Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 121 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Riad
"Tesis ini tentang penanganan perampok nasabah bank oleh Unit I Jatanras Sat III Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Dalam tesis ini digambarkan tentang penananganan yang dilakukan oleh Unit I terhadap perampokan nasabah bank, hubungannya dengan instansi lain, serta bagaimana perilaku petugas-petugas Unit I dalam melakukan penanganan.
Kota Jakarta sebagai ibukota Negara Republik Indonesia memiliki jumlah penduduk yang terbesar dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di Indonesia. Dengan situasi dan corak kehidupan yang demikian menyebabkan kejahatan (crime) tumbuh subur di kota ini. Salah satu kejahatan terhadap jiwa orang dan harta benda yang terjadi di wilayah Jakarta serta sangat marak akhir-akhir ini adalah kejahatan dalam bentuk perampokan terhadap nasabah bank.
Dari hasil penelitian yang saya lakukan, menjelaskan bahwa semua kasus yang ditangani oleh unit I tentang perampokan terhadap nasabah bank mempunyai latar belakang kebutuhan ekonomi dari perampok. Semua hasil rampokan yang mereka dapatkan jika berhasil dipergunakan oleh sebagian untuk foya-foya dan sebagian lagi untuk kepentingan keluarga dan untuk masa depan mereka.
Perampokan terhadap nasabah bank selalu diawali dengan perencanaan dan selalu diawali pengintaian terlebih dahulu. Setelah melakukan perampokan, biasanya mereka langsung membagi hasil rampokan pada saat itu juga dan membubarkan diri untuk melanjutkan kehidupan mereka kembali.
Penanganan yang dilakukan oleh unit I terhadap masingmasing perampok mempunyai variasi satu sama lain. Variasi tersebut terjadi dengan melihat siapa perampok yang ditangan. Jika perampok tersebut sudah berulang kali melakukan perampokan, maka kadang-kadang petugas dan unit I melakukan rekayasa menembak kaki dari perampok atau bahkan menghabisi mereka.
Dalam pengamatan saya koordinasi ini belum terlaksana dengan baik. Sebagai contoh dalam melakukan pengungkapan terhadap kasus-kasus perampokan nasabah bank ini, pihak kepolisian khususnya unit I telah melakukan pekerjaan yang berbahaya dan mengeluarkan biaya yang tidak kecil. Ketika pelakunya sudah ditangkap, kadang-kadang Hakim menjatuhkan vonis yang sangat ringan.
Peristiwa seperti ini membuat pihak kepolisian melakukan suatu kegiatan yang bertentangan dengan KUHAP seperti menunggu terdakwa menjalankan hukuman dan melakukan penangkapan dengan kejahatan yang berbeda. Walaupun sebenarnya kejahatan yang dilakukan tersangka tersebut dapat disatukan dengan berkas perkera kejahatan yang telah dijalaninya."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2006
T18142
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kamal Izzat
"Latar belakang: Sejak lepas dari TNI berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 89 Tahun 2000 dan dipertegas dengan TAP MPR No. VI/MPR/2000, POLRI terus berusaha memperbaiki diri, mengambil langkah-langkah reformasi menuju Polri yang bermoral, profesional, modem, dan mandiri, dengan melakukan pembenahan berkelanjutan pada tataran struktural, instrumental, dan kultural. Salah satunya adalah perbaikan citra anggota jajaran Polri yang sempat terpuruk dan rendahnya kepercayaan masyarakat atas institusi kepolisian melalui perbaikan perilaku dan pembentukan pola pikir. Tujuan: Bahan masukan pada upaya perbaikan citra Polri melalui pembinaan perilaku anggota Polri secara intensif, sistematis, berencana dan konsepsional. Metode penelitian: Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif yang didukung dengan pendekatan secara yuridis dan manajerial, melalui eksplorasi data pelanggaran dan penanganan anggota jajaran Mako Korbrimob Kelapa Dua, dipadukan dengan data penelitian, serta memperhatikan literatur ilmiah yang empiris dengan masalah penelitian. Hasil temuan penelitian: Perilaku menyimpang dan pelanggaran secara dominan dilakukan oleh anggota dalam jenjang Bintara, dengan asumsi kurang matangnya mental dan kedewasaan pola pikir serta budaya perilaku akibat kesenjangan kualitas pendidikan dan pelatihan kepribadian (lack of quality of personalization education and training) dalam pembebanan wewenang dan tugas kepolisian. Diperlukan sebuah pola pembinaan mental dan perilaku anggota Polri yang dapat mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku didukung dengan pembenahan dalam sistim pembinaan yang holistik sejak perekrutan anggota sampai penempatan kedinasan, penguatan solidaritas positif kesatuan, faktor kepemimpinan yang kredibel, pembinaan rohani dan mental, serta bimbingan personel yang terstruktur, sistematis, konsepsional, dan tepat sasaran. Kesimpulan dan saran: Keberhasilan pola pembinaan anggota hams ditunjang dengan kesadaran untuk melaksanakan sebuah sistem organisasi yang bersih dan didukung oleh peningkatan kesejahteraan dan upaya pengembangan kemampuan melalui perubahan struktur dan sistem pendidikan. Pola pembinaan yang komprehensif dan berkesinambungan sejak awal sampai dengan pengakhiran dinas diprogramkan berdasar kompetensi manajemen personel, penghargaan dan penghukuman, serta penguatan mental melalui bimbingan spiritual dan psikologis, diikuti langkah pengawasan dan pengendalian serta adanya kontrol sosial. Kata kunci: reformasi, profesional, bermoral, pembinaan perilaku, rohani dan mental"
Depok: Universitas Indonesia, 2008
T24329
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Abdul Qadir Gassing
"Beberapa permasalahan pokok masyarakat desa adalah: (1) rendahnya pendapatan perkapita; (2) rendahnya tingkat pendidikan; (3) belum digalinya sumber/potensi alam desa secara maksimal, disamping masih banyaknya tenaga kerja yang belum dimanfaatkan secara optimal; dan (4) adanya nilai budaya lokal yang kadang-kadang justru menghambat pembangunan.
Tesis ini bertujuan untuk membahas beberapa sebab yang berpengaruh terhadap kemiskinan penduduk di Marunda, dengan penekanan utama pada nilai-nilai sosial budaya yang sering menghambat usaha-usaha pembangunan.
Dalam penelitian ini dijumpai bahwa kemiskinan penduduk Marunda adalah hasil dari perpaduan tekanan kondisi lingkungan fisik dan adanya hambatan nilai sosial
budaya.
