Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 175004 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kayla Azarine Emirizaputri
"Industri makanan dan minuman merupakan sektor strategis dalam perekonomian Indonesia dengan kontribusi signifikan terhadap PDB nasional. Pertumbuhan konsumsi domestik dan ekspansi pasar global menuntut peningkatan daya saing dan ketahanan rantai pasok. Dalam menghadapi kondisi geopolitik yang tidak stabil, volatilitas pasar internasional, serta tekanan global lainnya, kebutuhan akan resiliensi rantai pasok menjadi semakin mendesak. PT Rich Products Manufacturing Indonesia, sebagai produsen bahan makanan setengah jadi dengan ketergantungan tinggi pada aktivitas ekspor dan impor, berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap dinamika global tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi peningkatan resiliensi rantai pasok Rich’s menggunakan metode House of Risk (HOR). Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan kuesioner terhadap lima ahli internal. HOR fase 1 mengidentifikasi 17 kejadian risiko dan 15 agen risiko prioritas berdasarkan nilai Aggregate Risk Potential (ARP). HOR fase 2 merumuskan 10 strategi mitigasi prioritas dengan nilai Effectiveness to Difficulty Ratio (ETD) tertinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kerentanan utama perusahaan berada pada aspek turbulence, sensitivity, dan connectivity, sementara kapabilitas yang perlu diperkuat meliputi flexibility, visibility, dan anticipation. Temuan ini diharapkan menjadi acuan dalam pengambilan keputusan strategis untuk meningkatkan ketahanan operasional rantai pasok perusahaan terhadap ketidakpastian global.

The food and beverage industry is a strategic sector in Indonesia's economy, contributing significantly to the national GDP. Growing domestic consumption and global market expansion demand greater competitiveness and supply chain resilience. Amid increasing geopolitical instability, international market volatility, and other global pressures, the urgency to build a resilient supply chain has become more critical. PT Rich Products Manufacturing Indonesia, a producer of semi-finished food products with high reliance on export and import activities, is highly vulnerable to such global dynamics. This study aims to design strategies to enhance Rich’s supply chain resilience using the House of Risk (HOR) method. Data were collected through interviews, observations, and questionnaires involving five internal experts. In HOR phase 1, 17 risk events and 15 priority risk agents were identified based on Aggregate Risk Potential (ARP) values. In phase 2, ten priority mitigation strategies were formulated based on the highest Effectiveness to Difficulty Ratio (ETD). The analysis revealed that the company’s key vulnerabilities lie in the areas of turbulence, sensitivity, and connectivity, while the capabilities that need strengthening include flexibility, visibility, and anticipation. These findings are expected to support strategic decision-making to enhance operational supply chain resilience amid increasing global uncertainty. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Faiz Irfan Hajid
"Tahun 2020 merupakan tahun dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan yang signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Salah satu sektor yang mengalami penurunan terbesar adalah industri alat angkutan dengan sub sektor kendaraan bermotor roda 4. Untuk menghadapi hal tersebut dibutuhkan strategi Supply Chain Resilience yang baik dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor terkait meliputi 10 subfaktor dari 3 faktor vulnerability dan 22 subfaktor dari 13 faktor capability dengan menggunakan metode DEMATEL-based ANP untuk menentukan hubungan kausal antara subfaktor yang diteliti dan bobot kepentingannya untuk diselesaikan dan ISM digunakan untuk menentukan urutan implementasi dari 10 strategi usulan. Dalam penelitian ditemukan bahwa ada 4 level tahap implementasi untuk menyelesaikan masalah resiliensi dalam industri otomotif.

