Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 142881 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Maulidina Cahyani
"Ruang publik merupakan sarana pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat yang bertinggal di kota, contohnya yakni jalan raya. Jalan raya pada umumnya diprogram dan difungsikan sebagai penghubung antar lokasi yang dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Namun tak jarang jalan raya maupun ruang publik lainnya difungsikan sebagai wadah untuk aktivitas yang tak lazim dilakukan pada ruang tersebut. Sebagai contoh pada kasus kali ini adalah kemunculan pasar kaget di sepanjang jalan raya benua indah kota Tangerang. Pada hari biasa, jalan raya berfungsi sebagai penghubung kawasan industri, perumahan, dan kampung dengan beberapa kendaraan melintas. Namun berbeda kondisinya pada hari jumat malam dimana jalan raya dipenuhi oleh pedagang dan pengunjung pasar. Aktivitas pasar menyebabkan munculnya common space pada sepanjang jalan raya dan membuat jalan raya sebagai ruang publik menjadi loose. Melalui skripsi ini akan dibahas mengenai bagaimana hubungan common space dengan looseness yang muncul pada jalan raya benua indah dan bagaimana faktor spasial dan nonspasial lainnya memicu looseness pada jalan raya.

Public space is a means of meeting the needs of people who live in cities, for example, streets. Streets are generally programmed and functioned as a link between locations that can be passed using private or public vehicles. However, it is not uncommon for roads and other public spaces to function as a place for activities that are not normally carried out in these spaces. For example, in this case is the emergence of a shocked market along the side of benua indah street, Tangerang. On weekdays, the street serves as a link between industrial areas, housing estates, and villages with several vehicles passing through. But the conditions are the contrast on Friday night where the street side area is filled with street traders and market visitors. The activities on the market cause the emergence of common space along the street and makes the street as a public space become loose. This thesis will discuss the relationship between common space and looseness that appears on the benua indah street and how other spatial and non-spatial factors trigger looseness on the street."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Melvin Dearny
"Fenomena public display of affection (PDA) atau ekspresi romantis di ruang publik memicu berbagai reaksi sosial, terutama di masyarakat urban Indonesia yang menjunjung tinggi norma sosial. Dalam konteks ini, ruang publik menjadi ruang penting bagi individu untuk mengekspresikan keromantisan yang bersifat intim dan privat secara terbuka di ruang publik. Tulisan ini melihat bagaimana arsitektur dapat berperan secara inklusif dalam mewadahi ekspresi romantis serta menghadapi ketabuan sosial terkait ekspresi romantis di ruang publik. Untuk memamahi hal tersebut, tulisan ini mengacu pada teori space of intimacy oleh Charton & Boudreau (2017), teori proxemics oleh Edward T. Hall (1990), teori affordance oleh James J. Gibson (1979), dan teori taktik visibility dan invisibility oleh Brighenti (2007), serta teori pendukung lainnya. Melalui metode kualitatif, data dikumpulkan di dua tempat studi kasus melalui observasi lapangan dan wawancara di sepanjang hari baik hari kerja maupun akhir pekan. Tulisan ini memperlihatkan bahwa pasangan romantis menggunakan taktik spasial dan mengatur gestur tubuh untuk menciptakan space of intimacy mereka. Sementara itu, pengelola ruang publik merespons melalui strategi desain yang meningkatkan keterpantauan guna membatasi aktivitas-aktivitas yang dinilai melanggar batas norma. Dengan demikian, ruang publik menjadi ruang inklusif yang mampu memfasilitasi semua pengalaman, termasuk memfasilitasi perasaan intim bagi pasangan romantis.

