Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 108 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Firmansyah Muhammad
"ABSTRAK
Latar Belakang: Keterlibatan vertebra servikal akibat trauma, penyakit degeneratif dan neoplasma sering diperlukan tindakan intervensi pembedahan. Pengetahuan anatomis yang detail tentang vertebra servikal sangat dibutuhkan akan tetapi terdapat perbedaan pada dimensi vertebra pada beberapa ras. Pengetahuan dimensi elemen vertebra sangat penting untuk perkembangan instrumentasi pada tulang belakang servikal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data mengenai morfometrik vertebra servikal pada populasi orang IndonesiaMetode Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada 66 spesimen kering vertebra servikal dimana 33 berjenis kelamin laki-laki dan 33 perempuan yang didapatkan dari Departemen Anatomi pada enam fakultas kedokteran. Hanya vertebra yang intak, tanpa osteofit atau metastasis tumor diperiksa pada penelitian ini. Semua parameter linear diukur dengan menggunakan caliper digital vernier dengan akurasi 0,01 mm, caliper tersebut mempunyai depth gauge yang digunakan untuk mengukur dimensi vertebra servikal. Pengukuran angular dengan menggunakan goniometri standard. Semua pengukuran vertebra servikal dilakukan oleh tiga orang. Semua struktur yang simetris diukur secara bilateralHasil Penelitian. Secara umum tidak terdapat perbedaan signifikan pada beberapa komponen vertebra servikal. Vertebra servikal pada spesimen laki-laki secara umum mempunyai ukuran rerata yang lebih besar meskipunpada beberapa komponen pada perempuan lebih tinggi. Perbedaan yang signifikan ditemukan pada lebar pedikel pada C3, 4, 5 dan 7 untuk pedikel sisi kanan dan kiri.Kesimpulan. Penelitian morfometrik ini yang dilakukan pada populasi orang Indonesia akan sangat berarti untuk instrumentasi yang baik pada tulang belakang servikal dimana dimensi berukuran kecil pada vertebra servikal mempunyai tantangan tersendiri pada ahli bedah selama pemasangan plate dan screw.

ABSTRACT
Introduction. The predilection of the cervical spine to a wide array of traumatic, degenerative and neoplastic disease necessitates frequent surgical intervention. A detailed anatomical knowledge of the cervical spine is required but variability in vertebral dimension exists amongst different races. Knowing the dimensions of the vertebral elements is very important for the development of instrumentation to the cervical spine. The aim of the study was to present a morphometric reference database for cervical vertebra of the Indonesian population.Methods. The study was conducted on 66 dried human cervical vertebra of 33 males and 33 females collected from the Department Anatomy of six medical colleges were examined. Only intact vertebrae, free from any osteophytes or metastatic tumors were excluded in the study. All linear parameter were measured using a digital vernier caliper accurate to 0.01 mm, the caliper had a depth gauge which was used to measured the dimensions of cervical vertebra. The angular measurements were made using a standard goniometer. All measurements were made by three observers. All symmetrical structure were measured bilaterally.Results. Generally we find no significant difference between measurement components. Men cervical specimen generally had higher number of mean, although for several components women were higher. Significance difference were found for pedicle width C3, 4, 5 and 7, for both right and left pedicles .Conclusions. The present morphometric study in Indonesian population would be valuable for the successful instrumentation of the cervical spine as smaller dimension of the cervical vertebrae pose a challenge to the surgeon during application of plates and screw"
2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Starifulkani Arif
"Latar Belakang. Sumsung tulang merupakan sumber sel punca mesenkimal SPM yang paling banyak digunakan selain jaringan lemak sebagai sumber pengganti yang menjanjikan. Peningkatan penggunaan SPM membutuhkan kemampuan untuk melakukan subkultur pasase SPM. Untuk mengumpulkan dan menyimpan SPM dalam waktu tertentu tanpa mengubah karakter SPM maka dilakukan kriopreservasi.
