Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 61 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Michicho Citra Zhangrila
"Pemantauan terapi obat (PTO) adalah rangkaian proses kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien. Pasien yang mendapatkan terapi obat mempunyai risiko mengalami masalah terkait obat (MTO). Risiko MTO meningkat pada pasien lanjut usia dengan banyak penyakit penyerta (komorbid) akibat polifarmasi yang diterimanya. Pada penelitian ini, dilakukan kegiatan PTO terhadap pasien rawat inap atas nama Tn. B dengan diagnosis Pneumonia, PPOK Eksaserbasi Akut, Unstable Angina Pectoris, dan Hipertensi. Pasien yang dipilih termasuk dalam kalangan yang rentan terhadap penyakit di atas, yaitu berusia di atas 65 tahun, memiliki riwayat kebiasaan merokok, disertai riwayat penyakit PPOK dan Hipertensi. Data yang diperoleh selama kegiatan PTO dianalisa dan dikaji berdasarkan kategori MTO menurut Hepler dan Strand menggunakan metode SOAP. Ditemukan dua MTO yang diidentifikasi pada terapi pasien selama periode PTO, yaitu masalah terkait pemilihan obat, dan interaksi obat dengan obat. Tindak lanjut yang direncanakan terkait MTO yaitu dengan memberikan rekomendasi pilihan terapi alternatif, dan dilakukannya monitoring untuk memantau keberhasilan terapi pada pasien. Selain itu, kegiatan PTO terhadap Tn. B menunjukkan bahwa terapi yang diberikan kepada pasien sudah sesuai dengan pedoman pengobatan tatalaksana terapi Pneumonia, PPOK Eksaserbasi Akut, Unstable Angina Pectoris, dan Hipertensi.

Drug therapy monitoring (DTM) ensures safe, effective, and rational drug therapy for patients. Patients who receive drug therapy are at risk of experiencing drug-related problems (DRP). The risk of DRP increases in elderly patients with many comorbidities due to the polypharmacy they receive. In this study, DTM activities were carried out for inpatients on behalf of Mr. B with a diagnosis of Pneumonia, Acute Exacerbation of COPD, Unstable Angina Pectoris, and Hypertension. The selected patients are among those susceptible to the above diseases, namely those aged over 65 years who have a history of smoking habits accompanied by a history of COPD and hypertension. The data obtained during the DTM activities were analyzed and reviewed based on the DRP category according to Hepler and Strand using the SOAP method. Two DRPs were identified in the patient's therapy during the DTM period: problems related to drug selection and drug-drug interactions. Planned follow-up related to DRP is by providing recommendations for alternative therapy options and monitoring the success of therapy in patients. In addition, DTM activities towards Mr. B indicate that the therapy given to the patient already follows the guidelines for treating Pneumonia, Acute Exacerbation of COPD, Unstable Angina Pectoris, and Hypertension."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Widia Astuti AW
"Praktik residensi keperawatan medikal bedah adalah bagian dari pendidikan profesi yang mempunyai tujuan untuk menghasilkan perawat spesialis. Perawat spesialis diharapkan dapat melaksanakan perannya dalam memberikan pelayanan keperawatan pada kasus dengan gangguan sistem pernapasan. Peran tersebut sejalan dengan kompetensi yang harus dicapai selama praktik residensi berupa pemberian asuhan keperawatan, penerapan praktik keperawatan berbasis bukti dan proyek inovasi. Pemberian asuhan keperawatan diterapkan kepada satu pasien kelolaan utama dengan kasus PPOK dan 30 kasus resume menggunakan pendekatan model adaptasi Roy. Penerapan tindakan keperawatan berbasis bukti ilmiah yang dilakukan yaitu pemberian posisi condong kedepan dan Latihan nafas pursed lips breathing pada pasien dyspnea dengan penyakit paru. Proyek inovasi yang diterapkan yaitu Pengembangan Self Manajemen Dengan Video Latihan Breathing Exercise : ACBT Dalam Meningkatkan Airway Clearance Pada Pasien Dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK). Hasil analisis praktik menunjukkan bahwa model adaptasi Roy dapat digunakan sebagai pendekatan dalam asuhan keperawatan pasien dengan gangguan sistem pernapasan untuk mengembangkan mekanisme adaptif pasien. Pemberian posisi condong kedepan dan Latihan nafas pursed lips breathing dapat menurunkan sesak napas pada pasien dengan penyakit paru. Selain itu, Latihan Breathing Exercise : ACBT Dalam Meningkatkan Airway Clearance Pada Pasien mendapat evaluasi yang positif dan dapat diterapkan di tatanan klinis sebagai inovasi pengkajian dan manajemen keperawatan mandiri pada pasien PPOK selama di rumah.

