Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 176689 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Tiara Aulia Zalyanti
"Kanker kolorektal adalah kanker yang menyerang kolon dan rektum. Secara global, kanker kolorektal menempati urutan kedua sebagai kanker penyebab mortalitas tertinggi. Tingginya angka mortalitas kanker kolorektal dipengaruhi oleh resistansi obat yang berkaitan dengan heterogenitas sel kanker. Salah satu faktor pemicu heterogenitas sel adalah keberadaan extrachromosomal DNA (ecDNA), yaitu fragmen DNA sirkular di luar kromosom linear yang terbentuk akibat kerusakan DNA. Extrachromosomal DNA hanya ditemukan pada sel kanker, membawa onkogen dengan tingkat amplifikasi yang tinggi, serta memicu agresivitas kanker. Penelitian mengenai karakterisasi ecDNA pada sel HT-29 yang merupakan cell line representatif untuk kanker kolorektal belum pernah dilakuka n. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi dan mengarakterisasi ecDNA pada kanker kolorektal cell line HT-29 menggunakan pewarnaan Giemsa, pewarnaan DAPI, dan scanning electron microscopy (SEM). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ecDNA terdeteksi pada 18 dari 180 sebaran metafase atau setara 10% dari total sebaran metafase yang diamati. Dari 18 sebaran metafase, 12 di antaranya memiliki satu ecDNA dalam bentuk tunggal, sementara 6 lainnya memiliki dua ecDNA dalam bentuk tunggal maupun berpasangan. Luas area ecDNA sebesar 0,455 μm² dengan intensitas fluoresens DAPI 102,747 A.U. Hasil gambar SEM menunjukkan struktur sirkular (ring-like structure) dengan luas ukuran 0,884 μm². Ultrastruktur tersebut memiliki morfologi yang konsisten dengan karakteristik ecDNA pada penelitian sebelumnya. Keberadaan ecDNA pada cell line HT-29 dapat dideteksi melalui pengamatan dengan mikroskop cahaya, mikroskop konfokal, dan scanning electron microscopy (SEM).

Colorectal cancer is a type of cancer that affects the colon and rectum. Globally, it ranks as the second leading cause of cancer-related deaths. The high mortality rate of colorectal cancer is influenced by drug resistance, which is linked to cancer cell heterogeneity. One of the key factors driving this heterogeneity is the presence of extrachromosomal DNA (ecDNA), which refers to circular DNA fragments located outside linear chromosomes and formed as a result of DNA damage. ecDNA is found only in cancer cells, carries highly amplified oncogenes, and contributes to increased cancer aggressiveness. To date, no studies have characterized ecDNA in HT-29 cells, a commonly used colorectal cancer cell line. Therefore, this study aims to detect and characterize ecDNA in the HT-29 cell line using Giemsa staining, DAPI staining, and scanning electron microscopy (SEM). In this study, ecDNA was detected in 18 out of 180 metaphase spreads, representing 10% of the total. Among these, 12 spreads contained a single ecDNA, while 6 had two ecDNAs, either as single or paired forms. The average area of ecDNA was 0.455 μm² with a DAPI fluorescence intensity of 102.747 A.U. SEM imaging revealed a circular structure with an area of 0.884 μm². The ultrastructure showed morphological features consistent with ecDNA, as described in previous studies. The presence of ecDNA in the HT-29 cell line can be detected through observations using light microscopy, confocal microscopy, and scanning electron microscopy (SEM). "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Debby Desmarini Herdaus
"Latar Belakang: Kanker kolorektal merupakan perubahan patologis jaringan epitel kolon dan rektum normal menjadi massa jaringan yang abnormal, salah satunya disebabkan ekspresi berlebih pada protein siklin D1 sehingga menyebabkan proliferasi sel di kolorektal yang berlebihan. Upaya pencegahan dan pengobatan penyakit kanker kolorektal dapat dilakukan secara alami salah satunya dengan mengonsumsi ekstrak daun Annona muricata L. (sirsak). Sirsak diketahui banyak mengandung komponen fitokimia yang berperan sebagai anti-kanker.
