Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kusmana
Jakarta: Konrad Adenauer Stiftung, 2003
297 KUS h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Cecep Kusmana
Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, 2003
583.763 CEC j (1)
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Dede Kusmana
"Objektif : Penyakit Kardiovaskular berawal dari fungsi endotel pembuluh darah yang terganggu, berlanjut menjadi proses aterosklerosis. Mencegah proses aterosklerosis dengan membiasakan tidak merokok/stop merokok disertai olahraga teratur dan/atau pengaruh kerja fisik (trias SOK) adalah upaya preventif pada tingkat endotel. Untuk mengetahui pengaruh trias SOK terhadap daya survival,dilakukan penelitian kohort.
Metode: Pada tanggal I Juli 200 dilakukan penelitian kohort historis terhadap sampel MONICA 1988 di tiga kecamatan Jakarta Selatan, serta diikuti sampai 31 Agustus 2001. Sampel dibagi menjadi kelompok trias SOK dan tanpa trias SOK. Dilakukan wawancara, pemeriksaan fisik, gula darah dan kolesterol total serta perekaman EKG pada sampel yang hidup, otopsi verbal pada yang menyaksikan untuk mencari sebab kematian. Aktivitas fisik (kerja fisik dan olahraga perminggu) dikelompokan pada: tidak ada, ringan hampir setiap hari, sedang dan berat minimal 20 menit dua kali atau lebih. Merokok bila tetap merokok, mantan perokok bila telah berhenti 2 tahun atau lebih, tidak merokok bila tetap tidak merokok atau telah berhenti 10 tahun atau lebih. Kriteria hipertensi (JNC-VI), diabetes (gula darah puasa 140 mg/di atau sewaktu 200 mg/di), obesitas (IMT z 29,99 kglm2), EKG memakai kode Minnesota. Analisis statistik memakai suain (adjusted) regesi Cox, 95% interval kepercayaan, Kaplan Meier (daya survival), Log rank (rasio hazard/HR), uji kappa (degree of aggreement), Batas kemaknaan p
Hasil: Terdapat 479 (23,4%) sampel dari 2073 orang, umur 25-64 tahun (1988), terdiri dari 209 (43,6%) lelaki, 270 (56.4%) perempuan. Insiden kardiovaskular 1,2% pertahun, dengan proporsi kematian tertinggi penyakit jantung 42,9%. Sampel yang mengikuti this SOK mempunyai daya survival lebih baik (95,7%) dibanding tanpa trias SOK (81,1%), dan rasio kematian seperlima kali [rasio hazard (HR.) suaian = 0,20, 95% interval kepercayaan (III) = 0,08-0,57, p=0,002]. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan rasio kematian tinggi adalah: merokok (HR=4,99, IK 2,56-9,73, p=0,000) dibanding tidak merokok; hipertensi tingkat-3 (HR 5,96, 1K 2,69-13,21, p=0,000) dibanding tensi normal; diabetes (HR 2,74, 1K 1,37-5,47, p=0,004) dibanding normal. Sedangkan yang tidak dapat dimodifikasi: umur 60 tahun (HR 10,13, 1K 4,79-21,43, p=0,000) dibanding umur 25-49 tahun. Sedangkan aktivitas fisik mingguan mempunyai rasio kematian rendah/ringan HR=0,45, (1K 0,27-0,76, p=0,003), sedang HR--0,32, (1K 0,15-0,70, p=0,004) dan berat nol dibanding yang tidak ada aktivitas. Dihasilkan Skor Kardiovaskular Jakarta, Skor -7 sampai 1 risiko rendah (<10%), skor 2 sampai 4 sedang (10-20%), skor z 5 risiko tinggi (>20%), sensitivitas 77,9%, spesifitas 90,0%, kappa 0,652, DOA 82,67%, p=0,000.
Kesimpulan: Salah satu upaya pencegahan penyakit kardiovaskular melalui upaya tidak/stop merokok, dikombinasikan dengan olahraga teratur dan/atau kerja fisik merupakan cara tepat untuk meningkatkan daya survival. Dihasilkan Skor Kardiovaskular Jakarta untuk memperkirakan kematian kardiovaskular di masyarakat.
