Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rizki Amalia Putri
"Percepatan pada pembangunan infrastruktur menyebabkan penerapan kontrak design and build menjadi pilihan pada pembangunan bangunan Gedung Negara, salah satunya dalam pembangunan Stadion di Indonesia. Tidak adanya standar dalam metode pengukuran volume pekerjaan pada kontrak design and build menyebabkan perbedaan persepsi antara penyedia jasa dan pihak auditor, sehingga menimbulkan dispute pada saat proses audit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sebuah metode pengukuran standar volume Pekerjaan Design Development, Sitework dan Struktur, berbasis WBS pada Field of Play Stadion bangunan khusus gedung negara menggunakan kontrak design & build untuk meningkatkan akurasi perhitungan volume pekerjaan. Lalu membuat Pemodelan hubungan WBS dan SMM tersebut terhadap Tingkat Akurasi Perhitungan Volume Pekerjaan dengan menggunakan Structural equation modeling (SEM). Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, pertama penyusunan Work Breakdown Structure (WBS) berdasarkan data arsip, selanjutnya divalidasi oleh pakar ahli. Kedua, Penyusunan standard method of measurement (SMM) berbasis WBS, kemudian divalidasi oleh pakar ahli. Ketiga adalah Pemodelan hubungan WBS dan SMM terhadap Tingkat Akurasi Perhitungan Volume Pekerjaan dengan menggunakan SEM, dengan penyebaran kuesioner untuk validasi pakar, pilot survey, dan survey responden. Hasil dari penelitian ini adalah WBS standar, Standard Method of Measurement berbasis WBS, serta model hubungan WBS dan SMM terhadap tingkat akurasi perhitungan volume pekerjaan berupa hasil analisa menggunakan SEM-PLS didapatkan R-Square sebesar 0.674 dan model matematika sebagai berikut 0.455 X1 + 0.434 X2 = Y. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai panduan dalam mengukur volume pekerjaan sehingga membentuk keseragaman pemahaman bagi semua pihak yang terlibat, sehingga mengurangi dampak dispute pada saat dilakukan proses audit.
......The acceleration in infrastructure building creates apply design and build contract to be choice in the construction of the State Building. One of them is development of Stadium in Indonesia. Standardless in measurement method work volume in design and build contract, cause difference perception between contractors and auditors, so that create dispute in auditing process. The aim of this research is to develop a measurement method of work volume standard of Design Development, Sitework and Structure based on Work Breakdown Structure (WBS) in Field of Play Stadium of special state building, use design and build contract to increase the accuracy of work volume measurement. Then make modelling relation between the WBS and the SMM for accuracy level measurement of work volume by using Structural Equation Modelling (SEM). The methods which used in the research are, the first is compiling the Work Breakdown Structure (WBS) based on archive data, then validated by experts. The second is compiling Standard Method of Measurement (SMM) based on validated WBS, then validated by experts. The third is relation modelling between WBS and SMM to level of measurement accuracy of works volume by using SEM, by distributing questionnaires for validation by experts, pilot survey and survey respondents. The result of research is WBS Standard, Standard Method of Measurement based on WBS, and relation model between WBS and SMM on the level of accuracy measurement of the works volume which in the form of analysis results by using SEM-PLS obtained R-Square of 0.674 and the mathematical model is 0.455 X1 + 0.434 X2 = Y. The result of this research expected can be used as a guide in measuring work volume so that create similarity perception for all involved parties, so that decrease the impact of disputes during the audit process."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizki Amalia Putri
"Komitmen perubahan merupakan sikap dan faktor yang mempengaruhi seseorang dan diperlukan untuk mencapai efektivitas perubahan organisasi. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara nilai uncertainty avoidance terhadap komitmen perubahan. Selain itu, penelitian ini juga melihat hubungan uncertainty avoidance terhadap ketiga dimensi komitmen perubahan, yaitu komitmen afektif, komitmen kontinu dan komitmen normatif. Pengukuran komitmen pada perubahan akan menggunakan alat ukur Commitment to Change Inventory (Herscovitch & Mayer, 2002), dan uncertainty avoidance akan menggunakan alat ukur GLOBE Culture and leadership scale.
