Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 349 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Lavie, Peretz
London: Yale University Press, 1996
612.821 LAV e
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Amir Sjarifuddin Madjid
Depok: UI-Press, 2009
PGB 0049
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Chairunnisa
"Latar Belakang. Multipel sklerosis merupakan penyakit kronik progresif dimana selain dari berbagai gejala neurologis yang ada, gangguan tidur merupakan masalah yang juga memiliki dampak terhadap penyandang penyakit multipel skeloris. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa prevalensi gangguan tidur ditemukan lebih tinggi pada penyandang penyakit multipel skeloris dibandingkan populasi normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi serta pola gangguan tidur pada penyandang penyakit multipel sklerosis di Indonesia.
Metode. Penelitian ini merupakan studi deskritptif potong lintang. Populasi penelitian merupakan pasien dengan penyakit multiple sklerosis yang berobat di RSCM Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi, dan dilakukan pengambilan data klinis dan pengambilan sampel dengan mengisi kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Assessment (PSQI) dan STOP-BANG Sleep Apnea Questionnaire, serta The Mini International Neuropsychiatric Interview ICD-10 (MINI ICD-10). Data yang didapat kemudian dilakukan pengolahan dan analisis data.
Hasil. Dari empat puluh dua subjek MS yang diikutsertakan pada penelitian ini, 32 (76,2%) subjek berusia kurang dari 35 tahun, 34 (81,0%) berjenis kelamin perempuan, 23 (54,8%) subjek tidak bekerja, 9 (21,4%) mengalami depresi, dan 9 (21,4%) memiliki EDSS 6 ke atas. Insomnia ditemukan pada 32 (76,2%) subjek, dengan proporsi yang lebih besar ditemukan pada subjek berusia 35 tahun ke atas (80% vs 75%, p=0,556), berjenis kelamin laki-laki (87,5% vs 73,5%, p=0,374), kelompok yang tidak bekerja (78,3% vs 73,7%, p=0,504), kelompok dengan depresi (77,8% vs 75,8%, p=0,638), dan kelompok dengan EDSS lebih dari sama dengan 6 (77,8% vs 75,8%, p=0,638). Seluruh subjek memiliki risiko OSA dengan 39 (92,9%) subjek memiliki risiko ringan-sedang dan 3 (7,1%) subjek memiliki risiko berat. Hanya laki-laki yang memiliki risiko terhadap kejadian OSA (37,5% vs 0%, p=0,005), tetapi tidak berkaitan terhadap kejadian insomnia.
Kesimpulan. Prevalensi gangguan tidur pada penyandang penyakit multipel skeloris di Indonesia sangat tingi. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi dan pemeriksaan lebih lanjut guna menunjang diagnosis.

Background. Multiple sclerosis (MS) is a chronic progressive disease in which sleep disorder, besides various neurologic manifestations, highly impacts the patients but is often neglected in clinical settings. Several studies had discovered that sleep disorder was more prevalent in MS than general population. This study aimed to investigate the prevalence and characteristics of sleep disorder in MS patients in Indonesia.
Methods. A descriptive cross-sectional study involving MS patients was conducted at Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital Jakarta. In addition to clinicodemographic data collection, data regarding sleep quality, obstructive sleep apnea (OSA), and depression state were assessed using Indonesian previously-validated Pittsburgh Sleep Quality Index, STOP-BANG Sleep Apnea Questionnaire, and The Mini International Neuropsychiatric Interview ICD-10, respectively.
Results. Of forty MS participants included in this study, 29 (72.5%) aged less than 35 years, 32 (80.0%) were women, 20 (50.0%) were unemployed, 10 (25.0%) had depression, and 10 (25.0%) had Expanded Disability Scoring Scale (EDSS) of ≥6. Insomnia was found in 33 (82.5%) participants, of which larger proportion were male (100.0% vs 78.1%, p=0.309. Three (7,1%) participants had moderate risk of OSA. Only male had significant risk of OSA (moderate risk 25.0% vs 0%, p=0.036), but it did not associate with insomnia.