Sawah, empang dan laut adalah merupakan tempat memperoleh nafkah sebagian besar penduduk Marunda. Penghasilan petani terkaya rata-rata mencapai 18 kali lipat
penghasilan buruh tani terkaya, sedangkan juragan nelayan terkaya rata-rata mencapai 9 kali lipat penghasilan buruh nelayan (kuli). Sekitar 70 persen sawaht 100 persen
empang, dan 65 persen modal/peralatan nelayan adalah merupakan milik orang luar ("orang kota"). Petani dan nelayan Marunda sebagian besarnya hanya berstatus sebagai buruh, status yang menempatkannya pada klasifikasi miskin sekali apapun jenis pekerjaannya.
Upaya meningkatkan pendidikan warga Marunda telah cukup berhasil, dan sekitar 90 persen anak usia sekolah benar-benar telah masuk sekolah (SD). Angka drop-out
pun telah banyak menurun sejak 8 tahun terakhir, yaitu dari 84 persen pada tahun 1976 menjadi 40 persen pada tahun 1984. Tetapi ternyata pendidikan konvensional
seperti ini telah berhasil mengasingkan sekitar 60 persen pemuda desa dari lingkungannya sendiri. Mereka (umumnya drop-out dan tamatan SLP) enggan memasuki
lapangan pekerjaan (kasar) yang ada di desanya, sedang untuk masuk ke lapangan pekerjaan formal masih terlalu tanggung, baik pendidikan maupun keterampilannya. Oleh sebab itu untuk jangka lama (biasanya sebelum kawin) mereka terpaksa menganggur.
Tidak jarang suatu program pembangunan, secara teoritis, sesunggguhnya telah dapat menyentuh atau meningkatkan taraf hidup si miskin, tetapi sering tidak sampai
kepada mereka sebab lebih dahulu dan lebih banyak dinikmati oleh golongan elit dan birokrat desa. Tetapi, memang ada beberapa nilai tradisional yang masih melekat
pada masyarakat Marunda yang harus ditinggalkan bila diinginkan adanya transformasi, yaitu :
a. Sikap tertutup yang mungkin berhubungan erat dengan rendahnya pendidikan dan kurangnya komunikasi dengan dunia luar. Mereka akan (1) tertutup terhadap setiap
ide-ide baru yang bertentangan dengan apa yang telah diyakininya benar; (2) keengganan mengoreksi diri atau menerima kemungkinan adanya sesuatu yang lebih
baik/benar dari luar lingkungannya; dan (3) penerimaan atau pewarisan nilai-nilai tanpa adanya upaya memperluas atau memperbaharui pemahamannya, mereka
cenderung menerima dan mewariskannya secara utuh; tidak ada peningkatan.
b. Pola berpikir dan bertindak konsumtif masih sangat mendominasi masyarakat miskin. Bila mereka memperoleh uang (banyak) hanya 10 persen yang akan memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan produktif, sedang selebihnya akan menghabiskannya pada tujuan-tujuan konsumtif.
c. Sikap fatalistik, terialu cepat puas, dan sikap malas dari masyarakat miskin memberi kesan bahwa mereka statis, kurang upaya untuk merobah nasib, kurang usaha
atau rencana-rencana yang berorientasi ke masa depan. Sesungguhnya mereka telah berusaha, tetapi usahanya begitu kecil dan sangat terbatas, sebab memang kemam -
puan, keterampilan, dan wawasan-wawasan yang dapat dijangkaunya sangat terbatas pula. Disamping itu keyakinan kepada takdir sering membuat mereka merasakan bahwa nasibnya selalu ditentukan oleh Tuhan, dan dengan demikian mereka merasakap pula bahwa kemampuannya untuk berbuat selalu terbatasi. Akibatnya, makin kabur sikap
mandiri dan makin tipis kepercayaan akan kemampuan dirinya sendiri. Mereka lebih banyak bergantung, dan miskin.
d. Nilai anak dalam keluarga masih sangat tinggi, dan walaupun sikap bahwa banyak anak banyak rezeki telah ternyata tidak banyak benarnya, tetapi masih merata dianut oleh masyarakat Marunda. Anak bagi mereka memang dapat berarti beban, tetapi sebaliknya, anak juga berarti investasi modal yang segera dapat dinikmati hasilnya, disamping anak banyak dijadikan taruhan masa depan. Selain itu ada kepercayaan di kalangan mereka, bahwa beranak banyak akan mengangkat derajatnya disisi Tuhan."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1985
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ali Hadiyanto
"ABSTRAK
Di negara kita terdapat beberapa organisasi sosial keagamaan, bentuk dan cirinya beraneka ragam, salah satunya adalah Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi-organisasi tersebut merupakan asset bangsa dan negara yang sangat berharga. NU yang didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya oleh para kyai pengasuh pondok pesantren, secara garis besar terbentuknya terdorong oleh 2 hal, pertama ; dalam rangka mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing (internal), dan kedua ; dalam rangka melestarikan ajaran Islam tradisional Ahlusunnah Wal Jama'ah, khususnya dengan naiknya penguasa baru di Arab Saudi yang beraliran Wahabi penentang praktek keagamaan Islam tradisional tersebut.
Inti ajaran NU adalah Ahlusunnah Wal Jamaah yang mencakup Akidah (teologi), , Syariah (hukum) dan Ahlak ' (etika) , sedangkan pola fikirnya adalah Tawassuth (moderat), Tawazun (keseimbangan), dan Ta'addul (adil dan lurus). Ketiga Inti ajaran dan pola fikir ini senantiasa mewarnai kehidupan warga NU.
Implementasi kegiatan-kegiatan NU di masyarakat tercermin pada beberapa sayap organisasi yang jumlahnya cukup banyak, meliputi Lembaga-lembaga, Lajnah/panitia tetap dan Badan-badan otonom. Dalam gerak dinamiknya, NU telah banyak memberikan sumbangan bagi bangsa dan negara. Baik dalam kapasitasnya sebagai jam'iyyah diniyah yaitu organisasi keagamaan, sosial dan pendidikan maupun sebagai partai politik.
Dengan luasnya bidang garapan NU, maka penulis membatasi pembahasan berdasarkan 2 pertimbangan :
1. Dengan melihat bahwa pendiri, penopang dan basis NU adalah komunitas pesantren, maka membahas tentang sumbangan NU bagi negara dan bangsa akan kurang lengkap tanpa membahas pondok pesantren.
2. Cerminan miniatur gerak dinamik kehidupan NU di masyarakat, dapat terlihat pada kehidupan pondok pesantren, yaitu meliputi bentuk pembinaan warga pesantren dan pola hubungan antara kyai dengan santri.
Untuk itulah penulis mengambil studi kasus pondok pesantren, persisnya pondok pesantren Krapyak Yogyakarta.
