Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhammad Danasha Utomo
"B-type natriuretic peptide(BNP), merupakan suatu bagian dari keluarga peptida natriuretik yang diproduksi oleh kardiak miosit dan disekreksi ke sirkulasi dalam merespon adanya peningkatan volume intrakardiakyangmenyebabkan diuresis, natriuresis dan vasodilatasi, juga menghambat sistem renin-angiotensin- aldosteron dan aktivitas simpatik. Anak dengan kelainan jantung bawaan akan terjadi peningkatan volumedan tekanan intrakardiaak yang signifikan sehingga diikuti peningkatan NT-proBNPdi sirkulasi.NilaiNT-proBNP akan meningkat pada awal kehidupan dan mulai turun secara drastissetelahnya.Malnutrisi merupakan penyebab morbiditas yang utama pada anak dengan penyakit jantung bawaan.
Penelitian cross sectional observasional dengan jumlah 80 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang akan menjalani operasi bedah jantung terbuka di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dan yang akan menjalani pemeriksaan darah rutin dan direncanakan operasidi Rumah Sakit Ibu dan Anak Harapan kita pada bulan Februari - Mei 2019. Data pasien berupa data karakteristik demografis (usia, jenis kelamin, berat badandan tinggi badan) dan diagnostik pasien dicatat. Kadar NT-proBNP akan diambil prabedah. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney.
Data nilai NT-proBNP pada pasien tanpa penyakit jantung bawaan sesuai rentang usia > 1bulan - <1 tahun dengan nilai tengah 142,5 pg/mL ( 49-935 pg/mL), >1 tahun - £2 tahun dengan nilai tengah 142 pg/mL ( 44-545 pg/mL) dan >2 tahun - £7 dengan nilai tengah 70 pg/mL ( 14-1440 pg/mL). Sedangkan nilai NT-pro BNP pasien dengan penyakit jantung bawaan dengan nilai tengah 2558, nilai terendah 426 pg/mL dan nilai tertinggi 33166 pg/mL. Hasilnya terdapat perbedaan bermakna (p = 0,001) nilai NT-pro BNP pada pasien tanpa penyakit jantung bawaan dan pasien dengan penyakit jantung bawaan.
Terjadi peningkatan nilai tengah kadar NT-pro BNP > 20 kali antara anak tanpa penyakit jantung bawaan dan anak dengan penyakit jantung bawaan.Terdapat perbedaan yang bermakna kadar NT-pro BNP pada subjek tanpa penyakit jantung bawaan dan dengan penyakit jantung bawaan. Terjadi peningkatan kadar NT- pro BNP pada bayi baru lahir dan akan menurun seiring bertambah nya usia. Proporsi gangguan status gizi pada pasien dengan penyakit jantung bawaan mengalami peningkatan.

B-type natriuretic peptide (BNP), a member of the natriuretic peptide family, is produced in cardiac myocytes and secreted into circulation in response to cardiac volume load, that causing diuresis, natriuresis and vasodilatation, as well as inhibition of the renin-aldosteron system and sympathetic activity. Children with heart disease caused increase pressure and cardiac volume followed by elevated NT-proBNP in circulation. NT-proBNP levels were significantly elevated in the first days of life and gradually decresed into normal level in child without heart disease. Malnutrition was the cause of morbidity for child with congenital heart disease.
We conducted a cross-sectional trial on 80 subjects who are fulfilled our study criteria. The study was performed at the National Cardiovascular Centre Harapan Kita and Mother and Child Hospital Harapan Kita Indonesia, in the period of February-Mei 2019. Subjects demographic data (age, gender, weight and height) and diagnoastic data were recorded. Levels of NT-proBNP were acquired presurgically. We utilized Mann - Whitney test to analysed the data.
NT-ProBNP levels data was observed from child without heart disease based on interval of age> 1month -£1 year with median value 142,5 pg/mL ( 49-935 pg/mL), >1 month -£2 year with median value 142 pg/mL ( 44-545 pg/mL) and >2 year - £7 year with median value 70 pg/ml ( 14-1440 pg/mL). Whereas NT-proBNP levels from child with heart disease median value 2558 pg/mL, minimum levels 426 pg/mL and maximum levels 33166 pg/ml. Statistically significant was observed (p=0,001) between NT-proBNP level of child without heart disease and child with heart disease.
