Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 62 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Purba, Chandra Isabella H.
"Diabetes Melitus (DM) merupakan kelainan heterogen ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah. Penyakit ini bisa dikelola dengan mematuhi 4 pilar penatalaksanaan DM meliputi pendidikan kesehatan, perencanaan diet, latihan fisik dan minum obat OHO yang harus dipatuhi seumur hidup. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, bertujuan menggali berbagai pengalaman ketidakpatuhan pasien terhadap penatalaksanaan DM. Delapan Partisipan dipilih sesuai kriteria dengan metoda convenience sampling di RSUPN Dr. CM Jakarta. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam yang dilengkapi catatan lapangan, direkam kemudian dibuat transkrip verbatim, selanjutnya dianalisis menggunakan metoda Collaizz. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh tema utama yaitu: makanan diit tidak menyenangkan, tidak memahami manfaat diit menyebabkan ketidakpatuhan, tidak memahami manfaat latihan fisik untuk penatalaksanaan DM, alasan usia sudah lanjut, keterbatasan fisik menyebabkan tidak melakukan latihan fisik, pemahaman yang salah tentang manfaat obat, gagal mematuhi minum obat karena alasan ekonomi. Penelitian menyimpulkan bahwa pasien DM tidak patuh terhadap penatalaksanaan DM dengan alasan terbanyak adalah karena tidak memahami manfaat penatalaksanaan DM. Hasil penelitian mengimplikasikan perlunya pemberian pendidikan kesehatan berkelanjutan khususnya di area keperawatan medikal bedah untuk meningkatkan kepatuhan pasien DM. Peneliti menyarankan perlunya peningkatan kemampuan perawat memberikan pendidikan kesehatan, merancang program untuk meningkatkan kepatuhan pasien dan penelitian lanjutan dengan fenomenologi untuk menggali kepatuhan masing-masing pilar secara khusus
Diabetes Mellitus (DM) is a heterogeneous disorder with improvement of blood glucose. The disease can be treated by using 4 pillars of handling of DM. The pillars are health education, planning of diet, physical exercise, and the using of medicine which have to use for a lifetime. This qualitative study adopted phenomenological approach which goal was to explore various experiences of patient’s non-adherence to the treatment of diabetes mellitus. Participants were selected according to certain criteria by using convenience method. Eight participants who participated in this study had experience of non-adherence to the treatment of diabetes mellitus in RSUPN Dr. CM Jakarta. Data were collected through in depth interview process in two phases and accompanied by field notes. The interview was recorded and converted in to verbatim transcript and then analysed by using Collaizz’s method. The results identified seven major themes which consist of unhappiness diet, not understand about the benefit of diet which made non-adherence, not understand about the benefit of physical exercise for the treatment of diabetes mellitus, the age is old, physical disability makes patient didn’t do physical exercise, incorrect understanding about the benefit of medicine, fail to adhere taking medicine because of economic’s reason. This study concludes that the most reasons of patient’s non-adherence to the treatment of diabetes mellitus is “not understand the benefit of adhering the treatment of diabetes mellitus”. The results of this research give implication about the necessary of giving health education continuously, especially in medical surgical nursing area to improve the adherence of patient with diabetes mellitus. Researcher suggests the need of nursing skills improvement about how to give a good health education, make a program to improve patient’s adherence, and make other research to explore patient’s adherence with 4 pilars specificly."
Jakarta: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2008
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Leli Mulyati
"ABSTRAK
Neuropati sensori dan perubahan perfusi perifer merupakan jenis komplikasi jangka
panjang pasien DM tipe 2. Kedua masalah ini menyebabkan pasien berisiko
mengalami trauma pada kaki. Gejala neuropati dapat berupa perubahan sensasi
proteksi dan nyeri sedangkan perfusi perifer berupa perubahan akle brachial index
(ABI). Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi gejala neuropati sensori dan
perubahan perfusi perifer, salah satu diantaranya adalah masase kaki secara manual
yang sampai saat ini belum ditemukan penelitian terkait. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi pengaruh masase kaki secara manual terhadap sensasi
proteksi, nyeri dan ABI pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini merupakan penelitian
quasi eksperimen dengan kelompok kontrol dan pengambilan sampelnya dengan
cara consecutive sampling. Hipotesis yang dibuktikan dalam penelitian ini adalah
ada perbedaan sensasi proteksi, nyeri dan ABI setelah dilakukan masase kaki secara
manual. Sampel penelitian terdiri dari 30 responden kelompok intervensi dan 30
responden kelompok kontrol. Hasil uji independent t test menunjukan ada
perbedaan yang bermakna pada sensasi proteksi dan nyeri setelah dilakukan masase
kaki secara manual (p= 0.000), tetapi tidak ada perbedaan yang bermakna pada
ABI setelah dilakukan masase kaki secara manual (p= 0.440). Kesimpulan yang
didapat adalah masase kaki secara manual berpengaruh terhadap peningkatan
sensasi proteksi dan penurunan nyeri pasien DM tipe 2. Rekomendasi untuk
perawat spesialis adalah perlunya menerapkan dan mengembangkan masase kaki
sebagai suatu intervensi mandiri perawat khususnya dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien DM tipe 2.