Pada sosok NU ini terdapat sesuatu yang menarik untuk diteliti, ternyata masyarakat tradisional dengan dipelopori oleh para kyai, mampu mendirikan suatu organisasi dan berhasil menghimpun jutaan pengikut dengan basis masyarakat pedesaan dan kaum santri, dinamiknya mampu mewarnai kehidupan sosial dan politik, serta suaranya diperhitungkan oleh pemerintah. Untuk itu, inti masalah penelitiannya adalah strategi dan taktik NU dalam membina umat, masalah tersebut diteliti melalui 3 pertanyaan pokok:
1. Bagaimana cara NU membina warganya menjadi warga negara yang baik.
2. Apa yang membuat warga NU dalam bermasyarakat berpola peduli lingkungan.
3. Apakah ada hubungan antara kinerja sistem Pesantren dengan kinerja sistem Ketahanan Nasional.
Dengan berlandaskan teori yang relevan dan menggunakan observasi partisipatif dilengkapi dengan studi kepustakaan, penelitian kami menghasilkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Cara NU membina warganya sebagai warga negara, ternyata tidak melalui saluran struktur jenjang organisasi yang ada, melainkan terselenggara melalui struktur jenjang non-formal yang dapat dibedakan menjadi dua bentuk:
a. Untuk daerah yang tidak ada pondok pesantren di dalamnya, implementasi pembinaan melalui 2 media: Kegiatan perkumpulan jama'ah tarekat yang terselenggara di Masjid-masjid, langgar, musholla dan surau, termasuk di rumah Kyai dan Kegiatan Yasinan, Tahlilan dan pembacaan Barzanji yang rutin di laksanakan minimal seminggu sekali;
b. Untuk daerah yang di dalamnya ada pesantren, di samping dua media di atas, pembinaan diberikan oleh kyai kepada warga NU melalui pengajian rutin di dalam pesantren.
Kedua bentuk media komunikasi tersebut yang berjalan secara intensif telah menjadi sarana pembinaan yang efektif dan melahirkan rasa persaudaraan yang erat.
2. Pola peduli lingkungan dalam bermasyarakat, tertumbuhkan oleh inti ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah dan asas berfikir Tawassuth (jalan tengah/moderat), Tawazun (keseimbangan) dan Ta'addul (keadilan/lurus). Tiga asas ini dalam implementasinya telah melahirkan sikap muslim yang non-sektarian yang di butuhkan bagi sistem ketahanan nasional.
3. Di tinjau dari masukan instrumental, masukan mentah, masukan lingkungan, proses dan keluaran, terdapat adanya sifat Isomorphic (kemiripan bentuk) antara kinerja sistem pesantren dengan sistem ketahanan nasional. Out put pendidikan pesantren berupa manusia yang berwatak dan bersifat non-sektarian, merupakan pendukung bagi sistem ketahanan nasional.
4. Pola hubungan antara para pimpinan NU dengan warganya tidak mengikuti kaidah rasional formal organisasi, namun hubungan yang terjadi adalah hubungan patronase yang tertumbuhkan oleh serba ajaran etik keagamaan, dan ternyata bentuk struktur organisasi NU telah menjadi sumber genetik dari budaya kultur patronase di lingkungan NU tersebut."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2001
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zainuddin Mansur
"Masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana kaitan antara etnik keturunan Arab dengan integrasi nasional Indonesia dalam perspeksif ketahanan nasional. Siapa keturunan Arab itu, bagaimana identitas kelompok dan interaksi sosialnya serta aspek-aspek apa yang memiliki potensi serta menghambat integrasinya dengan penduduk pribumi. Demikian pula bagaimana sikap dan pandangannya terhadap penduduk pribumi dan begitu pula sebaliknya. Data yang terkumpul melalui teknik kuesioner terhadap 140 orang responden (70 orang dari keturunan Arab dan 70 orang dari pribumi ), wawancara dengan 23 orang keturunan Arab dan pribumi, observasi langsung dan data kepustakaan, dianalisis dengan metoda analisis deskriptif.
Dari hasil penelitian, dapat digambarkan bahwa keturunan Arab yang terdapat di beberapa lokasi dan daerah dan tersebar di seluruh Indonesia, kakek moyangnya adalah orang Arab yang umumnya berasal dari Hadramaut yang menetap tinggal dan berkembang di Indonesia turun-temurun melalui lembaga perkawinan dengan wanita penduduk pribumi. Beberapa faktor yang merupakan identitas kelompok keturunan Arab seperti faktor bahasa, pendidikan, organisasi sosial, organisasi politik, yang semestinya keturunan Arab mendukungnya sebagai solidaritas kelompoknya, ternyata tidak mendukungnya sehingga solidaritas kelompoknya tipis atau lemah, yang akibatnya mereka berinteraksi dan berintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan dengan kelompok lain di luar kelompoknya / pribumi sehingga terbinalah komunikasi dan kebersamaan dalam masyarakat majemuk Indonesia, dan kondusif bagi ketahanan nasional.
Faktor waktu keberadaan keturunan Arab yang telah lama, telah memberi kesempatan kepada mereka untuk menyerap dan terpengaruh oleh kebudayaan setempat sehingga walaupun asalnya dari tanah Arab, mereka tidak berorientasi ke tanah leluhurnya itu, tapi berorientasi Indonesia, memiliki sense of belonging, merasa Indonesia tanah airnya, terlibat dalam berbagai perjuangan kemerdekaan dan pembangunan Indonesia. Sikap dan pandangan positif penduduk pribumi terhadap keturunan Arab dan demikian pula sebaliknya, memiliki makna positif bagi terbinanya kebersamaan dan saling harga menghargai sehingga kondusif bagi ketahanan lingkungan, daerah dan bemuara pada ketahanan nasional."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2000
T11171
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmita Budiartiningsih
"Transmigrasi merupakan salah satu program pemerintah yang dimaksudkan untuk menciptakan keseimbangan penduduk sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk dengan memberikan kesempatan kerja bagi penduduk yaitu berupa sebidang tanah pertanian yang diharapkan dapat mereka garap dan olah. Di daerah transmigrasi UPT II Sungai Pagar, misalnya, telah disediakan lahan pertanian untuk digarap dan diharapkan mereka bisa memperoleh pendapatan dan hasil lahan tersebut.
Pada awalnya para transmigran masih mempunyai harapan atas hasil yang mereka terima dari ladang yang mereka usahakan meskipun hasil itu haru dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, yaitu kebutuhan akan makan.an. Namun, setelah lebih kurang empat tahun di lokasi, pendapatan rumah tangga dari hasil pertanian tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendasar tersebut. Hal ini disebabkan adanya gangguan alam, seperti berkurangnya kesuburan tanah akibat kekeringan yang berkepanjangan dan gangguan hama seperti babi hutan bahkan sampai perusakan tanaman oleh sekawanan gajah.
