Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 102 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dela Almira Aryanti
"Kemampuan suatu habitat dalam mendukung kelestarian burung di area setempat turut dipengaruhi oleh jenis pohon yang tersedia. Falcataria moluccana merupakan salah satu pohon yang banyak digunakan dalam lanskap area perkotaan serta pernah diteliti di lokasi lainnya bahwa jenis pohon tersebut berperan besar dalam mengakomodasi keanekaragaman maupun beberapa aktivitas burung setempat. Namun, keseluruhan aktivitas burung yang mampu diakomodasi oleh Falcataria moluccana, lebih khususnya di area perkotaan, masih belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis aktivitas pemanfaatan pohon serta proporsi relatif antara jenis-jenis aktivitas pemanfaatan pohon Falcataria moluccana oleh burung pada salah satu area hijau perkotaan, yaitu Taman Wisata Pulau Situ Gintung-3. Penelitian dilakukan selama total 24 hari pada bulan April-Mei 2022 di hari tanpa hujan atau angin kencang dan di hari Taman Wisata Pulau Situ Gintung-3 beroperasi. Penelitian menggunakan dua metode yaitu scan sampling untuk mengamati aktivitas makan, bertengger dan menelisik dan nest count untuk mengamati aktivitas bersarang. Data ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai bagian pohon kecuali bagian buah/biji dimanfaatkan oleh 10 spesies burung setempat untuk berbagai aktivitasnya. Jenis aktivitas dan banyaknya jenis aktivitas pemanfaatan pohon tertentu seiring dengan ketersediaan sumber daya untuk aktivitas tersebut yang sesuai dengan karakteristik masing-masing spesies. Aktivitas pemanfaatan pohon jenis makan dapat dilakukan oleh 3 feeding guild (nektarivora-insektivora, insektivora, frugivora-insektivora) serta mungkin 1 feeding guild (piscivora/karnivora). Jenis aktivitas bersarang dapat dilakukan oleh 1 nesting guild (cavity nester) pada bagian cabang mati. Jenis aktivitas yang dapat dilakukan secara relatif paling banyak hingga sedikit yaitu makan, bertengger kemudian menelisik. Pengetahuan tersebut dapat membantu untuk menjadi pertimbangan dalam manajemen terkait pohon untuk mengakomodasi kelestarian burung di area perkotaan, terutama dengan pohon Falcataria moluccana.

The ability of a habitat to support the conservation of birds in an area is also influenced by the types of trees available. Falcataria moluccana is a species of tree that is widely used in urban landscapes and have been studied in other locations that the tree plays a major role in accommodating the diversity and some activities of local birds. However, the overall scope of bird activities that can be accommodated by Falcataria moluccana, especially in urban areas, is still unknown. This study aims to determine and analyze the utilization activites and relative proportions between types of utilization activities of birds upon the Falcataria moluccana tree in an urban green area, namely Situ Gintung Island Recreational Park-3. The study was conducted for a total of 24 days from April to May 2022 on days without rain or strong winds and on days when the Situ Gintung Island Recreational Park-3 was operating. The study used two methods, namely scan sampling to observe feeding, perching and preening activities and nest count to observe nesting activities. Data were tabulated and analyzed descriptively. The results showed that various parts of the tree except the fruit/seeds were utilized by 10 local bird species for various activities. The type of activity and amount of each type of activity observed was in line with the availability of resources for these activities in accordance with the characteristics of each species of bird. The activity of feeding could be carried out by 3 feeding guilds (nectarivores-insectivores, insectivores, frugivores-insectivores) and possibly 1 more feeding guild (piscivores/carnivores). The activity of nesting could be carried out by 1 nesting guild (cavity nester) on dead branches. The types of activities that can be done the most to the least relatively were eating, perching and finally preening. This knowledge can become a consideration in management about trees to help in accomodating bird conservation in urban areas, especially with Falcataria moluccana trees.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andina Putri Amalia