Conclusion. Sleep disorder in MS patients in Indonesia is prevalent. There was potencies of the risk of OSA in MS, especially in male. Detection of insomnia and risk OSA is important in MS comprehensive care."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Prasetio Wardoyo
"ABSTRACT
Kondisi berat badan berlebih pada remaja menjadi masalah kesehatan yang terus menuai perhatian. Bukan hanya disebabkan prevalensinya yang meningkat pesat, namun juga berbagai dampak buruknya pada kesehatan remaja, khususnya pada kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan mempelajari hubungan kondisi berat badan berlebih dengan kualitas tidur pada remaja usia 16 sampai 18 tahun di Jakarta Selatan. Penelitian berdesain potong lintang ini dilaksanakan di dua SMA Negeri di daerah Jakarta Selatan. Sebanyak 186 responden penelitian dengan usia di antara 16 sampai 18 tahun menjalani penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, penentuan IMT dan status gizi menggunakan grafik CDC, serta pengisian Cleveland Adolescent Sleepiness Questionnaire untuk melihat kualitas tidurnya. Prevalensi berat badan berlebih ditemukan sebesar 20,43% (14,52% tergolong overweight, 5,91% tergolong obese) dengan median nilai kuesioner 40,00 (23,00-58,00). Uji Mann-Whitney menemukan bahwa nilai p untuk perbedaan rerata nilai kuesioner terhadap kondisi berat badan berlebih sebesar 0,783. Tidak ditemukan adanya perbedaan antara kualitas tidur terhadap berat badan berlebih pada remaja usia 16 sampai 18 tahun di Jakarta Selatan.

ABSTRACT
Condition of overweight adolescents become a health problem that continues to arouse attention. Not only because of its rapidly increasing prevalence, but also various adverse effects on adolescent health, especially on the quality of sleep. This study aims to study the relationship of the condition of excess body weight with sleep quality in adolescents aged 16 sampai 18 years in South Jakarta. This cross-sectional design study was carried out in two public senior high schools in the South Jakarta. A total of 186 respondents with the age between 16 sampai 18 years old underwent weight measurement, height measurement, determination of BMI and nutritional status using CDC chart, as well as filling the Cleveland Adolescent Sleepiness Questionnaire to see the quality of sleep. The prevalence of overweight was found by 20.43% (14,52% categorized as overweight, 5,91% categorized as obese) with a median value of the questionnaire 40.00 (23.00 to 58.00). Mann-Whitney test found that p-value for mean difference of questionnaires total score to excess weight is 0,783. No differences were found between quality of sleep to excess weight in adolescents aged 16 sampai 18 years in South Jakarta."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diah Pangestika
"Kondisi kualitas tidur buruk yang dialami remaja menjadi salah satu faktor yang memengaruhi konsentrasi belajar pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan konsentrasi belajar pada remaja di Kota Depok. Studi cross sectional dilakukan di sebelas SMA di Kota Depok. Sampel penelitian berjumlah 429 siswa dengan rentang usia 12 sampai 18 tahun dengan rerata usia 16 tahun. Sampel diambil menggunakan metode probability sampling; cluster random sampling dikombinasikan dengan simple random sampling. Instrumen yang digunakan berupa instrumen stres, insomnia, kualitas tidur dan konsentrasi belajar. Hasil penelitian menunjukkan kualitas tidur baik 30,5% (131 orang) dan kualitas tidur buruk 69,5% (298 orang). Siswa dengan konsentrasi belajar baik 17,9% (77 orang), konsentrasi belajar menengah 68,8% (295 orang) dan konsentrasi belajar buruk 13,2% (57 orang). Hasil uji chi square menunjukan ada hubungan yang bermakna antara kualitas tidur dengan konsentrasi belajar (p=0,000). Kualitas tidur dapat memengaruhi tingkat konsentrasi belajar baik ataupun buruk pada siswa. Penelitian ini merekomendasikan agar perawat dan pihak sekolah dapat meningkatkan edukasi terkait tidur dan istirahat agar dapat meningkatkan konsentrasi belajar serta prestasi belajar.

