Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 779 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jakarta: Kementerian Penerangan, 1954
324.259 8 IND k
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Dalton, Hugh
London: Routledge dan Kegan Paul , 1954
336 DAL p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Blackwell, David
New York: Dover, 1954
519.5 BLA t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Einstein, Albert, 1879-1955
London : Methuen , 1954
530.11 EIN r
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Stephenson, Richard
New York : McGraw-Hill, 1954
621.48 STE i
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Soetarman
"

"Le Moteur humain", motor manusia, adalah istilah jang dipakai oleh sardjana J. AMAR sebagai perumpamaan dari pada tubuh manusia dalam mempersoalkan faal pekerdjaannja. Perumpamaan ini ternjata dapat dibenarkan. Dalam membanding kan proses" pembentukan tenaga dan pemakaiannja antara tubuh manusia dan mesin ada banjak persesuaian. Pada tubuh manusia maupun pada mesin mungkinlah ditjari hubungan antara djumlah energi jang terdapat pada zat pembakar (bahan makanan) semula dan energi jang pada achir pekerdjaan dapat ditemukan kembali sebagai usaha dan panas. Disamping persesuaian ini, seperti dapat kita harapkan, tidak sedikit pulalah perbedaan. Djustru perbedaan inilah jang menempatkan motor manusia pada tingkatan jang djauh lebih tinggi dari pada mesin. Jang paling panting diantaranja adalah tjara tubuh membebaskan diri dari panas jang berkelebihan.

Pengertian tentang masaalah ini kita peroleh lambat-laun dari beberapa penjelidik diberbagai-bagai negara. Dalam karangannja "Mdmoire sur la Chaleur" (1783) LAVOISIER dan LA-PLACE menjimpulkan, bahwa pemapasan adalah pembakaran, sekalipun pelahan, jang dapat disamakan dengan pembakaran arang. Seterusnja ia menjarankan, bahwa panas jang dibebaskan senantiasa mengganti panas jang hilang dari tubuh kita. Pada tahun 1842 JUSTUS VON LIEBIG menerbitkan analisanja tentang soal ini, jang inti-sarinja berbunji sbb.: ?Reaksi antara zat makanan dengan oksigen jang beredar dalam darah seluruh tubuh adalah sumber dari pada panas tubuh." Lima tahun kemudian dikemukakanlah oleh H. VON HELMHOLTZ dalil kekekalan tenaga, jang djuga berlaku untuk pertukaran tenaga dalam tubuh. Bagaimanapun djuga hubungan dinamik antara tenaga dan usaha (arbeid) merupakan dasar untuk, pengertian peristiwa jang berhubungan dengan usaha manusia. Lain dari pada itu kenjataan bahwa pembakaran zat makanan didalam kalorimeter dan didalam tubuh manusia memberi angka djumlah kalor (panas) jang sama, sangat menguatkan pendapat, bahwa kedua proses itu tidak berlainan.

Tiada bedanja dengan mesin, maka dalam usahanja tubuh manusia tidak mempergunakan seluruh kalor atau tenaga jang is bebaskan dari zat makanan. Hanja 1.k. duapuluh prosenlah ia masukkan kedalam usaha, sehingga 80% merupakan tenaga atau kalor jang berkelebihan. Sebagaimana halnja dengan mesin, kalor jang berkelebihan ini tiada berguna. Tubuh oleh karenanja mendjadi panas. Sampai suhu jang tertentu ini tidak mengapa, bahkan prestasi oleh karenanja bertambah (phase "Warming-up"). Akan tetapi kemudian panas itu menghambat usaha, sedangkan pada suhu 42° C. hidup tidak dapat lagi dipertahankan.

Dari beberapa penjelidikan pada manusia kita mengetahui bahwa tubuh jang tidak bekerdja sama sekali masih membakar zat sebanjak Lk. 1500 kg. kal. didalam 24 djam. Berat tubuh bangsa Indonesia adalah rata" 55 kg. Dengan memperhitungkan "hydrothermis equivalent" 0.83, maka tubuh seberat 55kg sanggup menjerap kalor sama banjak dengan 46 kg air (0.83 x 55). Kalor sebanjak 1500 kg. kal. jang dilepaskan oleh tubuh dalam 24 djam itu akan memanaskannja 33 ° C. atau tiap satu djam Lk. 1½° C. Seperti tadi sudah saja singgung, tubuh manusia tidak sanggup bertahan pada suhu lebih dari 42° C. Maka andaikata pada satu saat seluruh kalor jang 1500 kg, kal. tadi tidak dapat dikeluarkan dari tubuh, orang akan mati didalam 3 - 4 djam sadja. Pada orang jang bekerdja berat, jang membakar zat dua kali lebih banjak, detik penghabisannja tentulah akan tertjapai dua kali lebih tjepat pula.

