Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 107 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andre Sipahutar
"Summary
A retrospective study of 13 Equinus feet of 10 patients of
Cerebral Palsy that we were able to collect and review, between
December 1985 and November 1988, has been done.
Tendoachilles lengthening by the closed method for 5 feet of 3
patients and open method for 8 feet of 7 cases in those patients
has been performed. The result in both methods are comparable.
Although the number of cases of these· two methods were too small
for statistical analysis the results find to inaicate that closed ·1
method of Achil les Tendon Lengthening is a good procedure in children
with Cerebral Palsy.
Achilles Tendon lengthening for Equi nus has been performed since
Ancient times using either an open or closed method.
This is usually performed by an open Z or fractional lengthening of
the tendon proper. In 1943, Whi te (5.7 ) was one of the first
proponents of · closed method. Nowadays, most of the surgeons have
found and consider the · sliding method of lengthening either by the
White method or the Hoke method ( 1954} ··more controlled and very
satisfactory. However closed method is not a widely used method for
treatment of Equinus Contracture in Cerebral Pa1sy.
This study reviews patients with C.P. who had closed or open
method of Achi11es Tendon Lengthening in National University Hospital
between Cecember 1965 and November 1988.
"
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Albertus Gandakusuma
2006
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Herjuno Ardhi
"ABSTRAK
Pendahuluan: Fusi spinal menggunakan instrumentasi posterior merupakan salah satu opsi tatalaksana patologi dan deformitas pada regio lumbal. Dalam prosedur tersebut, salah satu hal yang diperhatikan adalah restorasi lordosis lumbar untuk mendapatkan alignment yang baik dan juga mencegah komplikasi seperti degenerasi segmen berdampingan (adjacent segment disease), nyeri tulang belakang kronis, kegagalan implan, dan hilangnya balans sagital. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan faktor instrumentasi terhadap restorasi lordosis lumbal sekaligus mengetahui faktor mana yang paling berpengaruh.
Metode: Dilakukan studi retrospektif pada 75 pasien yang menjalani operasi fusi lumbal menggunakan instrumentasi posterior, yang dikelompokkan berdasarkan tercapai atau tidaknya restorasi lordosis lumbal. Dilakukan penilaian lordosis segmen fusi, kelengkungan rod, trajektori sagital pedicle screw, penggunaan implan interbody cage, dan jumlah level fusi pada radiografi lumbosacral berdiri pasca-operasi. Hasil kemudian dibandingkan dengan radiografi pra-operasi.
Hasil: Pada penelitian ini didapatkan bahwa kelengkungan rod normal pada jumlah level fusi >3 level (p=0,024), trajektori sagital pedicle screw depresi pada segmen fusi teratas (p=0,011), trajektori sagital pedicle screw elevasi pada segmen fusi terbawah (p=0,021), dan jumlah level fusi 1 level (p=0,006) mempengaruhi restorasi lordosis lumbal. Dalam keadaan faktor lain dikontrol, faktor yang paling mempengaruhi restorasi lordosis lumbal adalah jumlah level fusi 1 level (p=0,003, aOR=7,79x), diikuti dengan trajektori sagital pedicle screw elevasi pada segmen fusi terbawah (p=0,007, aOR=8,9x), dan trajektori sagital pedicle screw depresi pada segmen fusi teratas (p=0,029, aOR=7,29x).
Pembahasan: Faktor instrumentasi berpengaruh terhadap restorasi lordosis lumbal, khususnya jumlah fusi 1 level. Kombinasi sinergis antar-faktor instrumentasi akan meningkatkan keberhasilan restorasi lordosis lumbal.

ABSTRACT
Introduction: Instrumented spinal fusion is one of the most common procedures performed to manage various pathologies in the lumbar region. The implant construction to restore lumbar lordosis has been concern to achieve a satisfactory post-operative spinal alignment. Failure to restore lumbar lordosis may result in faster degeneration of adjacent segment disease, chronic back pain, implant failure, and loss of sagital balance.