The phenomenon of public display of affection (PDA) or romantic expression in public spaces provokes various social reactions, particularly in urban Indonesian communities that uphold strong social norms. In this context, public spaces serve as important arenas where individuals express intimate and private romantic gestures openly. This study examines how architecture can play an inclusive role in accommodating romantic expressions while also addressing the social taboos surrounding PDA in public. To explore this issue, the research draws on the theory of space of intimacy by Charton & Boudreau (2017), proxemics by Edward T. Hall (1990), affordance by James J. Gibson (1979), and Brighenti’s (2007) theory of visibility and invisibility tactics, along with other supporting theories. Using a qualitative method, data was collected from two case study locations through field observation and interviews conducted on both weekdays and weekends. The findings indicate that romantic couples employ spatial tactics and bodily gestures to create their own space of intimacy. Meanwhile, public space managers respond with design strategies that enhance surveillance in order to regulate activities perceived to violate social norms. Thus, public spaces become inclusive environments capable of accommodating diverse experiences, including the intimate emotional expression for romantic partners. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lutfi Prayogi
"Manusia memberikan makna terhadap segala hal yang ia temui dan mengubahnya menjadi sebuah simbol. Manusia juga bertindak secara beragam berdasarkan makna yang ia berikan tersebut. Tindakan-tindakan manusia yang beragam tersebut dapat terkumpul dalam sebuah kegiatan/event masyarakat. Kegiatan tersebut dapat berlangsung salah satunya di jalan raya. Jalan raya dimaknai dan digunakan secara berbeda pada saat sebuah kegiatan/event berlangsung di atasnya. Jalan raya yang digunakan sebagai setting kegiatan/event memiliki karakteristik tertentu. Jalan raya yang dapat menampung lebih banyak peserta kegiatan/event cenderung memiliki tindakan manusia yang lebih beragam di dalamnya. Jalan raya yang digunakan sebagai setting kegiatan/event adalah ruang publik.

Human gives meaning to everything he/she finds and turns it into a symbol. Human also acts variously according to the meaning he/she gives. Those various human actions can be gathered within a society?s event. Event can be held, one of many, on road. Road is interpreted and used differently when an event being held on it. Road used as an event?s setting has certain characteristics. Road that is able to accommodate more event?s participants tends to have more various human actions within it. Road used as an event?s setting is a public space."
2011
S172
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Putera Anarta Mardanadi
"Di dalam keseharian kehidupan, seiring manusia yang keluar dari ruang privatnya, manusia dihadapkan dengan keberadaan ruang kota yang merupakan ruang publik, yang juga dialami manusia yang lain. Manusia yang mengisi ruang keseharian tersebut adalah manusia yang belum tentu mengenal satu sama lain, sehingga ketika sedang berada di ruang kota tersebut, seorang individu berada di antara orang-orang asing. Interaksi yang terjadi membuat seorang individu harus menyeimbangkan hak kebebasannya di ruang publik dengan keberadaan individu yang lain di ruang tersebut, dengan memperhatikan order-order yang telah ada dan disepakati.
Namun, dalam keseharian di ruang kota yang dipenuhi keragaman, banyak individu yang menempatkan ruang privat di ruang publik, sehingga menciptakan suatu ruang yang disorder. Ruang yang disorder tersebut menjadi keseharian manusia di suatu ruang karena telah menyatu dalam ritme rutinitas keseharian manusia. Disorder tersebut hadir dalam berbagai perwujudan dan banyak hal yang merupakan bagian dari ruang kota, yang merupakan ruang keseharian, baik yang nyata maupun yang abstrak, yang melatarbelakangi keberadaan disorder di ruang tersebut.

In daily life, when a man is in the outside of his own private space, he faces and experiences the existence of urban space, which is also experienced by other humans. They, whom are inside the everyday space, do not know about each other. So when a man is in the everyday urban space, it means that he is in the middle of the existence of strangers. The interaction that occurred inside that kind of space, rules a man to be capable in balancing his right of freedom in public space with the existence of others, by acting and having behavior properly with the order that already exist in urban space.
But, in everyday urban space whose primary element is the differences, there are many people who place their private space in public space, and then make that space as disorderly space. That space becomes everyday space because it stands together with the rythm of daily routines. Disorder exists in everyday urban space in variety ways.and there are a few things, real and abstract, that cause the existence of disorder.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S48429
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mary A.A.M.
"Tulisan ini mengkaji efektifitas dari ruang khusus perempuan dalam meredakan fear of crime pada perempuan di moda transportasi Commuter Line. Tulisan akan membahas pentingnya kehadiran ruang khusus perempuan bagi perempuan yang menggunakan transportasi massal. Lalu akan mengkaji bagaimana sebuah ruang khusus perempuan dapat terbentuk dan berlangsung sebagai sebuah ruang yang defensible secara kolektif. Akan dilihat unsur-unsur fisik dan non-fisiknya apa saja yang paling berperan dalam keberlangsungan ruang ini.

