Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 190 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Novita Ramadhani
"Ibu yang melahirkan bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah. Salah satu intervensi BBLR adalah Perawatan Metode Kanguru (PMK). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan dengan self-efficacy ibu dalam menerapkan PMK di Jakarta. Jenis penelitian analitik yang digunakan adalah studi observasi cross-sectional dengan metode pengambilan sampel convenience sampling terhadap 49 responden ibu yang memiliki bayi BBLR. Instrumen yang digunakan adalah instrumen pengetahuan ibu mengenai PMK dan instrumen self-efficacy ibu dalam menerapkan PMK. Analisis uji statistik yang digunakan yakni uji korelasi Gamma. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dengan self-efficacy ibu (p value = 0,011 r = 0,732). Peneliti merekomendasikan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan pendidikan kesehatan yang lebih pada ibu yang memiliki BBLR mengenai PMK, terutama waktu yang disarankan untuk melakukan PMK, anggota keluarga lain yang bisa menggantikan ibu melakukan PMK, dan tanda bahaya pada bayi yang mungkin ditemukan saat melakukan PMK.

Mothers who give birth to babies with low birth weight (LBW) tend to have low self-esteem. One of the LBW interventions is the Kangaroo Mother Care (KMC). This study aims to identify the relationship between knowledge and mother's self-efficacy in implementing KMC in Jakarta. The type of analytic research used was a cross-sectional observational study with a convenience sampling method of 49 respondents who have LBW babies. The instruments used were the mother's knowledge instrument regarding KMC and the mother's self-efficacy instrument in implementing KMC. The statistical test analysis used is the Gamma correlation test. The results showed that there was a relationship between knowledge and mother's self-efficacy (p value = 0.011 r = 0.732). Researchers recommend that health workers provide more health education to mothers who have LBW regarding KMC, especially when it is recommended to do KMC, other family members who can replace mothers doing KMC, and danger signs in babies that may be found when doing KMC."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riza Noviandi
"Pendahuluan: Epilepsi merupakan salah satu kelainan neurologis terbanyak di dunia, kurang lebih 20-30% diantaranya merupakan epilepsi resistan obat. Salah satu penyebab epilepsi resistan obat adalah autoimun, yang diperantari antibodi saraf. Antibodi saraf yang paling sering ditemukan dan diteliti adalah antibodi anti N-Methyl-D-Aspartate (NMDAR). Diagnosis pasti epilepsi autoimun adalah ditemukannya antibodi saraf di serum atau cairan serebrospinal (CSS), namun saat ini ketersediaanya terbatas dan harganya cukup mahal di Indonesia. Skor Antibody Prevalence in Epilepsy and Encephalopathy 2 (APE2) dan Antibody Contributing to Focal Epilepsy Signs and Symptoms (ACES) merupakan dua piranti klinis yang dapat digunakan untuk menduga adanya antibodi saraf, namun belum ada penelitiannnya di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini adalah uji diagnostik untuk menilai kemampuan APE2 dan ACES dalam menduga adanya antibodi saraf anti NMDAR di serum pasien epilepsi resisten obat. Metode: Pasien epilepsi resistan obat yang datang ke Poli Neurologi Anak Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dan Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soetomo Surabaya pada bulan Maret hingga Agustus 2023 dinilai menggunakan APE2 dan ACES lalu diperiksa serum antibodi anti NMDAR. Hasil: Didapatkan 90 subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Antibodi NMDAR serum ditemukan pada 10 dari mereka. Skor APE2 memiliki sensitivitas 60%, spesifisitas 82,5%, PPV 30%, NPV 94,3%, LR+ 3,43, dan LR- 0,48. Poin skor APE2 yang memiliki nilai bermakna adalah perubahan status mental (p 0,042) dan gejala prodormal sebelum kejang (p 0,005). Skor ACES memiliki sensitivitas 85,71% spesifisitas 72,22%, PPV 37,5%, NPV 96,3%, LR+ 3,08, dan LR- 0,198. Poin skor ACES yang memiliki nilai bermakna adalah gangguan kognitif (p 0,033) dan gangguan bicara (p 0,028). Pada kejang fokal, APE2 memiliki nilai sensitivitas, PPV, NPV dan LR+ yang lebih rendah namun spesifisitas dan LR- yang lebih tinggi dibandingkan dengan ACES. Kesimpulan: Skor APE2 kurang sensitif namun cukup spesifik dengan NPV yang tinggi. Skor ACES cukup sensitif dan spesifik dengan NPV yang tinggi. Keduanya dapat digunakan untuk skrining awal epilepsi terutama bila ada gejala perubahan status mental, gejala prodormal virus, gangguan kognitif dan gangguan bicara sebelum atau saat awal awitan kejang. Diperlukan penelitian lanjutan untuk menilai antibodi saraf lain, dengan pemeriksaan antibodi di CSS dan tidak terbatas pada epilepsi resisten obat saja serta yang awitan kejangnya dibawah 1 tahun.