Penelitian ini bertujuan meningkatkan pemahaman efek pasase terhadap penuaan sel punca mesenkimal sumsum tulang dan jaringan lemak yang dikriopreservasi.Metode. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional yang dilaksanakan di UPT-TK Sel Punca RSCM FKUI April 2016 - September 2016. Sampel penelitian adalah sel punca mesenkimal sumsum tulang dan jaringan lemak pasase pertama yang dikriopreservasi 1 dan 2 kali. Dilakukan pengukuran terhadap ukuran sel, viabilitas sel, population doubling time PDT, colony forming unit dan penghitungan persentase sel yang menua. Data pasase dianalisis dengan multiple comparison ANOVA dengan Tukey HSD correction dan student t-test menggunakan program SPSS 23.
Hasil. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok kriopreservasi SPM sumsum tulang dalam PDT, viabilitas, dan ukuran sel pada P6 dengan p

Introduction. Bone marrow is still the gold standard source of MSC, but adipose tissue became a promising alternative source. Passage and cryopreservation are effective ways to multiply, pool and store MSC without altering its function.
The aim of this research was to enhance the knowledge of the effect of passage on senescence profile of cryopreserved human bone marrow and adipose derived MSC.Method. This research was an observational analytic study to analyze population doubling time PDT, cell size, viability, colony forming unit and percentage of senescent cells and done in UPT ndash TK Sel Punca RSCM FKUI, during April to September 2016. The samples were bone marrow and adipose MSC at passage one, which were cryopreserved for the first and second time. Cryopreservastion groups were analyzed using student t test while inter passage was analyzed using ANOVA test.
Result. There were significant differences between both cryopreserved bone marrow groups in PDT, viability and cell size in P6, p
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Anggaditya Putra
"ABSTRAK
Pendahuluan: Total Hip Replacement THR disebut sebagai operasi abad ini karena menunjukan hasil yang memuaskan walaupun memiliki harga yang relatif mahal. THR telah dilakukan lebih dari 1 juta kali/tahun secara global dan diperkirakan akan meningkat dua kali pada dekade depan. Pada institusi kami, permintaan THR meningkat 313 dari tahun 2011 -2016. Kini telah banyak hadir berbagai jenis desain implant terutama tipe bearing surface dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun pemilihannya masih menjadi kontroversial. Metode: Kami melaporkan penelitian potong lintang terhadap tiga tipe bearing surface yang sering digunakan di institusi kami; ceramic on polyethylene CoP , metal on polyethylene MoP dan ceramic on ceramic CoC . Enam puluh tiga pasien berhasil dilakukan review dengan usia rata-rata 45 tahun dan follow up rata-rata 2,5 tahun. Kami menilai luaran fungsional dengan Harris Hip Score HHS dan radiologis. Hasil dan Pembahasan: Pada follow up terakhir, rata-rata HHS pascaoperasi yaitu 87,1 10,2 p=0,79 yang menunjukan tidak ada perbedaan antar kelompok. Rata-rata perbedaan HHS pascaoperasi ndash; praoperasi yaitu 46,48 14,1 p=0,005 yang menunjukan adanya perbedaan signifikan di dalam kelompok oleh analisis one-way ANOVA. Analisa post hoc menunjukan rata-rata perbedaan HHS pascaoperasi ndash; praoperasi secara statistik lebih tinggi pada kelompok CoC 56,82 12,7 dibandingkan dengan CoP 44,29 14,1, p = 0,007 dan MoP 42,05 11,9, p = 0,015 . Tidak ada perbedaan antara kelompok MoP dan CoP p = 1,000 . Tidak ditemukan perbedaan luaran radiologis pada ketiga kelompok. dimungkinkan karena follow up yang relatif pendek sehingga dibutuhkan studi dengan follow up yang lebih lama.