The condition of poor sleep quality experience by adolescents is one of the factors that influence the concentration of learning in adolescents. This study aims to determine the relationship between sleep quality and concentration of learning in adolescents in Depok. The cross sectional study was conducted in eleven high schools in Depok City. The research sample consisted of 429 students with an age range of 12 to 18 years with an average age of 16 years. Samples were taken using probability sampling method; cluster random sampling combined with simple random sampling. The instruments used were instruments of stress, insomnia, sleep quality and learning concentration. The results showed good sleep quality of 30.5% (131 people) and poor sleep quality 69.5% (298 people). Students with good learning concentration 17.9% (77 people), secondary learning concentration 68.8% (295 people) and poor learning concentration 13.2% (57 people). Chi square test results showed a significant relationship between sleep quality and concentration of learning (p = 0,000). Sleep quality can affect the level of concentration of learning good or bad for students. This study recommends that nurses and schools can improve education related to sleep and rest in order to improve learning concentration and learning achievement."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dimas Septiar
"Latar Belakang. Apnea tidur obstruktif (ATO) banyak tidak disadari oleh klinisi dan prevalensinya di Indonesia cukup tinggi. Stroke merupakan penyebab kematian ke-2 di dunia dan Indonesia. ATO meningkatkan risiko kejadian stroke. Karakteristik klinis pasien ATO dengan stroke masih belum banyak diteliti. Tujuan. Mengetahui karakteristik klinis pasien kecurigaan tinggi ATO dengan stroke di RSCM. Metode. Penelitian potong lintang dengan metode consecutive dilakukan pada bulan Maret - Juni 2019 di RSCM (dari Poliklinik Neurologi dan data pencatatan pasien ATO Divisi Respirologi dan Penyakit Kritis Departemen Ilmu Penyakit Dalam). Kecurigaan tinggi ATO ditegakkan berdasarkan kuesioner Berlin-ID. Pasien dibedakan menjadi stroke dan bukan stroke. Pasien yang tidak kooperatif atau menolak penelitian dieksklusi dari penelitian. Usia, jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT), tekanan darah, kadar HbA1c, dan lingkar leher dinilai pada setiap pasien. Ketebalan tunika intima media arteri karotis (CIMT) dinilai pada 23 subyek. Analisis data dilakukan dengan SPSS 24. Hasil Utama. Sebanyak 103 pasien kecurigaan tinggi ATO diikutsertakan dalam penelitian (34 dengan stroke dan 69 bukan stroke). Proporsi pasien kecurigaan tinggi ATO dengan stroke di RSCM adalah 33%. Pasien kecurigaan tinggi ATO dengan stroke dan bukan stroke di RSCM memiliki rerata usia 58,5 dan 57 tahun, 82,4% dan 94,2% mengalami gangguan mendengkur, 61,8% dan 36,2% laki-laki, 20,6% dan 10,1% overweight, 61,8% dan 63,8% obese, 58,8% dan 49,3% hipertensi (80% dan 85,3% tidak terkontrol), rerata CIMT kanan-kiri 0,66-0,71 mm dan 0,59-0,66 mm, 26,5% dan 34,8% diabetes melitus/DM (77,8% dan 64,7% memiliki HbA1c terkontrol), dan median lingkar leher 35,5 dan 34 cm (laki-laki 38 dan 39 cm, perempuan 33,5 dan 35 cm). Simpulan. Proporsi pasien stroke pada kecurigaan tinggi ATO di RSCM adalah 33%. Dibandingkan dengan bukan stroke, pasien kecurigaan tinggi ATO dengan stroke di RSCM memiliki rerata usia yang lebih tinggi, proporsi overweight lebih tinggi, proporsi hipertensi lebih tinggi, rerata CIMT lebih tinggi, proporsi DM dalam terapi dengan HbA1c terkontrol lebih tinggi, dan median lingkar leher lebih tinggi.