The writing is intended to look at the effectivity of the women-only space in lowering fear of crime in women using Commuter Line. This writting will begin with assessing the importance of women-only space in mass public transportation. Next it will look at how a women-only space is shaped and works as a collective defensible space. Last of all it will look at which physical and nonphysical elements have the most role in the working of this space."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S55336
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abingdon: NY Routledge, 2016
363.1 ORD
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Anisa Wisnu Putri
"Skripsi ini mengkaji lebih lanjut mengenai isu arsitektur yang ramah bagi anak yang diimplementasikan pada Ruang Publik Terpadu Ramah Anak RPTRA sehingga anak-anak dapat merasakan ruang publik yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Penulisan skripsi ini dilakukan dengan mengamati secara langsung implementasi indikator ramah anak pada rancangan terbangun serta mengamati pergerakan dan tingkah laku anak pada ruang terbuka publik terkait dengan bahaya keselamatan dan keamanan melalui metode kajian literatur, observasi, dan wawancara. Hasil observasi, dan wawancara kemudian akan dikaji dan dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan landasan teori dan standar acuan dari literatur. Selanjutnya akan disintesis dan disimpulkan menjadi ruang publik ramah anak. Kata kunci:Arsitektur ramah anak, ruang publik ramah anak.

This thesis reviews the issue of child friendly architecture implemented in a child friendly integrated public space so that children can feel the public space that suits their needs. The thesis was done by observing the implementation of child friendly indicators in the design of the building and observing children rsquo s movement and behavior in public open space related to safety and security hazard through literature review method, observation, and interview. The result of the observation and interview will be further reviewed and analyzed using the theoretical basis and references standard of the literature. It will then be synthesized and summarized into a child friendly public space. Keywords Child friendly architecture, child friendly public space."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S67916
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indira Pawitrasari
"Skripsi ini membahas penggandaan makna ruang yang terjadi pada ruang mal. Mal tidak hanya dimaknai sebagai ruang terjadinya kegiatan perdagangan saja, namun juga sebagai ruang terjadinya kegiatan catwalk. Hal ini terkait dengan kualitas ruang pada mal yang membentuk hubungan antara manusia, yaitu dilihat dan melihat, sehingga memicu manusia untuk tampil dalam atribut fesyen yang stylish.
Berfesyen merupakan cara bagi manusia untuk mengintimidasi ruang yang mereka jejaki. Fesyen sebagai tampilan luar manusia, dapat menggambarkan identitas manusia berdasarkan tingkat ekonomi, sosial, dan budaya. Semakin tinggi tingkatan ekonomi, sosial, dan budaya yang manusia punya, maka manusia semakin mempunyai kekuatan terhadap ruang yang dijejakinya.

