Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 192080 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Susanti
"Latar Belakang: Diagnosis leptospirosis dengan microscopic agglutination test (MAT) memerlukan kultur hidup dan bersifat serovar spesifik, sedangkan polymerase chain reaction (PCR) memerlukan bahan dan peralatan yang mahal. Pengembangan metode diagnosis yang cepat, sensitif, murah dan mudah diaplikasikan masih sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan imunosensor ektrokimia dengan screen-printed carbon electrode (SPCE) dan bioreseptor IgG anti-rLipL32 antibodi untuk deteksi leptospirosis pada hewan.
Metode: SPCE dimodifikasi dengan reduksi graphene oxide (SPCE/rGO) dan drop casting graphene oxide (SPCE/GO). IgG anti-rLipL32 antibodi diimobilisasi pada SPCE/rGO dan SPCE/GO dan kemudian di blocking dengan BSA/skim milk. Karakterisasi dilakukan dengan scanning electron microscope (SEM) dan differential pulse voltammetry (DPV). Kinerja imunosensor ditentukan dengan uji stabilitas, penentuan batas deteksi (LOD) dan kuantifikasi (LOQ), uji selektivitas dan analisis sampel spike urin sapi. Respon elektrokimia diukur dengan DPV menggunakan Palmsens Sensit Smart potentiostat dan software PStouch.
Hasil: Hasil SEM menunjukkan perubahan morfologi permukaan elektroda lebih kasar dan adanya partikulat yang mengindikasikan keberhasilan imobilisasi antibodi. Karakterisasi DPV menunjukkan peningkatan arus puncak pada modifikasi SPCE/rGO dan SPCE/GO, serta penurunan arus puncak secara bertahap setelah penambahan NHS-EDC, antibodi, dan blocking BSA/skim milk. Respon arus meningkat seiring peningkatan konsentrasi bakteri Leptospira. Kurva kalibrasi menunjukkan linearitas tinggi dengan persamaan ΔI = 0,8495 (Leptospira) + 0,5402 dan R² = 0,9856. Batas deteksi dan kuantifikasi diperoleh pada ΔI = 1,00 (4 sel/ml) dan ΔI = 3,35 (2 × 10³ sel/ml). Imunosensor stabil sampai 1 bulan pada 4oC, dapat mendeteksi Leptospira patogen dan tidak mendeteksi E. coli dan Staphylococcus aureus.
Kesimpulan: Imunosensor elektrokimia yang dikembangkan memiliki selektivitas dan stabilitas tinggi serta mampu mendeteksi Leptospira patogen dalam sampel spike urine sapi sehingga berpotensi sebagai metode alternatif untuk deteksi leptospirosis pada hewan dengan cepat, murah, dan mudah diaplikasikan di lapangan.

Background: Leptospirosis diagnosis by microscopic agglutination test (MAT) requires live culture and is serovar specific, while polymerase chain reaction (PCR) requires expensive materials and equipment. Development of a rapid, sensitive, inexpensive, and easy diagnostic method is still needed. This study aims to develop an electrochemical immunosensor with a screen-printed carbon electrode (SPCE) and IgG anti-rLipL32 antibody bioreceptor for leptospirosis detection in animals.
Method: SPCE was modified with reduced graphene oxide (SPCE/rGO) and drop-casting graphene oxide (SPCE/GO). IgG anti-rLipL32 was immobilised on SPCE/rGO and SPCE/GO and blocked with BSA/skim milk. Characterisation was done by scanning electron microscope (SEM) and differential pulse voltammetry (DPV). Immunosensor performance was determined by stability testing, limits of detection (LOD) and quantification (LOQ) determination, selectivity testing, and cattle urine spike sample analysis. Electrochemical responses were measured by DPV using Palmsens Sensit Smart potentiostat and PStouch software.
Result: SEM results showed electrode surface morphology changes, which appeared rougher, and particulate presence indicated successful antibody immobilisation. DPV characterisation showed the peak current increased in the SPCE/rGO and SPCE/GO modification. It also gradually decreased with NHS-EDC, antibody addition, and blocking BSA/skim milk.Current response increased with increasing Leptospira bacteria concentration. The calibration curve showed high linearity with the equation ΔI = 0.8495 (Leptospira) + 0.5402 and R² = 0.9856. Limits of detection and quantification were obtained at ΔI = 1.00 (4 cells/ml) and ΔI = 3.35 (2 × 10³ cells/ml). The immunosensor was stable for 1 month at 4oC, could detect pathogenic Leptospira and did not detect E. coli and Staphylococcus aureus.
