Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2728 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhammad Syafi`i Antonio
Jakarta: Tazkia Institute, 2000
332.1 MUH b
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Bank Indonesia, 2000
R 332.1105 BAN l
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Rida Rahim
"Tujuan penelitian ini adalah untuk memprediksi faktor-t`ak1or yang
mempengaruhi likuidasi bank dengan menggunakan alal analisa keuangan rasio
CAMEL dan SIZE (besaran) bank. Data yang diambil bcrdasarkan direktori
perbankan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan dan beberapa media masa
yang memuat laporan keuangan akhir tahun. Sampel yang digunakan adalah
laporau keuangan bank tahun 1991-|996 d gan 9 bank likuidasi dan 93 bank
yang tidak dilikuidasi untuk likuidasi bank 1997-_ Dan untuk likuidasi bank 1999
terdiri dari 24 bank likuidasi dan 78 bank Iidak dilikuidasi. Alat statisiik yang
digunakan adalah model regrcsi Iogistik.
Hasil studi ini menjelaskan, bahwa faktor yang dominan
mempengaruhi likuidasi bank untuk tahun 1997 dan lahun 1999 adalah SIZE
(besaran bank) dan Kecukupan Moda! Bank. Untuk likuidasi bank tahun 1999
faktor yang dominan adalah Besaran Bank diikuti dengan faktor Kecukupan
Modal Bank, Legal Linding Limit Profitabilitas dan Elisiensi. Dan untuk satu
tahun sebelum terjadinya likujdasi bank Iaklor yang signiiikan adalah Kecukupan
Modal Bank, Likuiditm dan Besamn Bank. Sedangkan untuk likuidasi 1999 falnor
yang mempengaruhi likuidasi bank adalah Legal Lindlng Limit dan Besaran Bank.
Untuk dua tahun sebelum likuidasi 1997 faktor yang signiiikan adalah Legal
Li/:ding Limit, Elisiensi dan Besaran Bank sedangkan untuk likuidasi 1999 faktor
yang signifikan adalah Legal Linding Limit, Besaran Bank dan Efsiensi. Untuk
tiga tahun sebelum likuidasi 1997 faktor yang signiiikan adalah Besaran Bank dan untuk Iikuidasi 1999 faktor yang signilikan adalah Elisiensi dan Besaran Bank.
Untuk empat tahun sebelum likuidasi 1997 faktor yang signitikan adalah Besaran
Bank, Kecukupan Modal Bank dan Efisiensi, sedungkan untuk likuidasi 1999
faktor yang signiflkan mempengaruhi likuidasi bank adalah Kecukupan Modal
Bank, Efisiensi, Protitabilitas dan Besaran Bank. Untuk lima tahun sebelum
likuidasi 1997 faldor yang signilikan adalah Besaran Bank dan untuk likuidasi
1999 faktor yang signifikan adalah Ensiensi dan Besaran Bank. Dan uutuk cnam
tahun sebelum likuidasi |997 faktor yang signilikan mempengaruhi likuidasi
bank adalah Besaran Bank dan Kecukupan Modal Bank sedangkan tmtuk likuidasi
1999 faktor yang signifikan mempengaruhi Iilcuidasi adalah Besaran Bank. Dari
hasd analisis dengan menggunakan data cross section terlihat bahwa variabel yang
dominan mempengaruhi likuidasi bank 1997 dan 1999 adalah pelanggaran
terhadap ketentuan batas Modal minimum, Besaran (size) bank, Eiisiensi, Legal
Linding Limit. -
Berdasarkan hasil uji sampel untuk data cross section dan prediksi
likuidasi bank baik untuk likuidasi bank I1-?FT maupun 1999, temyata sebagian
besar keputusan likuidasi bank diatas nilai cur of valuenyu, ha] ini berarti
keteplatan prediksi Iikuidzuzi bank cukup baik dengan menggunakan data cross
section. Sedangkan untuk data pooled hasil uji sampelnya terjadi pada bank-bank
yang seharusnya tidak dilikuidasi.
