Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 544 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Jakarta: Yayasan Beringin Sejahtera Indonesia, 1996
R 616.95 HIM
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Pohan, Herdiman Theodorus
"Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan data demografi, faktor risiko, gambaran klinis, infeksi oportunis/ko-infeksi dan perbedaannya pada rumah sakit pemerintah dan swasta. Penelitian retrospektif-deskriptif dilakukan di RSUPN-Dr. Cipto Mangunkusumo (RS pemerintah) dan RS Medistra (RS swasta) di Jakarta. Kriteria inklusi mencakup kasus HIV/AIDS yang dirawat pada tahun 2002-2003, dan hasil serologi HIV positif dengan metode Elisa. Data sekunder didapatkan dari rekam medis. Enam puluh enam subyek diikut-sertakan dalam penelitian (RS pemerintah 30 subyek dan RS swasta 36 subyek), terdiri dari 59 pria (89.4%) dan 7 wanita (10.6%). Tiga puluh tujuh persen subyek didiagnosis HIV dan 62% AIDS. Faktor risiko yang didapat mencakup pengguna narkoba (59.1%), homoseksual (13.6%), heteroseksual (21.1%), transfusi (1.5%) dan perinatal (1.5%). Gejala klinis terutama berupa demam akut (56.2%), penurunan berat badan (39.4%), batuk (38.8%), sesak nafas (27.2%), diare kronik (22.8%), demam berkepanjangan (19.7%), penurunan kesadaran (15.3% dan, anoreksia (15.3%). Perbedaan bermakna antara RS pemerintah dan swasta didapatkan pada keluhan demam dan batuk. Presentasi klinis pasien HIV/AIDS selama perawatan mencakup : pnemonia (56%), oral trush (22.6%), anemia (56.5%), lekopenia (32.3%), limfopenia (55.9%), peningkatan SGOT/SGPT (66.1%), hipoalbuminemia (46.9%), limfadenopati (10.6%), lesi serebral (7.6%), ensefalopati (6.0%), tuberkulosis paru dan efusi pleura (10.6%). Infeksi oportunis dan ko-infeksi mencakup kandidosis (25.8%), hepatitis C kronik (24.2%), hepatitis B dan C kronik (4.5%), tb paru, limfadenitis dan tb milier. Kandidosis dan tb paru lebih sering ditemukan di RS pemerintah. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa manifestasi klinis HIV/AIDS berupa pria/wanita usia muda dengan satu atau lebih faktor risiko, mengalami demam, keluhan pernapasan, penurunan berat badan, diare kronik, lemah, oral trush, anemia, lekopenia, limfopenia. Pasien yang dirawat di RS swasta menunjukkan gejala yang lebih bervariasi sedangkan yang dirawat di RS pemerintah menunjukkan kondisi yang lebih berat dan stadium lebih lanjut. (Med J Indones 2004; 13: 232-6)

The aims of this study is to determine the demographic data, risk factors, clinical presentations, opportunistic/co-infections and its difference between public and private hospitals. A retrospective-descriptive study was conducted in Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital (public hospital) and Medistra Hospital (private hospital), Jakarta. The inclusion criteria were new HIV/AIDS cases admitted in year 2002-2003 and positive HIV serology (Elisa method). Secondary data were collected form medical record. Sixty-six subjects were enrolled in this study (public hospital 30 subjects and private hospital 36 subjects), consist of 59 male (89.4%) and 7 female (10.6%). Thirty-seven percent subjects were defined as HIV and 62% AIDS. Risk factors obtained include drug user (59.1%), homosexual (13.6%), heterosexual (21.1%), transfusion (1.5%) and maternal-child (perinatal) (1.5%). The clinical symptoms mainly present as acute fever (56.2%), weight loss (39.4%), cough (38.8%), shortness of breath (27.2%), chronic diarrhea (22.8%), prolong fever (19.7%), loss of conciousness (15.3%), anorexia (15.3%). Significant differences between public and private hospitals were seen in fever and cough symptoms. Clinical presentation of HIV/AIDS patients during admission were : pneumonia (56%), oral trush (22.6%), anemia (56.5%), leucopenia (32.3%), lymphopenia (55.9%), elevated AST/ALT (66.1%), hypoalbuminemia (46.9%), limphadenopathy (10.6%), brain space occuping lesion (7.6%), encephalopathy (6.0%), pulmonary tb and pleural effusion (10.6%). The