Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 33 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sri Sulasminingsih
"In order to find an alternative method for the physical properties improvement of rayon sheet, a chemically graft copolymerization of acrylamide to rayon sheet by using cerric ammonium nitrate as an initiator under nitrogen atmosphere had been, successfully, carried out. Several circumstances that influence the degree of grafting and physical properties of rayon sheet were studied at various concentration of initiator, concentration of monomer (acrylamide), period of pre-initiation time, temperature and time of grafting process. The occurrence of acrylamide grafted to rayon sheet was evaluated by measuring the increase in weight of the treated rayon sheet and by the appearance of specific IR spectrum. Moreover, mechanical and physical property e.g. tensile strength unit, rigidity unit, and color absorption of the original rayon and grafted rayon were also evaluated.
The results from the mentioned study, briefly, can be reported as follow. In general, the degree of grafting (%grafting) increases with the increasing or initiator concentration, monomer concentration, temperature and time period of grafting process. Coincidentally, in all cases the value of rigidity unit and the ability to absorb particular dyes increase in line with the increasing in the degree of grafting. The tensile strength unit of the grafted rayon, however, does not show the similar trend. It was observed that the tensile strength unit showed an improvement only up to certain value of the degree of grafting, then become worst on farther increasing in the degree of grafting.
The degree of grafting that result the best tensile strength unit (optimum) was found to be in the values in of 11 to 12 % . The experimental condition that results the mentioned degree of grafting can be achieved by combination of initiator concentration, acrylamide concentration, pre-initiation time, grafting process time, and grafting temperature at 0.5 %; 4%; 5minutes; 35 minutes; and 60° C, respectively. The occurrence of grafted acrylamide to rayon sheet was also evidenced by appearing IR signal at 1684 cm 1 (for the indication of the introduction of carbonyl group). Although not very clear, due to absorption band overlapping from hydroxyl group, the IR signal at 3362 cm-1 and 3373 cm " (for the indication of amide group introduction) provide another evidence for the successful of grafting process.

Pencangkokan akrilamida pada kain rayon secara kimiawi dengan menggunakan inisiator ceric ammonium nitrat didalam atmosfir nitrogen, sebagai upaya alternalif untuk memperbaiki sifat-sifat fisik rayon, telah berhasil dilakukan. Pengaruh beberapa faktor terhadap-besarnya kadar pencangkokan dan sifat-sifat fisik rayon dipelajari dengan memvariasikan, antara lain, konsentrasi inisiator, konsentrasi monomer, waktu pra inisiasi, temperatur dan waktu pencangkokan. Keberhasilan terjadinya pencangkokan akrilamida pada kain rayon ditandai atau diarnati dengan kenaikan berat rayon (persen pencangkokan) dan perubahan spesifik spektrum infra merahnya. Terhadap rayon asli dan rayon tercangkok dilakukan beberapa evaluasi sifat fisik yang meliputi uji kekuatan tarik, uji kekakuan, dan daya scrap terhadap zat warna.
Dari penelitian yang lelah dilakukan dapat dilaporkan bahwa harga persen pencangkokan semakin besar dengan semakin tingginya konsentrasi inisiator, konsentrasi monomer, temperatur dan waktu pencangkokan. Sementara itu dari uji sifat fisik ditemukan bahwa dengan semakin besarnya harga persen pencangkokan maka daya serap terhadap zat warna dan kekakuannya semakin besar. Namun tidak demikian dengan kekuatan dari kain rayon yang tercangkok. Ditemukan bahwa kekuatan tarik kain rayon naik sejalan dengan besarnya persen pencangkokan hanya sampai pada harga persen pencangkokan tertentu, kemudian turun lagi meskipun harga persen pencangkokannya bertambah hesar.