Hasil uji regresi logistik baik dengan menggunakan data cross section
maupun dengan menggunakan data pooled memmjukkan bahwa faktor analisa keuangan CAMEL dan Size (besaran) bank dapat diguakan untuk memprediski likuidasi bank."
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2000
T6141
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jeffry A.M. Dendeng
"ABSTRAK
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi pada tahun-tahun
terakhir ini telah memberikan dampak yang positif bagi pendapatan
masyarakat pada umumnya. Seiring dengan meningkatnya pendapatan
masyarakat, meningkat pula kesadaran untuk melakukan transaksi keuangan
dengan bank. Disamping itu deregulasi di sektor perbankan yang bertujuan
menciptakan kehidupan perbankan yang sehat dan dinamis, telah ikut pula
mendorong masyarakat untuk memanfaatkan jasa perbankan. Di sisi lain,
instrumen-instrumen keuangan juga bertumbuh dengan pesat mengarah ke
globalisasi dan hal ini telah membuka kesempatan bagi perusahaan-
perusahaan skala besar untuk mencapai akses pembiayaan tidak saja dari
sektor perbankan tetapi dari berbagal sumber lain baik di dalam maupun di
luar negeri. Fenomena-fenomena ini telah mendorong perubahan pasar
perbankan ke arah retail banking.
PT. Bank Negara Indonesia (persero) atau yang dikenal dengan sebutan
Bank BNI melihat perubahan ini sebagai suatu peluang dan perlu segera
diantisipasi. Langkah yang dilakukan oleh Bank BNI adalah menempatkan
retail banking sebagai target sasaran jangka panjang Bank BNI disamping
mempertahankan keunggulan di corporate banking.
Mengembangkan blsnis retail banking bagi Bank BNI bukanlah
merupakan piihan yang mudah untuk dilakukan karena selain Bank BNI
dikenal sebagai suatu bank yang selama ini lebih banyak beroperasi di pasar
corporate banking juga persaingan di pasar retail banking itu sendiri sangat
ketat baik dari bank-bank yang selama ini telah menggarap bisnis tersebut
maupun bank-bank lain yang juga akan mulai memasukinya. Untuk
mengantisipasi kondisi tersebut diperlukan adanya suatu strategi atau kiat-
kiat tersendiri yang perlu diciptakan dan dilaksanakan agar sasaran yang
ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien.
Dalam rangka mencari strategi yang tepat diperlukan analisa
mengenai lingkungan eksternal maupun internal yang mempunyai
keterkaitan langsung dengan pengembangan retail banking di Bank BNI
Lingkungan eksternal Bank BNI selain lingkungan jauh atau remote
environment juga lingkungan industri atau industry enviroenment.
Analisa atas lingkungan ekstemal lebih ditekankan pada Iingkungan
industri yaitu industri perbankan, karena perubahan sedikit saja pada
industri perbankan mempunyal dampak yang besar bagi operasional Bank
BNI Hasil analisa industri perbankan menunjukkan adanya pergeseran
peran dari kelompok bank persero ke kelompok bank umum swasta nasional
khususnya dalam penghimpunan dana maupun penyalurannya dalam
bentuk kredit. Pergeseran tersebut tidak terlepas dan meningkatnya kualitas
pelayanan yang diberikan, pemanfaatan sarana promosi dan iklan secara
efektif serta pemanfaatan teknologi perbankan modern di era globalisasi.
Situasi ¡ni apabila tidak dianusipasi dapat merupakan ancaman bagi Bank
BNI khususnya dalam mengembangkan bisnis retail banking.
