Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 281 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Emir Haryono Adjie
"Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran terkait hubungan antara gaya pengasuhan orang tua yang dipersepsikan oleh dewasa muda dan sikap terhadap perdamaian. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian terdahulu oleh Canegallo, dkk. (2020). Gaya pengasuhan mengacu pada tipologi Baumrind (1971) yaitu authoritative, authoritarian, dan permissive dan diukur menggunakan Parental Authority Questionnaire (PAQ). Sementara itu, sikap terhadap perdamaian diukur menggunakan Peace Attitude Scale (PAS). Partisipan dari penelitian ini terdiri dari 140 dewasa muda pada rentang usia 17-40 tahun dan merupakan warga negara Indonesia. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa gaya pengasuhan authoritative memiliki hubungan yang signifikan dan positif dengan sikap terhadap perdamaian. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara gaya pengasuhan authoritarian dan permissive dengan sikap terhadap perdamaian. Gaya pengasuhan authoritative juga ditemukan berkorelasi secara signifikan dan positif dengan beberapa faktor sikap terhadap perdamaian yaitu sociopolitical, personal well-being, ease with diversity, dan caring. Dengan demikian, semakin authoritative gaya pengasuhan orang tua maka semakin positif sikap terhadap perdamaian dewasa muda, utamanya pada faktor sociopolitical, personal well-being, ease with diversity, dan caring.

This study aims to provide an overview of the relationship between parenting styles perceived by young adults and attitudes towards peace. This study is a replication one of Canegallo, et al. (2020). Parenting style refers to Baumrind's (1971) typology: authoritative, authoritarian, and permissive, measured by Parental Authority Questionnaire (PAQ). Meanwhile, attitudes towards peace were measured using the Peace Attitude Scale (PAS). The participants of this study were 140 Indonesian citizens young adults, between 17-40 years old. Pearson correlation test results showed that authoritative parenting style had a significant and positive relationship with attitudes towards peace. There were no significant relationships between authoritarian and permissive parenting styles with attitudes towards peace. Moreover, authoritative parenting style correlatedsignificantly and positively with most dimensions of attitude towards peace, specifically: sociopolitical, personal well-being, ease with diversity, and caring. To sum up, the more perceived authoritative parenting style, the more positive the attitude towards peace among young adults, especially on the dimensions of sociopolitical, personal well- being, ease with diversity, and caring."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raisya Humaira
"Dengan perkembangan teknologi, semakin meluasnya kesempatan dan sarana untuk melakukan perselingkuhan, salah satunya dengan dimediasi oleh internet. Namun sejauh ini lebih banyak penelitian yang membahas fenomena perselingkuhan dan perselingkuhan online secara terpisah, meskipun perselingkuhan online membahas bahayanya bila terjadi perselingkuhan di dunia nyata. Dalam penelitian ini yang menggunakan metode k, menemukan adanya dinamika perselingkuhan dan peran internet dalam memfasilitasi perilaku selingkuh (seperti selingkuh online yang dapat berlanjut ke dunia nyata, selingkuh di dunia nyata lalu berlanjut ke online, dan selingkuh online dengan orang yang sudah dikenal di dunia nyata). Selain itu, penelitian ini juga membahas bagaimana pelaku perselingkuhan laki-laki dan perempuan dalam mendefinisikan perilaku selingkuh, pandangan akan komitmen cinta ideal dalam hubungan romantis dan hubungannya dengan perilaku selingkuh yang dilakukan, serta persepsi akan kepuasan hubungan.

