Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dede Moeswir
"Latar Belakang: Major Adverse Cardiac Events (MACE) merupakan penyebab utama meningkatnya morbiditas dan mortalitas pada pasien sindrom koroner akut (SKA). Skor prediksi MACE merupakan model yang dapat memprediksi prognosis untuk terjadinya MACE berdasarkan faktor risiko yang dimiliki oleh pasien SKA.
Tujuan: Untuk membuat skor prediksi sederhana, mudah dikalkulasi dan aplikatif, yang mampu mengidentifikasi pasien SKA dengan risiko terjadinya MACE.
Metode: Dilakukan penelitian kohort retrospektif pada 1002 subyek pasien SKA yang dirawat di intensive coronary care unit RSCM dalam periode waktu Januari 2010 - Desember 2013. Dilakukan evaluasi terhadap faktor risiko jenis kelamin, usia, riwayat keluarga penyakit jantung koroner, diabetes, hemoglobin, leukosit, kreatinin, asam urat, enzim jantung, tekanan darah sistolik, denyut jantung, henti jantung, deviasi segmen ST dan kelas killip.
Hasil: Major Adverse Cardiac Events didapatkan pada 112 subyek (9,21%), faktor prediktor jenis kelamin wanita, leukosit, kreatinin, asam urat, enzim jantung, tekanan darah sistolik, denyut jantung, henti jantung dan kelas killip pada analisis multivariat mempergunakan regresi logistik didapatkan berhubungan bermakna dengan MACE dengan RR (95% IK) masing-masing 2.66 (1.35-5.25), 2.06 (1.02-4.16), 2.84 (1.43-5.66), 3.79 (1.90-7.54), 3.26 (1.51-7.05), 3.48 (1.57-7.70), 2.46 (1.20-5.01), 42.04 (18.90-93.51), dan 6.31 (3.19-12.50) serta didapatkan akurasi prediksi yang baik dengan nilai area under curve 0,95, 95% IK, 0,93-0,97.
Kesimpulan: Pada pasien SKA didapatkan probabilitas MACE sebesar 3,6% bagi yang memiliki skor total 0-6 dan 83,5% bagi yang memiliki skor > 6 berdasarkan faktor-faktor prediktor jenis kelamin wanita (skor 1), leukositosis (skor 1), peningkatan kreatinin (skor 1), hiperurisemia (skor 2), peningkatan enzim jantung (skor 1), hipotensi (skor 2), takikardi (skor 1), henti jantung (skor 5) dan kelas killip III-IV (skor 3).

Background: Major Adverse Cardiac Events (MACE) have been known as the cause of increasing morbidity and mortality among acute coronary syndrome (ACS) patients. Prediction score have been used as prognostic to prediction MACE based on risk factor in ACS patients.
Aim: To develop a simple risk score, easily calculated and applicability that can identifies ACS patients with risk for MACE.
Methods: A cohort retrospective study involving 1002 ACS patients in intensive coronary care unit RSCM from January 2010 through December 2013. Sex, age, family history, diabetes, hemoglobin, leucocyte, creatinine, uric acid, cardiac enzyme, systolic blood pressure, heart rate, cardiac arrest, deviation ST segment and killip class as risk factor for MACE was assessed.
Results: Major Adverse Cardiac Events was found in 112 (9,21%) of ACS patients, predictor factor woman, leucocyte, creatinine, uric acid, cardiac enzyme, systolic blood pressure, heart rate, cardiac arrest and killip class in multivariate logistic regression analysis were associated with MACE in ACS patients with (RR 95% CI) 2.66 (1.35-5.25), 2.06 (1.02-4.16), 2.84 (1.43-5.66), 3.79 (1.90-7.54), 3.26 (1.51-7.05), 3.48 (1.57-7.70), 2.46 (1.20-5.01), 42.04 (18.90-93.51), and 6.31 (3.19-12.50) respectively, and the best predictive accuracy for MACE was obtained by area under curve 0,95, 95% CI, 0,93-0,97.