Dalam keadaan serba tidak pasti. tersebut, apa peranan kaum perempuan dalam mempertahankan kelangsungan hidup rumah tangganya ditinjau dan kedudukannya sebagai istri dan ibu bagi keluarga transmigan? Dalam menghadapi gangguaan alam yang berakibat pada segala aspek kehidupan transinigran para transmigran khususnya perempuan harus bisa menyesuaikan diri atau beradaptasi terlebih dahulu pada lingkungannya. Adaptasi ini diperlukan agar kehidupan rumah tangga tetap tenang sehingga tercipta suasana kerasan bagi anggota rumah tangga yang pada akhirnya juga akan berguna untuk mengurangi rasa penyesalan karena harus meninggalkan daerah asalnya.
Untuk tetap bertahan di daerah yang baru, kaum perempuan melakukan berbagai pekerjaan baik pekerjaan yang bernilai ekonomis maupun nonekonomis. Pekerjaan ekonomis mereka lakukan agar dapat membantu ekonomi keluarga yang jika diharapkan kepada pendapatan suami saja dirasakan tidak mencukupi, serentara pekerjaan yang tidak bernilai ekonomis dilakukan agar kehidupan rumah tangga tetap berlangsung. Kaum perempuan tidak lagi hanya mengerjakan pekerjaan domestik tetapi juga sudah masuk ke dalam pekerjaan yang produktif sementara kaum pria tetap bertahan dalam lingkungan publiknya.
Di dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, kaum perempuan pada umumnya bekerja sendiri, terlebih-lebih pada awal penempatan mereka karena sewaktu berangkat ke daerah transmigrasi sebahagian besar transmigran hanya membawa istri dan anak-anak atau balita. Salah satu alasan mereka berbuat seperti itu adalah karena anak-anak sedang dalam niasa sekolah sehingga dirasakan tidak mungkin untuk dipindahkan serta masih adanya perasaan ragu apakah di daerah yang baru nantinya mereka dapat membiayai kebutuhan keluarga jika mempunyai tanggungan yang lebih besar. Pekerjaan rumah tangga yang mereka lakukan adalah antara lain, mengasuh anak, memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengambil air dan mencari kayu bakar.
Di samping mengerjakan pekerjaan tumah tangga, perempuan juga membantu pekerjaan suami di ladang. Sebagai daerah baru tenaga perempuan sangat dihutuhkan untuk membantu pekerjaan di ladang,. Perempuan merupakan tenaga inti selain tenaga suami. Mereka melakukan pekerjaan hampir sama dengan yang dilakukan oleh suami, yaitu ikut membakar pohon yang sudah anti, mencangkul ladang, menanam, menyiang hingga memanen hasil. Pekerjaan di ladang ini dilakukan oleh perempuan setelah mereka menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Bahkan tidak jarang mereka melakukan lebih dari satu pekerjaan sekaligus seperti mengasuh anak sambil bertanam. Keadaan tersebut menunjukan bahwa di daerah transmigrasi perempuan berperan ganda.
Keadaan seperti ini terus berlanjut hingga sekarang. Pada saat penghasilan dari lahan pertanian sudah semakin sedikit maka perempuan mulai mencari strategi lain untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya misalnya .dengan berjualan barang-barang kebutuhan sehari-hari, membuat kue dan membuat kerupuk. Peranan kaum perempuan dalam perekonomian rumah. tangga terbukti relatif besar. Meskipun dalam rumah tangga perempuan juga menyumbangkan penghasilan mereka tetap dianggap hanya membantu suami dalam mencari nafkah. Demikian pula halnya dengan pengambilan keputusan dalam rumah tangga masih didominasi oleh suami. Dominasi suami atas pengeluaran rumah tangga diperlihatkan dari kaum perempuan yang menyatakan bahwa mereka harus meminta izin terlebih dahulu jika akan mengeluarkan uang dalam jumlah relatif besar. Keadaan ini semakin dikuatkan dengan adanya anggapan bahwa keikutsertaan perempuan atau istri dalam bekerj hanyalah disebabkan oleh situasi pada saat itu yang memungkinkan perempuan untuk bekerja.
Pada saat ini perempuan banyak yang bekerja sebagai buruh di perusahaan perkebunan kelapa sawit yang bernaung di bawah perusahaan PT Tasma Puja. Perempuan masuk dalam pekerjaan ini karena semakin menyempitnya peluang bagi mereka untuk dapat membantu ekonomi rumah tangganya. Sebagai buruh mereka di upah dengan sistem upah harian sebesar Rp 3.500 per hari Pembayaran upah dilalukan dua sebulan, pekerjaan rutin yang dilakukan oleh perempuan adalah sebagai berikut: mereka biasanya meninggalkan rumah pada pukul enam pagi setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan kembali ke rumah pada pukul empat sore. Setelah pulang ke rumah mereka juga harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan mengajar anak. Pendapatan yang relatif tetap dari pekerjaan ini menjadikan perempuan bertahan dengan kondisi yang demikian itu.Bekerja sebagai buruh dapat dilakuukan oleh perempuan sendiri maupun bersama-sama dengan, namun pekerjaan rumah tangga tetap dikerjakan oleh istri.
Melihat kondisi di atas, ternyata peranan perempuan dalam rumah tangga dan dalam membantu suami mencukupi kebutuhan hidup keluarga relatif besar. Begitu pula curahan waktu kerja mereka relatif lebih besar dibandingkan dengan suami mereka. Bahkan, lebih dari itu. kaum perempuan juga harus memainkan peranan yang berhubungan dengan kegiatan social dilingkungan masyarakatnya. Mereka mengikuti kegiatan arisan, pengajian, PKK, posyandu dan kelompok tani serta kesenian.
Kesemuanya ini dilakukan untuk menciptakan rasa kerasan berada di daerah baru karena secara psikologis mereka telah terlepas dan ikatan-ikatan tradisional yang biasanya mengikat mereka, yaitu jauh dari keluarga dan jauh dari sanak famili. Keberhasilan mereka di daerah transmigasi sangat ditentukan dari kesiapan mereka dalam menghadapi kehidupan di daerah baru tersebut. Namun, secara teknis sering kali dalam keberangkatan ke daerah yang baru perempuan belum dipersiapkan secara baik sebagaimana hal itu dilakukan terhadap laki-laki.