opportunistic and co-infections present were candidiasis (25.8%), chronic hepatitis C (24.2%), chronic hepatitis B and C (4.5%), pulmonary tb, lymphadenitis and miliary tb. Candidiasis and pulmonary tb were frequently found in public hospital. In conclusion from this study that clinical manifestation of HIV/AIDS were young man or woman, with one or more possible risk factor, had fever, respiratory complain, loss of body weight, chronic diarrhea, fatique, oral trush, anemia, leucopenia, lymphopenia. Patients admitted in private hospital had varied complain; and patients that admitted in public hospital had more severe and advance condition. (Med J Indones 2004; 13: 232-6)"
Medical Journal of Indonesia, 2004
MJIN-13-4-OctDec2004-232
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang dilaksanakannya Program League
Of Change, pola komunikasi pada program League Of Change dan dampak yang dirasakan oleh ODHA
setelah mengikuti program League Of Change. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif,
dengan paradigma konstruktivisme dan jenis penelitian studi kasus. Subjek penelitian adalah orang-orang
yang mempunyai peran dalam program League Of Change yang dipilih secara purposif. Pengumpulan data
diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi dan studi pustaka. Data yang diperoleh akan melewati
tahapan triangulasi sebagai sarana pengecekan, pemeriksaan dan perbandingan kembali dengan derajat
kepercayaan suatu informasi yang dilakukan oleh seseorang yang ahli dalam bidang HIV/AIDS. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang dilaksanakannya program League Of Change berasal dari
tiga faktor kepentingan yaitu ODHA, organisasi, dan masyarakat. Pola komunikasi pada program League
Of Change terjadi melalui dua proses komunikasi yaitu dari komunitas kepada ODHA, dan dari komunitas
kepada masyarakat. Dampak yang dirasakan oleh ODHA setelah mengikuti program League Of Change
dibagi menjadi dua bagian yaitu dampak internal, dan dampak eksternal."
384 JKKOM 3:1 (2015)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Pohan, Herdiman Theodorus
Jakarta: UI-Press, 2006
PGB 0168
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Zubairi Djoerban
Jakarta: UI-Press, 2003
PGB 0207
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Mulyati
"Candida merupakan jamur yang dapat hidup sebagai saprofit di saluran pernapasan, saluran cerna dan kotoran di bawah kuku orang sehat. Selain sebagai komensal jamur tersebut juga dapat menyebabkan infeksi atau kandidosis baik superfisial maupun sistemik. Perubahan dari bentuk saprofit menjadi patogen terjadi bila ada faktor predisposisi yang biasanya merupakan penurunan imunitas tubuh. Salah satu keadaan dengan penurusan sistem imunitas adalah HIV/AIDs yang dapat mengubah sifat jamur yang semula komensal menjadi patogen. Pada penderita AIDS biasanya terjadi kandidosis oral atau esofagitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies Candida yang diisolasi dari tinja penderita HIV/AIDS dengan diare. Bahan penelitian yang digunakan adalah 95 sampel tinja penderita HIV/AIDS yang menderita diare. Tinja penderita dibiak pada medium SDA kemudian dilanjutkan dengan identifikasi spesien secara morfologis dan biakan dengan Chromagar. Pada isolasi didapatkan 71 (&4,74%) dari95 biakan tumbuh koloni khamir yang terdiri dari Candida 42 (44.21%), Geotichum (25.26%), campuran Candida danGeotrichum 3 (3.16%), Rhodotorula dan Trichosporon masing masing 1 (1.05%). Identifikasi species Candida menghasilkan tujuh spesies yaitu C. albicans, C. tropicalis, C. krusei, C. guilliermondii, C. glabrata, C. lusitaniae dan C. kefyr. Ternyata dari tinja penderita HIV AIDS dapat diisolasi berbagai spesies khamir. Dengan penelitian ini memang belum dapat dipastikan peran khamir di atas sebagai penyebab penyakit, namin perlu diingat bahwa salah satu petanda masuknya seorang pengandung HIV menjadi AIDS adalh infeksi Candida superfisial, jadi kemungkinan peran Candida sebagai penyebab diare tidak dapat disingkirkan.