Analisa faktor-faktor internal Bank BNI ditekankan pada dua hal pokok
yang dibutuhkan dalam pengembangan retail banking yaitu kualitas
pelayanan dan kualitas produk. Hasil analisa kualitas pelayanan Bank BM
menunjukkan adanya beberapa hal yang perlu ditingkatkan khususnya pada
perbaikan beberapa elemen sistem dan prosedur, penìngkatan kualitas
sumber daya manusia, dukungan dan struktur organisasi serta sistem
delivery yang kesemuanya diarahkan untuk menciptakan konsistensi
pelayanan kepada nasabah.
Analisa mengenai kualitas produk dibatasi pada produk-produk
penghimpunan dana yang menunjang pengembangan retail banking yaitu
tabungan, kartu ATM dan deposito. Hasil analisa mengenal kualitas produk
menunjukkan perlunya upaya mengurangi pembebanan biaya kepada
nasabah khususnya produk kartu mahasiswa serta melakukan integrasi atas
keanekaragaman produk yang ada, sehingga dapat lebih bermanfaat dan
memudahkan bagi nasabah dalam melakukan transaksi.
"
1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta : Bank Indonesia, 2003
332.1 MEN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Imam Sujanu Tutuka
"Dalam era persaingan yang semakin ketat dewasa mi, suatu perusahaan (bank) akan rnemenangkan persaingan bila dapat membenkan nilai (value) dan kepuasan kepada nasabahnya melalui penyampaian produk (barang dan jasa) yang berkualitas dan harga bersaing. Kepuasan nasabah menimbulkan hubungan antara pihak bank dan nasabah menjadi harmonis, yang memungkinkan terciptanya loyalitas nasabah, serta tidak menutup kemungkinan adanya rekomendasi dan mulut ke mulut yang dapat menguntungkan pihak bank. PT. Bank Syariah Mandiri (BSM) adalah salah satu dari sedikit bank yang ada di Indonesia yang berbasis syariah. Dalam memenangkan persaingan yang ada, BSM hams berupaya untuk meningkatkan kepuasan pelanggan-nya dengan cara memperbaiki dan meningkatkan pelayanannya secara tents menerus. Berdasarkan pada kenyataan mi, maka penulis berinisiatif untuk mengadakan suatu penelitian guna memantau tingkat kepuasan nasabah BSM di Jakarta, khususnya yang menjadi nasabah tabungan BSM Investá Cendikia (TIC). Produk tabungan mi dipilih penulis karena produk mi merupakan produk andalan dan BSM yang telah berjalan selama 3 tahun, namun belum pemah dilakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi nasabah memilih produk (TIC). Sehingga diharapkan produk mi dapat tetap menjadi produk yang unggul dibanding dengan produk-produk pesaingnya. Adapun penelitian yang dilakukan adalah dengan mengambil studi kasus pada Cabang-cabang BSM di DKI Jakarta. Penelitian mi dilaksanakan melalui penyebaran dengan disertai direct interview terhadap 100 responden (valid) yang merupakan nasabah dari Tabungan Investa Cendikia di cabang-cabang yang ada di DKI Jakarta, dengan menggunakan metode Convenience Sampling. Dalam mengukur tingkat kepuasan nasabah, digunakan metode SERVQUAL, yang terdiri dan kelompok: tampilan fisik (tangible); ketanggapan dalam memberikan pelayanan (responsiveness); kemampuan mewujudkan janji (reliability); kemampuan memberikan jaminan pelayanan (assurance); dan kemampuan memahami kebutuhan pelanggan (empathy). Dan hasil pengolahan data, secara keseluruhan tingkat kepuasan nasabah tabungan BSM Investa Cendikia adalah sebesar 64,78% dengan kesenjangan antara persepsi dan harapan sebesar -2,02. Kualitas pelayanan yang diberikan oleh cabang-cabang BSM di Jakarta dinilai cukup oleh nasabah untuk kelompok tangible saja (70,63%). Sementara itu empat kelompok lainnya (responsiveness (60,07%), reliability (57,07%), assurance (62,37), dan empathy (61,26%)) yang iebih banyak ditentukan oleh sikap profesional dan kemampuan petugas, masih perlu diperhatikan dan ditingkatkan melalui pelatihan dan penyegaran yang herkesinambungan. Untuk memperoleh strategi bagi BSM dalam menyikapi kelima kelompok SERVQUAL, digunakan Diagram Kartesius, yang dapat menggambarkan hubungan antara pelaksanaan dengan tingkat kepentingan dari tiap-tiap kelompok SERVQUAL. Dengan alat pengukur tersebut diharapkan dapat mengetahui unsur mana dari kelima kelompok yang ada, yang akan diprioritaskan perbaikannya.

