Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 126 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Herrijal Jaka Utama
"Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peran pembaharuan strategis terhadap kinerja Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bidang Pariwisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif serta analisis Structural Equation Modeling (SEM). Data dikumpulkan dari 82 UKM Pariwisata di Indonesia. Studi ini menyoroti pentingnya modal manusia dan kemampuan ambidextrous dalam meningkatkan kinerja perusahaan melalui pembaruan strategis dan untuk menciptakan ketahanan dalam suatu organisasi. Ketahanan organisasi tidak selalu mempengaruhi kemampuan organisasi untuk pembaruan strategis. Kami berpendapat bahwa hanya ketahanan organisasi tingkat tinggi dengan kemampuan inovatif yang mampu mengatur pembaruan strategis. Kemampuan inovatif terutama bergantung pada kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, UKM di industri pariwisata umumnya perlu meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya untuk mencapai kemampuan inovatif agar dapat bertahan dalam krisis dan memiliki keunggulan kompetitif yang diperlukan untuk mengikuti perubahan dalam industri pariwisata

The main objective of this study is to examine the role of strategic renewal on the performance of Micro, Small, and Medium Enterprises (SMEs) in Tourism. This study uses a quantitative and qualitative approach and Structural Equation Modeling (SEM) analysis. Data were collected from 82 Tourism SMEs in Indonesia. This study highlights the importance of human capital and ambidextrous capabilities in improving enterprises performance through strategic renewal and to create resilience in an organization. Organizational resiliencies do not always affect the organization capability of strategic renewals.  We argue that only high degree of organizational resiliencies with innovative capabilities that are able to orchestrate the strategic renewal. The innovative capabilities are mainly dependence on the quality human capital.  Therefore, SMEs in tourism industry generally need to improve its ability of human capital to achieve innovative capabilities in order to survive in crises and have a competitive advantage necessary to keep up with changes in the tourism industry."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irene Aprilia
"Keberadaan showroom di kawasan batik Trusmi kini menjadi wadah bagi sebagian besar pengrajin tradisional untuk mendistribusikan hasil produksi batiknya. Hal tersebut karena efektifitas dan fasilitas yang ditawarkan showroom kepada pengrajin. Uniknya, ada beberapa pengrajin tradisional yang lebih memilih melakukan produksi dan distribusi secara mandiri. Mereka memanfaatkan human capital dan social capital dalam menjalankan usaha batiknya. Pada tulisan ini saya akan memaparkan bentuk-bentuk human capital dan social capital sehingga keduanya menghasilkan pilihan rasional (rational choice). Tulisan ini juga berusaha memaparkan Usaha-usaha yang mereka lakukan dalam memutuskan suatu pilihan rasional dalam menjalankan usaha batiknya penting dilakukan di tengah proses distribusi yang baru dengan kemunculan showroom dan distribusi oleh pengrajin tradisional sendiri. Pendekatan etnografi saya gunakan untuk mengetahui bentuk-bentuk pengetahuan tiap individu, serta hubungan sosial yang membentuk kepercayaan, obligasi, dan ekspektasi yang ada dalam hubungan antar individu.

The existence of the showrooms in the Trusmi batik now are become a distributor for most traditional craftsmen to complete their batik products. This is because the effectiveness and facilities offered by showrooms for craftsmen. Uniqueness things, there are several traditional craftsmen who prefer to do independent production and distribution. They use human capital and social capital in running their batik business. In this paper I will describe the forms of human capital and social capital so as to produce rational choices. This paper also tries to explain the efforts they made in making choices in their batik business are important to do in the midst of the new distribution process with the appearance of showrooms and distribution by traditional craftsmen themselves. I use ethnography perspective to understand the forms of knowledge of each individual, as well as social relationships that shape the beliefs, agreements, and expectations that exist in relationships between individuals."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arezia Magdalyn
"Tujuan makalah penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat pengembalian terhadap pendidikan di Indonesia dengan menggunakan model Mincer. Hubungan ini menggambarkan statististik antara pendapatan pasar, durasi pendidikan, pengalaman, dan kuadrat dari pengalaman. Dalam analisis ini, kita menggunakan data primer dari data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada tahun 2012. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mencakup semua provinsi di Indonesia (sebanyak 33 propinsi), 201.100 jumlah dari rumah tangga, dan 726.044 orang tenaga kerja dengan informasi per individual.
