Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 212 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Amelia Putri
"Insiden konflik dan kekerasan yang secara rutin terjadi di masyarakat menyebabkan remaja yang terpapar memandang dunianya tidak aman dan penuh ancaman dan kemudian menunjukkan perilaku yang bermasalah. Perilaku agresif dan menginisiasi permusuhan ini dianggap adaptif bagi remaja dan dinormalisasi pada lingkungan yang menjadikan konflik dan kekerasan sebagai hal yang biasa sehingga konflik akan terus ada dan perdamaian sulit dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan masalah tingkah laku dan sikap terhadap perdamaian pada remaja yang terpapar konflik. Masalah tingkah laku diukur menggunakan Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ), sedangkan sikap terhadap perdamaian diukur menggunakan Peace Attitude Scale (PAS). Partisipan pada penelitian ini yaitu 352 remaja berusia 16-18 tahun yang tinggal di wilayah rawan konflik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah tingkah laku memiliki hubungan yang negatif dengan sikap terhadap perdamaian remaja yang terpapar konflik. Berdasarkan hasil tersebut, semakin banyak masalah tingkah yang ditunjukkan, semakin negatif sikap terhadap perdamaian yang dimiliki remaja.

Incidents of conflict and violence that routinely occur in society cause exposed adolescents to view their world as insecure and threatening and then they exhibit problematic behavior. Aggressive behavior and initiating hostility are considered adaptive for adolescents and normalized in an environment where conflict and violence are commonplace so that conflict will continue, and peace is difficult to achieve. This study aims to see the relationship between behavioral problems and attitudes towards peace in adolescents who are exposed to conflict. Behavioral problems were measured using the Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ), while attitudes towards peace were measured using the Peace Attitude Scale (PAS). Participants in this study were 352 adolescents aged 16-18 years who lived in conflict-prone areas. Pearson correlation showed that behavior problems had a negative relationship with attitudes towards peace in adolescents who were exposed to conflict. Based on these results, the more behavior problems shown, the more negative the attitude towards peace the adolescents had.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Arief Sulaiman
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Satuan Tugas Operasi Rasaka Cartenz dalam kontribusinya melalui pemberdayaan masyarakat di wilayah Papua serta untuk menganalisis efektifitas yang dilakukan dalam Operasi Rasaka Cartenz untuk membangun perdamaian di Papua melalui pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan cara wawancara, observasi dan studi dokumen. Dalam penelitian ini menggunakan triangulasi data untuk menjaga validitasnya.
Permasalahan konflik diwilayah Papua yang tak kunjung usai merupakan kesalahan dalam sistem yang dibangun sejak lama. Tujuan perdamaian tidak tercapai karena masih adanya gangguan dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang sering menyerang pihak tidak bersalah. Upaya paksa dan tindakan represif sudah banyak dilakukan untuk melawan kejahatan kemanusiaan yang terjadi. Namun, Polri hadir dengan Operasi Rasaka Cartenz untuk menjaga perdamaian dan menurunkan ego dari para simpatisan.
Gangguan dari KKB di Papua mengancam stabilitas dan kesejahteraan masyarakat. Namun, pendidikan dan layanan kesehatan harus tetap tersedia. Operasi Rasaka Cartenz berperan penting dalam pemberdayaan masyarakat Papua, terutama melalui Program Binmas Noken. Program ini fokus pada penegakan hukum, pendidikan, dan kesehatan, serta memperkuat hubungan polisi dengan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. Binmas Noken berperan dalam mendukung pendidikan dan kesehatan di daerah terpencil serta membangun perdamaian jangka panjang. Operasi Rasaka Cartenz dan Binmas Noken menunjukkan komitmen untuk mengatasi masalah keamanan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Papua.
Tidak dapat disangkal bahwa proses membangun perdamaian di Papua penuh dengan tantangan. Gangguan dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dan ketidakadilan pembangunan masih menjadi rintangan besar. Namun, Operasi Rasaka Cartenz menunjukkan komitmen dalam menghadapi tantangan ini dengan tidak pada upaya pemberantasan KKB tetapi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat Papua yang mana kompleksitas masyarakat yang tergabung hanya sebagai simpatisan KKB dapat Kembali bergabung dengan NKRI.
Strategi community relations oleh Satgas Rasaka Cartenz melibatkan pendekatan humanis, informasi akurat melalui media, kolaborasi dengan tokoh lokal, dan pelatihan untuk tokoh masyarakat. Revitalisasi peran Polri dalam kemitraan dan partisipasi masyarakat juga penting. Transparansi informasi dan komunikasi efektif membangun kepercayaan publik. Satgas Rasaka Cartenz memperkuat hubungan dengan masyarakat Papua dan menciptakan lingkungan kondusif untuk kerjasama dalam menjaga keamanan dan ketertiban dengan strategi ini.
