Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 21 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Till, Margreet Van
Singapore: NUS press, 2011
364.106 6 TIL b
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Nawi, G.J.
"Historical development of silat Betawi, martial art of Betawi people in Indonesia"
Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2016
796.8 NAW m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Tampubolon, Natalia Desyantie
"

Dalam praktik sewa-menyewa lahan, petani penggarap akan dihadapkan pada sejumlah kesepaktan/ kontrak kerja sebagai konsekuensi dari akses lahan yang diterimanya dari pemilik. Beberapa rujukan/studi literatur menyatakan bahwa petani penggarap merupakan 1 kategori tunggal yang berstatus sebagai pihak yang mengelola lahan baik melibatkan atau tidak melibatkan buruh dan dengan sistem bagi hasil kepada pemilik. Selain itu, hubungan kerja tersebut kerap menempatkan petani penggarap pada posisi yang kalah karena kontrak kerja yang ada pada hubungan kerja tersebut lebih menguntungkan pemilik lahan.                                              

Penelitian ini ingin memaparkan bagaimana relasi/hubungan antara petani penggarap dengan pemilik lahan dan buruh tani. Pencarian data-data ini perlu dilakukan sehingga penjelasan atas perbedaan konsep-konsep penelitian terdahulu dengan yang ada di Rorotan dapat diperoleh. Studi ini menunjukkan bahwa petani penggarap di Rorotan bukan sebagai 1 kategori yang tunggal, melainkan 3 kategori (petani penggarap biasa, petani penggarap campuran, dan petani penggarap mandiri). Sehingga pernyataan mengenai petani penggarap berada pada posisi yang lemah dalam konteks kajian ini tidak terlalu tepat.                               

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara, Diskusi Kelompok, observasi, dan didukung oleh data sekunder (dokumentasi, data kependudukan) dengan petani penggarap di Rorotan, Cilincing-Jakarta Utara sebagai informan kunci.


In the practice of land leasing, sharecroppers will be faced with a number of agreements / employment contracts as a consequence of the access of land received from the landowner. Some references / literature studies state that sharecroppers are one single category with the status of a party managing land either involving or not involving laborers and with a sharing system to the owner. In addition, the employment relationship often places sharecroppers in a weak position because the employment contract in the employment relationship is more beneficial to the land owner.

This study aims to explain how the relationship between sharecroppers and landowners and farm laborers. Searching for these data needs to be done so that an explanation of the differences in previous research concepts with those in Rorotan can be obtained. This study shows that sharecroppers in Rorotan are not as a single category, but 3 categories (petani penggarap biasa, petani penggarap campuran, and petani penggarap mandiri). So that the statement about sharecroppers in a weak position in the context of this study is not so appropriate.

The method used in this study is qualitative. Primary data collection was carried out through interviews, group discussions, observations, and supported by secondary data (documentation, population data) with tenant farmers in Rorotan, Cilincing-North Jakarta as key informants.

