Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 86 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kevin Ekaputra
"Latar belakang: Estetika wajah merupakan sesuatu yang dianggap penting oleh masyarakat karena selain meningkatkan rasa kepercayaan diri seseorang, estetika wajah juga dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Estetika wajah terdiri dari Estetika Makro (Facial), Estetika Mikro (Dental), dan Estetika mini (Dentofacial). Estetika mini atau senyum terdiri dari beberapa indikator penentu, salah satunya adalah incisor display. Estetika sendiri memiliki subjektivitas yang tinggi dan bergantung pada persepsi. Sehingga, penting untuk mengetahui persepsi senyum menurut ortodontis dan orang awam untuk menentukan rencana perawatan. Tujuan: Mengetahui perbedaan persepsi estetika senyum pada berbagai level incisor display di dalam masing-masing kelompok orang awam dan ortodontis. Metode: Penelitian ini dilakukan di Jakarta menggunakan metode cross-sectional. Kuesioner ini disebar kepada 100 orang awam dan 100 ortodontis menggunakan kuesioner daring. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna persepsi estetika senyum pada level incisor display 0 mm dengan 4 mm, serta perbedaan sebagian bermakna pada level 1mm, 2mm, 3mm, 4mm menurut orang awam. Menurut ortodontis terdapat perbedaan bermakna pada level 0mm dengan 1mm, 2mm, 3mm, dan 4mm. Terdapat juga perbedaan sebagian bermakna pada level 1mm, 2mm, 3mm, 4mm. Kesimpulan: Incisor display pada level tertentu memengaruhi persepsi estetik orang awam dan juga ortodontis

Background: Facial aesthetics are something that is considered important by the society. They consist of Macro Aesthetics (Facial), Micro Aesthetics (Dental), and Mini Aesthetics (Dentofacial). The mini or smile aesthetics consist of several defining indicators, one of which is the incisor display. Aesthetic itself has high subjectivity and depends on perception. Thus, it is important to know the perception of smile according to the orthodontist and the laypeople to determine a treatment plan. Objective: To determine the differences in the perception of smile aesthetics at various levels of incisor display within each group of laypeople and orthodontists. Methods: This study was conducted in Jakarta using a cross-sectional method. The questionnaire was distributed to 100 laypeople and 100 orthodontists, via online questionnaire. Results: There are significant differences in the aesthetic perception of smiles at the 0mm and 4mm incisor display levels, and partial differences are significant at 1mm, 2mm, 3mm, 4mm according to laypeople. According to orthodontists, there are significant differences in 0mm with 1mm, 2mm, 3mm, and 4mm and partial differences are significant at 1mm, 2mm, 3mm, 4mm. Conclusion: Incisor display influences the aesthetic perception of laypeople and orthodontists on most levels."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bagas Wahyu Andika
"Penelitian ini mengkaji konsep koherensi dan kompleksitas dalam penempatan billboard sebagai elemen pembentuk estetika kota. Keberagaman pada penempatan billboard menciptakan ruang estetika kompleks dalam perkotaan, mempengaruhi pengalaman visual manusia terhadap lingkungan kota. Penelitian ini juga mengeksplorasi bagaimana pola pada tata letak billboard berperan dalam membentuk visual estetika kota, dengan fokus pada koherensi dan kompleksitas yang tercipta dari penempatan elemen-elemen kota tersebut. Keseluruhan penataan billboard di Las Vegas Strip menunjukkan keseimbangan antara keteraturan dan kompleksitas, menciptakan daya tarik visual yang kuat dan pengalaman estetika yang mendalam bagi pengunjung. Penelitian ini menekankan pentingnya keseimbangan dalam penataan elemen kota untuk mencapai estetika visual kota yang baik dan pengalaman perkotaan yang menarik bagi manusia.