The year 2020 is a year in which Indonesia's economic growth experienced a significant decline compared to previous years. One of the sectors that experienced the biggest decline was the transportation equipment industry with a sub-sector of 4-wheeled motor vehicles. To deal with this, a good Supply Chain Resilience strategy was needed by identifying related factors including 10 subfactors of 3 vulnerability factors and 22 subfactors of 13 factors. capability by using the DEMATEL-based ANP method to determine the causal relationship between the subfactors studied and their importance weights to be resolved and ISM is used to determine the order of implementation of the 10 proposed strategies. In the study, it was found that there are 4 levels of implementation stages to solve resilience problems in the automotive industry."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Auni Saidah Khairani
"Indonesia telah menjadi salah satu produsen alas kaki terbesar di dunia. PT. X merupakan salah satu perusahaan manufaktur sepatu olahraga khususnya Adidas di Indonesia. Saat ini, sedang terjadi penurunan permintaan yang menyebabkan persaingan antara produsen meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang strategi mitigasi risiko yang tepat untuk mengatasi agen risiko yang termasuk dalam prioritas. Hal ini dilakukan agar perusahaan dapat mengurangi keterlambatan pengiriman sepatu sehingga penilaian performa perusahaan meningkat. Penelitian ini menggunakan metode House of Risk (HOR). Metode HOR memiliki 2 tahapan. HOR tahap 1 bertujuan untuk mencari agen risiko yang akan diprioritaskan dan HOR tahap 2 bertujuan untuk memilih strategi aksi mitigasi. Hasil penelitian pada HOR tahap 1 menunjukkan bahwa agen risiko dengan nilai aggegate risk potential (ARP) tertinggi adalah pihak produksi telat melaporkan kekurangan material (A7) dan agen risiko dengan nilai ARP terendah adalah tidak ada pengecekan rutin dari sisi leader/technical expert (A12). Berdasarkan prinsip Pareto,11 agen risiko akan diprioritaskan untuk ditangani sesuai dengan nilai ARP tertinggi. Selanjutnya, 14 aksi mitigasi diusulkan. Delapan aksi mitigasi direkomendasikan untuk mencegah agen risiko berdasarkan nilai effectiveness to difficulty ratio (ETD) dari HOR tahap 2.

Indonesia has become one of the largest footwear producers in the world. PT. X is a sports shoe manufacturing company, especially Adidas in Indonesia. Currently, there is a decline in demand which causes competition between producers increase. The purpose of this study is to design appropriate risk mitigation strategies to address the risk agents included in the priority. This is done so that the company can reduce delays in shoe delivery so that the company's performance rating increases. This study uses the House of Risk (HOR) method. The HOR method has 2 stages. HOR stage 1 aims to find risk agents to be prioritized and HOR stage 2 aims to select a mitigation action strategy. The results of the research on HOR stage 1 show that the risk agent with the highest aggregate risk potential (ARP) value is the production party who is late in reporting material deficiencies (A7) and the risk agent with the lowest ARP value is that there is no routine checking from the leader/technical expert's side (A12). Based on the Pareto principle, 11 risk agents will be prioritized to be handled according to the highest ARP value. Furthermore, 14 mitigation actions are proposed. Eight mitigation actions are recommended to prevent risk agents based on the effectiveness to difficulty ratio (ETD) value of HOR stage 2."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Luthfiery Widiandito Martokoesoemo
"Manajemen risiko mencakup proses sistematis untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengendalikan risiko dalam semua aktivitas perusahaan guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi secara keseluruhan dalam upaya meningkatkan ketahanan rantai pasok. Dalam studi ini, metode House of Risk (HOR) diterapkan. Metode ini diadaptasi dari Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan model korelasi Quality Function Deployment (QFD). Penelitian ini difokuskan pada proses rantai pasokan gudang perakitan di PT XYZ. Analisis risiko pada HOR 1 dimulai dengan mengidentifikasi risiko melalui diskusi dengan para ahli dan tinjauan literatur, diikuti dengan penilaian tingkat keparahan kejadian risiko dan nilai kejadian agen risiko. Temuan dari HOR 1 mengidentifikasi 18 kejadian risiko dan 27 agen risiko. Dengan menggunakan analisis Pareto, 13 agen risiko prioritas telah diidentifikasi, dengan agen risiko tertinggi adalah ketidaksesuaian kualitas material dari pemasok, yang memiliki nilai ARP sebesar 3216. HOR 2 merumuskan 13 tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko prioritas ini. Pemrosesan data pada HOR 2 mengungkapkan bahwa terdapat tiga kelompok tindakan pencegahan yang harus diimplementasikan yaitu tiga kelompok tindakan pencegahannya yaitu menyusun dan melaksanakan Standard Operating Procedure (SOP) yang komprehensif serta program pelatihan, mengevaluasi dan menerapkan sistem teknologi informasi terbaru, menerapkan Warehouse Management System (WMS) secara real-time.