"ABSTRAK
Eko-epidemiologi adalah ilmu yang menggabungkan model penyebaran penyakit dengan interaksi antara dua atau lebih spesies. Dalam tesis ini dilakukan konstruksi model ekoepidemiologi yang menggambarkan interaksi antara burung Nila dan Pelecanidae dengan infeksi pada Tilapia. Keracunan (botulisme) pada populasi ikan Nila disebabkan karena infeksi akibat bakteri Vibrio vulnivicus yang dapat ditularkan melalui predasi. Model matematika dari persamaan diferensial biasa non linier orde lima terbentuk dengan membagi populasi menjadi populasi bakteri (Vibrio vulnivicus), populasi
Ikan nila rentan dan tertular, populasi burung Pelecanidae rentan dan tertular. Proses infeksi pada ikan nila dimodelkan dengan fungsi respon Holling Type II. Analisis matematika digunakan untuk mencari titik-titik kesetimbangan dan kestabilan titik-titik tersebut ekuilibrium menggunakan pendekatan linierisasi (matriks Jacobian). Simulasi numerik diberikan untuk menunjukkan bagaimana faktor penyakit dalam populasi mangsa mempengaruhi predator dan interaksi mangsa. Dari model eko-epidemiologi, ada tujuh titik ekuilibrium dengan empat titik ekuilibrium tidak stabil dan tiga titik ekuilibrium stabil dengan kondisi.
ABSTRACT
Eco-epidemiology is a science that combines models of disease spread with interactions between two or more species. In this thesis, we construct an ecoepidemiological model that describes the interaction between tilapia and Pelecanidae and infection in tilapia. Toxicity (botulism) in the Tilapia population is caused by infection due to the Vibrio vulnivicus bacteria which can be transmitted through predation. The mathematical model of the fifth order non-linear ordinary differential equation is formed by dividing the population into bacterial populations (Vibrio vulnivicus),
Tilapia are vulnerable and infected, the population of Pelecanidae birds is vulnerable and infected. The infection process in tilapia is modeled by the Holling Type II response function. Mathematical analysis is used to find equilibrium points and the stability of these points is equilibrium using the linearization approach (Jacobian matrix). Numerical simulations are provided to show how disease factors in prey populations affect predator and prey interactions. From the eco-epidemiological model, there are seven equilibrium points with four unstable equilibrium points and three stable equilibrium points with conditions.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naila Zackeisha
"Gangguan antropogenik di wilayah pesisir akhir-akhir ini meningkat karena peningkatan populasi. Gangguan yang dimaksud dapat berupa produk kegiatan manusia yang merusak ekosistem di sekitarnya, seperti sampah, pembangunan industri, perumahan dan fasilitas umum. Salah satu ekosistem yang terancam dari gangguan tersebut adalah ekosistem mangrove. Ekosistem mangrove memiliki berbagai peran bagi lingkungan dan manusia, salah satunya sebagai habitat biota seperti burung air, yang memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai tempat bersarang dan mencari mangsa. Pengaruh gangguan antropogenik terhadap lingkungan diketahui melalui media yang mampu menunjukkan hubungan antara keduanya, seperti Index of Waterbird Community Integrity (IWCI) dimana burung air digunakan sebagai bioindikator perubahan kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor gangguan antropogenik berupa penggunaan lahan, jumlah pengunjung, polusi suara, kecerahan air dan kadar fosfat terhadap kualitas lingkungan melalui penilaian skor IWCI. Penelitian dilakukan di Taman Wisata Alam Angke Kapuk (TWAAK) pada bulan Oktober hingga November tahun 2019. Sebanyak 17 jenis burung air berhasil diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IWCI dalam TWAAK berkisar antara 13,75 hingga 17,61 dengan rata-rata 16,02. Berdasarkan kriteria skor IWCI, nilai rata-rata menunjukkan bahwa kualitas lingkungan TWAAK tergolong 'buruk-sedang'. Data korelasi gangguan antropogenik dan skor IWCI menunjukkan hubungan negatif yang signifikan terhadap jumlah pengunjung dan persentase penggunaan lahan. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa hubungan yang signifikan antara jumlah pengunjung mempengaruhi nilai IWCI sebesar -0,109 dan persentase penggunaan lahan yang paling signifikan adalah -0,136.