Conclusion: The developed electrochemical immunosensor has high selectivity and stability and can detect pathogenic Leptospira in cattle urine spike samples, so it has potential for detecting leptospirosis in animals quickly, cheaply, and easily applied in the field.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2025
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sayyid Arkaan
"Penggunaan teofilin sebagai salah satu obat penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang digunakan secara massal di seluruh dunia menjadi perhatian khusus bagi tenaga medis dalam memantau konsentrasinya dalam tubuh pasien. Dalam meningkatkan efisiensi dan efektifitas monitoring atau deteksi teofilin, telah dilakukan pembuatan atau modifikasi elektroda dengan penyangga karbon yang dideposisi dengan bubuk borondoped diamond (BDD) dan film TiO2 NT. Pada penelitian ini dilakukan sintesis TiO2 nanotube (NT) berfasa anatase melalui metode anodisasi. Film TiO2 NT dideposisikan pada BDD yang telah terdeposisi diatas elektroda karbon (karbon-BDD/TiO2 NT). Modifikasi ini dilakukan untuk mendapatkan keuntungan dari luas permukaan TiO2 NT yang besar dan BDD yang memiliki konduktivitas serta potential-window yang lebar, sehingga dapat meningkatkan performa dari kinerja sensor. Pada penelitian ini dilakukan berbagai pengujian terhadap elektroda karbon-BDD/TiO2 NT, yaitu penentuan luas permukaan elektroaktif, penentuan rasio arus signal-to-background (S/B), optimasi pH, penentuan linearitas dan LoD sebelum dikemas diatas SPCE. Elektroda karbon- BDD/TiO2 NT memiliki nilai S/B sebesar 1,1454 dengan pH optimum pada pH 3, serta nilai LoD dan LoQ sebesar 137,41 μM dan 458,05 μM dengan linearitas konsentrasi 80- 200 μM. Sementara itu sensitivitas, %recovery, dan %RSD karbon-BDD/TiO2 NT dalam mendeteksi teofilin, baik secara linearitas dan di dalam artificial urine adalah 0,0218; 113,37% ; dan 2,15%.

The use of theophylline as one of the widely used drug for chronic obstructive pulmonary disease (COPD) worldwide has become a concern for healthcare professionals in monitoring its concentration in the patient's body. To increase the efficiency and effectiveness of theophylline monitoring or detection, electrodes have been made or modified with carbon supports deposited with boron-doped diamond (BDD) powder and TiO2 NT film. In this research, TiO2 nanotubes (NT) in the anatase phase were synthesized using the anodization method. TiO2 NT film is deposited on BDD which has been deposited on a carbon electrode (carbon-BDD/TiO2 NT). This modification was carried out to take advantage of the large surface area of TiO2 NT and BDD which has wide conductivity and potential-window, to improve the performance of the sensor. In this research, various tests were carried out on carbon-BDD/TiO2 NT electrodes such as determining the electroactive surface area, determining signal-to-background current ratio (S/B), optimizing pH, and determining linearity and LoD before being further modified on SPCE. The carbon-BDD/TiO2 NT electrode has an S/B value of 1.1454 with an optimum pH of pH 3. The LoD and LoQ values are 137.41 μM and 458.05 μM with a concentration linearity of 80-200 μM. Meanwhile the sensitivity, %recovery, and %RSD of carbon-BDD/TiO2 NT in detecting theophylline, both linearly and in artificial urine was 0.0218; 113.37% ; and 2.15%, respectively."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Dwi Syafitri
"Dopamin memiliki peran penting dalam fungsi sistem saraf pusat manusia. Pelepasan abnormal dopamin berhubungan dengan penyakit neurologis dan depresi. Oleh karena itu, perlu memantau kadar dopamin untuk memahami peran fisiologisnya. Pembahasan deteksi dopamin berfokus pada metode elektrokimia berbasis screen-printed carbon electrode (SPCE) yang dimodifikasi bahan ZnO/MnO2/MWCNT. Penelitian dilakukan dengan empat tahapan yang terdiri dari preparasi material, karakterisasi material dengan menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Raman spektroskopi, modifikasi SPCE dengan ZnO/MnO2/MWCNT, dan pengujian aktivitas elektrokimia menggunakan cyclic voltametry (CV). Modifikasi sensor dilakukan untuk mengetahui perbedaan kinerja analitik biosensor SPCE. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui performa SPCE dengan pendopingan nanopartikel logam ZnO, MnO2, serta material karbon MWCNT berdasarkan linearitas, sensitivitas dan limit deteksi. Hasil pembacaan elektrokimia menggunakan CV dilakukan pada rentang deteksi 0,6 – 1,4 mM, sehingga diperoleh deteksi limit (LOD) 0,4946 mM dan sensitivitas 0,282 µA.µM.cm-2. Sensor ini menunjukkan selektivitas yang kurang baik terhadap analit dopamin ketika dideteksi bersama senyawa asam askorbat.