ABSTRACT
Introduction Total Hip Replacement THR is considered to be the operation of the century with a high level of satisfactory result even though it has relatively high cost. It has been performed more than 1 million times year worldwide and its demand is estimated to double within decade. In our institution, its demand already increased by 313 from 2011 2016. Nowadays, we are faced with various implant design especially bearing surface with its benefits and weaknesses. But the ideal preference of bearing surface in THR remains a controversy. Methods We report a cross sectional study of three type of THR bearing surface which are ceramic on polyethylene CoP , metal on polyethylene MoP and ceramic on ceramic CoC , that was frequently used in our institution. Total patient of 63 were available for review with mean age of 45 years old and mean follow up of 2,5 years. We assessed their functional outcome with Harris Hip Score HHS and radiological outcome. Results and Discussion At the final follow up, mean post operative HHS was 87,1 10,2 p 0,79 that showed there were no difference between groups. Mean post operative ndash pre operative HHS differences was 46,48 14,1 p 0,005 that showed there were statically significant difference between groups as determined by one way ANOVA. A post hoc analysis revealed that postoperative ndash preoperative HHS differences were statistically significantly higher in CoC group 56,82 12,7 compared to CoP group 44,29 14,1, p 0,007 and MoP group 42,05 11,9, p 0,015 . There was no statistically significant difference between the CoP and MoP p 1,000 . Radiological outcomes reveal no loosening in all groups. This is predicted due to relatively short follow up time, thus longer follow up is needed. "
2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hendra Maska
"ABSTRAK
Pendahuluan. Sel punca mesenkimal merupakan salah satu alternatif pengobatan yang menjanjikan, termasuk dibidang orthopedi. Sumsum tulang masih menjadi pilihan utama sumber sel punca mesenkimal, namun dikarenakan jumlah sel punca mesenkimal yang sedikit, prosedur pengambilan yang invasif dan nyeri, jaringan adiposa mulai digunakan sebagai alternatif dengan kemampuan yang sebanding. Tindakan minimal invasive pada implantasi sel punca pada kasus tulang belakang membutuhkan alat bantu image intensifier C-arm yang menyebabkan sel punca teradiasi sinar X. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek pajanan sinar-x c-arm terhadap viabilitas dan potensi osteogenik sel punca mesenkimal dan membandingkan antar kelompok donor. Bahan dan Metode. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilaksanakan di UPT-TK Sel Punca RSCM januari 2016-februari 2017 . Sampel penelitian adalah sel punca mesenkimal jaringan adiposa dan sumsum tulang pasca kriopreservasi. Sel punca pasca thawing dan propagasi dilakukan pajanan sinar X C-arm dengan berbagai dosis yang dilakukan di Instalasi Bedah Pusat RSUPN Ciptomangunkusumo. Sel punca lalu dikultur dan dilakukan diffenrensiasi osteogenik. Peneliti melakukan analisis viabilitas, waktu penggandaan populasi dan potensi osteogenik dengan pewarnaan alizarin red. Seluruh data dianalisis dengan SPSS 20. Hasil. Tidak terdapat perbedaan viabilitas sel punca mesenkimal jaringan adiposa dan sumsum tulang pre radiasi, pasca radiasi serta pasca radiasi dan kultur pada dosis radiasi yang sama p>0,05 . Tidak terdapat perbedaan potensi osteogenik yang bermakna antara sel punca mesenkimal jaringan adiposa dan sumsum tulang p>0,05 . Terdapat penurunan waktu penggandaan populasi sel punca mesenkimal jaringan adiposa pada dosis radiasi > 5,94 mSv. Kesimpulan. Viabilitas dan potensi osteogenik sel punca mesenkimal sumsum tulang dan jaringan adiposa tidak dipengaruhi oleh paparan sinar X hingga 15,30 mSv. Sel punca mesenkimal jaringan adiposa menunjukkan waktu penggandaan populasi yang lebih pendek pada dosis yang lebih besar. Sel punca mesenkimal jaringan adiposa dan sel punca mesenkimal sumsum tulang memiliki potensi osteogenik yang sebanding

