Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 21 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nurlela Boedjang
Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, 2011
617.54 NUR d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Indrayady
Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, 2017
T55803
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dr. Marthino Robinson Sp.PD
Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, 2019
T56057
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Cut Badriah
Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, 2011
T56062
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Nurkhalis
"Tujuan : Menilai korelasi antara kelentutan atrioventrikular (Cn) dengan tekanan sistolik arteri pulmonal dan besarnya penurunan tekanan arteri pulmonal segera setelah dilakukan komisurotomi mitral transvena perkutan (KMTP). Latar Belakang : Pada pasien stenosis mitral (SM) terjadinya peningkatan tekanan arteri pulmonal dan beratnya gambaran klinis tidak selalu berkaitan dengan area efektif katup mitral (MVA) serta perbedaan tekanan transmitral (MVG) karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa kelenturan atrioventrikular (Cn) juga mempengaruhi. Metode : Merupakan studi potong lintang yang dilakukan pada 30 pasien SM berat yang menjalani KMTP di PJNHK dari bulan Januari 2008 s/d oktober 2010. Pasien dibagi 2 kelompok, yakni kelompok I dengan Cn ::; 4 ml/mmHg dan kelompok II dengan Cn > 4 ml/mmHg. Pemeriksaan ekokardiografi dengan Vivid 7 dilakukan sebelum KMTP dan dalam 24 sampai 72 jam setelah KMTP. Cn ditentukan dengan persamaan : Cn = 1,270 (MV A I E-wave downslope), dan tekanan sistolik arteri pulmonal (sPAP) =Tricuspid valve gradient (TVG) + 10 mmHg. Hasil : Dari 194 subjek yang menjalani KMTP didapatkan sampel 30 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Proporsi kasus SM pada penelitian ini lebih banyak pada perempuan yaitu 70% dan usia rata- rata 36 tahun. Perbandingan sPAP pada kedua kelompok, baik sebelum ( 66,8 ± 21,7 mmHg V s 71,5 ± 31,5 mmHg, P = 0,64) maupun setelah KMTP ( 49,3 ± 10,8 mmHg Vs 56,4 ± 19,9 mmHg, P = 0,31) tidak berbeda bermakna, demikian pula besamya penurunan sPAP setelah KMTP pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna ( 17,7 ± 15 mmHg Vs 15,7 ± 15,8 mmHg, P = 0,60). Kesimpulan : Kelenturan atrioventrikular (Cn) tidak mempengaruhi tekanan arteri pulmonal dan besamya perubahan tekanan arteri pulmonal segera setelah KMTP.

Objectives : The purpose of this study is to evaluate the correlation beetwen Cn with systolic artery pulmonal and the magnitude of decreasing systolic pulmonary pressure after balloon mitral valvuloplasty. Background : In patients with mitral stenosis (MS), the increase in pulmonary arterial pressure and severity of the clinical symptom are not only related to the mitral valve area and mitral vave gradient, but also related to the atrioventricular compliance (Cn). Methods : This is a cross sectional study in Thirty patients with severe mitral stenosis underwent Balloon Mitral Valvuloplasthy (BMV) procedure in NCCHKfrom January 2008 until October 20 I I. The patients were divided into two group, group I with Cn ~ 4 ml/mmHg and group II with Cn > 4 ml/mmHg. Echocardiograpy was done before BMV and 24 unti/72 hours after BMVwith vivid 7. Cn was derivedfrom the equation that has been previously validated (ie, Cn = I270 x [MV area by PHT I mitral Ewave downslope] and systolic pulmonary artery pressure(sPAP) = Tricuspid valve gradient (TV G) + I 0 mmHg. Results : There were I94 patients underwent BMV, but only 30 patients meet the inclusion and exclusion criteria. The women proportion were 70% and average of ages were 36 years old. The systolic pulmonary artery pressure in both group were not difference before ( 66,8 ± 2I, 7 mmHg Vs 7I,5 ± 3I,5 mmHg, P = 0,64) and after BMV ( 49,3 ± I0,8 mmHg Vs 56,4 ± I9,9 mmHg, P = 0,3I) and also the magnitude of decreasing systolic pulmonary artery pressure after BMV not difference between the groups. Conclusion: In patients with severe mitral stenosis, atrioventricular compliance was not affected systolic pulmonary artery pressure before and after BMV nor the magnitude of systolic pulmonaty artery pressure after BMV."
Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, 2011
T58346
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marina Epriliawati
"Latar Belakang: Edukasi merupakan salah satu komponen penting dalam tatalaksana pasien diabetes, meskipun demikian edukasi saja dirasakan tidak cukup untuk mempertahankan perubahan perilaku. Untuk mencapai perubahan perilaku tersebut, edukasi perlu dilengkapi dengan dukungan pengelolaan diri (self-management support). Health coaching merupakan sebuah pendekatan yang memiliki konsep yang sama dengan Diabetes Self Management Support (DSMS) . Tujuan: Mengevaluasi pengaruh kombinasi edukasi dan health coaching dibandingkan dengan edukasi saja dalam perubahan kedisiplinan diet, latihan fisik, serta capaian sasaran kendali OM pada pasien OM tipe 2. Metode: Penelitian uji acak terkendali ini merekrut 60 subyek pasien DM tipe 2 yang belum terkontrol (HbAic > 7.5%), 30 subyek pada kelompok intervensi (edukasi dan health coaching) dan 30 subyek pada kelompok kontrol (edukasi saja). Kelompok intervensi mendapatkan 12 sesi edukasi dan 12 sesi health coaching sedangkan kelompok kontrol mendapatkan 12 sesi edukasi saja. Seluruh perlakuan diberikan sebagai tambahan dari terapi farmakologis standar. Edukasi diberikan secara berkelompok di dalam kelas selama 30-60 menit dan coaching diberikan secara individu selama 45-60 menit. Evaluasi asupan diet, latihan fisik, indeks massa tubuh, tekanan darah, GOP, GD2PP, HbA1c, dan profit lipid dilakukan saat awal, 3 bulan, dan 6 bulan setelah perlakuan. Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kedisiplinan diet dan latihan fisik antara kelompok kontrol dan intervensi. Terdapat penurunan rerata GOP dan GD2PP pada kelompok edukasi dan coaching dari 197,69 mg/dL dan 247,88 mg/dL pada sebelum perlakuan menjadi 135,46 mg/dL dan 141,42 mg/dL pada 6 bulan setelah perlakuan sedangkan pada kelompok edukasi terdapat peningkatan rerata GOP dan GD2PP dari 170,30 mg/dL dan 237,74 mg/dL menjadi 176,59 mg/dL dan 242, 11 mg/dL. Nilai p=0,006 untuk perbedaan rerata GOP dan nilai p=O,OOO untuk perbedaan rerata GD2PP pada 6 bulan setelah perlakuan. Proporsi subyek yang mengalami penurunan HbA 1 c 2:1% setelah 6 bulan perlakuan pada kelompok intervensi sebanyak 60% dan pada kelompok kontrol sebanyak 20% (nilai p=0,004), RR 2,250 dan NNT 2,5. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada parameter/variabel yang lain. Simpulan: Health coaching memberikan keuntungan tambahan sebagai pelengkap program edukasi dalam memperbaiki kendali glikemik pada pasien OM tipe 2 yang belum terkontrol. Pendekatan ini dapat digunakan oleh edukator dan tenaga profesional lain yang terlatih untuk memperbaiki kendali OM pada pasien DM tipe 2.

Background: Education is one of the important component in managing patients with diabetes, however it is not sufficient to sustain behavioral changes. To achieve behavioural changes, education needs to be complemented by selfmanagement support. Health coaching is an approach which has similar concept with diabetes self management support. Objective: We aim to evaluate the impact of education and health coaching combination compared to education alone on diet and physical excersice modification, and achievement of diabetes mellitus control in type 2 diabetes mellitus patients. Methods: We conducted a randomized controlled trial involving 60 poorly controlled type 2 diabetes mellitus patients (HbA I c > 7.5%). In the beginning of the study 30 subjects were allocated to the intervention group (education and health coaching) and 30 subjects were allocated to the control group (education alone). Subjects in the intervention group received 12 education and 12 health coaching sessions while subjects in the control group received 12 education sessions. Those interventions were given on top of standard diabetes care. Education was conducted in a class for 30-60 minute sessions and coaching was performed one on one and/or group for 45 to 60-minute sessions. Food record, physical excersice, BMI, blood pressure, FPG, PPG, HbA 1 c, and lipid profile were measured at baseline and 3-month after intervention. Results: There were no significant result in diet and physical excercise compliance bet\veen intervention and control group. Education and health coaching combination showed significant reduction in FPG and PPG in comparison to education alone at 6 months after intervention (197.69 mg/dL to 135.46 mg/dL vs 170.30 mg/dL to 176.59 mg/dL, p value 0.006; 247.88 mg/dL to 141 ,42 mg/dL vs 237.74 mg/dL to 242, 11 mg/dL, p value=O.OOO, respectively). Participants who achieved reduction of HbA I c level I% or more in the intervention group were 60% while in the control group were 20% (p value=0.004) with RR 2.250 and NNT 2.5. There were no significant result between two groups in other variables. Conclusions Health coaching may provide added benefit as complementary to education program to improve glycemic control in patients with poorly controlled type 2 diabetes mellitus. This approach may be applied by trainneddiabetic educators and other professional to improve diabetic control."
Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, 2019
T58355
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diany Nurliana Taher
"Latar belakang Depresi berhubWlgan dengan meningkatnya angka kesakitan dan kematian terutama pada pasien pasca infark miokard. Prevalensi depresi pada pasien infark miokard diperlcirakan berkisar antara 16%-190/0. Risiko kematian meningkat menjadi 3,5 kali lebih besar pada pasien pasca infark miokard yang menderita depresi dibanding yang tidak depresi. Menurunnya variabilitas denyut jantung merupakan faktor risi.ko kematian pada pasien pasca infark miokard yang disertai adanya depresi Hal ini disebabkan karena terjadinya disfungsi otonom.1 ). Carney mendapatkan semua parameter yang dinilai pada variabilitas denyut jantung (ultrQ low frekuensi, very low frekuensi, low frekuensi dan high frekuensl) secara bermakna lebih rendah pada pasien yang didapatkan adanya depresi dibanding yang tidak disertai depresi? Adapun tujuan dari pene1itian ini a.dalah lUltuk me1ihat apakah rerdapat beda rerata variabilitas denyut jantung antara pasien pasca infark miokard yang mengalami depresi dil>anding yang tidak depresi. Bahan daD metode Pene1itian ini merupakan studi potong lintang. Pada pasien pasca Infark Miokard yang telah melewati masa akut penyakitnya.Dilakukan di subbagian jantung dan psikosomatik bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUPN-CM antara bulan April200S- Agustus 200S Diperoleh subyek sebesar 24 orang untuk. ke10mp0k. pasien yang menderita depresi dan 24 orang kelompok yang tidak didapatkan adanya depresi. Pada kedua kelompok kemudian dipasang Holter monitoring, untuk melihat variabilitas denyut jantungnya. Hasil : Rerata usia pada kelompok depresi lebih muda daripada kelompok tidak depresi.(depresi 55,21±9,23 , tidak depresi 57,83 ±8,75). Pasien laki laki didapatkan lebih banyak baik pada ke10mp0k depresi mauplUl tidak depresi. Tingkat pendidikan subyek terbanyak adalah SMA (depresi(50,0%) tidakdepresi(66,7%)). Riwayat Diabetes Melitus terbanyak didapatkan pada kelompok depresi (50%) hipertensi juga didapatkan terbanyak pada kelompok depresi 79,20/0. Sekitar 75 % pasien dengan depresi mempunyai kebiasaan merokok, sementara pada kelompok yang tidak depresi, kebiasaan merokok didapatkan sebesar 37,5% . Sedangkan dari basil analisis bivariat, pada ketiga komponen Holter Monitoring dengan domain frekuensi didapatkan beda rerata yang bermakna dari variabilitas denyut jantung, antara pasien infark miokard yang menderita depresi dibanding tanpa depresi. Dimana pada pasien yang disertai adanya depresi didapatkan variabilitas denyut jantungnya lebih rendah. Pada Very Low Frekuensi didapatkan rerata yang lebih rendah pada kelompok depresi dibandiog yang tidak depresi (2,470±1,12 >< 2,9030±1,31 P 0,0 IS), rerata Low Fre1cuensi juga didapatkan lebih rendah pada kelompok yang depresi ( 1 ,958± 1,11 >< 2,520± 1,28 P 0~007) Demikian juga pada High Frekuensi , didapatkan rerata yang lebih rendah pada pasien yang disertai adanyadepresi ( 1,645±1,10 >< 2,143±1,11 P 0,003 ) Kesimpulan Pasien pasca infark miokard yang disertai adanya depresi mempunyai variabilitas denyut jantung yang lebih rendah dibanding yang tidak depresi.

Introduction Depression is associated with an increased risk of morbidity and mortality especially after acute myocardial infarction. The prevalence of depression patient after acute myocardial infarction ranging 16% to 19".4. The mortality rate is increase 3,5 fold in patient myocardial infarction with depression compare not depression.The decrease of heart rate variability is reflection of the mortality risk patient acute myocardial infarction with depression. Altered cardiac autonomic tone remains one of the most plausible explanations.1 ,2 Carney study demonstrated that all 4 log-transformed frequency domain indices of HRV ( ULF,VLF,LF and HF) were significantly lower in post MI patients with depression than in post MI patients without depression.2 The purpose of this study was to compare the heart rate variability between in post MI patients with depression than in post MI patients without depression. Methods A cross-sectional study.Patient with a recent acute MI who were depressed.Al1 patients admitted between Aprill-Augustus 2008 to Cardiology unit and Psycosomatic division in CiptoMangunkusumo Hospital. During that time, 24 patients post myocardial infarction with depression and 24 patients post myocardial infarction without depression took part in our study. The Heart rate Variability measured by Holter Monitoring. Result Comparison between depressed and nondepressed patients: depressed patients were slightly younger ( 55,21±9,23 ,57,83 ±8,75). Were likely to be male , level of education was Senior High School, to have diabetes mellitus (50010) hypertension 79,2% and to be current cigarette smoker compared with nondepressed patients. All 3 log- transformed frequency domain indices of HRV ( VLF,LF and HF) were significantly lower in post-MI patients with depression than in post-MI without depression. Mean Very Low Frequensi lower in depressed group than the group without depression (2,47O±1,12 >< 2,9030±1,31 P 0,018), Mean Low Ftekuensi also lower in depressed group than nondepressed group (1,958±1,11 >< 2,520±1,28 P 0,007) Mean High Frekuensi also lower in depressed group than in nondepressed group ( 1,645±1,10 ><2,143±1,1l p 0,003 ) Conclusion Post myocardial infarction patients with depression had a lower heart rate variability than in post myocardial infarction patients without Oepression."
Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, 2008
T59042
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dr. Masitah Wilya Wahyuni
Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, 2007
T56291
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>