Metode: Penelitian ini menggunakan sel kultur kanker kolorektal HT-29 yang diberi paparan ekstrak etanol daun sirsak dan 5-Fluorourasil (5-FU) sebagai kontrol positif, kontrol pelarut, kontrol sel sebagai kontrol negatif untuk dicari konsentrasi optimumnya (CC50) dan dilanjutkan dengan konsentrasi ½ x CC50,1 x CC50, dan 2 x CC50. Parameter yang dinilai adalah viabilitas sel dengan MTT Assay dan analisis penambatan molekuler dari ekstrak etanol daun sirsak terhadap protein siklin D1 dengan molecular operating environment (MOE) 2013.08 software.
Hasil: Konsentrasi optimum (CC50) ekstrak etanol daun sirsak sebesar 278 µg/mL dan 5-FU sebesar 88 µg/mL. Pemeriksaan viabilitas sel menunjukkan persentase sel HT-29 hidup menurun seiring dengan bertambahnya konsentrasi dan persentase terendah di konsentrasi 2 x dari cytotoxicity concentration 50 (CC50) setelah pemberian ekstrak etanol daun sirsak (40,4±1,3%) dibandingkan dengan 5-FU (52,8±4,3%), kontrol pelarut (97,2±1,4%) dan kontrol sel (100%). Analisis penambatan molekuler terhadap protein siklin D1 didapatkan molekul N-hexadecanoic acid dan phytol yang mempunyai energi bebas (ΔG) terendah, yaitu 9,7755 kkal/mol dan -7,2147 kkal/mol.
Kesimpulan: Konsentrasi 5-FU memiliki CC50 tiga kali lebih rendah dibandingkan ekstrak etanol daun sirsak. Molekul N-hexadecanoic acid dan phytol mempunyai kemampuan berikatan dengan protein siklin D1.

Introduction: Colorectal cancer is a pathological transformation of normal colon and rectum epithelial that becomes an abnormal tissue mass, due to the overexpression of cyclin D1 protein that inducing the high/excessive proliferation of colorectal cell. It accounted for about 1 million new cancer cases in 2002 (9.4% of the world total). The treatment and prevention of colorectal cancer could be done naturally by consuming leave extract of Annona muricata L. (soursop). Soursop is known for many phytochemical components that serve as an anti-cancer such as alkaloid, annonaceous acetogenin, megastigman, flavonoid glycosides, phenolic, and cyclopeptide.
Methods: The study was used HT-29 colorectal cancer cell that treated with ethanolic leave extract of soursop and 5-Fluorourasil (5-FU) as positive control to find the cytotoxicity concentration that can inhibit 50% of HT-29 cell population (CC50) and the ½ x CC50,1 x CC50, and 2 x CC50 concentrations of them were treated for next treatment with MTT assay. Analysis of molecular docking of ethanolic leave extract of soursop to cyclin D1 protein used molecular operating environment (MOE) 2013.08 software.
Results : Optimum concentration (CC50) of ethanolic leave extract of soursop is 278 μg/mL dan 5-FU is 88 μg/mL. Percentage of viable HT-29 cell line decrease in accordance with increasing concentration and the lowest percentage of viable cell is 2 x cytotoxicity concentration 50 (CC50) after ethanolic leave extract of soursop treatment (40,4±1,3%) was compared to 5-FU (30,68±0,93%), solvent control (97,2±1,4%), and cells control (100%). Analysis of molecular docking to cyclin D1 protein was obtained N-hexadecanoic acid and phytol molecules that have the lowest free energy (ΔG), that are 9,7755 kkal/mol and -7,2147 kkal/mol.
Conclusions 5-FU concentration is 3-fold lower than ethanolic leave extract of soursop. N-hexadecanoic acid and phytol molecules have ability to inhibit cyclin D1 protein.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aurora Hastomo
"Latar belakang: Masalah resistensi dan biaya pengobatan yang besar pada kanker kolorektal memicu penelitian lebih mendalam mengenai alternatif pengobatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan mengenai potensi sitotoksik Aloe vera, sebagai salah satu tanaman herbal, dalam mengatasi kanker kolon. Penelitian ini juga membandingkan dua ekstrak Aloe vera pada pelarut berbeda terhadap sel kanker kolon HT-29. Manfaat penelitian ini adalah mengembangkan penelitian dan pengembangan obat herbal, khususnya Aloe vera, untuk mengatasi kanker kolon HT-29.