Medical surgical nursing residency practice is part of professional education that aims to produce specialist nurses. Specialist nurses are expected to carry out their role in providing nursing services in cases with respiratory system disorders. The role is in line with the competencies to be achieved during residency practice in the form of providing nursing care, implementing evidence-based nursing practice and innovation projects. Nursing care was applied to one primarily managed patient with a case of COPD and 30 resume cases using Roy's adaptation model approach. The application of scientific evidence-based nursing actions carried out is the provision of a forward leaning position and pursed lips breathing exercises in dyspnea patients with lung disease. The innovation project applied is the Development of Self Management with Video Breathing Exercise: ACBT in Increasing Airway Clearance in Patients with Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). The results of the practice analysis show that Roy's adaptation model can be used as an approach in nursing care of patients with respiratory system disorders to develop patient adaptive mechanisms. Forward leaning and pursed lips breathing exercises can reduce shortness of breath in patients with lung disease. In addition, Breathing Exercise: ACBT in Increasing Airway Clearance in Patients received a positive evaluation and can be applied in clinical settings as an innovation in self-assessment and nursing management in COPD patients while at home."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hendrawan Kantawijaya
"Jumlah lanjut usia dengan Penyakit Pam Obstruktif Kronik yang melakukan perjalanan penerbangan jarak tempuh lama seperti jemaah Haji semakin banyak. Kondisi lingkungan di ketinggian meningkatkan risiko kejadian hipoksia pada lanjut usia dengan PPOK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh latihan fisik Apolap (Aerobik, Peregangan Otot, dan Latihan Pemapasan) secara teratur pada lanjut usia dengan penyakit pam obstruktif kronik sebagai persiapan penerbangan jarak tempuh lama. Sebanyak 20 orang lanjut usia dengan diagnosis PPOK yang datang ke Poliklinik RSAU dr. Esnawan Antariksa diberikan latihan fisik Apolap tiga kali seminggu selama 4 minggu. Pemeriksaan spirometri, saturasi oksigen, dan nilai CAT dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Dari 20 responden, 17 pasien menyelesaikan peneiirian. Hasil penelitian menunjukan latihan fisik Apolap tidak menunjukan basil berma1cna pada variabel spirometri FEVI (p=O,570) dan FVC (p=0,156) dan menunjukan hasil berma1cna pada variabel saturasi oksigen (p=O,032), dan nilai CAT (p=O,OOO). Latihan fisik Apolap tidak menghasilkan perubahan yang berma1cna pada variabel spirometri (FEVI dan FVC) tetapi menghasilkan perubahan bermakna untuk variabel saturasi oksigen dan nilai CAT.