Anthropogenic disturbances in coastal areas have recently increased due to population growth. The disturbance in question can be in the form of a product of human activities that damage the surrounding ecosystem, such as garbage, industrial development, housing and public facilities. One of the ecosystems that are threatened from this disturbance is the mangrove ecosystem. Mangrove ecosystems have various roles for the environment and humans, one of which is as a habitat for biota such as water birds, which use the mangrove ecosystem as a place to nest and find prey. The influence of anthropogenic disturbances on the environment is known through media that are able to show the relationship between the two, such as the Index of Waterbird Community Integrity (IWCI) where waterbirds are used as bioindicators of changes in environmental quality. This study aims to determine the relationship between anthropogenic disturbance factors in the form of land use, number of visitors, noise pollution, water brightness and phosphate levels on environmental quality through an IWCI score assessment. The research was conducted at the Angke Kapuk Nature Tourism Park (TWAAK) from October to November 2019. A total of 17 species of water birds were identified. The results showed that the IWCI value in the TWAAK ranged from 13.75 to 17.61 with an average of 16.02. Based on the IWCI score criteria, the average score indicates that the environmental quality of TWAAK is classified as 'poor-moderate'. Correlation data of anthropogenic disturbances and IWCI scores showed a significant negative relationship to the number of visitors and the percentage of land use. The results of the regression analysis showed that the significant relationship between the number of visitors affected the IWCI value of -0.109 and the most significant percentage of land use was -0.136."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sajeela ahmad
"Situ Agathis dan Situ Salam merupakan dua dari enam situ yang berada di dalam wilayah Kampus Universitas Indonesia. Penelitian yang telah dilakukan terdahulu menunjukan bahwa kualitas air di situ-situ UI sudah menurun disebabkan oleh masuknya pencemaran air dari aktivitas manusia sekitar. Limbah air berupa nitrat dan fosfat dari Situ Agathis dapat terbawa hingga Situ Salam, dan berdampak menurunnya kualitas air pada situ tersebut. Penurunan kualitas air akan berdampak pada keberadaan burung air dan sumber pakannya. Penelitian ini bertujuan menilai kualitas air Situ Agathis dan Situ Salam berdasarkan Index Waterbird Community Intergrity (IWCI) dan mengaitkan jenis burung air yang ada pada kedua situ dengan sumber pakannya dan parameter fisika dan kimia perairan. Penelitan dilakukan pada Bulan Agustus-September tahun 2020. Ada 3 spesies burung air yang ditemukan pada kedua situ, yaitu Amaurornis phoenicurus, Alcedo meninting, dan Todirhamphus chloris. Hasil penilaian Index Waterbird Community Integrity (IWCI) pada Situ Agathis adalah 11,14, sedangkan pada Situ Salam adalah 16,29. Nilai tersebut menunjukan bahwa kondisi perairan pada Situ Agathis dan Situ Salam sudah tidak baik untuk menopang kehidupan burung air. Rendahnya nilai IWCI pada kedua situ didukung oleh rendahnya penilaian kualitas air berdasarkan sumber pakan burung air dan kondisi fisika dan kimia perairan tersebut.

