Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 349 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sinta Dewi
"Pola tidur yang terganggu dapat mempengaruhi prestasi belajar anak. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan gangguan pola tidur dengan prestasi belajar pada anak usia sekolah. Desain penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional digunakan. Sampel siswa sekolah dasar sebanyak 79 responden dengan teknik random sampling. Analisa uji Pearson Correlation menghasilkan adanya hubungan yang lemah dan berpola negatif yang berarti semakin tinggi gangguan pola tidur maka semakin rendah prestasi belajar. Perawat dapat memberikan konseling kepada orang tua, sekolah, ataupun siswa terkait pola tidur yang baik serta upaya meningkatkan prestasi belajar anak.

Sleep pattern disorder will influence the academic achievement. This study aims to indentify the correlation between sleep pattern disorders to academic achievement during school’s ages. The analytic design applied to 79 samples of Elementary School’s students that were identified by simple random sampling technique. Pearson correlation resulted weak correlation and negative pattern. The nurse may provide consultation to parents, school, or elementary students in order to get better sleep pattern as well as to increase the academic achievement.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pricilla Yani Gunawan
"ABSTRAK
Latar Belakang
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan faktor risiko stroke yang belum lama
diketahui dan salah satu metode skrining OSA adalah kuesioner STOP-Bang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi risiko OSA menggunakan
kuesioner STOP-Bang dan melihat hubungannya dengan faktor risiko stroke lain.
Metode
Studi secara potong lintang. Sebanyak 202 subjek berusia ≥ 35 tahun non stroke,
dari lima wilayah Jakarta bulan April hingga Juni 2013, diwawancara tentang
kuesioner STOP-Bang dan faktor resiko vaskular lain, kemudian dianalisa.
Hasil
Sebanyak 100 subjek (49.5%) memiliki risiko tinggi OSA, dimana 70%
diantaranya adalah pria dan risiko meningkat seiring dengan peningkatan usia.
Item pertanyaan dengan nilai estimasi kemungkinan risiko paling tinggi adalah
lingkar leher (p=0.000, OR 23.5; 95%CI 5.5-101.5), diikuti dengan berhenti
bernapas saat tidur (p=0.000, OR 22.9; 95%CI 6.8-77.4), mendengkur (p=0.000,
OR 19.1; 95%CI 9.3-38.9), jenis kelamin (p=0.000, OR 5.9; 95%CI 3.2-10.8),
kelelahan di siang hari (p=0.000, OR 4.3; 95%CI 2.4-7.7), usia (p=0.000, OR 4.1;
95%CI 2.3-7.3) dan riwayat pengobatan tekanan darah (p=0.000, OR 3.9; 95%CI
1.9-8). Item indeks massa tubuh tidak dapat dianalisa. Faktor-faktor risiko stroke
lain berhubungan dengan risiko tinggi OSA dengan kontribusi secara berturutan
dari yang paling tinggi adalah aritmia (p=0.000, OR 9.5; 95%CI 2.1-42.6),
diabetes melitus (p=0.000, OR 4.5; 95%CI 1.9-11), merokok (p=0.000, OR 3.7;
95%CI 1.9-6.9), hipertensi (p=0.000, OR 3.6; 95%CI 2-6.5), obesitas sentral
(p=0.002, OR 2.6; 95%CI 1.4-4.7), dan dislipidemia (p=0.046, OR 2.1; 95%CI 1-
4.1).
Kesimpulan
Semua item pertanyaan kuesioner, kecuali indeks massa tubuh, menunjukkan
perbedaan yang bermakna antara risiko tinggi dan risiko rendah OSA. Faktor
risiko stroke lain yang memiliki estimasi risiko OSA dari yang paling tinggi
adalah aritmia, diikuti dengan diabetes melitus, merokok, hipertensi, obesitas
sentral, dan dislipidemia

