Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 69 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rizky Mulyati Febrianti
"Niat berhenti kerja pekerja milenial (lahir tahun 1980-2000) lebih tinggi dibanding dengan pekerja generasi lainnya. Berdasarkan teori job demand-resources, kesempatan berkembang berhubungan negatif dengan niat berhenti kerja melalui keterlibatan kerja. Penelitian dilakukan untuk melihat peran keterlibatan kerja terhadap hubungan antara kesempatan berkembang dan niat berhenti kerja pada pekerja milenial. Partisipan dari penelitian itu yaitu 352 pekerja milenial (berusia 20 hingga 40 tahun) dan telah bekerja selama lebih dari 6 bulan. Alat ukur yang digunakan yaitu, Turnover Intention Scale (Mobley, Homer, & Hollingsworth, 1978), Indonesian Quality of Worklife Questionnaires (Radikun, 2018) dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire versi 3 (Burr et al., 2018). Hasil analisis menggunakan Hayess Macro PROCESS menunjukkan adanya efek mediasi sebagian dari keterlibatan kerja terhadap hubungan antar kesempatan berkembang dan niat berhenti kerja, dengan adanya signifikansi pada indirect effect dan direct effect.

The turnover intention in millennial workers (born in 1980-2000) is higher than the other generations. Based on the job demand-resources theory, the opportunity to develop is negatively related to the turnover intention through work engagement. The study was conducted to observe at the role of work engagement in the relationship between opportunity to develop and turnover intention in millennial workers. The study was conducted on 352 millennial employees, aged 20 to 40 years and had worked for more than 6 months. The instruments used are Turnover Intention Scale (Mobley, Homer, & Hollingsworth, 1978), Indonesian Quality of Worklife Questionnaires (Radikun, 2018), and Copenhagen Psychosocial Questionnaire version 3 (Burr et al., 2018). The results of the analysis using Hayess Macro PROCESS show that there is a mediating effect of the work engagement on the relationship between opportunities to develop and the turnover intention, with the significance of the indirect effect and direct effect."
Depok: 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Henny Rachmalita
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tuntutan pekerjaan dan kesejahteraan pekerja di lingkungan kerja pada pekerja di perusahaan Jabodetabek. Penelitian ini juga ingin mengetahui peran dukungan sosial dalam hubungan tuntutan pekerjaan dan kesejahteraan pekerja di lingkungan kerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah WWQ (Parker & Hyett , 2011) dan COPSOQ II (Pejtersen, Kristensen, Borg & Bjorner, 2010). Dari 261 partisipan (83 laki-laki (31.8%) dan 178 perempuan (68.2%), ditemukan bahwa dukungan sosial tidak dapat memoderasi pengaruh dari tuntutan pekerjaan terhadap kesejahteraan pekerja ​(​beta = -.03, p >​ .05, tidak signifikan)​.