The Influence of Stop/Quit Smoking, Combine with Sport and or Physical Activity on Survival of the Population at Jakarta: a Cohort Study in 13 YearsObjective: Endothelial dysfunction as the beginning of atherosclerotic process in arterial vessel due to various risk factors. Prevention of atherosclerotic process in the endothelial level through quit or stop smoking, combine with regular physical activity and or sport (Trias SOK-Stop/no Smoking, Olahraga teratur/sport or Kerja fisik/physical activity) as a simple method in the community. To know the influence of trias SOK on survival of the population, a community survey was done in three districts of Jakarta.
Methods: A historical cohort study was done on the subpopulation of MONICA Jakarta 1988 using population survey since July 1, 2000 in three districts of South Jakarta until 31 of August 2001. Multistage stratified cluster sampling was done on 523.000 people, and 2073 total samples were included in 1988 study and 479 samples perform second survey. Sample was divided into exposed group (without trims SOK) and non-exposed (trios SOK). A complete history on daily habit, cardiovascular risk factors, laboratory examination and 12 leads ECG was carried. Physical activity as well as sport in one week also divided into: no physical activity, light physical activity almost every day, moderate physical activity and heavy physical activity at least 20 minutes or more. ECG criteria using Minnesota code, hypertension (INC-VI), diabetic (fasting blood sugar 140 mg/di or occasional > 200 mg/dl), obesity (BMI > 29,99 kglm2). Verbal autopsy was carried out to diagnose the cause of mortality. Statistical analysis using SPSS for Window 10 and Stata 6. Kaplan Meier to compare survival rate between trias SOK and non-trios SOK, log rank to measure hazard ratio, kappa test for degree of agreement and p<0,05 as statistical significance.
Results: They were 479 (23.4%) samples out of 2073, 209 (43.6%) males and 270 (56.4%) females, aged 25-64 years in 1988 and 37-77 years in 2000. Cardiovascular incidence 1.2% per year, and case fatality rate of 42.9% due to heart disease. Trios SOK survival rate was higher (95.7%) compared with non-trias SOK (81.1%), and hazard ratio 1/5 [HR= 0.20, 95% CI 0.008-0.57, p-0.002]. Multivariate analysis using Cox regression revealed the significant modifiable risk factors were: smoking HR 4.99 (CI 2.56-9.73, p=0,000) compare with non-smoking, grade 3 hypertension HR 5,96 (CI 2.69-13.21, p=0,000) compare with normal blood pressure, diabetic HR 2.74 (CI 1.37-5.47, p=0.004) compare with non-diabetic, obesity BMI 30 kg/m2 HR 2.18 (CI 0.94-5.10, p=0.071) compare with normal weight. Unmodifiable risk factor were: age ? 60 years HR 10.13 (CI 4.79-21.43) compare with 25-49 years. Physical activity as well as sport in one week has low risk for cardiovascular death, either: light physical activity HR 0.4 (CI 027-0.76, p=0.003), moderate HR 0.32 (CI 0.15-0.70, p-'0.004) or heavy almost zero compare with no physical activity. Jakarta Cardiovascular Score was found. Low risk (score -7 to 1) <10%, average (score 2 to 4) 10 to 20%, high (score ? 5) >20% for cardiovascular event in 10 years (sensitivity 77.9%, specificity 90.0%, kappa 0,652, degree of agreement 82.67% and p=0,000).
Conclusions: Cardiovascular prevention through quit or stops smoking combine with regular sports and or physical activities enhances a better survival. Jakarta Cardiovascular Score was found as a simple method to estimate the cardiovascular event in the community.
"
2002
D183
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dadang Kusmana
"Program KB Nasional bertujuan ganda yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan Ibu dan Anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sentosa melalui pengendalian kelahiran. Dalam pelaksanaan program KB saat ini masih ditujukan pada kaum wanita, sedangkan pada pria masih terbatas pada alat-alat yang bersifat mekanik, seperti vasektom i dan kondoni.