Methods: A retrospective study was carried out in 75 patients who underwent instrumented lumbar fusion, divided into 2 groups on whether lumbar lordosis is restored or not. Assessment of fused segment lordosis, rod contouring, sagittal trajectory of pedicle screw, interbody cage implant usage, and the number of fusion levels (LoF) were performed on erect lumbosacral sagittal radiograph. Result was compared with pre-operative radiograph.
Results: In this study, normal rod contouring on >3 fusion levels (p = 0.024), depressed pedicle screw sagittal trajectory of highest fusion segment (p = 0.011), elevated pedicle screw sagittal trajectory of lowest fusion segment (p = 0.021), and 1 level of spinal fusion (p = 0.006) affect lumbar lordosis restoration. The factors that affect lumbar lordosis restoration the most are, respectively, number of fusion level (p = 0.003, aOR = 7.79x), elevation pedicle screw sagittal trajectory of lowest fusion segment (p = 0.007, aOR = 8.9x), and depression pedicle screw sagittal trajectory of highest fusion segment (p = 0.029, aOR = 7.29x).
Conclusion: Instrument factors significantly affect lumbar lordosis restoration. Synergic combination among factors will increase the lumbar lordosis restoration successes.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Auliya Akbar
"ABSTRAK
Kondisidisuse osteoporosispada pasien hemiparesis dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh faktor-faktor klinis tersebut terhadap status kepadatan massa tulang. Sebanyak34 subjek direkrut dalam penelitian ini. Rerata nilai BMD (g/cm2) wrist sisi sehat dan sakit adalah 0,8 ±0,15 dan 0,74 ± 0,15; hipsisi sehat dan sakit adalah 0,83 ± 0,15 dan 0,77 ± 0,16; serta spine adalah 1,005 ± 0,20. Terdapat perbedaan bermakna antara BMD sisi sehat dengan sisi sakit baik pada hip maupun wrist (p<0,001). Didapatkan korelasi positif yang kuat antara awitan hemiparesis dengan delta BMD wrist dan hip (r= 0,779 p=0,001 dan r=0,791 p=0,001). Terdapat juga hubungan yang secara statistik bermakna antara delta BMD dengan usia dan kekuatan motorik. Pada uji multivariat didapatkan bahwa usia dan awitan hemiparesis merupakan faktor prediktor utama terhadap delta BMD (aR2 wrist= 0,486, aR2 hip= 0,614). Usia, kekuatan motorik ekstremitas, awitan hemiparesis, dan kepatuhan rehabilitasi mempengaruhi penurunan nilai BMD. Selain itu, usia dan awitan hemiparesis menjadi faktor prediktor utama terhadap penurunan nilai BMD. Faktor-faktor ini sebaiknya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam manajemen diagnostik dan tatalaksana disuse osteoporosis pada pasien stroke

ABSTRACT
Disuse osteoporosis in hemiparetic patients often results in significant morbidity and decreased quality of life. This study aims to investigate the effect of these csinical factors on bone mineral density. A total of 34 subjects were recruited for this study. The mean BMD value (g / cm2) of the healthy and paretic side of the wrist was 0.8 ± 0.15 and 0.74 ± 0.15; healthy and paretic hip was 0.83 ± 0.15 and 0.77 ± 0. 16); and the spine was 1.005 ± 0.20. There was a significant difference between the healthy and paretic side of BMD of both hip and wrist (p <0.001). Multivariate analysis demonstrated that the onset of hemiparesis was a strong predictor of delta BMD (aR2 wrist = 0.486, aR2 hip = 0.614). Age, limb strength, the onset of hemiparesis, and rehabilitation compliance are associated with the decreased BMD among patients with post-stroke neuromuscular deficit. In addition, age and the onset of hemiparesis are major predictors of accelerated BMD loss, which can be used to calculate delta BMD score. These factors should perhaps become the main issues addressed in the diagnosis or treatment of disuse osteoporosis among stroke patient."