The human central nervous system relies on dopamine to function properly. Neurological disorders and depression are linked to abnormal dopamine release. Monitoring dopamine levels is therefore crucial to comprehend its physiological function. The electrochemical approach of dopamine detection that utilises a screen-printed carbon electrode (SPCE) modified with ZnO/MnO2/MWCNT material is the main topic of discussion. The study was conducted in four stages, including material preparation, Fourier Transform Infrared (FTIR) and Raman spectroscopy material characterisation, SPCE modification using ZnO/MnO2/MWCNT, and cyclic voltametry (CV) electrochemical activity testing. To identify variations in SPCE biosensor analytical performance, sensor modifications were made. This study's goal was to evaluate the performance of SPCE doped with ZnO, MnO2, and MWCNT metal nanoparticles. The goal of this study was to evaluate the linearity, sensitivity, and limit of detection of SPCE doped with metal nanoparticles such as ZnO, MnO2, and MWCNT carbon materials. In order to achieve a detection limit (LOD) of 0,4946 mM and a sensitivity of 0,282 µA.µM.cm-2, electrochemical readings using CV were performed in the detection range of 0,6 - 1,4 mM. When this sensor is measured with interference-causing substances in the body such ascorbic acid, it exhibits poor selectivity for dopamine analytes."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Auliya’u Darojatin
"Studi elektrokimia berupa voltametri siklik dan kronoamperometri pada asam askorbat telah berhasil dilakukan pada screen printed carbon electrode (SPCE) dan SPCE termodifikasi multi-walled carbon nanotubes (SPCE-MWCNT) yang masing-masing memiliki luas permukaan aktif sebesar 0,138 cm2 dan 0,126 cm2. Pengaruh laju pemindaian dan konsentrasi asam askorbat yang dilarutkan dengan phosphate buffered saline (PBS) 0,1 M pH 7,4 terhadap arus dipelajari dengan menggunakan voltametri siklik dimana hubungan keduanya berlangsung linear, sama seperti pengaruh arus terhadap waktu yang dipelajari dengan menggunakan kronoamperometri. Elektroda SPCE dan SPCE-MWCNT teroksidasi masing-masing pada 0,2237 V dan 0,2756 V saat diberikan asam askorbat 10 mM dengan siklus potensial rentang -1 V hingga 1 V. Reaksi yang terjadi pada permukaan kedua elektroda tersebut merupakan reaksi yang dikontrol difusi dikarenakan hubungan antara log puncak arus anodik dan log laju pemindaian menunjukkan hasil yang linier dengan nilai kemiringan mendekati 0,5, yaitu sebesar 0,220 dan 0,222 untuk masing-masing SPCE dan SPCE-MWCNT. Batas deteksi dan batas kuantifikasi pada SPCE ditemukan masing-masing sebesar 1,2588 mM dan 3,8145 mM untuk pengujian menggunakan voltametri siklik, serta 2,8393 mM dan 8,6040 mM untuk pengujian menggunakan kronoamperometri. Sedangkan batas deteksi dan batas kuantifikasi pada SPCE-MWCNT ditemukan masing-masing sebesar 0,5197 mM dan 1,5748 mM untuk pengujian menggunakan voltametri siklik, serta 1,1486 mM dan 3,4805 mM untuk pengujian menggunakan kronoamperometri. Pada pengujian kronoamperometri menggunakan SPCE dan SPCE-MWCNT, dihasilkan juga persamaan linear masing-masing sebesar y=0,008x+0,07774 dan y=0,0091x+0,04781. Hal ini menunjukkan bahwa SPCE dan SPCE-MWCNT memiliki aktivitas katalitik yang baik terhadap oksidasi asam askorbat.

