Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 135081 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Eddy Prabowo Witanto
"Berabad lalu, saat orang-orang Tionghoa mengarungi lautan menuju bumi Nusantara, impian dan harapan mereka hanyalah sederhana: ingin menggapai sebuah kehidupan yang lebih baik, entah itu melalui perdagangan, pertanian, pertambangan, maupun berbagai pekerjaan lainnya. Seiring berjalannya waktu dikembangkan pula berbagai aspek kehidupan yang mereka miliki, seperti teknologi dan sistem permukiman, adat istiadat, sastra dan bahasa, religi dan kepercayaan, makanan, serta kesenian. Tak dapat disangkal, keberadaan orang-orang Tionghoa di bumi Nusantara telah memberikan jejak dan warna tersendiri. Isinya berkaitan dengan sejarah, religi dan kepercayaan, kata, arsitektur, epigrafi, hingga makanan. Meskipun semua tulisan terlihat saling terpisah, secara keseluruhan ingin berkata bahwa migrasi tak hanya membawa orang-orang Tionghoa menetap di bumi Nusantara kita, tapi juga membawa serta aneka entitas kehidupan yang selama beratus tahun kemudian turut membentuk rona mozaik bagi kebudayaan Indonesia. ***** Remah Berserak adalah sebuah buku karya Eddy Prabowo Witanto yang mengangkat kisah dan jejak masyarakat Tionghoa dalam perjalanan sejarahnya di Nusantara. Judul "Remah Berserak" sendiri mungkin merujuk pada berbagai kisah kecil, peristiwa, dan kontribusi masyarakat Tionghoa yang mungkin terlupakan atau kurang mendapat sorotan dalam sejarah besar Nusantara. Topik Utama: Jejak Sejarah: Buku ini kemungkinan besar akan mengupas sejarah panjang interaksi antara masyarakat Tionghoa dengan penduduk asli Nusantara. Mulai dari kedatangan awal para pedagang Tionghoa, peran mereka dalam perdagangan rempah-rempah, hingga kehidupan sehari-hari mereka di berbagai wilayah Nusantara. Kontribusi: Buku ini juga akan menyoroti berbagai kontribusi masyarakat Tionghoa dalam pembangunan dan perkembangan Nusantara. Baik itu dalam bidang ekonomi, budaya, maupun sosial. Tantangan dan Adaptasi: Buku ini mungkin akan membahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Tionghoa dalam beradaptasi dengan lingkungan budaya yang baru, serta upaya mereka untuk mempertahankan identitas dan tradisi mereka."
Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2024
305.895 105 EDD r
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Bangun, Ernalem
"Disertasi ini merupakan studi mengenai variasi identitas etnik di dalam sebuah komunitas sosial di mana tiap-tiap anggotanya menampilkan kesamaan sekaligus keberagaman dalam merepresentasikan identitas mereka. Komunitas yang menjadi subjek penelitian ini mengidentifikasi diri mereka sebagai “Cina Pondok Cina”. Mereka tinggal di Depok, Jawa Barat. Dengan menggunakan etnografi, penelitian ini menyelisik Imlek sebagai pintu untuk memahami konstruksi identitas orang Cina Pondok Cina. Adapun teori strukturasi Giddens yang dilengkapi dengan teori populasonal kebudayaan Durham dan pemikiran Ross tentang pengaruh lingkungan terhadap transmisi informasi, digunakan sebagai kerangka pemikiran. Hasil temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa di balik variasi dalam perayaan Imlek, ikatan kekerabatan dan bakti (xiao) dalam bentuk pemujaan leluhur tetap bertahan dan menjaga keberlangsungan tradisi Cina pada komunitas Cina Pondok Cina. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi dan kontinuitas telah terjadi secara bersamaan. Lebih dari itu, transformasi memungkinkan kontinuitas pada aspek-aspek esensial dari identitas Cina Pondok Cina, dan pada waktu yang sama, kontinuitas memungkinkan aspek-aspek yang berubah tetap memiliki makna.