ABSTRACT
Introduction. Mesencymal stem cells MSCs is a promising alternative treatment in medicine, including in orthopedic. Bone marrow is still the main source for MSCs. Because of relative less stem cell number, limited source, pain and invasive procedure to obtain the bone marrow, adipose tissue is also considered as a valuable source of MSCs with equal potency. Minimally invasive MSC injections in spine need image intensifier C arm as guidance that potentially influence the cell viability and osteogenic potency. The aim of this study is to evaluate the radiation effects from C arm on the viability and osteogenicity among two types of MSCs. Material and Methods. This experimental study was held on Stem Cell Medical Technology Integrated Service Unit Cipto Mangunkusumo Hospital January 2016 February 2017 . Study samples were Adipose Tissue derived MSCs AT MSCs and Bone Marrow MSCs BM MSCs , which had undergone cryopreservation. After thawing and propagation process, we gave x ray radiation with a variety of doses to MSCs at the Operation Theater Cipto Mangunkusumo Hospital. After the radiation, MSCs was took back to the laboratory for culture and osteogenic differentiation. Author analyzed the viability, population doubling time, and osteogenic potential by alizarin red stain. All data were analyzed using SPSS 20. Results. There was no significant difference among MSCs groups in term of cell viability before radiation, after radiation, and after radiation and culture p 0.05 . There was also no significant difference of the osteogenic potential between the two MSCs groups p 0.05 . However, there was a reduction in population doubling time of AT MSCs radiated with more than 5.94mSv radiation dose. Conclusions. Viability and osteogenic potential of either AT MSCs or BM MSCs were not affected by x ray radiation up to 15.3 mSV. AT MSCs showed a shorter population doubling time when given larger radiation dose. AT MSCs and BM MSCs had equal osteogenic potency. "
2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nicko Perdana Hardiansyah
"ABSTRAK
Pendahuluan Penggunaan tandur tulang lokal saat ini masih menjadi pilihan utama dalam tatalaksana fusi posterolateral pada kasus spondilosis lumbal di negara berkembang. Rendahnya tingkat fusi yang dihasilkan oleh tindakan ini mendorong penggunaan alternatif material lain. Penambahan aspirat sumsum tulang pada tandur tulang lokal dapat menjadi pilihan yang efektif dalam tatalaksana fusi posterolateral pada pasien spondilosis lumbal, namun saat ini belum ada data mengenai luaran klinis dari tatalaksana jenis ini di Indonesia. Metode Penelitian ini merupakan metode Kohort Retrospektif pada 38 pasien dengan tatalaksana fusi posterolateral dengan menggunakan tandur tulang lokal yang terbagi atas 19 pasien kelompok dengan penambahan aspirat sumsum tulang dan 19 pasien kelompok tanpa penambahan aspirat sumsum tulang. Seluruh pasien mendapatkan tindakan operasi setelah tindakan konservatif gagal dalam mengatasi keluhan nyeri. Evaluasi klinis pada masing-masing kelompok menggunakan skor IDO dinilai sebelum operasi, bulan ke-3 dan ke-6 setelah operasi. Hasil Tiga orang Ahli Orthopaedi Divisi Tulang Belakang melakukan operasi fusi posterolateral dan stabilisasi posterior. Perbandingan skor IDO sebelum operasi di antara kedua kelompok tidak menunjukan perbedaan yang bermakna. Tidak terdapat perbedaan bermakna rerata skor IDO pada kedua kelompok hingga bulan ketiga. Namun, perbandingan skor IDO pre operasi dan 6 bulan paska operasi menunjukkan kelompok dengan penambahan aspirat sumsum tulang akan menghasilkan rerata skor IDO lebih baik. Kesimpulan Luaran klinis pasien spondilosis lumbal yang menjalani fusi posteralateral menggunakan tandur tulang lokal dengan penambahan aspirat sumsum tulang menunjukkan hasil yang baik. Penambahan aspirat sumsum tulang pada fusi posterolateral menggunakan tandur tulang lokal dapat dipertimbangkan sebagai alternatif bagi pasien spondilosis lumbal yang diindikasikan untuk tindakan operatif.