Electrochemical study through cyclic voltammetry and chronoamperometry on ascorbic acid was successfully accomplished on screen printed carbon electrode (SPCE) and SPCE modified with multi-walled carbon nanotubes (SPCE-MWCNT) with an active surface area of 0.138 cm2 dan 0.126 cm2, respectively. The effect of scan rate and concentration of dissolved ascorbic acid in phosphate buffered saline (PBS) 0.1 M pH 7.4 on the current were studied using cyclic voltammetry, where the relationship between them was linear. Similarly, the effect of current on time when studied using chronoamperometry also resulted in a linear relationship. The SPCE and SPCE-MWCNT electrodes were oxidized at 0.2237 V and 0.2756 V, respectively, when given 10 mM ascorbic acid with the range of cyclic potential -1 V to 1 V. The reaction which occurs on both the electrode surfaces are diffusion-controlled reaction, since the relationship between the log of peak anodic current and the log of the scan rate shows linear results with both slope values approximated to 0.5, which are 0.220 and 0.222 to be exact for SPCE and SPCE-MWCNT, respectively. The limit of detection (LOD) and the limit of quantification (LOQ) in SPCE were found to be 1.2588 mM dan 3.8145 mM, respectively, when tested using cyclic voltammetry, as well as 2.8393 mM and 8.6040 mM when tested using chronoamperometry. Meanwhile, LOD and LOQ in the SPCE-MWCNT were found to be 0.5197 mM and 1.5748 mM, respectively, when tested using cyclic voltammetry, as well as 1.1486 mM and 3.4805 mM when tested using chronoamperometry. In the chronoamperometric test using SPCE and SPCE-MWCNT, the resulting linear equations were y=0.008x+0.07774 and y=0.0091x+0.04781, respectively. These phenomena indicated that both SPCE and SPCE-MWCNT had a significant catalytic activity towards ascorbic acid oxidation."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Yuliani
"Penelitian ini mengembangkan pembuatan biosensor elektrokimia menggunakan nanopartikel core-shell Fe3O4@Au yang dimodifikasi hemoglobin pada Screen Printed Carbon Electrode (SPCE) untuk mendeteksi akrilamida. Fe3O4NP (~4,9 nm) dan core-shell Fe3O4@Au (~5-6,4 nm) berhasil disintesis melalui metode dekomposisi termal. Hasil ini dikonfirmasi oleh analisis UV-Visible Spectrometer (UV-Vis), X-Ray Diffraction (XRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Transmission Electron Microscopy (TEM). Studi awal elektrokimia hemoglobin optimum didapatkan pada ABS 0,1 MpH 6 dengan konsentrasi optimal hemoglobin sebesar 2 mg/mL. Fe3O4@Au yang termodifikasi Hb memiliki ukuran yang lebih besar, dikarakterisasi dengan Scanning Electron Microscopy (SEM), FTIR, dan Zeta Potensial. Kinerja Fe3O4@Au/Hb dievaluasi untuk mendeteksi akrilamida dilakukan dengan metode Cyclic Voltammetry (CV) pada rentang potensial -0,8-0,8 V, scanrate 50 mV/s didapatkan koefisien regresi linear R2 = 0,98 pada rentang konsentrasi 0-1 μM dengan Limit of Detection (LOD) sebesar 0,136 μM dan sensitivitas sebesar 0,4411 μA/μM. Selain itu, studi interferensi dilakukan untuk beberapa senyawa sederhana lainnya seperti asam askorbat, melamin, glukosa, kafein dan natrium asetat. Pengukuran akrilamida pada real sampel berupa kopi bubuk dilakukan secara elektrokimia dengan biosensor ini dan divalidasi dengan metode standar High Performance Liquid Performance (HPLC).