Within an increasing competition era that is currently occuring, a company (bank) wins when it deliver both value and satisfaction to its customer with its best quality and with a competitive price. Customer's satisfaction can create a harmonious relation between bank and its customers, increasing probability of the creation of the customer's loyalty, and also recommended with mouth by mouth in which it will make profitable to bank. PT. Bank Syariah Mandiri (BSM) is one of a view bank in Indonesia which based on sharia basis. To be the winner in the competition, BSM have to increase their customers satisfaction by improving their services continously. Based on this fact, author has an initiative to do research to be able to observe the level of satisfaction for BSM's customers in Jakarta, especially in BSM Investa Cendikia Saving's customers. This product is chosen by author because it is a superior product which served for three years but no depth research on the factors that affected the customer to chose this product. So hopefully this product will always be a superior product compare to its competitor's. This research taken place on BSM DKI Jakarta's branches. This study implemented through estimating accompanied with direct interview to 100 respondents (valid) in their capacity as BSM Investa Cendikia Saving's customers at DKI Jakarta's branches with Convinience Sampling Method. In measuring level of customer's satisfaction, author using SERVQUAL method which devide into group of: tangible (physical evidence), responsive (response to serve), reliability (ability to fulfill promise), assurance (ability to assurance service) and empathy (ability to understand the customer's need). Based on the result of data processing, a comprehensive of customer's satisfaction is 64.78%, with different between perception and expectation, namely -2.02. The service quality delivered by BSM branches in Jakarta with its "adequate" valued by customer for tangible (70.63%). While four other categories such as responsive is (60.07%), reliability (57.07%), assurance (62.37%) and empathy (61.26%), which is highly determined by sense of professional and officer's ability, to be focused and improved through sustainable training and refreshment. To make strategics for BSM in focusing to fifth categories of SERVQUAL, author used Cartecius Diagram which illustrates relation between implementation with the level of importance in each categories of SERVQUAL. This tools, hopefully can examine which category from five groups will be priorities to be correct."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T23084
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Firda Yosefa
"Selarna satu dasawarsa terakhir ml sektor perbankan telah mela!ui masa krisis dan mengambil pengalaman yang berharga dari krisis tersebut. Salah satu fenomena yang sangat pesat perkembangannya dalam sepuluh tahun terakhir mi adalah makin meningkatnya bisnis retail dan konsumer dibandingkan bisnis komersial dan korporasi. Kernajuan ml di tunjang pula dengan kemajuan teknologi melalui electronic banking yang menyebabkan nasabah tidak perlu lagi datang ke kantor cabang untuk bertransaksi. Bank BNI sebagai bank yang larna berkecimpung di bisnis korporasi pun sekarang juga harus ikut berkompetisi di bisnis retail dan konsurner. Diperlukan strategi pernasaran yang matang untuk bisa meraih pangsa pasar di segmen mi. Salah satu produk tabungan individual yang menjadi andalan adalah BNI Taplus yang total dananya rnencapai lebih dari 39 Triliun Rupiah pada posisi September 2007. Pasar dana individual merupakan segmen pasar yang masal (mass market) sehingga membangun dan menguasai segmen mi merupakan usaha yang, harus dilakukan secara terus menerus dan memakan waktu yang cukup lama yaitu untuk membangun dan menciptakan brand equity yang kuat terhadap BNI Taplus. Untuk membangun dan menciptakan brand equity yang kuat memerlukan investasi yang terus menerus dalam bentuk promosi. Komitmen mi harus terus dibangun sehingga Bank BNI tidak ketingga!an dalam pengembangan dana tabungan mi dibanding pesaing utamanya yaitu Bank BCA, Bank Mandiri dan Bank