Metode: Penelitian yang dilakukan adalah penelitian analitik berbasis laboratorium dengan melakukan dua uji, yaitu uji fitokimia dan uji sitotoksisitas. Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan senyawa pada ekstrak Aloe vera. Uji fitokimia yang dilakukan adalah uji flavonoid, saponin, terpenoid, glikosida, alkaloid, fenol, dan tanin. Uji sitotoksisitas dilakukan untuk menilai inhibisi ekstrak Aloe vera terhadap sel kanker kolon HT29 menggunakan metode MTT assay. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 72 sampel. Metode analisis yang digunakan berupa uji normalitas shapiro wilk, uji komparatif One way Anova, dan uji komparatif post hoc bonferroni.
Hasil: Uji fitokimia ekstrak etanol Aloe vera menunjukkan positif kandungan flavonoid, tanin, dan terpenoid. Hasil uji fitokimia ekstrak etil asetat Aloe vera menunjukkan hasil positif kandungan flavonoid, tanin, terpenoid, dan alkaloid. Uji sitotoksisitas menunjukkan hasil nilai IC50 ekstrak etanol adalah 22,62 µg/mL dan ekstrak etil asetat adalah 63,05 µg/mL. Hasil uji saphiro wilk menunjukan data bersifat normal. Hasil uji komparatif menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua jenis ekstrak tersebut.
Kesimpulan: Kandungan yang terdapat pada Aloe vera, baik ekstrak etanol maupun ekstrak etil asetat, adalah flavonoid, tanin, dan terpenoid, serta pada ekstrak etil asetat alkaloid juga terkandung yang mana kandungan-kandungan tersebut membuat ekstrak etanol dan etil asetat Aloe vera termasuk ke dalam kategori sitotoksik potensial (IC50< 100 µg/mL) dengan ekstrak etanol lebih poten dibanding dengan ekstrak etil asetat.

Background: The problem of resistance and the high cost of treatment in colorectal cancer triggers more in-depth research on alternative treatments. This study aims to develop knowledge about the cytotoxic potential of Aloe vera, as an herbal plant, in treating colon cancer. This study also compared two Aloe vera extracts in different solvents against HT-29 colon cancer cells. The benefit of this research is to develop research and development of herbal medicines, especially Aloe vera, to treat HT-29 colon cancer.
Methods: The research conducted was a laboratory-based analytical study by conducting two tests, namely the phytochemical test and the cytotoxicity test. Phytochemical tests were carried out to determine the content of compounds in Aloe vera extract. The phytochemical tests carried out were tests on flavonoids, saponins, terpenoids, glycosides, alkaloids, phenols, and tannins. Cytotoxicity test was carried out to assess the inhibition of Aloe vera extract against HT29 colon cancer cells using the MTT assay method. The number of samples used was 72 samples. The analytical methods used are the Shapiro Wilk normality test, the One way Anova comparative test, and the Bonferroni post hoc comparative test.
Results: Phytochemical test of Aloe vera ethanol extract showed positive content of flavonoids, tannins and terpenoids. The phytochemical test results of Aloe vera's ethyl acetate extract showed positive results for the content of flavonoids, tannins, terpenoids, and alkaloids. The cytotoxicity test showed that the IC50 value of the ethanol extract was 22.62 µg/mL and that of the ethyl acetate extract was 63.05 µg/mL. The results of the Shapiro Wilk test show that the data is normal. The comparative test results showed that there were significant differences between the two types of extracts.
Conclusion: The ingredients contained in Aloe vera, both ethanol extract and ethyl acetate extract, are flavonoids, tannins, and terpenoids, and the ethyl acetate extract also contains alkaloids which make the ethanol and ethyl acetate extracts of Aloe vera included in the category of potential cytotoxic (IC50 < 100 µg/mL) with ethanol extract is more potent than with ethyl acetate extract.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizqina Syifa Iman
"Latar belakang: Kanker kolorektal merupakan kanker paling umum ketiga di Indonesia berdasarkan WHO pada tahun 2018. Terapi konvensional untuk kanker kolorektal saat ini memiliki berbagai efek samping yang dapat berdampak ke kualitas hidup pasien. Hal tersebut mendorong banyak studi untuk memanfaatkan bahan alam sebagai antikanker. Suatu studi melaporkan bahwa Orange Cup Coral (Tubastraea coccinea) memiliki karakteristik antikanker. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan sitotoksik dari Orange Cup Coral (Tubastraea coccinea) terhadap sel kanker kolorektal HT-29.