Situ Agathis and Situ Salam are two of the six ponds within Kampus Universitas Indonesia. Studies have shown that the water quality within those ponds has slowly declined over the years due to the intake of water pollution from human activities nearby. Water wastes in the form of nitrate and phosphate can be brought all the way from Situ Agathis to Situ Salam, thus declining the water quality in that pond too. This decline will have an impact on waterbird diversity and its source of food. The purpose of this research is to assess the water quality of Situ Agathis and Situ Salam based on the Index of Waterbird Community Integrity (IWCI) and to link the existence of waterbird species in those two ponds to its source of food, and also to the physical and chemical parameters of the water itself. This research was done during the month of August to September 2020. Three species of waterbirds were found, which are: Amaurornis phoenicurus, Alcedo meninting, dan Todirhamphus chloris. The results of the Index of Waterbird Community Integrity (IWCI) assessment show that Situ Agathis has the score of 11,14, while Situ Salam has the score of 16,29. Those results show that the water condition in both ponds is not good enough to support the life of waterbirds. The low IWCI scores in those two ponds are supported by the similar low scores for water quality assessment based on waterbird’s source of food. It is also supported by the physical and chemical parameters of the water itself."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Megananda Kory Rahmawati
"Situ Tujuh Muara sangat rawan mengalami pencemaran dan berubah alih fungsi lahan, sehingga cepatnya peningkatan jumlah penduduk dapat menyebabkan tidak seimbangnya aktivitas manusia dengan kondisi lingkungan sekitar. Beragam jenis burung dapat menjadi faktor penting untuk mengetahui keanekaragaman hayati yang dapat dijadikan sebagai usaha perencanaan dan pembangunan wilayah Situ Tujuh Muara menuju lebih baik. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis tingkat keanekaragaman, dominansi, dan kemerataan persebaran jenis burung di setiap tipe tutupan vegetasi pada Situ Tujuh Muara. Serta, menganalisis tingkat penggunaan habitat dan hubungan antara nilai keanekaragaman burung dengan tipe tutupan vegetasi di Situ Tujuh Muara. Metode yang digunakan adalah point count untuk pengamatan burung dan sampling purposive untuk menentukan titik pengamatan. Selain itu, analisis data hasil pengamatan menggunakan Indeks Shannon-Wiener, Indeks Dominansi Simpson, Indeks Kemerataan, Nilai Tingkat Penggunaan Habitat, dan Uji Kruskal Wallis. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu nilai Indeks Keanekaragaman burung pada tipe tutupan vegetasi tinggi, sedang, dan rendah berturut-turut yaitu 1,56; 2,06; dan 2,11. Nilai Indeks Dominansi burung pada tipe tutupan vegetasi tinggi, sedang, dan rendah yaitu bernilai 0,26; 0,14; dan 0,11. Nilai tersebut menunjukkan bahwa tidak ada burung yang mendominansi pada setiap tipe tutupan vegetasi di Situ Tujuh Muara. Nilai Indeks Kemerataan burung pada tipe tutupan vegetasi tinggi, sedang, dan rendah yaitu bernilai 0,59; 0,76; dan 0,78. Nilai tersebut menunjukkan bahwa tingkat kemerataan persebaran burung pada setiap tipe tutupan vegetasi cukup tersebar merata. Nilai Tingkat penggunaan habitat pada tipe tutupan vegetasi rendah dan sedang bernilai 78,90%, serta pada tipe tutupan vegetasi tinggi bernilai 73,70%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa tingkat penggunaan habitat pada setiap tipe tutupan vegetasi digunakan cukup baik oleh beragam jenis burung. Berdasarkan Uji Kruskal Wallis menunjukkan hasil 0,066 yaitu tidak adanya perbedaan antara keanekaragaman burung dengan tipe tutupan vegetasi. Hal tersebut membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara keanekaragaman burung dengan tiga tipe tutupan vegetasi di Situ Tujuh Muara, Pamulang, Tangerang Selatan.

