Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 277 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andri Ishariadi
"ABSTRAK
Globalisasi terjadi di segala bidang, termasuk institusi perkawinan terkena
era globalisasi ini. Bentuk perkawinan non-tradisional semakin berkembang dalam
masyarakat. Hal yang menarik untuk diteliti dalam hal ini adalah bagaimana
persepsi golongan usia dewasa muda terhadap bentuk perkawinan yang mereka
inginkan.
Untuk menjawab permasalahan tersebut dilakukan penelitian yang bersifat
eksploratif yang bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai suatu gejaia
tertentu atau mendapatkan ide-ide baru mengenai gejala itu dengan maksud untuk
merumuskan masalahnya secara lebih terperinci atau untuk mengembangkan
hipotesa. (Koentjaraningrat, 1985). Penelitian ini berusaha untuk mengetahui
bagaimana persepsi golongan usia dewasa muda terhadap bentuk perkawinan yang
diinginkan.
Beberapa tokoh membagi bentuk perkawinan ke dalam beberapa kategori,
seperti Turner & Helms (1982) membagi bentuk perkawinan ke dalam 3 kategori, yaitu tradisional marriage, companionship marriage dan collegial marriage.
Sementara Unger & Crawford (1992) menggambarkan bentuk perkawinan yang
berkembang saat ini menjadi 3 kategori, yaitu tradisional marriage, modern
marriage dan egalitarian marriage. Dalam penelitian bentuk perkawinan
dibagi ke dalam 2 kategori, yaitu bentuk perkawinan Tradisional dan bentuk
perkawinan Non-Tradisional.
Melalui perhitungan dan analisa terhadap data-data yang diperoleh dari
para subyek penelitian, diperoleh hasil bahwa bentuk perkawinan yang diinginkan
adalah bentuk perkawinan non-tradisional dengan tidak ada perbedaan antara
subyek pria dan subyek wanita. Pada penelitian ini dapat dilihat tugas-tugas khas
suami, istri dan tugas-tugas yang diasosiasikan kepada suami dan istri. Selain itu
dapat diketahui juga alasan-alasan dan faktor-faktor yang mempengaruhi subyek
penelitian dalam pemilihan bentuk perkawinan yang diinginkan. Hasil-hasil
penelitian tersebut memberikan suatu kesimpulan bahwa persepsi golongan usia
dewasa muda terhadap bentuk perkawinan non-tradisional, yang menekankan pada
kesetaraan (equity) dalam perkawinan, memiliki pengecualian terutama pada
pekerjaan rumah tangga (domestik), bekerja karir atau bekerja non-karir,
pengasuhan anak dan status pria sebagai suami dalam rumah tangga.
Penelitian ini diakui oleh penulis masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu
masukan-masukan dan saran-saran yang konstruktif sangat dibutuhkan bagi
penelitian ini dan tentunya juga bagi perkembangan ilmu psikologi pada umumnya."
1998
S2579
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Patricia Sara
"Holmes & Rahe (1967) pemah membuat sebuah tabel yang mengurutkan hal-hal apa saja yang dapat membuat orang menjadi stres. Pada tabel tersebut, perceraian merupakan urutan kedua setelah kematian pasangan hidup. Oleh karena itu orang yang bercerai harus segera menyesuaikan dirinya, sehingga orang tersebut dapat segera mengatasi rasa sedih, dan marah, menerima dirinya sendiri, anak-anak dan mantan suaminya, kembali bekeija dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan sekitar, dan Iain-lain masalah yang biasanya timbul setelah perceraian. Adapun masalah-masalah yang biasanya dialami oleh mereka yang bercerai adalah masalah secara psikologis/emosi, dalam mengasuh anak, pelaksanaan tugas-tugas rumah tangga, keuangan, sosial hingga seksual (Hurlock, 1980).