The number of elderly with Chronic Obstructive Pulmonary Disease who travel by plane in a long-haul flight like Hajj pilgrims has increased. High-altitude environment increased the risk of hypoxia in elderly patients with COPD. The aim of this study was to evaluate the influence Apolap physical exercise consists of aerobic, muscle stretching, and breathing exercise in elderly patients with Chronic Obstructive Pulmonary Disease as a long-haul flight preparation. A total of 20 elderly patients diagnosed wih COPD in RSAU dr. Esnawan Antariksa joined Apolap physical exercise three times a week for 4 weeks. Spirometry, oxygen saturation, and CAT values were recorded pre- and post- intervention. Out of 20 patients, 17 patients completed the study. A statistically insignificant improvement was recorded for spirometry FEV 1 (p = 0,570) and FVC (p = 0,156) meanwhile statistically significant improvement was recorded for oxygen saturation (p=O,032), and CAT value (p = 0,000)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T57659
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jessica Audrienna
"Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyakit saluran pernapasan yang tidak dapat disembuhkan dan jika tidak dikelola dengan baik maka dapat menyebabkan eksaserbasi akut PPOK. Obat inhalasi merupakan terapi utama bagi pasien PPOK yang bila digunakan secara optimal dapat meningkatkan efektivitas terapi PPOK yang kemudian mencegah kejadian eksaserbasi akut dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi seluler mengenai edukasi cara penggunaan obat inhalasi yang baik dan benar terhadap tingkat efektivitas terapi dan kualitas hidup pasien penderita PPOK. Penelitian ini berlangsung dari Februari sampai Mei 2021 dengan desain penelitian pre-eksperimental dan dilakukan secara prospektif di Rumah Sakit Grha Permata Ibu Depok. Sebanyak 47 pasien yang menjadi subjek penelitian diperiksa kualitas hidupnya menggunakan kuesioner CAT (COPD Assessment Test) dan diperiksa ketepatan penggunaan obat inhalasinya menggunakan daftar tilik obat inhalasi khusus, dan kemudian diberikan akses terhadap aplikasi seluler yang kemudian diunduh ke dalam telepon seluler mereka masing-masing. Setelah satu bulan, kualitas hidup dan ketepatan penggunaan obat inhalasi pasien kembali diperiksa. Hasil rerata median skor CAT seluruh subjek penelitian setelah pemberian intervensi menunjukkan adanya perubahan yang signifikan (p<0,05) yaitu penurunan skor lebih dari 2 poin dari skor CAT sebelum intervensi [13 (2-27) vs 6 (0-26)]. Pemberian intervensi berpengaruh dalam meningkatkan ketepatan penggunaan obat inhalasi pasien pengguna obat inhalasi jenis diskus, breezhaler, pMDI, dan respimat secara signifikan (p<0,05). Oleh karena itu,  dapat disimpulkan bahwa aplikasi seluler mengenai edukasi penggunaan obat inhalasi yang tepat berpengaruh terhadap meningkatkan kualitas hidup pasien PPOK.

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is one of the uncurable airway disease, and may progress into acute excacerbation if the disease is not controlled. Appropiate use of inhaler is the main therapy for COPD patients which may increase medication effectiveness for COPD and in turn may prevent excacerbation and improves patient’s quality of life. This study aims to determine the effect of mobile application, which is developed by our research team, regarding education on proper use of ihaler to the therapeutic effectiveness and quality of life of patients with COPD. This research took place from February 2021 to May 2021 with a pre-experimental research design and was carried out prospectively at Grha Permata Ibu Hospital Depok. A total of 47 patients who became the subject of the study were examined for their quality of life using CAT (COPD Assessment Test) questionnaire and their accuracy in using their inhalers using a special inhaler checklist. Patients are then given access to the mobile application which is then installed to their respective mobile phones. After one month, the patients’ quality of life and accuracy of inhaler technique were re-examined. The ratio of median CAT score of all subjects from the CAT score before the intervention and after the intervention showed a significant change (p<0,005), namely a decrease of more than 2 points [12 (2-27) vs 6 (0-26)]. The intervention also showed an effect on increasing the accuracy of patients’ inhaler technique, as the patients using discus, breezhaler, pMDI, and respimat inhaler experienced a significant increase of  score (p<0,05) from before the intervention and after the intervention. So we can conclude here that mobile application regarding education on proper use of inhaler have an effect on improving the quality of life of COPD patients."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saragih, Elisa Br.