Metode: Tubastraea coccinea diekstraksi terlebih dahulu dengan teknik maserasi bertingkat menggunakan berturut-turut pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dari ekstrak etil asetat dan etanol Tubastraea coccinea dengan metode DPPH, sedangkan penentuan aktivitas sitotoksik dari ketiga ekstrak Tubastraea coccinea terhadap sel kanker kolorektal HT-29 dilakukan secara in vitro dengan metode MTT.
Hasil: Ekstrak etanol dan etil asetat dari Tubastraea coccinea memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat terhadap DPPH dengan hasil IC50 secara berurutan sebesar 3,722 μg/mL dan 2,267 μg/mL. Diantara ketiga ekstrak Tubastraea coccinea, ekstrak n-heksana memiliki aktivitas sitotoksik yang paling kuat terhadap sel kanker kolorektal HT-29 dengan nilai IC50 sebesar 5,589 μg/mL dan diikuti oleh ekstrak etil asetat (IC50: 26,06 μg/mL) dan ekstrak etanol (IC50: 63,54 μg/mL) yang memiliki aktivitas sitotoksik sedang terhadap sel kanker kolorektal HT-29.
Kesimpulan: Tubastraea coccinea memiliki aktivitas antioksidan dan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker kolorektal HT-29. Oleh karena itu, Tubastraea coccinea memiliki potensi kuat untuk dijadikan sebagai salah satu pengobatan alternatif dari kanker kolorektal.

Introduction: Colorectal cancer is the third most common cancer in Indonesia based on WHO in 2018. Current conventional therapy for colorectal cancer has various side effects that can impact the patient's quality of life. This fact prompted many studies to utilize natural ingredients as anticancer. One study reported that Orange Cup Coral (Tubastraea coccinea) has anticancer characteristics. Therefore, this study aimed to determine the antioxidant and cytotoxic activity of Orange Cup Coral (Tubastraea coccinea) against HT-29 colorectal cancer cells.
Method: Tubastraea coccinea was extracted by graded maceration technique using n-hexane, ethyl acetate, and ethanol as solvents, respectively. In this study, the antioxidant activity of the ethyl acetate and ethanol extracts of Tubastraea coccinea was tested using the DPPH method, while the determination of the cytotoxic activity of the three extracts of Tubastraea coccinea against HT-29 colorectal cancer cells was carried out in vitro using the MTT method.
Result: Ethanol and ethyl acetate extracts from Tubastraea coccinea have very strong antioxidant activity against DPPH with IC50 value of 3.722 g/mL and 2.267 g/mL, respectively. Among three extracts of Tubastraea coccinea, the n-hexane extract of Tubastraea coccinea has the strongest cytotoxic activity against HT-29 colorectal cancer cells with an IC50value of 5.589 g/mL followed by ethyl acetate extract (IC50: 26.06 g/mL) and ethanol extract (IC50: 63.54 g/mL) which has moderate cytotoxic activity against HT-29 colorectal cancer cells.
Conclusion: Tubastraea coccinea has antioxidant activity and cytotoxic activity against HT-29 colorectal cancer cells. Therefore, Tubastraea coccinea is potential to be used as an alternative treatment for colorectal cancer.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yusmaidi
"Latar Belakang. Pemberian kemoterapi oxaliplatin sebagai salah satu modalitas terapi kanker kolorektal telah terbukti memperbaiki angka kesembuhan, ketahanan hidup maupun masa bebas penyakit dan kualitas hidup penderita. Namun, juga memberikan berbagai efek samping toksisitas hematologi anemia, leukopenia, dan trombositopenia yang paling sering ditemukan.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan rancangan hysterikal kohort. Penelitian dilakukan di Departemen Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Divisi Bedah Digestif RSCM, periode Januari 2016 - Desember 2016. Populasi sasaran adalah 65 pasien kanker kolorektal yang mendapat kemoterapi oxaliplatin adjuvan.
