Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 35 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hadi Djunaedi
"Benzena merupakan bahan kimia yang masih diperlukan di berbagai industri, tetapi mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan pekerjanya walaupun proses terjadinya dalam jangka waktu lama, dapat berakibat fatal. Dampak ini dapat diperkecil dengan melakukan pemantauan lingkungan kerja terpajan benzena dan kesehatan pekerjanya secara teratur. Penelitian mengenai akibat pajanan benzena di lingkungan kerja masih sedikit dilakukan di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kelainan akibat pajanan benzena, yaitu hubungan antara kadar fenol urin dan kelainan darah di lingkungan kerja terpajan, hubungan antara lama keira di lingkungan kerja terpajan benzena dengan kadar fenol urin dan kelainan darah serta faktor-faktor risiko yang dapat mempengaruhi. Penelitian ini dilakukan di suatu pabrik cat di Jakarta. Parameter yang dipakai pada penelitian ini adalah kadar fenol aria, parameter darah (hemoglobin, leukosit, trombosit, retikulosit, eritrosit, hernatokrit, MCV, MCH, MCHC, hitting jenis leukosit).
Penelitian ini menggunakan desain pendekatan kros seksional, menjaring data melalui waarancara terstruktur, pemeriksaan fisik, pemeriksaan sampel urin dan darah terhadap 128 subjek penelitian yang terdiri dari 64 subjek penelitian di lingkungan kerja terpajan tinggi dan 64 subjek penelitian di lingkungan kerja terpajan rendah.
Kesimpulan dan saran: Kadar uap benzena di lingkungan kerja terpajan tinggi melebihi nilai ambang batas yang diperbolehkan (NAB 25 ppm). Peningkatan kadar fenol urin pada pekerja di lingkungan terpajan tinggi lebih besar dari lingkungan terpajan rendah (p = 0,003), serta meningkat dengan pertambahan lama kerja. Pemeriksaan darah menunjukkan kecenderungan penularan jumlah retikulosit pada pekerja di lingkungan kerja terpajan tinggi 17 x dibandingkan dengan lingkungan kerja terpajan rendah (p = 0,01, OR 16,89, CI = 1,71 - 166,73) dan terdapat hubungan antara rata-rata retikulosit dengan lama kerja. Juga terdapat hubungan bermakna antara peningkatan jumlah rata-rata leukosit (p = 0,055), peningkatan jumlah rata-rata basofil (mann Whitney p = 0,02) dan peningkatan jumlah tenaga kerja dengan limfosit atipik dengan pajanan benzena (OR = 7,19, CI = 3,39 - 15,24). Faktor risiko yang berpengaruh pada penelitian ini adalah umur di atas 40 tahun dan lama kerja.
Dari hasil penelitian ini dapat disarankan agar pemantauan lingkungan terpajan benzena dilakukan secara teratur tiap 6 bulan dengan memperhatikan sistim produksi, ventilasi dan tata letak ruang. Perlu dilakukan pemeriksaan pekerja yang akan bekerja di lingkungan kerja terpajan benzena (pra kerja), yang sedang bekerja di lingkungan terpajan benzena (berkala dan khusus) yang terdiri atas pemeriksaan kadar fenol urin dan pemeriksaan laboratorium darah (hemoglobin, leukosit, trombosit dan retikulosit), serta diberikan penyuluhan tentang bahaya bekerja di lingkungan terpajan benzena, dan cara pemakaian masker yang baik dan tepat. Pemakaian metode kolorimetri untuk pemeriksaan kadar fenol urin. Pemeriksaan diperketat pada pekerja di atas 40 tahun dan kadar fenol urin di atas 40 mg/liter. Penatalaksanaan pajanan terhadap benzena perlu di standarisasikan.
Perlu dikembangkan kerjasama Departemen Tenaga Kerja, Departemen Kesehatan, Departemen Perindustrian & Perdagangan dan lembaga pendidikan (Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pascasarjana Universitas Indonesia atau lembaga pendidikan terkait) dalarn menetapkan parameter yang lepat untuk digunakan dalam pemantauan lingkungan kerja terpajan benzena serta memantau dampak negatifnya.