ABSTRACT
Background
Obstructive Sleep Apnea (OSA) is one of the recent stroke risk factor to be
discovered. One screening method is the STOP-Bang questionnaire. The purpose
of this study is to know the prevalence of high risk OSA using the STOP-Bang
questionnaire and analyze its correlation to other stroke risk factors.
Methods
As much as 202 subjects age ≥ 35 years old who never had a stroke, were
analysed cross sectionally, from five regions of Jakarta, between April 2013 until
June 2013. Each subject was interviewed using the STOP-Bang questionnaire,
and other stroke risk factors, and then analysed
Results
As much as 100 subjects (49.5%) had high risk OSA, whereas 70% of them were
male and the risk of developing OSA increases with age. Questionnaire’s item
with the highest odds ratio were neck circumference (p=0.000, OR 23.5; 95%CI
5.5-101.5), followed by observed of not breathing(p=0.000, OR 22.9; 95%CI 6.8-
77.4), snoring (p=0.000, OR 19.1; 95%CI 9.3-38.9), sex (p=0.000, OR 5.9;
95%CI 3.2-10.8), daytime sleepiness (p=0.000, OR 4.3; 95%CI 2.4-7.7), age
(p=0.000, OR 4.1; 95%CI 2.3-7.3) and history of hypertensive treatment
(p=0.000, OR 3.9; 95%CI 1.9-8). Body mass index could not be analysed. Other
stroke risk factors that correlate with high risk OSA from the greatest likelihood
were arrhytmia (p=0.000, OR 9.5; 95%CI 2.1-42.6), diabetes melitus (p=0.000,
OR 4.5; 95%CI 1.9-11), smoking (p=0.000, OR 3.7; 95%CI 1.9-6.9),
hypertension (p=0.000, OR 3.6; 95%CI 2-6.5), central obesity (p=0.002, OR 2.6;
95%CI 1.4-4.7), and dyslipidemia (p=0.046, OR 2.1; 95%CI 1-4.1).
Conclusions
All of the questionnaire items, except body mass index, revealed significant
difference between high risk and low risk OSA. Other stroke risk factors from the
greatest likelihood to coincide with high risk OSA were arrhtmia, diabetes
mellitus, smoking, hypertension, central obesity, and dyslipidemia"
2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Dimas Faturamadhan
"Permasalahan kualitas tidur menjadi salah satu hal yang umum ditemui pada kelompok mahasiswa. Kualitas tidur buruk ditemukan berasosiasi positif dengan kesepian. Hal ini mengingat mahasiswa masih berada di tahapan perkembangan yang rentan terhadap munculnya kesepian. Mekanisme hubungan antara kesepian dan kualitas tidur diduga dimediasi oleh cara individu merespons terhadap pengalaman kesepian tersebut. Salah satu respons yang umum dilakukan oleh individu saat menghadapi kesepian adalah ruminasi atau memikirkan pengalaman suasana hati negatif secara berulang-ulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ruminasi sebagai mediator antara hubungan antara kesepian dan kualitas tidur pada mahasiswa Indonesia. Partisipan pada penelitian ini terdiri atas 124 mahasiswa strata 1 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Indonesia (M = 21,08; SD = 0,95). Alat ukur yang digunakan adalah UCLA Loneliness Scale version 3 untuk mengukur kesepian, Ruminative Response Scale Short Version untuk mengukur ruminasi, dan Pittsburgh Sleep Quality Index untuk mengukur kualitas tidur. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ruminasi terbukti secara signifikan berperan sebagai variabel mediator antara hubungan kesepian dan kualitas tidur pada mahasiswa (ab = 0,0198, 95% CI [0,0052, 0,0391]). Hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi kepada mahasiswa untuk mengadopsi respons yang lebih adaptif dalam menghadapi kesepian serta kepada perguruan tinggi dan tenaga kesehatan mental profesional untuk merancang intervensi yang dapat meminimalisasi tingkat kesepian dan ruminasi pada mahasiswa.