Hasil. Usia pasien kanker kolorekta berkisar antara 18 tahun sampai dengan 73 tahun rata-rata 50,8 tahun, perbandingan pria 32 49,2 dan wanita33 50,8. dari 65 pasien kanker kolorektal distribusi lokasi tumor terbanyak pada rektum 39 60, sigmoid 11 16,9, kolon desenden 7 10,8, kolon tranversum 5 7,7, kolon asenden 2 3,1, dan pada caecum 1 1,5. Stadium terbanyak adalah stadium II dan tindakan pembedahan berupa Low Anterior Resction atau Anterior Perineal Resection. Terdapat penurunan rerata kadar hemoglobin yang bermakna dengan p

Background. The administration of oxaliplatin chemotherapy as one of the therapeutic modalities of colorectal cancer has been shown to improve the rate of cure, survival and disease free and quality of life of patients. However, it also provides the most common side effects of hematologic toxicity anemia, leukopenia, and thrombocytopenia.
Methods. This research is an observational using hysterical cohort design. It was conducted in Department of Surgery Faculty of Medicine, University of Indonesia Division of Digestive Surgery RSCM, periode January 2016 December 2016. The target population is 65 patients of colorectal cancer receiving adjuvant oxaliplatin chemotherapy.
Results The age of colorectal cancer patients ranged from 18 to 73 years mean 50.8 years, male 32 49.2 and female 33 50.8. 65 patients of colorectal cancer distributed the most tumor sites in the rectum 39 60, sigmoid 11 16.9, descending colon 7 10.8, tranversum colon 5 7.7, ascending colon 2 3.1, and at caecum 1 1.5. Most stages are stage II and the operate type of Low Anterior Resction or Anterior Perineal Resection. There was a significant decrease in mean hemoglobin level with p
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T57665
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azzahra Nisya Zulkarnain
"Terapi kanker kolorektal dengan menggunakan agen kemoterapi seperti 5-flourourasil, kapesitabin, irinotekan, leukovorin, dan oksaliplatin memiliki permasalahan terkait tingkat toksisitasnya yang tinggi, selain itu agen kemoterapi bekerja secara tidak spesifik pada target tertentu yang dapat merusak sel-sel normal sehingga diperlukan obat yang bekerja secara selektif pada reseptor tertentu. Berdasarkan beberapa penelitian mengenai kanker kolorektal, telah ditemukan sebuah reseptor yang terlibat pada mekanisme kanker kolorektal. Reseptor tersebut adalah TNIK (TRAF2 dan NCK-interacting Kinase ). Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kandidat inhibitor TNIK yang berasal dari senyawa bahan alam Indonesia yang diprediksi memiliki potensi untuk menghambat sel kanker kolorektal . Senyawa bahan alam yang berasal dari pangkalan data HerbalDB dilakukan penapisan virtual terhadap reseptor target TNIK (TRAF2 dan NCK-interacting Kinase ) dengan ID 5AX9 pada situs RSCB PDB. Penapisan virtual dilakukan menggunakan program AutoDock yang telah divalidasi sebelumnya menggunakan senyawa pengecoh. Program penambatan AutoDock divalidasi menggunakan parameter EF dan AUC. Grid box yang dipilih berdasarkan hasil validasi, yakni grid box 60 x 60 x 60 dengan evaluasi energi maksimal sebesar 250.000 (Short). Berdasarkan hasil penapisan virtual, diperoleh sepuluh senyawa yang memberikan nilai ΔG terbaik, yaitu Mutatokrom, Anteraksantin, Mangostenon a, Violaksantin, Morusin, Kriptokrom, Erikristagallin, (+)-Talrugosin, Kasiamin c, Stigmastanol. Nilai energi pengikatan yang diberikan dari kesepuluh senyawa tersebut berada pada rentang -11,17 – 9,79 kkal/mol sehingga dapat disimpulkan bahwa sepuluh senyawa hasil penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai kandidat inhibitor TNIK.