Kata kunci: ACES, APE2, epilepsi autoimun, epilepsi resisten obat, NMDAR


Epilepsy is one of the most common neurological disorders in the world, approximately 20-30% of which are drug-resistant epilepsy. One cause of drug-resistant epilepsy is autoimmune disease, mediated by neural antibodies. The most frequently found and studied neural antibody is the anti-N-Methyl-D-Aspartate (NMDAR) antibody. The definitive diagnosis of autoimmune epilepsy is the discovery of neural antibodies in serum or cerebrospinal fluid (CSF), but currently their availability is limited and the price is quite expensive in Indonesia. The Antibody Prevalence in Epilepsy and Encephalopathy 2 (APE2) score and Antibody Contributing to Focal Epilepsy Signs and Symptoms (ACES) are two clinical tools that can be used to suspect the presence of neural antibodies, but there has been no research in Indonesia. Purpose: This research is a diagnostic test to assess the ability of APE2 and ACES to predict the presence of anti-NMDAR neural antibodies in the serum of drug-resistant epilepsy patients. Methods: Drug-resistant epilepsy patients who seek treatment at the Pediatric Neurology Outpatient clinic at the National Central General Hospital, dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta and the Regional General Hospital dr. Soetomo Surabaya from March to August 2023 were assessed using APE2 and ACES, then checked for serum anti NMDAR antibody. Results: There were 90 research subjects who met the research inclusion and exclusion criteria. Serum NMDAR antibodies were found in 10 of them. The APE2 score has a sensitivity of 60%, specificity of 82.5%, PPV of 30%, NPV of 94.3%, LR+ 3.43, and LR- 0.48. In this study, the APE2 score points that had significant values were changes in mental status (p 0.042) and prodromal symptoms before seizures (p 0.005). The ACES score has a sensitivity of 85.71%, a specificity of 72.22%, PPV 37.5%, NPV 96.3%, LR+ 3.08, and LR- 0.198. In this study, the ACES score points that had significant values were cognitive symptoms (p 0.033) and speech problem (p 0.028). In focal seizures, APE2 has lower sensitivity, PPV, NPV and LR+ values but higher specificity and LR- compared to ACES. The APE2 score is less sensitive but quite specific with a high NPV. The ACES score is quite sensitive and specific with a high NPV. Both can be used for initial epilepsy screening, especially if there are symptoms of changes in mental status, viral prodromal symptoms, cognitive symptoms and speech problem before or at the onset of seizures. Further research is needed to assess other neural antibodies, examining neural antibodies in CSF and also including those whose seizure onset is less than 1 year, not limiting to drug-resistant epilepsy only."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Farabi Satria Ammarkama
"Bayi baru lahir di Indonesia memiliki kemungkinan mengalami hyperbilirubinemia sebesar 51,47% dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit yang lebih buruk, yaitu Kernicteruses yang merupakan kerusakan otak ataupun sistem syaraf pusat akibat kadar bilirubin berlebih. Penanganan bayi hyperbilirubinemia yang umum saat ini adalah dengan menyinari bayi menggunakan lampu fototerapi dan mengambil darah bayi untuk mengetahui kadar bilirubin pada tubuhnya. Cara ini memiliki keterbatasan seperti, membatasi ibu bayi dalam memberi ASI sehingga ikatan emosional antara bayi dan ibu menjadi berkurang serta perlu menyuntikkan jarum suntik ke tubu bayi sehingga dapat menyakiti bayi. Selimut fototerapi dan pengecekkan non invasive (tanpa menyuntik bayi) dapat menjadi solusi dalam penanganan bayi hyperbilirubinemia yang lebih baik, namun harga dari kedua alat tersebut masih tinggi. Penelitian ini berisi tentang rancangan awal selimut fototerapi dan alai pengecekkan bilirubin non invasive berbiaya terjangkau agar dapat digunakan oleh banyak masyarakat di Indonesia. Dengan metode reverse engineering, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selimut fototerapi memenuhi standar irradiance dan suhu permukaan sentuh dari BPFK sebesar 6,51 μW/cm2/nm dan 35,55℃ sedangkan untuk alat pengecekkan bilirubin non invasive masih belum mendappatkan hasil yang signifikan karena keterbatasan colour processing.