BRI. Pengembangan bisnis konsumer saat mi menghadapi peluang dan tantangan yang semakin bervariasi dan kompleks. Secara nasional Dana Pihak Ketiga mengalarni kenaikan namun dana tabungan mengalami penurunan dan disisi lain dana deposito mengalami kenaikan. Berdasarkan data tersebut maka disimpulkan telah terjadi pergeseran paradigm bahwa "tabungan sudah rnulai tidak digunakansebagai media uniuk menabung akan tetapi lebih digunakan untuk media bertransaksi". Selain itu juga telah terjadi perpindahan dana yang cukup signifikan dari Bank Pernerintah ke Bank Swasta dan Bank Asing & Campuran. Ditinjau dari sisi internal terdapat beberapa faktor yang menyebabkan berpindahnya nasabah ke bank lain, diantaranya adalah prosedur, layanan, fasilitas, aksesibilitas, dan fitur produk. Penurunan dana BNI Taplus yang terjadi sejak Desember 2004 selain karena faktor makro juga adanya switcher customer yang disebabkan oleh push factor dan pull factor. Berdasarkan hal-hal tersebut, Bank BNI harus tetap rneiakukan Integrated Marketing Communication disamping untuk memperkuat brand equity BNI Taplus juga untuk mengantisipasi perpindahan nasabah ke bank lain serta melakukan penjualan secara proaktif. Melalui penelitian mi akan di analisis rnengenai faktor penentu dominan yang mempengaruhi nilai brand equity BNI Taplus terutama semenjak Bank BNI mulai melakukan aktivitas komunikasi pemasaran yang intensif sejak tahun 2005 seiring dengan perbaikan kualitas melalui penambahan fitur produk dan perbaikan layanan kepada nasabah. Penelitian faktor dominan penentu brand equity mi rnenggunakan kerangka kerja konseptual yang disusun oleh Edo Rajh (2005) yang merupakan perluasan dari model Aaker. Dengan mempertimbangkan hasil yang diperoleh ditambah dengan analisis aktivitas komunikasi pemasaran yang telah dilakukan, akan diusulkan program komunikasi pemasaran yang sebaiknya dilakukan oleh PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk untuk memperkuat brand equity BNI Taplus. Dari hasil pengukuran brand image didapatkan hasil bahwa dari ketiga aktivitas komunikasi pemasaran yang telah dilakukan yaitu advertising, promotion, dan sponsorship dapat disimpulkan bahwa kesemua aktivitas mi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan brand image BNI Taplus. Hal mi sebenarnya sudah merupakan hasil yang baik karena program promo seperti "Rejeki Durian Runtuh", program sponsorship tahunan seperti "Mudik Bareng BNI Taplus" dan ikian BNI Taplus yang ada di berbagai media telah berhasil memberikan image yang positif di mata nasabah. Manajemen harus bisa memadukan aktivitas above the line, below the line dan public relation dengan tetap mempertimbangkan efisiensi biaya. Dari hasil pengukuran brand awareness didapatkan hasil bahwa dari ketiga aktivitas komunikasi pemasaran yaitu advertising, promotion, dan sponsorship dapat disimpulkan bahwa hanya advertising yang mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap pembentukan brand awareness BNI Taplus. Sedangkan aktivitas promotion dan sponsorship mempunyai hubungan yang negatif terhadap peningkatan brand awareness BNI Taplus. Implikasinya adalah manajemen harus lebih jell dalam menentukan strategi yang tepat berhubungan dengan perencanaan anggaran iklan dan penempatan iklan yang lebih banyak porsinya pada media Televisi dan media cetak. Selain itu manajemen juga harus selektif dalam memilih media apa yang akan dijadikan partner dalam penempatan ikian. Dari hasil pengujian faktor penentu paling dominan dari lima dimensi yaitu brand awareness, brand image, brand association, perceived quality, dan brand loyalty terhadap brand equity, dapat disimpulkan bahwa dimensi perceived quality mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap pembentukan brand equity BNI Taplus. Sedangkan dimensi brand association tidak merupakan faktor penentu dominan yang bisa memperkuat brand equity BNI Taplus. Dengan mempertimbangkan hasil pengujian mi, manajemen harus lebih fokus dalam perbaikan kualitas layanan dan inovasi fitur-fitur produk BNI Taplus yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi saat mi dan untuk menambah kenyamanan nasabah dalam bertransaksi.