Analisis dilakukan dengan melihat pengaruh dari perbedaan jenis kelamin, daerah, status perkawinan, dan klarifikasi industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan tahunan untuk 7,7868 persen pendapatan karena tambahan satu tahun durasi pendidikan bagi pekerja individu. Selain itu, hasil menunjukkan bahwa tingkat pengembalian terhadap pendidikan bagi wanita lebih tinggi dari pria yang ditunjukkan oleh kenaikan 8,96 persen untuk wanita dan 7,3526 persen untuk pria untuk tingkat pengembalian terhadap pendidikan karena tambahan satu tahun sekolah.
Selain itu, tingkat pengembalian pendidikan bagi daerah perkotaan lebih tinggi dengan daerah pedesaan. Hal ini ditunjukkan dengan tambahan satu tahun sekolah terkait dengan kenaikan gaji sebesar 8,5175 persen untuk daerah perkotaan dan 6,3995 persen untuk daerah pedesaan. DKI Jakarta sebagai daerah perkotaan dan ibu kota dari negara Indonesia memberikan nilai positif terhadap pendapatan. Tambahan satu tahun sekolah di DKI Jakarta meningkat sebesar 11,3734 persen terhadap tingkat pengembalian pendidikan bagi setiap individu yang bekerja di DKI Jakarta. Sementara itu, pria yang sudah menikah dan wanita yang sudah menikah juga memiliki tingkat pengembalian pendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan pria lajang dan wanita lajang. Perbedaannya adalah 2,5544 persen untuk pria yang sudah menikah dan 3,5168 persen untuk wanita yang sudah menikah.
Selain itu, ada tiga sektor industri utama yang memiliki tingkat pengembalian pendidikan tertingggi. Diantaranya adalah sektor industri yaitu industri 2 (Pertambangan dan Penggalian), industri 3 (Industri Manufaktur), dan industri 8 (Keuangan, Asuransi, Real Estate, dan Perusahaan Jasa). Untuk setiap tambahan satu tahun sekolah terkait dengan 10,31 persen, 9,98 persen, dan 11,60 persen peningkatan terhadap tingkat pengembalian pendidikan bagi industri 2, 3 dan industri 8.
Relevansi untuk Studi Pembangunan
Keuntungan dari pendidikan dapat dicapai dengan melihat kemampuan pekerja untuk memahami dan mengadaptasi teknologi baru yang berhubungan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Tingkat yang lebih tinggi dari sekolah dapat memberikan efek ke kemajuan dalam kemampuan dan keterampilan pekerja. Pendidikan tinggi akan meningkatkan kemampuan yang berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Selain itu, peningkatan modal manusia dikaitkan dengan inovasi dan kreasi dengan teknologi baru. Ini akan menciptakan produktivitas meningkat karena pekerja yang lebih terampil, dan juga akan mencerminkan upah yang lebih tinggi. Sehubungan dengan besarnya jumlah tenaga kerja dengan tingkat pendidikan di bawah SMA di Indonesia. Pemerintah Indonesia harus memberikan upaya ekstra untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kualitas tingkat pendidikan yang lebih tinggi dapat membantu pekerja untuk meningkatkan teknologi baru dan meningkatkan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi.

This research paper objective is to analyze the rate of returns to education in Indonesia using Mincer model. It describes the statistical relationship among market earnings, duration of education, experiences, and quadratic of experiences. In the analysis, we use primary data from the National Labor Force Survey (Sakernas) data in 2012. The National Labor Force Survey (NLFS) covers all provinces of Indonesia (33 provinces), 206.100 numbers of household, and 726.044 people of labor individual information.
The analysis is conducted by seeing the effect of difference sex, regions, marital status, and industrial classification. The result indicates that there is an annual increase for 7,7868 percent in earnings due to an extra year of duration of education for individual worker. Moreover, the result indicates that the rate of returns to education for female is higher than male which is showed by increases for 8,96 percent and 7,3526 percent to the rate of returns to education for male and female respectively due to an additional year of schooling.