Risk management includes a systematic process for identifying, evaluating, and controlling risks in all company activities to enhance overall effectiveness and efficiency in efforts to improve supply chain resilience. In this study, the House of Risk (HOR) methodology is applied. This method is adapted from the Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) and the Quality Function Deployment (QFD) correlation model. The research is focused on the assembly warehouse supply chain process at PT XYZ. The risk analysis in HOR 1 begins with identifying risks through expert discussions and literature review, followed by an assessment of the severity of risk events and the occurrence values of risk agents. The findings from HOR 1 indicate 18 risk events and 27 risk agents. Using Pareto analysis, 13 priority risk agents were identified, with the top risk agent being the unsuitability of material quality from suppliers, which has an ARP value of 3216. HOR 2 outlines 13 preventive measures to mitigate these priority risks. Data processing at HOR 2 revealed three groups of preventive measures to be implemented: developing and implementing comprehensive SOPs and training programs, evaluating and adopting the latest information technology systems, and implementing a real-time Warehouse Management System (WMS)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indira Raeesha Aurelia
"Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan meningkatkan efisiensi rantai pasok di Gudang PCB PT XYZ, sebuah perusahaan manufaktur elektronik. Dengan menggunakan model Supply Chain Operations Reference (SCOR) dan Analytical Hierarchy Process (AHP), penelitian ini mengukur dan menganalisis kinerja gudang berdasarkan 26 indikator kinerja yang telah divalidasi oleh para ahli perusahaan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa nilai performa gudang pada tahun 2023 adalah 59,01%, yang termasuk dalam kategori average (50-70%) menurut Traffic Light System. Proses dispatch dan periode waktu bulan Juli tercatat sebagai performa terendah. Berdasarkan Importance Performance Analysis, terdapat lima indikator yang masih memerlukan perbaikan, termasuk Accuracy of product delivery according to item, Unfinished Outgoing Process Rate, dan Accuracy of product delivery according to quantity. Usulan perbaikan meliputi integrasi Sistem Active Tracking dan Computerized Maintenance Management System (CMMS) berbasis RFID untuk mengatasi permasalahan terkait akurasi pengiriman, pemeliharaan peralatan, dan efisiensi operasional. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam meningkatkan kinerja operasional dan daya saing PT XYZ di industri elektronik.

This research was conducted to evaluate and improve supply chain efficiency in the PCB warehouse of PT XYZ, an electronics manufacturing company. Using the Supply Chain Operations Reference (SCOR) model and Analytical Hierarchy Process (AHP), this research measures and analyzes warehouse performance based on 26 performance indicators that have been validated by company experts. The evaluation results show that the warehouse performance value in 2023 is 59.01%, which falls into the average category (50-70%) according to the Traffic Light System. The dispatch process and the July time period recorded the lowest performance. Based on Importance Performance Analysis, there are five indicators that still require improvement, including Accuracy of product delivery according to item, Unfinished Outgoing Process Rate, and Accuracy of product delivery according to quantity. Proposed improvements include the integration of Active Tracking System and RFID-based Computerized Maintenance Management System (CMMS) to address issues related to delivery accuracy, equipment maintenance, and operational efficiency. This research provides a practical contribution in improving the operational performance and competitiveness of PT XYZ in the electronics industry."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Fawwaz Robbani
"Industri oleokimia mempunyai sistem rantai pasok yang kompleks sehingga menghadapi berbagai risiko dalam aktivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko dalam rantai pasok industri oleokimia menggunakan metode House of Risk (HOR). Hasil dari HOR tahap 1 adalah 9 agen risiko prioritas dari 22 agen risiko untuk dimitigasi. Setelah itu, dari pengolahan HOR 2 didapatkan 7 strategi mitigasi prioritas dari 15 strategi yang berhasil diidentifikasi. Setelah itu 7 rancangan strategi mitigasi tersebut juga dianalisis dengan lebih dalam sehingga menghasilkan rancangan strategi yang dapat diimplementasikan. Dengan demikian, perusahaan industri oleokimia dapat menggunakan strategi tersebut untuk memitigasi risiko yang terdapat pada rantai pasoknya

The oleochemical industry has a complex supply chain system that faces various risks in its activities. This study aims to identify and manage risks in the oleochemical industry supply chain using the House of Risk (HOR) method. The result of HOR stage 1 is 9 prioritized risk agents out of 22 risk agents to be mitigated. After that, from HOR 2 processing, 7 priority mitigation strategies were obtained from 15 strategies that were successfully identified. After that, the 7 draft mitigation strategies were also analyzed more deeply to produce a draft strategy that could be implemented. Thus, oleochemical industry companies can use these strategies to mitigate the risks contained in their supply chains."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadel Mahaputra Santoso
"Gudang memiliki peran penghubung yang penting dalam rantai pasokan dan dapat memperkaya keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Agar selalu dapat memberikan pelayanan yang terbaik maka perlu diketahui kondisi gudang saat ini melalui penilaian kinerja dan perbaikan pada aspek-aspek yang mempunyai nilai rendah. Penelitian ini untuk mengukur kinerja dan memberikan rekomendasi gudang Work-in-Process dari perusahaan manufaktur elektronik pada tahun 2023 dengan menggunakan metode SCOR dan AHP. Terdapat 26 indikator kinerja yang akan dijadikan acuan untuk menentukan kinerja gudang. Hasil yang diperoleh adalah kinerja gudang berada pada kategori Sedang menurut Traffic Light System dengan nilai sebesar 58,16%. Indikator prioritas juga diidentifikasi menggunakan metode Importance Performance Analysis untuk mengidentifikasi indikator yang mempunyai nilai rendah namun mempunyai bobot kepentingan tinggi. Diperoleh 5 indikator yang merupakan prioritas yaitu Total Order Lead Time, Supplier Product Defect Rate, Raw Material Usage Accuracy, MTTR from Disruption, and Rate of Return. Rekomendasi yang diberikan untuk meningkatkan kelima indikator kinerja tersebut adalah Computer-aided Visual for Inspection, Vehicle Routing Problem, Digital Twin for Resilience, dan Just In Time (JIT) System in Warehousing Process.