Newborns in Indonesia have a possibility of hyperbilirubinemia of 51,47%, which if left untreated can cause a worse disease namely Kernicterus, which is damage to the brain or central nervous system due to excess bilirubin levels. Treatment of hyperbilirubinemia infant that are common today is to irradiate the baby using phototherapy lights and take the baby’s blood to determine bilirubin levels in his body. This method has limitations, such as limiting the baby’s mother breastfeeding so that the emotional bond between the baby and the mother becomes reduced and the need to inject a syringe into the baby’s body so that it can hurt the baby. Phototherapy blankets and non invasive checks (without injecting the baby) can be a solution for better handling hyperbilirubinemia infants, but the price of both devices is sttill high. This study contains the prototype of phototherapy blankets and non invasive bilirubin checking at affordable costs so that they can be used by many people in Indonesia. With the reverse engineering method, the results of this study show that phototherapy blankets meet the irradiance standards and touch surface temperatures of BPFK at 6,51 μW/cm2/nm and 35,55℃, while non invasive bilirubin checking devices still do not get significant results due to color processing limitations."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Misrawati
"Kesehatan psikologis seorang ibu berdampak positif terhadap ikatan emosional ibu dan janin dalam mencapai peran transisi menjadi seorang ibu. Masalah kesehatan psikologis ibu serta kurangnya dukungan suami merupakan faktor utama terganggunya interaksi ibu dan janin. Penelitian ini bertujuan menghasilkan intervensi keperawatan untuk meningkatkan ikatan emosional orang tua dan janin berbasis mobile health yang berpengaruh terhadap kesehatan psikologis, keharmonisan suami istri serta jalinan kasih orang tua dan janin. Penelitian terdiri dari tiga tahap. Desain penelitian tahap pertama descriptive qualitative dengan 14 partisipan yang terdiri dari ibu hamil dan pasangannya. Tahap kedua, mengembangkan rancangan intervensi menjalin ikatan emosional dengan janin  berbasis mobile health berdasarkan analisis tahap satu dan konsultasi pakar. Tahap ketiga menggunakan desain quasi experiment pre-post test with control group. Sebanyak 82 pasang ibu hamil sebagai responden, terdiri dari kelompok berpasangan (26 pasang), kelompok mandiri (27 pasang) dan kelompok kontrol (29 pasang). Kelompok berpasangan: mendapatkan intervensi bersama pasangan, kelompok mandiri: mendapatkan intervensi sendiri tanpa pasangan, kelompok kontrol: melakukan kegiatan sesuai kebiasaan sehari-hari. Hasil penelitian kualitatif ditemukan 3 tema yaitu 1) Keterbatasan pengetahuan dan informasi dalam  menjalin ikatan emosional dengan janin, 2) Memperoleh dukungan internal dan eksternal dalam menjalin ikatan emosional dengan janin dan 3) Menjalin ikatan emosional dengan janin membutuhkan berbagai kebutuhan. Intervensi keperawatan untuk meningkatkan ikatan emosional orangtua dan janin berbasis mobile health berpengaruh menjadi lebih baik kesehatan psikologis ibu dan ayah, keharmonisan suami istri menurut ibu dan ayah, serta jalinan kasih orang tua dan janin dibanding kelompok kontrol. Nilai perbaikan kesehatan psikologis ibu kelompok berpasangan dan mandiri (β = -2.68, p < 0.001 ;I² = -3.03, p < 0.001), keharmonisan suami istri menurut ibu kelompok berpasangan dan mandiri (β = -7.46, p = 0.002 ; I² = -9.11, p = 0.001) dan jalinan kasih orang tua dan janin kelompok berpasangan dan mandiri (I² = 6.77, p = 0.013 ; I² = 9.73, p < 0.001). Nilai perbaikan kesehatan psikologis ayah kelompok berpasangan dan mandiri (I² = -5.80, p < 0.001 ; I² = -3.95, p < 0.001), keharmonisan hubungan suami istri menurut ayah kelompok berpasangan dan mandiri (I² = -7.04, p < 0.001 ; β = -3.74, p = 0.024). Disimpulkan bahwa ibu kelompok mandiri lebih besar nilai perbaikan variabelnya dibanding kelompok berpasangan, sebaliknya pada kelompok ayah. Merekomendasikan intervensi keperawatan MIESRA berbasis mobile health dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan psikologis, keharmonisan suami istri serta jalinan kasih orang tua dan janin di tatanan layanan kesehatan