This work reports an investigation on the fabrication of electrochemical biosensor based on hemoglobin-modified core-shell Fe3O4@Au nanostructures on screen printed carbon electrode for the detection of acrylamide. Here, both Fe3O4NP (~4.9 nm) and core-shell Fe3O4@Au (~5-6.4 nm) nanostructures were successfully synthesized via thermal decomposition method. These results are discussed by analysis of UV-Visible Spectrometers (UV-Vis), X-Ray Diffraction (XRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) and Transmission Electron Microscopy (TEM). Preliminary electrochemical investigation at ABS pH 6 also revealed that the optimum amount of hemoglobin immobilization were obtained at ABS 0.1 M pH 6 with an optimal hemoglobin concentration of 2 mg/mL. Hb modified Fe3O4@AuNP has a larger size, characterized by Scanning Electron Microscopy (SEM), FTIR, and Zeta Potential. The performance of Fe3O4@Au/Hb was evaluated to detect acrylamide using the Cyclic Voltammetry (CV) method in the potential range of -0.8-0.8 V, a scanrate of 50 mV/s obtained a linear regression coefficient R2=0.98 in the concentration range 0-1 μM with a Limit Detection (LOD) 0.136 μM and sensitivity 0.4411 μA/μM. In addition, studi interference is made for a number of simple compounds such as ascorbic acid, melamine, caffeine and sodium acetate. The measurement of acrylamide in real samples consisting of ground coffee was carried out by electrochemistry with this biosensor and validated by the standard High Performance Liquid Performance (HPLC) method."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
T54553
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Filza Camellia Hafsyari
"Kadar dopamin yang tidak seimbang dalam tubuh mengindikasikan berbagai macam kelainan neurologis seperti Parkinson disease (PD), skizofrenia, alzheimer, dan depresi. Salah satu metode pendeteksian dopamin adalah dengan sensor elektrokimia. Sensor elektrokimia merupakan metode pendeteksian yang murah dan dapat digunakan secara on-site. Contoh sensor elektrokimia adalah Screen-printed Carbon Electrode (SPCE). Modifikasi Screen-printed Carbon Electrode (SPCE) dengan nanopartikel merupakan pengembangan yang menarik dan terbukti meningkatkan selektivitas dan sensitivitas.Nanopartikel emas memilikikonduktivitas yang baik, area permukaan yang besar, dan biokompatibilitas yang tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan memodifikasi SPCE dengan nanopartikel emas secara elektrokimia. Hasil yang didapatkan adalah pendeteksian dopamin secara optimum terjadi pada SPCE yang dideposisi (AuNPs-SPCE) selama 200 detik dan pada pH 6,5. Kemudian AuNPs-SPCE diujikarakterisasi melalui SEM dan UV-DRS. Uji analisis pada deteksi dopamin pada AuNPs-SPCE meliputi Limit of Detection (LOD), Limit of Quantification (LOQ), uji keberulangan, dan uji interferensi. Hasil uji linearitas adalah persamaan y = 0,420x + 0,2260 dengan R2= 0,9829 untuk SPCE dan sedangkan AuNPs-SPCE memiliki persamaan garis y = 2,817x + 1,456 dengan R2 =0,991 dengan slope yang mengindikasikan sensitivitas sensor. Hasil LOD dan LOQ untuk SPCE adalah 3,13 ?M dan 10,45 ?M. Sedangkan untuk AuNPs -SPCE LOD & LOQ-nya adalah 2,26 ?M dan 7,561 ?M.

Unbalanced dopamine levels in the body indicate various kinds of neurological disorders such as Parkinson's disease (PD), schizophrenia, Alzheimer's, and depression. One method of detecting dopamine is by electrochemical sensors. Electrochemical sensors are inexpensive detection methods and can be used on-site. An example of an electrochemical sensor is the Screen-printed Carbon Electrode (SPCE). Modification of Screen-printed Carbon Electrode (SPCE) with nanoparticles is an interesting development and is proven to increase selectivity and sensitivity. Gold nanoparticles have good conductivity, large surface area, and high biocompatibility. This research was carried out by electrochemically modifying SPCE with gold nanoparticles. The results obtained were that the optimal detection of dopamine occurred in deposited SPCE (AuNPs-SPCE) for 200 seconds and at a pH of 6.5. Then the characterization of AuNPs-SPCE was tested by SEM and UV-DRS. Dopamine detection analysis tests on AuNPs-SPCE include Limit of Detection (LOD), Limit of Quantification (LOQ), repeatability test, and interference test. The results of the linearity test are the equation y = 0.420x + 0.2260 with R2 = 0.9829 for SPCE and while AuNPs-SPCE has the equation of the line y = 2.817x + 1.456 with R2 = 0.991 with the slope indicating the sensitivity of the sensor. The LOD and LOQ results for SPCE were 3.13 ?M and 10.45 ?M, respectively. Whereas for AuNPs -SPCE the LOD & LOQ were 2.26 ?M and 7,561 ?M."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kevin Haposan Aripratama
"Hipoklorit adalah zat pengoksidasi yang digunakan sebagai disinfektan dan zat pemutih, serta digunakan dalam industri makanan, perawatan kesehatan dan untuk pengolahan air minum. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, konsentrasi klorin bebas di air minum harus antara 0,1–4 ppm karena kelebihan hipoklorit dalam tubuh akan menyebabkan penyakit yang serius seperti radang sendi, penyakit kardiovaskular, aterosklerosis, dan kanker. Karena itu diperlukan metode pendeteksi hipoklorit untuk menjaga kesehatan manusia. Pada penelitian ini akan dikembangkan metode electrocemiluminescence (ECL) untuk mendeteksi hipoklorit menggunakan elektroda screen-printed carbon (SPCE) termodifikasi nanopartikel emas (AuNP). Modifikasi SPCE dengan AuNP dilakukan dengan teknik square-wave voltammetry dengan kehadiran nicotinamide adenine dinucleotide (NAD+) sebagai capping agent. Konfirmasi dengan Field-Emmision Scanning Electron Microscopy (FE-SEM) memperlihatkan nanopartikel emas berbentuk bulat (nanosphere) yang tersebar merata dengan %wt 27,6% dan ukuran rata-rata 38 nm. Pengukuran larutan hipoklorit dengan ECL yang dilakukan dengan menggunakan elektroda kerja SPCE termodifikasi AuNP dengan elektrolit larutan bufer fosfat (PBS) 0,1 M dan koreaktan H2O2 1 mM pada pH 10 menghasilkan puncak oksidasi dan ECL luminol dengan pada potensial sekitar +0,2 V. Intensitas ECL menunjukkan linearitas pada rentang konsentrasi hipoklorit dari 0 μM sampai 50 μM menunjukkan sensitivitas sebesar 12,57 a.u. μM−1cm−2 dengan limit deteksi dan limit kuantifikasi masing-masing sebesar 1,85 μM dan 6,17 μM.