Background. Obstructive sleep apnea (OSA) is not recognized by clinicians and its prevalence in Indonesia is quite high. Stroke is the second leading cause of death in the world and Indonesia. OSA increases the risk of stroke events. The clinical characteristics of OSA patients with stroke have not been widely studied. Objective. To know the clinical characteristics of high suspicious OSA patients with stroke in RSCM.. Method. A cross-sectional study using the consecutive method was carried out in March - June 2019 at RSCM (from Neurology Polyclinic and OSA patient record data of Respirology and Critical Illness Division of Internal Medicine Department). High suspicious OSA was diagnosed based on Berlin-ID questionnaire. Subjects were divided into stroke and not stroke. Subjects who were not cooperative or refuse the study were excluded. Age, gender, Body Mass Index, blood pressure, HbA1c levels, and neck circumference were assessed in each patient. The thickness of the carotid artery tunica intima (CIMT) was assessed in 23 subjects. Data analysis was performed with SPSS 24. Result. A total of 103 high suspicious OSA patients were included in the study (34 with stroke, 69 not stroke). The proportion of high suspicious OSA patients with stroke is 33%. Patients with high suspicious OSA with stroke and non-stroke in RSCM had an average age of 58.5 and 57 years, 82.4% and 94.2% experienced snoring disorders, 61.8% and 36.2% men, 20.6 % and 10.1% overweight, 61.8% and 63.8% obese, 58.8% and 49.3% hypertension (80% and 85.3% uncontrolled), mean right-left CIMT 0.66- 0.71 mm and 0.59-0.66 mm, 26.5% and 34.8% diabetes mellitus/DM (77.8% and 64.7% had controlled HbA1c), and the median neck circumferences were 35.5 and 34 cm (males 38 and 39 cm, females 33.5 and 35 cm). Conclusion. The proportion of stroke in high suspicious OSA patients is 33%. Compared with non-stroke, high suspicious OSA patients with stroke in RSCM had a higher mean age, higher overweight proportion, higher hypertension proportion, higher CIMT mean, higher DM in therapy with controlled HbA1c proportion, and higher median neck circumference."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58837
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aisyah Syarofina
"Mahasiswa seringkali dihadapkan oleh beban perkuliahan yang berat sehingga dapat menyebabkan ansietas dan perubahan pola tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat ansietas dengan kualitas tidur. Penelitian ini bersifat analisis dengan pendekatan desain cross sectional study. Responden pada penelitian ini berjumlah 77 mahasiswa program ekstensi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK-UI) yang diambil dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil uji korelasi gamma menunjukkan adanya hubungan antara tingkat ansietas dengan kualitas tidur (p=0,016). Penelitian ini merekomendasikan untuk dilakukan penyuluhan, pelatihan dan konseling secara berkala oleh pihak universitas dan fakultas sebagai upaya menurunkan tingkat ansietas dan memperbaiki kualitas tidur pada mahasiswa. Disarankan pada penelitian selanjutnya untuk meneliti faktor-faktor lain yg dapat memengaruhi tingkat ansietas dan kualitas tidur.