This study aims to determine the relationship between job demands and workplace well-being on workers in Jabodetabek companies. This study also wants to find out the role of social support in the relationship between job demands and workplace well-being. This research is a quantitative study with correlational design. The research instruments used in this study were WWQ (Parker & Hyett, 2011) and COPSOQ II (Pejtersen, Kristensen, Borg & Bjorner, 2010). Of the 261 participants (83 men (31.8%) and 178 women (68.2%), it was found that social support cant moderate the effect of job demands on workplace well-being ​(​beta = -.03, p >​ .05, not significant)​."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ridhasari Juliajengningtyas
"Jumlah pekerja di Indonesia saat ini didominasi oleh pekerja generasi milenial. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi perusahaan untuk mempertimbangkan karakteristik kerja generasi milenial dalam mencapai keefektifan tujuan perusahaan. Namun demikian, salah satu permasalahan yang terjadi pada pekerja milenial adalah rendahnya perilaku kewargaan organisasi di tempat kerja. Meningkatkan persepsi pekerja terhadap dukungan organisasi dapat membantu pekerja milenial dalam mengembangkan perilaku kewargaan organisasi di lingkungan kerja, dan asosiasi ini di mediasi oleh keterlibatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran dari keterlibatan kerja sebagai mediator dalam pengaruh dari persepsi dukungan organisasi terhadap perilaku kewargaan organisasi pada pekerja milenial. Partisipan penelitian merupakan pekerja milenial (kelahiran tahun 1981-2000) dengan masa kerja selama minimal satu tahun di tempat kerja saat ini (N = 233) yang direkrut dengan teknik convenience dan snowball sampling. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dan analisis regresi digunakan untuk menguji peran mediator dari keterlibatan kerja. Perilaku kewargaan organisasi diukur dengan Organizational Citizenship Behavior Scale (OCB scale), persepsi terhadap dukungan organisasi diukur dengan Survey of Perceived Organizational Support (SPOS), dan keterlibatan kerja diukur dengan Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9). Hasil penelitian ini menemukan bahwa keterlibatan kerja berperan dalam memediasi pengaruh positif dari persepsi dukungan organisasi terhadap perilaku kewargaan organisasi pekerja milenial di perusahaan. Temuan dari penelitian ini dapat memberikan informasi bagi perusahaan untuk meningkatkan persepsi pekerja terhadap dukungan organisasi dan keterlibatan kerja untuk dapat meningkatkan kesukarelaan pekerja milenial memunculkan perilaku kewargaan organisasi di perusahaan.

The number of workers in Indonesia are currently dominated by millennial generation. This phenomenon requires companies concern to consider the work characteristics of millennial workers in order to achieve the effectiveness of organizational goals. However, one of the problems that occur in millennial workers are less likely to demonstrate organizational citizenship behavior. Improving workers' perceived organizational support can assist millennial workers in developing organizational citizenship behavior in the work environment and this association is mediated by work engagement. This study aims to examine the role of work engagement as a mediator on the influence of perceived organizational support to organizational citizenship behavior in millennial workers. Participants of this research were millennial workers (those born 1981-2000) with a minimum of one year work experience in current workplace (N = 233). They were recruited by convenience and snowball sampling techniques. This research is a correlational study and regression analysis is used to examine the mediation hypotheses. Organizational citizenship behavior is measured by Organizational Citizenship Behavior Scale (OCB scale), perceived of organizational support is measured by the Survey of Perceived Organizational Support (SPOS), and work engagement is measured by the Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9). This study found that work engagement mediates the positive impact of perceived organizational support on organizational citizenship behavior among millennial workers. Hopefully, the findings of this study can provide information for organizations to promote perceived organizational support and work engagement to increase the willingness of Millennial workers doing organizational citizenship behavior in their companies."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ridhasari Juliajengningtyas
"Jumlah pekerja di Indonesia saat ini didominasi oleh pekerja generasi milenial. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi perusahaan untuk mempertimbangkan karakteristik kerja generasi milenial dalam mencapai keefektifan tujuan perusahaan. Namun demikian, salah satu permasalahan yang terjadi pada pekerja milenial adalah rendahnya perilaku kewargaan organisasi di tempat kerja. Meningkatkan persepsi pekerja terhadap dukungan organisasi dapat membantu pekerja milenial dalam mengembangkan perilaku kewargaan organisasi di lingkungan kerja, dan asosiasi ini di mediasi oleh keterlibatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran dari keterlibatan kerja sebagai mediator dalam pengaruh dari persepsi dukungan organisasi terhadap perilaku kewargaan organisasi pada pekerja milenial. Partisipan penelitian merupakan pekerja milenial (kelahiran tahun 1981-2000) dengan masa kerja selama minimal satu tahun di tempat kerja saat ini (N = 233) yang direkrut dengan teknik convenience dan snowball sampling. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dan analisis regresi digunakan untuk menguji peran mediator dari keterlibatan kerja. Perilaku kewargaan organisasi diukur dengan Organizational Citizenship Behavior Scale (OCB scale), persepsi terhadap dukungan organisasi diukur dengan Survey of Perceived Organizational Support (SPOS), dan keterlibatan kerja diukur dengan Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9). Hasil penelitian ini menemukan bahwa keterlibatan kerja berperan dalam memediasi pengaruh positif dari persepsi dukungan organisasi terhadap perilaku kewargaan organisasi pekerja milenial di perusahaan. Temuan dari penelitian ini dapat memberikan informasi bagi perusahaan untuk meningkatkan persepsi pekerja terhadap dukungan organisasi dan keterlibatan kerja untuk dapat meningkatkan kesukarelaan pekerja milenial memunculkan perilaku kewargaan organisasi di perusahaan.