Ketidaksiapan perempuan menghadapi situasi dan kondisi di daerah yang baru sering kali menjadi pemicu para transmigran itu untuk kembali ke daerah asalnya setelah mencoba untuk tetap bertahan selama beberapa waktu. Perempuan yang tidak siap akan merasa kecewa dan terasing, sehingga tidak mempunyai harapan untuk dapat terus bertahan. Peluang lain tidak dapat mereka temukan sementara pendapatan keluarga yang diupayakan oleh suami tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Namun, keadaan sebaliknya terjadi pada mereka yang dapat menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungannya akan tetap bertahan. Salah satu pendorong bagi transmigran untuk tetap bertahan adalah karena di daerah yang baru mereka mempunyai tanah sementara di daerah asal hal itu sudah tidak memungkinkan lagi."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1997
T918
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Marhaeni Pudji Astuti
"Subsektor agroindustri merupakan salah satu sektor penting untuk pertumbuhan ekonomi di luar sektor lain. Setidaknya dipandang dari sumbangannya terhadap ekonomi secara makro inaupun kesempatan kerja yang diciptakannya. Agroindustri minyak kayu putih di Gundih Kabupaten Grobogan Jawa Tengah. merupakan salah satu contoh yang menarik dalam melihat salah satu fenomena, yaitu pergeseran kesempatan kerja dari sektor pertanian ke sektor nonpertanian. Agroindustri minyak kayu putih milik Kesatauan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih ini merupakan satusatunya di Jawa Tengah dan pemasok kebutuhan minyak kayu putih pada 19 perusahaan di samping perorangan yang membutuhkan.
Luas lahan kayu putih di KPH Gundih 3.167.30 ha menghasilkan minyak kayu putih tiap tahun rata-rata 57.209,17 liter, dan menyerap lebih dari 900 tenaga kerja. Namun kesemuanya itu tergantung dari fluktuasi musim. Termasuk dari tenaga kerja itu adalah perempuan penduduk sekitar sebagai buruh borongan.
Proses kerja dalam agroindustri minyak kayu putih ini meliputi perawatan persemaian, pengurutan, dan pembuatan briket. Aktivitas kerja tersebut dilakukan pada dua tempat yang berbeda, yaitu di hutan dan di sekitar pabrik. Satu ciri khas yang menonjol dalam proses kerja di kedua tempat tersebut (hutan dan pabrik) adalah sifat labour .intensive, yang dii.si oleh angkatan kerja utama peremperempuan, adanya pembagian kerja antara buruh laki-laki dan perempuan. Berta hubungan kerja mereka.
Lokasi produksi berada di wilayah pedesaan. memberikan penjelasan bahwa keberadaan agroindustri ini memanfaatkan keuntungan komperatif dari pasar tenaga kerja yang murah. Masuknya angkatan kerja perempuan desa sebagai mayoritas buruh dalam agroindustri minyak kayu putih inidapat dijelaskan melalui mekanisme penawaran dan perm.intaan tenaga kerja. Secara umum terjadi kondisi surplus tenaga kerja perempuan di pedesaan, akibat pertambahan penduduk dan keterbatasn kesempatan kerja di sektor pertanian, karena sempitnya lahan dan ketidaksuburan tanah. Dari sisi penawaran, penawaran yang ada secara historis telah didefinisikan menjadi pekerjaan bersifat feminin. Mengenai pembagian kerja antara buruh laki-laki dan buruh perempuan di agroindustri minyak kayu putih -- yaitu perempuan sebagai perawat persemaian, pengurut daun dan pembuat briket, sedangkan buruh laki-laki mengoperasikan mesin dan tukang pangkas -- bisa dilihat dengan teori pembagian kerja secara seksual yang melestarikan perbedaan laki-laki dan perempuan dari sudut biologis ke dunia kerja.
Kombinasi dari kondisi, tersebut menyebabkan buruh perempuan dalam agroindustri ini menjadi marginal dan berupah rendah. Dalam kurun waktu 25 tahun (1970 - 1995) tingkat upah buruh perempuan di unit usaha ini secara nominal meningkat, tetapi daya belinya merosot. Kondisi upah yang rendah tersebut disertai Pula dengan kondisi kerja tidak memenuhi syarat-syarat kerja. Gambaran seperti ini umumnya terjadi pada unit-unit perusahaan. Dari segi upah meski tergolong besar untuk ukuran sumbangan mereka pada ekonomi rumah tangga. namun masih di bawah upah minimum regional (untuk Jawa Tengah). Kecuali bagi pengurut daun yang mau bekerja seharian akan memperoieh hasil banyak, karena dibayar berdasarkan hasil timbangan. Upah Minimum Regional (UMR) Jawa Tengah pada tahun 1995 adalah sebesar Rp 2.700, sedangkan penerimaan perempuan buruh perawat persemaian Rp 2.500 per hari dan buruh laki-laki Rp 3.000 per hari. Perempuan pembuat briket juga dibayar sesuai dengan yang dihasilkan.
Kekhususan yang agak menonjol dari dinamika tenaga kerja di dalam agroindustri minyak kayu putih ini adalah adanya pembagian kerja yang sudah mapan, yaitu semua buruh perempuan menjadi perawat persemaian, pengurut daun dan pembuat brirket, sedangkan buruh laki-laki sebagai mandor, tukang pangkas dan megoperasikan mesin. Selain itu dinamika hubungan kerja mereka mempunyai kekhususan, di mana tukang pangkas tergantung tukang urut. demikian pula sebaliknya, karena gaji tukang pangkas di samping gaji bulanan juga diambilkan dari setiap kilogram daun yang ditimbang.
Namun dalam penelitian nampaknya ketergantungan itu tidak berlaku. Tukang urut lebih suka memangkas pohon kayu putih sendiri daripada menunggu dipangkaskan tukang pangkas. Hal lain yang menonjol adalah berkaitan dengan kecilnya kesempatan kerja yang ada, terutama di luar sektor pertanian dan berkait pula dengan kebanyakan status inferior yang disandang buruh perempuan di sana. Ini menyebabkan hampir semua perempuan di desa sekitar hutan ramairamai memasuki peluang kerja di agroindustri minyak kayu putih. Didukung dengan status perkawinan mereka yang menikah pada usia muda. tingkat pendidikan rendah dan latar belakang dari keluarga miskin, makin memperlemah pasisi mereka dalam pasar tenaga kerja.
Marginalisasi dan feminisasi pekerjaan juga berlaku di agroindustri minyak kayu putih ini. Yakni semua pekerjaan yang memerlukan ketekunan, kesabaran, ketelitian dan berupah rendah dengan status harian lepas. semua dijabat oleh perempuan. Buruh perempuan ini juga babas direkrut dan diberhentikan kapan saja oleh mandor tergantung fluktuasi musim. Hal ini diperkuat oleh pandangan mandor (buruh laki-laki) bahwa yang cocok untuk men.jadi tukang urut, perawat persemaian dan pembuat biket adalah perempuan.