Moreover, the rate of returns to education for urban areas is higher than rural areas. It is showed by an additional year of schooling is associated with an annual 8,5175 percent, and 6,3995 percent increases in salaries for urban and rural respectively. DKI Jakarta as urban areas and capital city of Indonesia give positive value to earnings. An extra year of schooling in DKI Jakarta increase 11,3734 percent returns to education for individual worker who work in DKI Jakarta. Meanwhile, married man and married woman also have higher the rate of returns to education compare to single man and single woman. The differences are 2,5544 percent and 3,5168 percent higher for married man and married woman.
Furthermore, there are three main industrial sectors which have highest rate of returns to education. Those industrial sectors are industrial 2 (Mining and Quarrying), industrial 3 (Manufacturing Industry), and industrial 8 (Financing, Insurance, Real Estate, and Business Services). An extra year of schooling is associated with 10,31 percent, 9,98 percent, and 11,60 percent increase to the rate of returns to education for industrial 2, industrial 3, and industrial 8 respectively.
Relevance to Development Studies
The advantages of education can be achieved by seeing the capability of worker to understand and adapt new technology which related to the higher level of education. The higher levels of schooling of workers give effects to an upturn in ability and skills of workers. Higher education will increase capability which has an impact to economic growth. In addition, the increased of human capital is associated with innovation and creation to the new technology. It will create increases productivity due to more skilled worker, and it will also reflect to higher wages. Regarding to the large numbers of labor force with educational attainment below senior high school in Indonesia. Indonesia government has to give extra efforts to higher educational level. The quality of higher educational level may help worker to improve new technology and increase the contribution to the economic development.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2013
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ariel Azka
"Skripsi ini membahas mengenai pemanfaatan kapital sosial dalam rangka pengembangan usaha di sektor informal, spesifiknya pada keluarga pengusaha warung tegal, sebuah usaha yang tergolong dalam kategori mikro, kecil, dan menengah di Depok. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan dari penelitian ini adalah pemilik warung tegal dan anggota keluarga yang bekerja di warung tegal milik keluarga. Penelitian ini menggunakan snowball sampling dalam pemilihan informan. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa ada dua kategori anggota keluarga saat baru memasuki dunia usaha warung tegal, yaitu mereka yang belum memiliki kapital, maupun yang sudah memiliki kapital. Pemanfaatan kapital sosial dalam keluarga pengusaha warung tegal dilakukan dengan beberapa cara seperti ikut tinggal dengan kerabat, kemudian bekerja dan mempelajari keterampilan mengelola warung tegal di warung tegal milik keluarga, menghubungi kerabat untuk meminta bantuan, dan tinggal bersama kerabat yang sudah memiliki warung tegal di Depok selama persiapan pembukaan warung tegal. Dampak yang dihasilkan dari pemanfaatan kapital sosial berupa kapital finansial dan kapital manusia. Penelitian ini menyarankan agar pihak Dinas UMKM Kota Depok untuk mengadakan pelatihan terkait keterampilan usaha kepada warung tegal untuk meningkatkan mutu, menjaga keberlangsungan usaha.

This undergraduate thesis discusses how social capital is utilized in informal sector, specifically by a family of “warung tegal”, a small and medium enterprise owners in Depok. This is a case study qualitative research. Informants in this study are warung tegal owners and family members who works in family-owned “warung tegals.” Informants in this study are chosen by using snowball sampling technique. The results concluded that the family utilized the social capital by going to Depok to work with relatives who owns warung tegal and learn skills about warung tegal management, reach out for help to relatives, and temporarily living with relative while preparing for warung tegal opening. The effects of the utilization of social capital by the family are both financial and human capital. This study suggests that the “Small and Medium Enterprises Agency of Kota Depok to provide access to vocational tranings for warung tegal owners in order to enhance the quality of warung tegal, and to maintain the business."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmat Faizal
"Peran investor institusi asing semakin menonjol di perusahaan-perusahaan di seluruh dunia. Mereka tidak hanya memiliki kesamaan karakteristik sebagai investor institusi keuangan, tetapi juga memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan investor institusi domestik. Penelitian ini mencoba melihat pengaruh investor institusi asing terhadap investasi jangka panjang (Capital Expenditure & Research & Development), human capital dan inovasi pada perusahaan publik yang listed di Bursa Efek Indonesia. Data yang digunakan adalah sampel perusahaan publik non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan periode penelitian tahun 2011-2020. Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari investor institusi asing terhadap investasi jangka panjang, dan tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari investor institusi asing terhadap human capital dan inovasi perusahaan publik di Indonesia.