Besarnya persen pencangkokan tertentu tersebut, yang memberikan kekuatan tarik paling besar (optimum), dicapai pada persen pencangkokan sebesar 11 sampai dengan 12 %. Sedangkan kondisi-kondisi untuk memperoleh persen pencangkokan tersebut dapat dicapai dengan konsentrasi irisiator, konsentrasi monomer , waktu pra inisiasi, waktu pencangkokan, dan suhu pencangkokan masing masing sebesar 0,5 %, 4 %, 5 rnenit, 35 menit dan 60° C. Disamping itu dapat dilaporkan bahv,ra keberhasilan pencangkokan akrilamida pads kain rayon ditandai dengan munculnya puncak serapan 1R pada bilangan gelombang 1684 cm-' sebagai indikasi terintroduksikannya gugus karbonit [C=D] dan, meskipun tidak terlalu nyata karena adanya tumpang suh dengan pity serapan gugus hidroksi, kecenderungan adanya puncak serapan pada bilangan geloinbang 3362 cm"' dan 3373 cm-' sebagai indikasi terintroduksinya gugus amida pada kain rayon."
Depok: Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cita Tri Aryuni
"ABSTRAK
Telah dilakukan optimasi dan validasi metode analisa yang sederhana tetapi sensitif secara LCMSMS untuk menetapkan kadar akrilamid dalam keripik kentang agar dapat dilakukan pengujian dan pengawasan akrilamid dalam keripik kentang yang beredar di pasaran.
Pada penelitian ini pengembangan metode dilakukan dengan cara penggunaan ekstraksi fase padat (SPE), ektraksi berulang menggunakan pelarut asa formiat 10 mM dan presipitasi suhu rendah dengan sentrifugasi untuk menghilangkan pengaruh matriks pada analit. Penggunaan kolom fase terbalik C-18 yang sedikit lebih polar dilakukan untuk memperoleh pemisahan akrilamid yang lebih baik. Kromatografi cair yang digunakan menggunakan sistem gradien dengan fase gerak asam formiat 10 mM dan metanol sehingga diperoleh selektifitas yang lebih baik. Parameter unjuk kerja presisi, akurasi dan perolehan kembali dilakukan untuk meyakinkan metode analisis ini dapat digunakan sebagai metode yang telah divalidasi untuk penggunaan secara rutin dalam laboratorium makanan. Akrilamid diretensi pada 5,4 menit dengan batas deteksi yang diperoleh yaitu 7,09 ng/g dan rentang perolehan kembali sebesar 97,45 – 100,25%. Simpangan baku relatif sebesar 1,6% untuk keberulangan. Hasil yang baik ini menunjukkan bahwa metode dapat digunakan sebagai metode analisis rutin untuk pengujian dalam laboratorium.

ABSTRACT
Optimization and validation of analytical methods in the determination of acrylamide levels of potato chips by LCMSMS as a simple and sensitive method was carried out in order to do the testing and monitoring of acrylamide in potato chips on the market in Indonesia.
In this research, method development was done by the use of solid phase extraction (SPE), repeated extraction using 10 mM formic acid solution and precipitation low temperature by centrifugation. The use of C-18 reversed-phase columns were slightly more polar performed to obtain a better separation of acrylamide. Eluent system of liquid chromatography using a time programme gradient in order to obtain a better selectivity. The mobile phase was a mixture of 10 mM formic acid and metanol. The performance parameters of precision, accuracy and recovery were conducted to assure the analytical method applicable in house validation method. The retention time for acrylamide was 5,4 minute; limit of detection was 7.09 ng/g; recoveries ranged from 97.45 to 100.25%; coefficients of variation was 1.6% for repeatability test. The good results showed that the method has been successfully set up to serve as a routinely analytical methods for testing in the laboratory."