This is a study of ethnic identity variation of a Chinese community whose members display both similarities and heterogeneity in representing their identities. The community identifies themselves “Cina Pondok Cina” (literally the Chinese of Pondok Cina, who settled in Depok, West Java). Employing ethnographic approach, this study focuses on Imlek, the Chinese New Year celebration, to understand the construction of Chinese identity among them. Imlek is the most visible representation of their “Chinese-ness”. This study uses Giddens’ theory of structuration, Durham’s populational theory of culture, and Ross’ thought abouut environmental influences to transmission of information, as theoretical frameworks. This study found that in spite of the variation of Imlek celebration, kinship ties and devotion (xiao) to ancestor worship continue to hold and preserve the so-called Chinese tradition. It shows that transformation and continuity has been occurring together. Furthermore, transformation makes possible the continuity of essential aspects of Cina Pondok Cina identity, and at the same time, continuity makes the changed aspects meaningful."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2016
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rissa Amanda
"Jurnal ini membahas tentang asal-usul bakcang dan kue cang secara lebih mendalam, juga bakcang dan kue cang di Indonesia sebagai hasil dari akulturasi antara budaya Tiongkok dengan Indonesia. Bakcang dan kue cang ini biasanya disajikan dalam Perayaan Peh Cun yang merupakan salah satu perayaan yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa setiap tahun, tepatnya pada tanggal 5 - bulan 5 penanggalan Imlek. Masyarakat Tionghoa meyakini bahwa munculnya bakcang dan kue cang dalam perayaan Peh Cun didasari oleh cerita Wu Zixu seorang tokoh dari zaman Musim Semi ndash; Musim Gugur dan tokoh Qu Yuan dari zaman Negara Berperang. Bagi masyarakat Tionghoa, bakcang dan kue cang ini menjadi salah satu simbol untuk mengenang jasa dan kematian Wu Zixu dan Qu Yuan yang kemudian simbol ini dijadikan salah satu simbol terpenting dalam perayaan Peh Cun. Seiring dengan berjalannya waktu, karena berkembangnya zaman dan terjadinya akulturasi antara budaya Tiongkok dengan Indonesia, lambat laun bakcang dan kue cang mengalami perkembangan dalam segi makna, fungsi, serta bentuk fisik maupun variasi isi bakcang yang disesuaikan dengan bahan makanan yang ada di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam jurnal ini adalah metode kualitatif berbasis studi kepustakaan.

This journal discusses the origin of bakcang and kue cang more deeply, also bakcang and kue cang in Indonesia as a result of acculturation between Chinese culture and Indonesian. Bakcang and kue cang is usually presented in Peh Cun Celebration which is one of the celebrations that celebrated by Chinese people every year, precisely on the fifth day of the fifth lunar month. The Chinese people believe that the emergence of bakcang and kue cang in the Peh Cun Celebration based on the story of Wu Zixu, a figure from the Spring ndash; Autumn era and Qu Yuan, from the Warring States era. For Chinese society, bakcang and kue cang become one of the symbols to commemorate the kindness and the death of Wu Zixu and Qu Yuan which later become one of the most important symbols in the Peh Cun celebration. As time goes by because of the current development and the occurrence of acculturation between Chinese culture and Indonesian, bakcang and kue cang gradually go through development in terms of meaning, function, as well as physical form and variations of bakcang contents which be adjusted with foodstuff in Indonesia. The research method that were used in this journal is a qualitative method based on literature study.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2018
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Tobing, Tiara Astuti
"ABSTRAK
Etnis Tionghoa sudah hadir di Indonesia sejak beberapa abad silam. Namun, hubungan antara etnis Tionghoa dengan masyarakat Indonesia mengalami pasang surut. Kegiatan adat istiadat Tionghoa sempat terhenti selama 35 tahun lamanya. Etnis Tionghoa di Indonesia sempat merasakan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintahan orde baru (th. 1966-1998). Namun, pada situasi yang dapat dilihat sekarang, anak-anak etnis Tionghoa di Tanjung Pinang masih banyak yang dapat memahami bahasa Tionghoa. Makalah ini membahas bagaimana peran orangtua etnis Tionghoa di Tanjung Pinang dalam mengatasi masalah pelestarian budaya Tionghoa. Orangtua etnis Tionghoa mengajari anaknya dalam memahami dan melestarikan bahasa dan budaya Tionghoa. Cara-cara yang dilakukan untuk melestarikan bahasa dan budaya tersebut dengan menggunakan berbagai media berupa televisi, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan keluarga.