2019
T55545
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Priambodo Wisnubaroto
"Pendahuluan: Instrumentasi posterior mengharuskan dipertahankannya fiksasi stabil sekrup pedikel di tulang belakang untuk mencapai fusi. Hal ini dapat menjadi sulit terutama pada kondisi tertentu, misalnya pada penurunan densitas masa tulang pedikel. Teknik insersi sekrup dengan lintasan kortikal diharapkan menambah antarmuka sekrup dan tulang dengan meningkatkan engagement antara sekrup dengan korteks tulang. Lintasan sekrup dari arah kortikal infero-superior serta kortikal supero-inferior diharapkan memiliki keunggulan kekuatan cabut (pullout strength) dibandingkan dengan lintasan konvensional dalam mengatasi masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil biomekanik awal lintasan kortikal dan perbedaan pull out strength lintasan konvensional (Weinstein, 1992), kortikal infero-superior (Santoni, 2009), dan kortikal supero-inferior.
Metode: Sampel dari lumbal (L1-L5) babi Yorkshire (n=30) dilakukan pengukuran morfometri dan dibagi secara acak. Sampel dilakukan pengeboran dan sekrup dimasukkan ke dalam tulang dengan tiga lintasan: konvensional, kortikal infero-superior, dan kortikal supero-inferior. Arah lintasan diperiksa kembali dengan sinar-x. Dilakukan penarikan sekrup dengan arah sesuai aksis insersi sekrup dengan kecepatan translasi 5mm/menit. Hasil dicatat dengan satuan Newton (N).
Hasil: Didapatkan rata-rata nilai uji tarik pada kelompok konvensional, infero-superior, dan supero-inferior masing-masing 491,72 (187.23) N, 822,16 (295.73) N, dan 644,14 (201.97) N. Lintasan kortikal infero-superior dan kortikal supero-inferior masing-masing mendapatkan nilai 67% dan 30% lebih tinggi dibandingkan dengan lintasan konvensional. Hasil uji ANOVA satu arah dan uji post-hoc Tukey menunjukkan perbedaan signifikan antara lintasan kortikal infero-superior dengan konvensional (p<0.01).
Kesimpulan: Lintasan sekrup dalam tulang lumbal dapat memengaruhi nilai pullout sekrup. Keterlibatan tulang kortikal pada lintasan insersi sekrup baru ini bisa meningkatkan nilai pullout sekrup pedikel. Secara statistik pullout strength lintasan kortikal infero-superior dan kortikal supero-inferior tidak ada perbedaan. Studi ini menunjukkan nilai pullout yang lebih tinggi sebesar 30% dari lintasan yang disarankan peneliti dibandingkan dengan lintasan konvensional, walaupun tidak ada perbedaan signifikan secara statistik.

Introduction: Posterior instrumentation is aimed to achieve spinal fusion which is helped by maintaining a stable pedicle screw insertion within the pedicle. This presents a challenge especially in conditions with low bone quality. Pedicle screw insertion with cortical bone trajectory is designed to add interface between the screw and the bone through engagement between pedicles and the cortex when compared to conventional pedicle screw insertion. Pedicle screw insertion trajectory from cortical infero-superior and the proposed cortical supero-inferior should obtain better pull out performance when compared with conventional pedicle trajectory. We aim to evaluate the pull out strength differences between conventional (Weinstein, 1992) pedicle screw trajectory, cortical infero-superior (Santoni, 2009), and a proposed cortical supero-inferior trajectory.
Methods: Samples from Yorkshire porcine lumbar spine (L1-L5) (n=30) were relieved of soft tissue attachments and dried. Morphometric measurements were conducted and the samples were randomly assigned to three groups. The screws were inserted into the vertebrae by drilling with the three trajectories: conventional, cortical infero-superior, and cortical supero-inferior. The trajectory of the screws were examined using x-rays. Pull-out tests were conducted by applying uniaxial traction in line with the screw trajectory with a translational speed of 5mm/minutes. The results of the pull-out are measured in Newton (N).
Results: We obtained a mean value of pullout force in conventional trajectory 491,72 (187.2) N, cortical infero-superior 822,16 (295.73) N, and cortical supero-inferior 644,14 (201.97) N. Cortical infero-superior trajectory and cortical supero-inferior trajectory attained 67% and 30% higher pullout mean respectively. Using one-way ANOVA and a post-hoc Tukey test revealed a significant difference between cortical infero-superior and conventional trajectory (p<0.01). Differing pull out strengths between cortical infero-superior and supero-inferior trajectory showed no statistical significance. Our study showed a 30% higher pull-out strength in our proposed trajectory compared with conventional trajectory although not statistically significant.