Universitas Indonesia, 2013
T32962
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Yahdiana
"Acrylamide is a chemical substance which derived from acrylonitrile, is the material used in polyacrylamide production. Recent research has found acrylamide is contained in some food, especially food is rich in carbohydrate and treated in high temperature (more than 120°C). Due to its nature, acrylamide is classified as a hazardous material to be contained in human?s food. The International Agency for Research on Cancer (IARC) has classified acrylamide into group 2A (probably carcinogenic for humans). Many methods that used to analyse the acrylamide in some foods with sophisticated equipment, and in department of pharmacy FMIPA-UI there were also develop the method with simple extraction and conventional HPLC."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2006
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Yahdiana
"A method by high performance liquid chromatography for the analysis of acrylamide in potato chips, is reported. The retention time for the elution of acrylamide from the C18RP column ranged from 3 to 3,2 minutes, and the eluate was analyzed by UV-VIS detector. A linear response was found for the acrylamide standard tested within the concentration range of 0,8 ? 10ìg/ml and the corelation coefficient (r) greater than 0,999, with detection limit 0,06 ppm and quantitative limit 0,19 ppm. Sample preparation was performed by means of solvent extraction using dichlormethane and subsequent re-extraction of the organic solvent with water. This aqueous sample solution was found to be free of any interferences and gave acrylamide and recorveries higher than 90%."
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2005
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Nia Kurniatin
"ABSTRAK
Akrilamida merupakan senyawa yang bersifat toksik dan karsinogen yang biasa ditemukan pada makanan yang diolah pada suhu tinggi. Pada penelitian ini, diproduksi antibodi poliklonal anti akrilamida. Hapten N-acryloxusuccinimide (NAS) disintesis dari asam akrilat dan N-hydroxusuccinimide (NHS) dengan linker yang digunakan yaitu N-ethyl-N’-(3-dimethylaminopropyl) carbodiimide (EDC). Hapten yang telah disintesis dikonjugasikan dengan protein pembawa yaitu bovine serum albumin (BSA) kemudian diinjeksikan pada kelinci untuk diperoleh antibodi. Antibodi yang diperoleh kemudian digunakan untuk biosensor akrilamida. Horseradish peroxidase (HRP) digunakan sebagai label antibodi. Hidrogen peroksida (H2O2) digunakan sebagai monitor aktivitas HRP, aktivitas HRP ini sebanding dengan jumlah antibodi dan akrilamida. Pengukuran dilakukan secara elektrokimia menggunakan elektroda boron-doped diamond (BDD) terdeposit Platina (Pt). Hasil sintesis NAS dikarakterisasi dengan menggunakan spektroskopi UV-Visible untuk mengetahui reaktivitasnya pada panjang gelombang maksimum (260nm) yang menunjukkan bahwa NAS reaktif terhadap gugus amina dan dapat digunakan untuk biokonjugasi, FTIR dan kromatografi lapis tipis. Berdasarkan hapten yang disintesis, antibodi poliklonal anti akrilamida dapat diperoleh dan digunakan sebagai sensor untuk akrilamida dengan menggunakan metode voltammetri siklik

ABSTRACT
Acrylamide is a toxic and carcinogenic compound, which is commonly found in foods that prepared by using high temperature process. In this study, antibody of acrylamide was prepared. Hapten of acrylamide was prepared by synthesizing N-acryloxysuccinimide (NAS) from acrylic acid and N-hydroxysuccinimide (NHS) in the presence of N-ethyl-N’-(3-dimethylaminopropyl) carbodiimide (EDC). The hapten was conjugated with bovine serum albumin as a carrier protein and injected into rabbits to obtain antibodies. The antibodies were then applied for acrylamide biosensors. Horseradish peroxidase (HRP) was used as the label for the antibodies. Hydrogen peroxide (H2O2) is used to monitor the activity of HRP, which is equivalent to the amount of the antibodies and acrylamide. Electrochemical technique was used with platinum-modified boron-doped diamond electrode (Pt-BDD) as the working electrode. The result of synthesis NAS was analyzed by UV-visible spectroscopy to determine reactivity at maximum wavelength of 260nm showed that NAS reactive to amino then bioconjugation. Thin layer chromatography and FTIR were also used to confirm the product. Based on highest cross reactivity, antibody acrylamide can be successfully produced and it is promising to be applied for acrylamide sensor based on electrochemical technique using cyclic voltammetry;;"