For the last ten years the banking section has passed the crisis time and has taken the valuable experience from the aforesaid crisis. One phenomena that advanced its developing in the last ten year is the increasing of the retail and consumer business comparing to the commercial and corporate business. This advance is also supported by the technology advance through electronic banking that cause the costumers do not need to come to the branch office to make the transaction. Even Bank BNI one of the old bank operating corporate business now is actively joining the competition in the retail and consumer business. It needs the proper marketing strategy to obtain the market in this sector. One of the individual safety as the priority is BNI Taplus that the total of its fund is more than 39 billion rupiah in the position of September 2007. Individual fund market is the mass market that builds and authorize this sector is the effort that must be performed continuously and need the enough time to build and to create the strong brand equity to BNI Taplus. To builds and to create strong brand equity needs the continuously investment in the form of promotion. This commitment must be built continuously hence Bank BNI will not leave behind in the development of this deposit fund comparing to its main competitor, they are Bank BCA, Bank Mandiri, and Bank BR!. The development of consumer business at this present face the opportunity and challenges that more various and complex. Nationally, The Third Party Fund has the increasing but the safety fund decrease and in other side deposit fund increase. Based on the aforesaid data hence it concludes it has happened the paradigm movement that "the safety has been commenced unused as the medium to save but used more for the transaction medium". Beside that it has occurred the significant movement of the fund form the State Bank to the Private Bank an Foreign Bank & Mixing. Seeing from the internal side there are some factors that caused the movement of the costumers to other banks, they are procedure, service, facility, accessibility, and product features. The decreasing of BNI Taplus fund that has happened since December 2004, because of macro factors is also because of switcher customer caused by the push factor and pull factor. Based on the aforesaid things, Bank BNI must remain conduct the Integrated Marketing Communication beside to strengthen the brand equity of BNI Taplus to anticipate the movement of the costumer to other bank and to conduct the selling proactively. Through this research will be analyzed the dominant determined factor that influence brand equity value of BNI Taplus especially since Bank BNI commenced to conduct intensive marketing communication activity since 2005 in according to the development of the quality through the additional of the product features and the development of the service to the costumer. This research of determined dominant factor of brand equity use the conceptual frame work provided by Edo Rajh (2005) that is the enlarger of the Aaker model. By considering the result obtained added by the conducted marketing communication activity analysis, will be proposed marketing communication program that its supposed to be done by PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk to strengthen brand equity of BNI Taplus. Form the result of brand image measurement the result is found that from the three of marketing activities that had been carried out they are advertising, promotion, and sponsorship it can be concluded that all these activities have the significant influences to the building of brand image of BNI Taplus. This case actually is a good results because the promo program such as "Rejeki Durian Runtuh" annual sponsorship program such as "Mudik Bareng BNI Taplus" and the advertising of BNI Taplus that exist in various mediums has succeed to give the positive image in the eye of costumers. Management has to be able to combine the activity above the line, below the line, and public relation by remain considering the existence of the cost. From the result brand awareness measurement it is found that from the three marketing activities they are advertising, promotion, and sponsorship can be concluded that only advertising that has significant influence to the building of the brand awareness BNI Tapus. While the promotion and sponsorship activities has the negative relation to the development of brand awareness BNI Taplus. Its implication is the management must pay more attention in determining the proper strategy in relation to the planning of the promotion cost and the placement of the advertisement that it has more proportion in TV and printing mediums. Beside that the management also must selectively in choosing what mediums that will be created as the partner in the advertising placement. From the result of the test the most dominant determinant factor from five dimensions they are brand awareness, brand image, brand association, perceived quality, and brand loyalty to the brand equity, can be concluded that perceived quality dimension has the significant influence to the building of brand equity of BNI Taplus. While the brand association dimension is not the dominant determined factor that is able to strengthen b rand equity of BNI Taplus. By considering the result of this test management must focus more in the development of the quality of service and innovation of product fixtures BNI Taplus that fixed with the present technology advance an to add the costumer comfort in doing the transaction."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T23076
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Adiwarman A. Karim, 1963-
Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004
332.1 ADI b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"Bank Islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syaria'ah Islam yang mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-Qur'an dan Hadits
.."