Methods and Materials: Benzene is still required in many industries, but this chemical has negative impact towards workers' health, especially over long periods of exposure, it can be fatal. This hazard can be prevented by monitoring regularly, both exposure area and the workers' health. The study on this topic in Indonesia is still rare up to now.
The aims of this study are to search for benzene exposure disorders, the correlation between urine phenol level, and haematologic disorders, hazard, risk factors in the work place environment and time factor. This study was conducted at a paint factory in Jakarta. The parameters used in this study are phenol level in urine, haematologic examinations (haemoglobin, leucocyte, trombocyt, reticulocyt, erythrocyte, haematocrit, MCV. MCH, MCHC, differential count).
The design of this study was cross sectional. Data were collected by interview, physical examination; urine and blood examinations of 128 subjects consisting of 64 subjects in a high exposure area and 64 subjects in a low exposure area.
Results and Conclusion: Benzene vapor level in high exposure area is higher than the permissible threshold limit value (NAB 25 ppm). Phenol level in urine of workers in high exposure area are higher than workers in low exposure area (p = 0,003) and this increase coincided with the duration of work The results of haematological examination showed 17 x decreasing tendency of the reticulocyt count of workers in the higher exposure than workers in low exposure (p = 0,01, OR = 16,89, CI = 1,71 - 166,73) and this low reticulocyt count has significant correlations with the duration of work It also correlates significantly with increasing mean leucocyt count (p = 0,055), mean basophyl count (mann-whitney p = 0,02) and atypic lymphocyt count (OR = 7,19, CI = 3,39 - 15,24). The risk factors in this study include, more than 40 years old workers and long duration of exposure time.
Based on the results of this study, I suggest the establishment of a standard benzene exposure management and monitoring of benzene exposure area unit The monitoring should be carried out every 6 months regularly. Attention should be directed to the production system, room ventilation and workplace design. Pre-employment, and periodical examination of workers, especially for urine phenol level examination should be carried out, as well as haematologic examinations (hemoglobin, leucocyt, thrombocyt and reticulocyt). Communication, information, education on the danger of benzene exposure and the correct manner of mask usage should be the important task in this management.
This study was carried out by using colorimetric method for the examination of urine phenol. The examinations are restricted to more than 40 years old workers and more than 40 mg/liter phenol level in urine. A cooperation among Occupational Department, Health Department, Industry and Trade Department and other Institutions (Occupational Health & Safety, University of Indonesia or other relevant institutes) should draw up correct parameters and regulations for monitoring benzene vapor and hazards in work environments.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Benzene (C6H6) is one of chemicals which there is in glue. adhesion process of shoe at small industry enables happened absorbtion of benzen through inhalation because it has volatile characteristic. One of long - range benzen effect chronically is damage of bone morrow slowly and irreversible causing the happening of leucopenia, aplastic anemia or even leukimia. The Goal of research is to know the relation along of exposure with haemoglobin ate and number of blood leucocyties to sandal worker who exposed by benzen in glue in Kampong Gunung Roay sub-district of Kahuripan district Tawang Tasikmalaya. Research using survey methods and cross sectional approach. Sample 28 purposively are chosen out of 32 mans is working for part of adhesion. Data analized with Rank spearman test. Result of the research showing responden who have normaly haemoglobin rate that is between 14 - 18 mg/dl are 24 responders (85,7%) and number of normaly blood leucocyties between 4000-10000 mm3 are 21 responders (75%) and leucocyte > 10000counted 7 responder (25%). Based on Rank Spearman indicated there is significantly correlation between eksposure with rate Hemoglobin p=0, 048 at a 0,05 and strength of medium relationship 378 and there is where r = 0, 378 and there is relationship significant between eksposure with number of Leukocyt with value p = 0,021 at a 0,05 and strength of medium relationship of r = 0,433"
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Septiana Dwi Puspasari
"Dengan digantikannya fungsi timbal pada banan bakar bensin dengan poli aromatik nidrokarbon, maka ancaman paparan benzena akibat penguapan Iangsung maupun emisi kendaraan bermotor semakin meningkat Benzena telah diklasifikasikan sebagai penyebab kanker pada manusia grup 1 oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) karena sifatnya yang karsinogenik. Semakin sering individu berinteraksi dengan senyawa tersebut, semakin tinggi risiko paparannya, salah satunya adalah petugas SPBU. Pada penelitian ini dilakukan deteksi ada atau tidaknya paparan dengan metode human biomonitoring terhadap metabolit benzena yaitu asam S-fenil merkapturat yang terdapat pada urin.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan High Performance Liquid Chromatography, kolom C-18, Iaju alir1 mL/menit, dan komposisi eluen metanol 1 asam perklorat 0,001 N (40:80). Nilai kuantitatif yang diperoleh olibandingkan dengan nilai kreatinin pada masing-masing individu.