College students are often faced with difficult course that can cause anxiety and changes in sleep patterns. This study aims to determine the relationship between anxiety levels and sleep quality. This research is an analytical study with a cross sectional design approach. Respondents in this study were 77 students of the extension program at the Faculty of Nursing, University of Indonesia (FIK-UI) who were taken using total sampling technique. The instruments used were the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The results of the gamma correlation test showed a relationship between anxiety levels and sleep quality (p = 0.016). This study recommends regular counseling, training and counseling by university and faculty as an effort to reduce anxiety levels and improve sleep quality in students. Suggestions for further research are to search other factors that can affect anxiety levels and sleep quality."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Niken Ageng Rizki
"Latar belakang: Sleep disordered breathing (SDB) merupakan satu spektrum kelainan abnormalitas pola pernapasan pada saat tidur. Diperlukan visualisasi untuk menilai kedinamisan saluran napas atas untuk menentukan lokasi, konfigurasi dan derajat sumbatan saluran napas atas saat terjaga dan saat tidur secara spesifik pada setiap subjek berdasarkan hasil inklusi dari kuisioner STOP BANG dikarenakan karakteristik dan faktor risiko yang berbeda-beda pada setiap individu. Tujuan penelitian: Mengetahui perbedaan lokasi, konfigurasi dan derajat sumbatan jalan napas atas yang terjadi antara pemeriksaan (Perasat Muller) PM saat terjaga dan pemeriksaan Drug Induced Sleep Endoscopy (DISE) saat tidur serta dengan menggunakan pemeriksaan polisomnografi (PSG) untuk menentukan derajat gangguan tidur. Untuk mengetahui hasil pemeriksaan perbedaan saturasi oksigen terendah antara pemeriksaan PSG dan DISE saat tidur, dengan tujuan untuk mendapatkan cara diagnosis yang dapat memberikan nilai tambah pada pasien SDB. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian studi potong lintang (cross sectional) dengan data sekunder yang bersifat retrospektif; 1) Deskriptif analitik, dan 2) Membandingkan gambaran lokasi, derajat dan konfigurasi sumbatan jalan napas dengan pemeriksaan PM, DISE dan PSG pada kasus SDB di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dengan 46 subjek yang diambil dari data Januari 2017 hingga April 2019. Hasil: Karakteristik kelompok pasien SDB pada penelitian ini mempunyai rentang usia antara 18-73 tahun dengan laki-laki dan perempuan mempunyai proporsi yang sama besar. Pada anamnesis didapatkan STOP BANG risiko tinggi sebesar 58,7%, Epworth Sleepiness Scale (ESS) risiko gangguan tidur 93,5%, skor Nasal Obstruction Score Evalutaion (NOSE) dengan risiko hidung tersumbat 97,8%, subjek obesitas 56,5%, subjek dengan Refluks laringofaring (RLF) 67,4%, hipertensi 28,3%, kelainan jantung 30,4%. Terdapat 13 subjek (28,2%) SDB non OSA, 18 subjek (39,13%) OSA ringan, 10 subjek (21,73%) OSA sedang, dan 5 subjek (10,86%) OSA berat. Terdapat perbedaan bermakna pada lokasi dan konfigurasi sumbatan jalan napas atas antara PM dan DISE pada area velum, orofaring dan epiglotis dengan nilai p berturut-turut p = 0,036; p<0,001 dan p = 0,036. Terdapat perbedaan bermakna pada lokasi dan derajat sumbatan jalan napas atas antara PM dan DISE pada area velum, orofaring, dasar lidah dan epiglotis dengan nilai p berturut-turut p = 0,002; p<0,001; p<0,001 dan p<0,001. Subjek dengan SDB non OSA dan OSA ringan dapat juga menunjukkan sumbatan multilevel dengan konfigurasi yang berbeda-beda. Derajat RDI tidak selalu berhubungan dengan konfigurasi sumbatan jalan napas atas. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar saturasi oksigen terendah saat tidur pada saat DISE dan PSG dengan nilai p = 0,055. Pada penelitian ditemukan sumbatan jalan napas atas pada fase tidur REM dan NREM diihat berdasarkan derajat RDI pada PSG, terlihat kecenderungan adanya RDI REM dengan nilai yang lebih tinggi dibandingkan RDI NREM pada subjek dengan OSA ringan dan OSA sedang. Pada SDB non OSA dan OSA berat nilai RDI NREM sama dengan RDI REM.