The role of foreign institutional investors is becoming increasingly prominent in companies around the world. They not only have the same characteristics as financial institutional investors, but also have their own uniqueness that is different from domestic institutional investors. This study tries to see the influence of foreign institutional investors on long-term investment (Capital Expenditure & Research & Development), human capital and innovation in public companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The data used is a sample of public companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) with a research period of 2011-2020. This study proves that there is a significant influence from investors on long-term investment, and there is no significant influence from investors on human capital and innovation of public companies in Indonesia."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lea Septia Resmi
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami sejauh mana perencanaan strategis, keselarasan organisasi, dan kepemimpinan dilaksanakan sebagai bagian dari manajemen sumber daya manusia di PT. XYZ. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi kualitatif. Dalam melakukan penilaian, wawancara dilakukan dengan pemegang saham, seluruh direksi tingkat tertinggi, dan staf di PT. XYZ. Budaya kerja, hubungan yang kompleks antara pemegang saham dan top manajemen, dan kurangnya kompetensi dalam human capital, membuat kinerja karyawan tidak sesuai dengan tujuan perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian, PT. XYZ bisa mendapatkan keuntungan lebih bila mereka meneliti perencanaan strategis mereka, keselarasan organisasi, dan kepemimpinan secara lebih komprehensif dan berkesinambungan dalam rangka untuk menilai dan mengembangkan manajemen sumber daya manusia mereka.

The purpose of this research was to understand to what extent strategic planning, organizational alignment, and leadership were implemented as part of human capital management in PT. XYZ. The research methodology used in this study is qualitative methodology. In doing the assessment, interviews were conducted with the shareholder, all the highest level directors, and staffs in PT. XYZ. Working culture issue, complex relationship between shareholder and top management, and lack of competency in human capital, made the employees? performance cannot align with the company?s objective. Based on the study results, PT. XYZ can gain more benefit if they examined their strategic planning, organizational alignment, and leadership in more comprehensive and continuous manner in addition to assess and develop their human capital management.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2011
T31542
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dachlan Abdul Hamied
"Koperasi Unit Desa (KUD) dalam perjalanannya banyak tersendat dan banyak kalangan akademis memandang bahwa lembaga ekonomi ini kurang mampu dalam meningkatkan harkat dan martabat rakyat banyak. Studi-studi yang pernah dilakukan oleh para ahli lebih banyak menunjuk pada lemahnya permodalan (economic capital) dan sumbernya manusia (human capital) sebagai faktor penghambat perkembangan lembaga ekonomi ini. Pandangan ini telah menjadi "conventional wisdom" kalangan perencana dan pengambilan keputusan dalam membangun dan mengembangkan koperasi di Indonesia. Namun hingga kini koperasi tetap menjadi aktor pinggiran di arena ekonomi nasional. Studi ini mencoba menggunakan konsep modal sosial (social capital) dalam mempelajari perkembangan lembaga ekonomi ini.
Modal sosial semakin banyak diperbincangkan, khususnya oleh para ahli ilmu sosial. Modal sosial dianggap sebagai hal yang penting untuk mengembangkan ekonomi suatu masyarakat. Pada tataran perkembangan pedesaan keberadaan jaringan yang kuat dari organisasi tingkat bawah (grassroots) masyarakat sama pentingnya sebagaimana layaknya perkembangan industri fisik dan teknologi. Elemen modal sosial seperti kepercayaan, norma dan jaringan dapat berkembang di suatu komunitas. Demikian juga, keberhasilan kolaborasi dalam suatu usaha akan membangun hubungan-hubungan dan kepercayaan yang pada gilirannya akan memfasilitasi ikatan-ikatan pada masa depan di bidang lain. Dengan kaitan tersebut masalah yang mendasar yang diteliti adalah bagaimana keberadaan modal sosial di masyarakat Banyuresmi bisa diterapkan di Koperasi Unit Desa (KUD) Banyuresmi. Kemudian, bagaimana peran anggota dalam roda perjalanan organisasi. Selain itu, bagaimana peran Pemerintah dalam mendorong perkembangan KUD sehingga kemandirian dan nilai-nilai otonomi dari sebuah lembaga sosial yang bergerak dalam bidang ekonomi menjadi tidak nampak.
