Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Atika Nur Rahmania
"Tawuran pelajar di DKI Jakarta memiliki dimensi kompleksitas
permasalahan yang menonjol. Fluktuasi frekuensi tawuran yang berubah dari
tahun ke tahun, variasi faktor penyebab dan pemicu tawuran pelaiar serla semakin
meningkatnya korban tawuran pelajar menyebabkan perlunya suatu pemahaman
yang lebih luas mengenai permasalalahan. Atas dasar hal tersebut maka
diperlukan suatu perencanaan sosial yang komprehensif dalam menanggulangi
sekaligus mengantisipasi perluasan gejalanya. Perencanaan sosial diharapkan
dapat menghasilkan suatu rekomendasi yang aplikatif melalui pendedahan
berbagai faktor yang ditengarai sebagai penyebab dan pemicu masalah tawuran
pelajar.
Penelitian ini pada dasamya dapat diklasifikasikan sebagai action research.
yang berupaya untuk menjelaskan suatu fenomena sekaligus menawarkan
alternatif solusi. Har ini disebabkan karena tawuran pelajar merupakan
permasalahan yang bersifat kontemporer (berlangsung hingga kini). Untuk
mendapatkan pemahaman yang Iebih mendalam mengenai fenomena tawuran
pelajar maka teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah secondary analysis.
Dengan mempertimbangkan karakteristik masalah yang dibahas dimana sumber
masalah bukan hanya satu dan masing-masing memiliki kontribusi meskipun
dalam derajat yang berbeda. sehingga jalan terbaik untuk memperoleh solusi
adalah pemahaman yang mendalam mengenai problem tersabut. Oleh karena itu
pendekatan yang digunakan adaiah Theoritica/ Review. `
Berdasarkan hasil analisis terungkap bahwa diperlukan cara pandang yang
bersifat sistemik dalam memahami masalah tawuran pelajar. Berbagai faktor
saling berhubungan dalam membentuk permasalahan tawuran pelajar.
Pengkategorian sosial sekolah yang terjadi dalam sistem pendidikan berimbas
pada interaksi yang terjadi di Iuar tembok sekoiah antara satu sekolah dengan
sekolah lain. Tata ruang kota sebagai setting terjadinya interaksi memberi warna pada bentuk dinamika yang terjadi dalam interaksi tersebut. Sebagai kelompok
usia yang memiliki tugas perkembangan yang berkaitan dengan modus ekslstensi
pribadi, kondisi-kondisi diatas tidak mendukung daya adaptasi sistem biologisnya
terhadap sistem perilaku. Akibatnya dalam pemilihan cara untuk mencapai
tujuannya, terdapat sekelompok pelajar yang cenderung menggunakan cara-cara
kekerasan sebagai bentuk resistensi eksistensinya
Masalah utama yang dapat diidentifikasi adalah adanya ketegangan
struktural dan setting lingkungan fisik yang kurang kondusif yang mengakibatkan
rasa tidak aman bagi sebagian pelajar sehingga mendorong timbulnya kondisi
yang mengarah pada tindakan koleklif yang bersifat agresif. Dengan demikian
maka tujuan dari perencanaan sosial penanganan tawuran pelajar adalan
mengendalikan faktor-faktor yang ditengarai menjadi penyebab tercetusnya
tindakan tawuran pelajar
Berdasarkan analisis juga ditemukan bahwa kebijakan yang selama ini
diterapkan memiliki beberapa kelemahan antara Iain; kebijakan yang dirumuskan
dalam wilayah tindak geograris rnengaburkan batas tanggung jawab masing-
masing instansi, tidak adanya koordinsi dalam desain dan penganggaran program,
cara pandang yang cenderung melihat inti permasalahan pada diri siswa dan
kurangnya ? sense of crisis' dalam memandang permasalahan tersebut.
