Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sitanggang, Ruly Bayu
"ABSTRAK

Chain Grate merupakan salah satu komponen pada boiler Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) jenis stoker yang berfungsi sebagai tempat terjadinya pembakaran batubara dan pembuangan abu secara kontinu. Telah terjadi beberapa kegagalan pada komponen tersebut yang menyebabkan penurunan daya mampu atau tidak beroperasinya PLTU. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh variasi nikel terhadap sifat mekanik dan ketahanan oksidasi pada material berbasis Nickel Pig Iron untuk aplikasi Chain Grate PLTU.

Penelitian dilakukan dengan melakukan proses pengecoran Y-Block dengan lima variasi kandungan nikel yaitu 2,5%, 5%, 10%, 15%, 22,5% dan satu material besi cor kelabu sebagai pembanding. Karakterisasi yang dilakukan adalah pengujian komposisi kimia, pengujian kekerasan, pengujian tarik pada temperatur kamar dan temperatur 800oC, analisa struktur mikro menggunakan mikroskop optik dan SEM serta pengujian oksidasi menggunakan media udara dan abu batu batu bara.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penambahan nikel pada besi cor hingga 5% meningkatakan kekuatan tarik dan kekerasan pada temperatur kamar dan akan menurun dengan penambahan nikel dari 10% hingga 22,5% sedangkan kekuatan tarik maksimum pada temperatur 800oC terjadi pada komposisi nikel 10%. Secara umum ketahanan oksidasi yang dimiliki pada besi cor dengan kandungan nikel 2,5% - hingga 22,5% lebih baik dari besi cor kelabu tanpa kandungan nikel.


ABSTRACT

 


Chain Grate are one of stoker boiler component which used to move coal and ash continously and also as place for coal combustion. Several outage happened due to the chain grate failure which cause steam power plant outage or derating. The purpose of thi research is to analyze effect of nickel composition variation to the mechanical properties and oxidation resistance of Nickel Pig Iron base material for Steam Power Plant Chain Grate Application.  

Y-Block sample was cast using five nickel composition variation 2,5 %, 5 %, 10 %, 15 %, 22,5 % dan one gray cast iron for comparison. Materials characterization conducted was chemical composition analysis, hardness test, tension test at room temperature and hot tension test at 800oC, microstructure anaysis using optical microscope and SEM and oxidation test in air and coal ash.

From the result the alloying of Nickel in cast iron up to 5 % increase the strength and hardness and then decrease from 10% up to 22,5 % nickel composition.  The highest hot tensile strength is at 10 % nickel composition. Generally the oxidation resistance of cast iron from 2,5% up to 22,5 % nickel composition have greater oxidation resistance compared to Grey Cast Iron without nickel.

 

"
2019
T53986
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Danar Saputro
"Dengan semakin meningkatnya pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara di Indonesia, maka akan menghasilkan peningkatan produksi limbah abu terbang. Dengan menurunnya penyerapan abu terbang ke pemanfaat mengakibatkan meningkatnya biaya pengelolaan abu terbang. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki bisnis proses pengelolaan abu terbang dengan pendekatan rekayasa ulang bisnis proses agar mendapatkan hasil yang signifikan. Aspek perbaikan pada bisnis proses yang baru meliputi teknis, peraturan dan finansial. Dengan bisnis proses yang baru ini, abu terbang dikendalikan kualitasnya untuk memenuhi persyaratan pemanfaat, meminimalisir potensi pencemaran dan rata-rata untuk biaya pengelolaan abu terbang mengalami penurunan dari Rp 238.214,-/ton menjadi Rp. 70.869,-/ton dan apabila produk paving blok tersebut laku dipasaran dengan harga 50% dibawah harga pasar maka akan mendatangkan benefit untuk perusahaan untuk pengelolaan abu terbang sekitar Rp 272.131,-/ton. Abu terbang bukan lagi menjadi limbah namun bisa mendatangkan benefit bagi perusahaan yang mendukung keberlanjutan bisnis Pembangkitan.