Conclusion: The trajectory of the screws within the lumbar spine seemed to have an impact in pullout strength. Cortical bone engagement using the novel trajectories may increase screw pullout strength of pedicle screws.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Akbar Rizki Beni Asdi
"ABSTRAK
Latar Belakang Giant cell tumor (GCT) merupakan tumor jinak yang bersifat lokal agresif destruksif. Tumor ini memiliki rekurensi yang tinggi sebanyak 25-50% setelah tindakan pembedahan. Berbagai macam pemberian zat kimia lokal sebagai terapi ajuvan, telah digunakan pada tatalaksana pembedahan. Namun perbandingan efektifitas untuk masing-masing zat kimia ini belum diketahui. Studi mengenai sitotoksisitas dan mekanisme kematian sel dengan membandingkan pemberian etanol dan H2O2 pada sel GCT tulang secara in vitro masih sedikit dan belum ada di Indonesia.
Metode Penelitian ini merupakan studi in vitro eksperimental dengan mengambil empat sampel jaringan tumor dari pasien yang didiagnosis GCT tulang dan dilakukan isolasi-kultur sel. Cell line yang didapatkan dikarakterisasi melalui analisis morfologi serta pemeriksaan ekspresi penanda gen Nanog dan Oct 4 dengan Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Sel yang telah 80% konfluens dilakukan terapi dengan H2O2 1%, 3%, 5% dan etanol 75%, 85%, 95% selama10 menit serta dosis in vitro H2O2 (0,003%, 0,005%, 0,01%, 0,03%, 0,1%, 0,3%) selama 5 menit serta inkubasi selama 24 jam. Morfologi sel dievaluasi dibawah mikroskop cahaya dengan membandingkan kontrol dan setelah pemberian zat kimia, viabilitas sel dihitung menggunakan automatic cell counter serta toksisitas sel dinilai dengan uji Annexin V dan Propidium Iodida (PI) pada flow cytometry.
Hasil Kultur jaringan sel GCT dengan metode eksplan dan kolagenase mempunyai angka keberhasilan yang sama dalam mendapatkan cell line GCT. Namun metode eksplan membutuhkan waktu yang lebih cepat dan memiliki jumlah sel yang lebih banyak. Sel yang tumbuh dari jaringan GCT terkarakterisasi dengan analisis morfologi serta ekspresi gen Oct 4 dan Nanog. Viabilitas sel GCT menurun secara signifikan setelah paparan terhadap dosis klinis H2O2 1% (p = 0,046), H2O2 3% (p = 0,043), dan H2O2 5% (p = 0,043) selama 10 menit dibandingkan dengan kontrol. Tidak ada perbedaan yang bermakna untuk viabilitas sel antara konsentrasi H2O2 1%, 3% dan 5%. Sementara pada konsentrasi in vitro (0,003%, 0,005%, 0,01%, 0,03%, 0,1%, 0,3%), konsentrasi H2O2 0,3% (p < 0,001) selama 5 menit memiliki efektivitas paling baik dalam sterilisasi GCT secara in vitro. Terdapat fenomena fiksasi sel setelah pemberian etanol pada semua konsentrasi. Dari uji RT-PCR didapatkan penurunan ekspresi gen Oct 4 dan Nanog seiring dengan peningkatan konsentrasi H2O2 pada dosis in vitro. Flow cytometry dengan marker Annexin V dan propidium iodide (PI) didominasi oleh marker PI yang menunjukkan kematian sel akibat nekrosis dengan persentase terbesar pada konsentrasi 0,3%.
Kesimpulan Eksplan merupakan metode terbaik dalam isolasi dan kultur sel GCT. Semua sel hasil isolasi dan kultur terkarekterisasi sebagai GCT. Pemberian ajuvan kimia lokal dengan dosis klinis H2O2 konsentrasi 1%, 3%, dan 5% selama 10 menit secara in vitro mempunyai efektivitas yang sama dalam membunuh sel GCT. Sedangkan konsentrasi H2O2 0,3% selama 5 menit merupakan terapi optimal dalam sterilisasi GCT secara in vitro dengan mekanisme kematian nekrosis sel.