With the development of technology, the opportunities and means for having an affair have expanded, one of which is mediated by the internet. However, so far research discussed the phenomenon of infidelity and online infidelity separately, although it is mentioned the dangers of having an online infidelity that can lead into an affair it the “real world”. In this research using qualitative methods, we found the dynamics of infidelity and the role of the internet in facilitating infidelity behavior (such as online infidelity which can continue in the real world, infidelity in the real world then continue online, and online infidelity with people who are already known in the real world). In addition, this study also discuss how male and female perpetrators of infidelity define their infidelity behavior, giving view of ideal love commitment in romantic relationships and its relation with infidelity behavior, and perception of relationship satisfaction."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Felisitas Gemma Setyowati
"Dewasa muda yang tinggal bersama orangtua tunggal lebih rentan terhadap berbagai masalah psikologis, sehingga dibutuhkan kemampuan untuk bertahan dalam situasi ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi keberfungsian keluarga sebagai prediktor resiliensi anak usia dewasa muda yang tinggal bersama orangtua tunggal. Resiliensi sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan bangkit dari kemalangan yang diukur dengan Resilience Scale-14 (RS-14). Keberfungsian keluarga ialah bagaimana setiap anggota keluarga menjalankan fungsinya dengan efektif yang tercermin dalam enam dimensi utama (penyelesaian masalah, komunikasi, peran, responsivitas afektif, keterlibatan afektif, dan kontrol perilaku) dan dimensi tambahan yaitu keberfungsian keluarga umum, dengan pengukuran melalui Family Assessment Device (FAD). Analisis terhadap seluruh dimensi dilakukan agar diperoleh pemahaman yang komprehensif terkait persepsi keberfungsian keluarga orangtua tunggal. Partisipan penelitian yaitu 118 dewasa muda usia 18-29 tahun (28 laki-laki dan 90 perempuan) yang tinggal bersama orangtua tunggal. Metode analisis statistik menggunakan teknik simple regression dan multiple regression membuktikan bahwa keberfungsian keluarga merupakan prediktor resiliensi yang signifikan (21.4%). Dimensi penyelesaian masalah menjadi dimensi yang paling signifikan berkontribusi terhadap resiliensi dewasa muda yang tinggal bersama orangtua tunggal. Maka dalam konteks ini keterampilan penyelesaian masalah penting untuk dikembangkan oleh para dewasa muda, khususnya ketika tinggal bersama orangtua tunggal.

Young adults who live with single-parent are more vulnerable to various psychological problems. Ability to survive in these situations is needed. This study aims to identify family functioning as predictor of psychological resilience in young adult children who live with single parents. Psychological resilience is the ability to adapt and rise from adversity as measured by Resilience Scale-14 (RS-14). Family functioning is how each family member do their function effectively in six main dimensions (problem solving, communication, role, affective responsiveness, affective involvement, and behavior control) and additional dimension named general functioning, measured through Family Assessment Device (FAD). This study analyzed all of dimensions to obtain a comprehensive understanding related to single parent family functioning. The study participants were 118 young adults (18-29 years old, with 28 male and 90 female) who live with single-parent. Statistical analysis method with simple regression and multiple regression techniques were used to prove that family functioning is a significant resilience predictor (21.4%). The results show that problem-solving dimension becomes the most significant dimension that contribute to the resilience of young adults who live with single-parents. In this context, problem-solving skill are important to be developed by young adults, especially when living with single parent."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gabriella Igari Tatiana Shaya Rani
"Obesitas pada dewasa muda dikaitkan dengan keadaan transisi emosional dan pola hidup dari masa remaja yang mempengaruhi pada citra tubuh dan harga diri. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi hubungan citra tubuh dengan harga diri pada dewasa muda obesitas di Jakarta. Desain penelitian menggunakan cross sectional. Jumlah sampel 100 orang dengan kriteria inklusi Dewasa muda Laki-laki dan Perempuan (berusia antara 18 sampai 29 tahun) yang memiliki IMT ≥30 kg/m2 dan berdomisili di kota Jakarta. Instrumen yang digunakan adalah Multidimensional Body–Self Relations Questionnaire - Appearance Scales (MBSRQ-AS) dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Analisis menggunakan univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi Square. Hasil penelitian didapatkan karakteristik usia responden terbanyak pada 22 tahun, median IMT 32 kg/m2, IMT terendah 30 dan tertinggi 41 kg/m2. Citra tubuh rendah dialami oleh 32 orang dan harga diri rendah dialami oleh 26 orang. Terdapat hubungan citra tubuh dengan harga diri (p = 0,001). Penelitian merekomendasi dewasa muda berfokus kepada kesehatan keseluruhan jiwa dan raga, menjaga kesehatan mental, bijak dalam memproses informasi, dan berfokus kepada pengembangan diri serta penghargaan terhadap kemampuan dan pencapaian diri, bukan hanya pada penampilan fisik untuk meningkatkan citra tubuh dan harga diri rendah.