ABSTRACT
Introduction The use of local bone graft still a mainstay in posterolateral fusion surgery for lumbar spondylosis cases in developing countries. Low rates of fusion encourage the alternative use of other materials. The addition of bone marrow aspirates in the local bone graft may be an option in the treatment of posterolateral fusion in the lumbar spondylosis patients, however there is no data on the clinical outcomes of treatment of this procedure in indonesia. Methods A retrospective cohort study was conducted in 38 patients treated by posterolateral fusion using local autograft that were divided into 19 patients with addition of bone marrow aspirates and 19 patients without addition of bone marrow aspirates. All patients received surgery after conservative treatments failed to address the complaint of pain. Clinical evaluation in each group using ODI score assessed preoperatively, 3rd, and 6th month postoperatively. Results Three Orthopedic Spine Surgeon performed posterolateral fusion and posterior stabilization. Comparison of preoperative ODI score between the two groups showed no significant difference. There were no significant differences in ODI score mean in both groups in 3 months after surgery. However, the bone marrow aspirate group produced a better mean difference of ODI score after 6 months. Conclusions The clinical outcomes of lumbal spondylosis patients undergoing posteralateral fusion using local autograft with addition of bone marrow aspirate showed good results. The addition of bone marrow aspirates in posterolateral fusion using local bone graft can be considered as an alternative for lumbar spondylosis patients who are indicated for surgery. "
2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rendra Irawan
"ABSTRAK
Pendahuluan. Tumor Ganas Jaringan Lunak Soft Tissue Sarcoma merupakan kelompok heterogen tumor ganas mesenkim dengan jumlah kasus yang sangat sedikit dengan gejala klinis sulit dibedakan dengan tumor jinak, menjadikan tumor ini sering ditangani tanpa mengetahui batas tumor yang jelas unplanned excision . Penanganan tumor ganas jaringan lunak secara inadekuat ini mengakibatkan tumor masih tersisa sehingga beresiko terjadi rekurensi dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rekurensi dan mortalitas pasien tumor ganas jaringan lunak ekstremitas yang telah dilakukan unplanned excision, serta faktor-faktor yang memengaruhinya.Metode Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan kohort retrospektif yang menggunakan data pasien RS Cipto Mangunkusumo tahun 2005 hingga 2015. Pada penelitian ini, didapati yang memenuhi kriteria sebanyak 87 subjek, yakni pasien unplanned excision tumor ganas jaringan lunak ekstremitas yang dilakukan analisis angka rekurensi dan mortalitas serta faktor-faktor yang berhubungan dengan rekurensi dan mortalitas tersebut.Hasil Penelitian. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat rekurensi dengan operator yang tidak berkompeten non orthopaedi onkologi p0,05 . Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara mortalitas dengan operator pembedahan, lokasi tumor, ukuran awal tumor dan tipe rumah sakit P>0,05 .Kesimpulan. Faktor yang memengaruhi rekurensi pada pasien unplanned excision tumor ganas jaringan lunak yakni operator non orthopaedi onkologi.

ABSTRACT
Introduction. Soft tissue sarcoma is part of mesenchymal malignant tumor heterogeneous group with very little number of cases. Unplanned excision often become the choice of treatment due to difficulties to differentiate it with benign tumor. The inadequate treatment of this soft tissue sarcoma often leave trace of the tumor, leading to recurrence and mortality. We studied the recurrence and mortality of patients with unplanned excision on soft tissue sarcoma of extrimities, including affecting factors.Methods. This is an analytical descriptive study with retrospective cohort design, using patient rsquo s data in Cipto Mangunkusumo hospital during 2005 to 2015. Our study acquired 87 subjects with unplanned excision on soft tissue sarcoma of extrimities. Analysis of recurrence rate, mortality rate, and related factores were examined and analysed.Results. There was significant relationship between recurrence rate with incompetent surgeon non oncology orthopaedics p0,05 . However, this study could not find statistical significance between mortality with non oncology orthopaedic surgeon, location of the tumour, initial size of the tumour, and hospital type P 0,05 .Conclusion. There is relationship between recurrence rate with non oncology orthopaedics operator. "
2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rawung, Rangga Bayu Valentino
"ABSTRAK
Pendahuluan: Keluhan nyeri paska total knee arthroplasty dilaporkan cukup tinggi sehingga meningkatkan penggunaan morfin paska operasi, memperlambat mobilisasi, meningkatkan biaya dan menurunkan angka kepuasan dari pasien. Preemptif analgesia Celecoxib dan Pregabalin dilaporkan memberikan hasil yang menjanjikan, namun belum banyak studi yang melaporkannya. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda. Sebanyak 30 pasien dibagi secara acak kedalam 3 kelompok. Kelompok pertama mendapatkan preemptif analgesia kombinasi Celecoxib 400 mg dan Pregabalin 150 mg, Kelompok 2 mendapatkan Celecoxib 200 mg dan pregabalin 75 mg dan kelompok 3 diberikan placebo. Efektifitas dinilai dengan menghitung total konsumsi morfin paska operasi, penilaian VAS Score, latihan fungsional lutut dengan range of motion ROM dan mobilisasi.. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna total konsumsi morfin paska operasi pada kelompok preemptif analgesia, dibandingkan placebo, Terdapat perbedaan bermakna derajat VAS antara kelompok preemptif analgesia dibanding placebo, namun tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok preemptif analgesia. Keluhan mual ditemukan pada 2 subjek di kelompok 1, 1 subjek di kelompok 2 dan 3. Kesimpulan: Pemberian preemptif analgesia celecoxib dan pregabalin efektif mengurangi nyeri akut paska operasi dan menurunkan penggunaan morfin paska operasi, Dianjurkan untuk menggunakan kombinasi celecoxib dan pregabalin sebagai preemptif analgesia pada total knee arthroplasty.