Subjek dari penelitian ini adalah petugas wanita di beberapa SPBU di Jakarta sebanyak 15 orang dan kontrol sebanyak 5 orang. Konsentrasi asam S-fenil merkapturat pada sampel paling tinggi adalah 0,8078 mg/g kreatinin dan paling rendah adalah 0,0795 mg/g kreatinin Rentang kaolar asam S-fenil merkapturat paola kontrol adalah 0,0015 - 0,0582 mg/g kreatinin. Dapat terlihat banwa paparan benzena pada petugas beberapa stasiun pengisisan bahan bakar umum di Jakarta Iebih tinggi dibandingkan kontrolnya."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
S30512
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yuni Indriati Fatonah
"Industri sepatu di Indonesia berperan penting pada perekonomian masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam proses produksinya, industri sepatu menggunakan lem mengandung pelarut organik berbahaya seperti benzena. Penelitian ini dilakukan untuk memperkirakan risiko kesehatan akibat pajanan benzena dan manejemen risiko yang harus dilakukan. Tempat penelitian adalah bengkel sepatu "X" di kawasan Perkampungan Industri Kecil Pulogadung, Jakarta Timur. Pengukuran konsentrasi benzena di udara dalam empat bagian proses produksi sepatu, yaitu bagian sol, upper, open, finishing, dan satu ruang administrasi, pengukuran karakteristik antropometri terhadap dua puluh enam pekerja, yang meliputi berat badan, lama pajanan, frekuensi dan durasi pajanan, serta analisis biomarker trans,trans-muconic acid (t,t-MA) dalam urin telah dilakukan. Risiko kesehatan non karsinogenik dinyatakan dengan Risk Qoutient (RQ) yang didapatkan dengan membagi rata-rata asupan harian non kanker sepanjang hayat dengan konsentrasi referen (RfC), sementara risiko karsinogenik dinyatakan dengan Excess Cancer Risk (ECR) yang didapatkan dari perkalian antara asupan harian kanker sepanjang hayat dengan cancer clope factor (CSF) benzena.
Didapatkan bahwa konsentrasi rata-rata benzena pada bagian sol, upper, open, finishing, dan administrasi secara berurutan adalah 0,058 mg/m3, 0,008 mg/m3, 0,045 mg/m3, 0,076 mg/m3, 0,085 mg/m3, and 0,014 mg/m3. Dengan konsentrasi benzena demikian dan karakteristik antropometri serta laju asupan sepanjang hayat bagi para pekerja bengkel "X" didapatkan bahwa bagian sol, upper dan administrasi tidak terindikasi adanya risiko kesehatan non karsinogenik terhadap para pekerja (RQ 1), tetapi pada bagian open dan finishing, risiko kesehatan non karsinogenik telah terindikasi (RQ > 1). Pada perkiraan risiko karsinogenik semua pekerja memiliki ECR melebihi batas yang diperbolehkan (ECR > 1 x 10-4) yang berkisar antara 1,09 x 10-4 hingga 18 x 10-4. Analisa konsentrasi biomarker t,t-MA dalam urin menunjukkan bahwa konsentrasi t,t-MA dalam urin adalah 4.795 hingga 68.062 µg/g kreatinin atau lebih tinggi 9,6 hingga 136 kali dibanding batas konsentrasi referen. Manajemen risiko terhadap risiko kanker merekomendasikan batas aman konsentrasi benzena adalah 0,01 mg/m3.