The warehouse has an important linking role in the supply chain and can enrich the competitive advantage for the company. In order to always be able to provide the best service, it is necessary to know the current condition of the warehouse through performance assessment and improvement on aspects that have low scores. This research is to measure the performance and provide recommendations for the Work-in-Process warehouse of an electronics manufacturing company in 2023 using the SCOR and AHP methods. There are 26 performance indicators that will be used as a reference to determine warehouse performance. The results obtained are that the warehouse performance is in the Average category according to the Traffic Light System with a value of 58.16%. Priority indicators are also identified using the Importance Performance Analysis method to identify indicators that have low scores but have high importance weights. Five prioritized indicators were obtained, namely Total Order Lead Time, Supplier Product Defect Rate, Raw Material Usage Accuracy, MTTR from Disruption, and Rate of Return. The recommendations given to improve the five performance indicators are Computer-aided Visual for Inspection, Vehicle Routing Problem, Digital Twin for Resilience, and Just In Time (JIT) System in Warehousing Process."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aretta Anindita
"Penelitian ini dilakukan untuk mengukur kinerja rantai pasok pada PT X Persero sebagai salah satu perusahaan manufaktur bahan peledak di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan merancang strategi yang dapat meningkatkan kinerja rantai pasok. Hal ini dilakukan dengan menggunakan kerangka Supply Chain Operation Reference (SCOR) sebagai metode pengukuran kinerja untuk evaluasi kinerja rantai pasokan untuk mendapatkan indeks kinerja. Metode lain seperti Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk memberi pembobotan pada setiap indikator dan Traffic Light System untuk pengelompokan kategori kinerja berdasarkan warna. Terdapat 29 indikator kinerja (KPI), yang terbagi dalam perspektif model SCOR untuk masing-masing tingkatan. Hasil kinerja pada PT X Persero pada tahun 2021 dari bulan Januari sampai dengan September 2021 adalah sebesar 60,72% yang menunjukkan kinerja perusahaan berada pada kategori sedang. Setiap KPI kemudian dipetakan ke dalam kuadran Importance Performance Analysis (IPA) untuk mencari indikator penting dan kurang untuk diperbaiki. Terdapat 4 KPI terkait kinerja rantai pasok yang perlu ditingkatkan, oleh karena itu diberikan usulan rekomendasi untuk KPI tersebut.

This study was conducted to measure supply chain performance at PT X Persero as an explosives manufacturing company in Indonesia. This research aims to measure and design strategies that can improve supply chain performance. It is conducted using the Supply Chain Operation Reference (SCOR) framework as a performance measurement method for supply chain performance evaluation to gain performance index. Also other frameworks such as Analytical Hierarchy Process (AHP) method to weight each indicator and the Traffic Light System grouping system to categorize performance based on color. The objective of this research is to develop and measure supply chain performance. There are 29 performance indicators (KPIs), that is divided into the SCOR model’s perspectives for each level. The result of the performance in PT X Persero in 2021 from January until September 2021 is 60,72% which shows the company’s performance is in an average category. Each KPI is then mapped into the Importance Performance Analysis (IPA) quadrant to find the critical and underperformance indicator to be improved. There are 4 KPIs regarding supply chain performance that requires improvement, therefore proposed recommendations is provided for the KPIs."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Fadhilis Syakur
"Lockdown dan pembatasan mobilitas selama wabah COVID-19 mengakibatkan penurunan permintaan hingga aliran barang dalam rantai pasok global. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengeksplorasi praktik Supply Chain Risk Management (SCRM) dalam dampak gangguan akibat pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan prinsip dasar dari resource based view serta wawasan mengenai status manajemen risiko rantai pasokan saat ini dan hubungan antara supply chain resilience dan robustness. Diawali dengan tinjauan literatur yang ada untuk mendapatkan hipotesis dan menentukan indicator untuk masing-masing konstruksi. Model penelitian yang telah dirumuskan kemudian divalidasi dengan menerapkan PLS-SEM pada data survei dari perusahaan Manufaktur Otomotif di Indonesia. Dengan 83 responden yang berpusat di Jawa Barat telah dikumpulkan. Survei dilakukan dengan menyebarkan instrument melalui internet untuk mengisi form yang diberikan. Studi ini dimaksudkan untuk mempelajari pengaruh pandemi COVID-19 terhadap performa rantai pasok mereka berdasarkan status manajemen risiko rantai pasokan mereka. Hasilnya mengindikasikan bahwa faktor manajemen risiko seperti identifikasi, penilaian, mitigasi dan kontrol secara positif memiliki kontribusi terhadap efektivitas rantai pasokan mereka. Hasilnya juga menunjukkan ada nya hubungan positif yang signifikan dengan rantai pasokan ketahanan dan ketangguhan rantai pasokan. Perlunya organisasi untuk lebih menilai kerangka kerja SCRM yang komprehensif dan berkontribusi untuk memperluas saran untuk penelitian lebih lanjut.