ABSTRACT
Background Giant cell tumor (GCT) is a benign, aggressive local tumor with high tendency to recur after surgery. Various chemicals have been used as an adjuvant treatment for GCT. However, the comparative effect of these chemicals remains unclear. To date, there are no studies about the cytotoxicity and mechanism of injury to etanol and H2O2 in GCT in Indonesia especially in vitro experiment. The present study aims to find the best method to isolation and culture of GCT from primary human patients, the optimal treatment of etanol and H2O2 for reducing GCT recurrence.
Methods This is an experimental in vitro study that took four tumor tissue samples from patients diagnosed with bone GCT and conducted cell-culture isolation. Cell line characterized by morphology, gene markers Nanog and Oct 4 expression with Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) Reverse Transcriptase was obtained. Cells that had 80% confluence were treated with H2O2 1%, 3%, 5% and etanol 75%, 85%, 95% for 10 minutes and in vitro doses of H2O2 (0.003%, 0.005%, 0.01%, 0.03 %, 0.1%, 0.3%) for 5 minutes and were incubated for 24 hours. Cell morphology was evaluated under a light microscope by comparing the morphology of controls and after exposure a chemical agents, cell viability was calculated using automatic cell counter and cell toxicity was assessed by Annexin V and Propidium Iodida (PI) on flow cytometry.
Results Collagenase and explant methods had the same success rate in obtaining GCT cell line characterized by morphology, the gene expression Oct 4 and Nanog. But explants need a less time and had more cell than collagenase method. Viability of GCT cells decreased significantly after exposure to the clinical dose of H2O2 1% (p = 0,046), H2O2 3% (p = 0,043), and H2O2 5% (p = 0,043) for 10 minutes compared to controls. There was no significant difference for cell viability between 1%, 3% and 5% H2O2 concentrations. While in in vitro doses (0,003%, 0,005%, 0,01%, 0,03%, 0,1%, 0,3%), 0.3% H2O2 concentration for 5 minutes has the best effectivity in sterilizing GCT in vitro. There was a phenomenon of cell fixation after exposure of GCT cells to etanol in various concentrations, in which all cells die and its viability could not be analyzed. From the RT-PCR test it was found that there was a decrease in the expression of Oct 4 and Nanog genes along with an increase in the concentration of H2O2 in vitro. Flow cytometry using Annexin V in conjunction with propidium iodide (PI) was dominated with PI marker detection which showed cell death due to necrosis, with the highest concentration amounted to 0.3%
Conclusion Explant was the best method for isolation and GCT cell culture. All of the cell from isolation and culture result had a characterization of GCT. Giving local a chemical adjuvants with clinical doses of H2O2 concentrations of 1%, 3%, and 5% for 10 minutes in vitro had the same effectiveness in killing GCT cells. While the concentration of 0.3% H2O2 for 5 minutes is the optimal therapy in GCT sterilization in vitro with necrosis cell death mechanism."