Obesity in young adults is associated with emotional and lifestyle transition states from adolescence that affect body image and self-esteem. The purpose of the study was to identify the relationship between body image and self-esteem in obese young adults in Jakarta. The research design uses cross sectional. The sample size of 100 people with inclusion criteria is young adults, males and females (aged between 18 and 29 years) with a BMI of ≥30 kg/m2 and are domiciled in Jakarta. The instruments used are the Multidimensional Body–Self Relations Questionnaire - Appearance Scales (MBSRQ-AS) and the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). The analysis used univariate and bivariate with the Chi Square statistical test. The study results were obtained with the characteristics of the age of the most respondents at 22 years, the median BMI was 32 kg/m2, the lowest BMI was 30 and the highest was 41 kg/m2. Low body image was experienced by 32 people and 26 people experienced low self-esteem. There was a relationship between body image and self-esteem (p = 0.001). Research recommends that young adults focus on overall physical and mental health, maintain mental health, be wise in processing information, and focus on self-development and appreciation of abilities and achievements, not just physical appearance to improve body image and low self-esteem."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rambu Inanda Dwihasti
"Aktivitas seksual merupakan bagian penting dalam kehidupan dan merupakan tuntutan dasar bagi manusia. Kondisi infark miokard itu sendiri dapat mempengaruhi kehidupan seksual pasien; namun, di Indonesia, belum banyak perhatian yang diberikan terhadap kondisi seksual pada pasien pasca-infark miokard, dan hanya sedikit penelitian yang dilakukan mengenai topik ini. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami pengalaman disfungsi seksual pasien setelah mengalami infark miokard tersebut, sehingga menjadi dasar bagi pengembangan pengukuran yang relevan. Wawancara semi terstruktur dilakukan terhadap 6 partisipan. Metode fenomenologi deskriptif digunakan untuk mengumpulkan data dan mengeksplorasi pengalaman seksual pasien pasca-infark miokard. Sebanyak 4 tema, yang ditemukan adalah (1) Perubahan aktivitas seksual pasca-IMA; (2) Dampak terkait disfungsi seksual pasca-IMA; (3) Kebutuhan akan edukasi dan dukungan pasangan; (4) Upaya untuk pulih. Keempat kelompok tema tersebut bersifat independen dan saling mempengaruhi. Dalam kelompok-kelompok ini, perubahan dalam pengalaman aktivitas seksual, termasuk perubahan fungsi seksual dan dampak emosi, dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan, penyakit, dan faktor-faktor lainnya. Lebih jauh, persepsi pasien tentang pasca perawatan IMA mempengaruhi upaya memperbaiki aktivitas seksual. Pengalaman disfungsi seksual pasien pasca-IMA dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti faktor penyakit, dan kurangnya pengetahuan terkait, dijelaskan. Temuan tersebut diharapkan dapat membantu dalam merumuskan tindakan intervensi yang ditargetkan.