Hasil pengukuran dari 164 responden pada PT.ALO, memberikan gambaran bahwa uncertainty avoidance memiliki hubungan negatif yang signifikan terhadap komitmen perubahan (r= -0,729, p<0,01). Lebih lanjut, dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa uncertainty avoidance memiliki hubungan negatif yang signifikan terhadap komitmen afektif perubahan (r= -0,461, p<0,01), komitmen kontinuan perubahan (r= -0,698, p<0,01), komitmen normatif perubahan (r= -0, 639, p<0,01).

Commitment to change is people attitude and can be regarded as one of the factor achieving the effectiveness of organizational change. This study was conducted to observe the relationship between the value of uncertainty avoidance to changes. Furthermore, this study also try to identify the relationship of uncertainty avoidance with three dimensional of commitment changes, affective commitment, continuous commitment, and normative commitment. The measurement tool of commitment to change will use Commitment to Change Inventory (Herscovitch and Mayer, 2002), and uncertainty avoidance will use of instruments by GLOBE Culture and Leadership scale.
The results from 164 respondents of PT.ALO, show that uncertainty avoidance have a negative significant relation with commitment to change(r= -0,729, p<0.01). Furthermore, it also showed that uncertainty avoidance has a negative significant relation to changes in affective commitment (r= -0.461, p<0.01), commitment continuants change (r = -0.698, p <0.01) and normative commitment to change (r= -0, 639, p<0.01."
Depok: Universitas Indonesia, 2014
S53961
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizki Amalia Putri
"Latar belakang: Preeklamsia dengan gejala berat adalah gangguan kehamilan berupa onset baru hipertensi dan proteinuria disertai gejala berat pada usia gestasi ≥20 minggu. Sindrom kehamilan ini merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal di seluruh dunia. Terdapat berbagai faktor risiko preeklamsia, salah satunya adalah usia maternal ekstrem (<20 tahun dan >35 tahun). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia maternal ekstrem dan kejadian preeklamsia dengan gejala berat.
Metode: Studi potong lintang dilakukan pada 100 sampel ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan metode consecutive sampling. Populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil yang melahirkan di RSCM. Data pasien diperoleh dari laporan jaga tindakan persalinan dan rekam medis elektronik Departemen Obstetri dan Ginekologi RSCM pada periode Maret 2019-Oktober 2019.  
Hasil: Subjek penelitian ini memiliki karakteristik sebagian besar berasal dari DKI Jakarta, berusia 20-35 tahun, bekerja, status paritas nullipara, dan usia gestasi ≥37 minggu. Sebanyak 34% (17 dari 50 subjek) pada kelompok ibu dengan preeklamsia gejala berat dan 16% (8 dari 50 subjek) pada kelompok ibu tanpa preeklamsia gejala berat berusia ekstrem. Berdasarkan analisis bivariat dengan uji Chi-square, diperoleh hubungan yang signifikan (p = 0.038) antara usia maternal ekstrem dan kejadian preeklamsia dengan gejala berat (OR 2,705, IK 95% 1,040-7,036).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara usia maternal dan kejadian preeklamsia dengan gejala berat di RSCM. Usia maternal ekstrem (<20 tahun dan >35 tahun) merupakan faktor risiko preeklamsia dengan gejala berat.
......Introduction: Preeclampsia with severe features is a pregnancy disorder of new onset hypertension and proteinuria after 20 weeks gestational age. It is the leading cause of maternal and perinatal morbidity and mortality worldwide. There are various risk factors of preeclampsia, one of them is extreme maternal age (<20 years and >35 years). This study aims to determine the association between extreme maternal age and preeclampsia with severe features incidence.
Method: A cross-sectional study was conducted on 100 samples of pregnant women who met the inclusion and exclusion criteria using consecutive sampling method. The population in this study are pregnant women who gave birth at RSCM. Patient’s data was obtained from the delivery report and electronic health record of the Obstetrics and Gynecology Department RSCM from March to October 2019.

Result: The subjects of this study are mostly from DKI Jakarta, aged 20-35 years, working, nullipara, and have gestational age ≥37 weeks. A total of 34% (17 of 50 subjects) in the preeclampsia group and 16% (8 of 50 subjects) in the control group are in the extreme age. Based on Chi-square test, there is a significant association (p = 0.038) between extreme maternal age and the incidence of preeclampsia with severe features (OR 2.705, 95% CI 1.040-7.036).
Conclusion: There is a significant association between maternal age and the incidence of severe preeclampsia in RSCM. Extreme maternal age is a risk factor of preeclampsia with severe features."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library