Rendahnya partisipasi pria dalam program KB disebabkan terbatasnya pilihan kontrasepsi pria. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mencari alat kontrasepsi pria. Dalarn usaha tersebut harus didasari atas beberapa hal penting yaitu bahwa kontrasepsi tersebut harus aman, efektif, mudah digunakan dan bersifat reversibel (Sutyarso & Moeloek 1995:241)
Penggunaan jamu atau tumbuhan obat sebagai kontrasepsi (KB) telah lama dikenal masyarakat terutama di beberapa daerah di Indonesia. Dari beberapa pustaka tercatat 74 tanaman yang secara empiris digunakan masyarakat di beberapa daerah untuk kontrasepsi tradisional. Dari 74 jenis tanaman tersebut antara lain Avicenia officinale L., Momordica charanatia L., Polysciasguilfoylei (Winarno & Sundari 1977).
Pada penelitian tahap pertama telah terbukti bahwa ekstrak daun puding dapat menurunkan konsentrasi spermatozoa tikus jantan. Penurunan tersebut sangat bermakna dari rata-rata tikus kontrol 166,77 juta/ml daripada tikus yang diberi ekstrak daun puding dengan dosis 168 mg/200g bb konsentrasi spermanya 20,2 juta/ml.
Permasalahan yang belum terjawab dari penelitian terdahulu adalah masalah Libido setelah pemberian ekstrak daun puding dan efek samping dari pemberian ekstrak tersebut. Untuk menjawab hal tersebut penelitian akan dilanjutkan dengan menggunakan hewan percobaan kelinci.
TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk:
* Mengkaji efektifitas dosis yang optimal ekstrakdaun puding sebagai bahan antifertilitas
* Mengkaji efek sampingnya terhadap berat badan dan libido
* Mengkaji efeknya terhadap kualitas semen"
Depok: Universitas Indonesia, 2002
LP 2002 27
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Dadang Kusmana
"A study on the structure of the gonad of Fluta alba was made in the Laboratory. Data concerning the sexuality and body length showed that the smallest female and male recorded were 17.6 and 21.1 cm respectively. It was also found that smallest intersexes were 25 to 29.9 cm. One of the intersexual eels collected had the longest body length, i.e. 64.4 cm. Histological evidence showed that the change of the gonad from female to male were usually found after the lost of ovarian tissues and of proliferation of the interstitial cells in the inner zone of the gonadal lamella. At the same time the formation of the testicular lobules occured by proliferation of spermatogonia. The karyotype of Fluta alba exhibited six pairs (12 chromosomes) and all chromosomes were metacentric. There were no differences in number and morphological structures of chromosomes among sexes, therefore it is suggested that the change of the gonadal function in F. alba is not a genetically inherited, but it might be due to the hormonal regulations produced by the gonad."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1993
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Dadang Kusmana
"Telah dilakukan penelitian yang bertujuan melihat pengaruh penyuntikan dua dosis kombinasi ethinyl estradiol dan testosteron enanthat terhadap kesuburan mencit jantan. Mencit yang digunakan berumur 2 sampai 3 bulan, berat antara 20 sampai 30 gram disuntik secara infra muskular dengan ethinyl estradiol (EE) dosis tunggal 0,2 atau 2 mg/kg berat badan (bb) ditambah testosteron enanthat (TE) sebanyak 5 mg/kg bb. Untuk kontrol hanya diberi pelarut sebanyak 1 ml/100 g bb. Pengambilan data dilakukan pada hari ke 39 setelah penyuntikan, yaitu satu siklus spermatogenesis ditambah 5 hari masa perkawinan dengan betina. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh terhadap jumlah sperma total, jumlah sperma abnormal, berat testis, berat epididimis, berat vesika seminalis, diameter tubulus seminiferus, dan jumlah anak yang dihasilkan. Kesimpulan, penyuntikan dua dosis kombinasi EE dan TE yang diberikan hanya sekali tidak berpengaruh terhadap kesuburan ataupun libido mencit jantan galur CBR."