ABSTRACT
Neuropathy sensory and impaired peripheral perfusion are the long complication on type 2 DM patient. Both problems placed the patient at risk for foot injury. Neuropathy symptoms included loss of protection sensation and pain otherwise peripheral perfusion is change of ankle brachial index (ABI). There are modalities to reduce neuropathy sensory symptoms and impaired peripheral perfusion, one of them is manually foot massage that until this time was not yet being researched. This research aimed to identify influence of manually foot massage on protection sensation, pain and ankle brachial index. The design of this research was a quasi experimental research with control group and the sample was recruited by consecutive sampling. This research try to identify differences between protection sensation, pain and ABI of type 2 diabetes mellitus patient after manual foot massage intervention. That consisted of 30 sample for each group (intervention and control group) in this research. Independent t test indicated that there were significant differences between protection sensation and pain after performing manually foot massage (p= 0.000), however there were no significant differences of ABI after manually foot massage intervention (p= 0,440). The conclusion of this research is manually foot massage had effect on increasing protection sensation and reducing pain level on type 2 DM patient. The recommendation of this study is the importance of implementation and development manually foot massage as an independent nursing intervention for taking care of type 2 DM patient."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2009
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Purba, Chandra Isabella H.
"ABSTRAK
Diabetes Melitus (DM) merupakan kelainan heterogen ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah. Penyakit ini bisa dikelola dengan mematuhi 4 pilar penatalaksanaan DM meliputi pendidikan kesehatan, perencanaan diet, latihan fisik dan minum obat OHO yang harus dipatuhi seumur hidup. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, bertujuan menggali berbagai pengalaman ketidakpatuhan pasien terhadap penatalaksanaan DM. Delapan Partisipan dipilih sesuai kriteria dengan metoda convenience sampling di RSUPN Dr. CM Jakarta. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam yang dilengkapi catatan lapangan, direkam kemudian dibuat transkrip verbatim, selanjutnya dianalisis menggunakan metoda Collaizz. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh tema utama yaitu: makanan diit tidak menyenangkan, tidak memahami manfaat diit menyebabkan ketidakpatuhan, tidak memahami manfaat latihan fisik untuk penatalaksanaan DM, alasan usia sudah lanjut, keterbatasan fisik menyebabkan tidak melakukan latihan fisik, pemahaman yang salah tentang manfaat obat, gagal mematuhi minum obat karena alasan ekonomi. Penelitian menyimpulkan bahwa pasien DM tidak patuh terhadap penatalaksanaan DM dengan alasan terbanyak adalah karena tidak memahami manfaat penatalaksanaan DM. Hasil penelitian mengimplikasikan perlunya pemberian pendidikan kesehatan berkelanjutan khususnya di area keperawatan medikal bedah untuk meningkatkan kepatuhan pasien DM. Peneliti menyarankan perlunya peningkatan kemampuan perawat memberikan pendidikan kesehatan, merancang program untuk meningkatkan kepatuhan pasien dan penelitian lanjutan dengan fenomenologi untuk menggali kepatuhan masing-masing pilar secara khusus
Diabetes Mellitus (DM) is a heterogeneous disorder with improvement of blood glucose. The disease can be treated by using 4 pillars of handling of DM. The pillars are health education, planning of diet, physical exercise, and the using of medicine which have to use for a lifetime. This qualitative study adopted phenomenological approach which goal was to explore various experiences of patient’s non-adherence to the treatment of diabetes mellitus. Participants were selected according to certain criteria by using convenience method. Eight participants who participated in this study had experience of non-adherence to the treatment of diabetes mellitus in RSUPN Dr. CM Jakarta. Data were collected through in depth interview process in two phases and accompanied by field notes. The interview was recorded and converted in to verbatim transcript and then analysed by using Collaizz’s method. The results identified seven major themes which consist of unhappiness diet, not understand about the benefit of diet which made non-adherence, not understand about the benefit of physical exercise for the treatment of diabetes mellitus, the age is old, physical disability makes patient didn’t do physical exercise, incorrect understanding about the benefit of medicine, fail to adhere taking medicine because of economic’s reason. This study concludes that the most reasons of patient’s non-adherence to the treatment of diabetes mellitus is “not understand the benefit of adhering the treatment of diabetes mellitus”. The results of this research give implication about the necessary of giving health education continuously, especially in medical surgical nursing area to improve the adherence of patient with diabetes mellitus. Researcher suggests the need of nursing skills improvement about how to give a good health education, make a program to improve patient’s adherence, and make other research to explore patient’s adherence with 4 pilars specificly.
"
Jakarta: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2008
T24821
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mamik Yuniarsih
"ABSTRAK
Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan
hiperglikemia dan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang
disebabkan oleh penurunan sekresi insulin, penurunan sensitivitas insulin, atau
keduanya. Salah satu terapi yang digunakan untuk mengobati diabetes melitus
adalah obat penghambat aktivitas α-glukosidase. Obat penghambat aktivitas α-
glukosidase bekerja menghambat α-glukosidase yang terdapat pada dinding usus
halus. Penghambatan kerja enzim tersebut secara efektif dapat mengurangi
pencernaan karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat mengurangi
peningkatan kadar gula postprandial pada penderita diabetes. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk memperoleh fraksi yang memiliki penghambatan
aktivitas α-glukosidase tertinggi dari ekstrak n-heksana buah ketapang dan
mengetahui golongan senyawa kimia dari fraksi teraktif. Metode ekstraksi yang
digunakan adalah ekstraksi bertingkat secara refluks dengan menggunakan pelarut
n-heksana, etil asetat, dan metanol. Alat microplate reader digunakan untuk
menguji penghambatan aktivitas α-glukosidase. Hasil menunjukkan bahwa
ekstrak n-heksana aktif menghambat aktivitas α-glukosidase dengan IC50 sebesar
67,914 μg/mL. Fraksi D merupakan fraksi teraktif dari ekstrak n-heksana dengan
nilai IC50 sebesar 49,715 μg/mL. Jenis mekanisme penghambatan kerja enzimnya
adalah inhibitor kompetitif. Berdasarkan hasil penapisan fitokimia menunjukkan
bahwa fraksi teraktif mengandung senyawa terpenoid dan glikon.