Lockdowns and restrictions on mobility during the COVID-19 outbreak have resulted in reduced demand and the flow of goods in global supply chains. The purpose of this paper is to explore the practice of Supply Chain Risk Management (SCRM) in the impact of disruption due to the COVID-19 pandemic. This study uses the basic principles of a resource based view-dynamic capabilities as well as insights into the current status of supply chain risk management and the relationship between supply chain resilience and robustness. It begins with a review of the existing literature to obtain hypotheses and determine indicators for each construction. The research model that has been formulated is then validated by applying PLS-SEM to survey data from Automotive Manufacturing companies in Indonesia. With 83 respondents based in West Java has been collected. The survey was conducted by distributing the instrument via the internet to fill out the form provided. This study is intended to study the effect of the COVID-19 pandemic on their supply chain performance based on their supply chain risk management status. The results indicate that risk management factors such as identification, assessment, mitigation and control positively contribute to the effectiveness of their supply chains. The results also show that there is a significant positive relationship with supply chain resilience and supply chain robustness. The need for organizations to better assess the comprehensive of theirs SCRM framework and contribute to extending suggestions for further research.
"
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kartika Nur Alfina
"ABSTRAK
Tekanan rantai pasok saat ini untuk mengurangi biaya, mengelola persediaan dan efisiensi transportasi merupakan tantangan yang dihadapi produsen manufaktur. Selain tantangan itu, produsen ban masih harus berurusan dengan pasokan bahan baku, terutama karet alam sebagai bahan yang unik. Penelitian ini berfokus pada optimasi strategi rantai pasokan yang paling efisien dalam pembuatan ban dengan mengelola semua kendala, termasuk pasokan dari karet alam. Data dikumpulkan dari PT. Gajah Tunggal Tbk. sebagai salah satu manufaktur ban terbesar di asia tenggara. Dalam penelitian ini terdapat 11 skenario dibuat dan dihitung menggunakan metode Goal Programming untuk menemukan penyimpangan minimum antara nilai target dan semua kendala. Hasil simulasi menunjukkan bahwa strategi yang paling efisien adalah dengan mengoptimalkan pasokan karet alam untuk memproduksi ban mobil penumpang radial dan ban truk & bus radial. Pada simulasi tersebut menghasilkan selisih antara harga pokok penjualan dengan target penjualan mencapai 28%, hasil ini paling signifikan diantara simulasi lainnya serta dalam simulasi ini juga di dapatkan variasi terkecil untuk biaya persediaan dan transportasi dari skenario baseline.

ABSTRACT
Pressure of supply chain to reduce cost, manage shortened order-to-delivery cycles, ensure a highly efficient logistics network to store, and distribute finish products are some of the key challenges that the tire industry faces. Besides those challenges, tire manufacturers still have to deal with raw material supply, particularly natural rubber as the unique material. This paper focuses on creating the most efficient supply chain strategy in tire manufacturing by managing all constraints, including the natural rubber supply. Data collected from PT. Gajah Tunggal Tbk. as one of the biggest tire manufacturing in southeast asia. In this paper, 11 scenarios are created and calculated using Goal Programming Method to find minimum deviation between the target value and all constraints. The results show that the most efficient strategy is to optimize supply of natural rubber to produce passenger car radial tires and truck & bus radial tires. This strategy has the most significant gap between the net sales and the cost of good sold, as well as the smallest variation of inventory and transportation costs to the baseline scenario. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
T50006
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>