Disimpulkan bahwa risiko kesehatan non karsinogenik hanya terjadi pada sebagian pekerja di bagian open dan finishing, sementara pada perkiraan risiko kesehatan karsinogenik seluruh pekerja telah melebihi batas yang diperbolehkan.

In Indonesia, footware industry has been contributing to the economy of lowincome community. Footware industry uses extensively adhesive glue containing hazardous organic solvent such as benzene. To estimate health risks from exposure to benzene and formulate management options, an environmental health risk assesment has been conducted in a shoes industry at Center of Small Industry (PIK) in Pulogadung, East Jakarta. Benzene concentrations were measured in indoor air af four processing room (sol, upper, open, finishing) and office room, twenty six workers were subjected to anthropometric measurement for body weight, contact rate survey for exposure time, frequency, and duration, and biomarkers analysis for urin trans, transmuconic acid (t,t-MA). Non Carcinogenic health risk is expressed as Risk Qoutient (RQ) and estimated by dividing average of lifetime daily non cancer intake by benzene reference concentration (RfC), while carcinogenic risk exppressed as Excess Cancer Risk (ECR) calculated by multiplying lifetime daily cancer intake by benzene cancer slope factor (CSF).
It was found that the mean concentration of benzene in sol, upper, open, finishing room and office room are 0.058 mg/m3, 0.008 mg/m3, 0.045 mg/m3, 0.076 mg/m3, 0.085 mg/m3, and 0.014 mg/m3, respectively. Exposing to these benzene concentration with current anthropometric and contact rate characteristics, RQ 1 was found in sol, upper and office room, whereas RQ > 1 was found in open and finishing room. On the other hand, all workers have ECR > 1 x 10-4, ranging from 1.09 x 10-4 to 18. 10-4. Meanwhile, urin t,t-MA concentration ranges from 4,795 to 68,062 µg/g creatinine, or 9.6 to 136 folds higher than the reference value of 500 µg/g creatinine. Management options for ECR > 1 x 10-4 suggests that safe concentration of benzene is 0.01 mg/m3, while the existing national threshold value is 32 mg/m3.
It is concluded while non carcinogenic risks are only suffered by workers in open and finishing unit, carcinogenic risks for all workers are unacceptable.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
T30559
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Arends, B. P. M.
Jakarta: Erlangga, 1980
662.669 ARE bt (1)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Angelina Magdalena
"Benzena adalah senyawa kimia organik yang bersifat karsinogenik, dapat menyebabkan leukemia pada manusia. International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan benzena sebagai Grup 1 yaitu senyawa karsinogen pada manusia. Mekanisme pembentukan benzena dalam minuman ringan adalah sebagai hasil dari dekarboksilasi asam benzoat oleh radikal hidroksi. Pemanasan dapat mempercepat terbentuknya benzena.
Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kadar benzena yang terbentuk dalam minuman ringan yang mengandung asam benzoat, asam sitrat dan vitamin C yang telah dipaparkan sinar matahari selama 2 minggu. Analisis pembentukan benzena dilakukan dengan kromatografi gas detektor ionisasi nyala, dengan suhu injektor, dan detektor berturut-turut 200°C, 230°C; suhu awal kolom 60°C sampai 120°C dengan kecepatan kenaikan suhu 3°C/menit dan laju alir gas pembawa 1,5 mL/menit. Kadar benzena dalam sampel A sebesar 7,66 bpm; sampel B sebesar 12,55 bpm dan sampel C sebesar 12,97 bpm. Kadar benzena dalam sampel A masih dibawah jumlah maksimum yang diijinkan WHO sedangkan pada sampel B dan C berada diatas jumlah maksimum yang diijinkan WHO yaitu 10 bpm.

