Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
Mutiara Naninda
"Gangguan reseptivitas endometrium berpotensi mengakibatkan infertilitas pada wanita. Oleh karena itu, dibutuhkan hewan model yang dapat menggambarkan patofisiologi untuk meningkatkan pemahaman terkait gangguan ini. Penelitian mengenai pembentukan hewan model infertilitas dengan gangguan reseptivitas endometrium masih sangat terbatas. Konfirmasi dan validasi dibutuhkan untuk mengevaluasi reliabilitas hewan model. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode penentuan konsepsi dan pengaruh pemberian hidroksiurea dan adrenalin serta mengonfirmasi terbentuknya hewan model gangguan reseptivitas endometrium yang mengalami penurunan fertilitas melalui analisis parameter jumlah implantasi. Sebanyak 18 ekor tikus Wistar betina dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol normal (pembawa CMC Na 0,5%), model (hidroksiurea 450mg/kgBB dan adrenalin 0,3mg/kgBB), dan kontrol positif (hidroksiurea 450mg/kgBB, adrenalin 0,3mg/kgBB, dan progesteron 50mg/manusia). Perlakuan dilakukan selama 10 hari, kemudian tikus betina dipasangkan dengan tikus jantan dan dikorbankan pada hari ke-8 kehamilan. Dalam penelitian ini, waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya konsepsi cukup lama. Metode pemeriksaan sumbat vagina dan pengamatan sitologi vagina digunakan untuk mendeteksi konsepsi serta dibandingkan ketepatannya. Jumlah implantasi diukur dengan menghitung tonjolan blastosit pada uterus. Jumlah implantasi dievaluasi secara statistik dan tidak ditemukan perbedaan bermakna antara kelompok kontrol normal, model, dan kontrol positif (ANOVA p > 0,05). Sumbat vagina hanya teramati pada 1 ekor tikus, sementara spermatozoa teramati pada seluruh apusan vagina tikus. Berdasarkan hasil penelitian ini, metode sitologi vagina lebih dapat diandalkan daripada sumbat vagina untuk mendeteksi terjadinya konsepsi dan induksi hidroksiurea dan adrenalin mungkin tidak memengaruhi jumlah implantasi.
Impaired endometrial receptivity can cause infertility in women. Therefore, animal models are needed to improve understanding of the pathophysiology of this disorder. Research about animal models of infertility with impaired endometrial receptivity is still minimal. Confirmation and validation are required for the reliability of the animal model findings. This study aims to analyze the method of conception determination and the effect of hydroxyurea and adrenaline and to ensure the formation of an animal model of impaired endometrial receptivity through implantation parameters. Total of 18 female Wistar rats were divided into 3 groups; normal control, model (hydroxyurea 450mg/kgBW and adrenaline 0.3mg/kgBW), and positive control (hydroxyurea 450mg/kgBW, adrenaline 0.3 mg/kgBW, and progesterone 50 mg/human). Treatment was given for ten days, then female rats were paired with male rats and sacrificed on the 8th day of gestation. In this study, the time required for conception to occur is quite long. Vaginal plug and vaginal cytology observations were used to detect conception and compared for accuracy. The number of implantations was measured by counting the blastocyst protrusion in the uterus. The number of implantations was evaluated statistically, and no significant difference was found between the normal control, model, and positive control group ( ANOVA p>0.05). Vaginal plugs were observed only in one rat, while spermatozoa were observed in all vaginal smears. In conclusion, vaginal cytology method is more reliable than vaginal plugs for detecting the occurrence of conception and induction of hydroxyurea-adrenaline may not affect the number of implantations."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
S70500
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Raihani Putri Dayati
"Pembuatan hewan model gangguan reseptivitas endometrium diperlukan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai patofisiologi gangguan reseptivitas endometrium pada manusia. Pemberian hidroksiurea pada hewan coba diketahui berpotensi menggambarkan berkurangnya kemampuan penempelan embrio pada uterus akibat reseptivitas endometrium yang terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan percobaan pembuatan hewan model gangguan reseptivitas endometrium dengan pemberian hidroksiurea-adrenalin dan melihat pengaruhnya terhadap keberadaan pinopod sebagai salah satu parameter penilaian komponen reseptivitas endometrium. Studi dilakukan terhadap tiga kelompok, terdiri dari kelompok normal (N: pemberian CMC Na 0,5%), model (M: pemberian hidroksiurea 450 mg/kgBB-adrenalin 0,3mg/kgBB), dan kontrol positif (KP: kelompok model ditambah pemberian progesteron 0,9 mg/200gBB/hari pada hari ke-9 induksi hidroksiurea). Induksi hidroksiurea diberikan secara peroral sekali sehari selama 10 hari disertai dengan injeksi subkutan adrenalin selama 7 hari sejak hari ke-4 induksi hidroksiurea. Tikus dibedah, diambil uterus pada hari ke-8 kehamilan. Pemberian hidroksiurea-adrenalin tidak secara memadai mengganggu keberadaan pinopod pada membran apikal lumen endometrium tikus. Hasil ini dapat disebabkan karena lamanya pengawinan yang terjadi pada tikus. Terdapat pinopod pada 3 kelompok perlakuan, yaitu model, kontrol positif, dan kontrol normal. Namun, terdapat perbedaan jumlah dan morfologi pinopod pada tiap kelompok. Sebagai tambahan, terdapat data dari beberapa bahan alam yang digunakan oleh masyarakat Indonesia dengan klaim peningkat fertilitas wanita. Sehingga, database yang ada dapat menjadi kandidat obat untuk pengujian efikasi saat hewan model gangguan reseptivitas endometrium berhasil terbentuk.
Animal models of endometrial receptivity disorders are needed to provide a better understanding of the pathophysiology of endometrial receptivity disorders in humans. Administration of hydroxyurea in experimental animals is known to have the potential to describe the reduced ability of the embryo to attach to the uterus due to impaired endometrial receptivity. This study aims to conduct an experimental animal model of endometrial receptivity disorders by administering hydroxyurea-adrenaline and to see its effect on the presence of pinopods as one of the parameters for assessing endometrial receptivity components. The study was conducted on three groups, consisting of the normal group (N: administration of CMC Na 0.5%), the model (M: administration of hydroxyurea 450 mg/kgBW-adrenaline 0.3mg/kgBW), and positive control (KP: model group plus progesterone 0.9 mg/200gBW/day on day 9 of hydroxyurea induction). Induction of hydroxyurea was administered orally once a day for 10 days accompanied by subcutaneous injection of adrenaline for 7 days from the 4th day of hydroxyurea induction. The rats were dissected, the uterus was taken on the 8th day of gestation. Administration of hydroxyurea-adrenaline did not adequately interfere with the presence of pinopods in the apical membrane of the rat endometrial lumen. This result could be due to the length of mating that occurred in rats. There were pinopods in 3 treatment groups, namely the model, positive control, and normal control. However, there were differences in the number and morphology of pinopods in each group. In addition, there is data on several natural ingredients used by Indonesian people with claims to increase female fertility. Thus, the existing database can be a candidate drug for efficacy testing when animal models of endometrial receptivity disorders are successfully established."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
S70518
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library