"
Jakarta: UI-Press, 1954
PGB Pdf
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Heinrich Karl Simon P.B
"Inleiding
Indien er een wetenschap is waarbij zich in elk stadium van Naar ontwikkeling nieuwe problemen voordoen, dan is het de Grondmechanica. Voor een deel is dit toe te schrijven aan de omstandigheid dat de Grondmechanica een nog jonge wetenschap is, zodat vele theorian snel verouderen en door betere vervangen worden, terwijl oak de onderzoekingsmethoden voor velerlei verbetering vatbaar zijn. Anderdeels blijkt in de Grondmechanica steeds duidelijker, dat de problemen veel gecompliceerder zijn dan de eerste kennismaking zou doen verrnoeden. Men heeft hier imtners te maken met grand, die te alien tijde ten minste uit twee en gewoonlijk uit drie phasen bestaat een vaste phase ("korrels") een vioeibare phase met de daarin opgeloste stoffen (?water") en een gasvormig bpstanddeel (? lucht"). De eerste en grote stap in de goede richting werd gedaan, toen men de in een grondmassa werkende korrel-, water-, en luchtspanningen scherp van elkaar ging onderscheiden. Bij kleimineralen hebben we bovendien nog te maken met het zogenaamde gebonden waterhuidje, een electrische dubbellaag.
Een deel hiervan gedraagt zich min of nicer als de vaste phase en kan bijvoorbeeld schuifkrachten overbrengen. Het .buitenste gedeelte moet echter weer tot de vloeibare phase warden gerekend, welke geen schuifkrachten kan opnemen. Hiertussen kunnen alle mogelijke overgangsvormen aanwezig zijn. Het is deze electrische dubbellaag waaraan de meeste specifieke kleieigenschappen kunnen warden toegeschreven.
Door deze gecompliceerdheid van de grondmassa wordt het moeilijk haar uiteindelijk gedrag te bepalen, daar dit gedrag de resultante is van de zeer vele reacties die mogelijk zijn tussen de minerale deeltjes, het water (vrij, geheel of gedeeltelijk gebonden) en de lucht, ongeacht nog de niet constante invloeden van buiten af. Wat eenvoudig scheen. blijkt steeds moei]ijker te doorgronden. Dit geldt zeer in het bijzonder voor kleimassa's. daar hier de tijdsfactor van zo groat gewicht is. Hierbij zullen bij proeven en metingen in snel tempo uitgevoerd, slechts schijnbare grootheden gieextraheerd worden."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1954
D70
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Spate, Oskar Hermann Kristian
London: Methuen, 1954
915.4 SPA i
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Akers, Susan Grey
Chicago: American Library Association, 1954
R 025.3 AKE s
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Dupont, A.
"ABSTRACT
The statement contained in the motto cited above, made as early as the year 1906, still has lost nothing of its value for the present time. Although innumerable investigations have been carried out on proteins, and much insight was gained from this, a lot of problems connected with the proteins, remain to be solved. As is well known, proteins are found in nature in the animal and vegetable kingdoms. The differences between these two groups of proteins are situated in the number and the amount of the various acids present in these proteins.
Up to comparatively recent years, however, the knowledge of the requirement for the amino acids in the diet was limited to in-formation obtained with the young rat. This animal was able to grow when receiving only nine amino acids: namely histidine, isoleucine, leucine, lysine, methionine, phenylalanine, threonine, tryptophan, and valine; and grew significantly better when arginine was also provided. These ten amino acids were called "essential" for the growing rat, the remaining amino acids were called "non essential". However, there was no implication that the dietetically non-essential amino acids are of little or no value. In spite of the cautions issued, there has been a general tendency to assume, that the above classification has a very broad application. The investigations made by Rose et all. (1,2,3,4,5), have revealed that for adult man only eight amino acids are essential, namely, isoleucine, leucine, lysine, methionine, phenylalanine, threonine, tryptophan and valine. Moreover in these investigations, it was demonstrated, that only foods with sufficient caloric and nitrogen supply and adequate amounts of these eight amino acids simultaneously are able to main﷓ thin a nitrogen balance. This fact is of far reaching importance, because, from this it follows, that the nutritive value of a meal, with respect to the proteins, is determined by the total amount of essential amino acids - in the proper proportions - present in the constituents of the meal. In Indonesia, rice is the most important constituent of a meal. However rice contains such a small amount of some essential amino acids, that even larger use is not sufficient to meet the requirements of man. Therefore, other foods, which complete this shortage, must be used in combination with rice.
In general, in Indonesia, foods containing animal protein are relatively scarce; therefore, it is necessary to replace these with foods containing vegetable protein. An important source of plant protein is found in the soybean. As a general rule, the soybean yields fair crops, without asking too much care. Botanically, the soybean has been referred to as Glycine hispida (Moench) Max. Recent studies indicate that the correct botanical name should be Glycine max (L.) Merril according to international botanical rules (6).
The early history of the soybean, like that of most important food crops, is lost in obscurity. In the Far East story tellers for centuries have related, tales of the remarkable history of the soybean. Ancient Chinese literature reveals that the soybean was extensively cultivated and highly valued as a food. There it is said to be one of the grains planted by one of the gods of agriculture, named Hou Tsi. The first written record of the plant is contained in the books Pen Tsao Kong Mu, a materia medica written by Emperor Sheng Nung in 2838. B.C.
In many of the early writings advice of agricultural experts is given on soil preferences, proper time of planting, methods and rates of planting, the best varieties to plant under different conditions and for different uses, time to harvest, methods of storage, and utilization of the many varieties for different purposes. Some of this expert advice goes as far back as 2207 B.C. The soybean was included in the second class of drugs, and was regarded as having many medicinal virtues; it was regarded as a specific remedy for the propel functioning of the heart, and other organs.
"
1954
D114
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>