ABSTRACT
Chinese ethnicity has been present in Indonesia for several centuries. However, the relationship between Chinese and Indonesian people experienced ups and downs. Chinese customs activities have been stalled for 35 years. Chinese ethnicity in Indonesia had felt discrimination that was carried out by the old and new order governments. However, in the situation that can be seen now, there are still many ethnic Chinese children in Tanjung Pinang who can understand Chinese. This paper discusses how the role of ethnic Chinese parents in Tanjung Pinang in overcoming the problem of preserving Chinese culture. Chinese parents teach their children to understand and preserve Chinese language and culture. Ways to preserve the language and culture by using various media in the form of television, extracurricular activities in schools and families.

"
2018
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Prameswari
"ABSTRAK
Skripsi ini membahas makna dari istilah ?Cina? di Indonesia jika ditinjau secara etimologis, penggunaannya di masyarakat, serta pendapat warga negara Indonesia non-keturunan Tionghoa. Topik ini diambil karena selama ini istilah ?Cina? cenderung dianggap memiliki makna diskriminatif dan makna negatif lainnya bagi keturunan Tionghoa di Indonesia. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dalam bidang sosiolinguistik dan peneliian lapangan dengan melakukan survei menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Hasil penelitian akan menguraikan makna istilah ?Cina? di Indonesia secara etimologis dan penggunaan istilah ini di masyarakat, serta memaparkan pendapat warga negara Indonesia non-keturunan Tionghoa mengenai istilah ?Cina?.

ABSTRACT
The term ?Cina? in Indonesian social usage is perceived as a derogatory term by a certain people who are Indonesian Chinese descendants. According to them, ?Cina? has a negative and discrimination sense. This field research tries to describe the ?Cina? term from sociolinguistic and etimological point of view. Not like formerly researches which used Indonesian Chinese descendants as their informants, in this research I use the Indonesian indigenous people. The data are collected from questionnaires answered by informants. The result will describe the meaning of ?Cina? in Indonesia, and other non-derogatory terms such as ?Tiongkok? and ?Tionghoa? from etimological perspective. Beside that, I will describe the Indonesian indigenous people?s opinion about the ?Cina? term as showed by the data.
"
2016
S64130
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nova Aryanti
"Skripsi ini mendeskripsikan Kue Keranjang dalam masyarakat Tionghoa di Pasar Lama. Kue Keranjang merupakan bagian dari kebudayaan Tionghoa yang berkaitan dengan teknologi pengolahan makanan. Kue Keranjang yang selalu dikaitkan dengan Perayaan Imlek, ikut berpindah bersamaan dengan perpindahan orang Tionghoa ke Indonesia, khususnya Pasar Lama. Kue Keranjang dipertahanankan sebagai sebuah tradisi secara turun-temurun dan selalu dikaitkan dengan pelaksanaan perayaan Imlek. Kue Keranjang bagi Masyarakat Tionghoa di Pasar Lama memiliki peranan penting sebagai sesaji, atribut penunjuk identitas, dan komoditas. Pembahasan Kue Keranjang menjadi sebuah perantara untuk mendapatkan gambaran tentang kebudayaan Masyarakat Tionghoa. Kue Keranjang juga memberikan gambaran tentang bagaimana agama leluhur Masyarakat Tionghoa menjadi bagian dalam kebudayaan mereka sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan.