"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rachmat Ruchiat
Depok: Komunitas Bambu, 2012
959.822 RAC a (1)
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Citra Smara Dewi
"Kajian ini akan memfokuskan pada peran “Galeri Nasional Indonesia dalam Pembentukan Identitas Nasional: Kajian Tentang Pameran Seni Rupa Nusantara di GNI, Jakarta, Tahun 2001-2017”. GNI merupakan salah satu State Cultural Institutions atau Lembaga Kebudayaan Negara, selain Museum Nasional (National Museum), Perpustakaan Nasional (National Library), dan Pusat Arsip Nasional RI. Lembaga-lembaga kebudayaan tersebut berada di pusat pemerintahan,selain menjadi landmark sebuah bangsa modern juga sebagai barometer peradaban bangsa, sehingga berperan signifikan dalam pembentukan Identitas Nasional. Tujuan kajian menjelaskan proses panjang pendirian GNI dan peran GNI dalam pembentukan identitas nasional melalui kebijakan Pameran Seni Rupa Nusantara (PSRN). Penelitian ini menggunakan metode sejarah: heuristik, verifikasi/kritik, interpretasi, dan historiografi, dengan metodologi strukturistik dan pendekatan konsep multikulturalisme. Kebaruan dari metodologi, yaitu “Exhibition History” adalah bagaimana gerak sejarah institusi budaya dikaji melalui peritiswa Pameran Seni Rupa yang melibatkan kebijakan institusi negara, curator, dan seniman. Sumber sejarah yang utama kajian adalah literatur, yaitu arsip, dokumen dan katalog. Metode sejarah lisan dengan pelaku sejarah juga mendapat penekanan di sini.
Hasil kajian menunjukan proses pembentukan GNI yang terkesan lambat tidak lepas dari “Political will” dari pemerintahan terkait. Kesenjangan Seni Rupa yang terjadi sebelum GNI terbentuk tidak lepas dari kebijakan etnonasionalisme yang terjadi sebagai dampak dari sistem pemerintahan yang cenderung memusat dan hegemoni dengan menggunakan basis etnis, ras, kelompok etnis, dan agama sebagai landasan berbangsa dan bernegara. Peran GNI sangat sentral dalam pembentukan Identitas Nasional melalui PSRN dengan memberi ruang apresiasi kepada kebudayaan “minoritas” khususnya Seni Rupa Luar Jawa-Bali. Ditemukenali bagaimana peran individu, kelompok individu (kurator Seni Rupa, seniman, Kepala GNI, kolektor, pelaku seni) dan institusi (institusi budaya baik pemerintah dan swasta, perguruan tinggi, media) secara simultan bekerja mentransformasi dan mereproduksi perubahan struktur sosial. Ketiga unsur ini bekerja dalam satu struktur dan saling dukung sebagai agen perubahan. Hasil kajian menunjukan proses pembentukan GNI yang terkesan lambat tidak lepas dari “Political will” dari pemerintahan terkait. Kesenjangan Seni Rupa yang terjadi sebelum GNI terbentuk tidak lepas dari kebijakan etnonasionalisme yang terjadi sebagai dampak dari sistem pemerintahan yang cenderung memusat dan hegemoni dengan menggunakan basis etnis, ras, kelompok etnis, dan agama sebagai landasan berbangsa dan bernegara. Peran GNI sangat sentral dalam pembentukan Identitas Nasional melalui PSRN dengan  memberi ruang apresiasi kepada kebudayaan “minoritas” khususnya Seni Rupa Luar Jawa-Bali.  Ditemukenali bagaimana  peran individu, kelompok individu (kurator Seni Rupa, seniman, Kepala GNI, kolektor, pelaku seni)  dan institusi (institusi budaya baik pemerintah dan swasta, perguruan tinggi, media) secara simultan bekerja mentransformasi dan mereproduksi perubahan struktur sosial.  Ketiga unsur ini bekerja dalam satu struktur dan  saling dukung sebagai agen perubahan.

This study will focus on the role of "The National Gallery of Indonesia in the Formation of National Identities: Studies on the Archipelago Fine Art Exhibition at GNI, Jakarta, 2001-2017". GNI is one of the State Cultural Institutions, apart from the National Museum, the National Library, and the National Archives Center of the Republic of Indonesia. These cultural institutions are at the center of government, apart from being the landmark of a modern nation as well as a barometer of the nation's civilization, thus playing a significant role in the formation of a National Identity. The purpose of the study is to explain the long process of establishing the GNI and the role of the GNI in the formation of national identity through the policy of the Nusantara Fine Arts Exhibition (PSRN). This research uses historical methods: heuristics, verification / criticism, interpretation, and historiography, with a structuristic methodology and a multiculturalism concept approach. The novelty of the methodology, namely "Exhibition History", is how the historical movement of cultural institutions is studied through Fine Art Exhibition events involving policies of state institutions, curators, and artists. The main historical source of the study is literature, namely archives, documents and catalogs. The method of oral history with historical actors is also emphasized here.
The results of the study show that the slow process of forming the GNI cannot be separated from the “Political will” of the related government. The art disparity that occurred before the GNI was formed cannot be separated from the policy of ethnonationalism which occurred as a result of the government system which tended to be centralized and hegemonic by using ethnic, racial, ethnic group and religious bases as the basis of nation and state. The role of the GNI is very central in the formation of National Identity through PSRN by providing space for appreciation of the “minority” culture, especially the Outer Java-Bali Fine Arts. It was identified how the roles of individuals, groups of individuals (fine arts curators, artists, Heads of GNI, collectors, art actors) and institutions (cultural institutions both government and private, universities, media) simultaneously work to transform and reproduce changes in social structures. These three elements work in one structure and support each other as agents of change.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abdul Chaer, 1942-
Depok: Masup Jakarta, 2017
959.822 ABD t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Iwan Mahmoed al-Fattah, 1972-
Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2017
959.822 IWA p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI, 1986
709.92 PET
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Sulardi, 1969-
"History of Pao An Tui, an armed peace protection corps to defend Chinese lives and property againts attacks by indonesian irregulars in Jakarta, Indonesia"
Depok: Masup Jakarta, 2015
959.822 SUL p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>