MIILMIA
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ika Kartika
"Sebagai the most high regulated industry, perbankan merupakan salah satu industri yang memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi Informasi sebagai core teknologi mereka terlebih dalam membantu untuk mematuhi aturan dari regulator seperti Bank Indonesia misalnya. Tingkat ketergantungan ini bahkan akan menjadi lebih tinggi bagi sebagian besar bank yang beroperasi dalam lingkungan yang kompetitif. Dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi informasi dalam bisnis bank, tata kelola teknologi informasi (IT governance) tentunya menjadi konsep yang penting dibicarakan. Hal ini didukung oleh penelitian bahwa perusahaan yang memiliki IT. Governace yang baik rata-rata memperoleh keuntungan 20% lebih tinggi dari perusahaan yang memiliki tata kelolaTI yang baik. Oleh karna itu penelitian yang bersifat deskriptif ini mencoba untuk menggambarkan IT governance dalam sebuah Bank besar yaitu Bank XYZ dengan menggunakan beberapa model IT Governance yang sudah ada. Penggunaan beberapa model beebeda ini ternyata dapat memetakan kondisi IT Governance Bank XYZ dengan lebih baik dibandingkan hanya menggunakan satu model tertentu saja.
Dari hasil penelitian tersebut penulis berpendapat bahwa penerapan IT Governance di Bank XYZ sudah tergolong baik meskipun belum bisa dikatakan ideal. Namun demikian untuk lebih menyempurnakannya lagi maka harus dipastikan bahwa Post Implementation Review benar-benar dilaksanakan. Salah satu cara memastikannya adalah dengan memasukkan Post Implementation Review dalam KPI ataupun SLA unit kerja terkait. Hal ini dikarenakan adanya keterkaitan yang sangat erat antara KPI dan SLA dengan IT Governance di Bank XYZ.

As the most highly regulated industry, banking is one of industry that has high level of dependency to information technology, to help them comply with regulations and authority, Bank Indonesia for example. This level of dependency tends to rise higher for most banks as they operate in competitive environment. With the increasing adoption of information technology in banking business, IT Governance has been major concept to be considered. This also supported by study that shows enterprises with good IT governance, in average, yield 20% higher than enterprise which do not have good IT governance. This descriptive study try to elaborate IT Governance in a big bank, XYZ, by using several existing IT Governance model. By using these models, a better mapping of IT Governance in Bank XYZ can be achieved, compared by using only one specific model.
From the study, can be suggested that implementation of IT Governance in Bank XYZ can be classified as good. Nonetheless, to further improve it, there must be a certainty that PIR be conducted properly. One way to ensure that PIR is conducted properly is by putting the PIR in KPI or SLA of the related working unit. This is because of KPI and SLA is tightly-connected with IT Governance in Bank XYZ."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>