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui masalah-masalah apa saja yang dialami pada wanita dewasa muda yang berpisah/bercerai. Selain itu ingin dilihat pula gambaran dan dinamika penyesuaian diri mereka setelah berpisah/bercerai. Untuk menjawab tujuan penelitian di atas, maka dilakukan wawancara mendalam terhadap empat orang subyek. Hasil wawancara yang diperoleh akan dianalisis dan diinterpretasi dengan menggunakan teori-teori yang sudah ada. Penyesuaian diri tidak selalu dilakukan setelah terjadi perceraian, mengingat adapula orang yang telah melakukan penyesuaian diri jauh sebelumnya, yaitu pada saat mereka berpisah dengan suaminya (Lasswell & Lasswell, 1987). Oleh karena itu penelitian ini akan menggali penyesuaian diri subyek setelah bercerai, maupun pada subyek yang berpisah lalu bercerai. Adapun subyek penelitian ini adalah wanita yang berpisah/bercerai pada usia dewasa muda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah yang ditemukan pada keempat subyek penelitian adalah masalah secara psikologis/emosi, yaitu subyek merasa sedih dan kecewa karena rumah tangga mereka berakhir dengan perceraian. Selain itu mereka juga merasa kesepian dan kehilangan sejak berpisah bercerai dengan suami mereka. Masalah lain yang ditemukan pada subyek adalah masalah dalam mengasuh anak, masalah dalam hal keuangan, dan sosial. Subyek dalam penelitian ini tidak raengalami masalah dalam pelaksanaan tugas rumah tangga sehari-hari dan pemenuhan kebutuhan seks. Waktu yang diperlukan subyek untuk dapat menyesuaikan diri mereka setelah berpisah^e^cerai adalah bervariasi, antara satu/dua sampai lima tahun, bahkan hingga saat subyek diwawancara. Hal ini disebabkan faktor-faktor tertentu seperti apakah subyek masih mencintai suaminya atau tidak, lama dan kualitas perkawinan subyek, siapakah yang berinisiatif untuk bercerai, pandangan subyek terhadap perceraian, jumlah anak yang dimiliki, apakah subyek bekeija dan mempunyai penghasilan sendiri, dan lain.lain."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
S2701
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Carla Meutia
"ABSTRAK
Salah satu tugas perkembangan dewasa muda adalah memilih pasangan
hidup. Memilih pasangan hidup yang tepat sangat penting, karena akan
mempengaruhi kesuksesan dan kebahagiaan pernikahan dan kehidupan berumah
tangga kelak. Dalam memilih pasangan hidup, tiap individu mempunyai kriteria-
kriteria tertentu yang dianggap penting dan diharapkan ada pada calon pasangan
hidupnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah benar perbedaan jender
menyebabkan preferensi yang berbeda pada kriteria pasangan hidup yang
dianggap penting. lalu apakah perbedaan ideologi peran jender (tradisional atau
modern) yang dianut juga dapat menyebabkan perbedaan preferensi pada kriteria
pasangan hidup yang dianggap penting.
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah 2 buah kuesioner, yang
mengukur ideologi peran jender seseorang dan preferensinya pada 13 kriteria
pasangan hidup. Alat ini disebarkan pada 150 responden dan hasilnya diolah
melalui SPSS 6.0 dengan tehnik perhitungan statistik ANOVA 1 dan 2 arah.
Dari hasil dan analisa yang diperoleh, ternyata memang benar kalau pria
dan wanita menunjukkan preferensi yang berbeda pada kriteria pasangan hidup
yang mereka anggap penting. Pria terbukti Iebih mementingkan kriteria daya tarik
fisik dibanding wanita, dan wanita Iebih mementingkan kriteria cerdas, berpotensi
sukses, mapan, berambisi, berpendidikan, beragama sama, serta belatar belakang
keluarga jelas dibanding wanita. Terbukti juga bahwa secara keseluruhan wanita lebih pemilih dibanding pria. Untuk ideologi peran jender, ternyata antara penganut
ideologi peran jender tradisional dan modern juga memperlihatkan perbedaan
preferensi pada kriteria pasangan hidup yang dianggap penting. Penganut ideologi
peran jender tradisional lebih mementingkan masih perawan/perjaka dan berlatar
belakang keluarga jelas, sedangkan penganut ideologi peran jender modern Iebih
mementingkan kriteria cerdas, berpotensi untuk sukses, berambisi untuk maju
berprestasi, mapan (mempunyai pekerjaan, kedudukan dan penghasilan) dan
berpendidikan. Ditemukan juga pengaruh yang signifikan untuk interaksi jender dan
ideologi peran jender tarhadap preferensi kriteria ekspresif dan terbuka, dimana
berdasarkan urutan kriteria ini paling dipentingkan oleh pria modern, kemudian
wanita tradisional lalu wanita modern dan terakhir oleh pria tradisional.