Situ Tujuh Muara is very prone to pollution and changes in land use, so that the rapid increase in population can cause an imbalance between human activities and environmental conditions. Various types of birds can be an important factor to determine biodiversity which can be used as an effort to plan and develop the Situ Tujuh Muara area for the better. The purpose of this study was to analyze the level of diversity, dominance, and even distribution of bird species in each type of vegetation cover at Situ Tujuh Muara. Also, analyze the level of habitat use and the relationship between the value of bird diversity and the type of vegetation cover in Situ Tujuh Muara. The method used is point count for bird observation and purposive sampling to determine the point of observation. In addition, the analysis of observational data used the Shannon-Wiener Index, Simpson's Dominance Index, Evenness Index, Habitat Use Rate Value, and Kruskal Wallis Test. The results obtained in this study are the value of the Bird Diversity Index in the high, medium, and low vegetation cover types, respectively 1.56; 2.06; and 2.11. The value of the dominance index of birds in the type of vegetation cover is high, medium, and low, which is 0.26; 0.14; and 0.11. This value indicates that there are no birds that dominate in any type of vegetation cover in Situ Tujuh Muara. The evenness index value of birds in high, medium, and low vegetation cover types is 0.59; 0.76; and 0.78. This value indicates that the level of even distribution of birds in each type of vegetation cover is quite evenly distributed. Value The level of habitat use in the low and medium vegetation cover types is 78.90%, and the high vegetation cover type is 73.70%. This value indicates that the level of habitat use for each type of vegetation cover is used quite well by various types of birds. Based on the Kruskal Wallis test, the result is 0.066, that is, there is no difference between bird diversity and the type of vegetation cover. This proves that there is no relationship between bird diversity and the three types of vegetation cover in Situ Tujuh Muara, Pamulang, Tangerang Selatan."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aghniya Nanda Pradipta
"Telah dilakukan penelitian tentang jasa ekosistem pengendalian hama serangga oleh burung terhadap bibit tanaman kelapa sawit di FMIPA UI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis spesies burung insektivora yang memberikan jasa ekosistem pengendalian hama serangga kepada bibit tanaman kelapa sawit di FMIPA UI. Penelitian dilakukan dengan mengelompokan 10 bibit kelapa sawit menjadi 2 kelompok dengan perlakuan yang berbeda, yaitu perlakuan bird exclosure dan perlakuan kontrol. Setelah itu, dipilih 15 helai daun secara acak pada tiap bibitnya, baik yang sempurna maupun tidak, dan diberikan tanda menggunakan spidol permanen. Tiap daun yang sudah diberi tanda difoto secara digital, dan tingkat herbivora untuk tiap bibit dihitung berdasarkan proporsi rata-rata luas helai daun yang hilang per anak daun per hari. Luas helai daun dihitung dengan perangkat lunak ImageJ. Pengamatan burung dilakukan menggunakan metode point count selama 3 minggu waktu penelitian. Data yang didapat disusun ke dalam tabel, dan dilakukan hitung uji untuk hasil analisis. Analisis perbedaan tingkat herbivori perlakuan bird exclosure dan control dilakukan dengan menggunakan Uji U. Analisis korelasi antara jumlah individu spesies burung dan tingkat herbivori dihitung menggunakan analisis non-parametrik Spearman's Rank. Hasil menunjukkan bahwa ditemukan 6 spesies burung, antara lain Gereja eurasia (Passer montanus), Walet linci (Collocalia linchi), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Nectarinidae, Tekukur biasa (Streptopelia chinensis), serta Cinenen jawa (Orthotomus sepium) dan 2 di antaranya adalah insektivora, yaitu Walet linci (Collocalia linchi) dan Cinenen jawa (Orthotomus sepium) . Tingkat herbivori bibit kelapa sawit kontrol berkisar pada nilai 0,005 sampai 0,303, dan tingkat herbivori pada kelapa sawit bird exclosure berkisar pada nilai 0,013 sampai 0,295. Hasil uji U menunjukkan tidak ada perbedaan nyata antara tingkat herbivori bird exclosure dan kontrol, dan hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak ada korelasi kuat antara tingkat herbivori dengan jumlah individu untuk semua spesies burung.

