Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Noerad AP
"Strategi subsistensi manusia Faktual dan sekitamya, cenderung mernperlihatkan penerapan teknologi tulang yang cukup dominan selain alat batu, Hal ini didukung oleh keadaan geografis daerah Pegunungan Seribu yang memungkinkan alat-alat tulang itu tetap utuh dalam jurnlah yang cukup banyak di beberapa lapisan strata. Walaupun alat alat tularg dominan urnumnya kebudayaan batunya tetap berkembang pesat. Sumber daya fauna yang digunakan sebagai alat tulang sangat bervariasi, baik dilihat dari jenis faunanya maupun dari bagian tulang yang dipergunakan. Proses pembertukan dan pemangkasan tulang sebagai alatpun bermacam-macam.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fauna-fauna apa yang dominan dan bagian-bagian fauna apa yang dominan dipergunakan sebagai bahan alat tulang serta pengaruhnya pada bentuk alat itu. Dengan demikian dapat dketahui keberadnan number daya fauna apa saja yang domimn merduktng akbfitas pembualan ulet tulang di situs Braholo, Disamping perlu untuk mengetahui bentuk-bentuk pemangkasan alat tulang itu. Hal ini dilakukan mengingat fenomena temuan alat tulang di Gua Braholo yang jenisnya bermacam-macam dan fauna yang beraneka ragam dalarn jumlah yang cukup besar yang setiap jenis alat diperkirakan mempunyai beberapa bentuk pangkasan yang berbeda-beda.
Dalam hal ini metode penelitian meliputi pengumpulan data yang terdiri atas data utama, yaitu temuan artefak-artefak alat tulang yang merupakan Hasil penggalian Puslitaskenas pada tahun 1997 (kotak D5, P4, 06, 39, dan 08) dan 1998 (kotak 08, 17, K8, L8, M8, dan N8), sedangan data tambahan diambil dari literatur-literatur pendukung dan laporan penelitian. Kemudian dilakukan pembandingan artefak berdasarkan sumberdaya fauna yang digunakan, sehingga dapat diketahui jenis -jenis fauna yang dominan dan bagian-bagtan tulang yang dominan digunakan sebagai alat tulang. Dapat diketahui pula variasi cara pembuatan alat oleh manusia pendukung budaya tersebut, yang pada satu jenis alat tulang dapat mengalami proses pemangkasan yang berbeda-beda.
Jenis fauna yang paling populer untuk dijadikan sebagai bahan alat adalah Macaca sp. atau monyet (merupakan sumber fauna yang paling besar pada lancipan, jarum, pangkasan, dan tajaman) sebanyak 44,9 % dari keseluruhan alat tulang. Hal ini dipergaruhi oleh keperluan akan bahan tulang yang berukuran kecil yang ideal untuk dijadikan alat yang kecil-kecil sehingga jenis lain juga banyak digunakan seperli Viveridae (16,8 %), Canidae (3,1 %), dan Chiropterdae (3,3 %) yang morfologi tulangnya juga sesuai untuk pergerjaan alat lancipan dan jarum Untuk keperluan alat yang lebih besar seperti spatula, bahan fauna yang urnum digunakan adalah Bovidae dan Cervidae. Kesenjangan persentasi jumlah alai dari bahan Botsdae dan Cervidae tersebut sangat terlhat karena secara kcselunrhan ate, pen gunaan tulang Bovidae dan Cervidae hanyalah 9,8 % dan 9,6 % dari keseluruhan alat Sedangkan khusus pada alat spatula, penggunaan bahan tulang Bovidae dan Cervidae masing-masing adalah 47,7 % dan 35,4 % dari keseluruhan jenis alat spatula.
Mengenai pemilihan jenis tulang yang akan diolah, maka tulang betis (fibula) rnenempati urutan paling atas. Dari keseluruhan jenis tulang yang ada, yaitu berjumlah 198 buah (41,2 % dari keseluruhan alat tulang), disusul kemudian oleh metatarsal berjumlah 64 buah (13,3 % dari keseluruhan alat tulang) dan tulang hasta (ulna) berjumlah 58 buah (12,1 % dari keseluruhan alas tulang). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemilihan bahan alat tulang di Gua Braholo didominasi oleh macaca sp. (secara jenis fauna) dan tulang betis (secara jenis tulang).