Colorectal cancer therapy using chemotherapeutic agents such as 5-flourouracil, capecitabin, irinotecan, leucovorin, and oxaliplatin has problems related to its high level of toxicity, besides that chemotherapeutic agents don’t work specifically on certain targets so that they can damage normal cells, so the drugs that work selectively on certain receptors are needed . Based on several studies about colorectal cancer, a receptor has been found which is involved in colorectal cancer mechanism. This receptor is TNIK (TRAF2 and NCK-interacting Kinase). The aim of this research is to find candidates for TNIK inhibitors derived from Indonesian natural compounds which are predicted to have the potential to inhibit colorectal cancer cells. Natural compounds derived from the HerbalDB database were subjected to virtual screening using TNIK as a target receptor (TRAF2 and NCK-interacting Kinase ) ID 5AX9 obtained on the RSCB PDB site. Virtual screening was done using an AutoDock program that had been previously validated using actives and decoys compounds. The AutoDock program was validated using the parameters of EF and AUC. The grid box which was used in virtual screening using AuotoDock based on the validation results is 60 x 60 x 60 with a maximum energy evaluation 250,000 (Short). Based on the results of virtual screening, ten compounds which gave the best ΔG values were Mutatochrome, Antheraxanthin, Mangostenone a, Violaxanthin, Morusin, Cryptochrome, Erycristagallin, (+)-Thalrugosine, Cassiamin c, Stigmastanol. The binding energy values ​​given from the ten compounds were in the range of -11.17 to 9.79 kcal/mol so it can be concluded that the ten compounds from the virtual screening results could be proposed as candidate TNIK inhibitors."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sulistiya Puspa Nugraha
"Pola hidup masyarakat perkotaan yang tidak sehat seperti jarang melakukan aktivitas fisik serta kurang mengkonsumsi sayur dan buah-buahan menyebabkan masyarakat di kawasan perkotaan rentan terkena kanker kolorektal. Kanker kolorektal merupakan salah satu penyebab pasien harus menjalani operasi kolostomi. Tindakan kolostomi menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien. Dengan pemberian edukasi tentang perawatan kolostomi serta penyesuaian terhadap perubahan pada pasien pasca kolostomi dapat mencegah penurunan kualitas hidup pasien.
Tujuan penulisan ini adalah menunjukkan pentingnya edukasi tentang perawatan kolostomi serta penyesuaian terhadap perubahan pasca kolostomi. Evaluasi dari edukasi tentang perawatan kolostomi pada pasien kelolaan menunjukkan setelah diberikan edukasi pasien mampu memahami tentang cara perawatan stoma serta penyesuaian diet, aktivitas seksual, dan aktivitas ibadah pasca kolostomi.
Rekomendasi dari penulisan ini agar pasien pasca kolostomi dapat melakukan perawatan kolostomi secara mandiri serta dapat menyesuaikan perubahan pasca kolostomi sehingga tidak terjadi penurunan kualitas hidup.

lifestyles of urban communities such as rarely physical activity and less consumption of vegetables and fruits cause people in urban areas susceptible to colorectal cancer. Colorectal cancer is one of the causes of patients having to undergo colostomy surgery. Colostomy action leads to decreased quality of life of the patient. With the provision of education on colostomy care as well as adjustment to changes in post colostomy patients can prevent deterioration of patient's quality of life.
The purpose of this paper is to show the importance of education on colostomy care and adjustment to post colostomy changes. Evaluation of education on colostomy care in patients under management showed that after being educated the patient was able to understand colostomy care and dietary adjustments, sexual activity, and post colostomy religious activities.
Recommendation from this writing that post colostomy patients can do colostomy care independently and can adjust post colostomy changes so that there is no decrease in quality of life.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2017
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ariansah Margaluta
"Pada kanker kolorektal dengan metastasis hati, pemilihan regimen kemoterapi memiliki peranan penting dalam manajemen penyakit. Cetuximab diberikan pada KKR dengan gen KRAS wild-type. Studi ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas Cetuximab pada KKR metastasis dinilai dari respon pengobatan berdasarkan CT-Scan dan kriteria RECIST. Studi ini merupakan studi deskriptif analitik retrospektif dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder dari rekam medik pasien di RSCM dalam 3 tahun terakhir (januari 2015 – desember 2017). Dari 19 subjek, sebagian besar merupakan laki-laki dengan respon stabil pada seluruh variabel faktor (IMT normal, SGA B, tumor sisi kanan, hemikolektomi kanan, irinotecan-based agent, performance status karnofsky 80-90, derajat histologi diferensiasi sedang, dan WHO grade toxicity 0-1). Tidak didapatkan adanya respon komplit berdasarkan kriteria RECIST dan faktor yang bermakna secara statistik (p>0,05) terhadap pengaruh efektivitas Cetuximab pada kanker kolorektal metastasis hati. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor tersebut tidak memengaruhi efektivitas Cetuximab pada pasien kanker kolorektal metastasis hati.

