek yang menjalani program FIV. Subjek dialokasikan secara acak ke dalam kelompok elektroakupunktur (n=12), dan kelompok elektroakupunktur sham (n=12). Penilaian maturasi oosit dan laju fertilisasi dilakukan secara mikroskopis oleh embriolog, sedangkan pemeriksaan kadar ekspresi mRNA GDF9 dan BMP15 oleh analis lab. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna maturasi oosit antara kelompok elektroakupunktur dengan elektroakupunktur sham (p=0,02); laju fertilisasi (p=0,03). Tidak didapatkan perbedaan bermakna kadar GDF9 (p=0,34) dan BMP15 (p=0,47) antara kelompok elektroakupunktur dengan elektroakupunktur sham. Kesimpulan penelitian ini adalah elektroakupunktur dapat meningatkan maturasi oosit dan laju fertilisasi pada program FIV.

Increasing prevalence of infertility in Indonesia every year also increases the need for infertile couples in the in vitro fertilization program (FIV). It is known that oocytes have an important role in the success of FIV. But in its implementation, oocytes obtained during oocyte retrieval have unequal maturity. From several studies it was found that controlled ovarian stimulation (COS) can increase the apoptosis of granulosa cells and reactive oxygen species (ROS) which can have a negative effect on oocyte maturation. This study aims to determine the effect of electroacupuncture on oocyte maturation, fertilization rate, levels of GDF9 and BMP15 in the FIV program. A double blind randomized clinical trial with controls was conducted on 24 subjects who underwent the FIV program. Subjects were randomly allocated to the electroacupuncture group (n = 12), and the electroacupuncture sham group (n = 12). The assessment of oocyte maturation and the rate of fertilization were carried out microscopically by the embryologist, while the examination of the levels of GDF9 and BMP15 mRNA by lab analysts. The results showed that there were significant differences in oocyte maturation between the electroacupuncture group and electroacupuncture sham (p = 0.02); fertilization rate (p = 0.03). There were no significant difference in GDF9 levels (p = 0.34) and BMP15 levels (p = 0.47) between the electroacupuncture group and sham electroacupuncture. The conclusion of this study is electroacupuncture can enhance oocyte maturation and fertilization rate in the FIV program."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>