Abstract
Diabetes mellitus is a group of metabolic disorders characterized by
hyperglycemia and abnormalities in carbohydrate, fat, and protein metabolism as
results from defects in insulin secretion, insulin sensitivity, or both. One therapy
that is used in treating diabetes mellitus is α-glucosidase inhibitor. It inhibits
activity of α-glucosidase in the intestinal wall. Inhibition of this enzyme can
reduce digestion and absorption of complex carbohydrates effectively so that, can
reduce postprandial glucose levels in diabetic patients. The aim of this study was
to get the fraction which had the highest α-glucosidase inhibitory activity from nhexane
extract of ketapang fruits and to know the phytochemical compounds from
the most active fraction. The method of extraction is graduated-reflux with nhexane,
ethyl acetate, and methanol. The inhibitory activity of α-glucosidase was
assayed by microplate reader. The result showed that n-hexane extract of ketapang
fruits actively inhibits α-glucosidase activity with IC50 values 67,914 μg/mL. D
fraction was the most active fractions from n-hexane extract with IC50 values
49,715 μg/mL. Its type of enzyme inhibition mechanism is competitive inhibitory.
The result of phytochemical screening showed that the most active fraction
contains terpenoids and glycons."
Universitas Indonesia, 2012
S42764
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Chandra Sari
"Latar Belakang. Prevalensi penyakit arteri perifer (PAP) pada pasien diabetes melitus lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Penyakit arteri perifer dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas terutama akibat penyakit kardiovaskular pada pasien diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2). Tidak semua pasien dengan PAP dapat terdeteksi dengan pengukuran ankle brachial index (ABI) istirahat, sehingga diperlukan pemeriksaan ABI treadmill. Pemeriksaan ABI treadmill dapat mendeteksi PAP pada fase awal, sehingga profil pasien pada kelompok ini berbeda dengan klompok PAP yang dideteksi dengan ABI istirahat. Diketahuinya profil pasien PAP ini penting untuk membantu meningkatkan kewaspadaan pasien, khususnya pasien DM tipe 2.
Tujuan. Mengetahui profil pasien DM tipe 2 dengan PAP yang dideteksi dengan ABI treadmill.
Metode. Penelitian dengan desain potong lintang dilakukan di Poliklinik Metabolik Endokrin dan Kardiologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada Februari sampai April 2016 dengan metode sampling konsekutif. Subjek dengan nilai ABI istirahat normal/ perbatasan menjalani treadmill dengan protokol Bruce yang digunakan juga sebagai protokol uji latih jantung treadmill. Diagnosis PAP ditegakkan bila terdapat penurunan nilai ABI lebih dari 20% dibandingkan ABI istirahat.
Hasil. Sebanyak 92 subjek dianalisis untuk mengetahui profil pasien DM tipe 2 dengan PAP yang dideteksi dengan ABI treadmill. Lima belas subjek (16,3%) didiagnosis PAP. Kelompok PAP memiliki persentase subjek dengan durasi diabetes ≥ 10 tahun sebanyak 53,3%; dislipidemia sebanyak 73,3%; penyakit ginjal kronik (PGK) sebanyak 33,3%; perokok sebanyak 40%; komplikasi neuropati sebanyak 53,3%; albuminuri sebanyak 53,3%; retinopati sebanyak 40%; dan respons iskemia jantung positif/sugestif positif sebanyak 40% subjek. Sedangkan kelompok tanpa PAP memiliki subjek dengan durasi diabetes ≥ 10 tahun sebanyak 33,8%; dislipidemia sebanyak 57,1%; PGK sebanyak 19,5%; perokok sebanyak 32,5%; komplikasi neuropati sebanyak 37,7%; albuminuri sebanyak 26,4%; retinopati sebanyak 28,6%; respons iskemia jantung positif/sugestif positif sebanyak 28,5% subjek.
Kesimpulan. Prevalensi PAP yang dideteksi dengan ABI treadmill pada pasien DM tipe 2 adalah 16,3% (IK 95%: 8-23%). Kelompok PAP yang dideteksi dengan ABI treadmill memiliki subjek dengan durasi DM ≥ 10 tahun, dislipidemia, perokok, PGK, neuropati, albuminuria, retinopati dan respons iskemia jantung positif/sugestif positif lebih banyak daripada subjek tanpa PAP.