Sexual activity is an important part of life and is a basic requirement for humans. The condition of myocardial infarction itself can affect the patient's sexual life; However, in Indonesia, not much attention has been paid to sexual conditions in post-myocardial infarction patients, and little research has been done on this topic. Therefore, this study uses a qualitative approach to understand the patient's experience of sexual dysfunction after experiencing the myocardial infarction, thus becoming the basis for the development of relevant measurements. Semi-structured interviews were conducted on 6 participants. Descriptive phenomenological methods were used to collect data and explore the sexual experiences of post-myocardial infarction patients. A total of 4 themes, which were found were (1) Changes in sexual activity after IMA; (2) Impact related to post-IMA sexual dysfunction; (3) The need for education and support of the spouse; (4) Efforts to recover. The four theme groups are independent and mutually influential. In these groups, changes in the experience of sexual activity, including changes in sexual function and emotional impact, are influenced by lack of knowledge, disease, and other factors. Furthermore, patients' perceptions of post-IMA treatment affect efforts to improve sexual activity. The experience of post-IMA patients' sexual dysfunction and the factors that influence it, such as disease factors, and lack of related knowledge, are described. The findings are expected to help formulate targeted intervention actions."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naurah Qatrunnada
"Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh tingkat self esteem dan tingkat e-health literacy terhadap tingkat cyberchondria pada dewasa muda pengguna TikTok, melihat dominasi pengguna TikTok oleh kalangan dewasa muda dan tingginya angka penggunaan media sosial di Indonesia. Perilaku cyberchondria merupakan aktivitas berlebihan dalam mencari informasi kesehatan secara online. Berdasarkan studi-studi terdahulu, perilaku cyberchondria yang dialami oleh individu muncul karena adanya kekhawatiran akan penyakit yang ia rasakan, sehingga beralih dalam melakukan pencarian informasi yang berlebih mengenai kesehatan di media sosial. Penulis menduga bahwa cyberchondria dapat dipengaruhi oleh self esteem dan e-health literacy. Self esteem merupakan penilaian individu terhadap nilai dan kemampuan dirinya yang mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungannya termasuk menafsirkan dan bereaksi terhadap informasi yang mereka temui secara online. Kemudian, e-health literacy juga menjadi kunci penting untuk mengelola informasi berlebihan dari internet. Individu yang dapat mengaplikasikan kemampuan e-health literacy dengan bijak dapat membantu mencegah perilaku cyberchondria. Dari pengertian tersebut, penulis pun berhipotesis bahwa tingkat self esteem dan e-health literacy akan berpengaruh signifikan dengan arah hubungan yang negatif. Dengan melakukan survei daring dengan jumlah sampel 150 responden serta wawancara mendalam 5 informan, penulis menemukan bahwa terdapat nilai signifikansi yang kuat antara self esteem dan e-health literacy dengan tingkat cyberchondria. Implikasinya, peningkatan self esteem dan e-health literacy penting dalam upaya untuk mengurangi angka cyberchondria.

This study aims to elucidate the influence of self-esteem levels and e-health literacy on cyberchondria among young adult TikTok users, considering the predominance of young adults on TikTok and the high prevalence of social media usage in Indonesia. Cyberchondria behavior refers to the excessive activity of seeking health information online. Previous research suggests that individuals engage in cyberchondria due to concerns about perceived illnesses, leading them to excessively seek health-related information on social media platforms. The authors posit that cyberchondria may be influenced by both self-esteem and e-health literacy. Self-esteem, as an individual's evaluation of their own worth and capabilities, shapes their interactions with the environment, including how they interpret and respond to online information. Additionally, e-health literacy plays a crucial role in managing the influx of online information. Individuals adept at applying e-health literacy skills are poised to mitigate cyberchondria behavior. Given these premises, the authors hypothesize that self-esteem levels and e-health literacy will exert a significant negative impact. Through an online survey involving 150 respondents and in-depth interviews with 5 informants, the authors identified a robust association between self-esteem, e-health literacy, and cyberchondria levels. Consequently, enhancing self-esteem and e-health literacy emerges as pivotal strategies in curtailing cyberchondria incidents."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Laras Sita Persitia
"Kecemasan merupakan bentuk gangguan kesehatan mental yang banyak menyerang individu pada rentang usia emerging adulthood. Di Indonesia, hasil survei menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental yang paling banyak diidap oleh dewasa awal adalah gangguan kecemasan. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan kecemasan adalah infleksibilitas psikologi. Individu yang memiliki kondisi psikologis yang tidak fleksibel cenderung kaku dan mudah merasa cemas. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melihat pengaruh infleksibilitas psikologi terhadap kecemasan dengan moderasi self compassion. Metode penelitian ini adalah deskriptif menggunakan pendekatan kuantitatif. Responden yang terlibat di dalam penelitian ini adalah 180 individu pada masa emerging adulthood. Hasil penelitian menemukan bahwa self compassion dapat melemahkan hubungan infleksibilitas psikologis dengan kecemasan. Dapat dikatakan bahwa individu yang mampu bersikap welas diri terhadap diri sendiri maka dapat dapat menurunkan pemikiran yang cenderung kaku dan dijauhkan dari potensi kecemasan.