2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
M. Fajrin Armin F.
"Pendahuluan: Malunion adalah komplikasi jangka panjang yang sering terjadi pada fraktur suprakondiler humerus yang bila tidak ditatalaksana dengan tepat dapat menimbulkan komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Osteotomi korektif dengan teknik lateral closed wedge osteotomy, merupakan teknik yang sering digunakan karena sederhana dan relatif mudah. Studi mengenai luaran klinis, fungsional dan radiologis pasca osteotomi korektif masih sedikit, khususnya di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif, dengan metode total
sampling pada tahun 2012-2017 di Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo. Dilakukan penilaian luaran klinis dengan Mitchell and Adams Criteria, luaran fungsional dengan Mayo Elbow Performance Score (MEPS), dan luaran radiologis dengan Baumann Angle, Metaphyseal-diaphyseal angle, Humero-ulnar angle, Humero-capitellar angle, dan anterior humeral line pra dan pascaoperasi. Hasil: Terdapat 15 pasien yang diikut sertakan dalam penelitian dengan umur rata-rata 7,7 tahun, mayoritas laki-laki dan pada sisi sebelah kiri. Median interval waktu antara fraktur hingga osteotomi korektif adalah 11,2 bulan dengan rata-rata followup adalah 24,9 bulan. Luaran klinis berdasarkan Mitchell and adams criteria didapatkan kriteria good hingga excellent sebanyak 14 pasien (93,3%) dan hanya 1 pasien (6,7%) dengan hasil unsatisfactory. Luaran fungsional berdasarkan MEPS didapatkan kategori good hingga excellent sebanyak 14 pasien (93,3%), dan kategori fair sebanyak 1 pasien (6,7%). Terdapat perbaikan parameter radiologis yang bermakna yang diukur dengan baumann angle, metaphyseal-diaphyseal angle, humero-ulnar angle, humero-capitellar angle dan anterior humeral line. Terdapat korelasi yang kuat antara perbaikan baumann angle dengan Mitchel and Adams criteria dan terdapat korelasi yang moderat antara perbaikan metaphyseal-diaphyseal angle dengan MEPS. Kesimpulan: Tindakan osteotomi korektif dengan teknik lateral closed wedge osteotomy pada malunion fraktur suprakondiler humerus memberikan luaran klinis, fungsional dan radiologis good hingga excellent. Baumann angle dan Metaphyseal-diaphyseal angle dapat digunakan sebagai parameter untuk memprediksi luaran klinis dan fungsional pasca osteotomi korektif.

Introduction: Malunion is a late complication that often occurs after supracondylar humeral fractures This condition if not managed properly will cause such complications that potentially reduce the patient's quality of life. Corrective osteotomy by lateral closed wedge osteotomy is a technique that is often used due to it simplicity and relatively easy. Only few studies have reported clinical, functional and radiological outcomes in cases of malunion of supracondylar humeral fractures after corrective osteotomy, particularly in Indonesia. Methods: This study used a retrospective cohort design, with a total sampling method in period of 2012-2017 at the Cipto Mangunkusumo Central National Hospital. We assess clinical outcome by Mitchell and Adams Criteria, functional outcome by Mayo Elbow Performance Score (MEPS), and radiological outcomes by Baumann Angle, Metaphyseal-diaphyseal angle, Humero-ulnar angle, Humero-capitellar angle, and anterior humeral line, pre and postoperatively Results: There were 15 patients included in the study with an average age of 7.7 years, the majority were men and affected on the left side. The median of time interval between fracture to correction osteotomy was 11.2 months with a mean time of follow-up was 24.9 months. Clinical outcome after correction osteotomy based on Mitchell and adams criteria showed good to excellent criteria as many as 14 patients (93.3%) and only 1
patient (6.7%) with unsatisfactory results. While the functional outcomes based on MEPS showed good to excellent categories of 14 patients (93.3%), and the fair category was 1 patient (6.7%). There were a significant radiological improvement measured by baumannn angle, metaphyseal-diaphyseal angle, humero-ulnar angle, humero-capitellar
angle and anterior humeral line. There was a strong correlation between baumann angle improvement with Mitchel and Adams criteria and there was a moderate correlation
between the improvement of Metaphyseal-diaphyseal angle and MEPS. Conclusion: Corrective osteotomy by lateral closed wedge osteotomy on malunion supracondylar humeral fracture showed good to excellent clinical, functional and radiological outcomes. Baumann angle and Metaphyseal-diaphyseal angle can be used as parameter to predict clinical and functional outcomes after corrective osteotomy.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ismail Salim