Background. The prevalence of peripheral arterial disease (PAD) among diabetes patients was higher compared to general population. PAD increases morbidity and mortality, especially due to cardiovascular disease, in type 2 diabetes mellitus patients (T2DM). Not all patients having PAD could not be detected by resting ankle brachial index (ABI) measurement, hence it is required treadmill ABI examination. The examination enable to detect PAD in the earlier phase, therefore patients profile would different with PAD patient detected from resting ABI examination. The profiles are important to raise the awareness of T2DM patients.
Aim. To identify profile T2DM patients with PAD detected by treadmill ABI.
Methods. A cross-sectional study was carried out in Metabolic Endocrine and Cardiology Outpatient Clinic, Internal Medicine Department, Cipto Mangunkusumo Hospital during February-April 2016. The study used consecutive sampling method. Subject having normal or borderline resting ABI value is examine using Bruce protocol treadmill. The protocol is also used as a cardiac treadmill exercise test protocol. The patients diagnose as PAD if there is a reducing ABI value more than 20% compared to resting ABI.
Result. The profile of PAD patients detected by treadmill ABI were obtain from 92 subjects. Fifteen subjects (16,3%) were diagnosed having PAD. In the group with PAD, the percentage of subject with diabetes duration ≥ 10 years was 53,3%; dyslipidemia was 73.3%; chronic kidney disease (CKD) was 33.3%; smokers was 40%; complications of neuropathy was 53.3%; albuminuri was 53.3%; retinopathy was 40%; positive / positive suggestive cardiac ischemia response was 40% . Meanwhile the group without PAD, the percentage of subjects with diabetes duration ≥ 10 years was 33.8%; dyslipidemia was 57.1%; CKD was 19.5%; smokers was 32.5%; complications of neuropathy was 37.7%; albuminuri was 26.4%; retinopathy was 28.6%; positive / positive suggestive cardiac ischemia response was 28.5%.
Conclusion. The prevalence of PAD that detected by treadmilll ABI in T2DM patients is 16,3% (95% CI: 8-23%). The Group with PAD detected by ABI treadmill which have duration of diabetes ≥ 10 years, dyslipidemia, smokers, CKD, neuropathy, albuminuria, retinopathy, and the positive result on treadmill exercise test have more subjects than group without PAD.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T55663
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Imam Subekti
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Simangunsong, Andrew Jonathan Brahms
"Diabetes merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Salah satu obat untuk menangani diabetes adalah penghambat DPP-4. Obat penghambat DPP-4 berpotensi menjadi obat diabetes aksi panjang, menyelesaikan masalah tatalaksana diabetes terkait ketidakpatuhan pasien dalam mengonsumsi obat. Namun, belum ada obat penghambat DPP-4 aksi panjang dengan hasil memuaskan. Obat penghambat DPP-4 juga masih memiliki masalah berupa efek samping pankreatitis dan nyeri sendi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menemukan kandidat penghambat DPP-4. Penapisan virtual dilakukan dengan model HKSA pembelajaran mesin yang dilatih dengan data aktivitas DPP-4 menggunakan pustaka PyCaret. Hasilnya didapatkan tiga model yaitu model klasifikasi biner dan multiclass untuk menentukan aktivitas molekul dan model regresi untuk memprediksi tingkat aktivitas. Model dievaluasi dengan membandingkan kualitas model dan hasil dengan penelitian Hermansyah et al. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model klasifikasi biner yang dibuat memiliki kualitas yang lebih baik, sementara model regresi sedikit lebih rendah. Perbedaan ini disebabkan oleh variasi data dan pendekatan penggunaan model. Kesepuluh senyawa yang diidentifikasi berbeda dengan hasil Hermansyah. Nilai pIC50 tertinggi dari penelitian ini adalah 8,44, sedangkan Hermansyah mencapai 9,21. Namun, validitas model dapat dipertanggungjawabkan dengan hasil analisis SHAP yang menunjukkan peran substruktur farmakofor obat dalam keputusan model.