2016
T46798
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yustina
"Akrilamida merupakan monomer hasil depolimerisasi poliakrilamida akibat adanya pengaruh suhu, cahaya dan pH. Akrilamida juga dapat ditemukan pada produk pangan dengan pengolahan suhu tinggi. Akrilamida dapat menginduksi terbentuknya Reactive Oxygen Species (ROS) seperti radikal hidroksil. Radikal hidroksil dapat berinteraksi dengan basa guanin membentuk DNA adduct 8-hidroksi 2'-deoksiguanin (8-OHdG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembentukan 8-OHdG akibat paparan akrilamida yang berinteraksi dengan logam Cu (I). Penelitian ini dilakukan secara in vitro dan in vivo. Studi dilakukan secara in vitro melalui reaksi Fenton antara 2'- deoksiguanosin (2dG) dengan akrilamida dan Cu (I). Reaksi dilakukan pada suhu 37 °C, variasi pH 7,4 dan 8,4, serta variasi waktu inkubasi 4, 8, 12 dan 24 jam. Studi in vivo dilakukan pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague-Dawley yang diberikan paparan akrilamida serta kombinasi akrilamida dan Cu (I) dengan dosis yang berbeda selama 21 hari. Hasil studi in vitro dianalisis menggunakan LC-MS/MS QTOF dan plasma darah hasil studi in vivo dianalisis menggunakan ELISA. Inkubasi pada pH 7,4, suhu 37 °C dan waktu inkubasi 24 jam memberikan konsentrasi 8-OHdG tertinggi sebesar 19,09 ng/mL. Konsentrasi tertinggi 8-OHdG dalam plasma darah terdapat pada kelompok paparan akrilamida 25 mg/kg BB dan Cu (I) 10 mg/kg BB sebesar 1,31 ng/mL. Berdasarkan hasil studi in vitro dan in vivo yang telah dilakukan, hal ini menunjukkan terdapat sinergisitas antara akrilamida dan Cu (I) dalam pembentukan 8-OHdG.

Acrylamide is a monomer as depolymerization results caused by the effect of temperature, light and pH. Acrylamide can be found on food products processed with high temperature. Acrylamide can induce the formation of reactive oxygen species (ROS), e.g. hydroxyl radical. Hydroxyl radical can interact with guanine to form DNA Adduct 8-hydroxy-2'-deoxyguanosine (8-OHdG). The aim of this study is to investigate the formation of 8-OHdG due to co-exposure of acrylamide and copper (I). The study was carried out in vitro through the Fenton reaction and in vivo. In vitro study was undergone through Fenton reaction between 2'-deoxyguanosine and acrylamide at temperature 37 °C, various of pH 7,4 and 8,4, and time of incubation 4, 8, 12 and 24 hours. While in vivo study was carried out by administering orally of acrylamide single dose and combination of acrylamide and copper (I) to male rats (Rattus norvegicus) strain Sprague-Dawley for 21 days exposure. The results of in vitro study were analyzed by LC-MS/MS QTOF and plasma resulted from in vivo study were analyzed by ELISA to determine the concentration of 8-OHdG. Incubation on pH 7,4, 37 °C and time of incubation 24 hours gave highest concentration of 8-OHdG. Meanwhile the highest concentration of 8-OHdG in plasma found in group with the exposure of acrylamide 25 mg/kg BW and copper (I) 10 mg/kg BW. According to the results from in vitro and in vivo studies, it was shown that both acrylamide and copper (I) gave synergistic effect towards the formation of 8-OHdG."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
T54790
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Yahdiana
"A method by high performance liquid chromatography for the analysis of acrylamide in potato chips, is reported. The retention time for the elution of acrylamide from the C18 columm ranged from 3 to 3.2 minutes and the eluate was analyzed by UV-VIS detector. A linear response was found for the acrylamide standard tested within the concentration range of 0.8-10 g/ml and the corelation coefficient (r0 greater that 0.999 with detection limit 0.06 ppm and quantitatice limit 0.19 ppm. Sample preparation was performed by measn of solvent extraction using dichlormethane and subsequent re-extraction of the organic solvent with water. This aqueous sample solution was found to be free of any interferences and gave acrylamide and recorveries higher than 90%."