The number of workers in Indonesia are currently dominated by millennial generation. This phenomenon requires companies concern to consider the work characteristics of millennial workers in order to achieve the effectiveness of organizational goals. However, one of the problems that occur in millennial workers are less likely to demonstrate organizational citizenship behavior. Improving workers' perceived organizational support can assist millennial workers in developing organizational citizenship behavior in the work environment and this association is mediated by work engagement. This study aims to examine the role of work engagement as a mediator on the influence of perceived organizational support to organizational citizenship behavior in millennial workers. Participants of this research were millennial workers (those born 1981-2000) with a minimum of one year work experience in current workplace (N = 233). They were recruited by convenience and snowball sampling techniques. This research is a correlational study and regression analysis is used to examine the mediation hypotheses. Organizational citizenship behavior is measured by Organizational Citizenship Behavior Scale (OCB scale), perceived of organizational support is measured by the Survey of Perceived Organizational Support (SPOS), and work engagement is measured by the Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9). This study found that work engagement mediates the positive impact of perceived organizational support on organizational citizenship behavior among millennial workers. Hopefully, the findings of this study can provide information for organizations to promote perceived organizational support and work engagement to increase the willingness of Millennial workers doing organizational citizenship behavior in their companies."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shafyra Citra Anandi
"Pertumbuhan perusahaan rintisan di Indonesia memunculkan ketertarikan untuk bekerja di industri ini. Namun, kondisi kerja di perusahaan rintisan yang memiliki ritme cepat, tuntutan kerja yang tinggi, dan belum stabil menimbulkan konsekuensi seperti niat untuk berhenti kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran burnout pada hubungan ketidakamanan kerja dengan niat berhenti kerja pada karyawan perusahaan rintisan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan partisipan diminta untuk mengisi Job Insecurity Scale (JIS), Indonesian Quality of Worklife Questionnaire (IQWiQ) dan Turnover Intention Scale (TIS).
Pengambilan data dilakukan kepada 151 partisipan yang merupakan karyawan perusahaan rintisan yang telah bekerja selama enam bulan di perusahaan rintisan yang berusia di bawah lima tahun. Analisis mediasi menunjukkan bahwa terdapat efek tidak langsung yang signifikan (ab=0,17, p<0,05) dan efek langsung yang tidak signifikan (c′=0,13,𝑝>0,05), maka burnout dapat memberikan efek mediasi penuh pada hubungan ketidakamanan kerja dengan burnout pada karyawan perusahaan rintisan.

A growing number of startup companies in Indonesia have attracted people to work in this industry. However, the work environment (fast rhythm, high pressure, and unstable conditions) have created high consequences, namely turnover intention. This research aims to examine burnout as mediator on relationship between job insecurity and turnover intention among startup employees. This quantitative research has participants fulfil a questionnaire about Job Insecurity Scale (JIS), Indonesian Quality of Worklife Questionnaire (IQWiQ) and Turnover Intention Scale (TIS).