Kesimpulan dan penelitian ini adaiah ternyata perbedaan jender (pria dan
wanita) dan perbedaan ideologi peran jender (tradisional dan modern)
menyebahkan perbedaan preferensi kriteria pasangan hidup yang dianggap penting,
dan juga ditemukan ada perbedaan preferensi kriteria pasangan hidup yang
disebabkan oleh interaksi antara perbedaan jender dan perbedaan ideologi peran-
jender.
Saran dari penelitian ini, bila ingin dilakukan penelitian Ianjutan, bisa diteliti
variabel Iain yang mungkin berpengaruh pada preferensi kriteria pasangan hidup
seperti variabel : tingkat sosial ekonomi, agama, suku, pendidikan, generasi, dan
wilayah tempat tinggal. Untuk kriteria yang dibandingkanpun bisa ditambahkan
dengan kriteria seperti pandai memasak, mendapat persetujuan orang tua atau
berasal dari suku yang sama.
Diharapkan hasil penelitian ini bisa jadi masukan yang bermaanfaat
terutama untuk para dewasa muda yang sedang mencari atau memilih pasangan
hidup yang tepat, demi kebahagiaan dan kesuksesan pernikahan dan kehidupan
berumahtangganya kelak."
1998
S2711
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Carmelia Susanti
2001
S3056
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sinaga, Dian
"Di kota besar seperti di Jakarta, sangatlah terbuka kesempatan bagi seseorang untuk berselingkuh. Hal ini terjadi karena adanya dasar yang kuat dari individualisme di kota besar. Selingkuh atau infidelity yang dimaksud di sini adalah pelangggaran norma-norma eksklusifitas suatu hubungan yang mana melibatkan dua individu yang telah membuat suatu komitmen untuk tidak menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Masalah yang ingin dilihat di sini adalah gambaran sikap terhadap perselingkuhan di antara orang-orang dewasa muda yang masih berpacaran. Alasan peneliti mencari gambaran sikap dewasa muda yang masih berpacaran ini adalah karena adanya teori yang mengatakan bahwa perilaku yang dianut seseorang pada masa berpacaran bisa dipertahankan atau dilakukan lagi hingga pada masa perkawinan.
Masalah dalam penelitian ini dijawab dengan menggunakan teori sikap dari Thurstone (1946). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Teknik pengabilan sampel adalah dengan cara incidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, yang menggunakan skala sikap dengan metode Summated Ratings dari Likert, dan berisi 33 item. Reliabilitas alat ukur skala sikap ini adalah 0,9465 berdasarkan penghitungan koefisien Alpha Cronbach.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa orang-orang dewasa muda di Indonesia ternyata masih memiliki sikap yang cenderung negatif terhadap perselingkuhan pada masa berpacaran. Sedangkan hasil lainnya adalah pengalaman langsung seseorang terhadap perselingkuhan dan kesiapan menikah dari seseorang ternyata secara signifikan berpengaruh pada sikapnya terhadap perselingkuhan.
Hal ini kiranya kurang sejalan dengan hasil penelitian yang sudah ada dari Hansen (dalam Weisgerber,2000), yaitu adanya sikap yang cenderung positif terhadap perselingkuhan pada masa berpacaran. Penjelasan dari hal ini adalah karena adanya faktor social desirability dari subyek karena perselingkuhan merupakan masalah yang cukup sensitif, dan juga karena kurangnya alternatif pilihan pada alat ukur."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2002
S3134
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Teguh Supriyadi
"ABSTRAK
Kepolisian Negara Republik Indonesia telah mencapai usia ke-58, dimana pada
usia ini adalah usia yang bisa dikatakan dewasa dalam suatu perkembangan sebuah
organisasi. Dalam usia yang sudah semakin dewasa ini, Polri semakin berusaha
membenahi diri dalam segala bidang, baik dalam segi kuantitas maupun kualitas.