"Laporan ini membahas pemantauan terapi obat (PTO) pada pasien pre-CAG dengan riwayat Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Tujuan dari laporan ini adalah untuk menganalisis Drug Related Problem (DRP) dan memberikan rekomendasi terkait penyelesaian masalah yang ditemukan. Pasien yang diamati adalah Tn. SP, seorang pria berusia 64 tahun dengan diagnosa utama Hypertensive Heart Disease (HHD) tanpa Congestive Heart Failure (CHF), PPOK, dan Coronary Artery Disease (CAD) non-signifikan. Selama rawat inap, pasien menerima terapi farmakologi yang meliputi obat antiangina, antihipertensi, antiplatelet, statin, dan terapi PPOK. Hasil pemantauan menunjukkan adanya indikasi anemia yang tidak diterapi, interaksi obat antara Klopidogrel dan Omeprazole yang berpotensi membahayakan, serta efek samping obat yang perlu dimonitor. Rekomendasi yang diberikan antara lain substitusi Omeprazole dengan Lansoprazole, pemantauan tanda-tanda perdarahan, dan edukasi pasien terkait penggunaan inhaler SpiRiva. Kesimpulannya, pemantauan terapi obat perlu dilakukan sejak awal rawat inap untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah terkait obat secara cepat.

This report discusses drug therapy monitoring (PTO) in a pre-CAG patient with a history of Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) at Universitas Indonesia Hospital (RSUI). The aim of this report is to analyze Drug Related Problems (DRPs) and provide recommendations for resolving the identified issues. The observed patient, Mr. SP, is a 64-year-old man with primary diagnoses of Hypertensive Heart Disease (HHD) without Congestive Heart Failure (CHF), COPD, and non-significant Coronary Artery Disease (CAD). During hospitalization, the patient received pharmacological therapy including antianginal, antihypertensive, antiplatelet, statin, and COPD medications. Monitoring results indicated untreated anemia, a potentially harmful drug interaction between Clopidogrel and Omeprazole, and drug side effects that required monitoring. Recommendations included substituting Omeprazole with Lansoprazole, monitoring for signs of bleeding, and educating the patient on the use of the SpiRiva inhaler. In conclusion, drug therapy monitoring should be conducted early in hospitalization to promptly identify and resolve drug-related issues. "
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2024
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hanslavina
"Hasil penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa pada perokok.dengan bronkitis kronis dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) terdapat hipersekresi mukus dan hiperplasia sel goblet pada saluran napas. Beberapa penelitian lain juga mengesankan bahwa faktor utama yang menyebabkan hiperplasia sel goblet adalah pajanan asap rokok pada paru secara konis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hiperplasia sel goblet akibat asap rokok terjadi juga pada keadaan akut. Pada penelitian ini digunakan sampel sebanyak 20 ekor tikus dewasa jantan dari galur Swiss Webster dengan berat badan 250 -- 300 gram yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan diberi paparan asap rokok sebanyak 5 batang perhari selama 20 menit (kecuali hari Minggu) selama 12 minggu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna jumlah sel goblet antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan ( p< 0,025) . lni berarti bahwa terjadi hiperplasia sel goblet akibat asap rokok. Hasil ini diperkuat oleh pemeriksaan penunjang Electron Spin Resonance (ESR) untuk radikal bebas dalam darah tikus perlakuan yang menunjukkan peningkatan yang signifikan (p<0,025 ).
Acute Effects of Kretek Cigarette Smoke on Goblet Cell Hyperplasia in the Airway of Swiss Webster RatsPrevious investigations have shown that in smokers with chronic bronchitis and Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) hyper secretion of mucus and goblet cell hyperplasia at the respiratory tract is present. A number of other investigations suggest that the main factor causing goblet cell hyperplasia is chronic exposure to cigarette smoke. The aim of this investigation is to find out whether goblet cell hyperplasia due to cigarette smoke also occurs in the acute state. In this investigation a sample of 20 adult male rats weighing 250 -- 300 g was used, divided into a treated group and control group. Each animal in the treated group was exposed daily for 20 minute to 5 the smoke of cigarettes for 12 weeks (except on Sunday).
The result of the investigation showed that there was a significant difference in the number of goblet cell between the control and the treated group (p value < 0,025), indicating the occurrence of goblet cell hyperplasia due to cigarette smoke. This result was confirmed by Electron Spin Resonance (ESR) tests for free radical concentration in blood (p value < 0,025).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2003
T 11296
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ikalius
"Penyebab tersering terjadinya PPOK adalah karena kebiasan merokok, polusi udara, defisiensi antitripsin alfa-1 dan faktor genetik. Penyakit ini akan terus berlanjut secara progresif lambat. Obat-obatan seperti bronkodilator tidak banyak membantu kecepatan penurunan faal paru, faktor lain yang memperberat seperti seringnya eksaserbasi, kebiasan merokok dan faktor lingkungan.