Background: Sleep disordered breathing (SDB) is a spectrum of breathing abnormality during sleep. Direct visualization needed to evaluate the level, configuration and degree of upper airway obstruction during sleep in each patient due to the difference in characteristic and risk factor of SDB based on STOP BANG questionnaire. Purpose: Evaluate the differences of location, configuration, and degree of upper airway obstruction between Muller Maneuver (MM) during awake and Drug Induced Sleep Endoscopy (DISE) during sleep using polysomnography (PSG) to determine the degree severity of sleep disorder. To evaluate the lowest oxygen saturation between PSG and DISE during sleep thus acquired a better diagnostic value for SDB patient. Methods: Analitical decriptive of cross sectional study with retrospective secondary data evaluate the difference of location, configuration and degree of upper airway obstruction in SDB subject using Mueller Maneuver (MM) and DISE in ENT-HNS Cipto Mangunkusumo Hospital from January 2017 until April 2019 with 46 subjects. Result: The age range of subjects between 18-73 years old, both each male and female are 26 subjects, using anamnesis and questionnaire STOP Bang with high risk 58,7%, ESS high risk of SDB 93,4%, NOSE score with nasal congestion 97,8%, obesity 56,5%, Laryngopharungeal Reflux 67,4%, hypertension 39%, heart disease 30,4%. Based on polysomnography data there were 28,2% subjects with SDB non OSA (Obstructive Sleep Apnea), 39,1% subjects mild OSA, 21,7% subjects moderate OSA, 10,7% subjects severe OSA. Statistically difference in configuration of upper airway obstruction between MM and DISE in level velum (p = 0,036), oropharynx (p<0,001), epiglotits (p = 0,036), also statistically different in location and degree of upper airway obstruction between MM and DISE in velum, oropharynx, tongues base and epiglottis with p = 0,002; p<0,001; p<0,001 dan p<0,001. No statisticaly difference on lowest oxygen saturation during polysomnography and DISE (p = 0,055). Subjects with SDB non OSA and mild OSA alos shown multilevel obstruction with different airwal collaps configuration. RDI degree didnt always correlate with upper airway obstruction configuration. RDI NREM was higher in subject with mild OSA and moderate OSA, in SDB non OSA and severe OSA RDI REM as same as RDI NREM."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T55573
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fiona Valerie Muskananfola
"Tidur merupakan aspek substansial dalam tumbuh kembang anak, mulai dari aspek kesehatan hingga fungsi sehari-hari anak. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi adalah kualitas bonding ibu-anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas bonding ibu-anak terhadap kualitas tidur anak usia batita (0-36 bulan) serta mencari proporsi kedua variabel tersebut.
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan subjek penelitian yaitu ibu beserta anak usia batitanya. Sebanyak 63 ibu beserta anak usia batitanya ikut dalam penelitian ini. Pemilihan subjek penelitian sampel secara konsekutif melalui kesediaan ibu untuk mengikuti penelitian ini.
Penelitian ini menggunakan dua buah kuesioner dalam bahasa Indonesia yaitu, Mother-Infant Bonding Scale (MIBS) untuk menilai bonding ibu-anak dan Brief Infant Sleep Questionnaire (BISQ) untuk menilai kualitas tidur anak usia batita. Pengisian kuesioner dilakukan oleh ibu. Analisa data dilakukan dengan uji korelasi Spearmans melalui SPSS versi 23. Proporsi anak dengan gangguan kualitas tidur sebesar 33,3%.
Pada bonding ibu-anak, ditemukan adanya rasa takut atau panik pada sebagian besar ibu dengan kadar yang berbeda. Meskipun terdapat perasaan negatif terhadap anak, 100% responden ingin melindungi anaknya. Selain itu, ditemukan korelasi berbanding lurus dengan kekuatan korelasi lemah pada bonding ibu-anak dan kualitas tidur anak p<0,05; r=0,392). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gangguan kualitas tidur pada anak memiliki prevalensi cukup tinggi. Ibu dengan nilai MIBS tinggi memiliki risiko gangguan tidur pada anak batitanya.

Sleep is a substantial aspect in a childs development which is reflected in their health and daily functions. Mother-child bonding quality has been said to influence the quality of sleep. This research aims at identifying how the quality of mother-child bonding influences toddlers sleep quality and at analyzing the proportion of the two variables.
The cross-sectional study that analyzes data from a representative subset is adopted in this research with mothers and their toddlers (0-36 months) as the subjects. A group of 63 mother-toddler pairs from consecutive sampling participated in the study.
Two sets of questionnaires in Bahasa Indonesia which are Mother-Infant Bonding Scale (MIBS) to assess the mother-child bonding, and Brief Infant Sleep Questionnaire (BISC) to assess the sleep quality of toddlers were used. The questionnaires were completed by the mothers. Spearmans correlation test was used in the analysis using SPSS v.23. The findings of the study indicate that the proportion of toddlers with sleep problem was 33.3%.