"Pendahuluan: Operasi fusi tulang belakang adalah penanganan definitif yang dilakukan untuk mengembalikan stabilitas struktural tulang belakang. Sel punca mesenkimal (SPM) telah diteliti mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan defek pada metafisis tulang dan fusi vertebra. Saat ini, terdapat keterbatasan studi yang menilai capaian fusi vertebrae pada pasien dengan SPM. Metode: Studi ini menggunakan desain systematic review berdasarkan metode Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) yang dilakukan pada Juni 2020. Data dianalisis mengikuti panduan dari Cochrane Handbook for Systematic Reviews of Interventions dan menggunakan software Review Manager (RevMan, V.5.3). Hasil: Dari 11 studi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, ditemukan perbaikan radiologis yang signifikan pada 3 studi RCT ini yakni OR: 2,46 (95% IK: 1,29-4,68; I2: 68%) pada pemeriksaan CT scan dan 2 studi RCT OR: 3,91 (95% IK: 1,92-7,99; I2: 0%) pada pemeriksaan X-ray. Pada studi pre dan post ditemukan 100% pasien mengalami perbaikan radiologis pada akhir studi. Perbaikan klinis nyeri berbeda bermakna pada pasien dalam waktu 3 bulan pasca tindakan pemberian stem sel dan bertahan dalam waktu 6-12 bulan. Perbaikan hambatan fungsi dengan penilaian skor ODI bermakna dalam 6 bulan pasca tindakan. Efek samping yang banyak ditemukan adalah nyeri. Kesimpulan: Penggunaan sel stem mesenkimal menghasilkan perbaikan radiologis, klinis, dan fungsi yang signifikan pada pasien dengan penyakit tulang belakang degeneratif.

Introduction: Spinal fusion surgery is a definitive treatment to restore spinal structural stability. Although allograft is a gold standard for vertebral fusion, this method associates with high morbiidy. Based on previous studies, mesenchymal stem cell has ability to fix defect of metaphyses of bone and has a role in vertebral fusion. However, studies about vertebral fusion in patient treated with mesenchymal stem cell are still limited. Method: This study was a systematic review which was conducted according to Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) on June 2020. Data was analysed with guidance from Cochrane Handbook for Systematic Reviews of Interventions using Review Manager (RevMan, V.5.3) software. Results: From 11 studies which satisfy inclusion and exclusion criteria, there were significant radiological improvement in 3 RCT study on CT scan (OR: 2,46 95%CI: 1,29-4,68; I2: 68%) and 2 RCT study on X-Ray examination (OR: 3,91 95%CI: 1,92-7,99; I2: 0%). On pre and post study, 100% of patients showed significant improvement. The pain improved significantly 3 months after the procedure. Functional ability improved within 6 months after the surgery. The most common side effect reported was pain. Conclusion: Mesenchymal stem cell resulted in significant improvement of radiological, clinical, and function of patients with degenerative spinal disease."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Auliya Akbar
"Pendahuluan: Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif yang ditandai oleh kerusakan tulang rawan. Kemampuan regenerasi tulang rawan artikular yang terbatas menimbulkan tantangan dalam pengobatan. Eksosom sel punca mesenkimal (SPM) telah menunjukkan potensi regenerasi struktur tulang rawan pada studi-studi in vivo pada hewan kecil sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas injeksi intra-artikular eksosom SPM dari jaringan adiposa dan hyaluronic acid (HA) terhadap regenerasi tulang rawan model osteoartritis domba
Metode: Studi in vivo melibatkan 18 domba jantan yang diinduksi OA melalui menisektomi. Domba kemudian dirandomisasi dan dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan: Kelompok 1 (eksosom SPM adiposa + HA); Kelompok 2 (eksosom SPM adiposa); Kelompok 3 (HA). Pemeriksaan struktur dan mikrostruktur dilakukan 6 minggu pasca perlakuan. Penilaian mikroskopik menggunakan gambaran histologi dengan skor pineda, regenerasi tulang rawan dinilai dari pemeriksaan histokimia and immunohistokimia, dan pemeriksaan mikrotopografi dinilai dengan scanning electron microscope (SEM)
Hasil dan Diskusi: Regenerasi tulang rawan pada kelompok kombinasi eksosom SPM adiposa + HA memiliki area kartilago hialin yang lebih luas dibandingkan dengan eksosom SPM adiposa atau HA saja (40,38 ± 9,35 % vs 34,93 ± 2,32 vs 31,08 ± 3,47; p = 0,034) dan area fibrokartilago yang lebih sempit dibandingkan dengan eksosom SPM adiposa atau HA saja (13,06 ± 2,21 vs 18,67 ± 3,13 vs 28,14 ± 3,67; p = 0,037). Gambaran mikrotopografi didapatkan permukaan jaringan jauh lebih homogen dan memiliki permukaan yang lebih halus pada kelompok kombinasi eksosom SPM adiposa + HA dibandingkan kelompok eksosom SPM adiposa HA saja
Kesimpulan: Pada OA sendi lutut model domba yang mendapatkan injeksi kombinasi eksosom SPM jaringan adiposa + HA memiliki regenerasi tulang rawan yang lebih baik dibandingkan dengan injeksi eksosom SPM jaringan adiposa atau HA saja

Introduction: Osteoarthritis (OA) is a degenerative joint disease characterized by cartilage damage. The limited regenerative capability of articular cartilage poses a therapeutic challenge. Mesenchymal stem cell (MSC) exosomes have shown potential in regenerating cartilage structure in previous in vivo studies on small animals. This study aims to compare the effectiveness of intra-articular injections of adipose-derived MSC exosomes and hyaluronic acid (HA) on cartilage regeneration in a sheep osteoarthritis model.