Penderita PPOK cenderung menghindari aktiviti fisik sehingga penderita mengurangi aktiviti sehari-hari menyebabkan imobilisasi, hubungan penderita dengan lingkungan dan sosial menurun sehingga kualiti hidup menurun dan kapasiti fungsional juga menurun. Kualiti hidup adalah kemampuan individu untuk berfungsi dalam berbagai peran yang diinginkan dalam masyarakat serta merasa puas dengan peran tersebut sedangkan kapasiti fungsional adalah hal-hal yang berhubungan dengan aktiviti sehari-hari seperti merawat diri, makan, berpakaian dan kegiatan rumah tangga.
Salah satu program yang dapat meningkatkan kualiti hidup dan kapasiti fungsional adalah program rehabilitasi paru. Tujuan rehabilitasi paru meningkatkan dan mempertahankan tingkat kemampuan tertinggi seseorang untuk hidup mandiri dan berguna bagi masyarakat. Rehabilitasi paru yang diberikan adalah fisioterapi dada dan latihan memakai ergometer sepeda. Fisioterapi dada yang diberikan adalah Pemberian sinar infra merah daerah dada dan punggung masing-masing 7,5 menit, pernapasan diafragma dilanjutkan pernapasan pursed lip, latihan elevasi otot-otot bahu, sendi leher,dan sendi lengan atas, vibrasi dilakukan saat ekspirasi 5x napas dalam dan latihan batuk. Kemudian dilanjutkan latihan dengan ergometer sepeda. Latihan dilakukan 3 kali seminggu 10 menit minggu pertama dan kedua kemudian dinaikkan 5 menit setiap minggu,minggu ke enam sampai ke delapan 30 menit.
Tujuan utama penelitian ini adalah membuktikan peranan rehabilitasi paru penderita PPOK, metode prospective study membandingkan kelompok perlakuan (mendapat rehabilitasi paru) dan kontrol (tidak mendapat rehabilitasi paru). Pengambilan sampel menggunakan cara quota sampling. Penelitian ini dilakukan terhadap 43 penderita PPOK stabil rawat jalan di RSUD Dr Moewardi Surakarta yang dibagi 2 kelompok, terdiri 21 kelompok perlakuan dan 22 kelompok kontrol. Penilaian kualiti hidup menggunakan St George's respiratory Questionnare (SGRQ) dan kapasiti fungsional dinilai dengan uji jalan 6 menit dilakukan penilaian sebelum rehabilitasi paru dan setelah 8 minggu.
Hasil penelitian didapatkan pada kelompok perlakuan (n=21; 15 laki-laki, rerata umur 61,9±8,7 tahun) dibandingkan kontrol (n=22;18 laki-laki, rerata umur 59,9±8,3 tahun). Terjadi penurunan SGRQ antara perlakuan (-21,8%) dan kontrol (0,9%) setelah dilakukan uji beda secara statistik berbeda bermakna p< 0,005. Nilai SGRQ menurun menunjukkan kuali hidup meningkat. Peningkatan jarak pada uji jalan 6 menit kelompok perlakuan ( 55±26,6 meter), kelompok kontrol (3,4 ± 15,2 meter). Uji beda antara kelompok perlakuan dan kontrol secara uji statistik berbeda bermakna p<0,005. Reningkatan jarak pada uji jalan 6 menit berarti kapasiti fungsional meningkat.
Kesimpulan, penderila PPOK setelah diberi rehabilitasi paru selama 8 minggu dapat meningkatkan kualiti hidup dan kapasiti fungsional.

Study objective : to assess the benefit of Pulmonary Rehabilitation to the COPD patients
Setting : COPD Patients at the Medical Rehabilitation Unit DR Moewardi Surakarta Hospital
Methods : Prospective study, comparing treatment group and control group who underwent 8 weeks administration of pulmonary rehabilitation programs. The patients in the treatment groups received chest physiotherapy and ergo-cycle exercise 3 times a week within 8 weeks.