In the mother-child bonding analysis it was found that the majority of mothers experienced various levels of fear and panic attack during parenting. However, despite the negative feelings towards the child, 100% of the respondents are determined to protect their children. The mother-child bonding was found to be significantly correlated with sleep quality of the child. And although there is a statistically weak relationship between the two variables, the direction is positive where stronger bonding between mothers and their toddlers results in higher quality of the children sleep (p<0.05; r=0.392). It can also be concluded that there is a high prevalence of toddlers sleep quality problem and that toddlers of mothers with high MIBS are susceptible to sleeping problem risks.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ria Arihta Ujung
"Prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran di Indonesia melalui Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 sekitar 31,7%, angka tersebut menurun pada tahun 2013 menjadi sekitar 25,8%, dan kembali meningkat pada tahun 2018 sekitar 34,1 % yang merupakan prevalensi terbesar pada sepuluh tahun terakhir. Gangguan tidur diduga menjadi salah satu penyebab kejadian hipertensi. Selain itu, gangguan tidur berisiko meningkatkan penyakit hipertensi dan berujung pada penyakit kardiovaskular.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gangguan tidur dengan kejadian hipertensi di Indonesia dan diperoleh besar risiko hipertensi setelah dikontrol oleh varibel-variabel confounding berikut (umur, tingkat pendidikan, status perawinan, riwayat diabetes mellitus, riwayat kolesterol tinggi, riwayat hipertensi dan konsumsi buah dan sayur) di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan data Indonesia Family Life Survey-5 (IFLS-5) tahun 2014. Sampel penelitian ini berjumlah 36.405. Analisis multivaiat menggunakan uji cox regresi untuk mengetahui besar risiko gangguan tidur terhadap kejadian hipertensi.
Hasil penelitian ini diperoleh prevalensi hipertensi sebesar 21,8%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa orang yang mengalami gangguan tidur memiliki risiko 1,18 kali untuk mengalami hipertensi (PR=1,18). Hasil penelitian menyarankan agar skrining pada orang dengan gangguan tidur harus lebih ditingkatkan, masyarakat khususnya yang berusia 15 tahun ke atas yang mempunyai faktor risiko hipertensi agar rutin menjaga pola hidup sehat; menjadi masukan kepada Kementerian Kesehatan RI untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Posbindu PTM seperti memberikan alat ukur tekanann darah dan membekali pemahaman kader mengenai faktor risiko hipertensi, salah satunya yaitu mengenai kualitas tidur melalui pemberian informasi dan edukasi kepada peserta posbindu PTM.

The prevalence of hypertension based on measurements in Indonesia through Riskesdas 2007 was around 31.7%, the figure declined in 2013 to around 25.8%, and again increased in 2018 around 34.1% which was the largest prevalence in the last ten years . Sleep disorders are thought to be one of the causes of hypertension. In addition, sleep disorders risk increasing hypertension and leading to cardiovascular disease.
This study aimed to determine the relationship of sleep disorders with the incidence of hypertension in Indonesia and obtained the risk of hypertension after being controlled by the following confounding variables (age, education level, marital status, history of diabetes mellitus, history of high cholesterol, history of hypertension and consumption of fruits and vegetables ) in Indonesia. This study was a quantitative study with a cross-sectional design using data from Indonesia Family Life Survey-5 (IFLS-5) in 2014. The sample of this study amounted to 36,405. Multivariate analysis using the cox regression test to determine the risk of sleep disorders in the incidence of hypertension.
The results of this study obtained the prevalence of hypertension is 21.8%. Multivariate analysis showed that people who were sleep disorders had a risk of 1.18 times for having hypertension (PR = 1.18). The results of the study suggest that screening in people with sleep disorders should be improved, people especially at aged 15 years and over who have risk factors for hypertension in order to routinely maintain a healthy lifestyle; became input to the Indonesian Ministry of Health to improve the quality of the implementation of Posbindu PTM such as providing blood pressure measuring devices and equipping cadre understanding of hypertension risk factors, one of which is the quality of sleep through providing information and education to Posbindu PTM participants.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T52578
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   3 4 5 6 7 8 9 10 11 12   >>