The increasing development of coal fired power plants in Indonesia, it will be increased production of fly ash. With the decrease in the absorption of fly ash to the beneficiaries, the cost of managing fly ash increases. This study aims to improve the business process of fly ash management by business process re-engineering in order to obtain significant results. Aspects of improvement in the new business process include technical, regulatory and financial. With this new process business, fly ash is controlled by quality to meet user requirements, minimizing potential pollution and the average cost of managing fly ash has decreased from IDR 238,214/ton to IDR 70,869/ton and if the paving block product is sold at the market at a price of 50% below the market price, it will bring benefits to the company for the management of fly ash around IDR 272,131/ton. Fly ash is no longer a waste but it can bring benefits to companies that support the power generation business sustainability."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Danar Saputro
"ABSTRAK
Dengan semakin meningkatnya pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara
di Indonesia, maka akan menghasilkan peningkatan produksi limbah abu terbang.
Dengan menurunnya penyerapan abu terbang ke pemanfaat mengakibatkan
meningkatnya biaya pengelolaan abu terbang. Penelitian ini bertujuan untuk
memperbaiki bisnis proses pengelolaan abu terbang dengan pendekatan rekayasa
ulang bisnis proses agar mendapatkan hasil yang signifikan. Aspek perbaikan pada
bisnis proses yang baru meliputi teknis, peraturan dan finansial. Dengan bisnis
proses yang baru ini, abu terbang dikendalikan kualitasnya untuk memenuhi
persyaratan pemanfaat, meminimalisir potensi pencemaran dan rata-rata untuk
biaya pengelolaan abu terbang mengalami penurunan dari Rp 238.214,-/ton
menjadi Rp. 70.869,-/ton dan apabila produk paving blok tersebut laku dipasaran
dengan harga 50% dibawah harga pasar maka akan mendatangkan benefit untuk
perusahaan untuk pengelolaan abu terbang sekitar Rp 272.131,-/ton. Abu terbang
bukan lagi menjadi limbah namun bisa mendatangkan benefit bagi perusahaan yang
mendukung keberlanjutan bisnis Pembangkitan.

ABSTRACT
The increasing development of coal fired power plants in Indonesia, it will be
increased production of fly ash. With the decrease in the absorption of fly ash to the
beneficiaries, the cost of managing fly ash increases. This study aims to improve
the business process of fly ash management by business process re-engineering in
order to obtain significant results. Aspects of improvement in the new business
process include technical, regulatory and financial. With this new process business,
fly ash is controlled by quality to meet user requirements, minimizing potential
pollution and the average cost of managing fly ash has decreased from IDR 238,214
/ ton to IDR 70,869 / ton and if the paving block product is sold at the market at a
price of 50% below the market price, it will bring benefits to the company for the
management of fly ash around IDR 272,131 / ton. Fly ash is no longer a waste but
it can bring benefits to companies that support the power generation business
sustainability."
2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Cahyo
"Penelitian analisis tekno-ekonomi Crude Palm Oil (CPO) bertujuan untuk mengetahui karakteristik viskositas dan densitas CPO sebagai bahan bakar mesin diesel serta dampak penggunaan CPO terhadap karakteristik mesin seperti performance, karakteristik parameter pembakaran, keandalan dan emisi gas buang yang dihasilkan.
Penelitian dilakukan dengan metode pengujian operasi (running test) menggunakan 100% CPO selama 375 jam 58 menit pada mesin diesel Type MAK 8M453B dengan 8 cylinder inline dan daya mampu gross 1,200 KW. Suhu pemanasan CPO pada Flow Control Module selama pengujian dijaga pada rentang 77 0C s.d 83 0C untuk mendapatkan rentang viskositas kinematik CPO di inlet mesin  sebesar 11 cSt s.d. 13 cSt. Selama running test, dilakukan uji performance, uji karakteristik pembakaran (engine analyzer), uji emisi gas buang dan pengambilan sampel CPO. Sementara sebelum dan sesudah running test dilakukan uji sampel CPO serta minyak pelumas. Uji Scanning Electron Microscope (SEM) juga dilakukan untuk mengetahui komposisi logam pada deposit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa viskositas kinematik dan densitas CPO cenderung menurun ketika suhu dinaikkan dengan kurva berbentuk parabolic polinomial untuk viskositas kinematik dan cenderung linier untuk densitas. Specific Fuel Consumption (SFC) pada beban maksimum 1.200 kW gross sebesar 0,298 liter/kWh. Persamaan polinomial SFC terhadap beban adalah y = 10-07x2 - 0,0003x + 0,4496. Kadar emisi gas buang NOx sebesar 2.075,4 mg/Nm3 s.d. 2797,7 mg/Nm3, melebihi batasan standar baku mutu lingkungan (maksimum 1.400 mg/Nm3). Terbentuk deposit keras berupa lelehan di permukaan cylinder head, piston dan valve serta nozzle dengan kandungan komposisi logam Calcium (Ca) yang bersifat keras dan sulit dibersihkan. Akumulasi deposit menyebabkan tergoresnya dinding permukaan liner.
Pengoperasian menggunakan bahan bakar CPO menurunkan tekanan pembakaran sebesar 14 % pada beban maksimum dibandingkan beroperasi menggunakan biodiesel/B20; menurunkan Indicated Horse Power (IHP) mesin rata-rata sebesar 7,44 %; memperpendek interval pemeliharaan periodik yang berdampak pada peningkatan signifikan pada kebutuhan biaya fix dan variable O&M dan penurunan capacity factor mesin. Kualitas minyak pelumas mengalami degradasi dengan indikasi kenaikan viskositas minyak pelumas dan terdapat kenaikan kontaminan logam silica (Si) dan besi (Fe).
Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis keekonomian, harga keekonomian CPO tahun 2018 sebesar Rp.7.238,11/liter, lebih rendah Rp. 1.142,73/liter terhadap harga indeks pasar rata-rata pada tahun 2018. Sementara pada tahun 2019, harga keekonomian bahan bakar CPO sebesar Rp. 6.515,25/liter, lebih rendah Rp. 1.002,54/liter terhadap harga indeks pasar rata-rata CPO pada tahun 2019 dan lebih rendah Rp. 1.857,42/liter terhadap harga suplier CPO di ULPLTD-MG Bontang.