There were 20 x times significantly increase levels of NT-proBNP of child with heart disease. There was statistically significant of levels NT-proBNP between child without heart disease and with heart disease. Study show high levels of NT-proBNP immediately after birth and gradually decline during childhood. The proportion of undernourished of child with congenital heart disease showed higher.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T57638
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Made Indra Prasetya
"Latar belakang dan tujuan: Morbiditas dan mortalitas pascaCABG salah satunya dipengaruhi respon inflamasi oleh penggunaan mesin CPB. Di beberapa pusat, sering dilakukan pemberian kortikosteroid untuk menurunkan respon inflamasi. Terdapat berbagai uji klinis yang memberikan hasil yang masih kontroversial. Deksametason dipilih karena memiliki potensi efek glukokortikoid yang tinggi, tanpa efek mineralokortikoid, masa kerja yang panjang, relatif aman bagi pasien, serta mudah untuk didapat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan deksametason lebih efektif untuk memperbaiki keluaran klinis dan mengendalikan penanda inflamasi jika dibandingkan plasebo pada pasien yang menjalani operasi CABG on pump.
Metode: Randomisasi 60 sampel menjadi grup deksametason (n=30) dan grup plasebo (n=30). Variabel dengan sebaran normal dilakukan analisis statistik independent t-test, sedangkan data dengan sebaran tidak normal dilakukan analisis statistik nonparametrik yaitu Mann-Whitney test. Analisis univariat antara dua kelompok studi akan dilakukan menggunakan uji fisher exact test.
Hasil: Uji statistik kejadian MACE dengan grup deksametason dibandingkan grup plasebo, didapatkan nilai RR 1,389 dengan CI 0,995-1,938 (p =0,045). Deksametason memiliki keunggulan yang dapat dilihat dari parameter durasi ventilasi mekanik (deksametason 7 (5-14) vs plasebo 10 (5-19), p <0,0001), lama rawat ICU (deksametason 16 (11-22) vs plasebo 18 (12-72), p =0,017), lama rawat rumah sakit (deksametason 5 (5-7) vs plasebo 6 (5-15), p = 0,005), penanda inflamasi IL-6 (deksametason 114 (32-310) vs plasebo 398 (72-1717), p <0,0001) dan PCT (deksametason 1,08 (0,31-3,8) vs plasebo 3,7 (1,06-11,4), p <0,0001).
Simpulan: Pemberian deksametason efektif memperbaiki keluaran klinis, dan mengendalikan penanda inflamasi pascaoperasi dibandingkan plasebo.

Background and purpose: Mortality and morbidity post CABG are affected by inflammatory response which are caused by usage of CPB machine. In some centre, corticosteroid are often used to reduce inflammatory response. There are various clinical trials that provide controversial results. Dexamethasone was chosen because it has a high potential for glucocorticoid effects, without mineralocorticoid effects, long working period, relatively safe for patients, and easy to obtain. This study aims to determine whether the use of dexamethasone is more effective in improving clinical outcomes and controlling inflammatory markers when compared to placebo in patients undergoing on pump CABG.
Methods: 60 sample are randomized into dexamethasone group (n=30) and placebo group (n=30). Variables with normal distribution were carried out independent t-test statistical analysis, whereas data with abnormal distribution were analyzed using nonparametric statistics, namely Mann-Whitney test. Univariate analysis between the two study groups will be conducted using the fisher exact test.
Result: The incidence of MACE with the dexamethasone group compared to the placebo group was obtained RR 1,389 with CI 0,995-1,938 (p =0,045). Dexamethasone has advantages that can be seen from the parameters of duration of mechanical ventilation (dexamethasone 7 (5-14) vs placebo 10 (5-19), p <0,0001). ICU stay (dexamethasone 16 (11-22) vs placebo 18 (12-72), p =0,017), hospital stay (dexamethasone 5 (5-7) vs placebo 6 (5-15), p = 0,005), IL-6 (dexamethasone 114 (32-310) vs placebo 398 (72-1717), p <0,0001) and PCT (dexamethasone 1,08 (0,31-3,8) vs placebo 3,7 (1,06-11,4), p <0,0001).