ABSTRACT
Introduction Pain after Total Knee Arthroplasty reported high, therefore increase the use of morphine after surgery, slow mobilization, increase cost and decrease patient satisfactory. Preemptive analgesia celecoxib and pregabalin reported give the promising result, but not many studies have reported it. Method This study was double disordered clinical study. 30 patients divide randomly into 3 groups. The first group receive preemptive analgesia combination of celecoxib 400 mg and pregabalin 150 mg. The second receive celecoxib 200 mg and pregabalin 75 mg and third group receive placebo. Effectiveness in this study assessed with count total consumption of morphine after surgery, VAS Scoring, functional exercise of knee with ROM and mobilization. Result There was significant differences in count of total consumption of morphine after surgery in preemptive analgesia group, compared to placebo. There was significant difference in VAS degree between preemptive group and placebo, but no significant difference between two preemptive groups. Nausea found on 2 subjects in first group, 1 subject in second and third respectively. Conclusion Administration of preemptive analgesia celecoxib and pregabalin effective to decrease acute pain and reduce use of morphine after surgery. It is advisable to use a combination of celecoxib and pregabalin in total knee arthroplasty. "
2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yoshi Pratama Djaja
"ABSTRAK
Pendahuluan: Dalam penanganan kasus fraktur pelvis dan asetabulum, berbagai macam approach telah diperkenalkan. Pada penelitian ini, kami mengembangkan teknik minimal invasive dengan menggabungkan teknik jendela pertama pada approach Ilioinguinal dan Modified Stoppa untuk meminimalisir resiko cedera neurovaskular, penyembuhan luka, jumlah perdarahan dan durasi operasi.Metode: Penelitian ini melibatkan 30 pasien dengan cedera cincin pelvis anterior dan/atau fraktur kolum anterior asetabulum yang menjalani operasi antara Januari 2011 ndash; Maret 2016. Kelompok Minimally Invasive Plate Osteosynthesis MIPO terdiri dari 15 pasien dan 15 lainnya diterapi dengan teknik Ilioinguinal. Parameter intraoperatif seperti jumlah perdarahan, durasi operasi, kualitas reduksi Matta dan luaran fungsional pasca-operasi Majeed dan Hannover 12 bulan pasca operasi dicatat dan dianalisis dengan membandingkan kedua kelompok tersebut.Hasil dan Diskusi: Rerata jumlah perdarahan pada kelompok MIPO 325 ? 225 mL sedangkan kelompok Ilioinguinal 710.67 ? 384.51 mL p=0.002 . Rerata durasi operasi pada kelompok MIPO 2.49 ? 1.53 jam dan 3.83 ? 0.96 jam di kelompok Ilioinguinal p=0.006 . Tidak ada perbedaan bermakna antara kedua kelompok dilihat dari kualitas reduksi, luaran fungsional. Tidak ada komplikasi yang ditemukan dalam periode 12 bulan pasca operasi. Teknik MIPO Modified Stoppa dan lateral window dapat digunakan sebagai alternatif yang aman dan efektif dalam tatalaksana cedera cincin pelvis anterior dan/atau fraktur kolum anterior asetabulum.