Masyarakat yang semakin kritis dan maju, menginginkan aparat Polri-nya untuk
menjadi Polri yang mandiri dan profesional. Semenjak Polri berpisah dari ABRI, Polri
semakin berusaha untuk meningkatkan profesionalisme anggotanya. Telah banyak cara
dan usaha yang dilakukan untuk itu.
Walaupun demikian, banyak faktor yang harus diperhatikan pada individu itu
sendiri. Selain penguasaan pengetahuan tentang kepolisian dan masyarakat, harus
diperhatikan juga masalah kesejahteraan anggota Polri. Masalah ini merupakan masalah
yang sangat penting dan fundamental bagi setiap orang di dunia timur seperti Indonesia.
Sebagai aparat negara penegak hukum, akan sangat berbahaya bila kesejahteraan
mereka tidak diperhatikan atau dalam tingkat rendah karena bukan tidak mungkin mereka
akan menggunakan hukum itu sendiri untuk tujuan yang tidak kita kehendaki bersama
(Korry, dalam Kunarto, 1995).
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat
kesejahteraan subyektif anggota Polri, terutama yang masih melajang pada masa dewasa
muda di Jakarta. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan tehnik incidental
sampling. Sampel berjumlah 108 orang yang bertugas di wilayah hukum Jakarta dan
berpangkat Tamtama, Bintara dan Perwira. Alat ukur yang digunakan berbentuk
kuesioner yang peneliti susun berdasarkan dimensi-dimensi yang membentuk
kesejahteraan subyektif. Untuk melihat gambaran umum dari tingkat kesejahteraan
subyektif anggota Polri ini, dilakukan tehnik perhitungan nilai rata-rata dari seluruh
kuesioner.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan anggota Polri
yang melajang pada masa dewasa muda di Jakarta berada pada tingkat yang agak tinggi.
Banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Diantaranya yaitu kurangnya
perilaku asertif dari anggota Polri dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari, aktivitas
yang cenderung monoton, neflected appraisal dari lingkungan sekitar atau masyarakat
yang sudah melabel Polri bahwa Polri bukan untuk masyarakat, kurangnya dukungan
sosial untuk Polri guna merubah dirinya serta kurangnya sumber daya yang ada dalam
tubuh Polri dan anggotanya. Terutama untuk sumber daya materi, harus diberi perhatian
lebih karena gaji polisi kita hanya 26 % dari gaji pegawai keuangan negara, padahal
standar PBB, gaji anggota polisi harus di atas gaji pegawai bank atau keuangan negara
untuk menciptakan polisi yang professional (Tabah, 2002).
Dengan meningkatkan kesejahteraan subyektif anggota Polri, merupakan salah
satu dari sekian banyak hal yang harus dilakukan oleh Polri untuk dapat mencapai Polri
yang mandiri, Polri professional yang diidam-idamkan masyarakat Indonesia selama ini. "
2003
S3221
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ira Syofyanti
"ABSTRAK
Selain ibu, ayah juga memiliki peran yang tak kalah pentingnya dalam
perkembangan anak, diantaranya adalah perkembangan jender. Jender terkait dengan
karakteristik psikologis (maskulin, feminin, dan androgini), bagaimana seharusnya
seseorang bertingkah laku sebagai pria atau wanita (peran jender), bagaimana cara
berinteraksi dan persepsi diri sebagai pria atau wanita (stereotip peran jender), dan
bagaimana seseorang mengidentifikasikan dirinya sebagai pria atau wanita (identitas
peran jender). Terutama bagi anak laki-laki, ayah merupakan model maskulinitas yang
paling terlihat dan paling signifikan tentang bagaimana seorang laki-laki harus bersikap
dan bertingkah laku. Namun menurut Hetherington dan Parke (1993) ada beberapa alasan
yang menyebabkan ayah tidak dapat hadir bagi anak-anaknya yaitu kematian, perceraian,
bepergian dalam jangka waktu lama, ayah yang dikirim ke medan perang, dan ayah pasif
dan kurang perhatian walaupun secara fisik hadir. Penelitian Nash (dalam Benson, 1968)
menyatakan bahwa anak laki-laki yang mengalami ketidakhadiran ayah pada lima tahun
pertama hidupnya seringkali gagal dalam memperoleh sifat-sifat yang maskulin. Hal ini
sejalan dengan penelitian Dagun (1990) yang menyebutkan bahwa anak yang tidak
mendapat asuhan ayah maka ciri-ciri maskulinnya men jadi kabur.