Mobilitas vertikal buruh dalam lingkungan kerja sangat terbatas. Buruh perempuan berapa pun lamanya is bekerja tetap sebagai buruh harian lepas, sementara untuk staf selalu dijabat oleh laki-laki. Dalam sistem ketenagakerjaan agroindustri ini terjadi segmentasi pasar tenaga kerja. antara buruh perempuan dan buruh laki-laki. Buruh perempuan yang merupakan buruh harian dapat diberhentikan saat volume kerja menururn dan direkrut kembali jika lahan kayu putih yang akan digarap meningkat. Sementara buruh laki-laki bekerja sepanjang perusahaan tersebut masih beroperasi.
Perekrutan tenaga kerja dilakukan oleh mandor sebagai perpanjangan tangan Perhutani. Pola hubungan social mandor-buruh di dalam lingkungan kerja berjalan paralel sebagai relasi patron-client di dalam komunitas mereka. Mandor secara tidak langsung berfungsi pula sebagai "polisi" yang mengawasi tingkah laku dan Cara kerja buruh. Dengan demikian perusahaan akan mendapat jaminan terrapai target perolehan daun kayu putih. Mandor pula yang menentukan jadwal buruh di hutan karena dia yang tabu kebutuhan di lapangan.
Agroindustri minyak kayu putih di KPH Gundih Kabupaten Grobogan Jawa Tengah memang mempunyai dampak menyediakan lapangan kerja yang cukup luas. Akan tetapi belum diikuti dengan perbaikan nasib buruh melalui peningkatan upah yang layak sekaligus dapat mendorong daya beli."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1996
T245
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Munif Effendi
"Kepulauan Indonesia dihuni oleh berbagai suku bangsa dengan memiliki aneka ragam latar belakang kebudayaan, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat berpengaruh terhadap kelangsungan pembangunan nasional.. Hal ini bisa dimengerti karena mengatur dan mengurus sejumlah orang yang semuanya memiliki ciri, kehendak dan adat-istiadat sama, tentunya jauh lebih mudah dari pada sejumlah orang yang berbeda-beda.
Kiasan di atas dapat diilustrasikan secara kongkrit dengan mengambil contoh pada negara-negara yang penduduknya mayoritas memiliki unsur-unsur kebudayaan homogin. Jepang misalnya, adalah suatu negara yang telah sukses dalam mencapai kemakmuran, karena kemajuan ekonominya cukup pesat jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia lainnya. Diantara berbagai hal yang merupakan pendorong bagi kemakmuran Jepang adalah keseragaman kebudayaan dan bahasanya, sehingga memudahkan bangsa tersebut untuk berkomunikasi dan menyusun perencanaan pembangunannya.
Indonesia memiliki heteroginitas kebudayaan sangat kompleks, sebab keanekaragaman di Indonesia sangat khas, dimana masing-masing suku bangsa mempunyai kebudayaan sendiri, selain terdiri dari nilai-nilai dan aturanaturan tertentu juga terdiri dari kepercayaan-kepercayaan tertentu serta pengetahuan tertentu yang merupakan warisan dari nenek moyang suku bangsa yang bersangkutan. Masing-masing suku bangsa juga mempunyai bahasa sendiri,dan, ini, yang amat penting, mempunyai wilayah tempat pemukiman (tanah air) sendiri.
Masalah keanekaragaman di atas pada umumnya mudah sekali menimbulkan salah faham antar suku bangsa, dan pada akhirnya akan menimbulkan ketegangan dan pertentangan sosial yang mengacu pada rasialisme, sukuisme dan keagamaan. Untuk itu permasalahan pokok yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang, adalah bagaimana memantapkan kesatuan dan persatuan dalam kehidupan bangsa yang anggota-anggotanya terdiri dari berbagai suku bangsa."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1995
T1681
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suko Eny Sindutomo
"Tujuan Pembangunan Nasional adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah menempuh kebijaksanaan yang dikenal sebagai Trilogi Pembangunan, yaitu pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Ketiga unsur trilogi yang saling mengait dan perlu dikembangkan secara selaras, terpadu dan saling memperkuat, diharapkan dapat membantu tercapainya pembangunan secara optimal.
Namun hasil pembangunan maupun pemerataannya belum sepenuhnya terwujud, karena adanya sejumlah kendala seperti kesenjangan sosial budaya antarmasyarakat, antara lain antara masyarakat kota dengan masyarakat desa.
Kalau diperhatikan lingkup dan sasaran pembangunan nasional bisa dibedakan antara pembangunan yang bersifat nasional atau menyeluruh seperti sarana dan prasarana perhubungan dan transportasi ke seluruh penjuru tanah air. Ada pula pembangunan nasional yang bersifat lokal, seperti pembangunan sarana dan prasarana perkotaan dan pedesaan.
Dalam upaya meningkatkan pembangunan nasional keseluruh wilayah Indonesia, pembangunan daerah perlu terus ditingkatkan serta laju pertumbuhan antar daerah dan antara daerah perkotaan dan pedesaan makin diserasikan. Oleh karena itu pembangunan daerah dilaksanakan secara terpadu, selaras, dan seimbang serta diarahkan agar pembangunan yang berlangsung disetiap daerah sesuai dengan prioritas dan potensi daerah. Dengan demikian pembangunan nasional secara keseluruhan dapat mewujudkan satu kesatuan pembangunan menuju terciptanya cita-cita Nasional.
Pembangunan perkotaan dilaksanakan secara terencana dan terpadu dengan memperhatikan aspek-aspek yang mempengaruhinya, agar tetap menjamin lingkungan yang sehat, baik untuk tempat tinggal maupun untuk bekerja dan berusaha. Pembangunan perkotaan memperhatikan keserasian hubungan antarkota dan antara kota dengan daerah desa disekitarnya.
Sementara itu dalam pelaksanaan pembangunan nasional, selain program yang bersifat nasional dan menyeluruh, banyak pula program yang diutamakan kearah pedesaan. Sebagaimana diketahui perhatian khusus kepedesaan itu antara lain karena kenyataan bahwa lebih dari 72% penduduk Indonesia tinggal di desa.
Pembangunan pedesaan terus ditingkatkan terutama melalui pengembangan kemampuan sumber daya manusia termasuk menciptakan lapangan kerja dan menciptakan iklim yang mendorong tumbuhnya prakarsa dan swadaya masyarakat desa. Fokus pembangunan pedesaan lebih ditekankan pada peningkatan kesadaran dan kemauan masyarakat sebagai subjek pembangunan untuk memanfaatkan serta memelihara kelestarian berbagai sumber daya alam, membina lingkungan dan mengatasi masalah yang mendesak. Untuk itu perlu usaha penyuluhan, memotivasi, menstimulasi dan meningkatkan ketrampilan masyarakat.