ABSTRACT Introduction In performing surgery for fractures of the pelvis and acetabulum, various surgical approaches have been introduced. In this study, we developed a minimally invasive approach by combining the first window of ilioinguinal with Modified Stoppa to minimize the risk of neurovascular injury, wound healing problems, blood loss and duration of surgery.Methods This study involved 30 patients with anterior pelvic ring and or anterior column acetabulum fracture who underwent operation between January 2011 ndash March 2016. The minimally invasive plate osteosynthesis MIPO group consisted of 15 patients while the other 15 are ilioinguinal group. Intraoperative parameters such as blood loss, duration of surgery, quality of reduction Matta and postoperative functional outcome Majeed and Hannover score at twelve months period were recorded and evaluated.Result and Discussion The mean blood loss in the MIPO group were 325 225 mL versus 710.67 384.5 mL control p 0.002 . Duration of surgery were averaged at 2.49 1.53 hours in MIPO group versus 3.83 0.96 hours in ilioinguinal group p 0.006 . There were no significant differences noted between the two groups in the quality of reduction and postoperative functional outcome. No complications were found after a 12 months follow up period in the MIPO group. Modified Stoppa and lateral window technique can be used as a safe and effective alternative for anterior pelvic ring fracture and or anterior column acetabulum fracture. "
2017
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Suryadi Wirawan
"Pendahuluan: Rabdomiosarkoma adalah high grade malignancy sekaligus sarkoma jaringan lunak tersering pada anak dan remaja. Limb salvage surgery LSS semakin luas dianut dan dipraktekkan sebagai prioritas oleh karena kemajuan kemoterapi dan radioterapi. Data demografi dan evaluasi tatalaksana itu beserta kaitannya dengan analisis kesintasan belum pernah ada di Indonesia.
Metode: Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif, yang dilakukan di Departemen Orthopaedi, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia. Pada Januari 2005-Desember 2016, 43 pasien rabdomiosarkoma ekstrimitas dan pelvis dianalisis secara demografi. Dari jumlah tersebut, 28 pasien menjalani tatalaksana dan dianalisis kesintasannya terkait berbagai faktor. Dari jumlah itu, 15 pasien dibagi menjadi dua kelompok salvage atau ablasi dan dianalisis luaran fungsionalnya setelah satu tahun pasca operasi dengan skor MSTS.
Hasil: Distribusi umur menunjukkan kemaknaan terhadap jenis pleomorfik, yang hanya ditemukan pada dewasa p=0,035. Luaran fungsional kelompok salvage rerata = 13,4 secara bermakna p=0,005 lebih baik dibandingkan ablasi rerata = 22,23. Insiden metastasis secara bermakna menurunkan kesintasan p=0,034. Angka kesintasan adalah 3,53 dan median kesintasan adalah 14 bulan. Distribusi umur berupa kurva bimodal dengan insiden dekade awal dibentuk oleh tipe embrional dan diatas 45 tahun oleh tipe plemorfik.
Simpulan: Fungsi ekstrimitas pasca salvage menunjang fungsi sehari-hari dan tidak terpengaruh morbiditas pasca operasi, serta tidak berpengaruh pada kesintasan juga rekurensi. Karenanya, prosedur itu menjadi prioritas dibanding ablasi. Pengananan awal agresif pada pencegahan metastasis dapat meningkatkan kesintasan. Modalitas kemoterapi multiagen, radioterapi, dan bedah memberikan kecenderungan hasil terbaik.

Introduction Introduction Rhabdomyosarcoma, classified as high grade sarcoma, comprises the most common soft tissue sarcoma in children and adolescent, in which the treatment has been advancing. Limb salvage surgery has been acknowledged and performed widely as the priority on local control of pelvic and extremity rhabdomyosarcoma, due to the advancement on radiotherapy and chemotherapy. The established data on patients demography and current treatments evaluation in Indonesia, are not available yet, especially in the concern of survival.
Method: The study design is retrospective cohort, which was performed in Orthopaedics and Traumatology Department, Cipto Mangunkusumo National Primary Referral Hospital, Jakarta, Indonesia. From January 2005 to December 2016, 43 patients, diagnosed as extremity or pelvic rhabdomyosarcoma, were analyzed for demography. 28 patients of them, underwent treatment, and were analyzed for survival analysis. Subsequently, 15 patients of them were divided into two groups ablation and salvage , and analyzed for one year postoperative functional outcome in Musculoskeletal Tumour Society score.