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan penghayatan jender pria dewasa
muda yang mengalami ketidakhadiran ayah pada masa kanak-kanaknya (dibawah usia
lima tahun). Subyek dewasa muda diambil dengan alasan bahwa pada tahap usia ini
identitas jender telah terbentuk dan individu telah mengerti apa yang biasa atau tidak
biasa dilakukan oleh pria dan wanita (Baron & Byme, 1997). Bila dikaitkan dengan tugas
perkembangan dewasa muda maka pada tahap ini individu telah mengembangkan
keintiman dalam hubungan interpersonal dan proses pemilihan karir. Penelitian ini juga
akan menjelaskan bagaimana implementasi penghayatan jender dalam hubungan
interpersonal dan proses pemilihan karir pria dewasa muda yang mengalami ketidak
hadiran ayali.
Penelitian ini dapat digolongkan sebagai penelitian kualitatif. Metode
pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara, observasi, dan Rem Sex Role
Invwentory (BSRJ). Dalam penelitian kualitatif diharapkan suatu gejala dapat dipahami
sebagaimana pengalaman subyek jadi bukan semata-mata kesimpulan yang dipaksakan
peneliti (Bogdan & Taylor, 1975). Pedoman wawancara yang digunakan disusun oleh
peneliti berdasarkan teori yang terkait dengan penelitian ini. BSRI yang digunakan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan telah diujicobakan, direvisi dan dihitung
validitas dan rcliabilitas itemnya oleh Seniati (1991).
Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah bahwa pria dewasa yang
mengalami ketidakhadiran ayah pada masa kanak-kanaknya tetap memiliki sifat-sifat
maskulin. Walaupun memiliki beberapa sifat feminin, mereka dapat menampilkannya
pada situasi dan kondisi yang tepat. Mereka juga mampu mengidentifikasikan diri
terhadap peran jender dan menyadari keberadaan mereka sebagai pria. Dalam menjalani
hubungan interpersonal mereka terbuka dan memiliki ikatan emosional yang cukup erat,
lebih cenderung mencari sahabat yang memiliki ide, nilai dan sifat yang hampir sama
dengan mereka. Dalam hubungan percintaan mereka sedikit khawatir dalam
berkomitmen. Jadi mereka lebih memilih menjalani hubungan tanpa komitmen atau tidak
memiliki pasangan.
Keterbatasan dalam penelitian ini antara lain adalah kurang beragamnya alasan
ketidakhadiran ayah yang dialami subyek. Selain itu, subyek juga sedikit kesulitan dalam
mengingat kejadian masa kanak-kanaknya."
2003
S3246
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Widyastuti Wartono
"Menurut Erikson (1950 dalam Papalia, 1998), tahap yang perlu dilalui oleh seorang individu usia dewasa muda (20-40 tahun) adalah intimacy versus isolation. Individu tersebut memiliki tugas-tugas perkembangannya, salah satunya adalah membentuk hubungan intim. Pada kenyataannya terdapat individu-individu yang tidak pernah berpacaran hingga usia dewasa muda.
Menurut Bird dan Melville (1994), pada umumnya hubungan intim diawali dengan saling ketertarikan fisik antar individu, lalu dilanjutkan dengan proses eksplorasi terhadap hal-hal lain. Dalam menilai kesesuaian karakteristik-karakteristik dirinya dengan orang lain, individu membandingkan penilaian terhadap dirinya sendiri serta penilaian terhadap orang lain. Hasil penilaian individu tentang dirinya sendiri yang mencakup kesadaran tentang siapa dan apa dia dalam berbagai karakteristik merupakan self-concept atau konsep diri (Wayment & Zetlin, 1989 dalam Rice 1999). Selanjutnya keberhasilan individu membina hubungan intim ditentukan pula oleh sejauh mana individu menghargai dirinya sendiri (self-esleem). Kemudian menurut Duffy dan Atwater (2002), dua hal yang menjadi faktor yang berperan dalam pembentukan hubungan intim adalah attachment style dengan orang tua dan self-esteem.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami mengapa wanita dewasa muda belum pernah berpacaran, dengan penelaahan lebih dalam mengenai attachment style dengan orang tua dan self-esteem. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam. Karena hubungan intim menjadi lebih penting bagi para wanita dibandingkan bagi para pria (Brehm, 1992), maka partisipan dalam penelitian ini adalah tiga orang wanita dewasa muda yang belum pernah berpacaran dan berada dalam rentang usia 20-25 tahun.