The techno-economic analysis of Crude Palm Oil (CPO) aims to determine the viscosity and density characteristics of CPO as diesel engine fuel and the impact of CPO use on engine characteristics such as performance, characteristics of combustion parameters, reliability and exhaust emissions produced.
The research method was carried out by running test using 100% CPO for 375 hours 58 minutes on a diesel engine MAK Type 8M453B with 8 inline cylinders and a gross capable power of 1,200 kW. CPO heating temperature in the Flow Control Module during testing is maintained in the range of 77 0C to 83 0C to get the kinematic viscosity range of CPO at the engine inlet of 11 cSt to 13 cSt. During the running test, a performance test, a combustion characteristics test (engine analyzer test), a flue gas emission test and CPO sampling was conducted. While before and after running test CPO and lubricant oil samples were tested. The Scanning Electron Microscope (SEM) test was also carried out to determine the metal composition of the deposit.
The results showed that kinematic viscosity and CPO density tended to decrease when the temperature was raised with a polynomial shaped parabolic curve for kinematic viscosity and tended to be linear for density. Specific Fuel Consumption (SFC) at a maximum load of 1,200 kW gross is 0,298 liters/ kWh. The SFC polynomial equation for load is y = 10-07x2 - 0,0003x + 0,4496. NOx exhaust gas emission levels of 2,075.4 mg/Nm3 s.d. 2,797.7 mg/Nm3, exceeding the limits for environmental quality standards (maximum 1,400 mg/Nm3). A hard deposit formed in the form of a melt on the surface of the cylinder head, piston and valve as well as a nozzle with a metal composition of Calcium (Ca) which is hard and difficult to clean. Accumulated deposits cause scratching of the liner surface.
Operations using CPO fuel reduce combustion pressure by 14% at maximum load compared to operating using biodiesel/ B20; reduce machine Indicated Horse Power (IHP) by an average of 7.44%; shortening periodic maintenance intervals which results in a significant increase for fix and variable O&M costs and a decrease in engine capacity factor. The quality of the lubricating oil is degraded with an indication of an increase in the viscosity of the lubricating oil and an increase in metal (Si) and iron (Fe) contaminants.
Based on economic analysis, the economic price of CPO in 2018 is Rp.7,238.11 /liters, lower Rp. 1,142.73 /liters against the average market index price in 2018. While in 2019, the economic price of CPO fuel is Rp. 6,515.25 / liters, lower Rp. 1,002.54 / liters against the CPO average market index price in 2019 and lower Rp. 1,857.42 / liters of CPO supplier prices in ULPLTD-MG Bontang.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
T54036
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Richard
"Semakin meningkatnya kebutuhan dan kesadaran akan pemakaian energi baru dan terbarukan (EBT) memaksa piranti penyimpanan energi untuk bekerja dengan lebih baik. Melalui penelitian ini, dihasilkan kapasitor lithium-ion (KLI) dengan kapasitas yang lebih baik dari penelitian sebelumnya. Pada penelitian ini, kapasitor lithium ion setengah sel disusun menggunakan elektroda berbahan karbon aktif dengan memanfaatkan katoda berbahan dasar green coke. Pengujian BET menunjukkan bahwa proses aktivasi dapat menghasilkan karbon aktif dengan luas permukaan yang sangat tinggi, mencapai  2024 m²/g. Sementara pengujian elektrokimia KLI menunjukkan bahwa semakin tinggi SSA, maka kapasitasnya menjadi lebih besar, dan pada penelitian ini, dicapai energi spesifik sebesar  0,4256 Wh/kg dan daya spesifik 1,7024 W/kg dengan kapasitas KLI 25 mAH.