The choice of chemotherapy has an important role to manage a liver metastatic colorectal cancer (mCRC). Based on the newest recommendation, Cetuximab are suggestive to be given to mCRC patients with RAS wild-type. Therefore, the aim of this study is to investigate the contributing factors affecting the efficacy of Cetuximab in mCRC patients response based on CT-Scan and RECIST criteria. This study is a retrospective descriptive analtical study with cross sectional design using secondary data from RSCM’s medical records in the last 3 years (january 2015 – december 2017). From 19 subjects included in this study, most of the subjects are male with stabile disease (SD) response in all of the variable factors (normal BMI, SGA B, right-sided tumor, right-hemicolectomy, irinotecan-based chemotherapy agent, performance status Karnofsky 80-90, moderately-differentiated tumor, adn WHO grade toxicity 0-1). Complete response were not found in this study based on RECIST criteria. There were no significant factors (p>0.05) affecting the efficacy of Cetuximab in liver mCRC patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sunita
"Kanker kolorektal (KKR) merupakan salah satu jenis keganasan dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kolonoskopi adalah baku emas dalam mendeteksi dan penapisan KKR. Inflamasi kronik dan respons imun pejamu diketahui berperan penting dalam proses tumorigenesis dan progresivitas sel kanker. Proses inflamasi tersebut mempengaruhi hasil pemeriksaan hematologi, sehingga parameter Rasio Hemoglobin-Trombosit (RHT), Rasio Trombosit-Limfosit (RTL), dan Rasio Limfosit-Monosit (RLM) diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perkembangan sel tumor. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran RHT, RTL, dan RLM dalam membedakan kelompok KKR dan non-KKR. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain potong lintang dengan total 80 pasien tersangka KKR, 40 pasien KKR dan 40 pasien non-KKR yang menjalani pemeriksaan kolonoskopi dan histopatologi. Didapatkan perbedaan bermakna RHT, RTL, dan RLM pada kelompok KKR dan non-KKR. Titik potong RHT, RTL, dan RLM untuk membedakan kelompok KKR dan non-KKR adalah 0,26 (sensitivitas 77,5% dan spesifisitas 92,5%), 189,22 (sensitivitas 77,5% dan spesifisitas 72,5%), dan 2,864 (sensitivitas 77,5% dan spesifisitas 77,5%), secara berturut-turut. Berdasarkan analisis regresi logistik, kombinasi nilai RHT dan RLM lebih baik untuk mendeteksi KKR dibandingkan RHT atau RLM secara tunggal. Kombinasi RHT dan RLM dapat digunakan untuk mendeteksi KKR dengan skor 2 untuk RHT < 0,26 dan skor 1 untuk RLM < 2,864 dengan probabilitas 94,81%.

