Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Emma Rachma
"Sejak berabad-abad yang lampau sudah banyak orang Cina yang datang ke Indonesia. Kemdian mereka mendirikan bangunan-bangunan suci sebagai tempat peribadatannya. bangunan suci tersebut dinamakan klenteng. Tetapi kemudian istilah klenteng ini diganti menjadi wihara.
DI daerah Glodok, yang merupakan salah satu perkampungan Cina di Jakarta, terdapat sebuah wihara yang dianggap sebagai wihara yang tertua dan terbesar di Jakarta, yaitu wihara Dharma Bhakti (WDB). WDB dibangun pada sekitar tahun 1650 oleh Letnan Guo Xun-Guan. Dahulu wihara ini cukup terkenal karena banyak para pejabat Cina datang ke tempat ini untuk melakukan peribadatan.
Keadaan bangunan WDB masih cukup baik dan terpelihara, sehingga kami ingin mencoba melakukan penelitian berdasarkan tinjauan arsitektural. Di samping itu akan disinggung pula mengenai patung-patung dewa yang dipuja di dalamnya.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada WDB, dapat diketahui bahwa dalam pendirian bangunan ini masih mengikuti aturan-aturan pembuatan suatu bangunan suci seperti di Cina. Dalam beberapa hal, juga menunjukkan adanya unsur-unsur Cina Selatan. Sedangkan dari patung-patung dewa dan simbol-simbol yang ada, dapat diketahui bahwa wihara ini merupakan wihara Tri Dharma, karena ketiga agama (Buddha, tao dan Khong Hu Cu) dianut bersama."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1990
S11837
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Brahm, Ajahn
"Sebagian orang memang kelihatannya tidak ingin untuk terbebas dari masalah. Jika mereka sedang tidak punya cukup masalah yang bisa dikhawatirkan, mereka akan menyetel sinetron televisi untuk mengkhawatirkan persoalan tokoh-tokoh fiksi didalamnya. Banyak juga yang merasa bahwa ketegangan membuat mereka lebih ?Hidup?, mereka menganggap penderitaan sebagai hal yang mengasyikkan. Agaknya Mereka tidak ingin bahagia, karenanya mereka mau-maunya begitu melekat pada beban mereka.
Dua orang Bhiksu yang merupakan sahabat dekat sepanjang hidup mereka. Setelah mereka meninggal, satu terlahir sebagai dewa disebuah alam surga yang indah, sementara temannya terlahir sebagai seekor cacing di seonggok tahi.
Sang dewa segera merasa kehilangan kawan lamanya dan bertanya-tanya di manakah dia terlahir kembali. Dia tidak bisa menemukannya di alam surga yang ditinggalinya, lalu diapun mencari-cari temannya di alam ?alam surga yang lain. Temannya tidak ada disana pula.
Dengan kekuatan surgawinya, Sang Dewa mencari temannya di dunia manusia, namun tidak ketemu juga. ?Pasti temanku tidak terlahir di alam hewan? begitu pikirnya, tetapi dia memeriksa alam hewan juga, ?Siapa tahu!??, pikirnya.
Masih saja tidak ada tanda-tanda keberadaan temannya itu. lalu berikutnya Sang dewa mencari ke dunia serangga dan jasad renik dan ?.. kejutan besar baginya?., dia menemukan temannya terlahir sebagai seekor cacing dalam seonggok tahi yang menjijikkan!
Ikatan rasa persahabatan mereka begitu kuat, sampai-sampai merasa dia harus membebaskan kawan lamanya ini dari kelahirannya yang mengenaskan tersebut, entah karma apa yang membawanya kesitu.
Sang dewa lalu muncul di depan onggokan tahi tersebut dan memanggil, ?Hei cacing! Apakah kamu ingat aku? Kita dahulu sama-sama menjadi bhiksu pada kehidupan sebelumnya dan kamu adalah teman terbaikku. Aku terlahir kembali dialam surga yang menyenangkan, sementara kamu terlahir di tahi sapi yang menjijikkan ini.tetapi Jangan khawatir, karena aku akan membawamu ke surga bersamaku. Ayolah kawan lama !?
?Tunggu dulu !? kata si cacing, ?Apa sih hebatnya alam surga yang kamu ceritakan itu ? Aku sangat bahagia disini, bersama tahi yang harum , nikmat dan lezat ini. Terima kasih banyak !?
? Kamu tidak mengerti !?, kata sang dewa, lalu dia melukiskan betapa menyenangkan dan bahagianya berada di alam surga.
?Apakah disana ada tahi?? tanya si cacing, to the point.
?Tentu saja tidak ada!? dengus sang Dewa.
?Kalau begitu , aku emoh pergi !? jawab si cacing mantap. ?Sudah yah!? Dan si cacingpun membenamkan dirinya ketengah onggokan tahi tersebut.
Sang dewa berpikir, mungkin kalau si cacing sudah melihat sendiri alam surga itu, barulah dia akan mengerti. Lalu sang dewa menutup hidungnya dan menjulurkan tangannya kedalam tahi itu, mencari-cari si cacing. Begitu ketemu, dia menariknya.