The psychological health of a mother has a positive impact on the emotional bond of the pregnant mother and her baby in achieving the transitional role of being a mother. Psychological health problems of the mother and the lack of husband's support are the main factors that interfere with the interaction of the mother and baby. This study aimed to create nursing interventions to increase the emotional bond of parents and babies based on mobile health that could affect psychological health, the harmonious relationship of husbands and wives and the love relationship between parents and babies. The research consisted of three stages. The first phase of the research design was descriptive qualitative with 14 participants consisting of pregnant women and their partners. The second stage was to develop an intervention to build an emotional bond with the babies using mobile health application based on stage one analysis and expert consultation. The third stage used a quasi-experimental pre and post-test design with a control group. Eighty two pairs participated as respondents, consisting of the paired group (26 pairs), the independent group (27 pairs) and the control group (29 pairs). The paired group received intervention with their partner, the independent group received intervention alone without a partner, and the control group performed daily activities as usual. The results of the qualitative research found 3 themes, namely 1) Limited knowledge and information in establishing an emotional bond with the babies, 2) Obtaining internal and external support in establishing an emotional bond with the babies and 3) Establishing an emotional bond with the babies requires various needs. Interventions for establishing emotional bonds between parents and babies using mobile health application have an effect on better psychological health of mothers and fathers, harmonious relationship between husband and wife according to mothers and fathers, and the relationship between parents and babies compared to the control group. The value of psychological health improvement for paired and independent mothers (I² = -2.68, p < 0.001 ; = -3.03, p < 0.001), harmonious marital relationship according to paired and independent group mothers (I² = -7.46, p = 0.002 ; = -9.11, p = 0.001) and the relationship between parents and babies in paired and independent groups (I² = 6.77, p = 0.013 ; = 9.73, p < 0.001). The psychological health improvement value of fathers in the paired and independent group (I² = -5.80, p < 0.001 ; = -3.95, p < 0.001) and the harmonious marital relationships according to the fathers of the paired and independent group (I² = -7.04, p < 0.001 ; = -3.74, p = 0.024). It was concluded that the independent group mothers had a higher improvement value for the variable than the paired group, on the contrary in the father group. It is recommended that mobile health-based MIESRA nursing interventions can be used to improve psychological health, marital harmonious relationship and the love of parents and babies in health care settings."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Linny Grasiana Maria Liando
"Latar Belakang:
Anak usia batita yang pernah mengalami perawatan di Unit Neonatologi pada saat lahir berada dalam risiko
mengalami keterlambatan perkembangan. Terdapat berbagai faktor terkait perkembangan anak usia batita,
baik dari aspek ibu maupun anak.
Tujuan:
Mendapatkan gambaran Developmental Quotient anak usia batita yang pernah dirawat inap di Unit
Neonatologi RSCM dan faktor-faktor terkait.
Metode:
Penelitian ini adalah studi analitik observasional potong lintang yang menilai Developmental Quotient pada
83 anak usia batita yang pernah dirawat inap di Unit Neonatologi RSCM pada tahun 2018-2019 yang diambil
secara acak sederhana. Developmental Quotient dinilai dengan menggunakan Capute Scale, dan terdiri dari
Full-Scale Developmental Quotient (FSDQ), Clinical Linguistic and Auditory Milestone Scale (DQ
CLAMS), Cognitive Adaptive Test (DQ CAT). Dilakukan identifikasi faktor-faktor terkait DQ sebagai
variabel bebas, yaitu : jenis kelamin anak, usia gestasi, berat badan lahir, panjang badan lahir, lingkar kepala
lahir, lama rawat inap di unit Neonatologi, lama lepas rawat, diberikan ASI eksklusif atau tidak, ada tidaknya
intervensi rehabilitasi, usia ibu saat melahirkan, psikopatologi ibu, komplikasi persalinan, mother-infant
bonding, pendidikan ibu, jumlah anak, status sosial ekonomi. Analisis bivariat dengan Chi-square dan
multivariat dengan regresi logistik dilakukan untuk menguji hipotesis.