Candida is asaprophyte in the human respiratory tract, gastro intestinal tract and also in the debris under the nail. In patients with compromised immunity such as HIV-AIDS, Candida is able to cause infection, in this case oral candidosis or esophagitis. In this study fungi were isolated from the stools of HIV/AIDS patients. Samples consisting of 95 diarrheic stools from HIV/AIDS patients were investigated for the yeast especially Candida spp. The stools were inoculated onto Sabouraud dextrose agar then the fungi were identified using morphological methods and Chromaga medium. Yeast colonies were found in 71 (74.74%) out od 95 samples from which Candida was 42 (44.21%), Geotrichum 24 (25.26%), and mixed of Candida and Geotrichum 3 (3.16%), Rhodotorula and Trichosporon 1 (1.05%) each. Species of Candida were identified as C. albicans, C.tropicalis, C. kruesei, C. guilliermondii, C. glabrata, C. lusitaniae dan C. kefyr. Although Candida could be isolated from the diarrheic stolls of HIV/AIDS patients but its role on the cause of diarrhea is still questionable."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, 2002
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Depok: Departemen Kriminologi FISIP UI, 2008
323DEPL001
Multimedia  Universitas Indonesia Library
cover
I.G.N. Sri Wahyudi
"Penelitian ini berjudul ?Efektivitas Program Layanan Jarum dan Alat Suntik Steril (LJASS) dari Sudut Pandang Stakeholder (Studi Kasus di Puskesmas Kecamatan Tebet)?. Penelitian ini dilandasi atas permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan kasus tindak pidana penyalahgunaan narkoba dan kasus penyebaran HIV/AIDS. Kendati telah dibentuk Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), dan KPAN pun telah merumuskan Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV/AIDS melalui Program Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan Narkoba Suntik, tetapi penyebaran virus HIV/AIDS, berdasarkan data yang ada, menunjukkan kecenderungan terus meningkat dari waktu ke waktu. Program LJASS ini telah berlangsung selama 2 tahun (dari akhir tahun 2006 - Desember 2008) di beberapa Puskesmas sebagai Pilot Project yang tersebar di 2 (dua) propinsi, yaitu propinsi Bali dan DKI Jakarta. Khusus Puskesmas yang beroperasi di DKI Jakarta berjumlah 33 Puskesmas dengan rincian 1 Puskesmas tingkat kelurahan dan 32 Puskesmas tingkat kecamatan termasuk Puskesmas Kecamatan Tebet.
Adapun pertanyaan penelitian yang diajukan adalah bagaimanakah efektifitas pelaksanaan Program LJASS yang berlangsung selama ini (mulai dari akhir tahun 2006 - Desember 2008) ?, bagaimanakah pemahaman para stakeholder terhadap penerapan program pengurangan dampak buruk penggunaan narkoba suntik khususnya Program LJASS ?, bagaimanakah penguasaan, kemampuan dan ketrampilan kalangan stakeholder dalam menerapkan Program LJASS sesuai ketentuan yang berlaku ?, dan bagaimanakah pendapat stakeholder berkenaan dengan penerapan Program LJASS tersebut ?.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara, wawancara mendalam dan observasi. Responden penelitian ini sebanyak 21 orang yang mewakili dari berbagai stakeholder, yaitu: Depkes (Dokter, Paramedis, Kader Muda), KPA, Kepolisian, LSM, Masyarakat dan Pengguna Narkoba Suntik (Penasun).