A Research about the ecosystem services of controlling insect pests by birds on oil palm seedlings at FMIPA UI has been conducted. The purpose of this research is to analyze insectivore bird species’ that provide insect pest control to oil palm experimental seedlings at FMIPA UI. The research was done by grouping 10 experimental palm oil seeds into 2 groups with different treatments, namely bird exposure treatment and control treatment. After that, 15 leaves were randomly selected from each seedling, whether perfect or not, and marked using a permanent marker. Each tagged leaf was digitally photographed, and the herbivory level for each seedling was calculated based on the average proportion of leaf area lost per leaflet per day. Leaf blade area was calculated using ImageJ software. Bird observations were carried out using the point count method during the 3 weeks of research. The data obtained was arranged into a table, and an unique test was calculated for the results of the analysis. Analysis of the difference of herbivory rate in the bird exclosure treatment was done by using the U Test. Correlation analysis between the number of individual bird species and the level of herbivory was calculated using non-parametric Spearman's Rank analysis. The results showed that 6 species of birds were found, among them are Eurasian tree sparrow (Passer montanus), Cave swiflet (Collocalia linchi), Sooty-headed bulbul (Pycnonotus aurigaster), Nectarinidae, Spotted Dove (Streptopelia chinensis), and Olive-backed tailorbird (Orthotomus sepium) and 2 of them are insectivores, namely Cave swiflet (Collocalia linchi) and Olive-backed tailorbird (Orthotomus sepium). The herbivory level of control oil palm plants ranged from 0.005 to 0.303, and the herbivory level of the bird exposed oil palms ranged from 0.013 to 0.295. The U test results from the research showed that There is no difference between the herbivori rate in bird exclosure and control, and the Spearman correlation test results showed that there was no correlation between the level of herbivory and the number of individuals for all bird species."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dermawan Salim
"ABSTRAK
Pengelolaan dan pemanfaatan sarang burung walet merupakan salah satu cara untuk menjaga kelestarian dari populasi burung walet. Di Kota Batam pengelolaan dan pemanfaatan sarang burung walet terutama dengan memanfaatan bangunan atau gedung. faktor ekonomi dan fakta medis menjadi salah satu penyebab mewabahnya pembangunan gedung atau bangunan untuk pengelolaan dan pemanfaatan sarang burung walet yang merupakan penyebab terjadinya pelanggaran izin mendirikan bangunan (IMB) dan menyebabkan ketidaksesuaian pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam yang berlaku. Terkait pengelolaan dan pemanfaatan sarang burung walet di Kota Batam secara jelas terjadi ketidaksesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam yang berlaku maka dalam hal ini perlu segera disusun RTRW Kota Batam yang baru antara pemerintah daerah (PEMDA) Kota Batam bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kota Batam yang inti subtansi mengatur zona pengelolaan dan pemanfaatan sarang burung walet serta revisi peraturan izin mendirikan bangunan (IMB) yang telah ada dengan memasukkan bangunan atau gedung penangkaran burung walet yang memerlukan izin mendirikan bangunan tersendiri. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini bersifat kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif empiris berupa preskriptif..

ABSTRACT
The management and the utilization of swallow bird's nest is to preserve the birds' population. The preservation can be through of natural habitat (caves or other natural ecosystems) and non-natural habitats (house or buildings with particular construction). In Batam, management and utilization of swallow birds' (nest) mostly with the utilization of the house or buildings with special construction. Economic factors and medical facts is one of the reason for subject to utilize swallow bird's nest and other side also cause violation of the building permit (IMB) and created violation of Spatial Planning in Batam. The research method is qualitative analysis with juridical-empirical approach to the result of a prescriptive report. Related to the management and utilization of swallow bird’s nest in Batam clearly there has been a obviously discrepancy Spatial Planning Batam. In this case The Batam Spatial planning need to be revised by the local government Batam with the or approval by Regional Representative Council (DPRD) Batam city enhanced to regulate the management and utilization bird's nest zone and revise the building permit (IMB) for house or particular building for utilization swallow bird’s nest in Batam city. "
Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2014
T38739
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Evi Kurnia Sari
"Rendahnya kontribusi penerimaan pajak sarang burung walet di Kabupaten Tegal memerlukan tinjauan ulang terkait pemenuhan asas revenue productivity. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pajak sarang burung walet yang ditinjau dari asas revenue prodoductivity dan tantangan dalam pemungutan pajak sarang burung walet di Kabupaten Tegal. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif post positivist dan teknis analisis data kualitatif. Hasilnya adalah pajak sarang burung walet tidak memenuhi asas revenue productivity dan terdapat beberapa tantangan yang menghambat dalam pemungutan pajak sarang burung walet di Kabupaten Tegal, yaitu terdiri dari lingkungan habitat burung walet yang harus memiliki ketenangan sehingga BP2D tidak dapat masuk ke dalam bangunan sarang burung walet, domisili pengusaha sarang burung walet yang mayoritas tidak berada di wilayah yang sama dengan objek pajak, dan tingkat kepatuhan dan tertutupnya kelompok sasaran. Saran untuk pemerintah, yaitu dapat tetap menerapkan kebijakan pajak sarang burung walet dengan mengoptimalkan penerimaan pajak sarang burung walet atau kebijakan alternatif lainnya, pemerintah dapat melakukan policy termination sesuai dengan Pasal 2 ayat 4 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 dan membuat kebijakan lain, yaitu kebijakan retribusi izin pengelolaan dan pengusahaan sarang burung walet seperti yang telah diterapkan di daerah lain.