The increasing need and awareness of the use of new and renewable energy forces energy storage devices to work better. Through this research, lithium-ion capacitors are produced with better capacity than previous studies. In this study, half-cell lithium ion capacitors (LIC) were arranged using electrodes made from activated carbon using green coke-based cathodes. BET testing shows that the activation process can produce activated carbon with a very high spesific surface area (SSA), reaching 2024 m²/g. While LIC's electrochemical testing showed that the higher the SSA, the greater the capacity, and in this study, a specific energy of 0.4256 Wh/kg and a specific power of 1.7024 W/kg and a LIC of 25 mAH was achieved."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rhaditia Kurnia Asyuri
"Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis dan memiliki puluhan ribu pulau. Salah satu tantangannya adalah negara kepulauan umumnya memiliki sumber daya lokal yang terbatas dan biaya impor energi yang tinggi. Teknologi energi terbarukan di sebagian besar pulau seringkali tidak beroperasi dan tidak berlanjut karena banyaknya masalah yang terlibat, salah satunya adalah ketidakjelasan pengelolaan dan aset dari pembangkit listrik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberlanjutan energi terbarukan dalam memasok listrik kepada masyarakat dalam jangka panjang dan akan memaparkan keterkaitan antara kesejahteraan masyarakat dengan hadirnya teknologi energi terbarukan. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dan kuesioner dengan skala likert. Penelitian dilakukan di dua pulau, yakni pulau Mecan dan pulau Sabira. Data yang diperoleh disimulasikan dalam bentuk System Dynamics, salah satu langkah dari systems thinking, dengan menggunakan alat bantu Powersim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PLTS mampu dikelola sepenuhnya oleh masyarakat sampai dengan keberlanjutan biaya Operation & Maintenance dari pembangkit, meskipun biaya replacement cost dari powerplant tetap dibutuhkan bantuan dari pemerintah dan kementerian. Sedangkan hasil di pulau Sabira, meskipun pembangkit listrik masih beroperasi, insentif dan subsidi pemerintah menjadi ketergantungan yang kuat bagi masyarakat agar ketersediaan listrik selalu terjaga.