Conclusion: The administration of dexamethasone improves clinical output, and managed to controls post operative inflammatory marker more effectively compared to placebo.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aswin Nugraha
"Peran NT-proBNP sebagai penanda biologis untuk mengetahui terjadinya sindrom curah jantung rendah pada pasien pediatrik dengan penyakit jantung bawaan sianotik pascabedah jantung terbuka belumlah diketahui. NT-proBNP diharapkan dapat menjadi penanda sindrom curah jantung rendah sehingga dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Penelitian cross sectional ini melibatkan 40 pasien pediatrik dengan penyakit jantung bawaan sianotik yang menjalani pembedahan jantung terbuka di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, selama bulan Maret 2019-April 2019. Terdapat perbedaan bermakna antara kadar NT-proBNP prabedah, 4 jam pascabedah, 24 jam pascabedah dan 72 jam pascabedah terhadap kejadian sindrom curah jantung rendah (p<0,001). Kadar NT-proBNP tertinggi pada 24 jam pasca bedah dengan perbedaan bermakna terhadap kadar NT-proBNP prabedah (p<0,001), 4 jam pascabedah dan 72 jam pascabedah (p<0,001). Diperoleh pula variabel lain yang berhubungan secara bermakna dengan NT-proBNP yaitu usia, berat badan, jenis penyakit jantung bawaan sianotik, lama aortic cross clamp, lama cardiopulmonary bypass, lama ventilasi mekanik dan lama rawat PICU. Dapat disimpulkan bahwa kadar NT-proBNP yang tinggi sebagai penanda kejadian sindrom curah jantung rendah.

The role of NT-proBNP as a biological marker to determined the occurrence of low cardiac output syndromes in pediatric patients with cyanotic congenital heart disease after open heart surgery was unknown. NT-proBNP was expected to be a marker of low cardiac output syndrome so that it can reduce morbidity and mortality. This cross-sectional study involved 40 pediatric patients with cyanotic congenital heart disease who underwent open heart surgery at National Cardiovascular Centre Harapan Kita, during March 2019-April 2019. There were significant differences between pre-operative levels of NT-proBNP, 4 hours postoperatively, 24 hours postoperatively and 72 hours postoperatively with the incidence of low cardiac output syndrome (p <0.001). The highest NT-proBNP level was 24 hours postoperatively with a significant difference in preoperative levels of NT-proBNP (p <0.001), 4 hours postoperatively and 72 hours postoperatively (p <0.001). Other variables that were significantly associated with NT-proBNP were age, body weight, type of cyanotic congenital heart disease, duration of aortic cross clamp, duration of cardiopulmonary bypass, duration of mechanical ventilation and length of stay of PICU. It can be concluded that high NT-proBNP level as a marker of low cardiac output syndrome."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T57624
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Rahman
"ABSTRAK
Stroke iskemik merupakan salah satu komplikasi penting dan berdampak negatif pada operasi jantung yang menggunakan MPJP. Faktor intraoperatif dianggap berpengaruh terhadap kejadian stroke iskemik diantaranya mean arterial pressure (MAP), kecepatan rewarm, kadar glukosa darah, durasi bypass, durasi klem silang aorta, hemoglobin dan hematokrit. Penelitian ini merupakan studi analitik retrospektif dengan disain kasus-kontrol. Subjek dengan komplikasi stroke pascaoperasi jantung dengan MPJP selama periode januari 2016 sampai desember 2018 sebagai kelompok kasus dan pasien tanpa stroke iskemik pada periode yang sama sebagai kontrol. Jenis kelamin, usia, diabetes melitus dan hipertensi tidak memiliki perbedaan yang bermakna antara kelompok kasus dan kontrol (p >0,05). Hematokrit (p = 0,015, OR 0,939 [0,885-0,996]) dan durasi bypass (p = 0,027, OR 1,011 [1,001-1,021]) merupakan faktor intraoperatif yang berpengaruh terhadap kejadian stroke pascaoperasi. Prosedur operasi katup (p = 0,024, OR 3,127 [1,161-8,427]) dan aorta (p = 0,038, OR 3,398 [1,070-10,786]) memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stroke pascaoperasi. Disimpulkan bahwa faktor intraoperatif yang memengaruhi kejadian stroke iskemik pascaoperasi jantung dewasa yang menggunakan MPJP di RSJPDHK adalah durasi bypass dan nilai hematokrit. Prosedur operasi aorta dan katup memiliki risiko lebih tinggi terhadap kejadian stroke dibandingkan prosedur operasi jantung lain.