Pada segi bentuk pangkasan tulang di gua Braholo, spatula memiliki paling banyak variasi cara pengerjaan alat. Hal ini dimungkinkan karena spatula mampunyai ukuran yang cukup besar sehingga pangkasan-pangkasan dengan. rrudah dapat dilakukan. Pada alat tulang lancipan dan jarum, vaniasi Cara pengerjaan tidak banyak dilakukan karena bahan tulang yang digunakan urnumnya berukuran kecil dan jelas lebih rapuh sehingga dalam pembentukan alat hanya diutamakan pangkasan-pangkasan utama untuk membuat suatu tajaman dan hanya untuk menampilkan bentuk dasar alat. Dalam hal ini, lebilh ditekankan pada efektifitas alat daripada keindahan alat."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2001
S11966
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Noerad AP
"Dampak dari berbagai pembangunan fisik untuk mendukung perekonomian mulai mengancam kelestarian situs-situs arkeologi dan lingkungannya baik ancaman secara langsung seperti penghancuran, penggusuran, dan perusakan, maupun ancaman secara tidak langsung seperti polusi, perubahan iklim mikro, penelantaran situs-situs, dan kurangnya perlindungan. Oleh karena itu, untuk situs-situs yang belum secara langsung menghadapi ancaman fisik dart pembangunan perlu diberi perhatian yang intensif sehingga kemungkinan-kemungkinan akan adanya kontlik kepentingan terutama yang berhubungan dengan proses pembangunan fisik oleh pemerintah daerah di kernudian hari akan dapat diminimalisasi. Dengan mengoptimalkan sistem pengelolaan dan penataan situs maka situs tersebut dapat mernenuhi sendiri kebutuhan pelestariannya dan meminimalisasi kemungkinan-kemungkinan timbulnya gangguan serta tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah atau pusat.
Latar belakang pengambilan Candi Panataran sebagai objek adalah karena candi ini tttemiliki keistimewaan-keist newaan nilai yang berpotensi untuk lebih dikembangkan lagi (baik nilai-nilai budaya, sosial, dan ekonomi) menjadi situs yang dapat memenuhi kebutuhan pelestariannya sendiri. Sebagai kompleks percandian, candi ini merupakan kunci sejarah Pang sangat panting karena masa pernbangunannya melalui suatu rnasa yang sangat panjang dan melampaui beberapa masa kerajaan di Jawa Timur selama kurang lebih 250 tahun. Metode pendekatan yang akan digunakan adalah pendekatan strategis dengan metode analisis SWOT (Strengh, Weakness, Oportunity, dan Threat) pada kondisi-kondisi internal dan ekstemaldan menyesuaikannya dengan tahapan-tahapan Manajemen Sumber Daya Budaya yang dikemukakan oleh Feilden dan Jokilehto yang menyusun tahap-tahap perencanaan yang diperlukan dalam menyelenggarakan manajemen situs.
Dalam tulisan ini diuraikan potensi-potensi internal (historis, arsitektural, lingkungan, dan kondisi situs) dengan kelemahan-kelemahart dalam pengelolaan situs dan potensi-potensi eksternal (pariwisata, sosial, budaya, pendidikan, dan ilmu pengetahuan) yang masih belum optimal serta tantangan-tantangan yang dihadapi oleh situs. Dengan penguraian potensi-potensi yang ada maka dapat disusun sebuah strategi pengelolaan situs yang mandiri. Situs cagar budaya yang mandiri dapat memenuhi kebutuhannya sendiri untuk menjaga eksistensi situs, melancarkan jalannya proses pelestarian yang berkesinambungan, dan dapat memaksimalkan potensi sumber daya yang ada untuk pengembangan sektor-sektor terkait (seperti penelitian, budaya, dan ilmu pengetahuan).
Kebutuhan situs di sini secara spesifik dapat disebutkan sebagai kebutuhan dana, sumber daya manusia, kegiatan kerja, dan fasilitas-fasilitas penunjang. Strategi pengelolaan situs dilakukan dengan memperhatikan perbaikan manajemen perkantoran dan organisasi serta mengembangkan manajemen situs (meliputi pemintakatan, penataan lingkungan dan pembangunan infrastruktur) dan manajemen pariwisata (pengadaan fasilitas umum, pemngembangan kawasan pariwisata, promosi, dan pengembangan sistem inforrnasi). Kemudian menyesuaikannya dengan potensi-potensi yang ada (internal dan eksternal) untuk menemukan strategi pengelolaan yang tepat sesuai dengan karakteristik situs dan daerah tersebut."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2005
T39131
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library