Indonesia is a country with a tropical climate and has tens of thousands of islands. One of the challenges is that archipelagic countries generally have limited local resources and high energy import costs. Renewable energy technologies in most islands are often not running and are unsustainable due to the many problems involved, one of which is the lack of information on management and generating assets. This research aims to explain what factors affect the sustainability of renewable energy in supplying electricity to the community in the long term and will present the interrelation between the local people’s welfare and the presence of renewable energy technology. The method used is an in-depth interview and questionnaire with a Likert scale. The research was conducted on two islands, namely Mecan Island and Sabira Island. The data obtained is simulated in the form of System Dynamics, one of the methods of systems thinking, by using the Powersim software tools. The results show that the Solar Power Plant can be fully managed by the local community and is also related to the Operation & Maintenance costs of the power plant, although the replacement cost of the power plant still requires assistance from the government and the ministry. While the results on Sabira Island, although the power plant is still operating, government incentives and subsidies become a heavy dependence for the people, so that the availability of electricity access is always maintained."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Imanul Ilmi
"Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model truk diesel sederhana dengan daya 709 kW dan truk elektrik dengan daya 600 kW dengan fokus pada konsumsi energi dari hasil simulasi. Validasi model dilakukan dengan membandingkan data referensi dengan hasil simulasi kecepatan kendaraan menggunakan model dinamik longitudinal. Variasi kecepatan diterapkan pada masukan model referensi untuk mendokumentasikan dinamika pengoperasian kendaraan. Model yang dikembangkan secara efektif mengikuti siklus mengemudi dalam berbagai kondisi tetapi akurasinya menurun seiring dengan meningkatnya tantangan beban dan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa model tersebut dapat diandalkan untuk skenario dasar namun mungkin memerlukan penyempurnaan lebih lanjut untuk kondisi ekstrem. Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui dampak kemiringan jalan dan faktor eksternal terhadap konsumsi bahan bakar kendaraan. Hasilnya menunjukkan bahwa beban kemiringan yang lebih tinggi menyebabkan peningkatan konsumsi bahan bakar, dengan konsumsi tertinggi terjadi selama akselerasi kendaraan karena peningkatan kebutuhan torsi. Sebaliknya, skenario tanpa beban tambahan dari kemiringan jalan atau hambatan angin menunjukkan konsumsi bahan bakar yang jauh lebih rendah dan stabil. Hal ini menegaskan pengaruh signifikan faktor eksternal seperti kemiringan jalan dan angin terhadap efisiensi konsumsi energi. Analisis skenario tanpa beban dan kemiringan jalan (5% & 8%) menunjukkan tingkat konsumsi energi yang jauh lebih rendah, sehingga menunjukkan bahwa peningkatan kemiringan jalan dan kecepatan angin akan meningkatkan beban alat berat dan konsumsi energi. Studi tersebut juga menekankan pentingnya penghitungan Total Biaya Kepemilikan (TCO) untuk mengevaluasi efisiensi investasi dan operasional truk diesel dan listrik. Analisis TCO mempertimbangkan biaya pembelian, pemeliharaan, ban, dan komponen CAPEX, dengan fokus pada umur kendaraan 40.000 jam dan tingkat pemanfaatan 65%. Penelitian ini bertujuan untuk membantu pengambil keputusan dalam memilih kendaraan irit sesuai kebutuhan operasional. Grafik dan tabel tersebut membandingkan TCO truk diesel dan truk elektrik dalam tiga skenario operasional yang berbeda, menunjukkan bahwa truk elektrik menawarkan TCO yang lebih rendah di semua skenario. Hasil ini menegaskan keunggulan ekonomi dan efisiensi jangka panjang truk elektrik dibandingkan truk diesel dalam berbagai kondisi operasional.

This research aims to develop a simple diesel truck model with a power of 709 kW and an electric truck with a power of 600 kW, focusing on energy consumption from the simulation results. Model validation is carried out by comparing reference data with the results of vehicle speed simulations using a longitudinal dynamic model. Speed variations are applied to the input of the reference model to document the operating dynamics of the vehicle. The developed model effectively follows the driving cycle under various conditions but decreases in accuracy as load and environmental challenges increase. This indicates that the model is reliable for the baseline scenario but may require further refinement for extreme conditions. A sensitivity analysis was conducted to investigate the impact of road slope and external factors on vehicle fuel consumption. The results show that higher tilt loads lead to increased fuel consumption, with the highest consumption occurring during vehicle acceleration due to increased torque requirements. In contrast, the scenario without additional loads from road gradients or wind resistance shows much lower and more stable fuel consumption. This confirms the significant influence of external factors such as road grade and wind on energy consumption efficiency. The analysis of the no-load and road (5% & 8%) grade scenarios shows much lower energy consumption levels, suggesting that increasing the road grade and wind speed increases the machine load and energy consumption.