Measurement : The quality of life was assessed by SGRQ, functional capacity was assessed by six minutes walking test (SMWT)
Results : Total SGRQ patient in the treatment group (n=21, 15 male; mean age 61,9± 8,7 yrs) compare with control group (n=22, 18 male; mean age 59,9 ± 8,3 yrs) had statistically significant decreased (-21,8 ± 9,1% ; 0,9± 2,7% respectively, p<0,005).There are statistically significant improving of six minute walking test (SMWT) in treatment group compare to control group (55±26,6 m ; 3,4 ±15,2m respectively, p<0,005).
Conclusions: The pulmonary rehabilitation programs 3 times a week within 8 weeks improve the quality of life and functional capacity of COPD patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T58479
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hasby Pri Choiruna
"ABSTRAK
Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dapat memiliki efikasi diri dan kualitas
hidup yang rendah akibat gejala sesak napas dan batuk. Penggunaan inhaler dengan
benar dapat mengatasi gejala-gejala tersebut. Mayoritas pasien PPOK masih
menggunakan inhaler dengan tidak tepat. Latihan penggunaan inhaler dapat
memperbaiki teknik penggunaan inhaler serta diharapkan dapat meningkatkan efikasi
diri dan kualitas hidup pasien PPOK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh latihan penggunaan inhaler terhadap efikasi diri dan kualitas hidup pasien
PPOK. Desain penelitian yang digunakan yaitu quasi experiment dengan nonequivalent
control group pretest-postest. Tiga puluh enam pasien PPOK dipilih menggunakan
consecutive sampling dan dibagi menjadi kelompok yang mengikuti latihan penggunaan
inhaler dan kelompok yang tidak mengikuti latihan penggunaan inhaler. Hasil penelitian
menunjukkan terdapat peningkatan efikasi diri pasien PPOK secara bermakna sebesar
9,33 skor setelah latihan penggunaan inhaler (p=0,001; p<0,05) dan terdapat perbedaan
perubahan efikasi diri secara bermakna sebesar 6 skor dibandingkan pasien PPOK yang
tidak mengikuti latihan penggunaan inhaler (p=0,000; p<0,05). Hasil penelitian juga
menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kualitas hidup pasien PPOK secara bermakna
dengan penurunan skor sebesar 10,355 setelah latihan penggunaan inhaler (p=0,001;
p<0,05) dan terdapat perbedaan perubahan kualitas hidup secara bermakna sebesar 6,55
skor dibandingkan pasien PPOK yang tidak mengikuti latihan penggunaan inhaler
(p=0,000; p<0,05). Terdapat pengaruh latihan penggunaan inhaler terhadap efikasi diri
dan kualitas hidup pasien PPOK sehingga latihan penggunaan inhaler direkomendasikan
kepada perawat untuk diberikan kepada pasien PPOK.

ABSTRACT
Patients with Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) can have low selfefficacy
and quality of life due to symptoms of shortness of breath and cough. Proper
use of inhaler is able to overcome these symptoms. The majority of COPD patients are
still using inhaler incorrectly. Inhaler use training can improve technique of inhaler use
and is expected to improve self-efficacy and quality of life in COPD patients. The
purpose of this study was to determine the effect of inhaler use training on self-efficacy
and quality of life in COPD patients. The research design used quasi experiment with
nonequivalent control group pretest-postest. Thirty-six patients with COPD were
selected using consecutive sampling and were divided into groups that followed the
inhaler use training and those who did not follow the inhaler use training. The results
showed that there was a significant improvement on self-efficacy in COPD patients by
9.33 score after the inhaler use training (p=0.001; p<0.05) and there was a significant
difference on self-efficacy change of 6 scores compared to COPD patients who did not
follow the inhaler use training (p=0.000; p<0.05). The results also showed that there
was a significant improvement on the quality of life in COPD patients with a decrease
in the score of 10.355 after the inhaler use training (p=0.001; p<0.05) and there was a
significant difference on the quality of life change of 6.55 scores compared to the
COPD patients who did not follow the inhaler use training (p=0.000; p<0.05). There
was an influence of the inhaler use training on self-efficacy and quality of life in COPD
patients so that the inhaler use training is recommended to the nurses to be given to
COPD patients."