Benzene is a carcinogenic organic chemical compound and it can cause leukemia to human. International Agency for Research on Cancer (IARC) classifies benzene as Group 1 which is carcinogenic in human. The mechanism of benzene formation in soft drinks is a result from decarboxylation of benzoic acid by hydroxy radicals. Heating can accelerate benzene formation.
Therefore, it is necessary to determine the level of benzene that forms in soft drinks which contains benzoic acid, citric acid and vitamin C which has exposed to the sunlight for 2 weeks. Analysis of benzene formation was done by gas chromatography flame ionization detector, a temperature of injector, and detector with 200°C, 230°C respectively; first coloumn temperature was 60°C to 120°C with speed increase from 3oC/minute, and flow rate of 1.5 ml/minute. Levels of benzene formed in sample A was 7.66 ppb; sample B was 12.55 ppb and sample C was 12.97 ppb. Level of benzene in the sample A was below the maximum level allowed by WHO requirement while in sample B and C were above the maximum level allowed by WHO which is 10 ppb."
Depok: Universitas Indonesia, 2010
S32910
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ersi Yuliantika
"Reaksi katalisis oksidasi senyawa organik memegang peranan penting
dalam perkembangan industri kimia saat ini. Umumnya reaksi oksidasi
senyawa organik membutuhkan waktu yang Iama dalam menjalankan reaksi,
seningga diperlukan katalis untuk mempercepat Iaju reaksi. Pada penelitian
ini dilakukan oksidasi stirena dengan sol Ti(OH)4 yang berinteraksi dengan
H202 membentuk sisi aktif Ti-O-O' dalam fase miselar. Stirena akan
disolubilisasi ke dalam misel, Ialu dianalisis kualitatif dengan spektrometri
UV/Vis. Aktivitas dan selektivitas katalis akan diuji dengan memvariasikan
mol stirena yang tersolubilisasi (0,17-0,52 mol), katalis sol gel Ti(OH)4 (1-4
mL) dan H202 (20-30 mL). Hasil oksidasi dianalisis dengan FTIR, GC dan
GC-MS. Hasil benzaldenida yang optimum adalan 20.22% diperoleh dari 0,35
mol stirena yang tersolubilisasi, 3 mL katalis Ti(OH)4 dan 20 mL H2O2.
Pengarun katalisis miselar diamati dengan membandingkan reaksi oksidasi
tanpa katalis sol Ti(OH)4 dan misel, dengan misel, dengan katalis sol Ti(OH)4
dan dengan katalis sol Ti(OH)4 dalam fase miselar."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
S30535
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muliadi Ramli
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T40188
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Mulyati
"Benzena dan toluena merupakan senyawa yang banyak digunakan sebagai pelarut dalam industri kimia. Akan tetapi, senyawa ini juga merupakan limbah yang sangat berbahaya apabila mengkontaminasi air. Mengingat pentingnya air bagi kehidupan manusia, maka proses pengolahan air menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Dari permasalahan ini maka dilakukan penelitian dengan menerapkan metode adsorpsi dengan menggunakan batu bara dengan perlakuan sederhana dan batu bata teraktivasi untuk penanganan limbah cair benzena dan toluena. Pada penelitian ini akan diuji seberapa jauh pengaruh adsorpsi batu bara terhadap benzena dan toluena dengan memasukkan batu bara dalam jumlah yang sama ke larutan sampel dengan konsentrasi yang bervariasi pada proses batch. Konsentrasi larutan benzena divariasikan dari 0 sampai 1000 ppm dan larutan toluena divariasikan dari 0 sampai 500 ppm. Metode analisa yang akan digunakan adalah dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang yang digunakan adalah 253,7 nm untuk benzena dan 260,5 nm untuk toluena. Dari data yang diperoleh dibuat kurva linearisasi isoterm Langmuir dan Freundlich. Selain itu juga dilakukan analisa BET untuk mengetahui karakteristik adsorben yang digunakan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah besar luas permukaan adsorben dan pengaruh perbedaannya terhadap