Sebagaimana diketahui desa adalah kesatuan wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat yang mempunyai organisasi pemerintahan yang berada langsung di bawah kekuasaan Camat 3. Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979, pemerintahan desa berhak menyelenggarakan rumah."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1993
T6723
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tatok Taranggono
"ABSTRAK
Salah satu isu lingkungan perkotaan yang dihadapi saat ini ialah semakin menciutnya areal pertanian sebagai konsekuensi. pertumbuhan kota. Lahan agraris yang tersedia di wilayah kota dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan, antara lain untuk pemukiman. Pada akhirnya, lingkungan yang semula dalam keadaan seimbang dan serasi mulai terganggu, begitu pula halnya dengan manusia sebagai penghuni lingkungan tersebut.
Pada sisi lainnya, Pemerintah Daerah DKI Jakarta sebagai aparat pelaksana pembangunan kota ingin mempertahankan salah satu kantong pertanian di Condet yang merupakan salah satu bagian dari wilayah Jakarta Timur. Kantong pertanian ini dihuni oleh penduduk asli kota Jakarta yakni suku Betawi yang mempunyai mata pencaharian dari kegiatan usaha tani buah-buahan. Pada perkembangan selanjutnya, daerah ini diakui sebagai kawasan Cagar Budaya Condet. Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta untuk mempertahankan ekosistem pertanian di Cagar Budaya Condet antara lain dengan mengeluarkan berbagai kebijaksanaan berupa ketetapan-ketetapan seperti :
1. Penetapan wilayah Condet yang dikembangkan secara terbatas, mengingat sebagai daerah penghasil buah-buahan.
2. Penetapan mempertahankan wilayah Condet sebagai daerah pertanian buah-buahan.
3. Pengaturan penebangan pohon di wilayah Condet harus seminimal mungkin, dan harus minta izin sebelumnya.
4. Pelarangan untuk melakukan mutasi tanah, merubah tata guna tanah termasuk memusnahkan tanaman khas Condet yaitu salak, duku dan melinjo.
5. Pelarangan untuk mendirikan bangunan yang melebihi ketentuan koefisien dasar bangunan (RDB) sebesar 20 %.
6. Penetapan bahwa tanaman khas Condet seperti duren Sitokong dan duku serta Salak Condet sebagai barang langka yang harus di jaga dari kepunahan.
Pengembangan kota melalui pembangunan fisik mulai menyentuh kawasan ini seperti pembangunan sarana transportasi berupa jalan, perbaikan kampung dan pembangunan pemukiman baru. Pada hakekatnya, pembangunan yang mengandung unsur perubahan bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan beserta isinya . Dengan adanya perubahan fisik di kawasan Cagar Budaya atau sekitarnya, merangsang pendatang dari luar untuk tinggal menghuni di dalam wilayah ini. Pada akhirnya, masyarakat petani suku Betawi yang menghuni kawasan Cagar Budaya di Condet paling merasakan pengaruh pengembangan kota.Saat ini kegiatan pengalihan fungsi lahan oleh petani merupakan gejala yang terlihat menonjol di kawasan Cagar Budaya. Padahal sebelumnya, mereka memenuhi kebutuhan hidup bagi diri dan keluarganya dengan memanfaatkan lahan untuk kegiatan usaha tani buah-buahan. Terjadilah perubahan budaya masyarakat setempat.
Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperoleh beberapa kejelasan mengenai:
1. Deskripsi tentang Cara-cara pengalihan fungsi lahan dengan berbagai situasi yang menyertainya, yang dilakukan oleh masyarakat petani Betawi dalam konteks upaya tanggapannya terhadap lingkungan yang telah berubah.
2. Faktor yang mendukung kelancaran pengalihan fungsi lahan baik secara langsung maupun tidak langsung.
3. Dampak sosial budaya yang terjadi akibat pengalihan fungsi lahan.
Hasil survai awal ditemui 40 orang masyarakat petani yang seluruhnya berasal dari etnis yang sama (Betawi). Penelitian yang bersifat deskripsi kualitatif ini menggunakan metode studi kasus. Selain karena studi kasus yang tidak memerlukan informan dalam jumlah banyak, dan setelah melalui beberapa tehnik sampling serta beberapa pertimbangan lainnya aaka ditemukanlah sejumlah lima petani yang dijadikan informan.
Penentuan lima informan ini juga dibantu oleh informan kunci dan seorang pemuka masyarakat Betawi yang tinggal di kawasan Cagar Budaya.
Penelitian yang dilakukan merupakan kajian terhadap kehidupan keluarga petani. Dari kajian keluarga memungkinkan kita dapat mengetahui jaringan sosial di dalam mana keluarga menggantungkan kehidupan mereka, dan dengan analisis keluarga memungkinkan untuk memandang gejala sosial budaya yang akan dikaji sebagai realitas kehidupan manusia.
Pengumpulan data dilakukan dengan jalan wawancara mendalam yang ditunjang dengan menggunakan metode pengamatan partisipasi.
Pola analisis yang dilakukan pada penelitian ini ialah analisis non statistik, dan karena data yang terkumpul bersifat deskriptif kualitatif maka akan dianalisis menurut isinya.
Dari hasil penelitian ditemukan hal-hal sebagai berikut :
1. Profesi petani buah merupakan pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun dan merupakan salah satu ciri tradisionalitas masyarakat Betawi disamping tata cara kehidupan sehari-hari yang bersendikan ajaran agama Islam. Cara-cara melakukan usaha tani buah seperti menanam, memelihara dan memanen hasil kebun juga diperoleh secara turun temurun .
2. Selain profesi petani, mereka melakukan mobilitas pekerjaan di luar sektor usaha tani, tapi belum merupakan hal yang utama. Sedangkan kegiatan usaha tani buah semula adalah merupakan andalan utama kehidupan mereka.
3. Pemilikan lahan diperoleh dari warisan orang tua, dan sistem pewarisan telah dilembagakan dalam pranata sosial budaya setempat dengan ketentuan laki mendapat dua bagian sedangkan perempuan satu bagian. Pertambahan keluarga disertai sistem pewarisan yang ada secara alamiah turut memberikan tekanan terhadap lahan usaha tani.
4. Pendatang baru di wilayah cagar budaya ikut mempercepat pengalihan kepemilikan lahan. Pengalihan fungsi lahan baik dengan cara langsung maupun tidak langsung yang dilakukan oleh masyarakat petani Betawi merupakan suatu tindakan yang adaptif dalam menanggapi perubahan lingkungan yang terjadi. Tindakan adaptasi yang dilakukan bersifat situasional.
5. Pengalihan fungsi lahan dengan cara di atas dapat berjalan lancar oleh karena didukung administrasi pengalihan yang tidak efektif. Ada ketidakkonsistenan dalam penegakan aturan administrasi pengalihan fungsi lahan. Dan proses administrasi tersebut dipengaruhi oleh faktor ekologis yaitu sosial budaya.