Penulisan tesis ini didahului dengan penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan ilmiah yang bersifat kualitatif dengan memusatkan perhatian pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang berlangsung baik di KUD Banyuresmi maupun lingkungannya. Kemudian dianalisis dengan menggunakan kerangka acuan sosial ekonomi masyarakat yang dikonsentrasikan pada modal sosial. Hasil tersebut dianalisis kembali dengan menggunakan seperangkat teori yang berlaku. Dengan pendekatan kualitatif ini akan menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari pimpinan/lembaga yang bersangkutan dan terkait, orang-orang atau informan dan pelaku yang diamati.
Hasil penelitian membuktikan bahwa di tengah-tengah masyarakat Kecamatan Banyuresmi, interaksi antar sesamanya ada sikap dan nilai-nilai kerukunan, hidup gotong royong, saling bantu, ingin membangun lebih baik tolong menolong, tidak menutup diri dan ingin maju serta kerja keras untuk menghidupi keluarga secara mandiri. Hal tersebut selaras dengan norma-norma koperasi. Sayangnya, sosialisasi kehidupan masyarakat yang bermuatan modal sosial tersebut tidak bisa memberi warna dalam jalannya kehidupan KUD Banyuresmi. Hal ini antara lain disebabkan oleh faktor internal dan eksternal terutama yang berkait dengan ketidakberdayaan para pengurus KUD dalam menciptakan lingkungan kondusif yang mengundang modal sosial sebagai wahana yang menjembatani kemunduran organisasi.
Pada tataran empirik di Koperasi Unit Desa (KUD) Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut terjadi suatu krisis, dimana masyarakat, khususnya para tokoh masyarakatnya kurang tertarik untuk turut serta membina dan membangun KUD sebagai jalan dalam penciptaan peningkatan kesejahteraan masyarakat lingkungannya. Walaupun dalam batas-batas tertentu para tokoh-tokoh tersebut masih juga memberikan kritik dan saran-sarannya. Sementara pada tingkat anggota keikutsertaan dalam menentukan kebijaksanaan dan program operasional masih menampakkan sikap yang lebih mementingkan dirinya masing-masing.
Pada akhirnya studi ini hanya berusaha menterjemahkan pentingnya modal sosial di satu sisi dan jalannya KUD Kecamatan Banyuresmi di sisi lain. Kalau dalam realitasnya ada ketimpangan, harapannya mampu menawarkan konsep perbaikan seperti perlunya penataan ulang semua perangkat kebijaksanaan, perlu dialog jujur, memperhatikan potensi yang tersedia seperti alam, masyarakat dan kemampuan-kemampuan lainnya."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2001
T2402
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurhaena
"Dengan kesadaran bahwa sumber daya manusia penting untuk mempertahankan eksistensinya, Bank BNI secara konsisten melakukan investasi pada program-program sumber daya manusia seperti terlihat dari beban tenaga kerja dan tunjangan yang terus mengalami kenaikan sejak tahun 1999. Namun Bank BN1 belum secara spesifik melakukan pengukuran kontribusi atas investasi sumber daya manusia yang telah dilaksanakannya. Padahal pengukuran ini merupakan hal yang penting karena menurut Mayo (2001, bal. 3) investasi sumber daya manusia juga memiliki sejumlah resiko dan kelemahan bahkan lebih beresiko dibandingkan dengan physical capital karena human capital bukan milik perusahaan.
Penelitian yang bertujuan untuk mengukur kontribusi investasi sumber daya manusia Bank BNI ini menggunakan pendekatan ROI Human Capital Scorecard (Jac Fitz-enz , 2000) pada 3 level pengukuran yaitu level I pencapaian sasaran perusahaan, level 2 proses bisnis dan level 3 penambahan nilai dari human capital itu sendiri.