ABSTRACT
Ischemic stroke is one of the important complications and has a negative impact on cardiac surgery with cardiopulmonary bypass. Intraoperative factors were considered to have an effect on ischemic stroke events including mean arterial pressure (MAP), rewarm speed, blood glucose levels, bypass duration, aortic cross clamp duration, hemoglobin and hematocrit. The study was a retrospective analytic study with case-control design. Subjects with stroke complications following cardiac surgery with cardiopulmonary bypass during January 2016 to December 2018 as a case group and patients without stroke in the same period as controls. Gender, age, diabetes mellitus and hypertension did not have a significant difference between the case and control groups (p> 0.05). Hematocrit (p = 0.015, OR 0.939 [0.885-0.996]) and bypass duration (p = 0.027, OR 1.011 [1,001-1,021]) were an intraoperative factors that influences the incidence of postoperative stroke. Valve surgery (p = 0.024, OR 3.127 [1,161-8,427]) and aorta (p = 0.038, OR 3.398 [1,070-10,786]) had a significant association with postoperative stroke. It was concluded that intraoperative factors affecting the incidence of postoperative cardiac ischemic stroke using cardiopulmonary bypass in RSJPDHK were duration of bypass and hematocrit. Aortic and valve surgery procedures have a higher risk of stroke than other cardiac surgery procedures."
[, , ]: 2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sidhik Permana Putra
"Latar belakang: Penyakit jantung bawaan merupakan jenis kelainan bawaan lahir paling umum, dan merupakan penyebab kematian tersering pada bayi. Sindrom curah jantung rendah masih merupakan masalah yang dihadapi pada subjek pediatrik pascaoperasi jantung terbuka. Deteksi sindrom curah jantung rendah dengan kriteria klinis dan indikator laboratorik masih dirasa belum cukup, yang terbukti dengan masih adanya angka morbiditas dan mortalitas. Peranan penanda biologis NT-proBNP diharapkan dapat digunakan untuk dapat mendeteksi sindrom curah jantung rendah pada pediatrik.
Metode: Penelitian pendahuluan kohort retrospektif dengan jumlah 47 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang menjalani pembedahan jantung terbuka paliatif; PA banding, Bidirectional cavopulmonary shunt, BT-shuntdan Fontan, pada periode Oktober 2019 hingga Maret 2020 di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh darah Nasional Harapan Kita, Indonesia. Data prabedah, intrabedah dan pascaoperasi termasuk kejadian sindrom curah jantung rendah dicatat. Kadar NT-proBNP akan diambil prabedah, 4 jam, 24 jam dan 72 jam pascaoperasi. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney.
Hasil: Kadar NT-proBNP pada prosedur palitif khususnya Fontan pada prabedah (137 pg/ml), 4 jam pascaoperasi (685 pg/ml), 24 jam pascaoperasi (5.715 pg/ml), dan 72 jam pascaoperasi (970 pg/ml). Kadar NT-proBNP prabedah, 4 jam pascaoperasi, 24 jam pascaoperasi, dan 72 jam pascaoperasi tidak berbeda bermakna dengan kejadian sindrom curah jantung rendah (nilai p >0,05).
Kesimpulan: Ditemukan peningkatan nilai NT-Pro BNP pada subjek pascaoperasi jantung paliatif khususnya Fontan dan bidirectional cavopulmonary shunt yang mengalami sindrom curah jantung rendah pada jam ke-24. Namun kesimpulan diatas masih berdasarkan jumlah sampel dengan kekuatan penelitian <80% sehingga hanya berlaku sebagai kesimpulan sementara berdasarkan studi pendahuluan.

Background: Congenital heart disease is the most common type of birth defects, and is the most common cause of death in infants. Cardiac syndrome is still a problem faced by pediatric patients after heart surgery. Detection of Low Cardiac Output Syndrome with clinical criteria and laboratory indicators is still considered insufficient, which is proven to still contain morbidity and mortality rates. The role of NT-proBNP biological markers is expected to be used to support the detection of low cardiac output syndrome in pediatrics.
Methods: A Preliminary retrospective cohort with 47 subjects fulfilling the inclusion and exclusion criteria who underwent palliative open heart surgery PA banding, Bidirectional cavopulmonary shunt, BT-shunt and Fontan from October, 2019 to March, 2020 at the Harapan Kita National Heart and Vascular Hospital, Indonesia. Preoperative, operative and postoperative data including the incidence of low cardiac output syndrome were recorded. NT-proBNP levels will be taken pre-surgery, 4 hours, 24 hours and 72 hours after surgery. Data analysis using the Mann-Whitney test.