This study examines the concept of coherence and complexity in billboard placement as an element of urban aesthetics. The diversity in billboard placement creates a complex aesthetic space within urban environments, influencing human visual experiences of the cityscape. The research also explores how patterns in billboard layout contribute to the formation of urban visual aesthetics, focusing on the coherence and complexity generated by the placement of urban elements. The overall arrangement of billboards on the Las Vegas Strip demonstrates a balance between order and complexity, creating a strong visual appeal and a profound aesthetic experience for visitors. This study emphasizes the importance of balance in the arrangement of urban elements to achieve good visual aesthetics and an engaging urban experience for people."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Warman Adhi Sanjaya
"Penelitian ini mengenai karya komposisi "Curik-Curik" yang diaransemen menggunakan pendekatan jazz hibrida bergenre swing. Komposisi curik -curik hasil aransemen Ida Bagus Gustu Brahmanta menggunakan 3 instrumen antara lain rindik, drumset & contra bass. Ketiga instrumen ini cara penggarapannya dilakukan menggunakan pendekatan instrument rindik yang berasal dari bali dicampurkan dengan instrumen contra bass dan drum yang berasal dari Barat. Hal ini cukup menarik karena proses hibridasi pada akhirnya mampu menyatukan dua budaya musik yang berbeda karena kemampuan para pemainnya yang memiliki pengalaman dan skill yang tinggi. "Curik-Curik" adalah lagu yang digunakan dalam permainan anak tradisional Bali. Secara kontekstual komposisi "Curik-Curik" adalah mempresentasikan revitalisasi budaya memalalui kerja kreatif seniman sehingga dengan diciptakannya karya ini maka lahirlah berbagai karya baru dan kekinian sesuai dengan nafas jaman. Melalui estetika struktur ritme setidaknya diketahui bahwa karya ini lebih menonjolkan permainan pola ritme sehingga semua instrumen difungsikan sebagai rhythm section. Akan tetapi pada sisi yang lain seluruh instrumen juga bisa difungslkan sebagai solois dimana setiap pemain contra bass menonjolkan ketrampilannya sendiri-sendiri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriptif analitik."
Denpasar: Institut Seni Indonesia Denpasar, 2017
700 KJSP 3:2 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Albert Sconardo
"Lumpur merah adalah limbah padat yang banyak mengandung besi oksida yang dihasilkan dalam produksi industri alumina (Aluminium Oksida, bahan baku utama dalam pembuatan logam aluminium dan banyak digunakan dalam pembuatan keramik). Aluminium berasal dari batu bauksit yang diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi produk aluminium yang banyak digunakan. Lebih dari 95% dari alumina yang diproduksi secara global merupakan hasil dari olahan proses bayer, dimana untuk setiap ton alumina yang diproduksi, menghasilkan sekitar 1 sampai 2 ton Lumpur merah. Produksi alumina pada tahun 2020 berjumlah sekitar 130 juta ton, yang artinya, lebih dari 200 juta ton lumpur merah dihasilkan. Mortar merupakan campuran dari semen, pasir dan air yang umumnya digunakan untuk pelapisan struktur dasar suatu bangunan. Pada umumnya, mortar berbentuk plesteran atau acian yang berfungsi untuk merapikan dinding atau lapisan beton yang biasanya sudah ada dan berwarna abu-abu. Pada penelitian ini lumpur akan dikeringkan, kemudian dihancurkan menjadi butiran halus. Butiran halus lumpur merah akan dicampurkan dengan semen putih untuk dijadikan mortar dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm. Perbandingan yang digunakan adalah subtitusi red mud sebanyak 0%, 10% hingga 50% (berlaku kelipatan sepuluh). Hasil dari pengujian kekuatan tekan mortar dengan substitusi red mud sebanyak 20% memiliki daya kekuatan tekan yang lebih tinggi hampir 15% dari mortar semen putih. Substitusi lumpur merah ini juga memberikan estetika warna, dimana semakin banyak kandungan lumpur merah dalam substitusi ini, menyebabkan semakin merahnya mortar yang dihasilkan. Hasil XRF menunjukkan bahwa unsur Fe, Al, Si, dan Na merupakan unsur yang paling dominan. Pada Blaine test dan uji piknometer, hasil menunjukkan bahwa ukuran butiran lumpur merah adalah lebih kecil dan lebih halus dibandingkan semen pada umumnya.