Tujuan penanganan masalah tersebut drfokuskan untuk menciptakan
kondisi yang mendukung rasa aman bagi pelajar untuk menjalankan status dan
perannya sehingga dapat menoapai goal (tujuan) yang diharapkan sesuai dengan
status dan perannya tersebut _ Fokus dari alternatif penanganan masalah adalah
mengendalikan faktor-faktor yang menyebabkan tarjadinya ketegangan struktural
dengan memprioritaskan faktor-faktor yang dapat dikontrol untuk program jangka
pendek. Antara lain mengendalikan kondisi yang menyediakan situasi yang dapat
memicu kontak iisik antar pelajar dan memutuskan tradisi permusuhan melalui
"counter" terhadap konstruksi realitas yang dibentuk dalam dinamika kerompok dan
sosialisasi permusuhan oleh alumni. Dalam jangka panjang structural constraint
yang mendukung kondisi kesenjangan serta penataan lingkungan fisik dan
penyediaan sarana aktualisasi siswa menjadi perhatian."
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2001
T6320
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Atika Nur Rahmania
"Penelitian ini berusaha mendapatkan gambaran komprehensif mengenai musik sebagai bentuk komunikasi melalui penelaahan historis komponen-komponen yang terlibat dalam pengkomunikasian musik rap. Penelaahan dilakukan melalui cara pandang yang bersifat makro, lebih lanjut berusaha memberikan gambaran bagaimana perubahan-perubahan dalam komponen komunikasi; pengirim, pesan, media dan khalayak, secara simultan merubah hubungan antara masing-masing komponen dalam proses komunikasi tersebut. Dari penelitian ini teridentifikasi bahwa fluktuasi politik dan kondisi ekonomi masyarakat Amerika Serikat berperan dalam bentuk-bentuk pengekspresian bermusik bangsa Afrika Amerika. Kehidupan yang penuh tekanan tersebut melahirkan semangat yang mendasari proses kreatif bermusik mereka. Kondisi psiko sosial tersebut termanifestasikan dalam sebuah musik yang dijadikan sebagai bentuk resistensi mereka sebagai sebuah subkultur, untuk menunjukkan kebanggan identitas, wahana protes sosial terhadap kelas dominan. Sementara itu industri hiburan di Amerika, telah berkembang menjadi sebuah industri yang menghasilkan banyak laba. Oleh karenanya produk-produk yang dihasilkan tunduk pada aturan-aturan komersial yang menjadi filosofi produsennya. Apalagi karena konsumen industri hiburan, terutama musik populer adalah kaum remaja. Pihak produsen jeli dalam mengidentifikasi potensi komersial para remaja, yang aktif menelusuri dunia simbolis untuk memperoleh jati diri sebagai sebuah generasi. Reaksi industri hiburan adalah memberikan tawaran-tawaran kreatif baru kepada mereka. Subkultur dalam hal ini dipandang pemasok kreatifitas industri rekaman, yang dengan kekuatan terpaannya mengarahkan minat khalayak terhadap produkproduk pemuas kebutuhan mereka. Melalui pola kerja demikian, budaya subkultur terserap oleh budaya mainstream. Budaya subkultur pada akhirnya berkembang menjadi sebuah recorded culture. Salah satu dampaknya adalah banyak unsur-unsur dalam budaya tersebut menjadi hilang orisinalitasnya. Akibatnya, tujuan dari para komunikator, dalam hal ini para rapper untuk memperoleh pemahaman terhadap diri dan kelompoknya, terkaburkan oleh kemasan industrial tersebut. Menyadari semakin berkembangnya teknologi komunikasi yang mengaburkan batas wilayah dan batas kultural, kekuatan media dalam menyeragamkan selera lewat penciptaan simbol perlu diantisipasi. Dengan mencermati gerak industri populer, diharapkan dapat memperoleh pemahaman terhadap pentingnya telaah-telaah pengkomunikasian budaya populer."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1996
S4177
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library