Diabetes is one of the biggest causes of death in the world. DPP-4 inhibitor is a drug to treat diabetes. DPP-4 inhibitors can potentially be long-acting diabetes drugs, solving diabetes management problems related to patient non-compliance with taking medication. However, there are no long-acting DPP-4 inhibitors with satisfactory results. DPP-4 inhibitors also still have problems in the form of side effects of pancreatitis and joint pain. Therefore, this study aims to find candidate DPP-4 inhibitors. Virtual screening was performed with machine learning QSAR model trained with DPP-4 activity data using PyCaret library. Three models were obtained: binary and multiclass classification models to determine molecular activity and regression models to predict activity levels. The model was evaluated by comparing the quality and results with Hermansyah et al’s research. The results showed that binary classification model had better quality, while regression model was slightly lower. This difference is caused by variations in data and approaches to using the model. Ten compounds identified were different from Hermansyah's results. The highest pIC50 value from this study was 8.44, while Hermansyah reached 9.21. However, validity of the model is justified by SHAP analysis results which shows the role of drug pharmacophore substructure in model decisions."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Hasyim Wibisono
"Praktik residensi keperawatan medikal bedah merupakan salah satu bentuk pendidikan keperawatan berkelanjutan yang ditempuh setelah tercapainya gelar magister keperawatan. Tujuannya adalah mencetak ners spesialis keperawatan medikal bedah yang mampu berperan sebagai clinical leader bagi tim pelayanan keperawatan, dengan fokus pada pasien dewasa yang mengalami gangguan pememenuhan kebutuhan dasar manusia akibat gangguan struktur dan fungsi pada sistem organ tubuh, berikut dengan respon pasien yang ditimbulkan. Praktik klinik dilaksanakan di setting gawat darurat, perawatan intensif, rawat inap, dan rawat jalan di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta, dan RSUP Fatmawati Jakarta. Dengan fokus pada pasien dengan gangguan sistem endokrin, asuhan keperawatan diberikan dengan menggunakan pendekatan teori model adaptasi Roy pada pasien dengan masalah utama pada gangguan kelenjar tiroid dan pankreas. Contoh kasus yang telah dikelola antara lain pasien dengan komplikasi akut dan kronis dari diabetes, stroma tiroid, keganasan tiroid, serta gangguan multi sistem yang melibatkan diabetes. Asuhan keperawatan berbasis bukti diterapkan berupa latihan kaki Buerger Allen Exercise bagi pasien dengan PAD untuk meningkatkan perfusi kaki. Inovasi pelayanan keperawatan dilakukan dengan fokus pada pencegahan hipoglikemia berat pada pasien diabetes di rawat inap melalui bundle intervensi Hy-NEWSS.

