Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andriany Nirmalakrisna
"Untuk mendukung program diversifikasi BBM ke BBG di sektor transportasi, diperlukan harga jual BBG yang seekonomis mungkin untuk masyarakat agar masyarakat tertarik untuk beralih ke BBG, namun di sisi lain, tetap menguntungkan Pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar nilai netback komoditas gas bumi untuk kebutuhan gas domestik sektor transportasi dalam bentuk BBG yang menjadi bagian keuntungan pemerintah. Di sisi lain, terdapat kekurangan pasokan gas sekitar 48,43 MMSCFD jika semua jenis kendaraan umum wilayah Jabodetabek dikonversi ke BBG.
Untuk itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mendapatkan harga jual BBG yang layak jika kekurangan pasokan gas didapatkan dari Jawa Timur dan LNG. Penentuan nilai netback dilakukan dengan mempertimbangkan biaya-biaya keekonomian yang melingkupi rantai suplai gas sektor transportasi dari hulu ke hilir dengan analisis ketidakpastian menggunakan Simulasi Monte Carlo dengan perangkat lunak Crystal Ball.
Berdasarkan penelitian, didapatkan nilai netback komoditas gas bumi untuk kebutuhan gas domestik sektor transportasi dalam bentuk BBG dengan harga jual Rp 3.100,00/LSP adalah sebesar US$ 1,062/MMBTU untuk sumber gas Jawa Barat (onshore), US$ 0,677/MMBTU untuk Jawa Barat (offshore), US$ 1,229/MMBTU untuk Jawa Timur (onshore), dan US$ 1,019/MMBTU untuk Jawa Timur (offshore). Harga jual BBG di SPBG wilayah Jawa Barat dengan memanfaatkan suplai dari Jawa Timur adalah Rp 3.814,00/LSP untuk sumber gas onshore dan Rp 3.819,00/LSP untuk sumber gas offshore. Sementara harga jual BBG di SPBG wilayah Jawa Barat jika sumber gas berasal dari LNG adalah sebesar Rp 6.926,00/LSP.

To support the diversification program from oil fuels to gas in transportation sector, it is required to make the selling price of CNG as economical as possible, but also remained beneficial to the Government. This research aims to determine natural gas netback value for domestic gas allocation transportation sector. On the other hand, there is a shortage of about 48,43 MMSCFD gas supply if all types of public transport vehicles in Jabodetabek are converted to CNG.
This research also aims to get the reasonable selling price of CNG if the gas supply is obtained from East Java and LNG. Netback value determination is done by considering the economic costs surrounding the gas supply chain from upstream to downstream with uncertainty analysis using Monte Carlo Simulation with Crystal Ball software.
Based on this research, the natural gas netback value for domestic gas allocation transportation sector with selling price of Rp 3100.00/LSP is US$ 1.062/MMBTU for gas resources in West Java (onshore), US$ 0.677/MMBTU for West Java (offshore), US$ 1.229/MMBTU for East Java (onshore), and US$ 1.019/MMBTU for East Java (offshore). The selling price of CNG in West Java SPBGs by leveraging the supply of East Java is Rp 3814.00/LSP for onshore gas sources and Rp 3819.00/LSP for offshore gas resources. The selling price of CNG in West Java SPBGs if the gas source from LNG is Rp 6926.00/LSP.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S52796
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andriany Nirmalakrisna
"Permasalahan industri gas domestik di Indonesia saat ini adalah ketidakpastian alokasi pasokan gas domestik, minimnya infrastruktur, serta permasalahan harga jual gas. Untuk meningkatkan alokasi gas industri, harga gas domestik seharusnya dinaikkan, sehingga disparitasnya tidak terlalu jauh dengan harga gas ekspor. Di sisi lain, adanya monopoli akses transportasi jalur pengangkutan gas di Indonesia menyebabkan industri harus membayar harga gas lebih mahal dari yang sewajarnya.
Pada penelitian ini dilakukan simulasi untuk mendapatkan harga gas yang layak dalam rangka membantu Pemerintah dalam menetapkan harga gas agar tidak selalu terpaku pada harga gas yang ditetapkan oleh pedagang gas (trader) dan pengangkut gas (transporter).
Metode yang digunakan dalam penentuan harga gas ini adalah metode Netback Value (NBV). Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan analisis ketidakpastian untuk mendapatkan validasi ketidakpastian dengan simulasi Monte Carlo menggunakan piranti lunak Crystal Ball.
Berdasarkan penelitian, didapatkan rasio pembiayaan antara sektor hulu dan hilir untuk harga jual gas rekalkulasi dengan kondisi ideal (biaya transmisi jalur pipa Pertagas serta prediksi biaya distribusi didasarkan informasi laporan tahunan PGN) sebesar lebih dari satu atau mendekati satu. Hal ini masih wajar mengingat sektor hulu memiliki nilai investasi lebih tinggi untuk melakukan aktivitas ekplorasi dan produksi, dibandingkan dengan sektor hilir.
Sementara itu, jika dibandingkan dengan harga jual gas bumi PGN baik untuk sektor listrik dan sektor industri non pupuk, terdapat perbedaan yang sangat signifikan sehingga menyebabkan rasio pembiayaan sektor hulu dan hilir tidak realistis.

Domestic gas industry?s problems in Indonesia are uncertain allocation for domestic gas supply, lack of infrastructure, and also gas price issue. To improve the gas allocation for domestic industrial sector, domestic gas prices should be raised, so that the disparity between domestic gas price and export gas price is not too far away. On the other hand, the existence of monopoly of gas trader and transporter in Indonesia caused the industry has to pay the price of gas more expensive than normal.
In this study conducted a simulation to get decent gas prices in order to give recommendation to the Government in determining the price of gas that does not always get hung up on the price of gas that is determined by gas traders and transporters.
The method used in determining the gas price is the Netback Value method (NBV). The data in this study is processed using uncertainty analysis to with Monte Carlo simulation using Crystal Ball software.
Based on the study, the cost ratio between the upstream and downstream sectors for gas price recalculation with ideal conditions (using Pertagas pipeline transmission costs and distribution cost based on annual report of PGN) is more than one or close to one. It is still reasonable considering the upstream sector has a higher investment value for exploration and production activities than the downstream sector.
Meanwhile, when compared with the gas price from PGN, there are very significant differences that cause the cost ratio of the upstream and downstream sector is not realistic."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
T42106
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library