Hypochlorite is an oxidizing agent that is used as a disinfectant and bleaching agent, and is used in the food industry, healthcare and for drinking water treatment. According to the World Health Organization, the concentration of free chlorine in drinking water should be between 0.1–4 ppm because excess hypochlorite in the body will cause serious diseases such as arthritis, cardiovascular disease, atherosclerosis and cancer. Because of that, a hypochlorite detection method is needed to protect human health. In this research, the electrocemiluminescence (ECL) method will be developed to detect hypochlorite using screen-printed carbon (SPCE) electrodes modified by gold nanoparticles (AuNP). SPCE modification with AuNP was carried out by square-wave voltammetry technique in the presence of nicotinamide adenine dinucleotide (NAD+) as a capping agent. Confirmation by Field-Emission Scanning Electron Microscopy (FE-SEM) showed gold nanoparticles with a spherical shape (nanosphere) which were evenly distributed with %wt 27.6% and an average size of 38 nm. Measurement of hypochlorite solution with ECL using SPCE working electrode modified AuNP with 0.1 M phosphate buffer solution (PBS) electrolyte and 1 mM H2O2 corectant at pH 10 produced oxidation peaks and luminol ECL with a potential of about +0.2 V. ECL intensity showed linearity in the range of hypochlorite concentrations from 0 μM to 50 μM showing a sensitivity of 12.57 a.u. μM−1cm−2 with detection and quantification limits of 1.85 μM and 6.17 μM respectively."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Almeira Azizah Luthfianty
"Asam folat merupakan salah satu nutrien yang sangat penting bagi tubuh karena memegang peranan dalam sistem pertumbuhan manusia. Penentuan kadar asam folat dalam makanan, minuman, dan suplemen obat menjadi sangat penting karena defisiensi asam folat dapat menyebabkan timbulnya beberapa penyakit, cacat janin pada ibu hamil, dan gejala stunting pada anak-anak. Pada penelitian ini, sensor asam folat dikembangkan berdasarkan fenomena electrochemiluminescene (ECL) senyawa perylenetetracarboxylic acid (PTCA) pada permukaan screen-printed carbon electrode untuk mendapatkan suatu metode deteksi yang memiliki sensitivitas tinggi, cepat, mudah dan murah. PTCA dipilih sebagai luminofor karena memiliki sifat optis dan listrik yang baik serta stabilitas yang baik. Pengukuran secara simultan dengan teknik cyclic voltammogram dengan detektor ECL pada SPCE menunjukkan chemiluminescence terjadi pada reaksi reduksi PTCA dalam pelarut buffer fosfat pada potensial -1,6 V (vs. Ag/AgCl). Interaksi PTCA dengan asam folat menyebabkan penurunan intensitas ECL PTCA. Pada kondisi optimum pH 9 dan konsentrasi koreaktan 30mM, penurunan intensitas ECL PTCA memiliki korelasi linear (R2=0,9903) terhadap kenaikan kosentrasi asam folat dengan sensitivitas sebesar 1702,15 a.u. ppm-1 cm-2 sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai sensor. Performa sensor yang baik terlihat dari nilai limit deteksi (LOD) dan limit kuntifikasi (LOQ) berturut-turut sebesar 0,161 ppm dan 0,538 ppm dengan kestabilan intensitas ECL yang tinggi dengan standar deviasi relatif (RSD) 3,46% untuk 10 kali pengulangan. Sensor juga menunjukkan selektivitas yang baik terhadap senyawa-senyawa KCl, L-lisin, leusin, dan glukosa. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sensor yang dikembangkan dapat digunakan untuk deteksi asam folat pada sampel nyata berupa obat dan susu dengan %recovery sebesar 80-120%.