Conclusions: In ACS patients we found probability MACE was 3,6% in patients with total score 0-6 and 83,5% for who have total score > 6 based on predictor factor woman (score 1), leukocytosis (score 1), elevated creatinine level (score 1), hyperuricemia (score 2), elevated cardiac enzyme (score 1), hypotension (score 2), tachycardia (score 1), cardiac arrest (score 5) and killip class III-IV (score 3).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Linda Armelia
"Latar belakang: Transplantasi ginjal dapat memperbaiki fungsi endotel. Berbagai penelitian membuktikan bahwa peningkatan kadar eritropoietin (Epo) dapat mengaktifasi dan memobilisasi Endothelial Progenitor Cell (EPC) sehingga mampu memperbaiki fungsi endotel melalui proses angiogenesis dan neovaskularisasi. Membaiknya fungsi endotel akan menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit kardiovaskular pada penderita PGK.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan peningkatan kadar Epo dan jumlah EPC CD34+ serta CD133+ dengan perbaikan fungsi endotel pada penderita gagal ginjal 3 bulan setelah transplantasi ginjal.
Metode Penelitian: Potong lintang sebelum dengan 3 bulan setelah transplantasi ginjal pada penderita gagal ginjal yang menjalani transplantasi ginjal di RSCM. Jumlah subyek 21 orang yang dikumpulkan dalam kurun waktu Juli 2013 - Februari 2014. Pengambilan sampel darah untuk memeriksa kadar Epo, jumlah EPC CD34+ dan CD133+ dan kadar asimetrik dimetilarginin (ADMA) dilakukan sebelum dan 3 bulan setelah transplantasi ginjal. Analisis statistik dengan uji korelasi Pearson atau Spearman.
Hasil: Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kadar Epo tetapi tidak bermakna secara statistik (p>0.05), sedangkan jumlah EPC CD34+ dan CD133+ meningkat (p<0.05), serta kadar ADMA menurun yang bermakna secara statistik (p<0.05). Tiga bulan setelah transplantasi ada korelasi bermakna antara peningkatan kadar Epo dengan jumlah EPC CD34+ (r = 0.466 ; p < 0.05). Tidak ada hubungan peningkatan kadar Epo dan jumlah EPC CD34+ serta CD133+ dengan perbaikan fungsi endotel 3 bulan setelah transplantasi ginjal.
Kesimpulan: Tiga bulan setelah transplantasi ginjal didapatkan adanya peningkatan kadar Epo, jumlah EPC CD34+ dan CD133+ serta penurunan kadar ADMA. Tetapi tidak ada korelasi peningkatan kadar Epo dan jumlah EPC CD34+ serta CD133+ dengan perbaikan fungsi endotel dalam rentang 3 bulan setelah transplantasi ginjal.

Background: Kidney transplantation improved endothelial function. Various studies have shown that elevated level of erythropoietin (Epo) could activate and mobilize Endothelial Progenitor Cell (EPC), thus would improve endothelial function through the process of angiogenesis and neovascularization. The improvement of endothelial function will decrease morbidity and mortality from cardiovascular disease in patients with CKD.
Aim: To determine association between elevated level of Epo and the numbers of EPC CD34+ - CD133+ with the improvement of endothelial function in patients three months after kidney transplantation.
Methods: cross sectional study prior and 3 months after kidney transplantation in patients with renal failure who underwent kidney transplantation in RSCM. The study included 21 subjects who enrolled from July 2013 to February 2014. Blood samples prior and 3 months after kidney transplantation were collected to evaluate the level of Epo, numbers of EPC CD34+ and CD133+ and level of assymetric dimethylarginine (ADMA). Statistical analysis was performed using Pearson or Spearman correlation test.
Resulys: The results of the study showed that prior to kidney transplantation, level of Epo was increased but not statistically significant (p>0.05). The EPC numbers of CD34+ and CD133+ were significantly increased (p<0.05), whereas the ADMA level was significantly decreased (p<0.05). Three months after transplantation showed a significant association between elevated level of Epo and the numbers of EPC CD34+ (r = 0.466, p > 0.05). There was no association between the elevated level of Epo and the numbers of EPC CD34+ and CD133+ with the improvement of endothelial function three months after kidney transplantation.