Data has been collected from 151 participants who have been working for 6 months in startup company which established within 5 years. Based on mediation analysis, the result show there are significant indirect effect of burnout (ab=0,17, p<0,05) and insignificant direct effect burnout (c=0,13, p>0,05) on the relationship of job insecurity and turnover intention. Therefore, burnout has full mediation effect on relationship between job insecurity and turnover intention among startup employee.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Klaudia Nafiri
"Perusahaan rintisan memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri untuk mempertahankan perusahaan. Sudah banyak penelitian yang menguji hubungan antara tuntutan kerja dan burnout pada karyawan, namun belum ada yang menguji peran persepsi akan kesempatan melakukan kerja campuran sebagai kemungkinan moderator dari hubungan tersebut, khususnya dalam perusahaan rintisan. Karyawan perusahaan rintisan di Indonesia (N=151) diuji menggunakan versi bahasa Indonesia dari The Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ I), The Oldenburg Burnout Inventory (OLBI), dan Perceived Opportunity for Blended Working Scale untuk melihat nilai tuntutan kerja, burnout, dan persepsi akan kesempatan melakukan kerja campuran secara berurutan. Simple moderation analysis digunakan untuk menguji peran moderasi persepsi akan kesempatan melakukan kerja campuran. Analisis statistik menunjukkan bahwa persepsi akan kesempatan melakukan kerja campuran tidak memoderasi hubungan tuntutan kerja dan burnout. Diskusi dan saran penelitian dibahas di bagian akhir makalah.

Startups have particular characteristics, challenges, and work resources to maintain the company is a new gateway for research on the employee well-being. There have been many studies that discuss the relationship between job demand and burnout on employees, but none have discussed the role of perceived opportunity for blended working as the possible moderator of that relationship. Employees of startups in Indonesia (N = 151) were assessed using the Indonesian version of the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ I), The Oldenburg Burnout Inventory (OLBI), and Perceived Opportunity For Blended Working to see the value of job demand, burnout and perceived opportunity for blended working, respectively. Simple moderation analysis was used to examine the moderating role of perceived opportunity for blended working. Statistical analysis shows that perceived opportunity for blended working do not moderate the relationship between job demand and burnout. Discussion and research suggestions are discussed at the end of the paper.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Woromita Fathlistya
"Persepsi Dukungan Organisasi (PDO) karyawan yang positif sangat penting bagi keberlangsungan organisasi. Munculnya ketidakjelasan peran dari pihak organisasi dalam menjalankan pekerjaan dapat menurunkan PDO. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara ketidakjelasan peran dan PDO (Studi 1) dan mengetahui efek intervensi analisis jabatan dan sosialisasi hasilnya terhadap ketidakjelasan peran serta PDO (Studi 2) pada karyawan area PT Z. Penelitian korelasional pada studi 1 menggunakan desain penelitian cross sectional dari 176 karyawan area PT Z. Penelitian komparatif pada studi 2 menggunakan desain penelitian before and after study design. Hasil studi 1 menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara ketidakjelasan peran dan PDO (r = -0.443, p < .01). Hasil evaluasi studi 2 pada sepuluh karyawan yang telah diberikan intervensi analisis jabatan dan sosialisasi hasilnya menunjukkan penurunan ketidakjelasan peran yang signifikan (z = -2.533, p < .05, r = .011), namun tidak terdapat perubahan yang signifikan pada PDO (z = -1.123, p > .05, r = .262). Selanjutnya terdapat perbedaan signifikan pada ketidakjelasan peran (z = -2,394, p < .05, r = .017), namun tidak terdapat perbedaan PDO yang signifikan (z = -1.745, p > .05, r = .081) antara kelompok intervensi dan kelompok pembanding. Dengan demikian, dapat disimpulkan intervensi analisis jabatan dan sosialisasi hasilnya efektif dalam menurunkan ketidakjelasan peran, namun tidak efektif dalam meningkatkan PDO.