Sleep quality problems are common among university students. Poor sleep quality was found to be positively associated with loneliness. This is because students are still at a stage of development that is vulnerable to the emergence of loneliness. The mechanism of the relationship between loneliness and sleep quality is thought to be mediated by the way individuals respond to the experience of loneliness. One of the common responses made by individuals when facing loneliness is rumination or thinking about negative mood experiences repeatedly. This study aims to determine the role of rumination as a mediator in the relationship between loneliness and sleep quality in Indonesian university students. Participants in this study consisted of 124 undergraduate students from state and private universities in Indonesia (M = 21.08; SD = 0.95). The instruments used were the UCLA Loneliness Scale version 3 to measure loneliness, the Ruminative Response Scale Short Version to measure rumination, and the Pittsburgh Sleep Quality Index to measure sleep quality. The results of statistical analysis show that rumination is proven to significantly act as a mediator variable in the relationship between loneliness and sleep quality in college students (ab = 0.0198, 95% CI [0.0052, 0.0391]). The results of this study can be a recommendation for students to adopt more adaptive responses in dealing with loneliness and for universities and mental health professionals to design interventions that can minimize the level of loneliness and rumination in college students."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Sagung Seto, 2018
616.849 8 PAN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Amalia Reza Setyawati
"Remaja mengalami penurunan kualitas dan kuantitas tidur. Masalah penurunan kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh pengetahuan sleep hygiene. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan sleep hygiene pada mahasiswa. Desain penelitian menggunakan deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan menggunakan sampel mahasiswa usia remaja yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian mengidentifikasi 52,5% responden memiliki pengetahuan sleep hygiene yang kurang dan 47,5% responden memiliki pengetahuan sleep hygiene yang baik. Institusi pendidikan perlu mengevaluasi metode pembelajaran mata kuliah tidur dan istirahat sehingga pengetahuan mahasiswa terkait sleep hygiene meningkat.

Adolescents experience a decline in the quality and quantity of sleep. Decreased quality of sleep problems can be affected by sleep hygiene knowledge. The study aims to describe the sleep hygiene knowledge in students. Research design using a descriptive with cross-sectional approach and the sample was students were selected by purposive sampling technique. The results of the study identified 52.5% of respondents had less sleep hygiene knowledge and 47.5% of the respondents had good sleep hygiene knowledge. Educational institutions need to evaluate teaching methods in sleep and rest course so students? knowledge about sleep hygiene can be improved.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
S55906
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Ikhsan Wibowo
"ABSTRAK
Kebiasaan sebelum tidur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas tidur. Islam mengajarkan pemeluknya adab tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara kebiasaan tidur menurut ajaran Islam dan kualitas tidur. Penelitian ini menggunakan rancangan analitik dengan pendekatan potong lintang pada 200 mahasiswa muslim yang dipilih menggunakan simple random sampling. Instrumen untuk menilai kualitas tidur menggunakan The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan kuesioner kebiasaan tidur yang dikembangkan peneliti (? croncbach= 0,754). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan tidur menurut ajaran Islam dan kualitas tidur pada mahasiswa muslim (p= 0,447; ? 0,05). Sebagian besar (53,5%) mahasiswa muslim tidak rutin melakukan kebiasaan tidur menurut ajaran Islam dan rerata kualitas tidur mahasiswa muslim tergolong buruk (skor PSQI 7,79 ± 2,515). Penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur dan cara meningkatkan kualitas tidur pada mahasiswa perlu dilakukan.