The study also emphasizes the importance of calculating the Total Cost of Ownership (TCO) to evaluate the investment and operational efficiency of diesel and electric trucks. The TCO analysis considers purchasing, maintenance, tire, and component CAPEX costs, focusing on a vehicle life of 40,000 hours and a utilization rate of 65%. This study aims to help decision-makers choose economical vehicles according to operational needs. The graphs and tables compared the TCO of diesel and electric trucks in three different operational scenarios, showing that electric trucks offer lower TCO in all scenarios. These results confirm the long-term economic and efficiency advantages of electric trucks over diesel trucks under various operational conditions."

Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mahpudi Baisir
"Langkah konservasi energi penelitian ini mengupayakan peningkatan efisiensi pada teknik co-firing yang sudah umum dilakukan di Indonesia melalui sistem pengering biomassa. Percobaan dilakukan melalui pengujian salah satu pembangkit PLTU di area Jawa Barat dengan daya terpasang 3 x 350 MW yang sudah menerapkan co-firing sejak tahun 2021. Sistem pengering dipilih menggunakan jenis Rotary Drum Dryer dengan media pemanas berupa limbah panas gas buang exit boiler yang diambil setelah IDF #1 dengan tekanan ± 20 pa dan temperature 150 oC. Tekanan keluaran IDF #1 sangat rendah membutuhkan energi tambahan besar centrifugal fan dalam menyalurkan flue gas melalui pipa sepanjang ± 500 m sampai menuju lokasi dryer di area coal yard, dekat penyimpanan biomassa dan conveyor batu bara penyuplai bahan bakar ke sistem pembangkit. Biomassa disupplai dari pengusaha lokal sekitar lokasi pembangkit antara lain terdiri dari 90% sawdust dan 10% sekam padi. Memiliki kandungan rata-rata moisture campuran ( 44,57% dan rata-rata calorific value campuran ( 2.673,72 Kcal/Kg. Kapasitas pengering disesuaikan dengan kemampuan supplai biomassa sebesar 200 t/day. Pengujian dilakukan menggunakan simulasi pengering rotary dryer pada Aspen Plus dengan memvariasikan flow inlet biomass 8, 9 dan 10 t/h, flue gas flow 70, 80 dan 90 t/h serta residence time 15, 20 dan 25 menit. Moisture produk dry biomass terendah diperoleh 6,54% pada pengujian flow inlet biomass 8 t/h, flue gas flow 90 t/h dan residence time 25 menit. Hasil simulasi Aspen kemudian dibandingkan pada 5 kriteria penilaian kelayakan investasi yaitu NPV, IRR, Payback Period (PBP), Benefit and Cost (B/C) Ratio dan ROI. Hasilnya walaupun moisture produk dry biomass diperoleh lebih besar 10,9%, namun nilai NPV, IRR dan PBP, masing-masing sebesar Rp. 116.445.284.041,63, 150,32% dan 0,67 tahun, diperoleh sebagai yang terbaik pada pengujian flow inlet biomass 10 t/h, flue gas flow 90 t/h dan residence time 25 menit. Hal ini karena flow rate produk dry biomass lebih besar sehingga mampu membangkitkan selisih energy output yang lebih besar pula pada generator pembangkit. Sedangkan hasil terbaik B/C Ratio dan ROI, masing-masing sebesar 4,14 dan 314,12%, didapatkan saat pengujian flow inlet biomass 10 t/h, flue gas flow 80 t/h dan residence time 25 menit, hal ini karena energi tambahan untuk mendorong flue gas lebih kecil sehingga mempengaruhi B/C Ratio dan ROI. Penurunan energy output dan operational duration harus sedapat mungkin dihindari karena dampaknya sangat significant dalam menurunkan nilai 5 kriteria penilaian investasi. Validasi desain sistem pengering pada Aspen juga dilakukan untuk mengetahui akurasi.