This thesis discusses about doubling meaning of space that occurred at the mall space. Mall is not only defined as the occurrence of space commerce activities, but also as a space of catwalk events. This is related to the quality of space in malls that produce the relationship between humans, which is seen and see, leading them to appear in a stylish fashion attributes.
Wearing fashion is a way for people to intimidate their space. Fashion as the outer appearance of human, can describe human identity based on the level of economic, social, and cultural. The higher level of economic, social, and cultural that human have, the more she/he has the power of her/his space.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S52274
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Lusi Indah Wijayanti
"Ruang publik merupakan ruang yang dapat digunakan oleh siapa saja dengan berbagai aktivitas. Namun meskipun demikian, ruang publik tetap memiliki batasan bagi penggunanya, yaitu berupa batasan akan hak dan kewajiban bagi tiap individu dalam beraktivitas di dalamnya. Ruang publik pada suatu ruang kota dibentuk oleh berbagai elemen, salah satunya yang sering ditemukan adalah signage. Sign yang sering ditemukan di ruang publik kota adalah berupa papan reklame ataupun billboard, yang merupakan bagian dari komunikasi massa. Ada berbagai jenis sign yang ditemui di ruang publik kota, salah satunya adalah yang bersifat non komersil dengan disajikan dalam bentuk tulisan tekstual. Namun bagaimanapun penyajiannya, Sign sebagai suatu elemen visual ruang kota tetap merupakan sesuatu yang dapat menarik pandangan manusia yang beraktivitas di ruang publik kota. Hal tersebut akan mempengaruhi pengalaman ruang masyarakat kota, yang disebabkan oleh sensasi, persepsi, dan pemaknaan atas apa yang mereka lihat dan melekat pada pikiran serta perasaan mereka.
Dalam karya tulis ini dibahas dan dikaji mengenai keterkaitan antara sensasi, persepsi, makna dan pengalaman ruang masyarakat dengan pendekatan semantik dan ruang. Pertanyaan tentang bagaimana saling keterkaitan tersebut terjadi, dan unsur-unsur
apa saja yang mempengaruhi terbentuknya sensasi, persepsi, makna dan pengalaman ruang yang berbeda pada masyarakat, menjadi pertanyaan-pertanyaan yang melatarbelakangi penyusunan karya tulis ini. Pengkajian kasus akan mengamati dan menganalisis suatu objek fisik yang ada di sekitar lokasi penempatan media komunikasi tekstual ruang luar, sebagai suatu bentuk perwujudan pemaknaan seseorang akan proses persepsi yang dialaminya, dari suatu stimuli berupa pesan tekstual ruang luar.

Public space is a space used by everyone through their activities. Public spaces;however, have a boundary of right and obligation for its users. In urban space, public space is formed by various elements such as signage that is the easiest element to find. Billboard and other public advertisements are the two signs that are usually founded in public space. Those signs belong to an outdoor mass communication that consists of various types such as non-commercial sign in a form of textual writing. Moreover, sign as a visual element of urban space can still attract the inhabitant?s attention and may influence their experience about space due to sensation, perception, and meaning. This experience; then, will set up in their mind and heart.
This thesis will explain the connection of sensation, perception and meaning that may influence the experience of the inhabitant about space, with semantic and space approach. The questions on how the connection of those three things happen, and what the elements that may influence the sense, perception, meaning, and acquaintance of the inhabitants are going to be the background of this thesis. The writer will observe the physical objects that put around the location of the textual publicity?s media as form of inhabitant?s meaning in the process of perception, from the textual publicity?s stimulation.
"
2008
S48451
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Zharfan Thabrani
"Ruang kota memiliki fungsi yang bermacam-macam, namun dapat terjadi perubahan yang dilakukan oleh para penggunanya. Skripsi ini mencari tahu bagaimana proses terjadinya perubahan fungsi yang terjadi pada suatu area ruang kota terutama pada sebagian area Jl. Jenderal Sudirman lebih tepatnya di depan FX Sudirman. Area tersebut mengalami okupansi oleh pedagang kaki lima (PKL) dan para pengunjung lainnya pada malam hari yang mengubah aktivitas awal trotoar menjadi ruang sosial-ekonomi. Dengan pendekatan studi literatur serta melakukan observasi langsung terhadap area dengan metode etnografi. Studi ini menunjukkan bagaimana proses terbentuknya ruang baru pada area trotoar dan bagaimana aktivitas manusia memberikan makna pada ruang tersebut. Kawasan ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia dapat membentuk fungsi baru serta bagaimana penggunanya memproduksi ruang melalui keseharian yang dilakukan.

Urban space has various functions, but these functions can be altered by its users. This thesis investigates the process of functional transformation in a particular area of urban space, on a part of Jl. Jenderal Sudirman, more specifically a sidewalk in front of FX Sudirman Mall. This area experiences spatial occupation by Pedagang Kaki Lima (PKL) or street vendors and other visitors during night time which changes the main activity of the sidewalks becoming a social-economic activity. This study conducts an approach with mixed methods consisting of a literature review, field observations with ethnographic method, and informal interview with the users. This study shows the process of how a new program is created in the spaces by its users and how the activity creates meaning to the space. The area shows how human activity could change the function of urban areas while the users produce a new space through their everyday practices."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>