6. Dampak lingkungan fisik berkaitan dengan perubahan tata guna lahan usaha tani yang berubah jadi pemukiman. Kemampuan sebagai "catchment area" menjadi semakin berkurang. Keberadaan tanaman salak, pohon duku dan melinjo yang dilindungi sebagai tanaman langka terancam kepunahan. Dengan hadirnya pendatang yang kebanyakan berasal dari golongan ekonomi lemah menambah kuantitas limbah padat buangan rumah tangga.
7. Dampak lingkungan sosial budaya antara lain keinginan menjadi petani pada generasi muda cenderung menurun, demikian pula dengan pendidikan yang bersendikan agama Islam.
8. Eksistensi Cagar Budaya di wilayah Condet yang mencakup tiga Kelurahan sulit untuk dipertahankan. Yang masih bisa diharapkan adalah sebahagian kecil wilayah Kelurahan Balekambang, tepatnya sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Dari aspek pelaksanaan dibutuhkan kerangka administrasi yang tepat dan sebaiknya secara trans sektoral yaitu melibatkan unit-unit yang berkepentingan terhadap pencagaran.

ABSTRACT
One of the urban environment issues being faced at presents is the reducing number of agricultural area as a consequences of the urban development. The agrarian land available in the city territory is used for development activities, among others for human settlement. Finally, the environment which was initially balanced and harmonious starts to be disturbed, likewise with the human beings as occupants of the environment concerned.
On the other side, the Administration of the Special Region of the Capital City Jakarta (DKI Jakarta) as the city development executive apparatus would like to maintain one of the parts of East Jakarta territory. The agricultural pocket is occupied by the original population of Jakarta city namely the Betawi ethnic group whose livelihood is from fruit agricultural business activities.
In its further development, this region is recognized as the Condet Cultural preservation territory. Various efforts have been conducted by the Administration of the Special Region of Capital City Jakarta to maintain the agricultural ecosystem in Condet - the Condet Cultural Conservation among others by issuing various policies in the form of determinations such as :
1. The determination of the Condet territory which is developed with limitations bearing in mind that this territory is producing fruits.
2. The determination to maintain Condet territory as the fruit agricultural region.
3. The arrangement of the cutting of trees in Condet territory, which must be as minimum as possible, and obtain the prior approval.
4. The prohibition to carry out land transfers, to change the land use including the destruction of Condet special plants namely "salak" (zalacca/zallaca edulis); "duku" (lansium/ lansium domesticum) and melinjo (gnetum gnomon).
5. The prohibition to construct buildings exceeding the building basic coefficient (KDB) of 20%.
6. The determination that the Condet special plants such as "duren Sitokong" and "duku" and "salak Condet" as scarce fruits which must be safeguarded from extinction.
The city development through the physical development has started to touch this territory such as the development of the transportation means in the form of roads, hamlet improvements and the development of new settlements. In fact, the development containing the element of change is aimed at enhancing the quality of the environment and its contents. With the existence of the physical change in the Cultural Conservation Territory or its surrounding, it has stimulated new comers from outside areas to settle within this territory. Finally, the farmers of the Betawi ethnic group which occupies the Condet Cultural Conservation area in Condet will be greatly affected by the citydevelopment. At present, the activities of transferring the function of land by the farmers constitutes the most conspicuous symptom within this Cultural Conservation territory. Whereas in the past, they have met the daily necessities for himself and his family by utilizing the land to grow fruits as fruit farmers. Thus, a change has taken place in culture.
Through this research, it is hoped that several clarifications will be obtained about the following:
1. The description concerning the land function transfer procedure with the various situations accompanying it, which is conducted by the Betawi farming community in the context of its efforts to react to the changing environment.
2. The factor which supports to smoothen the land function transfer whether directly or indirectly.
3. The socio-cultural impact that occurs due to the land function transfer.
In the initial survey result, we met 40 farmers who entirely originated from the same ethnic group (Betawi).
This research, which is descriptive qualitative in nature, used the case study method. In addition, because this case study does not require a large number of informants, and after several sampling techniques and several other considerations, five farmers were used as informants.
The determination. to choose these informants is also assisted by a key informant and one Betawi public figure who lives in the Cultural Conservation territory.
The research constitutes a study on the life of farmer's family. From the study on the farmer's family life, it was possible for
us to know the social network upon which the family life depends, and with the family analysis it was possible for us to view the socio-cultural symptoms to be studied as the reality of the human lives.
The data collection is conducted by way of thorough interviews supported by using the participative observation method. The analysis pattern conducted in this research is the nonstatistical analysis, and because the data collected are descriptive qualitative in nature, they will be analysed according to their content.
In the research result, the following matters were discovered :
1. The profession of the fruit farmers constitutes a hereditary occupation and one of the characteristics of the Betawi community tradition, besides the daily way of life which is based on the Islamic teaching. The way of conducting fruit farming business such as planting, caring, and harvesting is also derived hereditarily.
2. In addition to being fruit farmers, they also perform jobs outside the farming business sector, but this does not yet constitute the primary business. Whereas the fruit farming business activity since the beginning constitutes their main reliance for their lives.
3. The land ownership is also inherited from the ancestors, and the inheritance system has been institutionalized in the local socio-cultural order with the provision that a male heir gets two parts whereas an heiress only one part. The additions in the family members are accompanied by the existing system of inheritance which naturally also emphasizes on the farming business land.
4. The newcomers in this cultural conservation territory takes part -in accelerating the land ownership transfer. The land function transfer, whether directly or indirectly, conducted by the Betawi farming community constitutes an adaptive action in response to the environmental change that has taken place. The adaptive action taken is situational in nature.
5. The land functional transfer mentioned above can run smoothly because it is supported by the transfer administration which is not effective. There are inconsistencies in the upholding of land function transfer administration. And said administration process is influenced by the ecological factor namely the socio-cultural factor.
6. Environmental impact is linked to the change in the use of farming business land, which has changed into a settlement. The capability as catchments area is decreasing. The existence of "salak" plant, "duku" plant and "melinjo" plant which are protected as scarce plants are threatened with extinction. With the arrival of newcomers who are of the economically weak group has increased the quantity of the household solid waste.
7. The socio-cultural impacts are among others the declining trend to become farmers among the young generation, likewise with the education which is based on Islam.
8. The existence of the Condet Cultural Conservation in the Condet territory comprising of three sub districts/ villages is difficult to maintain. What can be expected is the small part of Balekambang sub district, to be exact is the territory along the Ciliwung River Basin. From the execution aspect, the proper administrative framework shall be required preferably transectoral, namely involving units which are interested in the natural preservation.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   2 3 4 5 6 7 8 9 10 11   >>