 

Kata kunci: Perawat spesialis, asuhan keperawatan, teori model adaptasi, Buerger Allen Exercise, pencegahan hipoglikemia


The medical surgical nursing residency program is a continuous nursing education process following the master of nursing degree completion. The graduates are medical surgical nurse specialist, who will take role as clinical nursing leaders in providing care for adult patients with compromised human basic need fulfillment due to structural and functional dysfunctions of body systems along with the responses. The clinical education was conducted in RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta and RSUP Fatmawati Jakarta covering emergency unit, intensive care unit, inpatient, and outpatient care unit.  Using the Roy Adaptation Model as the framework, patient care was aimed to patients with pancreas and thyroid problems. The examples of the cases were, but not limited to, acute and chronic complications of diabetes, thyroid stroma and malignancy, and multisystem cases related to diabetes. The Buerger Allen Exercises was implemented as evidence based nursing, and the nursing innovation project was aimed towards severe hypoglycemia prevention for patients with diabetes in inpatient setting through the Hy-NEWSS intervention bundle.

 

 

Keywords: Nurse specialist, nursing care, adaptation model, Buerger Allen Exercise, hypoglycemia prevention

"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia , 2020
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nova Yanti
"Diabetes melitus DM merupakan masalah endokrin terbanyak dan 95 diantaranya adalah DM tipe 2 Model Konservasi Levine mengarahkan perawat dalam membantu pasien beradaptasi terhadap perubahan lingkungan melalui konservasi integritas energi struktural personal dan sosial Kemampuan pasien dalam manajemen diabetes dapat ditingkatkan melalui konservasi integritas personal dan sosial dengan dukungan keluarga sehingga integritas energi dan struktural tetap terjaga dan akhirnya komplikasi akut dan kronis dapat dihindari Diabetes melitus sangat rentan menimbulkan masalah psikologis Hasil pengkajian distress diabetes yang merupakan praktek keperawatan berbasis pembuktian evidence based practice menunjukkan bahwa sebagian besar 66 7 pasien DM mengalami distress yang disebabkan oleh beban emosional pelayanan kesehatan kesulitan menjalankan manajemen diabetes dan kurangnya dukungan keluarga Hasil sosialisasi pengkajian psikososial yang merupakan kegiatan inovasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan perawat dalam mengkaji masalah psikososial pasien DM Tipe 2 Model Konservasi Levine dapat dijadikan sebagai kerangka kerja dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan DM namun aplikasinya masih perlu dikembangkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik Kata kunci Asuhan keperawatan Diabetes melitus Model Konservasi Levine Pengkajian distress diabetes

Diabetes mellitus DM is the largest endocrine problems and 95 are type 2 diabetes Levine Conservation Model directs the nurses in helping patients to adapt the changes of the environment integrity through the energy conservation structural personal and social The ability of patients in diabetes management can be enhanced through conservation of personal integrity and social with family support so that the energy and structural integrity is maintained and eventually acute and chronic complications can be avoided Diabetes mellitus is very vulnerable cause psychological problems Diabetes distress assessment resulted that evidence based nursing practice evidence based practice showed that the majority 66 7 patients with DM experienced distress caused by emotional burden health care difficulty running diabetes management and lack of family support As an innovation activities the results of socialization psychosocial assessment showed an increase nurses 39 ability to assess psychosocial problems patients with Type 2 of diabetes mellitus Levine Conservation Model can be used as a framework for providing nursing care to patients with diabetes but the application still needs to be developed to get the better results Keywords Nursing care Diabetes mellitus Levine Conservation Model Assessment diabetes distress
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>