2018
T49011
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Hasanah
"Praktek kerja profesi di Rumah Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto periode bulan Juli-Agustus tahun 2017 bertujuan untuk memahami peranan, tugas dan tanggung jawab apoteker di Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan dan etika pelayanan farmasi khususnya dan pelayanan kesehatan umumnya, memiliki wawasan, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman praktis untuk melakukan praktek kefarmasian di Rumah Sakit serta memiliki gambaran nyata tentang permasalahan praktek kefarmasian serta mempelajari strategi dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan praktek kefarmasian di Rumah Sakit. Praktik kerja profesi di Rumah Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto dilakukan selama tujuh minggu dengan tugas khusus yaitu ldquo;Pemantauan Terapi Obat pada Pasien dengan Chronic Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy CIDP , Pneumonia, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis PPOK di Ruang Intensive Care Unit ICU Rumah Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto rdquo;. Tujuan dari tugas khusus ini yaitu untuk melakukan pemantauan terapi obat pada pasien dengan diagnosa CIDP, pneumonia, dan PPOK yang dirawat di ICU Rumah Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto serta untuk menganalisis masalah terkait obat dan memberikan rekomendasi terkait pengobatan yang didapatkan oleh pasien.

The professional practice practice at RSPAD Gatot Soebroto Presidential Hospital during the period of July-August 2017 aims to understand the role, duties and responsibilities of pharmacists in hospitals in accordance with the provisions and ethics of pharmaceutical services in particular and general health services, have insight, knowledge, skills, and practical experience to perform pharmaceutical practices in the Hospital as well as have a real picture of the pharmaceutical practice issues and learn strategies and activities that can be done in order to develop pharmaceutical practices in the Hospital. The work practice of the profession at Presidential Hospital of RSPAD Gatot Soebroto was conducted for seven weeks with special tasks, namely Monitoring of Drug Therapy in Patients with Chronic Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy CIDP , Pneumonia, and Chronic Obstructive Pulmonary Disease COPD in Intensive Care Unit ICU of RSPAD Gatot Soebroto Presidential Hospital . The purpose of this particular task is to monitor the drug therapy in patients due to CIDP, pneumonia, and COPD in the ICU to analyse drug related problems and provide recommendations related to drug therapy given to the patient.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
I Gusti Ngurah Widyawati
"Telah dilakukan penelitian peran n-acetlylcsteine (NAC) dosis tinggi jangka pendek pada perubahan klinis dan kadar protein C-reaktif (CRP) penderita penyakit paru obstruksi kronik eksaserbasi akut di RSUD Dr.Moewardi Surakarta. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain completely randomized experiment. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran n-acetylcysteine dosis tinggi jangka pendek terhadap perubahan kiinis dan nilai CRP penderita PPOK eksaserbasi akut.
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah semua penderita PPOK eksaserbasi akut tanpa disertai gagal jantung, penyakit hepar, batu ginjal dan gagal ginjal, kanker paru, infeksi di Iuar saluran pernapasan, diabetes melitus dan pemakai kortikosteroid oral. Semua penderita dinilai skala klinis dan CRP sebelum dan 5 hari setelah periakuan. Penilaian skala klinis berupa kesulitan mengeluarkan dahak dan auskultasi paw. Pemeriksaan nilai CRP menggunakan metode kuantitatif high sensity CRP.
Subyek penelitian berjumlah 42 orang, secara random dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol, NAG 600 mg dan NAC 1200 mg, masing-masing kelompok terdiri dari 14 orang. Semua subyek penelitian mendapatkan terapi standar berupa aminofilin drip, cefotaxim 1 gram 1 12 jam IV, metilprednisoion 62,5 mg 1 8 jam IV, nebulizer ipratropium bromida 4x20 µg/hari dan fenoterol 4x200 µg/hari. Penelitian diikuti selama 5 hari dan tiap hari dinilai skala klinis. Data yang diperoleh dianalisis uji beda dengan ANOVA dan uji korelasi dengan uji pearson, dikatakan bermakna bila p < 0,05.