Majalah Ilmu Kefarmasian, 2005
MIKE-II-3-Des2005-154
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Khoirul Umam
"Akrilamida merupakan senyawa kimia berbahaya yang bersifat karsinogenik terhadap manusia. Akrilamida dapat terbentuk dari proses pemanasan suhu tinggi pada makanan yang kaya akan kandungan karbohidrat. Di dalam darah manusia yang terpapar akrilamida ditemukan adanya ikatan kovalen yang terbentuk antara ikatan rangkap pada akrilamida dengan ?-NH2pada N-terminal yang ada pada gugus valin di hemoglobin. Adanya ikatan tersebut menjadi dasar penggunaan hemoglobin sebagai biosensing dalam biosensor elektrokimia senyawa akrilamida. Elektroda boron doped diamond(BDD) dimodifikasi menggunakan hemoglobin untuk memperoleh elektroda dengan sifat selektifitas, sensitifitas, dan reuseable yang baik sebagai sensor akrilamida. Untuk meningkatkan nilai afinitas BDD terhadap hemoglobin, BDD dimodifikasi dengan menggunakan nanopartikel emas yang melalui gugus oksigen atau gugus nitrogen pada permukaan BDD. Perbandingan juga dilakukan jika hemoglobin dimodifikasikan pada permukaan elektroda emas. Dari pengukuran siklik voltametri yang dilakukan diperoleh respon arus optimum pada pH 5 (Larutan buffer asetat 0.1 M). Arus yang diperoleh linear pada range konsentrasi akrilamida 5 sampai 50 µM dengan limit deteksi 5,1436 µM

Acrylamide is reported as a chemical compound that is carcinogenic to human. Acrylamide can be formed from high-temperature heating process on foods that have high carbohydrate content. In human blood, exposingto acrylamide was found to form the bond between the double bond of acrylamide and ?-NH2 group of N-terminal valine of hemoglobin. In this work, we employed this behavior to developan electrochemical biosensor of acrylamide. Boron-doped diamond (BDD) electrode was modified by using hemoglobin to obtain an electrode with the nature of selectivity, sensitivity, and reusable. To increase the affinity of BDD to hemoglobin, proir to use the BDD was modified by gold nanoparticles through oxygen or nitrogen sites of BDD. Comparison was also performed using hemoglobin-modified gold electrodes. Cyclic voltammetry observed optimum responses at pH 5 (0.1 M sodium acetate buffer). The responsesare linear to the acrylamide concentration range of 5-50 µM with estimated detection limits of 5.1436 µM.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S63264
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Afaf Amma Lahilla
"Akrilamida adalah bahan kimia yang dapat terbentuk dalam makanan kaya karbohidrat
akibat adanya proses pemanasan dengan suhu tinggi diatas 120°C. Saat ini, sudah banyak
penelitian yang membahas efek toksisitas dan karsinogenisitas dari akrilamida seperti
neurotoksik, genotoksik, dan sitotoksik. Di dalam tubuh, akrilamida dimetabolisme
dengan bantuan enzim CYP2E1 menjadi senyawa epoksida, yaitu glisidamida.
Akrilamida dan glisidamida sangat reaktif terhadap DNA dan dapat membentuk DNAadduct,
yang bersifat genotoksik dan sitotoksik. Glisidamida diketahui memiliki afinitas
yang lebih tinggi terhadap DNA dibandingkan dengan prekursornya, sehingga dapat
dikatakan bahwa glisidamida merupakan karsinogen utama dari akrilamida. Paparan
akrilamida pada manusia dapat berasal dari paparan pekerjaan, makanan, dan asap rokok.