Pengukuran level 1 dilakukan dengan mengolah sejumlah data skunder dari data keuangan dan data kepegawaian dengan rumus indikator keuangan seperti HCRF, HEVA, HCCF dan HCROI. Pada level 2, indikator pelayanan, kualitas dan produktifitas proses bisnis diolah menggunakan data skunder yang bersumber dari laporan keuangan, laporan hasil survey kinerja pelayanan dan laporan basil survey kepuasan pelanggan yang telah dilaksanakan oleh Bank BNI pada tahun 2002. Sementara itu level 3, indikator pengelolaan sumber daya manusia pada kegiatan acquiring, maintaining, developing dan retaining diolah dari data skunder (dari laporan keuangan, laporan hasil rekrutmen, laporan data kepegawaian dan laporan pelatihan) dan data primer berupa survey reaksi pegawai (kuesioner kepuasan pegawai dari Minnesota), dan survey reaksi para pelaksana dan pengguna jasa rekrutmen dan seleksi (kuesioner yang disusun mengacu pada SERVQUAL). Data primer diolah dengan program SPSS 10.0 for windows untuk mengukur reiiabilitas dengan metode cronbach, mean skor tingkat kepuasan, uji perbedaan mean skor t-test dan uji varians tingkat kepuasan berdasarkan perbedaan karakteristik responden (F-test).
Hasil penelitian pada level 1 menunjukkan bahwa meskipun biaya human capital mengalami kenaikan sebesar 5.8% namun investasi sumber. daya manusia memberikan kontribusi terhadap pencapaian sasaran perusahaan seperti terlihat dari kenaikan laba bersih di tahun 2002 sebesar 29.97%, peningkatan pendapatan per pegawai sebesar 44%, profitabilitas per pegawai di tahun 2002 meningkat 24.41% dan rasio keuntungan yang diperoleh dari investasi sumber daya manusia di tahun 2002 sebesar 1 : Rp. 3.28,- (naik 33.88% dari tahun 2001).
Analisa pada level 2 dengan Performance Matrix menunjukkan bahwa meskipun survey kepuasan pelanggan yang dilaksanakan Bank BNI menghasilkan kepuasan tergolong cukup (CSI = 56.95) namun indikator pelayanan (hasil survey kinerja pelayanan oleh Bank BNI) menunjukkan bahwa kinerja proses bisnis dalam hal waktu respon terhadap antrian dan menjawab telepon tergolong buruk. Hal ini didukung oleh hasil penelitian penulis pada indikator produktifitas proses bisnis yang menunjukkan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional tahun 2002 belum mencapai target atau belum mencapai tingkat efiensi yang diinginkan Bank BNI.
Hasil penelitian pada level 3 menunjukkan bahwa meskipun investasi pada kegiatan rekrutmen dan seleksi berhasil mempercepat proses rekrutmen dan seleksi, namun belum dapat memuaskan para pelaksana maupun pengguna jasa rekrutmen dan seleksi. investasi pada program pemeliharaan, meskipun terdapat peningkatan biaya gaji, biaya pengelolaan per pegawai dan komposisi biaya kompensasi dan tunjangan dari total biaya operasional, namun pegawai belum menunjukkan kepuasan. Sementara itu investasi pada kegiatan pengembangan menunjukkan peningkatan jumlah waktu training di tahun 2002 meskipun jumlah peserta training mengalami penurunan. Massive training menjadikan kesempatan pegawai mengikuti training lebih merata yaitu mencapai 84% dari jumlah pegawai. Namun investasi pada kegiatan pengembangan pegawai belum menunjukkan kontribusi berarti pada kesempatan promosi yang hanya dinikmati oleh 29.31% pegawai. Pegawai yang mengundurkan diri dari Bank BNI memang relatif kecil yaitu 0.84% dari jumlah pegawai.
Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan investasi sumber daya manusia di Bank BNI memiliki kontribusi terhadap pencapaian sasaran perusahaan, namun belum sepenuhnya berkontribusi terhadap proses bisnis dan pengelolaan sumber daya manusia. Pengukuran dengan pendekatan ini perlu dilakukan secara berkesinambungan sehingga Bank BNI dapat melakukan investasi pada program-program sumber daya manusia yang tepat untuk mendukung visi dan misinya."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T11580
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hermawan Kusumartono
"Keberhasilan pembangunan irigasi yang selama ini dilaksanakan oleh pemerintah telah memberikan andil yang besar kepada pencapaian swasemda beras pada tahun 1984. Keberhasilan tersebut tidak bisa dipertahankan dengan baik karena pengelolaan yang tidak rnemadai sehingga mengakibatkan penurunan fungsi jaringan irigasi sebesar 40% dari fungsi optimalnya. Penurunan fungsi ini telah mempengaruhi kondisi ketahanan pangan nasional, dimana saat ini Indonesia menjadi negara pengimpor beras. Untuk itu, pemerintah melakukan perubahan yang mendasar dalam pengelolaan irigasi dengan dikeluarkannya Pembaharuan Kebijakan Pengelolaan Irigasi (PKPI). Implikasi yang menonjol dari kebijakan ini adalah adanya peran dan wewenang perkumpulan petani pemakai air (P3A/GP3A/IP3A) yang besar dengan menempatkannya sebagai pengambil keputusan dan pelaku utama dalam irigasi yang menjadi tanggung jawabnya. Diharapkan dengan kebijakan ini pengelolaan irigasi dapat berjalan secara optimal sehingga fungsi jaringan dapat lebih meningkat. Pada kenyataannya keberadaan organisasi P3A/GP3A/IP3A menghadapi berbagai kendala dalam menjalankan kegiatannya untuk mengelola irigasi secara optimal. Hal ini disebabkan keterbatasan modal yang dipunyai organisasi P3A/GP3A/IP3A, yaitu modal sosial, modal fisik, modal manusia dan modal alam.
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka penelitian dilakukan dengan mengambil lokasi di Daerah Irigasi Cihea, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif untuk menjelaskan permasalahan yang :"ada dan menjelaskan berkerjanya modal sosial, modal fisik, modal manusia dan modal alam dalam pengelolaan irigasi. Adapun pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, pendekatan ini dipilih karena pendekatan ini lebih efektif digunakan dalam menemukan dimensi-dimensi penting dari struktur tindakan kolektif yang berhubungan dengan pengelolaan irigasi. Sumber data utama penelitian ini adalah data primer yang digali dari beberapa sumber yag terkait dengan pengelolaan irigasi, baik dari kalangan pemerintah maupun petani yang tergabung dalam P3A/GP3A/IP3A. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara mendalam (indepth interview) dengan informan terpilih dan pengamatan langsung (observasi}. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis secara kualitatif dengan menyeleksi dan menyederhanakan data dan menghubungkannya kembali dengan konsep dan perrnasalahan serta tujuan penelitian. Analisis ini merupakan teknik yang bersifat interaktif dengan tiga bagian proses penting, yaitu reduksi data, penyajian dan verifkasi/penarikan kesimpulan. Sedangkan data sekunder yang ada dianalisis dengan menggunakan teknik kajian dokumen.
Kerangka konseptual dalam penelitian ini dibangun dari konsep bekerjanya modal yang ada dalam pengelolaan irigasi, yaitu modal sosial, modal fisik, modal manusia dan modal alam. Masing-masing modal tersebut tidak bisa bekerja sendirisendiri, tetapi saling bersinergi antara satu dengan lainnya dalam pengelolaan irigasi. Dari sinergi antar modal tersebut, terlihat peran yang cukup dominan dart modal sosial dalam. mensinergikan modal lainnya untuk menciptakan pengelolaan irigasi yang optimal.
