Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
"The Indonesia economy has achieved a remarkable transformation from an agricultural economy to a modern economy that is estimated to growth at a high rate of 6 percent.Sustaining it requires the continual adoption of economic reforms
."
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Sinambela, Asianto
"Ketika Putaran Doha resmi dibuka di Doha, Qatar pada November 2001. Negara anggota WTO menyetujui putaran ini dinamakan ?Doha Development Agenda" (DDA). Sebagian besar Negara berkembang berpendapat bahwa putaran perundingan perdagangan sebelumnya telah menciptakan aturan-aturan yang hanya menguntungkan Negara-negara maju yang berpendapatan tinggi dan mendominasi perdagangan global saat ini. Tulisan ini menyajikan informasi-informasi pada perkembangan perundingan dalam DDA di bidang pertanian, Dalam rangka meningkarkan reformasi pertanian guna memperoleh sistem perdagangan global yang lebih adil dan sederajat, tulisan ini memberikan gambaran proposal dan posisi yang ditunjukkan oleh Negara-negara berkembang dolam perundingan-perundingan WTO dalam 3 pilar permalahan, yaitu akses pasar (market access), dukungan dalam negeri (domestic support, dan subsidi ekspor (export subsidies)."
Jurnal Hukum Internasional: Indonesian Journal of International Law, 2007
JHII-4-3-Apr2007-467
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Mohsen Faraji
"Hubungan perdagangan pertanian antara Iran dan Indonesia telah mengalami perkembangan dan tantangan yang signifikan selama beberapa dekade terakhir. Pertanyaan penelitian dalam bab ini adalah mengapa Iran tidak meningkatkan perdagangan pertaniannya dengan Indonesia? Tesis ini menerapkan teori James K. Sebenius tentang "Negosiasi Tingkat Dua, Pihak Lain Menghadapi Tantangan 'Di Balik Meja'". Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sanksi internasional dan perubahan kebijakan dalam negeri telah berdampak besar pada volume perdagangan, dengan fluktuasi yang nyata terlihat selama peristiwa politik utama seperti sanksi perbankan tahun 2012 dan kesepakatan JCPOA tahun 2015. Analisis menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan ini, penggunaan produk pertanian strategis Iran, seperti saffron, telah menciptakan peluang perdagangan yang unik. Lebih jauh, keterlibatan organisasi internasional dan perjanjian ekonomi telah membatasi dan memfasilitasi hubungan perdagangan, yang menggarisbawahi interaksi yang kompleks antara faktor global dan lokal. Tesis ini menggarisbawahi pentingnya pemahaman yang mendalam tentang pengaruh internasional dan domestik terhadap perdagangan bilateral, yang memberikan wawasan bagi para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan di kedua negara.
The agricultural trade relationship between Iran and Indonesia has experienced significant developments and challenges over the past decades. The research question of this chapter is why didn’t Iran increase their agricultural trade with Indonesia? This thesis applied theory of James K. Sebenius theory of "Level Two Negotiations, the Other Side Meet Its 'Behind-the- Table' Challenges”. The result of study reveals that international sanctions and domestic policy changes have substantially impacted trade volumes, with notable fluctuations observed during key political events such as the 2012 banking sanctions and the 2015 JCPOA deal. The analysis indicates that despite these challenges, Iran's strategic use of agricultural products, like saffron, has created unique trade opportunities. Furthermore, the involvement of international organizations and economic agreements has both constrained and facilitated trade relations, underscoring the complex interplay between global and local factors. This thesis underscores the importance of a nuanced understanding of international and domestic influences on bilateral trade, providing insights for policymakers and stakeholders in both nations."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
Ivan Prayudha
"Ketahanan pangan Indonesia masih bergantung pada suplai impor karena produksi domestik kerap tidak mencukupi kebutuhan nasional. Akan tetapi, aktivitas perdagangan seringkali terhambat oleh regulasi tarif dan juga non-tarif yang ditetapkan. Non-tariff measures (NTMs), khususnya sanitary and phytosanitary (SPS), berperan ganda sebagai pelindung konsumen sekaligus potensi hambatan perdagangan. Penelitian ini mengevaluasi dampak SPS terhadap impor agrikultur Indonesia, termasuk komoditas pangan strategisnya, pada periode 2010–2021. Dengan memakai pendekatan model gravitasi dan estimator Poisson Pseudo-Maximum Likelihood (PPML), studi ini mengukur intensitas dampak SPS melalui dua indikator kuantitatif yaitu Coverage Ratio dan Frequency Index yang dihitung di tingkat HS 4-digit untuk 15 negara eksportir utama. Hasilnya ditemukan bahwa SPS mengurangi impor agrikultur Indonesia khususnya pada komoditas pangan strategis Indonesia.
Indonesia's food security remains reliant on import supplies due to the frequent inadequacy of domestic production to meet national demand. However, trade activities are often hindered by tariff and non-tariff regulations that are imposed. Non-tariff measures (NTMs), particularly sanitary and phytosanitary (SPS) regulations, serve a dual role as consumer protection tools and potential trade barriers. This study evaluates the impact of SPS measures on Indonesia’s agricultural imports, including its strategic food commodities, during the period 2010–2021. Employing a gravity model framework and the Poisson Pseudo-Maximum Likelihood (PPML) estimator, the study measures the intensity of SPS effects through two quantitative indicators, Coverage Ratio and Frequency Index which are calculated at the HS 4-digit level for 15 major exporting countries. The findings indicate that SPS measures reduce Indonesia’s agricultural imports, particularly for its strategic food commodities."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library