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 1994
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Dede Kusmana
"Di alam jagat raya (angkasa/space) dikenal partikel elektron yang bergerak secara teratur yang dapat diamati, lebih tepat disebut Space Resonance (resonansi semesta, getaran jagat raya). Partikel elektron (positron) dapat digambarkan sebagai sepasang persimpangan dan pertemuan gelombang skalar sperikal (spherical scalar waves) pada pusatnya. Struktur dasar positron menjadi hukum-hukum dasar fisika yang asli, termasuk teori kuantum, teori relativitas, inertia, muatan dan elektromagnetis. Salah satu asumsi yang disepakati adalah teori Wave equation (persamaan gelombang), yang melukiskan struktur partikel elektron bermuatan berbentuk gelombang simetris dan speris (lonjong).
Setiap partikel elektron mempunyai dua gelombang, satu yang masuk (In-going wave) dan satu yang keluar (Out-going waver (Gambar 1).
Resonansi Semesta terus menerus menggetarkan alam semesta yang abadi, yang menyebar dan berinteraksi dengan gelombang-gelombang lainnya. Dengan perantaraan gelombang itu pula terjadi komunikasi antar partikel. Partikel yang lebih besar (atom) berkomunikasi, seperti atom C (karbon) dengan atom C atau dengan atom 0 (oksigen) atau dengan atom H (hidrogen). Atom C menjelma di arang (karbon tanah), tetapi juga di intan.
Segala sesuatu di alam semesta selalu saling tergantung satu sama lain. Setiap partikel atau materi berkomunikasi dengan gelombang kuantum dari materi lainnya, sehingga pertukaran energi dan hokum-hukum fisika merupakan suatu simponi alat semesta. Terdapat dua dunia nyata dan paralel yang ambil bagian dalam perangai materi (Prinsip Mach). Dunia pertama yang telah kita kenal, dikuasai oleh hukum alam dan diobservasi menggunakan panca indera serta instrumen laboratorium. Dunia kedua berbentuk skalar gelombang partikel (elektron, proton, neutron dan ether) yang tidak terlihat oleh mata kita, dan hanya dikenal bila terjadi pertukaran energi (frekuensi).
Dunia yang kita tempati bergerak secara teratur dan bentuknya tidak bulat penuh tetapi berbentuk lonjong, serta lintasannya berbentuk speris. Demikian juga partikel yang ada di jagat raya juga bergerak secara speris."
Jakarta: UI-Press, 2003
PGB 0149
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Dadang Kusmana
"Pada saat ini alat kontrasepsi untuk wanita cukup tersedia dan bervariasi, sedangkan alat kontrasepsi bagi pria masih sangat terbatas jenisnya. Oleh karena itu perlu dipikirkan untuk mendapatkan metode kontrasepsi bagi pria lebih banyak lagi. Alat kontrasepsi tersebut sebaiknya mudah digunakan, efektif, aman, efek samping sangat minimal, tidak toksik, bersifat reversibel, dan tidak mengurangi kenyamanan saat melakukan senggama (Swerdloff, dkk, 1993). Metode kontrasepsi yang telah dilakukan untuk kaum pria antara lain secara mekanis melalui kondom, secara operatif melalui vasektomi, dan secara hormonal untuk menghambat produksi dan pematangan spermatozoa (Tadjudin, 1985; Swerdloff , dkk., 1993).
Penggunaan hormon pada kontrasepsi pria dimaksudkan untuk menghambat proses spermatogenesis melalui poros hipotalamus-hipofisis-testis (Bremner & De Kretser, 1976; Wu, 1988). Metode pendekatan semacam ini didasarkan pada pengetahuan, bahwa kelangsungan spermatogenesis sangat tergantung pada sekresi hormon gonadotropin, yaitu LH (Luteinizing Hormone) dan FSH (Follicle Stimulating Hormone) oleh kelenjar hipofisis (Sutyarso, 1997).