Red mud is a solid waste which contains a lot of iron oxide that are produced in the industrial production of alumina (Aluminum Oxide, the main raw material in the manufacture of Aluminium and is widely used in the manufacture of ceramics). Aluminum comes from bauxite stone which is processed in a way that becomes a widely used end product. More than 95% of the alumina produced globally is the result of Bayer process, in which for every tonne of alumina produced, about 1 to 2 tons of red mud are made. Alumina production in 2020 amounted to around 130 million tons, which means, more than 200 million tons of red mud have been produced. Mortar is a mixture of cement, sand, and water which is generally used for coating of the basic structure of a building. In general, mortar is in the form of stucco or plaster that serves to smooth out walls or layers of concrete that are usually gray in color. In this study red mud will be dehydrated, then crushed into fine granules. Fine granules of red mud will be mixed with white cement to make a mortar with a size of 5 x 5 x 5 cm. The comparison used is red mud substitution of 0%, 10% to 50% (multiples of ten). The results of the compressive strength of mortar with 20% red mud substitution had a higher compressive strength of almost 15% than white cement mortar. This red mud substitution also provides color aesthetics, where the more red mud content in this substitution, the redder the mortar becomes. XRF results show that Fe, Al, Si, and Na are the most dominant elements. In the Blaine test and the pycnometer test, the results showed that the grain size of the red mud was smaller and finer than cement in general. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kakuzo, Okakura
"This "object d'art" will be sure to add grace and elegance to tea shelves, coffee tables and bookshelves. A keepsake enjoyed by tea lovers for over a hundred years, The Book of Tea Classic Edition will enhance your enjoyment and understanding of the seemingly simple act of making and drinking tea."
New York: Kodansha, 1989
394.14 KAK b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"This text is intended as a practical resource for all involved in the cosmetic aspects of skin - beauticians, family physicians and dermatologists. Compiled by an international team of authors, the book demonstrates the range of resources available and explains in detail the current techniques in use in cosmetology."
London: Martin Dunitz, 1994
616.5 COS
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"This text is intended as a practical resource for all involved in the cosmetic aspects of skin - beauticians, family physicians and dermatologists. Compiled by an international team of authors, the book demonstrates the range of resources available and explains in detail the current techniques in use in cosmetology."
London: Martin Dunitz, 1994
616.5 COS
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Shelton, Ron M
New York: Berkley Books, 2002
615.77 SHE b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Saktiana Dwi Hastuti
"Skripsi ini membahas latar belakang lahirnya Manifes Kebudayaan dan ide-ide yang terdapat di dalam naskah Manifes Kebudayaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis dan kepustakaan dengan pendekatan sosiologi sastra dan historis. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Manifes Kebudayaan lahir sebagai reaksi atas Lekra. Ide-ide yang diusung dalam naskah Manifes Kebudayaan yaitu menolak adanya subordinasi bidang kebudayaan, menolak semboyan 'politik di atas estetika' dan 'estetika di atas politik', menolak semboyan 'tujuan menghalalkan cara' serta menerima paham humanisme universal.

This thesis tells about the background of the birth of the Manifes Kebudayaan and the ideas in its script. The method which is used in this research are analytical description and bibiliography with sociological literature and historical approach. The result of this research concludes that the Manifes Kebudayaan born as the reaction of Lekra. The ideas carried in the Manifes Kebudayaan's script are rejecting the existence of subordinate in culture, rejecting the slogan 'politic on aesthetic' and 'aesthetic on politic', rejecting the slogan 'the end justifies the means', and approving the universal humanism."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2009
S11101
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Kusumaningrum
"
ABSTRAK
Sinema merupakan salah satu bidang seni yang meskipun baru tumbuh sekitar seratus taham, namun perkembangannya sangat pesat Sinema juga sangat menarik karena ia merupakan media audio sekaligus visual sehingga sangat mendekati realitas. Kedekatan dengan realitas itulah yang membuat sinema merapunyai pengarnh yang kuat terhadap masyarakat. Tidak jarang sinema lah yang memulai suatu trend seperti misalnya trend gaya rambut ataupim gaya berpakaian.
Dalam sejarahnya, perfilman Francis mengalami masa naik-turun. Berbagai aliran pun muncul silih berganti. Nouvelle Vague merupakan sebuah aliran yang muncul pada akhir 50-an dan berkembang pada tahun '60-an. Nouvelle Vague merupakan fenomena yang menarik karena ia sangat berkaitan erat dengan kondisi masyarakat pada masa itu. Nouvelle Vague berbicara tentang realitas masyarakat Francis yang sedang berada dalam proses transformasi, realitas khas periode '60-an. Selain itu, Nouvelle Vague bukan hanya bagian dari perubahan yang sedang terjadi tetapi juga aktor perubahan yang memunculkan alternatif-alternatif barn dalam perfilman Francis baik dari segi etik maupun estetik.
"
1997
S14386
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   2 3 4 5 6 7 8 9   >>