Colorectal cancer (CRC) is a gastrointestinal malignancy with high morbidity and mortality rates worldwide, including in Indonesia. Colonoscopy remains the gold standard for CRC detection and screening. Chronic inflammation and host immune responses are known to play important roles in tumorigenesis and cancer progression. This inflammation affects the results of hematological examination. Therefore, parameters such as Hemoglobin-Platelet Ratio (HPR), Platelet-Lymphocyte Ratio (PLR), and Lymphocyte-Monocyte Ratio (LMR) are expected to provide information on tumor cell development. This study aims to evaluate the role of HPR, PLR, and LMR in distinguishing CRC and non-CRC. The study was conducted using a cross-sectional design with a total of 80 suspected CRC patients, with 40 CRC patients and 40 non-CRC patients undergoing colonoscopy and histopathology examinations. Significant differences were found in HPR, PLR, and LMR in the CRC and non-CRC groups. The cut-off points of HPR, PLR, and LMR to distinguish the CRC and non-CRC groups were 0.26 (sensitivity 77.5% and specificity 92.5%), 189.22 (sensitivity 77.5% and specificity 72.5%), and 2.864 (sensitivity 77.5% and specificity 77.5%), respectively. Logistic regression analysis showed that the combination of HPR and LMR values is better in detecting CRC compared to HPR or LMR alone. The combination of HPR and LMR can be used to detect CRC with a score of 2 for HPR < 0.26 and a score of 1 for LMR < 2.864 with 94.81% probability."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Maelissa Pramaningasih
"Pendahuluan: Kualitas hidup pasien dengan kanker kolorektal di Indonesia saat ini dievaluasi oleh kuesioner yang tidak seragam. European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire ColoRectal 29 EORTC QLQ-CR29 , adalah sebuah kuesioner yang terstandarisasi untuk menilai kualitas hidup yang umum digunakan pada negara maju. Penelitian ini untuk membuktikan bahwa EORTC QLQ-CR29 adalah kuesioner yang valid dan reliabel untuk digunakan di Indonesia.
Metode: Kuesiober EORTC QLQ-CR29 diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, dan diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris. Dilakukan sebuah studi pilot terlebih dahulu, kemudian studi utama ke pasien kanker kolorektal pada poliklinik Bedah Digestif di RS dr.Cipto Mangunkusumo. Desain studi cross-sectional, digunakan intraclass correlation coeficient ICC untuk menilai test-retest reability. Konsistensi internal dievaluasi menggunakan Cronbach rsquo;s ? coefficient. Validitas konvergen dan diskriminan dianalisa dengan multi-trait scaling. Validitas klinis dievaluasi berdasarkan perbedaan klinis yang telah diketahui sebelumnya menggunakan known-group comparisons.
Hasil: Sebanyak limapuluhdua pasien yang berpertisipasi pada penelitian ini. Proses penterjemahan membutuhkan sedikit perubahan akibat adanya perbedaan budaya. Uji test-retest dilakukan pada 17 subjek, yang menunjukan nilai yang dapat diterima 0.67-1.00 . Nilai Cronbach rsquo;s ? coefficient 0,77-0,86, nilai ini melebihi kriteria 0,7. Pada multi-trait scaling analysis menunjukan skala multi-item memenuhi standar validitas konvergen dan diskriminan. Pada uji known group comparison menunjukan kualitas hidup yang berbeda berdasarkan lokasi tumor.
Kesimpulan: dibutuhkan adaptsi budaya dalam proses penterjemahan. Kuesioner EORTC QLQ-CR29 yang telah diterjemakan merupakan kuesioner yang valid dan reliabel untuk menilai kualitas hidup pasien kanker kolorektal di Indonesia.

Background: Currently in Indonesia the quality of life QoL of colorectal cancer patients is evaluated by many questionnaire. European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire ColoRectal 29 EORTC QLQ CR29 , as a standardized objective method to assess QoL of colorectal cancer patients has been widely used in developed country. This research is to prove that EORCT QLQ CR29 is a reliable and valid questionnaire to be used in Indonesia.
Methods: The EORTC QLQ C29 was translated forward and backward into Indonesian language. A pilot study was firstly done then proceed with the main study towards colorectal patients in Digestive Surgery Clinic in Cipto Mangunkusumo Hospital. This is a cross sectional study, intraclass correlation coeficient ICC was used to assess the test retest reability. The Internal consistency reability was estimated using Cronbach rsquo s coefficient. Convergent and discriminant validity was analyzed with multi trait scaling. Clinical validity was assesed in terms of clinical difference using known group comparisons.
Result: Fifty two patients participated in this study. The translation proses require some adjusment due to cultural adaptation. Test retest was administered to 17 patient, showed acceptable reproducibility 0,67 1,00. The Cronbach rsquo s coefficient 0,77 0,86 exceeded the 0,7 criterion and multi trait scaling analysis showed that multi item scales met standards of convergent and discriminant validity. The known group comparisons showed QoL differences between groups of patients based on tumor location.
Conclusion: Some cultural adaptation is needed in the translation process. The translated EORTC QLQ CR29 is a reliable and valid questionnaire for assessing quality of life of colorectal cancer patients in Indonesia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>