Harmon LH menginduksi sel Leydig untuk memproduksi testosteron, sedangkan FSH diperlukan untuk mengontrol fungsi sel Sertoli guna memproduksi zat-zat makanan yang diperlukan untuk perkembangan normal sel-sel germinal selama proses spermatogenesis dan menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) (Soeradi, 1987; Moeloek, 1991). Selama proses spermatogenesis, hormon FSH dan testosteron intratestikular yang bekerja secara sinergis diperlukan untuk proliferasi dan diferensiasi sel-sel germinal sampai terbentuk spermatozoa yang fungsional. Di samping itu, testosteron intratestikular, diperlukan untuk pembelahan reduksi serta proses pematangan spermatozoa baik selama berada di dalam tubulus seminiferus atau di dalam epididimis (Johnson & Everitt, 1980). Dengan demikian kontrasepsi hormonal bertujuan menghambat produksi hormon gonadotropin, dan diharapkan akan berpengaruh pula terhadap produksi dan kualitas spermatozoa.
Matsumoto (1988) melaporkan bahwa pemberian testosteron enantat (TE) dosis tinggi pada pria normal secara intra muskular dapat menimbulkan oligozoospermia. Penurunan jumlah sperma tersebut terjadi dari 78 + 15 x 106/m1 menjadi 2,0 + 8 x 106/ml. Temyata kualitas spermatozoa dari semen oligozoospermia tersebut mengalami penurunan, yaitu pada motilitas dan morfologi sperma bentuk ovalnya. Selanjutnya World Health Organization (WHO, 1990) mengkoordinasikan data dari 10 pusat studi yang ada di tujuh negara dengan hasil, bahwa pemberian hormon TE sebanyak 200 mg/minggu pada 271 pria sehat dan fertil menyebabkan 157 (65%) pria tersebut mengalami azoospermia setelah 6 bulan perlakuan?"
Depok: Universitas Indonesia, 2001
D509
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dadang Kusmana
"Telah dilakukan pengujian pengaruh suspensi ekstrak tribulus (Tribulus cistoides) dosis 400, 800, 1600, dan 3200 mg/kg bb selama 3 hari terhadap mencit jantan yang sebelumnya ielah diberi asetaminophen dosis 140 mg/kg bb/ hari selama 30 hari berturut-turut. Hasil uji stastistik terhadap parameter-parameter lalensi penunggangan, latensi intromisi, latensi ejakulasi, jumlah penunggangan, dan jumlah tntromtsi menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (a < 0,05) dibandingkan dengan kontrol. Dengan demikian dapal disimpulkan bahwa pemberian ekstrak tribulus dosis 400, 800, 1600, dan 3200 mg/kg bb selama tiga hari dapat meningkatkan libido mencit, semakin tinggi dosis maka semakin besar libido yang dihasilkan.

The effect of varying doses (400, 800, 1600, 3200 mg/kg body weight) of tribulus (Tribulus cistoides) extract suspension on libido of male mice for 3 days was investigated. Before treatment, the male mice were previously subjected with 140 mg/kg body weight of acetaminophen for 30 days. The statistical test on mount latency, intromtion latency, ejaculation latency, amount of mounts and amount of intromtions of the male showed significantly difference ( a < 0.05) compared with control. Notably, there was an increase in the male mice libido with increase in concentration of the tribulus extract."