Hasil penelitian ini adalah bahwa individu dengan model anxious-ambivalent attachment dan avoidant attachment, disertai dengan self-esteem yang rendah dan konsep diri yang negatif akan menghasilkan kegagalan dalam membentuk hubungan intim. Kekurangan social skills menyulitkan individu dalam berinisiatif untuk membentuk suatu hubungan intim serta mempertahankan hubungan dengan sesama. Namun ternyata individu dengan model secure attachment disertai dengan self-esteem yang tinggi dan konsep diri positif tidak juga berhasil dalam membentuk hubungan intim. Adapun faktor-faktor lain yang turut berkontribusi terhadap keadaan belum pernah berpacaran yang dialami oleh individu ini, seperti terlalu seleksi, terlalu jauh dalam berpikir, dan perfeksionisme."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2003
S3256
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Una Amanda Priharani
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
S3324
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Roswiyanti
"Konsep diri merupakan hal yang penting artinya bagi kehidupan seseorang karena konsep diri menentukan bagaimana seseorang bertindak dalam berbagai situasi. Melalui pemahaman mengenai konsep diri maka tindakan seseorang lebih mudah untuk dipahami. Fitts (1971) menyebutkan bahwa konsep diri adalah suatu konstruk sentral untuk memahami manusia dan tingkah lakunya.
Konsep diri juga berkaitan dengan penilaian diri pribadi sesuai dengan peran yang dibawakannya dalam masyarakat. Peran tersebut sangat beragam, apakah ia sebagai orang tua dari anak-anaknya, seorang wanita yang berperan sebagai isteri, dan sebagainya. Individu juga menilai diri sendiri dari segi kepribadiannya, apakah ia merasa sebagai orang yang jujur, simpatik atau justru sebaliknya.
Masa dewasa muda adalah masa dimana individu mulai membangun pondasi bagi kehidupan mereka selanjutnya. Seseorang diharapkan telah merefleksikan pengalaman-pengalaman sepanjang masa hidup sebelumnya dan mulai membentuk tujuan-tujuan hidup yang diharapkan bagi kehidupan selanjutnya. Mereka mempelajari kemampuan dalam pengambilan keputusan, pemahaman akan nilai-nilai serta tanggung jawab baru.
Salah satu tanggung jawab dan keputusan yang harus mereka ambil adalah membangun hubungan intim, memilih pasangan hidup serta mengambil keputusan untuk masuk kedalam perkawinan. Mereka dituntut untuk menyiapkan diri bagi kehidupan berkeluarga. (Tumer & Helms; Zanden, 1993).
Dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Femina No.27/XXX tahun 2002 terhadap 200 responden tentang pandangan terhadap wanita yang bersedia menjadi isteri kedua dengan perincian persentase sebesar 51% yang pro dan mendukung menjadi isteri kedua, 43% yang kontra, 1% menjawab tidak tahu dan 5% responden tidak menjawab.
Peneliti ingin melihat seberapa baik gambaran konsep diri perempuan dewasa muda dalam perkawinan poligini berdasarkan 4 aspek konsep diri dari Fitts yaitu aspek pertahanan diri, aspek penghargaan diri, aspek integrasi diri dan aspek kepercayaan diri sehingga mereka dapat bertahan dengan kehidupan dipoligini oleh suaminya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus, menggunakan teknik wawancara dan observasi sebagai pendukung pada 4 subjek perempuan dewasa muda yang dipoligini yang terdiri dari isteri pertama dan isteri kedua dari 2 pasangan suami isteri untuk melihat perbedaan konsep diri sebelum dan sesudah perkawinan poligini antara isteri pertama dengan isteri kedua.
Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa ke 4 orang subjek mempunyai konsep diri yang baik yang meliputi aspek pertahanan diri, aspek penghargaan diri, aspek integrasi diri dan aspek kepercayaan diri yang masingmasing tergolong baik."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
S3344
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>