This undergraduate thesis describes Kue Keranjang in Chinese Society at Pasar Lama. Kue Keranjang is a part of Chinese culture which is related with food processing technology. Along with the movement of Chinese people to Indonesia. Kue Keranjang that is always associated with Chinese New Yaer, also moved to Indonesia, especially Pasar Lama. Kue Keranjang is maintained to be a tradition throughout generations. For Chinese Society at Pasar Lama, Kue Keranjang has important roles as offering, identity indicator attribute, and commodity. Explanation about Kue Keranjang can be intermediary to get a description about the culture of Chinese Society. Kue Keranjang also gives description about how the religion of Chinese can be a part of their culture. Therefore, both of them cannot be separated.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
S57506
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shafira Lisa Jihan Zahrani
"Etnis Tionghoa di Indonesia masih menjalankan tradisi dan budaya Cina yang telah dilakukan secara turun temurun sepanjang tahunnya, salah satunya adalah tradisi sembahyang arwah leluhur yang dilaksanakan pada Perayaan Zhong Yuan setiap bulan tujuh penanggalan Imlek. Namun, pandemi Covid-19 yang ditetapkan sebagai pandemi global oleh WHO, mengggangu tatanan tradisi dan budaya etnis Tionghoa yang salah satunya merupakan tradisi upacara Sembahyang Chao Du dan Sembahyang Muja di Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif serta menggunakan pendekatan komparatif. Teknik pengambilan data menggunakan triangulasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi upacara Sembahyang Chao Du dan Sembahyang Muja di Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal. Selain itu, ditemukan pula beberapa perubahan dalam upacara Sembahyang Chao Du dan Sembahyang Muja di Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal seiring dengan kebijakan yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia terkait pencegahan penyebaran pandemi Covid-19 di Tegal.

Chinese ethnic in Indonesia still carry out Chinese traditions and culture that have been passed down from generation to generation throughout the year, one of which is the ancestral prayer tradition which is held at the Zhong Yuan Celebration every seven months of the Lunar New Year. However, the Covid-19 pandemic, which has been established as a global pandemic by WHO, has disrupted the order of ethnic Chinese traditions and culture, one of which is the tradition of the Chao Du Prayer and Muja Prayer ceremonies at the Tek Hay Kiong Temple in Tegal. This research was conducted using qualitative research methods and using a comparative approach. Data collection techniques using triangulation technic. The results of this study indicate that the Covid-19 pandemic greatly affected the Chao Du Prayer and Muja Prayer ceremonies at the Tek Hay Kiong Temple in Tegal. In addition, there were also several changes in the Chao Du Prayer and Muja Prayer ceremonies at the Tek Hay Kiong Temple in Tegal in line with the policies launched by the Indonesian Government regarding the prevention of the spread of the Covid-19 pandemic in Tegal."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2022
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Benny G. Setiono
Jakarta: Elkasa, 2002
305.8 BEN t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Airen Meleagrina Regia
"Masyarakat etnis Tionghoa merupakan salah satu masyarakat etnis terbesar di Indonesia. Msyarakat etnis Tionghoa membangun sebuah pemukiman yang berada di Jakarta, yaitu kawasan Glodok. Kawasan Glodok selain dikenal sebagai pemukiman masyarakat etnis Tionghoa, kawasan ini juga dikenal sebagai pusat perdagangan terbesar di Jakarta. Dengan keberagaman kebudayaan di masyarakat etnis Tionghoa mempengaruhi kepada pembentukan pola persebaran pemukiman masyarakat etnis Tionghoa di kawasan Glodok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa persebaran pemukiman masyarakat etnis Tionghoa dan faktor-faktor yang mempengaruhi bentang budaya masyarakat etnis Tionghoa di kawasan Glodok, Jakarta. Metode yang digunakan adalah menganalisis temuan secara kualitatif dengan melakukan wawancara dengan macam tokoh masyarakat dan pejabat publik di kawasan Glodok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola persebaran permukiman etnis Tionghoa di kawasan Glodok memiliki ciri yaitu persebaran dengan bentuk rumah toko (Ruko) dan pesebaran masyarakat etnis Tionghoa di kawasan Glodok saat ini adalah menyebar dan mengikuti jalan dan pusat perdagangan. Sementara faktor-faktor yang mempengaruhi bentang budaya di kawasan Glodok adalah mata pencaharian, kesenian, bahasa, religi dan adat.