The low contribution of tax revenue of swallow nest in Tegal regency needs a review related to the fulfillment of the principle of revenue productivity. This research aims to analyze swallow nest tax policy in terms of the principle of revenue productivity and the challenge of collecting swallow nest tax in Tegal regency. This research was conducted with quantitative post positivist approach and technical analysis of qualitative data. The result is swallow nest tax does not meet the principle of revenue productivity and there are some obstacles obstruct the collection of swallow nest tax in Tegal regency. The obstacles consist of swallow birds habitat must have quiet place which affect BP2D can not get into the swallow nest building, swallow nest entrepreneurs domicile are mostly not in the same area as the tax object, the level of obedience and closed target group. Suggestions for the government is to keep applying the swallow nest tax policy by optimizing the revenue of the swallow nest tax or other alternative policy the government be able to perform policy termination comply with Article 2 paragraph 4 of Regulation Number 28 Year 2009 about Regional Taxes and User Charges and make other policies, namely user charges permit for management and exploitation of swallow nest policy as has been applied in other areas.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sari Indira Setyowati
"Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil sarang burung walet (SBW) terbesar di dunia. Protein hidrolisat SBW menunjukkan berbagai manfaat kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh konsentrasi enzim (1, 2 dan 3% papain komersial) terhadap profil hidrolisat protein serta aktivitas antioksidan dan anti-tirosinase. Ekstrak teraktif  SBW sebanyak 2% (F1), 3% (F2) dan 4% (F3) diaplikasikan dalam gel mengandung etil askorbat 2% dan diuji stabilitasnya pada berbagai suhu selama 12 minggu. Hasil uji SDS-PAGE menunjukkan bahwa hidrolisis menghasilkan peptida dengan berat molekul 15, 23 dan 35 kDa. Dengan meningkatnya konsentrasi enzim, meningkatkan jumlah peptida yang dihasilkan. IC50 antioksidan ABTS paling baik oleh ekstrak air SBW dengan aktivitas sedang (114,102 + 1,080 µg/mL), dan IC50 anti-tirosinase terbaik oleh ekstrak hasil hidrolisis SBW menggunakan 3% papain komersial dengan aktivitas lemah (6649,93+1,972 µg/mL). Pada suhu 4± 20C seluruh formula memiliki stabilitas secara fisik selama 12 minggu, namun pada suhu  30± 20C terjadi perubahan warna dan pada suhu 40 ± 20C, seluruh formula tidak stabil. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa ekstrak air SBW memiliki aktivitas antioksidan terbaik yaitu sedang, sedangkan ekstrak hasil hidrolisis 3% menunjukkan aktivitas anti-tirosinase terbaik namun lemah. Gel F1, F2 dan F3 menunjukkan stabilitas yang baik pada suhu 4± 20C. Pada suhu 30± 20C dan 40 ± 20C tidak ada formula yang menunjukkan stabilitas.