Namun, makanan merupakan sumber paparan utama. Untuk mengetahui risiko paparan
akrilamida dan glisidamida terhadap manusia dari makanan maka perlu dilakukan analisis
kadar dalam darah. Salah satu metode bioanalisis yang dapat digunakan yaitu dengan
metode biosampling Dried Blood Spot (DBS). Analisis kadar dilakukan menggunakan
Kromatografi Cair Kinerja Ultra Tinggi Tandem Spektrometri Massa (KCKUT-SM/SM).
Skripsi ini bertujuan untuk mengkaji metode bioanalisis yang sesuai untuk digunakan
dalam analisis akrilamida dan glisidamida dalam DBS dengan KCKUT-SM/SM. Selain
itu, perlu juga dilihat hubungan antara pola makan dengan kadar akrilamida dalam darah
serta mengetahui potensi karsinogenisitas kedua analit tersebut terhadap manusia,
terutama glisidamida.

Acrylamide is a chemical compound that formed when carbohydrate-rich food is placed
in the heating process with high temperatures above 120°C. Many studies have discussed
the toxicity and carcinogenicity effects of acrylamide which produced neurotoxin,
genotoxin, and cytotoxin. After ingestion, acrylamide undergoes metabolism which
catalyzed by the CYP2E1 enzyme into its epoxide compounds, glycidamide. Both
acrylamide and glycidamide are very reactive to DNA and can form DNA-adducts, which
are known to be genotoxic and cytotoxic. Glycidamide is known to have a higher affinity
for DNA compared to its precursors, so it can be said that glycidamide is the ultimate
carcinogen of acrylamide. Exposure to acrylamide in humans can be obtained from a few
factors, which are occupational exposure, food exposure, and cigarette smoke. However,
studies found out that dietary intake is the major source of acrylamide and glycidamide
exposure. To determine the risk of acrylamide and glycidamide exposure to humans from
dietary intake, it is necessary to analyze its concentration levels in the blood. One of the
biosampling methods that can be used is Dried Blood Spot or DBS. The quantitative
analysis was conducted using Liquid Chromatography-Tandem Mass Spectrometry (LCMS/
MS). This review article aims to analyze the bioanalytical method that is most
suitable for the analysis of acrylamide and glycidamide in DBS using LC-MS/MS.
Furthermore, it is necessary to examine the relationship between dietary intake with
acrylamide and glycidamide levels in the blood, as well as knowing the potential
carcinogenicity of both analytes to humans, especially glycidamides.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Novatina N.T.
"Pembentukan adduct antara senyawa akrilamida dengan seriyawa
makromoleku! sel' yaitu protein (hemoglobin) dan basa-basa dari DMA
(guanin) merupakan metode alternatif yang dapat mereduksi rangkaian
metode-metode yang harus dilakukan dalam meneliti sifat karsinogenitas
suatu senyawa kimia.
Penelitian dilakukan untuk menyelidiki adanya interaksi yang terjadi
antara akrilamida dengan 2'-deoxyguanosin-5'-monofosfat (dGMP) yang
merupakan salah satu basa dari DMA dan antara akrilamida dengan
hemoglobin yang merupakan protein dalam darah Proses pembentukan adduct dari dGMP dilakukan dengan
menginkubasi senyawa tersebut terhadap akrilamida dengan variasi kondisi
yaitu pH (asam=3.5, netral=7, basa=9) dan variasi suhu (antara 37°C -
80°C).
Dari hasil pengukuran dengan HPLC, terlihat bahwa kenaikan suhu dan
kenaikan pH memberikan pengaruh yang linear berbanding lurus dengan
jumlah adduct yang terbentuk.
Sedangkan pada proses pembentukan adduct dari dGMp dilakukan
dengan menginkubasi sampel darah dengan akrilamida dan kemudian
mengisolasi hemoglobin-adduct yang terbentuk.
Dari hasil pengukuran HPLC, terlihat bahwa hemoglobin dapat pula
berinteraksi dengan senyawa akrilamida membentuk suatu adduct. Pada
sampel ini juga dilakukan pengukuran dengan spektrofotometer UV yang
memberikan hasil adanya pergeseran panjang gelombang dari adduct"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2003
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>