Folic acid is a very important nutrient for the body because it plays a role in the human growth system. Determination of folic acid levels in food, drink, and drug supplements is very important because folic acid deficiency can cause several diseases, fetal defects in pregnant women, and symptoms of stunting in children. In this study, a folic acid sensor was developed based on the electrochemiluminescence (ECL) phenomenon of perylenetetracarboxylic acid (PTCA) compounds on the surface of screen-printed carbon electrodes to obtain a detection method that has high sensitivity, fast, easy and inexpensive. PTCA was chosen as a luminophore because it has good optical and electrical properties and good stability. Simultaneous measurements using the cyclic voltammogram technique with the ECL detector on SPCE showed that chemiluminescence occurred in the PTCA reduction reaction in phosphate buffer solvent at a potential of -1.6 V (vs. Ag/AgCl). The interaction of PTCA with folic acid causes a decrease in PTCA ECL intensity. At the optimum condition of pH 9 and 30mM corectant concentration, the decrease in PTCA ECL intensity had a linear correlation (R2=0.9903) to the increase in folic acid concentration with a sensitivity of 1702.15 a.u. ppm-1 cm-2 so that it has the potential to be developed as a sensor. Good sensor performance can be seen from the detection limit (LOD) and quantification limit (LOQ) values of 0.161 ppm and 0.538 ppm respectively with high ECL intensity stability with a relative standard deviation (RSD) of 3.46% for 10 repetitions. The sensor also showed good selectivity for KCl, L-lysine, leucine, and glucose compounds. The results obtained indicate that the developed sensor can be used for the detection of folic acid in real samples of drugs and milk with a % recovery of 80-120%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alfianda Dwi Rahmawati
"Ion logam timbal (Pb) dan tembaga (Cu) merupakan salah satu jenis logam berat dengan efek toksisitas dan racun yang tinggi terhadap mahluk hidup yang banyak ditemukan dalam limbah industri cat dan pipa timbal. Penumpukan timbal dapat menyebabkan gangguan ginjal, tekanan darah tinggi maupun kerusakan otak dan penumpukan tembaga menyebabkan kerusakan pada hati dan menyebabkan kanker. Ion logam tersebut dapat dideteksi menggunakan Screen Printed Electrode (SPE.) Metode ini tergolong sederhana, ukurannya yang kecil, sampel sedikit, murah, efektif dan banyak digunakan dengan batas deteksi yang rendah. Elektroda kerja pada SPE dimodifikasi menggunakan nanopartikel Au-TA-DNS dengan metode dropping untuk mendeteksi keberadaan ion logam berat timbal (Pb) dan tembaga (Cu). Adanya atom N dengan elektron bebas pada Dansylhydrazine (DNS) dapat digunakan untuk berikatan dengan ion logam. Pengukuran dilakukan dengan metode Anodic Stripping Voltammetry (ASV) pada rentang potensial - 1,3 V s/d + 0,4 V. Hasil pengukuran menggunakan metode ASV memperlihatkan puncak oksidasi. Respon arus terhadap larutan logam timbal (Pb) dan tembaga (Cu) pada elektroda kerja termodifikasi nanopartikel Au-TA-DNS menunjukkan linearitas yang baik dimana nilai linearitas masing – masing logam 0,9467 dan 0,967 pada rentang kosentrasi 1 – 100ppb. Hal ini menunjukkan bahwa elektroda kerja yang dimodifikasi nanopartikel Au- TA-DNS dapat digunakan sebagai elektroda kerja menggantikan elektroda karbo pada SPE dengan meningkatkan sensitivitas.