Hasil:
Sebanyak 38,6% anak usia batita dengan riwayat perawatan di unit Neonatologi RSCM mengalami
keterlambatan FSDQ, 47% keterlambatan DQ CLAMS, dan 31,4% keterlambatan DQ CAT. Terdapat
hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu, psikopatologi ibu, dan status sosial ekonomi terhadap
terjadinya keterlambatan FSDQ; serta hubungan bermakna antara jenis kelamin, pendidikan ibu dan
psikopatologi ibu dengan keterlambatan DQ CLAM pada subjek penelitian ini. Pada analisis multivariat
didapatkan bahwa variabel paling bermakna dengan kejadian keterlambatan FSDQ pada subjek penelitian
ini adalah pendidikan ibu (p= 0,048; rasio odd= 4,751; interval kepercayaan 1,017-22,199) dan
psikopatologi ibu (p= 0,023; rasio odd= 0,2; interval kepercayaan 0,05-0,804).
Simpulan :
Anak usia batita dengan riwayat perawatan di Unit Neonatologi perlu diperiksa secara berkala untuk
mencegah keterlambatan perkembangan. Meningkatkan kesehatan mental ibu dapat mencegah
keterlambatan perkembangan.

Infants with history of hospitalization in Neonatology Unit at births are at risk of delayed development. There
are various risk factor associated with infant development, either from maternal or infant factor.
Objectives:
To determine developmental quotient of infants with history of hospitalization in Neonatology Unit in Dr
Cipto Mangunkusumo General Hospital, and to identify factors related to it.
Method:
Study design was cross-sectional observational analytic study. Subjects were 83 infants with history of
hospitalization in Neonatology Unit, from January 2018 to December 2019 randomly selected. The
Developmental Quotients were assessed using The Capute Scale, and consist of Full-Scale Developmental
Quotient (FSDQ), Clinical Linguistic and Auditory Milestone Scale (DQ CLAMS), Cognitive Adaptive Test
(DQ CAT). We analyzed the association of DQ with 15 independent variables: gender, gestational age,
birthweight, length at birth, head circumference at birth, length of hospitalization in Neonatology Unit,
duration from hospital discharge, exclusively breastfed or not, rehabilitation intervention, age of mother at
birth, mother’s psychopathology, pregnancy and delivery complication, mother-infant bonding, mother
education, number of siblings, and socio-economic status. Bivariate analyzes using Chi-square and
multivariate analyzes using logistic regression were applied for hypothesis testing.
Result:
FSDQ, DQ CLAMS and DQ CAT delay were found in 38,6%, 47,0% and 31,4% of subjects, respectively.
There were significant correlations between maternal education, mother’s psychopathology and socioeconomic
status with delayed FSDQ while delayed DQ CLAMS were related to gender, maternal education
and maternal psychopathology. Multivariate analyzes revealed that the most responsible factor related to
delayed FSDQ in this research were mother’s psychopathology (p= 0,023; odd ratio= 0,2; confidence
interval 0,05-0,804) and mother’s education (p= 0.048; odd ratio= 4.751; confidence interval= 1.017-
22.199).
Conclusion:
Infants with history of hospitalization in Neonatology Unit, should be checked regularly fot delayed
development. Improving maternal mental health and education is important in preventing developmental
delay.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aisyah Syahrani
"Latar Belakang: Periode neonatal merupakan waktu yang rentan bagi bayi pada awal kehidupannya dan komplikasi perdarahan selama kehamilan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup ibu dan bayi. Saat ini, terdapat perbedaan pendapat terkait pengaruh komplikasi perdarahan selama kehamilan dengan kematian neonatal serta belum ditemukannya publikasi terkait komplikasi perdarahan selama kehamilan terhadap kematian neonatal di skala nasional Indonesia dengan data terbaru. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan perdarahan selama kehamilan dengan kematian neonatal di Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif menggunakan data sekunder dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 dengan desain studi cross-sectional. Analisis data dilakukan pada wanita usia subur (WUS) usia 15-49 tahun yang melahirkan bayi lahir hidup pada rentang tahun 2012-2017 dan merupakan anak terakhir tunggal yang terdata dalam SDKI 2017. Sebanyak 14.848 sampel didapatkan untuk dianalisis menggunakan complex survey dengan chi-square dan regresi logistik untuk memeriksa hubungan antara perdarahan selama kehamilan dengan kejadian kematian neonatal
Hasil: Prevalensi kematian neonatal pada wanita usia subur (WUS) usia 15-49 tahun yang melahirkan dalam rentang waktu 2012-2017 di Indonesia berdasarkan data SDKI 2017 sebesar 0,7%. Selain itu, 48,4% dari total 14.848 responden mengalami perdarahan selama kehamilan. Setelah dilakukan analisis multivariat dengan mengontrol ukuran lahir bayi, jenis kelamin bayi, dan paritas ibu, tidak ditemukan asosiasi yang bermakna secara statistik antara perdarahan selama kehamilan dengan kejadian kematian neonatal (adjusted odds ratio 0,67; CI 95% 0,45-1,01).