[place of publication not identified]: Sains Indonesia, 2005
SAIN-10-1-2005-11
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dede Kusmana
"Mencegah proses aterosklerosis dengan membiasakan tidak merokok/stop merokok disertai olahraga teratur dan/atau pengaruh kerja fisik (trias SOK) adalah upaya preventif di masyarakat. Untuk mengetahui pengaruh trias SOK terhadap daya survival, dilakukan penelitian kohort historis pada sampel MONICA 1988 di tiga kecamatan Jakarta Selatan, serta diikuti sampai 31 Agustus 2001. Sampel dibagi menjadi kelompok trias SOK dan tanpa trias SOK. Dilakukan wawancara faktor risiko (merokok, hipertensi, hiperlipidemia, diabetes, obesitas), pemeriksaan fisik, laboratorium dan perekaman EKG. Otopsi verbal untuk mencari sebab kematian. Aktivitas fisik dikelompokkan pada: tidak ada, ringan hampir setiap hari, sedang dan berat minimal 20 menit dua kali atau lebih. Analisis statistik: regresi Cox, Kaplan Meier, Log rank, uji kappa, batas kemaknaan p<0,05. Terdapat 479 (23,4%) sampel dari 2073 orang, umur 25?64 tahun (1988), terdiri dari 209 (43,6%) lelaki, 270 (56,4%) perempuan. Insiden kardiovaskular 1,2% pertahun, proporsi kematian penyakit jantung 42,9%. Daya survival sampel trias SOK lebih baik (95,7%) dibanding tanpa trias SOK (81,1%), (HR 0,20, 95% IK 0,08?0,57, p=0,002]. Aktivitas fisik mempunyai rasio kematian rendah [ringan HR 0,45, IK 0,27?0,76, p=0,003), sedang (HR 0,32, IK 0,15?0,70, p=0,004) dan berat nol] dibanding tidak ada.Rasio kematian merokok tinggi (HR 4.99,KI 2.56?9.73, p=0,000), Dihasilkan Skor Kardiovaskular Jakarta, Skor ?7 sampai 1 risiko rendah (<10%), skor 2 sampai 4 sedang (10?20%), skor ³ 5 risiko tinggi (>20%). Upaya pencegahan penyakit kardiovaskular dengan cara tidak/stop merokok, dikombinasikan dengan olahraga teratur dan/atau kerja fisik merupakan cara tepat untuk meningkatkan daya survival. Dihasilkan Skor Kardiovaskular Jakarta untuk memprakirakan kematian kardiovaskular di masyarakat. (Med J Indones 2002; 11: 230-41)

Preventing atherosclerosis with smoking cessation, regular physical exercise and/or physical activity known as SOK (S-top/ no S-moking, sp-O-rt/ physical exercise, wor-K/ physical activity) is a simple preventive measure, which can be applied in the community. To determine the role of SOK on survival, to create cardiovascular risk score for Indonesian patients and to have a special formula to predict survival. A historical cohort study over thirteen years recruited from the subpopulation MONICA patients who resided at three districts of South Jakarta. Patients were divided into two groups, those with SOK and those without (non-SOK group). Assessment included complete history including cardiovascular risk factors (hypertension, diabetic, hyperlipidemia, obesity), physical examination, laboratory examination, twelve-lead ECG recording and level of physical activity/exercise. Outcomes included survival rate and all-cause of mortality. Statistical analysis included kappa statistic and various survival analyses. 479 participants were included in the SOK study. Mean age 46 years (range 25-64), 56% female. Cardiovascular mortality rate (including stroke) was 1.2% per year and 42.9% of mortality caused by heart disease. Survival rate was higher in SOK group compared with non-SOK (95.7% vs 81.1%) with Hazard Ratio (HR) 0.2 for SOK group (95% CI 0.08-0.57, p=0.002) In relation to the cardiovascular mortality rate: 1) any physical activity/exercise (OK) vs no-OK will lower the risk; low-OK (HR 0.4, p=0.003), medium-OK (HR 0.32, p=0.004), high-OK (HR 0.000, p=0.000) 2) Smoking will increase the risk vs non-smoking (HR 4.99, p=0,000). For predicting the cardiovascular events in ten-year time (CV10), we formulated the Jakarta Cardiovascular Score. The score was divided into low-risk (-7-1) with CV10 <10%, average-risk (2-4) with CV10 = 10-20%, high-risk (score > 5) with CV10 >20%. Smoking cessation, regular physical exercise and/or physical activity is an effective method to reduce cardiovascular death, thus enhances the survival. We formulated a simple method to predict cardiovascular events in our community known as the Jakarta Cardiovascular Score. (Med J Indones 2002; 11: 230-41)"
Medical Journal of Indonesia, 2002
MJIN-11-4-OctDec2002-230
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>