Anxiety is a form of mental health disorder that often attacks individuals in the emerging adulthood age range. In Indonesia, survey results show that the most common mental health disorder suffered by early adults is anxiety disorder. One factor that can cause anxiety is psychological inflexibility. Individuals who have inflexible psychological conditions tend to be rigid and easily feel anxious. This study was conducted with the aim of seeing the effect of psychological inflexibility on anxiety with self-compassion moderation. This research method is descriptive using a quantitative approach. The respondents involved in this study were 180 individuals in emerging adulthood. The results of the study found that self-compassion can weaken the relationship between psychological inflexibility and anxiety. It can be said that individuals who are able to be self-compassionate towards themselves can reduce thoughts that tend to be rigid and are kept away from potential anxiety."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nabila Gita Andani
"ABSTRAK
Salah satu dampak prominen yang sering dijumpai pada penyintas kekerasan seksual di masa kecil adalah permasalahan citra tubuh. Meskipun begitu, pengalaman negatif yang diakibatkan peristiwa traumatis sendiri tidak selalu menetap; penyintas dapat mengalami pertumbuhan positif dari pengalamannya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh posttraumatic growth terhadap citra tubuh, secara spesifik pada perempuan dewasa muda penyintas kekerasan seksual di masa kecil. Adapun hubungan antara pelaku dengan korban, frekuensi terjadinya kekerasan, dan BMI juga diidentifikasi dapat berperan sebagai kovariat dalam hubungan di antara kedua variabel. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian dengan topik serupa oleh Kotin (2019), tetapi lebih berfokus kepada pengaruh dari posttraumatic growth dibandingkan sekadar hubungan di antara kedua variabel. Sebanyak 121 partisipan diperoleh melalui kuesioner daring. Melalui analisis regresi linear, ditemukan model regresi yang signifikan, F(1, 119) = 87.818, p = 0.000, dengan effect size besar. Secara spesifik, posttraumatic growth menjelaskan sebesar 42.5% varians citra tubuh. Dalam kata lain, posttraumatic growth berpengaruh terhadap citra tubuh. Terdapat implikasi bahwa hubungan posttraumatic growth dengan citra tubuh dapat digeneralisasi ke dalam populasi lain, dengan tetap mempertimbangkan faktor kontekstual.

ABSTRACT"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nirtafitri Trianisa
"Adanya pandangan bahwa etnis Tionghoa memiliki asosiasi yang sangat kuat dengan non Muslim menimbulkan pengaruh yang besar terhadap etnis Tionghoa yang ingin berkonversi ke Islam. Mereka harus siap mendapat pandangan sebagai golongan kedua dari etnisnya sendiri (Tanudjaja, 2000). Selain itu, proses konversi agama yang berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi individu (Rambo, 1993). Namun, ada sebagian dari mereka yang mampu untuk bangkit dan bertahan dari masalah tersebut serta berhasil menjadi individu yang lebih baik. Mereka adalah individu yang dapat mengembangkan kemampuan resiliensinya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran kemampuan resiliensi pada muallaf dewasa muda keturunan Tionghoa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi yang dilakukan terhadap tiga orang muallaf dewasa muda keturunan Tionghoa dengan karakteristik yang telah ditentukan.
Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa hampir semua kemampuan resiliensi ketiga subjek dapat dikatakan telah berkembang. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa berkembangnya kemampuan resiliensi pada muallaf dipengaruhi oleh faktor protektif yang dimiliki oleh subjek, yaitu komunitas agama Islam yang memberikan dukungan baik secara emosi, moral dan intelektual selama proses konversi.
Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk menggunakan dua pendekatan yaitu kuantitatif dan kualitatif. Hal ini dimaksudkan agar hasil penelitian yang didapatkan dapat saling mendukung, sehingga menghasilkan data yang lebih akurat mengenai gambaran resiliensi subjek.

The strong opinion about Tionghoa associate to the non-Muslim, have a large impact to the Tionghoa who will convert to Islam. They must prepare to the negative opinion that they would be placed into the second societies in their own ethnic (Tanudjaja, 2000). Besides that, the convertion process potentially effect their live to be worse (Rambo, 1993). However, some of them can bounce back and hold out from the setbacks in their live. They are the people who can increase their resiliency abilities.
The purpose of this research is to give the description about resiliency abilities among young adulthood Tionghoa who convert to Islam. It use qualitative approach with interview and observation techniques which is utilized to the three people of young adulthood Tionghoa who convert to Islam.
The results, almost the resiliency abilities of that three people have increased. It is also influenced by their protective factors which they have including Islamic community which provide them emotional, morality and intellectual support in convertion process.
For the next study, qualitative and quantitative approach are suggested. Each of them could be important to another to get more complete and accurate informations about resiliency of the people.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Hanif Munandar
"ABSTRACT
Latar Belakang: Saliva merupakan hasil sekresi manusia yang mengandung berbagai macam zat seperti protein, hormon dan lain-lain. Aktivitas fisik dapat memengaruhi kandungan saliva seperti profil dan total protein di dalamnya. Protein dalam saliva dapat memengaruhi aktivitas progres karies. Perlu diketahui apakah aktivitas fisik memengaruhi aktivitas karies. Tujuan: Menganalisis perbedaan profil dan total protein dalam saliva subjek pelari dan hubungannya dengan skor indeks DMFT. Metode: Profil protein diekspresikan menggunakan metode SDS-PAGE lalu dianalisis secara manual sedangkan total protein dihitung menggunakan prosedur Bradford. Hasil: Dalam saliva subjek pelari ditemukan protein dominan yaitu dengan berat molekul 60 kDa, 30 kDa dan 10 kDa sedangkan pada subjek non-pelari yaitu 60 kDa, 30 kDa dan 25 kDa. Protein yang hanya ditemukan dalam saliva subjek pelari yaitu 45 kDa dan 10 kDa sedangkan yang hanya ditemukan dalam saliva subjek non-pelari yaitu 15 kDa. Total protein saliva pada subjek non-pelari lebih tinggi yaitu 774,46 µg/mL sedangkan pada subjek pelari sebesar 547,89 µg/mL. Kesimpulan: Terdapat perbedaan profil dan total protein saliva antara subjek pelari dan non-pelari serta terdapat hubungan antara profil dan total protein saliva dan skor indeks DMFT.

ABSTRACT
Background: Saliva is a secretion of the human body that contains various substances such as proteins, hormones and etc. Physycial activity could influence the contents of saliva such as the profiles and total of the proteins. Salivary proteins take role in caries progression activity. It is needed to be known whether physical activity affects caries progression. Objective: To analyze the difference of profiles and total of salivary proteins in runners and their correlations with DMFT index scroes. Methods: Protein profiles are expressed with SDS-PAGE procedure and then are analyzed manually, meanwhile the protein total is calculated using Bradford procedure. Results: The dominant proteins found in runners saliva are 60 kDa, 30 kDa and 10 kDa proteins and those found in non-runners saliva are 60 kDa, 30 kDa and 25 kDa. Proteins only found in runners saliva are 45 kDa and 10 kDa proteins and the ones only found in non-runners saliva is 15 kDa protein. Total of salivary proteins in non-runners is higher than the runners, which is 774,46 µg/mL compared to 547,89 µg/mL. Conclusion: There are differences found in the salivary proteins profiles and total in the runners and non-runners and there are correlations established between the salivary proteins profiles and total and the obtained scores of DMFT index."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   2 3 4 5 6 7 8 9 10 11   >>