Methods: This in vivo study involved 18 male sheep induced with OA through meniscectomy. The sheep were randomized and divided into three intervention groups: Group 1 (adipose MSC exosomes + HA), Group 2 (adipose MSC exosomes), and Group 3 (HA). Structural and microstructural assessments were conducted 6 weeks post-intervention. Microscopic evaluation using histological scoring with the Pineda score, cartilage regeneration assessment through histochemical and immunohistochemical examinations, and microtopographic examination using a scanning electron microscope (SEM) were performed.
Results and Discussion: Cartilage regeneration in the combination group of adipose MSC exosomes + HA exhibited a larger area of hyaline cartilage compared to adipose MSC exosomes or HA alone (40.38 ± 9.35% vs. 34.93 ± 2.32% vs. 31.08 ± 3.47%; p = 0.034) and a smaller area of fibrocartilage compared to adipose MSC exosomes or HA alone (13.06 ± 2.21% vs. 18.67 ± 3.13% vs. 28.14 ± 3.67%; p = 0.037). Microtopographic examination showed a much more homogeneous and smoother cartilage surface in the combination group of adipose MSC exosomes + HA compared to the adipose MSC exosomes or HA groups alone.
Conclusion: In a sheep knee OA model, intra-articular injection of a combination of adipose-derived MSC exosomes + HA can enhance cartilage regeneration compared to injections of adipose-derived MSC exosomes or HA alone.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Radi Muharris Mulyana
"ABSTRAK
Operasi Total knee replacement (TKR) adalah prosedur pilihan pada penanganan osteoartritis berat. Terdapat dua jenis prostesis yang umum digunakan, yaitu cruciate retaining (CR) dan cruciate substituting (CS). Belum ada kesepakatan ahli mengenai mana prostesis yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan luaran fungsional pasien yang menjalani TKR menggunakan dua jenis prostesis tersebut. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda. Pasien dengan osteoartritis berat dibagi 2 kelompok dan dinilai luaran fungsional 3 bulan dan 6 bulan pasca-TKR. Hasilnya sudut fleksi lutut kelompok CS lebih baik 13,1 derajat setelah 3 bulan dan 12,9 derajat setelah 6 bulan. Penilaian subjektif menggunakan skor IKDC tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok.

ABSTRACT
Total knee replacement (TKR) is a procedure of choice in the management of severe osteoarthritis. Currently two types of prosthesis are widely used, cruciate retaining (CR) and cruciate substituting (CS). Experts has not yet reached agreement regarding which one is better. This study aims to compare functional outcome between the two types of prosthesis. This study was a randomized double-blind clinical trial. Patients with severe osteoarthritis were divided into two groups, and evaluated in 3 and 6 months after operation. Result of this study were that flexion angle of CS group was 13,1 degrees better in 3 months and 12,9 degrees in 6 months. Subjective evaluation using IKDC score did not show significant differences between two groups."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>