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Program LJASS yang berlangsung selama ini dapat dikatakan tidak efektif. Hal ini ditunjukkan dengan beragamnya pemahaman para stakeholder. Mereka yang memiliki pemahaman kategori kurang adalah Kepolisian, Masyarakat dan Penasun. Mereka yang memiliki pemahaman kategori cukup adalah LSM dan Kader Muda. Sedangkan mereka yang memiliki pemahaman kategori baik adalah kalangan Puskesmas (Dokter dan Paramedis) dan KPA.
Hasil penelitian ini juga mengungkapkan bahwa kemampuan, penguasaan dan ketrampilan stakeholder juga beragam. Mereka yang memiliki kemampuan, penguasaan dan ketrampilan kategori kurang adalah Kepolisian, Masyarakat dan Penasun. Mereka yang memiliki kemampuan, penguasaan dan ketrampilan kategori cukup adalah LSM dan Kader Muda. Sedangkan mereka yang memiliki kemampuan, penguasaan dan ketrampilan kategori baik adalah kalangan Puskesmas (Dokter dan Paramedis) dan KPA.
Selain itu, hasil penelitian ini juga mengungkapkan bahwa para stakeholder memiliki pendapat yang beragam. Sebagian mengatakan setuju Program LJASS ini terus dilaksanakan, sebagian lainnya mengatakan tidak setuju. Mereka yang mengatakan setuju dengan pelaksanaan program tersebut beralasan bahwa program tersebut sangat membantu Penasun untuk mendapatkan jarum suntik steril dan dapat mencegah penyebaran virus HIV/AIDS di kalangan sesama Penasun, keluarga dan masyarakat luas. Sedangkan mereka yang tidak setuju dengan program tersebut beralasan bahwa program tersebut tidak berjalan efektif dan sia-sia belaka. Hal ini ditandai dengan: Tidak tertibnya Penasun mengikuti program (tidak berkunjung dan berobat ke Puskesmas secara teratur, tidak selalu mengembalikan jumlah jarum suntik bekas ke Puskesmas sesuai dengan jumlah jarum suntik yang diterima, yang sudah beralih ke Program Substitusi Narkoba-Metadon ternyata masih kadang-kadang menggunakan narkoba suntik, tidak menggunakan kondom ketika berhubungan intim dengan pasangan seksualnya dengan alasan tidak enak kalau pakai kondom, masih bertukar jarum suntik meski sudah diberi Paket Perjasun); kurang paham dan menguasainya Stakeholder dalam menerapkan program ini sesuai dengan peran masing-masing; tidak terkoordinasinya pelaksanaan Program LJASS antara yang dilaksanakan oleh LSM dan Puskesmas, sehingga tidak tercipta keterpaduan pelaksanaan program dan pencapaian tujuan program sulit dikontrol atau diukur; tidak harmonisnya landasan hukum Permenkokesra No: 02/PER/MENKO/KESRA/I/2007 dengan UU No: 22 tahun 1997 tentang Narkotika dan UU No: 5 tahun 1997 tentang Psikotropika. Ini semua akhirnya bermuara pada tidak tercapainya tujuan program atau dengan kata lain program tersebut tidak efektif.
Berkaitan dengan hal itu, peneliti berkesimpulan bahwa Program LJASS yang dilaksanakan di Puskesmas Tebet berjalan tidak efektif, dan oleh karenanya program tersebut harus dihentikan. Peneliti menyarankan agar program tersebut diganti dengan Program Substitusi Narkoba (Metadon).