ABSTRACT
Sleep habits were one of the factors that affected the quality of sleep. Islam taught followers about manners of sleep. This study aimed to identify the relationship between sleep habits according to guidance of Islam and quality of sleep. The research design used analytical study with crosssectional approach to 200 muslim students were choosed by simple random sampling. This research used the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) and Islamic sleep habits questionnaire (? croncbach= 0,754) developed by the researcher. The results of this study showed that there was no relationship between sleep habits according to the guidance of Islam and the sleep quality of Muslim students (p = 0.447; ? 0.05). Most of Muslim students (53.5%) do not routinely sleeping habits according to the guidance of Islam and the average of Muslim students belonging to bad sleep quality (PSQI score of 7.79 ± 2.515). Further research on the factors that affect the quality of sleep and how to improve the quality of sleep on the student needs to be done.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
S55342
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yohana Raisita Damalia Mari
"Kualitas tidur yang tidak memadai dapat berdampak buruk terhadap kinerja pekerjaan perawat, yang akan berimbas pada keselamatan pasien dan keselamatan perawat itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara kualitas tidur dan kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan potong lintang pada 120 perawat di ruang rawat inap RSUD Cibinong yang dipilih dengan total sampling. Kualitas tidur diukur dengan kuisioner The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan kinerja diukur dengan kuisioner kinerja perawat yang dimodifikasi dari kuisioner Royani.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara kualitas tidur dengan kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSUD Cibinong (p=0,002, α= 0,05). Skor total PSQI pada perawat yang berkinerja baik lebih rendah 1,42 poin dibanding yang berkinerja kurang baik. Kegiatan untuk meningkatkan kualitas tidur dan kinerja perlu diprogramkan oleh perawat dan manajemen rumah sakit melalui pengaturan jadwal kerja yang sesuai dan peningkatan sumber daya perawat melalui sekolah, serta perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan kualitas tidur dan kinerja perawat.

Poor sleep quality and sleep deprivation adversely impact work performance, patient safety and nurse safety. This study aims to identify the relationship between sleep quality and performance of nurses in implementing nursing care. The study design was cross-sectional analytic approach to the 120 nurses in the inpatient hospital Cibinong selected with a total sampling. Quality of sleep was measured with a questionnaire The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) and the performance is measured by the performance of the nurse questionnaire modified from the questionnaire Royani.
The results of this study indicate that there is a relationship between sleep quality and nurse?s performance in implementing nursing care in inpatient wards Cibinong hospital (p = 0.002, α = 0.05). PSQI total score on the nurse who performs well 1,42 points lower than the poor performers. Activities to improve the quality of sleep and performance need to be programmed by nurses and hospital management through appropriate setting work schedules and increased resource of nurses, as well as the further research related to sleep quality and performance of nurses.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
S57517
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Septi Rizkia Amalida
"ABSTRAK
Klien kanker payudara yang menjalani kemoterapi diduga rentan terhadap
gangguan pemenuhan kebutuhan tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
gambaran pemenuhan kebutuhan tidur pada klien kanker payudara yang menjalani
kemoterapi. Penelitian bersifat cross-sectional dengan 75 responden yang berasal
dari rumah sakit. Penelitian menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality
Index yang telah dimodifikasi sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
klien kanker payudara yang menjalani kemoterapi memiliki pemenuhan
kebutuhan tidur dengan rata-rata skor 7.96 ± 4.36 dari skor total 18 (95%CI,
6.96:8.96). Sebanyak 65% responden mengalami kekurangan dalam pemenuhan
kebutuhan tidur selama satu sampai dua minggu setelah kemoterapi. Pengkajian
keperawatan serta intervensi keperawatan terhadap pemenuhan kebutuhan tidur
klien perlu dilakukan untuk mencegah efek samping gangguan tidur yang dapat
menganggu jalannya kemoterapi sehingga proses penyembuhan klien terhambat

ABSTRACT
Breast cancer clients who undergoes chemotherapy, is susceptible to sleep
disorders. This research aims to identify the sleeping needs fulfillment of the
breast cancer client who undergoes chemotherapy. This research was crosssectional
recruited 75 respondents in the hospital. The modified version of
Pittsburgh Sleep Quality Index questionnaire was used in this research. The
research result showed that respondents have sleeping needs fulfillment with
average score of 7.96 ± 4.36 with the total score of 18 (95%CI, 6.96:8.96). About
65% respondents became a poor sleeper in one until two weeks after
chemotherapy. Nursing assessment and intervention against the client's sleeping
behavior is needed to prevent the side effect of sleep disorders which can interfere
with the chemotherapy cycle so the client's healing process is hampered"
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
S54314
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library