Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Latar belakang: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemakaian Removable rigid dressing (RRD) dibandingkan dengan perban elastik pada pasien diabetes melitus pascaamputasi transtibia.
Metode: Desain penelitian adalah studi intervensi dengan menggunakan sampling konsekutif, dilakukan randomisasi untuk membagi menjadi dua kelompok perlakuan yaitu perban elastik dan RRD. Dua puluh tiga subjek yang berhasil dianalisis. Volume edema puntung dinilai dengan mengukur jumlah volume air yang tertumpah dari gelas ukur. Volume edema dan nyeri di evaluasi setiap tujuh hari selama delapan minggu. Perban elastik harus dibalut ulang setiap empat jam per hari dan RRD dicetak ulang setiap tujuh hari saat evaluasi.
Hasil: Penurunan volume edema puntung lebih cepat di kelompok RRD dibandingkan perban elastik pada minggu pertama dan kedua, secara statistik bermakna (p = 0,03, p = 0,01) serta percepatan waktu puntung menjadi tidak edema (p = 0,03). Rerata penurunan volume edema puntung di kelompok RRD sebesar 63,85% di minggu kedua, dan 34,35% di kelompok perban elastik. Terdapat kecendrungan penurunan nilai nyeri puntung yang lebih cepat di kelompok RRD (minggu 4,83 ± 1,95) dibandingkan kelompok perban elastik (minggu 5,18 ± 2,31) walaupun secara statistik tidak bermakna (p = 0,6). Analisis kesintasan dengan uji regresi Cox terhadap waktu penurunan volume edema didapatkan nilai RR = 3,088 (CI 95%: 1,128 ? 4,916).
Kesimpulan: RRD mempercepat penurunan volume edema puntung dibandingkan perban elastik dan kemungkinan tiga kali lebih cepat untuk puntung menjadi tidak edema dibandingkan perban elastik. Terdapat kecenderungan lebih cepat waktu puntung menjadi tidak nyeri di kelompok RRD dibandingkan perban elastik walaupun secara statistik tidak bermakna.

Background: The aim of this study was to evaluate the RRD?s efficacy in decreasing stump edema and pain compared to elastic bandage for diabetic mellitus patients after transtibial amputation.
Methods: Interventional research was using consecutive sampling. Subjects were randomized into two groups: RRD and elastic bandage. Twenty-three subjects were analyzed. Stump edema volume was measured by the amount of water spilled out from volume glass. Elastic bandage was reapplied every 4 hours and RRD was refitted every 7 days during evaluation time. Stump edema volume was evaluated every 7 days during the 8 week observation.
Results: There was a significant decrease of stump volume in RRD group during the first and second week (p = 0.03, p = 0.01) and the edema decreasing time was also significant (p = 0,03). The average decrease of edema volume in RRD was 63.85% of second week and in the elastic bandage group was 34.35%. There were a tendency of pain reduction time in RRD group (4.83 ± 1.95 weeks) compared to elastic bandage group (5.18 ± 2.31weeks). Cox regression result of decreasing edema volume time was 3.088 (CI 95%: 1.128 ? 4.916).
Conclusion: This study found that there was stump edema volume acceleration in RRD group, it was three times faster for stump to become not edematous compared to elastic bandage group. There was a tendency of faster decreasing stump pain in RRD group than elastic bandage group, eventhough this result was not statistically significant.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Kaki Diabetik (KD) merupakan penyakit penyerta Diabetes Mellitus (DM). DM merupakan salah satu penyebab utama kasus amputasi non-traumatik di Jerman, dengan penyakit arterial perifer berat (PAP) dengan iskemia kritis tungkai yang menjadi masalah utama. Meskipun teknik modern tersedia, intervensi perkutan dan pembedahan pemulih vaskularisasi masih terbatas. Masalah ini menyebabkan peningkatan jumlah amputasi pada pasien dengan diabetes mellitus. Proses fi siologik angiogenesis, vaskulogenesis dan arteriogenesis mengarahkan ke pertumbuhan pembuluh darah kolateral pada keadaan penyakit penyumbatan pembuluh arterial penyebab iskemia tungkai. Pada praktik klinik respons angiogenik endogenik seringkali terganggu. Angiogenesis terapetik merupakan penerapan bioteknologi untuk merangsang pembentukkan pembuluh darah baru via (melalui) aplikasi lokal faktor penumbuh pro-angiogenik dalam bentuk protein rekombinan, atau terapi gen; atau dengan implantasi sel progenitor atau sel punca yang akan mensintesa sitokin angiogenik multipel. Artikel review ini merangkum fungsi endotelial dan disfungsi pada DM, mekanisme homing, metode transplantasi dan status uji klinik di bidang sel punca untuk pengobatan iskemia tungkai.