Hasil penelitian didapatkan perbedaan penurunan skala klinis antara kelompok kontrol dengan NAC 600 mg 1,21 (p=0,001), kelompok kontrol dengan NAC 1200 mg 3,71 (p=0,000), dan kelompok NAC 600 mg dengan NAC 1200 mg 2,50 (p=000). Perbedaan penurunan rata-rata kadar CRP antara kelompok kontrol dengan NAC 600 mg 16,93 (p=0,266), kelompok kontrol dengan NAC 1200 mg -14,97 (p=0,39). Lama perawatan di rumah sakit kelompok kontrol adalah 6-14 hari, rata-rata 7 hari (SD 2,287), kelompok NAC 600 6-12 hari, rata-rata 6,71 hari (SD 1,637) dan kelompok NAC 1200 6-10 hari, rata-rata 6,50 hari (SD 1,160). Uji korelasi antara kadar CRP dengan hitung leukosit didapatkan korelasi sedang dan bermakna. (r=0,402; p=0,08), dan korelasi antara kadar CRP dan hitung jenis neutrofil adalah korelasi sedang dan bermakna. (r-0,423; p=0,05). Hasil penelitian di atas menunjukkan perbedaan skala klinis lebih besar pada penderita PPOK eksaserbasi akut dengan pemberian NAC dosis tinggi jangka pendek dibandingan tanpa pemberian NAC. Perbedaan nilai CRP tidak lebih besar pada penderita PPOK eksaserbasi akut dengan pemberian NAC dosis tinggi jangka pendek dibanding tanpa pemberian NAC. Perbedaan skala klinis lebih besar pada penderita PPOK eksaserbasi akut dengan pemberian NAC dosis tinggi jangka pendek dibanding dengan pemberian NAC dosis lazim. Perbedaan nilai CRP tidak lebih besar pada penderita PPOK eksaserbasi akut dengan pemberian NAC dosis tinggi jangka pendek dibanding dengan pemberian NAC dosis lazim.
Kesimpulan penelitian adalah pemberian NAC dosis tinggi jangka pendek dapat memberikan perbaikan klinis pada penderita PPOK eksaserbasi akut, tetapi tidak terdapat perubahan nilai CRP yang bermakna.

Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is an obstructive airway disorder characterized by slowly progressive and irreversible or only partially reversible. Oxidative stress is increased in patients with COPD, particularly during exacerbations and reactive oxygen species contribute to its path physiology. These suggest that antioxidants may be use in the treatment of COPD. Other studies have shown that nacetylcysteine (NAC) has antioxidant and antiinflamatory properties. In vitro, NAC inhibit neutrophil chemotaxis, interleukin (1L)-8 secretion and other pro-inflammatory mediators such as the transcription nuclear factor (NF)-izB, which is directly correlated with the production of the systemic inflammatory marker C-reactive protein (CRP).
The aim of this study was to evaluate the role of high dose-short course n-acetylcysteine in clinical improvement and C - reactive protein's patients with exacerbations of chronic obstructive pulmonary disease. Forty two patients exacerbations of COPD participated in this study. The subjects were randomly assigned, divided by three treatment groups: placebo (n=14), NAC 600 mg/day (n=14) and NAC 1200 mg/day (n=14). Concomintant use of inhaled B2-agonist and anticholinergics, aminophylline drip, cefotaxim 1g/12h, methylprednisolon 62,5mg/8h were permitted during the study, while the use of antitussive and mucolitic were prohibited. Clinical symptoms were scored on 2-point scales, difficulty of expectoration and auscultation breath sound. CRP level are determined by high sensitivity C-reactive protein (HS-CRP). All measurements would be taken in baseline and were repeated after 5 days.
The results of this study showed that clinical outcomes were improved significantly in patients treated with NAC compared to placebo and clinical outcome of patients treated with NAC 1200 mg/day were more frequently significant than treated with NAC 600 mg/day. There was no significantly reduction in CRP level.
The conclusion was treatment with high dose short course NAC improving clinical outcomes in patients exacerbations of COPD.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18029
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>