Result: Age distribution has association on pleomorphic type, which is only found on adults p 0,035. Functional outcome on salvage group mean 22.23 has better outcome p 0,005 result ablation group mean 13.4. Of all oncologic parameters, metastasis has association with worsening 5 years survival p 0,034. The 5 years survival rate is 3.53 and median survival is 14 months. Age distribution shows bimodal curve on incidence, which comprised from embryonal type on first decade and pleomorphic type after fourth decade.
Conclusion: The extremity function after salvage procedure reassure daily life and had not influenced by postoperative morbidity, also has no association with survival and recurrence. Therefore, salvage procedure has become priority comparing to ablation. Early aggressive management on metastatic prevention may increase survival. Combination on multiagent chemotherapy, radiotherapy, and wide excision has the most favorable survival.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ivan Mac Theda
"ABSTRAK
Pendahuluan: Kelengkungan sagital tulang belakang memiliki fungsi dalam menjaga distribusi beban aksial terutama pada saat berdiri. Parameter balans sagital mencakup pelvic tilt (PT), pelvic incidence (PI), sacral slope (SS), lumbar lordosis (LL), dan C7 plumb line distance (C7PL). Perubahan tersebut menyebabkan keluhan nyeri dan deformitas. Penelitian sebelumnya menyebutkan ketidakseimbangan sagital pasca fusi berhubungan dengan prognosis klinis yang buruk. Penelitian ini menggunakan skoring IDO untuk luaran klinis. Penelitian ini menilai hubungan parameter balans sagital dengan perbaikan klinis yang dibandingkan sebelum dan sesudah operasi, serta melihat koreksi dari parameter balans sagital sebelum dan sesudah operasi. Metode: Pengambilan data dilakukan di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan metode Cohort. Subjek adalah 31 orang, pria dan wanita dewasa yang dilakukan fusi lumbal pada Januari 2016 sampai Juli 2017. Pasien mengisi kuisioner IDO dan menjalani pemeriksaan xray whole spine sebelum dan setelah fusi lumbal. Peneliti melakukan analisis skor IDO dan parameter balans sagittal menggunakan program Surgimap. Hasil: Didapatkan hubungan yang tidak bermakna secara statistik antara PT, LL, C7PL. Sedangkan PI dan SS menunjukkan hubungan bermakna secara statistik. Koreksi parameter balans sagital setelah fusi lumbal tidak ditemukan hasil yang signifikan secara statistik. Pembahasan: Dari penelitian sebelumnya di Indonesia didapatkan PI dan C7PL yang berhubungan dengan luaran klinis. Namun pada penelitian ini didapatkan PI dan SS yang bermakna secara statistik terhadap perbaikan klinis. Tidak didapatkan hasil yang signifikan untuk koreksi parameter balans sagital pasca fusi lumbal. Hal ini dikarenakan karena sulitnya untuk mengevaluasi koreksi pada saat intraoperatif.

ABSTRACT<>br>
Introduction: Normal anatomy of the spine curvature has a function to distribute axial loading. Sagittal balance parameters consist of pelvic incidence (PI), pelvic tilt (PT), sacral slope (SS), lumbar lordosis (LL) and C7 plumb line distance (C7PL). Changes on these parameters may cause pain and other disabilities. The author used ODI score to measure clinical outcome. The goal of this research is to show the correlation between the parameter of sagittal balance with clinical outcome that is measured using ODI score taken before and after surgery and to show whether the sagittal balance parameters are corrected post operatively. Methods: Data collection was taken in dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. The study design is analytic observational with cohort. The subjects were 31, consist of male and female adult that undergo lumbar fusion during January 2016 until July 2017. All patients got whole spine xray and fill the ODI score questionnaire before and after the surgery. The sagittal balance parameters was measured using Surgimap software.Results The results showed that there was no significant relationship between PT, LL, C7PL with improvement of the patients statistically. There was a significant relationship between PI and SS with improvement of the patients statistically. There was no statistically significant correction of the sagittal balance parameters post operatively. Discussion: Previous study in Indonesia showed PI and C7PL were significant clinically. But this study concluded PI and SI that influence the clinical outcome. We found that the current surgical technique did not correct the sagittal balance parameters. This may be caused by the difficulty to monitor the correction intraoperatively. "
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>