Abstract
Diabetic foot (DF) occurs as a concomitant illness of diabetes mellitus (DM). DM is one of the main causes of nontraumatic amputation in Germany with severe peripheral arterial disease (PAD) with critical limb ischemia (CLI) being of major concern. Although modern techniques are available surgical vascularisation and percutaneous intervention are limited. This problem leads increasing numbers of limb amputations in patients with diabetes mellitus. Thephysiological process of angiogenesis, vasculogenes is and arteriogenesis contribute to the growth of collateral vessels in response to obstructive arterial disease causing limb ischemi. In clinical practice the endogenous angiogenic response is often impaired. Therapeutic angiogenesis is an application of biotechnology to stimulate new vessel formation via local administration of pro-angiogenic growth factors in the form of recombinant protein, or gene therapy,or by implantation of progenitor cells or stem cells that will synthe size multiple angiogenic cytokines. This review summarises the endothelial function and dysfunctionin DM, the mechanism of homing, the transplantation method and the status of clinical trials in stem cell fi eld to treat limb ischemia."
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, University Clinic of Ruhr University Bochum; Bad Oeynhausen, Germany], 2011
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Bayu Agung Alamsyah
"Latar Belakang: Chronic limb threatening ischemia (CLTI) merupakan bentuk paling parah dari peripheral arterial disease (PAD). Sebanyak 25% pasien CLTI memiliki risiko amputasi tungkai mayor dan 25% lainnya akan meninggal karena penyakit kardiovaskular dalam 1 tahun. Risiko amputasi ini dapat diprediksi menggunakan sistem skoring Wound, Ischemia, and foot Infection (WIfI). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil amputasi menggunakan skor Wound, Ischemia, foot Infection pada subjek chronic limb threatening ischemia di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Metode: Pengambilan data retrospektif dari data registrasi divisi bedah vaskular dan rekam medis pada subjek dengan CLTI di RSCM berupa profil subjek, skor WIfI, dan status amputasi mayor dalam 1 tahun pasca diagnosis CLTI ditegakkan. Data selanjutnya dimasukkan ke program SPSS, dan dilakukan analisa data. Hasil analisa lalu dipaparkan dalam bentuk narasi dan tabel.
Hasil: Pada penelitian ini usia rerata subjek adalah 58,1 ± 12,9 tahun dengan predominasi jenis kelamin laki-laki (58,3%). Komorbid pada subjek dari yang tersering adalah diabetes (82,1%), hipertensi (67,9%), gagal ginjal kronis (51,3%), dan penyakit jantung (33%). Derajat skor WIfI dengan derajat sangat rendah, rendah, sedang, dan tinggi secara berurutan adalah 6,4%, 9,6%, 35,9%, dan 48,1%. Angka amputasi mayor yang sesungguhnya pada subjek CLTI di RSCM untuk skor WIfI derajat sangat rendah, rendah, sedang, dan tinggi adalah 5%, 7%, 35%, dan 70%, sedangkan pada kepustakaan adalah 3%, 8%, 25%, dan 50%.

Background: Chronic limb threatening ischemia (CLTI) is the most severe form of peripheral arterial disease (PAD). As many as 25% of CLTI patients have a risk of major limb amputations and 25% will die due to cardiovascular event within 1 year. The risk of this major amputation can be predicted using the Wound, Ischemia, and foot Infection (WIfI) scoring system. This study aims to compare the amputation profile using Wound, Ischemia, foot Infection scores in chronic limb threatening ischemia patients at the RSCM.
Methods: Retrospective data collection from registry in vascular surgery division and medical records for patients with CLTI in RSCM were take, that is a patient profile, the comorbid disease, WIfI score, and the patient's major amputation status within 1 year after diagnosis of CLTI was established. The data then inputed to the SPSS program, and data analysis is performed. The results of the analysis are then presented in the form of narratives and tables.
Result: The mean age of the subjects in this study was 58,1 ± 12,9 years with male as gender predominance (58,3%). The comorbids in the subjects were diabetes (82,1%), hypertension (67,9%), chronic kidney failure (51,3%), heart disease (33%). The WIfI scores with very low, low, medium, and high degrees are 6,4%, 9,6%, 35,9%, and 48,1% respectively. The major amputation rates in for WIfI scores with very low, low, medium, and high degrees are 5%, 7%, 35%, and 70%, while in the literature are 3%, 8%, 25%, and 50%.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58708
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dyan Novitalia
"Studi ini mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian amputasi mayor pada pasien Acute Limb Ischemia (ALI) klasifikasi Rutherford IIb dan seberapa besar pengaruhnya. Penelitian ini berdesain kuantitatif dengan desain kohort retrospektif terhadap semua pasien RSCM pada tahun 2014-2019 dengan diagnosis ALI Rutherford IIb. Data demografi dan faktor risiko, dianalisa untuk mendapatkan korelasinya dengan tindakan amputasi mayor. Pada penelitian ini,  insiden amputasi mayor pada total subjek adalah 39,2%. Rata-rata subjek berusia 60 tahun, dengan insiden komorbiditas diabetes mellitus 32,4%, gangguan ginjal kronik 19,6%, hipertensi 41,2%, dan penyakit jantung koroner 39,2%. Hasil analisis menunjukkan hipertensi meningkatkan risiko amputasi mayor 27,4 kali, riwayat penyakit jantung koroner meningkatkan risiko 10,7 kali, dan diabetes mellitus meningkatkan risiko 9,8 kali, semua secara signifikan. Merokok ditemukan sebagai faktor risiko tidak langsung terhadap kejadian amputasi mayor.
Kata kunci: Acute limb ischemia, Amputasi mayor, Rutherford IIb

This study identifies the factors associated with major amputation in patients with Acute Limb Ischemia (ALI) Rutherford Stage IIb and how much they affect it. This is a quantitative study with retrospective cohort design for all patients with ALI in Rutherford IIb stage in 2014-2019. Demographics and risk factors were all analyzed in order to find the correlation with the incidence of major amputation. In this study, the incident of major amputation on the overall subject was 39.2%. The mean age for the subjects was 60 years old, and the comorbidity incidence of diabetes is 32.4%, chronic kidney disease is 19.6%, hypertension is 41.2%, and coronary heart disease is 39.2%. The result of the analysis shows that hypertension increases the risk of major amputation in patients with ALI in Rutherford IIb stage by 27.4 times, while coronary heart disease does by 10.7 times and diabetes does by 9.8 times, all statistically significant. Smoking is also found as an indirect risk factor to the incident of major amputation.
Key words: Acute limb ischemia, Major amputation, Rutherford IIb"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library