Employee Perceived Organizational Support (POS) are very important for the sustainability of the organization. The emergence of role ambiguity due to the lack of clarity on the role of organizational agents in carrying out work can reduce POS. The purpose of this research was to see the relationship between role ambiguity and POS (Study 1) and to find out the effect interventions of job analysis and its socialization on the role ambiguity of POS participation (Study 2) among employees of the PT Z area. Correlational research in study 1 used a cross-sectional research design of 176 employees. The comparative research in study 2 used the pre and post study design. The results of study 1 indicate that there is a negative and significant relationship between role ambiguity and POS (r = -0.443, p <.01). The results of the evaluation study 2 on ten employees who had been given the intervention of job analysis and socialization showed a significant reduction in role ambiguity (z = -2.533, p <.05, r = .011) but there was no significant change in P0S (z = -1.123, p> .05, r = .262). Furthermore there was a significant difference in role ambiguity (z = -2.394, p <. 05, r = .017) but there was no significant difference in POS (z = -1.745, p> .05, r = .081) between the intervention group and the comparison group. Thus, it can be concluded that interventions of job analysis and its socialization is effective in reducing role ambiguity, but it is not effective in increasing POS."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pasaribu, Sriyanthi
"Karyawan terkadang menghadapi situasi dilematis dalam pelaksanaan tugas di tempat
kerja, sehingga mendorong untuk terlibat dalam mengambil keputusan etis. Perilaku
pengambilan keputusan etis karyawan dapat diprediksi oleh intensinya. Penelitian ini
terdiri dari 2 studi yaitu studi penelitian korelasional (studi 1) dan studi penelitian terapan (studi 2). Studi 1 bertujuan mengeksplorasi faktor yang berperan terhadap intensi pengambilan keputusan etis dari perspektif Teori Perilaku Terencana. Selanjutnya, studi 2 bertujuan untuk melihat efektivitas intervensi dalam meningkatkan intensi pengambilan keputusan etis. Survei dilakukan pada 250 orang Karyawan di Organisasi X dengan menggunakan metode analisis korelasi dan regresi linear berganda. Pada studi 1 digunakan alat ukur Skala Ajzen dan Fishbein, serta diperoleh hasil bahwa sikap terhadap pengambilan keputusan etis dapat memprediksi intensi untuk mengambil keputusan etis (r = .42, β = .42, p < .05, signifikan pada l.o.s 0,05), sedangkan norma subyektif dan kendali perilaku tidak dapat memprediksi intensi mengambil keputusan etis. Pada studi 2 diajukan intervensi Manajemen Sumber Daya Manusia yaitu dalam bentuk pelatihan, coaching dan mentoring. Intervensi yang telah dilakukan adalah pelatihan daring, sedangkan coaching dan mentoring secara tatap muka merupakan intervensi lanjutan yang direkomendasikan pada Organisasi X. Pelatihan daring bertujuan untuk memberi pengetahuan dan pemahaman tentang pengambilan keputusan etis, yang diharapkan menjadi langkah awal untuk mengubah sikap karyawan menjadi semakin positif terhadap pengambilan keputusan etis. Pelatihan daring diikuti 27 orang karyawan yang memiliki skor terendah pada variabel sikap dan menerapkan metode pre test dan post test. Ditemukan bahwa pelatihan efektif menambah pengetahuan dan pemahaman peserta tentang pengambilan keputusan etis. Pembelajaran yang diperoleh peserta setelah pelatihan dilihat dari nilai rata-rata post test yang lebih tinggi dari nilai rata-rata pre test, yang dievaluasi melalui uji paired sample t-test dan uji wilcoxon sign rank test.