Kesimpulan: Perdarahan selama kehamilan tidak terbukti berasosiasi dengan kematian neonatal. Hal ini mungkin terjadi akibat keterbatasan metode penelitian yang digunakan, tidak diketahui lebih lanjut kapan dan seberapa banyak perdarahan yang terjadi, dan cakupan ANC yang baik. Dari sisi klinis, terdapat perdarahan yang cukup sulit untuk dideteksi oleh tenaga kesehatan sehingga memungkinkan tidak terdatanya kasus. Selain itu, pada perdarahan yang berisiko, penanganan cepat akan dilakukan sehingga kesehatan bayi tidak akan berdampak pada masa neonatal.

Background: Neonatal period is a vulnerable time for infants and bleeding during pregnancy can affect the survival of the mother and baby. Research regarding association between bleeding during pregnancy and neonatal deaths using the Indonesia is still rarely carried out at this time and there’s a variety of opinion regarding this matter. Therefore, researchers conducted a study to determine the association between bleeding during pregnancy and neonatal mortality in Indonesia.
Method: This research is a quantitative study using secondary data from the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) with a cross-sectional study design. Data analysis was conducted on women of reproductive age (WRA) aged 15-49 years who gave birth to live infants between 2012 and 2017 and whose most recent singleton births were recorded in the 2017 IDHS. A total of 14,848 samples were obtained for analysis using complex survey methods with chi-square and logistic regression to examine the relationship between bleeding during pregnancy and neonatal mortality.
Results: The prevalence of neonatal mortality among women of reproductive age (WRA) aged 15-49 years who gave birth between 2012 and 2017 in Indonesia, based on the 2017 IDHS data, was 0.7%. Additionally, 48.4% of the total 14,848 respondents experienced bleeding during pregnancy. After conducting multivariate analysis while controlling with its confounders (perceived birth weight, sex of the baby, and maternal parity) no statistically significant association was found between bleeding during pregnancy and neonatal mortality (adjusted odds ratio 0.67; 95% CI 0.45-1.01).
Conclusion: Bleeding during pregnancy was not found to be associated with neonatal mortality. This may be due to limitations in the research methods used, the lack of detailed information on the timing and amount of bleeding, and good ANC coverage. Clinically, some bleeding may be difficult to detect, leading to potential underreporting of cases. Furthermore, in cases of high-risk bleeding, emergency management is likely to be implemented, preventing any impact on neonatal health.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ninis Indriani
"Bayi dengan asfiksia perinatal sangat rentan mengalami komplikasi baik jangka pendek seperti disfungsi multiorgan maupun jangka panjang dengan terjadinya gangguan perkembangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan riwayat asfiksia perinatal dengan perkembangan bayi usia 6–12 bulan. Desain penelitian menggunakan potong lintang, yang melibatkan 56 bayi dengan riwayat asfiksia perinatal (berat, sedang, dan ringan) di Kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara riwayat asfiksia perinatal dengan perkembangan bayi (p= 0,026). Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlu melakukan deteksi dini penyimpangan perkembangan khususnya bayi risiko tinggi dan mengoptimalkan peran serta orang tua dalam proses perkembangan anak.

Infant with perinatal asphyxia history is very susceptible to have both short term complications such as multiple organ dysfunctions and long-term complications with development disorder. The purpose of this study is to indentify the correlation between perinatal asphyxia history and infant development age 6 to 12 months. Design of study used cross sectional, which involves 56 infants with severe, moderate, and mild asphyxia history in Banyuwangi Regency. The result of this study indicates that there is a significant correlation between perinatal asphyxia history and infant development (p= 0,026). The recommendations of this study is that it is necessary to do early detection development disorder especially for high risk infants and optimize the participation of parents in a child's development process."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2015
610 UI-JKI 18:2 (2015)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
New York: Raven Press, 1987
618.92 FEE
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Neu, Josef
Philadelphia : Elsevier/Saunders, 2012
616.33 NEU g
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Suni Hariati
Jakarta: Sagung Seto, 2018
618.92 SUN a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   3 4 5 6 7 8 9 10 11 12   >>