This study entitled : ?EFFECTIVITY OF THE STERILE NEEDLE PROGRAM FROM THE STAKEHOLDER?S PERSPECTIVE (Case study at the Tebet Subdistrict Community Health Center (Puskesmas))?. The study is based on the problem related to the increase of drug criminal cases and the transmission of HIV/AIDS. Notwithstanding the establishment of the National AIDS Commission (KPAN) in formulating a National Policy in Dealing with HIV/AIDS thgrough the Harm Reduction Program, based on the available data the transmission of HIV/AIDS is constantly increasing from time to time. The Sterile Needle Program has been implemented as a Pilot Project for two (2) years (from late 2006 to December 2008) at several Community Health Centers in two provinces, Bali and Jakarta Metropolitan District (DKI). There are 33 Community Health Centers in Jakarta implementing this program,, 1 at the village level and 32 at the sub-district level, including the Tebet Sub-district Community Health Center.
The questions raised are as follows : how effective has the sterile needle program been so far (from late 2006 ? December 2008); do the stakeholders comprehend the application of the harm reduction program for Injection Drug Users IDUs), in particular the sterile needle program?; what is the level of mastery, capability and skill of the stakeholder in applying the sterile needle program according to the prevailing provisions?; and what is their opinion in respect of the application of the Sterile Needle Program?
The study is based on the qualitative approach and the instrument used is in depth interviews and observations. 21 respondents representing the related stakeholders were interviewed: from the Departement of Health (physicians, paramedics, young cadres), National AIDS Commission (KPA), Police, NGOs, Community elements and Injection Drug Users (IDUs).
The outcome of the study shows that the Sterile Needle Program that has been implemented till today is not effective, as this is shown by the different levels of comprehehension. Those who lack adequate understanding are the Police, Community and Injection Drug Users (IDUs). Those who have adequate understanding are the NGOs and Young Cadres, while the only group with good mastery are the physicians and paramedics at the Community Health Clinics and KPA.
Results of the study also show the variety in the levels of capability, mastery and skill possessed by stakeholders. Those with inadequate levels of capability, mastery and skill are the Police, Community and Injection Drug Users. Those showing a better level of capability, mastery and skill are the NGOs and Young Cadres, while those in the possession of good capabilities, mastery and skill are the group of physicians and paramedics at the Helath Centers and KPA.
Another outcome of the study is the various views shared by the stakeholder. Some of the stakeholders do not agree to continue the program of sterile needles against the other group. Those who are in favour of the program implementation say that the program certainly helps IDUs in obtaining sterile needles, and prevents the transmission of HIV/AIDS virus among IDUs, members of the family as well as the community as a whole. On the other hand, those who are not in favour of the program view that the program is not effective and useless, which is indicated by the indiscipline adherence of the program by IDUs (absence of regular visits to the Health Center, not returning used needles in accordance with the number of needles received, and those IDUs who have turned to the Methadone Substitution Program sometimes still share the needle, to not use condoms with their sexual partner because it is not comfortable); the inadequate comprehension and mastery by the stakeholders in applying the program is based on their respective role; lack of coordination between the NGOs and Community Health Centers in the implementation of the Sterile Needle Program. As a result there is no integration in the program implementation, while difficulties are encountered in controlling and measuring the achievement of the program; lack of harmony in the legal basic of the Minister Coordinator of People Welfare?s Regulation No. : 02/PER/MENKO/KESRA/I/2007, Law No. 22 of 1997 on Narcotic Drugs and Law No. 5 of 1997 on Psychotrophic Substances. All the issues virtually do not make the program achieved its aim, in the other word, the program is not effective.
Therefore, the performer of the study takes the conclusion that the sterile needle program implemented at Tebet Community Health Center is not effective, and should be terminated and suggests the program to be changed with the Metadon Substitution Program.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2008
T25576
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Buku yang berjudul "Guidelines for HIV/AIDS interventions in emergency settings" ini merupakan sebuah buku panduan mengenai HIV/AIDS."
[place of publication not identified]: UNAIDS, [Date of publication not identified]
R 616.979 2 GUI
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
<<   3 4 5 6 7 8 9 10 11 12   >>