Indonesia is known as one of the largest sources of edible bird’s nests (EBN) in the world. The hydrolyzed protein of EBN exhibits a variety of health benefits. The purpose of this study was to analyze the effect of enzyme concentrations (1, 2, and 3% commercial papain) on the protein hydrolyzate profile, its antioxidant and anti-tyrosinase activities. As much as 2% (F1), 3% (F2), and 4% (F3) of the most active EBN extract were applied in 2% ethyl ascorbate gel and tested for its stability at various temperatures for 12 weeks. SDS-PAGE test results showed that hydrolysis produced peptides with molecular weights of 15, 23, and 35 kDa. As the concentration of the enzyme increases, the amount of peptides increases. The test results showed the best IC50 antioxidant ABTS was EBN water extract with moderate activity (114.102 + 1.080 µg/mL), and the best anti-tyrosinase IC50 was EBN hydrolyzed extract using 3% commercial papain with weak activity (6649.93 +1.972 µg /mL). At 4 ± 20C all formulas had physical stability for 12 weeks, but at 30 ± 20C color change occurred and at 40 ± 20C, all formulas were unstable. Based on this study it was concluded that the SBW water extract had the best antioxidant activity, which is moderate, while the 3% hydrolyzed extract showed the best but weak anti-tyrosinase activity. F1, F2, and F3 showed good stability at 4 ± 20C. Meanwhile at 30 ± 20C and 40 ± 20C, no formulas showed good stability."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amelia Rahmah Dini
"Guild merupakan kelompok spesies burung yang terbentuk dari spesies-spesies yang memanfaatkan sumber yang sama. Penelitian mengenai guild burung pernah dilakukan di ruang terbuka hijau DKI Jakarta, tapi belum pernah dilakukan di area urban Depok sebelumnya. Kota Depok memiliki ketersediaan ruang terbuka hijau yang rendah, sehingga keberadaan pekarangan dan taman sangat penting keberadaannya sebagai penyedia habitat dan ruang terbuka hijau itu sendiri. Penelitian bertujuan untuk menganalisis guild komunitas burung di 3 tipe ruang terbuka hijau area pemukiman urban (jalan raya, taman, dan perumahan) dan pola guild burung di sekitar pemukiman. Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian adalah point count. Data dianalisis menggunakan Korelasi Pearson dan Principal Component Analysis (PCA). Penelitian dilakukan pada bulan Maret—Juli 2021. Data jenis burung yang diperoleh dikelompokkan menjadi 8 tipe guild. Berdasarkan penelitian, ditemukan total 21 spesies burung dengan guild granivora (6 spesies, 28,57%) menjadi guild paling dominan di Kelurahan Tugu disusul oleh insektivora-ranting (5 spesies; 23,81%). Berdasarkan peran ekologi kedua guild ini dalam menjaga keseimbangan ekosistem, pemerintah perlu menekankan sosialisasi penanaman tanaman di pekarangan agar tersedia lebih banyak ruang terbuka hijau yang dapat mendukung kehidupan burung urban.

Guild is a group of species formed from those that use the same sources. Research on bird guilds has been conducted in DKI Jakarta, though it has never been conducted in the urban area of Depok. Depok has a low availability of green space; thus, the existence of yards and parks are very important to provide as habitat and as green spaces itself. This study aims to analyze bird community guilds in 3 types of green spaces in urban areas (roads, yards/parks, and housing). The study also aims to see if there’s any guild patterns exist around the settlements. Data collection method used in this research was Point Count and analyzed using Pearson Correlation and Principal Component Analysis (PCA). This research was conducted in March—July 2021. The species data obtained were grouped into 8 types of guilds. There are a total of 21 bird species in District Tugu, the granivores (6 species; 28,57%) and branches insectivores (5 species; 23,81%) as the most dominant guild. Based on their ecological role in maintaining ecosystem balance, the government needs to emphasize the socialization of planting vegetation in the yard so there will be more green spaces to support urban bird life. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   5 6 7 8 9 10 11   >>