adsorpsi, pengaruh konsentrasi benzena dan toluena terhadap adsorpsi, dan kurva adsorpsi isotermis. Luas permukaan yang didapatkan adalah 0,2687 m7sup2;/g untuk sampel batu bara awal, 4,49 m²/g untuk sampel batu bara dengan diberi perlakuan pemanasan, dan 854,2 m² /g untuk batu bara teraktivasi. Adsorpsi kesetimbangan Langmuir baik dalam merepresentasikan adsorpsi benzena dimana nilai konstanta Langmuir untuk benzena adalah qm = 138,89 mg/g dan b = 45,45 untuk batu bara, qm =227,27 mg/g dan b = 78,125 untuk batu bara teraktivasi. Adsorpsi kesetimbangan Langmuir baik dalam mempresentasikan adsorpsi toluena dimana nilai konstanta Langmuir untuk benzena adalah qm = 147,06 mg/g dan b = 170 untuk batu bara, qm =384,615 mg/g dan b = 123,23 untuk batu bara teraktivasi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S49568
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lengky Angling Kusuma Wardhana
"Katalis berperan penting dalam berbagai industri kimia, katalis terus mengalami pengembangan untuk meningkatkan aktivitas dan selektifitasnya. Salah satunya dengan cara pencangkokan katalis pada pendukung katalis yang memiliki luas permukaan tinggi dan selektifitas tinggi seperti misalnya Silika berpori. Sintesis silika berpori telah dilakukan dengan metode co-MET menggunakan TEOS sebagai sumber silika dan surfaktan. Silika hasil sintesis dari setiap jenis template dan variasi konsentrasinya di karakterisasi dengan menggunakan FTIR, XRD, BET, SEM dan TEM. Semakin tinggi konsentrasi surfaktan yang digunakan, Silika berpori yang dihasilkan semakin baik. Silika berpori yang baik dihasilkan dari template CTAB pada konsentrasi 161 mM karena mempunyai luas permukaan 642,402 m2/gram, volume total 1,253 cc/gram dan diameter pori rata - rata 7,803 nm. Sedangkan dari template SDS pada konsentrasi 160 mM dengan Luas permukaan 216,028 m2/gram, volume total 0,975 cc/gram dan diameter pori rata - rata 18,058 nm. Silika berpori terbaik dari masing ? masing template di aplikasikan sebagai pendukung katalis Nikel melalui cara impregnasi basah dengan berat yang di impregnasikan sebesar 10 dan 20% w/w kemudian di karakterisasi dengan FTIR dan AAS. Reaksi Hidrogenasi benzena dilakukan dalam Atmospheric Fixed Bed Reactor dengan katalis yang telah disiapkan. %konversi Sikloheksana terbesar dihasilkan oleh pendukung katalis silika template CTAB dengan konsentrasi Nikel 20% yaitu sebesar 40,23%.

Catalysts have an important role in chemicals industrial, catalysts run into develop to improve the activity and selectivity. One of them by grafting catalyst in the catalyst support which has a high surface area and high selectivity, that is porous Silica. Synthesis of porous silica was prepared by co-MET using TEOS as a source of silica and surfactant. Silica resulting from the synthesis of each template type and concentration variations will characterization using FTIR, XRD, BET, SEM and TEM. The higher the concentration of surfactant used, the resulting porous silica getting better. Good porous silica contained in a template at a concentration of 161 mM CTAB with a surface area 642,402 m2/gram, total volume 1,253 cc/gram, and avarage of pore diameter 7,803 nm. While the SDS template at a concentration of 160 mM with a surface area 216,028 m2/gram, total volume 0,975 cc/gram, and avarage of pore diameter 18,058 nm. The best of Porous silica from each template is applied as Nickel catalyst supports by wet impregnation with weight in the graft by 10 and 20% w/w later in the characterization by FTIR and AAS. Benzene hydrogenation reaction was did in Atmospheric Fixed Bed Reactor with a catalyst which has been prepared. % Conversion generated by the biggest Siklohekasana catalyst support of silica template with a concentration of CTAB Nickel 20% amounting to 40,23%."
Depok: Universitas Indonesia, 2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>