Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 1 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Elliora Khassyah Adlkireina
"Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan fenomena kompleks yang tidak hanya melibatkan kekerasan, tetapi juga berbagai aspek lainnya yang menjadi akar penyebab, seperti konstruksi gender, patriarki, dan maskulinitas. Pihak yang menjadi korban tidak hanya perempuan, tetapi juga anak, terlepas ia mengalami kekerasan atau tidak. Karena itu, upaya penanganan kasus KDRT oleh petugas polisi harus memenuhi segala unsur yang dapat menyesuaikan kondisi kerentanan korban. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hambatan petugas polisi dalam menangani kasus KDRT yang dapat menjadi tantangan untuk mencapai aspek kesejahteraan korban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui teknik wawancara semi-terstruktur. Subjek penelitian adalah petugas polisi yang ditentukan dari tiga lokasi penelitian yang berbeda, yakni Unit PPA Polres Metro Jakarta Selatan, Unit Reserse Kriminal Polsek Jagakarsa, dan Unit Reserse Kriminal Polsek Metro Setiabudi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman petugas polisi mengenai KDRT dan viktimisasi korban, baik perempuan maupun anak, tidak cukup memadai sehingga berdampak pemaknaan petugas serta upaya penanganan yang dilakukan. Petugas polisi cenderung tidak melibatkan anak dalam upaya penanganan sehingga hak partisipasi anak menjadi tidak tercapai. Pemahaman serta perilaku dalam upaya penanganan dapat dipengaruhi oleh budaya polisi yang berkembang dalam lingkungan kepolisian, baik secara nasional, okupasional, dan organisasional. Selain itu, petugas polisi tidak dibekali materi atau pelatihan yang berkaitan dengan isu KDRT, khususnya mengenai kerentanan yang dimiliki korban perempuan dan anak. Akibatnya, tidak hanya kemampuan empati petugas melemah, petugas polisi juga dihadapi tekanan akan produktivitas yang membuat mereka cenderung menangani kasus dengan sekadar berfokus pada unsur-unsur administrasi.

Domestic violence is a complex issue that involves not only acts of violence, but also deeper root causes, such as gender construction, patriarchy, and masculinity. The victims are not limited to women, but children are also affected, whether they experience violence or not. Therefore, police handling of domestic violence cases must take into account various factors related to the victims' vulnerability. This study aims to identify the challenges faced by police officers in handling domestic violence cases, especially those that hinder efforts to ensure the well-being of victims. This research used a qualitative approach through semi-structured interview techniques. The research subjects involved police officers from three locations: the Women and Children Protection Unit of the South Jakarta Metro Police, and the Criminal Investigation Units of both the Jagakarsa and Setiabudi Metro Police. The results shows that police officers have a limited understanding of domestic violence and its impact on women and children, which affects their interpretation and handling of cases. This lack of understanding affects the way cases are handled. Police officers tend not to involve children in handling efforts,  which results in the neglect of their right to participate. Understanding and behavior in handling efforts can be influenced by the police culture that develops in the police environment, both nationally, occupationally, and organizationally. Furthermore, police officers are not provided with materials or training related to domestic violence issues, especially regarding the vulnerabilities of women and child victims. As a result, not only are officers' empathy skills weakened, police officers are also under pressure to meet productivity targets, which leads them tend to handle cases by focusing solely on administrative elements. "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library