Employees sometimes face dilemma situations in carrying out their duties in the
workplace, thus encouraging them to be involved in making ethical decisions. Employees' ethical decision-making behavior can be predicted by their intention. This research consists of 2 studies, namely correlational research studies (study 1) and applied research studies (study 2). Study 1 aims to explore the factors that contribute to ethical decisionmaking intention from the perspective of the Theory of Planned Behavior. Furthermore, Study 2 aims to look at the effectiveness of the intervention in increasing ethical decisionmaking intention. The survey was conducted on 250 employees in Organization X using the method of correlation analysis and multiple linear regression. In Study 1, the Ajzen and Fishbein Scale measuring instruments were used, and the results obtained that attitudes towards ethical decision making can predict the intention to make ethical decisions (r = .42, β = .42, p < .05, significant at 0.05), while subjective norms and
perceived behavioral control can not predict ethical decision-making intention. In study 2, human resource management interventions were proposed, namely training, coaching and mentoring. The intervention that has been carried out is online training, while faceto-face coaching and mentoring are further interventions recommended for Organization X. The online training aims to provide knowledge and understanding of ethical decision making, which is expected to be the first step to change employees’ attitude to become more positive towards ethical decision making. The online training was attended by 27 employees who had the lowest score on the attitude variable and it applied the pre-test and post-test methods. It was found that the training was effective in increasing the participants' knowledge and understanding of ethical decision making. The learning gained by the participants after the training was seen from the post-test average value which was higher than the pre-test average value, which was evaluated through the paired sample t-test and the Wilcoxon sign rank test.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tarigan, Ribka Uli Feodora
"Pada masa pandemi Covid-19, kurir diduga rentan mengalami burnout. Berdasarkan teori Job Demands-Resources (JD-R), burnout disebabkan oleh berbagai macam tuntutan kerja, salah satunya tuntutan kerja emosional. Sebaliknya, modal psikologis dapat menurunkan tingkat burnout. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tuntutan kerja emosional dan burnout, serta hubungan antara modal psikologis dan burnout pada kurir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan tipe korelasional. Pengambilan data dilakukan dengan metode convenience sampling pada 251 partisipan kurir yang memiliki rentang usia 18-55 tahun dengan kriteria waktu bekerja minimal satu tahun dan pernah melayani pelanggan dengan sistem COD. Adapun, alat ukur yang digunakan bagian IQWiQ untuk mengukur burnout, bagian COPSOQ-II untuk mengukur tuntutan kerja emosional, dan PCQ-12 untuk mengukur modal psikologis. Hasil analisis Pearson’s Correlation menunjukkan bahwa tuntutan kerja emosional memiliki hubungan positif yang signifikan dengan burnout r(251) = 0.48, p< 0.05. Selain itu, ditemukan pula bahwa modal psikologis memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan burnout r(251) = -0.43, p< 0.05. Dengan demikian, temuan ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi perusahaan jasa pengiriman untuk memberikan coaching dan dukungan sosial serta membantu kurir untuk mengembangkan modal psikologisnya secara mandiri.

During the Covid-19 pandemic, couriers were presumed to be susceptible to burnout. According to the Job Demands-Resources (JD-R) theory, burnout is caused by various job demands, including emotional job demands. In contrast, psychological capital can reduce burnout levels. This study aims to examine the relationship between emotional job demands and burnout, as well as the relationship between psychological capital and burnout among couriers. This research was quantitative research with a correlational design. The convenience sampling method was used to collect data from 251 couriers as participants aged 18 to 55, with experience servicing clients using the COD system and working for at least a year. Meanwhile, the measurement tools used were part of IQWiQ to measure burnout, part of the COPSOQ-II to measure emotional job demands, and PCQ- 12 to measure psychological capital. Pearson's Correlation analysis results showed that emotional job demands have a significant positive relationship with burnout r(251) = 0.48, p< 0.05. On the other hand, a significant negative relationship was discovered between psychological capital and burnout r(251) = -0.43, p< 0.05. Thus, these findings are expected to be used as evaluation materials for delivery companies to provide coaching and social support and help couriers develop psychological capital independently."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Geulis Nabila Azkarini
"Kondisi pandemi COVID-19 hingga masa peralihan saat ini berdampak pada seluruh sektor industri di Indonesia, salah satunya jasa keuangan non-bank...

The COVID-19 pandemic to the current post-pandemic transitional period has impacted all industrial sectors in Indonesia, including non-bank financial services..."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>