Beberapa temuan penting di lapangan adalah : 1 } Keberadaan jaringan irigasi mempengaruhi struktur dan aktifitas organisasi kelembagaan perkumpulan petani pemakai air, yang ditunjukkan dengan struktur yang semakin besar maka aktifitas dan interaksi sosial dalam pengelolaan irigasi semakin lemah. 2) Dalam pengelolaan irigasi memerlukan modal manusia secara individual tetapi juga memerlukan modal manusia secara berkelompok, yang merupakan modal sosial. 3) Adanya krisis kepercayaan dan krisis kepemimpinan didalam organisasi P3A/GP3A/IP3A, yang menyebabkan melemahnya modal sosial dalam organisasi. 4) Modal sosial akan muncul dengan kuat pada saat terjadi keterbatasan air di musim kemarau, yang terlihat dalam pembagian air yang adil dan merata di kalangan anggota P3A. 5). Keterbatasan modal alam terwujud dalam kepemilikan lahan yang sempit oleh para anggota P3A.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu terdapat adanya sinergi modal sosial, modal fisik, modal manusia dan modal alam dalam pengelolaan irigasi, dan pada dasarnya dalarn pengelolaan irigasi harus terjadi sinergi antar modal tersebut untuk rnenghasiika,i kinerja jaringan yang semakin meningkat. Sinergi yang paling kuat terjadi adalah antara modal sosial dengan modal alam, sedangkan sinergi yang paling lemah adalah liner antara modal sosial dengan modal manusia. Untuk itu sinergi yang paling penting adalah sinergi yang paling lemah karena sinergi inilah yang merupakan prioritas untuk diperkuat guna mewujudkan pengelolaan irigasi yang optimal, dengan tidak meninggalkan perkuatan sinergi antar modal lainnya.
Berdasarkan kesimpulan tersebut diatas, diusulkan saran-saran yaitu : perlu adanya bimbingan, pelatihan dan pendampingan dalarn berorganisasi dan peningkatan kemampuan teknis baik untuk pengurus maupun anggota, guna memperkuat sinergi modal sosial dengan modal manusia. Juga perlu dilakukan penguatan status manajemen organisasi P3A/GP3A/IP3A untuk memperkuat sinergi yang terjadi antara modal sosial dengan modal fisik. Selain itu diusulkan para anggota P3A membentuk koperasi untuk meningkatkan kesejahteraannya sehingga mendukung kegiatan pengelolaan irigasi. Saran-saran yang diusulkan telah dituangkan dalam bentuk proposal kegiatan pemberdayaan P3A/GP3A/IP3A dalam rangka mendukung program pennyerahan kewenangan pengelolaan irigasi (turn over program)."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
T12382
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endang Sugiharti
"Pendahuluan
Penelaahan mengenai pertumbuhan ekonomi dimulai dengan tulisan-tulisan dari para ahli ekonomi klasik Inggris. Mereka menulis bertepatan dengan pertumbuhan ekonomi modern yang baru saja muncul di negara-negara Barat. Oleh karena itu teori pertumbuhan ekonominya sebagian besar terkonsentrasi pada ekonomi pertanian dan pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap sumberdaya alam yang terbatas. Dengan kondisi ini proses pertumbuhan didominasi oleh hukum makin berkurangnya hasil yang didapat yaitu the Law of Diminishing Return (Ricardo 1772 - 1823). Konklusi utama dari teori ini bahwa dalam jangka panjang akan terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi sampai terjadi keadaan stationer.
Akan tetapi dalam dekade-dekade berikutnya prediksi ini tidak terjadi di negara Barat sebab dengan kemajuan teknologi negara-negara tersebut masuk ke dalam era industrialisasi yang cepat sehingga meningkatkan nilai tambah dan memberikan lapangan kerja yang banyak. Perkembangan sektor industri di dalam ekonomi kapitalis ditulis secara rinci oleh Karl Marx, akan tetapi teori Marx banyak membahas masalah ideologi politik (political economics). Setelah Marx, ilmu ekonomi didominasi oleh aliran revolusi marjinal. Pendekatan ini menaruh perhatian terhadap masalah statik dari alokasi sumber daya yang tersedia di bawah kekuatan pasar untuk memuaskan selera dan pilihan konsumen. Meskipun demikian, teori dan analisis marjinal dapat dipakai di dalam menjelaskan pertumbuhan ekonomi terutama mengenai sumbagan marjinal tenagakerja dan modal di dalam pertumbuhan ekonomi?"
Depok: Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   3 4 5 6 7 8 9 10 11 12   >>