Conclusion: Three months after kidney transplantation showed an elevated level of Epo, the numbers of EPC CD34+ and CD133+ and the decreased level of ADMA. However, there was no association between the elevated level of Epo and the numbers of EPC CD34+ and CD133+ with the improvement of endothelial function in patients 3 months after kidney transplantation.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Johanes Sarwono
"Latar belakang : Inflamasi pada hemodialisis (HD) berhubungan dengan terjadinya kontak darah dengan membran dialisis, cairan dialisat, akses vaskuler dan infeksi. Peningkatan sitokin pro-inflamasi berperan penting terhadap terjadinya aterosklerosis selain itu inflamasi berakibat anoreksia dan kondisi hiperkatabolik yang menyebabkan malnutrisi. Keadaan ini disebut sebagai Sindrom Malnutrisi-Inflamasi-Aterosklerosis. Karakteristik HD di Indonesia berbeda dengan negara maju, perbedaan tersebut terkait penggunaan dialyzer pakai ulang dan tipe low-flux, belum menggunakan dialisat ultrapure dan dosis HD yang tidak adekuat.
Tujuan : Melihat beda rerata antara Skor-MI, hsCRP dan sTNFR-1 pada pasien HD yang mengalami aterosklerosis dan yang tidak aterosklerosis.
Metode Penelitian : Desain studi potong lintang pada pasien HD yang dalam keadaan stabil yang sudah menjalani HD antara 3 bulan sampai 5 tahun di RSUP Fatmawati. Jumlah subyek 60 orang yang dikumpulkan dalam kurun waktu Desember 2013 sampai dengan Februari 2014. Pemeriksaan hsCRP dan sTNFR-1 sebagai biomarker inflamasi, untuk menentukan status nutrisi menggunakan skor malnutrisi-inflamasi(Skor-MI) dan pemeriksaan USG doppler arteri Karotis untuk menentukan penebalan intima-media(CIMT). Analisis statistik dengan uji T dan uji Mann-Whitney.
Hasil : Penelitian ini menunjukkan Skor-MI pada kelompok yang CIMT positif (aterosklerosis) memiliki nilai median lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang non aterosklerosis (7 vs 5). Sedangkan kadar sTNFR-1 memiliki nilai median CIMT positif (3.48) lebih rendah dibandingkan CIMT negatif (12,126 vs 11,657). Kadar hsCRP pada kelompok CIMT positif memiliki nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok dengan CIMT yang negatif (3.48 vs 5.32). Dari ketiga variabel tersebut tidak ada beda rerata (p>0,05).
Kesimpulan : Tidak terdapat beda rerata antara Skor-MI, hsCRP dan sTNFR-1 pada pasien HD yang mengalami aterosklerosis dan yang tidak aterosklerosis.

Background: Inflammation in hemodialysis is associated with blood contact with dialysis membrane, dialysate solution, vascular access and infection. Increment of pro-inflammatory cytokine plays important role in atherosclerosis development. Inflammation also causes anorexia and hypercatabolism state leading to malnutrition. This condition is called malnutrition-inflammation-atherosclerosis syndrome. Hemodialysis characteristics in Indonesia is different with those in developed countries. Those differences are associated with reuse dialyzer, low flux hemodialysis, inadequate dose of hemodialysis, and unavailability of ultrapure dialysate.
Aim: To determine the mean difference between MI score, hsCRP and sTNFR-1 in hemodyalisis patients with atherosclerosis and non-atherosclerosis.
Methods: This is a cross-sectional study which has involved hemodialysis patients who underwent HD between 3 months to 5 years in Fatmawati Central Hospital. There are 60 subjects collected from December 2013 until February 2014. hsCRP and soluble TNFR-1 were used as inflammation biomarker, MI score was used to assess nutritional status. and carotid doppler ultrasonography was used to assess carotid intima media thickness. This study used T-test and Mann-Whitney for statistical analysis.
Results: Median score for malnutrition-inflammation score in atherosclerotic group is higher than non atherosclerotic group (7 vs 5), while the median sTNFR-1 in atherosclerotic group is lower than non atherosclerotic group (12,126 vs 11,657). Mean hsCRP in atherosclerotic group is higher than non atherosclerotic group (3.48 vs 5.32). There are no mean differences of all those three variables (p>0.05).
Conclusion: No mean differences between MI-score, hsCRP, and sTNFR-1 with atherosclerotic and non-atherosclerotic in HD patients."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library