This energy-conservation research aims to improve the efficiency of the cofiring process, which is widely utilized in Indonesia, using a biomass drying system. The experiment was conducted on a steam-coal power station in the West Java area with an installed power of 3 x 350 MW, which has been using cofiring since 2021. The drying method was selected utilizing a Rotary Drum Dryer type with a heating medium from waste heat of exhaust boiler flue gas obtained after IDF # 1, with pressure ± 20 pa and temperature 150 oC. The output pressure of IDF #1 is very low, requiring large additional energy from the centrifugal fan to flow the flue gas through a pipe measuring ± 500 m long to the dryer location in the coal yard area, near the biomass storage and coal conveyor that supplies fuel to the boiler system. Biomass is supplied from local suppliers around power plant location, consisting of 90% sawdust and 10% rice husks. It has an average mixed moisture content  44.57% and an average mixed calorific value  2,673.72 Kcal/Kg. The dryer capacity is adjusted to the biomass supply capability of 200 t/day. Experiments were carried out using a rotary dryer simulation on Aspen Plus by varying biomass inlet flow of 8, 9 and 10 t/h, flue gas flow of 70, 80 and 90 t/h and residence time of 15, 20 and 25 minutes. The lowest dry   biomass product moisture was obtained at 6.54% in the biomass inlet flow test of 8 t/h, flue gas flow of 90 t/h and residence time of 25 minutes. The results from Aspen simulation then compared with 5 investment assessment criteria: NPV, IRR, Payback Period (PBP), Benefit and Cost (B/C) Ratio and ROI. Even though the moisture content of the dry   biomass product was 10.9%, which was higher than the smallest value, the biomass inlet flow test yielded the best NPV, IRR, and PBP values, including Rp. 116,445,284,041.63 for NPV, 150.32% for IRR, and 0.67 years for PBP, with a biomass inlet flow test of 10 t/h, a flue gas flow of 90 t/h, and a residence time of 25 minutes. This is because the flow rate of the dry   biomass product is greater, so it can generate a larger energy output in the power plant generator. Meanwhile, the best B/C Ratio and ROI findings, including 4.14 and 314.12%, were obtained by testing the biomass inlet flow of 10 t/h, flue gas flow of 80 t/h, and residence period of 25 minutes, this is because the additional energy to push the flue gas is smaller, thus affecting the B/C Ratio and ROI. Decreasing energy output and operational duration must be avoided wherever possible because the impact is very significant in reducing the value of the 5 investment assessment criteria. Validation of the drying system design for Aspen was also carried out to determine accuracy."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fasri Hatomi
"Bertambahnya kebutuhan energi listrik di IKN akan berdampak pula pada bertambahnya penggunaan pembangkit listrik. Pengembangan energi listik kedepannya di IKN diharapkan akan menggunakan lebih banyak energi terbarukan. Untuk dapat menekan penggunaan energi fosil, salah satunya dapat dilakukan dengan memanfaatkan energi surya sebagai sumber energi listrik terbarukan. Pada penelitian ini akan membahas terkait dengan pengembangan energi terbarukan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 50 MW dengan skema KPBU-AP dan IPP di Ibukota Negara (IKN). Dalam menetapkan skema yang sesuai, dilakukan penilaian proyek dengan mempertimbangkan parameter penilaian keuangan yang terdiri dari Net Present value (NPV), Internal rate Return (IRR), dan Payback Period (PP) sebagai dasar dan pertimbangan dalam kelayakan finansial project investasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema KPBU-AP lebih menguntungkan dari sisi investor dalam hal stabilitas pendapatan dan memperoleh jaminan dari pemerintah sehingga dapat meminimalisir resiko, sementara skema IPP bergantung pada jumlah listrik yang dihasilkan dan dijual yang memiliki potensi ketidakpastian. Dengan parameter yang sudah ditentukan dan regulasi, skema KPBU-AP dapat memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan skema IPP dengan menghasilkan nilai IRR sebesar 11,26%, NPV sebesar 163.472 (juta rupiah) dan payback period selama 8 tahun dibandingkan dengan skema IPP diperoleh IRR sebesar 8,61%, NPV sebesar 33.973 (juta rupiah) dan payback period selama 9 tahun.