Results: NT-proBNP levels in the cardiac palliative surgery especially Fontan procedure at pre-surgery (137 pg/mL), 4 hours after surgery (685 pg/mL), 24 hours after surgery (5,715 pg/mL), and 72 hours after surgery (970 pg/mL). NT-proBNP levels at pre-surgery, 4 hours after surgery, 24 hours after surgery, and 72 hours after surgery were not significantly different from the incidence of low cardiac output syndrome (p value> 0.05).
Conclusion: There is an increase in NT-Pro BNP values ​​in subjects with Fontan palliative heart surgery and bidirectional cavopulmonary shunt. However, the above conclusions are still based on the number of samples with research powers<80% and can only be taken as a provisional conclusion based on preliminary studies.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Brilliant
"Latar belakang: DSV (Defek Septum Ventrikel) adalah satu dari banyak kasus penyakit jantung bawaan dengan angka 2,6 per 1000 kelahiran di Dunia. Salah satu komplikasi DSV yang sering ditemukan adalah DSV dengan hipertensi pulmonal. Diagnosis intervensi terhadap hipertensi arteri pulmonal menjadi perhatian pada 2-10% kasus DSV, sehingga pasien DSV yang bermanifestasi hipertensi pulmonal dilakukan pemeriksaan kateterisasi. Pasien usia 6 bulan menjadi pedoman batas usia untuk dilakukan kateterisasi di RSPJDNHK (Rumahsakit Pusat Jantung dan Pembuluh darah Nasional Harapan Kita). Sehingga antrean operasi menjadi lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh usia terhadap nilai PARi pascates oksigen dan mencari kelompok usia yang tidak memiliki hasil nonreaktif terhadap tes oksigen.
Metode: Dilakukan studi Observasional retrospektif pada pasien DSV usia di bawah 5 tahun di RSPJDNHK tahun 2015 - 2020. Pengumpulan data melalui rekam medis pasien di divisi bedah jantung pediatrik RSPJDNHK. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan perhitungan besar sampel mengikuti perhitungan besar sampel untuk uji komparatif numerik lebih dari dua kelompok dengan satu kali pengukuran. Analisis deskriptif dan analisis bivariat dilakukan dengan bantuan SPSS v 20.0.
Hasil: Terdapat 178 sampel penelitian pada penelitian ini. Dari hasil penelitian diketahui bahwa usia berpengaruh atau berhubungan dengan nilai PARi pascates oksigen (p<0,05) pada pasien DSV usia di bawah 5 tahun.
Simpulan: Terdapat hubungan usia dengan nilai PARi pascates oksigen dan usia ≤2 tahun memiliki nilai mutlak reaktif terhadap tes oksigen.

Background: Ventricular Septal Defect (VSD) is one of the many cases of congenital heart disease with a rate of 2.6 per 1000 births in the world. One of the complications of VSD is pulmonary hypertension, with the prevalence of interventional diagnosis of pulmonary hypertension is about 2 – 10 % of VSD. Those who manifest pulmonary hypertension are undergone right heart catheterization. Patients aged six months are the limit for catheterization in National Cardiovascular Center Harapan Kita Hospital leads to a long waiting list. The study aimed to determine the effect on the PARi value of oxygen delivery and find age groups that have reactive results on oxygen tests.
Methods: A retrospective crossectional study was carried out in the pediatric cardiac surgery division of the National Cardiovascular Center Harapan Kita Hospital. Data were taken from the medical record, enrolling those treated from January 2015 to December 2020 with subjects under five years old with VSD pulmonary hypertension who underwent cardiac catheterization. Samples were taken randomly by calculating the sample size following the sample size calculation for the comparative numerical test of more than two groups with one measurement. Descriptive analysis and bivariate analysis were carried out using SPSS v 20.0.
Results: There were 178 subjects enrolled in this study. The age correlated to the post-oxygen test PARi value (p<0.05) on VSD patients under five years of age.
Conclusions: This study showed that age correlated to the PARi value after oxygen test, and age ≤2 years old has absolute reactive value to oxygen test.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library