Lead (Pb) and copper (Cu) metal ions are a type of heavy metal with high toxicity and toxic effects on living creatures which are often found in lead paint and pipe industrial waste. A buildup of lead can cause kidney problems, high blood pressure or brain damage and a buildup of copper causes damage to the liver and causes cancer. These metal ions can be detected using a Screen Print Electrode (SPE). This method is relatively simple, small in size, small in sample, cheap, effective and widely used with a low detection limit. The working electrode on the SPE was modified using Au-TA-DNS nanoparticles with a drop-casting method to detect the presence of heavy metal ions lead (Pb) and copper (Cu). The presence of an N atom with free electrons in Dansylhydrazine (DNS) can be used to bind with metal ions. Measurements were carried out using the Anodic Stripping Voltammetry (ASV) method at a potential range of - 1.3 V to + 0.4 V. The results of measurements using the ASV method show oxidation peaks. The current response to the metal solution of lead (Pb) and copper (Cu) on the Au-TA-DNS nanoparticle modified working electrode shows good linearity where the linearity value for each metal is 0.9467 and 0.967 in the concentration range 1 – 100ppb. This shows that the Au-TA-DNS nanoparticle modified working electrode can be used as a working electrode to replace the carbon electrode in SPE by increasing sensitivity."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harits Atika Ariyanta
"Metode fitosintesis berhasil digunakan untuk pembuatan nanopartikel MoS2, NiO dan nanokomposit NiO/MoS2. Penggunaan alisin murni sebagai sumber sulfida berhasil digunakan pada sintesis MoS2. Sedangkan, penggunaan alisin yang berasal dari bawang putih membentuk MoS­2 dalam campuran dengan oksida lainnya. Di sisi lain, fitosintesis nanopartikel NiO menggunakan ekstrak daun bandotan juga berhasil dilakukan. Selanjutnya, nanokomposit NiO/MoS2 disintesis secara sonokimia menggunakan NiO-MA 800 dan MoS2 dari alisin murni. Nanokomposit yang terbentuk berukuran 60-80 nm. Nanokomposit NiO/MoS2 yang telah berhasil didispersikan pada permukaan Screen Printed Carbon Electrode (SPCE) memiliki respon arus yang paling tinggi pada elektropolimerisasi MO dibandingkan NiO dan MoS2. PMO/NiO/MoS2/SPCE diaplikasikan untuk sensor kolesterol dan menghasilkan linearitas yang baik (r2=0,9998) pada rentang konsentrasi 1-15 mg/dL, LOD 0,24 mg/dL, LOQ 0,81 mg/dL, sensitivitas 7,95x10-6 A mg-1 dL-1 cm-2, dan recovery 96,45 – 101,87%. Selain itu, uji interferensi pengukuran kolesterol terhadap 1mg/dL NaCl, CaCl2, tirosin dan glisin menunjukkan tidak adanya gangguan yang signifikan (perubahan respon arus <5%), sedangkan terhadap glukosa dan asam askorbat menunjukkan gangguan masing-masing sebesar 10,11-11,43% dan 6,93-13,36%. Pengukuran pada sampel nyata, yaitu pada susu dan yogurt menunjukkan kesesuaian dengan informasi nilai gizi yang tertera pada kemasan sebesar 95,7% dan 94,3% serta metode kromatografi gas sebesar 97,1% dan 95,2 %.

The phyto-synthesis method was successfully used for the forming of MoS2, NiO, and NiO/MoS2 nanoparticles. The use of pure allicin as a sulfide source was successfully used in the synthesis of MoS2, while the use of allicin derived from garlic forms MoS2 in a mixture with the oxides. On the other hand, the phytosynthesis of NiO nanoparticles using bandotan leaf extract was also successful. Furthermore, NiO/MoS2 nanocomposites were synthesized sonochemically using NiO-MA 800 and MoS2 from pure allicin. The nanocomposites formed were 60-80 nm in size. NiO/MoS2 nanocomposites that have been successfully dispersed on the Screen Printed Carbon Electrode (SPCE) surface have the highest current response to MO electropolymerization compared to NiO and MoS2. PMO/NiO/ MoS2/SPCE was applied to cholesterol sensors and produced good linearity (r2 = 0.9998) in the concentration range of 1-15 mg/dL, LOD of 0.24 mg/dL, LOQ of 0.81 mg/dL, sensitivity of 7.95x10-6 A mg-1 dL-1 cm-2 and recovery 96.45 - 101.87%. In addition, the interference test of cholesterol measurements for 1mg/dL of NaCl, CaCl2, tyrosine, and glycine showed no significant disturbances (changes in current response <5%), while glucose and ascorbic acid showed a disturbance of 10.11-11.43% dan 6.93-13.36%, respectively. Measurements on real samples, namely milk and yogurt, show similarity with the nutritional value information listed on the packaging of 95.7% and 94.3% and gas chromatography methods of 97.1% and 95.2%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>