The increasing demand for electrical energy in the New National Capital (IKN) will lead to a rise in the use of power plants. Future development of electrical energy in IKN is expected to utilize renewable energy sources. To reduce the use of fossil energy, one approach is to harness solar energy as a renewable electrical energy source. This study discusses the development of a 50 MW solar power plant (PLTS) using the PPP-AP and IPP schemes in IKN. In determining the appropriate scheme, a project assessment was conducted by considering financial evaluation parameters including Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), and Payback Period (PP) as the basis and consideration for the business entity. The results show that the KPBU-AP scheme is more advantageous for investors regarding income stability and government guarantees, thereby reducing risks. In contrast, the IPP scheme depends on the amount of electricity generated and sold. With the specified parameters and regulations, the KPBU-AP scheme provides greater benefits compared to the IPP scheme, yielding an IRR of 11.26%, an NPV of 163,472 million rupiahs, and a payback period of 8 years. In contrast, the IPP scheme yields an IRR of 8.61%, an NPV of 33,973 million rupiahs, and a payback period of 9 years."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Surya Budi Ariyadi
"Pemerintah Indonesia mencanangkan program penggantian pembangkit listrik lama berbahan bakar fosil dengan pembangkit listrik Energi Terbarukan. Meskipun irradiasi matahari di negara ini baik, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik (PLTS) masih menghadapi hambatan-hambatan. Dalam penelitian ini dilakukan analisa tekno-ekonomi untuk mendapatkan desain PLTS yang optimal menggunakan HOMER Pro dan analisa kelayakan proyek melalui metode Discounted Cash Flow. Hasilnya, desain yang paling optimal adalah sistem tekoneksi jaringan dengan inverter 1 string sebesar 8MW serta opsi penggunaan baterai dan sistem penyimpan energi (BESS) sebesar 22,5 MWh 600V. PLTS tanpa BESS mendapatkan WACC sebesar 8,52%, PI sebesar 1,39, dan IRR sebesar 21,30%. Sedangkan PLTS dengan BESS memerlukan intervensi untuk meningkatkan keekonomian. Intervensi yang diuji dalam penelitian ini adalah pajak karbon, skema lelang kompetitif, pembangunan jalur transmisi, dan penyesuaian tarif. Kombinasi penerapan pajak karbon sebesar USD 3,6 sen/ton CO2e dan penyesuaian tarif minimum +36,15%, menghasilkan keekonomian yang lebih baik dengan IRR sebesar 14,74%. Skema lelang kompetitif dapat meningkatkan kelayakan skenario “dengan BESS” dengan WACC sebesar 1,88%, dan IRR sebesar 5,89%. Meskipun pengembangan PLTS tanpa BESS dapat dilakukan, risiko yang menyebabkan peningkatan modal harus dihindari. Sementara PLTS dengan BESS harus diintervensi untuk menurunkan biaya modal.

The Government of Indonesian launched programs of old fossil fuel-based power plants replacement with Renewable Energy power plant. Despite abundant solar irradiance in the country, solar photovoltaic (PV) power plant (Solar PV) development is facing interfering barriers. This research carried out techno-economic analysis of Solar PV design to obtain the most optimum design by using HOMER Pro and exercise project feasibility through Discounted Cash Flow method. The result shows that the most optimum technical design is grid-connected equipped with 1 string inverter of 8MW and optional Battery and Energy Storage System (BESS) of 22.5 MWh 600V. Without BESS Solar PV earned WACC of 8.52%, PI of 1.39, and IRR of 21.30%. While the development of solar PV power plant with BESS requires several interventions to enhance the economic. Some tested intervention i.e. carbon tax, competitive auction scheme, transmission line development, and tariff adjustment. A combination of Carbon Tax implementation of cents USD 3,6/ton CO2e and tariffs adjustment of minimum +36,15%, results in higher economic with IRR of 14.74%. A competitive auction scheme could enhance the feasibility level of “with BESS” scenario with WACC of 1.88%, and IRR of 5.89%. Despite of solar PV power plant without BESS development is feasible, some risks which lead to capital increasement should be avoided. While solar PV power plant with BESS development should be intervened by some measures to lower the capital cost."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>