?Hei! Jangan ganggu aku !? , teriak si cacing. ? Tolooooong ! Darurat ! Aku diculiiiik !? . cacing kecil yang licin itu menggeliat dan meronta sampai terlepas, lalu kembali menyelam ke onggokan tahi untuk bersembunyi.
Sang Dewa yang baik hati ini kembali merogohkan tangannya ke dalam tahi, dapat, dan mencoba menariknya keluar sekali lagi. Nyaris bisa keluar, tetapi karena si cacing berlumuran lendir dan terus menggeliat membebaskan diri, akhirnya terlepas lagi untuk kedua kalinya, dan bersembunyi makin dalam lagi di dalam tahi. Seratus delapan kali sang dewa mencoba mengeluarkan cacing malang itu dari onggokan tahinya, namun si cacing begitu melekat dengan tahi kesayangannya, sehingga dia terus meloloskan diri !
Akhirnya sang dewa menyerah dan kembali ke surga, meninggalkan si cacing bodoh didalam onggokan kotoran kesayangannya."
Jakarta: Awareness, 2012
294.3 BRA s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Brahm, Ajahn
Jakarta: Awareness, 2016
294.3 BRA s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Brahm, Ajahn
Jakarta: Awareness, 2016
294.3 BRA s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Brahm, Ajahn
Jakarta: Awareness, 2016
294.3 BRA s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
I Nyoman Sukartha
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1995
899.223 8 INY k
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Malikul Jibril
"ABSTRAK
Skripsi ini berisi tentang nilai - nilai religiusitas kesempurnaan hidup yang terdapat dalam buku Susila Budhi Dharma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah nilai - nilai yang terkandung dalam buku Susila Budhi Dharma dan apakah memiliki keterkaitan antara nilai satu dengan yang lainnya. Dengan mengunakan teori deskriptif interpretatif Jan Van Luxemburg, penulis dapat menentukan nilai- nilai religiusitas yang terkandung, memaparkannya, serta menganalisanya sehingga mendapatkan hasil atau kesimpulan yang sistematis tentang pencapaian kesempurnaan hidup ala Susila Budhi Dharma. Hasil analisis menyatakan bahwa terdapat keterkaitan nilai-nilai religiusitas dalam buku Susila Budhi Dharma tersebut dan membentuk sebuah urutan proses manusia menuju kesempurnaan hidup."
2010
S11400
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
I Nyoman Sukartha
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1995
899.223 8 INY k
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Pamuji
"l dari hubungan bisnis hingga terjadi akulturasi di dalamnya. Penelitian kali ini akan membahas tentang kata serapan Bahasa Arab dalam naskah Jawa berjudul Serat Dharma Sejati. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan kosakata serapan Bahasa Arab dalam teks Serat Dharma Sejati, dan menganalisis perubahan kata serapan Bahasa Arab yang termuat pada naskah, khususnya dalam segi bentuk kosakata serapan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan jika terdapat 96 kosakata serapan Bahasa Arab dengan 28 pola perubahan fonem kosakata Arab ke dalam bahasa Jawa. Dari 28 pola tersebut kemudian disederhanakan kembali menjadi 3 bentuk utama berdasarkan teori Haugen (1950) yaitu 40 kosakata serapan Bahasa Arab pada bentuk kata pinjaman tanpa substitusi fonemik, 36 kosakata serapan Bahasa Arab pada bentuk kata pinjaman dengan substitusi fonemik sebagian, dan 20 kosakata serapan Bahasa Arab pada bentuk kata pinjaman dengan substitusi lengkap atau total. Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan pada kata serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Jawa karena adanya perbedaan fonem, khususnya fonem yang tidak ada dalam Bahasa Jawa. Hal ini menyebabkan adanya saling mempengaruhi antara bunyi-bunyi yang berdekatan dalam sebuah kata. Bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan karena dalam prosesnya keduanya saling berkaitan satu sama lain. Dapat dipahami bahwa inventarisasi bahasa berbeda satu sama lain. Hal tersebut terbentuk atas prakarsa manusia dalam menyesuaikan dengan lingkungannya.

Language is a medium of communication that is always changing and developing over time. This is of course motivated by cultural acculturation that occurs between one community and another. The same thing is experienced by the Javanese community with the Arab community. Starting from a business relationship to acculturation in it. This research will discuss about Arabic loanwords in Javanese script entitled Serat Dharma Sejati. The purpose of this study is to describe Arabic absorption vocabulary in the text of Serat Dharma Sejati, and to analyze changes in Arabic loan words contained in the text, especially in terms of the form of absorption vocabulary. The method used in this study is a qualitative method with a sociolinguistic approach. The results showed that there were 96 Arabic absorption vocabularies with 28 phoneme changing patterns of Arabic vocabulary into Javanese. From the 28 patterns, they were then simplified into 3 main forms based on Haugen's theory (1950) namely 40 Arabic loan words without phonemic substitution, 36 Arabic loan words with partial phonemic substitution, and 20 Arabic loan words. Arabic in loanword form with complete or total substitution. The factors that cause changes in Arabic loan words in Javanese are due to differences in phonemes, especially phonemes that do not exist in Javanese. This causes the interplay between adjacent sounds in a word. Language and culture cannot be separated because in the process they are related to each other. It is understandable that language inventories differ from one another. It is formed on the initiative of humans in adapting to their environment."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>