Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Adella Pratiwi
"Pendahuluan: Stunting merupakan masalah gagal tumbuh ditandai dengan tinggi badan tidak sesuai dengan usianya dan dapat diidentifikasi mulai dari usia dua tahun. Usia bayi 0-6 bulan merupakan usia yang tepat dalam pencegahan stunting dari faktor risiko diantaranya yaitu pola asuh orangtua, depresi ibu, dan pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan faktor risiko stunting pada bayi usia 0-6 bulan.
Metode: Desain penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan teknik quota sampling yang dilakukan secara daring. Jumlah responden sebanyak 102 ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan di Indonesia. Data diambil menggunakan kuesioner yaitu pola a suh orangtua, Edinburgh Postpartum Depression Scale (EPDS), Beck Depression Inventory II (BDI), dan Paket Pemberian "SUKSES ASI".
Hasil: Pola asuh orangtua sebagian besar termasuk dalam jenis demokratis yakni sebanyak 80,4%. Depresi perinatal yang dialami yakni sebanyak 44,1% dan yang tidak mengalami depresi sebanyak 55,9%. Depresi postpartum pada kategori tidak depresi sebanyak 82,4%, depresi ringan 16,7%, dan depresi sedang 1%. Pemberian ASI eksklusif sebagian besar masuk dalam kategori lancar yakni sebesar 93,1% berdasakan indikator bayi dan sebesar 87,3% berdasarkan indikator ibu. Karakteristik ibu yakni kadar hemoglobin memiliki hubungan bermakna dengan depresi perinatal dan depresi postpartum dan pekerjaan memiliki hubungan yang bermakna dengan depresi postpartum. Depresi perinatal dan postpartum memiliki hubungan  yang bermakna dengan pola asuh orangtua dan pemberian ASI eksklusif berdasarkan indikator bayi dan ibu.
Rekomendasi: Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar mengembangkan program pencegahan kejadian stunting berdasarkan faktor risiko pada bayi yaitu pola asuh orangtua, depresi ibu, dan pemberian ASI eksklusif.

Introduction: Stunting is a growth failure problem characterized by height that is not suitable for age and can be identified starting from the age of two. Infant 0-6 months is the right age in preventing stunting from risk factors including parenting, maternal depression, and exclusive breastfeeding. This study aims to determine the factors associated with risk factors for stunting in infants aged 0-6 months.
Methods: The research design used descriptive correlative with a quota sampling technique which was conducted online. The number of respondents was 102 mothers who had babies aged 0-6 months in Indonesia. Data were collected using a questionnaire, namely the pattern of parental temperature, the Edinburgh Postpartum Depression Scale (EPDS), the Beck Depression Inventory II (BDI), and the "SUCCESS ASI" package.
Results: Most of the parenting styles were democratic, namely 80.4%. Perinatal depression experienced by 44.1% and those who did not experience depression as much as 55.9%. Postpartum depression in the non-depressed category was 82.4%, mild depression was 16.7%, and moderate depression was 1%. Most of the exclusive breastfeeding was in the smooth category, namely 93.1% based on infant indicators and 87.3% based on maternal indicators. Maternal characteristics, namely hemoglobin levels have a significant relationship with perinatal depression and postpartum depression and work has a significant relationship with postpartum depression. Perinatal and postpartum depression have a significant relationship with parenting styles and exclusive breastfeeding based on indicators of infants and mothers.
Recommendation: The results of this study are expected to be the basis for developing a stunting prevention program based on risk factors in infants, namely parenting, maternal depression, and exclusive breastfeeding."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adella Pratiwi
"Risiko perilaku kekerasan merupakan salah satu masalah keperawatan jiwa yang dapat dialami oleh pasien skizofrenia. Perilaku kekerasan menjadi respon maladaptif ketika pasien skizofrenia tidak mampu mengontrol diri sendiri yang ditunjukan dengan perilaku merusak, mencederai, dan ancaman hal ini juga dapat membahayakan diri sendiri dan lingkungan pasien. Tujuan laporan kasus ini yaitu untuk menganalisis mengenai penerapan standar asuhan keperawatan jiwa dalam meningkatkan kemampuan mengontrol periaku kekerasan pada pasien skizofrenia. Analisis dilakukan pada pengelolaan pasien di Ruang Sadewa Rumah Sakit dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi keperawatan generalis dapat meningkatkan kemampuan pasien skizofrenia dalam mengontrol perilaku kekerasan. Hal ini ditandai dengan peningkatan komponen penilaian kemampuan setelah diberikannya tindakan keperawatan.

The risk of violent behavior is one of the mental nursing problems that can be experienced by schizophrenic patients. Violent behavior becomes a maladaptive response when schizophrenic patients are unable to control themselves which is indicated by destructive, injuring, and threatening behavior that can also endanger themselves and the patient's environment. The purpose of this case report is to analyze the application of mental nursing care standards in improving the ability to control violent behavior in schizophrenic patients. The analysis was carried out on the management of patients in the Sadewa Room, dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. The results of the analysis show that generalist nursing interventions can improve the ability of schizophrenic patients to control violent behavior. This is marked by an increase in the ability assessment component after the nursing action is given"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Adella Pratiwi
"Risiko perilaku kekerasan merupakan salah satu masalah keperawatan jiwa yang dapat dialami oleh pasien skizofrenia. Perilaku kekerasan menjadi respon maladaptif ketika pasien skizofrenia tidak mampu mengontrol diri sendiri yang ditunjukan dengan perilaku merusak, mencederai, dan ancaman hal ini juga dapat membahayakan diri sendiri dan lingkungan pasien. Tujuan laporan kasus ini yaitu untuk menganalisis mengenai penerapan standar asuhan keperawatan jiwa dalam meningkatkan kemampuan mengontrol periaku kekerasan pada pasien skizofrenia. Analisis dilakukan pada pengelolaan pasien di Ruang Sadewa Rumah Sakit dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi keperawatan generalis dapat meningkatkan kemampuan pasien skizofrenia dalam mengontrol perilaku kekerasan. Hal ini ditandai dengan peningkatan komponen penilaian kemampuan setelah diberikannya tindakan keperawatan.

The risk of violent behavior is one of the mental nursing problems that can be experienced by schizophrenic patients. Violent behavior becomes a maladaptive response when schizophrenic patients are unable to control themselves which is indicated by destructive, injuring, and threatening behavior that can also endanger themselves and the patient's environment. The purpose of this case report is to analyze the application of mental nursing care standards in improving the ability to control violent behavior in schizophrenic patients. The analysis was carried out on the management of patients in the Sadewa Room, dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. The results of the analysis show that generalist nursing interventions can improve the ability of schizophrenic patients to control violent behavior. This is marked by an increase in the ability assessment component after the nursing action is given."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library