The Chinese ethnic community is one of the largest ethnic communities in Indonesia Indonesia. The Chinese ethnic community built a settlement in Jakarta, namely in Glodok. The purpose of This study is to analyze the distribution of settlements of the Chinese ethnic community and the factors that influence the cultural landscape of the ethnic Chinese community in Glodok, Jakarta. To analyze the findings qualitatively, the method is used by conducting interviews with various community leaders and public officials in the Glodok region. The results showed that the distribution pattern of ethnic Chinese settlements in Glodok that has a characteristic of a residence in the form of a shophouse the distribution of the Chinese ethnic community in the Glodok area is spreading and following the trade center. While the factors that influence the cultural landscape in the Glodok area are livelihood, arts, languages, religion and custom."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Gusti Made Arya Suta Wirawan
"ABSTRAK
Di saat banyak orang Tionghoa yang sudah kokoh dengan identitas keagamaannya
sebagai seorang Nasrani, Islam, dan Buddha, serta diakuinya Kong Hu Cu sebagai
agama yang paling erat dengan identitas etnik orang Tionghoa di Indonesia, namun
kenyataanya terdapat sebuah komunitas Tionghoa yang memilih untuk memeluk
agama Hindu yang dianggap sebagai agama minoritas. Bagi sebagian besar orang, hal
ini tentu menjadi pertanyaan. Selama ini publik terjerembab pada sebuah bentuk
stereotipe tentang orang Tionghoa yang dianggap oportunis yakni berlindung di bawah pengaruh penguasa atau struktur dominan. Di sisi yang lain, masyarakat menilai
bahwa Hindu bukan agama mayoritas sehingga sedikit banyak mempengaruhi
peluang-peluang positif yang akan di raih oleh orang Tionghoa itu sendiri.
Penelitian yang bersetting di Jakarta ini ingin menjelaskan tentang alasan orang
Tionghoa memilih Hindu sebagai identitas keagamaan mereka serta usaha mereka
dalam mempertahankan identitas mereka ini. Selain memaparkan tentang dinamika
sejarah komunitas mereka, penelitian ini juga mau menjelaskan tentang mengapa
integrasi antara Tionghoa dan Hindu menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan
(paling tidak untuk saat ini).

Abstract
While many Chinese people who have strong religious identity as a Christian, Islam,
and Buddhism, as well as recognition of Confucianism as a religion that most closely
with the ethnic identity of the Chinese in Indonesia, but in reality there is a Chinese
community that chose to convert to Hinduism which is considered as a minority
religion. For most people, this is certainly a question. During the public this fall on a
form stereotypes about people who are considered opportunistic Tionghoa which was
under the influence of the ruling or dominant structure. On the other hand, the
community considered that the majority Hindu religion is not so much affect slightly
positive opportunities that will be achieved by the Tionghoa itself.
This Research that takes place in Jakarta is to explain about the reason the Chinese
chose their religious identity of Hindus as well as their efforts in maintaining their
identity is. In addition to describing the dynamics of the history of their community,
this study would also explain why the integration between the Tionghoa and the Hindu
to be something difficult to do (at least for now)."
2012
T30988
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>