Meskipun perdamaian mungkin belum sepenuhnya tercapai, upaya untuk "To Win the Heart and Mind the People of Papua" melalui Operasi Rasaka Cartenz adalah langkah penting dalam membangun dasar bagi perdamaian. Kepercayaan dan hubungan yang terjalin antara polisi dan masyarakat akan menjadi pilar yang kuat dalam membentuk masa depan yang lebih damai dan stabil di Papua.
Operasi ini mengadopsi pendekatan yang tidak berfokus pada penegakan hukum tetapi pada upaya untuk membangun perdamaian secara humanis. Program Binmas Noken, misalnya, mengedepankan dialog, kolaborasi, dan resolusi konflik tanpa kekerasan. Pendekatan ini penting dalam mencegah eskalasi konflik dan dalam jangka panjang, membentuk dasar bagi perdamaian yang berkelanjutan.

This research aims to analyze the role of the Operation Rasaka Cartenz Task Force in its contribution through community empowerment in the Papua region and to analyze the strategies carried out in Operation Rasaka Cartenz to build peace in Papua through community empowerment. This research uses a qualitative research approach by means of interviews, observations, and document studies. This research uses data triangulation to maintain its validity.
The conflict problem in the Papua region that has never ended is a mistake in the system that was built a long time ago. The goal of peace has not been achieved because there is still interference from the Armed Criminal Group (KKB), which often attacks innocent parties. Many coercive efforts and repressive measures have been carried out to combat the crimes against humanity that have occurred. However, the National Police was present with Operation Rasaka Cartenz to maintain peace and reduce the egos of sympathizers.
Disruption from the KKB in Papua threatens the stability and welfare of society. However, education and health services must remain available. Operation Rasaka Cartenz plays an important role in empowering the Papuan people, especially through the Binmas Noken Program. This program focuses on law enforcement, education, and health, as well as strengthening police relations with the community through community empowerment. Binmas Noken plays a role in supporting education and health in remote areas and building long-term peace. The Rasaka Cartenz and Binmas Noken operations demonstrate a commitment to addressing security issues and improving the quality of life of the Papuan people.
It cannot be denied that the process of building peace in Papua New Guinea is full of challenges. Disruption from the Armed Criminal Group (KKB) and development injustice are still major obstacles. However, Operation Rasaka Cartenz shows a commitment to facing this challenge not in efforts to eradicate the KKB but in improving the quality of life of the Papuan people, where the complexities of people who are members only as KKB sympathizers can return to joining the Republic of Indonesia.
The community relations strategy of the Rasaka Cartenz Task Force involves a humanist approach, accurate information through the media, collaboration with local figures, and training for community leaders. Revitalizing the role of the National Police in partnerships and community participation is also important. Information transparency and effective communication build public trust. The Rasaka Cartenz Task Force strengthens relations with the Papuan people and creates a conducive environment for cooperation in maintaining security and order with this strategy.
Although peace may not have been fully achieved, efforts to "win the hearts and minds of the people of Papua" through Operation Rasaka Cartenz are an important step in building the basis for peace. The trust and relationship that exists between the police and the community will be a strong pillar in shaping a more peaceful and stable future in Papua New Guinea.
This operation adopts an approach that focuses not on law enforcement but on efforts to build peace in a humane manner. The Binmas Noken program, for example, prioritizes dialogue, collaboration, and non-violent conflict resolution. This approach is important in preventing conflict escalation and, in the long term, forms the basis for sustainable peace.
"
Jakarta: Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
[place of publication not identified]: UN-HABITAT, 2008
621.38 ACH (1)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Harrison, Megan
London: Kogan Page, 1994
347.420 16 HAR b (1)
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Clark, Grenville, 1882-
Cambridge, UK: Harvard University Press, 1966
341.73 CLA w (1)
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Oberschall, Anthony
London : Routledge , 1997
303.6 OBE c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Washington: World Bank, 2005
303.6 RES
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"The psychological components of a sustainable peace moves beyond a prevention-orientation to the study of the conditions for increasing the probabilities for sustainable, cooperative peace. Such a view combines preventative scholarship with a promotive-orientation to the study of peaceful situations and societies. The contributors to this volume examine the components of various psychological theories that contribute to the promotion of a harmonious, sustainable peace. Underlying this orientation is the belief that promoting the ideas and actions which can lead to a sustainable, harmonious peace will not only contribute to the prevention of war, but will also lead to more positive, constructive relations among people and nations and to a more sustainable planet.
"
New York: Springer, 2012
e20396311
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Allen, Carleton Kemp, Sir
London: Stevens & Sons, 1953
340 ALL q
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Singer, J. David
Oxford: Westview Press, 1990
327.072 SIN m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   4 5 6 7 8 9 10 11 12 13   >>